Tampilkan postingan dengan label Socrates. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Socrates. Tampilkan semua postingan

16 Maret 2017

Saga di Balik Athena

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus. Senja begitu merah
begitu saga. Seumur hidup belum pernah
kusaksikan senja secemerlang itu...”

Petikan puisi Mochtar Pabottingi di atas, barangkali adalah puisi yang muram. Di balik Olympus, Krito, di balik Olympus, adalah gelagat lema yang ditangkap bahasa, tentang Socrates, filsuf yang akhirnya mati –memanggul kebenaran-- tanpa guyah sedikit pun terhadap maut.

Puisi Krito, Senja Saga Di Athena, memang puisi atas rekaman sejarah, tapi dialog Krito dan Socrates, sebenarnya, adalah dialog yang dibutuhkan bagi orang-orang yang merindukan kebenaran seperti Socrates.

Begitulah kebenaran, ikhwal yang akhir-akhir ini lebih banyak membuat polemik daripada suatu ikhtiar yang menyenangkan. Di masa Socrates hidup, kebenaran sesuatu yang musykil ditanggung seseorang daripada akhirnya menyerah untuk menemukannya. Kebenaran, sejauh diandaikan sebagai pencapaian epistemik, atau bahkan ontologis, adalah “sesuatu” yang memang diraih inci demi inci, hasta demi hasta, setapak demi setapak. Dengan kata lain, kebenaran adalah kebenaran, sesuatu yang harus diperjuangkan.

Olympus, kita tahu adalah puncak gunung tempat dewa-dewa Yunani bersemayam. Di sana selain merepresentesekan alam berpikir masyararakat Yunani tentang dunia yang dihuni mahluk-mahluk berkekuatan luar biasa, juga merupakan puncak kebenaran segala pencapaian manusia: keindahan, moral, pengetahuan, nasib…

Ibarat Platon menyebut dunia idea sebagai presentase segala ikhwal, gunung Olympus adalah kulminasi semuanya, termasuk kebenaran.

Itulah sebabnya, di masa-masa Socrates hidup, dunia akan begitu boyak ketika tidak melibatkan kehadiran dewa-dewa sebagai tolok ukurnya. Hidup tanpa bergantung sepenuhnya kepada dewa-dewa bagaikan hidup yang diombang ambingkan gelombang di tengah samudra.

Tapi, pelaut mana yang bisa lahir dari laut yang tenang? Socrates, singkatnya, adalah filsuf yang mengajak “pelaut-pelaut” agar mau menentang arus. Menghadapi gelombang demi gelombang, samudra demi samudra, demi meraih kebenaran.

Di puisi Mochtar, Socrates mengajak sahabatnya Crito –tapi juga sebenarnya semua orang Athena, atau semua manusia—untuk menengok saga, langit orange di balik gunung Olympus. Sesuatu yang sering kali hanya dipahami sebagai background, dari pada suatu pokok dasar.

Dengan kata lain, metafora langit saga, yang ada di balik Olympus adalah “sesuatu” yang sebenarnya harus dicari, diperjuangkan. Bukan apa yang tampak sebagai puncak gunung Olympus, atau berhenti begitu saja di atas bukitnya.

Kebenaran memang tak mudah, ia awalnya samar-samar, dan bersembunyi di balik hijab yang merintanginya.

Rintangan kebenaran di masa Socrates adalah kekuasaan dewa-dewa yang tak lagi adil dan bijaksana. Di sini, atau di mana pun itu, kebenaran merupakan ikhwal yang kadang selalu ditawan kekuasaan.

***

Berbeda dari puisi Mochtar Pabottingi, yang muram, belakangan, seringkali tampak dalam kehidupan berdemokrasi di sekitar kita. Kebenaran yang harus tampak sebagai simbolitas masih bekerjanya nalar kemanusiaan, justru disekat-sekat, bahkan ditawan oleh ambisi-ambisi rendah kekuasaan.

Masih menguatnya isu-isu rasialis, merebaknya hoax, mengerasnya gerakan radikalis keagamaan, diabaikan hak asasi manusia dan perampasan lahan hidup masyarakat Papua, Kasus Munir, Syiah Sampang, Ahmadiyah, 65, dan yang menyedot perhatian waktu dekat belakangan, aksi masyarakat Rembang dan Pati di depan Istana Negara, adalah peristiwa betapa susahnya kebenaran berdiri tegak. Bahkan kebenaran itu mesti diperjuangkan, sebagaimana di hadapan gunung Olympus, di Indonesia, puncak terakhir itu adalah Istana Negara.

Istana Negara, yang menjadi puncak tertinggi hirarki kekuasaan, mesti tahu, kebenaran yang disendat-sendat pada akhirnya akan datang kepadanya. Biarpun itu adalah ikhwal yang awalnya nampak sederhana, tapi seperti yang sudah seringkali terjadi, ikhwal yang sederhana nampak runyam akibat bias kepentingan di dalamnya.

Walaupun demikian, di satu sisi selalu ada harapan, seperti langit saga, --yang dalam puisi Mochtar, Socrates nampak bahagia menatapnya—kebenaran tidak akan pernah mampu dikelabui.

“…Ketahuilah, Krito
Bagiku menjalani hukuman mati
Takkan pernah, seperti katamu, memenangkan
Mereka yang menghendaki kematianku
Maka seumur hidup tak sekali pun kucemaskan
Kematian. Cemasku selalu hanya jika
Aku tak lagi bisa menyimak
Dan berbagi cahaya

Kepalsuan, Krito, takkan pernah mengalahkan
Kebenaran, Sekalipun ia dibelenggu
Berkali-kali kematian

Dan aku bukanlah Oedipus yang terpahat
Kutuk labuda

Aku bukan mainan para dewa…”

Socrates bukanlah Oedipus, yang menjalani takdir panjang nasib yang sudah ditentukan jauh sebelum ia ada. “Aku bukan mainan para dewa”, adalah ikhtisar suatu ikhtiar bahwa apa pun itu segalanya mesti diperjuangkan dimulai dari manusia itu sendiri.

Begitu juga orang-orang yang teguh memperjuangkan nasibnya, ketika kebenaran nampak sumir akibat dipangkas hirarki kekuasaan, mesti memulai bukan dari mana-mana melainkan dari dirinya sendiri.

***

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus.

Hatta, kebenaran memang bukan hal yang lumrah dikatakan jika semuanya nampak biasa mengucapkannya. Kisah Socrates sebenarnya sebaliknya, ketika yang lain dijebak kehidupan yang nampak normal, dia mengutarakan apa yang tak pernah diucapkan di bawah tirani, dengan sungguh-sungguh, dengan berterus terang.

Kini, apa yang tampak benar begitu mudah ditemukan, tapi belum tentu kebenaran itu sendiri.  

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus . Senja begitu merah
begitu saga…”

---

*Puisi Mochtar Pabottingi dalam bukunya Konsierto di Tokyo, 2016.

05 Februari 2017

Sidang

Barangkali tidak ada sidang yang paling tragis selain dari pada sidang Pengadilan Heliasts (Court of the Heliasts). Sidang itu pengadilan dengan seorang terdakwa, seorang filsuf: Socrates.

Sidang itu bukan seperti sidang modern yang diketuai seorang hakim tunggal dengan beberapa hakim anggota, atau disertai jaksa penuntut dan juga seorang pengacara dengan retorika yang tangguh. Bahkan, sidang Heliasts, adalah pengadilan tanpa hakim atau pengacara. Dengan kata lain di sidang itu, Socrates seorang diri. 

Artinya, di sidang itu tanpa siapa-siapa, Socrates harus berdiri di hadapan 501 warga Athena yang bertindak sebagai hakim sekaligus jaksa penuntut. Seorang diri yang menyusun sendiri pembelaannya, dengan kata-kata, di hadapan suatu yang kelak akan dikenal sebagai sistem demokrasi. 

Dengan kata lain, siapa pun di sidang itu yang punya kaitan dengan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan Socrates, bisa mengajukan protes, juga tentu tuntutan.

Lantas, apakah kejahatan Socrates?

Di Athena, Socrates memiliki kebiasan berdialog. Aghora adalah tempat terbaik Socrates menemukan siapa saja untuk bertukar pikiran. Dari kebiasaan itu Socrates disenangi pemuda-pemuda Athena, termasuk Platon, muridnya yang cemerlang. Imbas banyak membuka wawasan kaum muda, elit Yunani merasa Socrates seorang yang mengancam.

Socrates membuat dewa-dewa yang dipuja Yunani kehilangan kewibawaan. Tidak ada yang disebut dewa-dewa yang secara resmi mesti disembah selain dengan pembuktian rasional. Imbasnya, Socrates dituduh meracuni keyakinan anak-anak muda. Mengancam agama resmi Yunani.

Itulah sebabnya Socrates dituduh sebagai atheis, merusak keimanan warga Yunani. Dan yang kedua, dari caranya berdialog, pikiran kaum muda menjadi kritis, sesuatu yang tidak disenangi rezim mana pun.

Dengan dua tuduhan itu Socrates dilaporkan. Anytus, Meletus, dan Lycin maju di hadapan sidang dan membacakan kedua tuduhan itu. Dan kita sudah tahu, Socrates kalah suara. Dia akhirnya menjalani hukumannya meneguk hemlock, rebusan air daun cemara.

Sebenarnya, adilkah sidang Heliasts?

Tapi sesungguhnya, pertanyaannya yang lain, adakah keadilan yang lahir dari persidangan yang direkayasa?

Di situlah rumitnya keadilan, jika prasyarat yang menyertainya tidak ditopang dengan asas-asas hukum yang mencerminkan nilai kebaikan, kemanfaatan, dan kebahagiaan.

Adakah kebaikan jika suatu sidang sudah sebelumnya disuap? Apa manfaat di dalamnya? Berbahagiakah segala pihak di dalamnya?

Socrates sudah tahu, sidang yang diprakarsai atas sentimentalisme tidak akan pernah melahirkan keadilan. Dengan kata lain, proses hukum yang cacat, bukan tempat keadilan ditemukan.

Walaupun demikian Socrates tetap menolak ketika murid sekaligus sahabatnya Critos, ingin melarikan Socrates dari penjara dengan cara menyuap pula. Bagi Socrates, ada yang mesti ditegakkan: ketaatan terhadap hukum negara. Biarpun itu dia tahu, sidang itu sudah direkayasa.

25 November 2016

Jalan Raya

Apa jadinya jika jalan raya di suatu pagi bertemu dengan modernitas? Maka yang ada adalah keterburu-buruan. Hidup dalam cara modern adalah bagaimana anda dapat menggunakan waktu seefisien mungkin. Dan jalan raya, di pagi hari adalah centangperenang penandanya.

Di jalan raya, anda tak boleh menengok; kanan dan kiri, apa lagi berbalik ke belakang hendak kembali, karena menengok dan kembali dalam buku besar modernitas berarti kemunduran. Dan, bisa jadi Anda akan menjadi seorang individu yang tertinggal jauh.

Memang modernitas adalah sebuah bus besar yang sedang terburu-buru; bergegas dengan kecepatan yang tinggi, tanpa rem, tanpa rambu jalan dan tanpa terminal pemberhentian. Modernitas adalah bentuk zaman, atau bahkan pikiran baru yang berusaha melupakan ingatan masa lampau; melipat segala sesuatu menjadi sebuntal pakaian yang harus dilipat bahkan diganti, dan memberikan anda sekelumit pakaian dengan cermin yang menaruh visi tentang kemajuan.

Dan di dalam modernitas, waktu menjadi barang yang penting untuk dijaga. Dikemas dalam keadaan yang rapi, dijaga baik-baik dan tak harus dirusaki, sebab waktu tak bisa dipending apalagi terhenti, maka kerja adalah lokomotif yang harus terus didorong.

Kerja, dalam pengertian zaman modern bahkan postmodern, adalah usaha yang memanfaatkan potensi dalam memapatkan waktu dan ruang, yang punya kaitan dengan peran dan fungsi yang terspesialisakan yang digerakan berdasarkan visi yang disublim oleh rasio yang menghendaki capaian tujuan seefesien dan secepat mungkin. Dan rasio seperti ini, merupakan jenis rasio yang dihardik oleh mazhab Frankfurt, oleh mereka, rasio ini adalah rasio yang menampik permenungan. Jenis rasio yang selalu menukik untuk berhadapan langsung pada objek yang ingin kuasai.

Kerja dalam ruang sejarah yang lain bisa berarti laku yang tenang terhadap waktu. Diam dalam senggang yang berbobot. Kerja dalam tradisi Yunani kuno berarti optimalisasi akal; bagaimana anda mendayagunakan potensi akal sejauh mungkin, untuk mendapatkan padanannya, pada keselarasan dengan  nous kosmos.

Jurgen Habermas, sosiolog Jerman generasi keduaFrankfurt School pernah menulis; kerja dalam konteks Yunani kuno berarti upaya theory sekaligus praksis, dan ini berarti kerja. Yang berarti bermaksud menggunakan nous dalam mengikat logos.

Logos dalam akar kata Yunani ditemukan pada kata legein, yang berarti menghimpun. Dari itu kerja berarti penggunaan nous dengan logos untuk menghimpun. Lalu apa yang dihimpun?

Bijak bestari kuno punya cerita segudang tentang apa yang harus dihimpun dengan nous? Kata mereka semuanya harus bermula dan berakhir pada arkhe. Caranya melalui kerja: theoria.

Theoria dalam kamus kehidupan masyarakat Yunani Kuno adalah laku hidup yang mendasarkan diri pada penghayatan terhadap alam, berusaha menyelaraskan diri dengan “aku” alam semesta.

Seorang guru Aleksander Agung bercerita: hidup yang baik adalah hidup yang seimbang, yang seimbang berarti menempuh jalan eudamonia: kebahagiaan. Jalan keselarasan dengan alam semesta, di mana sesuatu ditempatkan pada ruangnya masing-masing. Jika seorang terlalu banyak makan maka perutnya akan sakit, dan itu menyakitkan. Berlebihan memang tak baik. Lantas bagaimana cara sesuatu agar tak berlebihan? Murid Plato menampik bukan dengan cara yang lain, melainkan nous-lah yang menjadi hakimnya.

Memang gerak nous selalu mencari di mana ia harus ditakwil pada akhirnya. Thales menyebutnya Air, Anaximenes menyebutnya uap, Heraklitos menampik dengan  menempatkan sesuatu yang mengalir dalam keabadian. Selanjutnya ada Demokritus, bicara tentang atom, Sesuatu yang tak dapat dibagi-bagi sebagai arkhe. Dan, selanjutnya menjadi deretan panjang tentang apa itu arkhe: unsur dasar yang membentuk apa yang ada.

Kemudian arkhe di tangan Immanuel Kant menjadi semacam terra incognita; Sesuatu  yang tak dapat dijelaskan.

03 Desember 2015

Filsafat itu Dialog


Santo Thomas Aquinas
 Frater Dominikan Italia. Imam Katolik, dan Doktor Gereja (Pujangga Gereja). Ia juga adalah teolog, dan filsuf yang sangat berpengaruh dalam tradisi skolastisisme. 
Thomas Aquinas juga dikenal karena memadukan ajaran kristiani dengan filsafat Aristotelian. 
Karya-karyanya yang paling dikenal adalah Summa Theologiae dan Summa contra Gentiles

FILSAFAT sebetulnya adalah dialog. Jadi bukan sekadar aktifitas monologis untuk merenungkan suatu segala, tapi peristiwa dua arah untuk mempercakapkan segala ihwal. 

Filsafat sebagai dialog bekerja di dua lapisan sekaligus; intrapersonal dan interpersonal. Di tingkatan pertama, filsafat bergelut dengan "aku yang berkesadaran" di dalam kesadaran itu sendiri, sementara di tingkatan kedua, "aku yang berkesadaran" dengan aku yang lain di luar dirinya.

Tingkatan pertama, filsafat dimulai dari permenungan mendalam, sedangkan di lapisan kedua, filsafat bekerja dengan percakapan antara dua subjek.

Itulah mengapa, philia yang berarti cinta, membutuhkan dua subjek yang hadir bersamasama. Karena cinta hanya bekerja apabila diandaikan pada dua orang yang saling berdialog. Di saat dialog, dua subjek memiliki posisi yang setara tanpa yang satu memonopoli percakapan. Hanya dengan itulah percakapan bisa berlangsung tanpa menjadi khotbah, seimbang tanpa diskriminasi. Melalui dialog cinta menjadi penyetara antar dua subjek.

Cinta yang tanpa dua subjek untuk saling mempercakapkan, adalah narsisme, tindakan menyenangi diri sendiri. Sementara cinta antara dua subjek adalah persahabatan (philia). Fisafat sebagai dialog, dengan begitu berwatak sosial. Tiada filsafat yang berwatak antisosial. Jika semenjak mula, filsafat tidak dibangun dengan cara dialog, maka filsafat tidak mungkin berkembang dalam sejarah.

Socrates memulai filsafatnya dengan cara bercakapcakap. Dia berdialog dengan banyak orang. Membangun gugus percakapan dengan cara mempertemukan pendapatnya dengan pendapat khalayak tentang hal ihwal. Kelak, cara ini disebut dengan dialektika, yakni memperhadapkan dua asumsi untuk mengambil titik temu (sintesa) antara keduanya. Model seperti ini akan berkembang sebagai  salah satu mekanisme filsafat untuk menemukan kebenaran.

Platon, murid Socrates, juga menempuh cara dialog untuk memulai aktifitas filsafatnya. Bahkan, salah satu karyanya berjudul Dialogue. Melalui buku itu, Platon pelanpelan memperkenalkan filsafat melalui hasil percakapannya dengan gurunya. Bahkan pada titik tertentu, kitab yang merekam dialog Socrates dengan muridmuridnya itu, adalah reportase pertama di dalam sejarah manusia yang memperlihatkan bagaimana suatu peristiwa dapat direkam untuk dikabarkan kepada khalayak.

Syahdan, Socrates dan Platon mengajarkan dua hal, yakni filsafat harus dikerjakan secara bersamasama antara dua sahabat yang bercakapcakap, dan dengan cara reportase Platon, filsafat diperkenalkan sebagai informasi yang bisa dikonsumsi banyak orang. Dengan alasan ini, tidak bisa tidak, filsafat harus disebut sebagai pekerjaan sosial.

Dunia sosial adalah dunia yang jamak. Begitu banyak ragam manusia memberlangsungkan kehidupannya. Dimulai dari lahir, manusia sudah membawa sidik jari yang berbeda, hingga model bahasa, agama, dan kebudayaan yang juga berbeda. Melalui perbedaan itu, manusia bertukartangkap saling memahami. Dengan purnaragam perbedaan, manusia dituntut saling menghargai perbedaan.

Filsafat yang berarti pekerjaan sosial, dengan sendirinya memungkinkan filsafat sebagai medium untuk menjadi bijaksana. Sophia, yang berarti kebijaksanaan, tidak dengan sendirinya hanya berhubungan dengan aspek semantik bahasa belaka, melainkan bagaimana kebijaksanaan hanya berarti apabila itu diberlakukan kepada dua orang atau bahkan lebih.  Sama seperti predikat ayah hanya berlaku bagi seorang suami ketika memiliki anak, bijaksana hanya bernilai apabila ia diterapkan di dalam hubungan perbedaan antara dua ragam obyek atau bahkan lebih.

Artinya tiada kebijaksanaan yang lahir dari keseragaman. Dengan cara itu pula, kebenaran di dalam filsafat diberlangsungkan melalui beragam perbedaan perspektif. Sebagaimana hukum dialektika, kebenaran hanya lahir ketika perbedaanperbedaan diperhadapkan untuk dipercakapkan.

Percakapan sebagai metode menemukan kebenaran, nampaknya juga adalah sifat sejarah filsafat. Yunani pra sokratik menuju pasca sokratik, ditengahi oleh dialog tematema kosmologi antara Thales hingga Aristoteles. Dari masa Hellenis hingga Abad pertengahan, dihubungkan dengan percakapan antara filsuffilsuf Stoa sampai Thomas Aquinas. Dan dari masa modern hingga postmodern, filsafat selalu diucapkan dengan cara dialogis melalui Machiavelli hingga Slavoj Zizek. Dengan begitu kebenaran dari masa ke masa senantiasa berkembang melalui percakapan dengan zaman sebelumnya, membentuk pola kebudayaan seiring perkembangan masyarakat.

Berdasarkan perkembangan masyarakat, maka filsafat dengan cara dialog dan sifat sejarahnya, adalah suatu pekerjaan terbuka. Berbeda dengan agama misalnya, kebenaran yang diberlakukan secara terbuka, harus menanggung resiko untuk selalu mengalami perubahan, karena dengan cara itulah kebenaran filsafat memurnikan dirinya. Berbeda dengan agama, filsafat harus selalu membuka diri untuk senantiasa memperbaharui kebenaran yang dikandungnya.

Bisa jadi, karena itulah nampak perbedaan mencolok antara seorang agamawan dengan seorang filsuf memberlakukan kebenaran. Seorang agamawan dalam memberlakukan kebenaran selalu dengan fixed minded, sementara seorang filsuf mengakrabi kebenaran dengan cara open minded. Itulah mengapa kebenaran seorang filsuf, dipandang tidak sebagaimana wahyu di dalam agama, karena kebenaran adalah ihwal yang manusiawi; bisa berubah kapankapan saja.

Kebenaran yang bersifat manusiawi dengan sendirinya berdimensi sosiologis lebih ketimbang teologis. Kebenaran yang berwatak sosiologis berarti kebenaran yang muncul dari ragam orang yang berbedabeda, lahir dari orang banyak dan dipercakapkan melalui banyak mulut. Berbeda dengan agama yang bermula dari satu persona tertentu, walaupun akhirnya diperuntukan untuk banyak orang. Perbedaan paling mendasarnya adalah, filsafat bisa datang dari bibir banyak orang, sementara agama hanya bermula dari bibir satu nabi.

Filsafat juga memungkinkan lahirnya lingkungan percakapan yang lebih demokratis, disebabkan karena kebenarannya dapat dipercakapkan oleh banyak orang. Berbeda dari agama yang memiliki kecenderungan suatu hierarki  ketika menyelengarakan suatu kebenaran. Dari sudut pandang ini maka, kebenaran di dalam filsafat membangun pola yang melingkar ke luar, sementara agama justru masuk bergerak ke dalam pada suatu poros yang menjadi pusat. Kecenderungan ini dapat disaksikan jika suatu wacana berkembang di dalam suatu tindak verbal, maka agama akan berpulang kepada suatu titik legitimated, sementara filsafat justru berkembang dengan mendelegitimade suatu keputusan yang telah tetap sebelumnya.

By the way
, filsafat adalah cara manusia menjaga agar pikiran tetap bekerja, dengan cara dialog, melalui omongomong sederhana dengan cara yang hikmat. Dengan begitu filsafat bukan ilmu yang penuh dengan perbincangan yang berat. Apalagi sangkaan yang angker.


10 Maret 2015

madah empatpuluhdelapan

Konon dari waktu senggang muncul kebudayaan. Konon dari inti kesunyian menerbitkan wahyu bagi para nabi. Juga konon, kerja, di zaman sekarang adalah penanda kemanusiaan yang ambruk.

Kerja sebenarnya adalah suatu yang luhur. Bila Hegel membilangkannya sebagai proses idealisasi ruh yang bergerak tanpa pamrih dalam tubuh, Marx, orang yang mencelanya itu, meyakininya sebagai modus eksistensi ril manusia. Hegel dan juga Marx melihat kerja sebagai bentuk to becoming: cara manusia berada.

Tapi cara to becoming, bagaimana kerja di zaman ini sudah jadi sesuatu yang ambruk. Orang dipaksa untuk bekerja. Itulah mengapa dari yang terpaksa menimbulkan alienasi Sebab kebebasan tercerabut persis seperti baut yang membuat suatu perangkat jadi hancur. Kebebasan yang jadi tanda keutuhan, dalam sistem kerja yang dipaksa itulah yang jadi soal.

Akhirnya manusia, dengan kerja yang terpaksa jadi dekaden. Manusia, justru bukan menjadi mahluk yang luhur, melainkan hancur dalam sistem yang di cela sejarah: kapitalisme. Di dalamnya, yang sebelumnya luhur jadi lebur dan menguap jadi kapital yang berlipat ganda. Manusia menjadi asing dalam kerja. Industri jadi sistem kukuh yang untung.

Joseph Pieper melihat kerja yang sudah tak.luhur itu seperti sistem agama. Menurutnya, di alam modern, terutama kaum urban yang didorong untuk dapat terus bekerja, kerja per se telah dikultuskan. "Kerja sudah seperti doa" sebutnya. Artinya, kerja begitu dimutlakkan dalam zaman yang didorong oleh sistem yang penuh daya saing.

Dan di dunia itu, kerja sudah identik dengan cara yang teknis. Akhirnya kerja jadi kehilangan keluhuran. Kerja menjadi kehilangan sakralitasnya sebagai pemenuhan eksistensi jiwa manusia. Sebab kerja berarti usaha yang rutin, otomatis dan mekanis, maka kerja kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang ditandai dengan cengkrama dan waktu kolektif.

Itulah mengapa krisis eksistensi terjadi. Kerja jadi penjara eksistensi. Kerja jadi rutin yang mencuri kesadaran manusia.

Kehilangan yang luhur akibat kerja yang rutin dan yang sesak di jantung krisis eksistensi, bagi Pieper bisa ditampik dengan cara menghidupkan waktu senggang.

Di Yunani purba, waktu senggang ditandai dengan suatu yang luhur: theorea. Theorea yang dari sana terma teori dilahirkan, sebenarnya adalah suatu sikap "melihat" dan "memandang" suatu yang tetap dalam cosmos. 

Cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.

Sebab itulah berpikir berarti mencari ketetapan yang sama dengan ketetapan alam. Aristoteles menyebutnya dengan kaidah kesesuaian partikular akal manusia dengan alam universitas cosmos. Singkatnya, berpikir selalu adalah usaha untuk menyeleraskan yang ada dalam nous dengan cosmos.

Habermas melihat aktivitas theorea itu dalam peradaban Yunani dengan sendirinya bermaksud praxis. 

Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam praktiknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.

Pieper menyebut itu sebagai keadaan yang kontemplatif. Di dalam keadaan itu manusia kembali dapat keluar dari penjara rutin untuk bersentuhan denga totalitas realitas. Di saat itulah, bagi Pieper terbentuk suatu relasi yang fundamental antara manusia dengan kenyataan yang melingkupinya. Di sinilah waktu yang total berarti pembebasan.

Waktu senggang yang dimerdekakan dengan nuansa yang kontemplatif, adalah cara Socrates mengajak masyarakat Athena dengan maksud menjaga nous agar terus hidup. Sebab ia tahu, nous yang mati adalah kesiasian yang mubasir. Waktu yang bernuansa liberatif dan diisi dengan pemenuhan edukatif inilah yang menjadi asal sekolah.

Sekolah awalnya suatu tindak kemerdekaan dengan memproduksi waktu menjadi produktif. Sekolah adalah peluang untuk mencandra cosmos dengan berpikir yang kontemplatif. Dari sini, sekolah adalah medan nalar untuk beroperasi dengan baik. Dan dari aktivitas inilah peradaban muncul.

Tapi seperti juga kerja yang merenggut kebebasan, sekolah di zaman sekarang bisa jadi adalah tempat kebebasan dibantai. Di sana, juga barangkali tempat kekuasaan bereksperimen dengan kebijakankebijakannya. Sekolah akhirnya laboratorium  tempat kepatuhan dicipta dan mangut jadi rutin. Akhirnya sekolah seperti kata suatu buku, adalah candu masyarakat.

Di sini bukan saja agama jadi candu, melainkan juga sekolah. Akhirnya di saat sekarang ada dua hal yang jadi ambruk; kerja dan sekolah. Kerja sebagai rutin yang mencuri kebebasan dan sekolah yang mencuri pendidikan.

Tapi, anehnya yang dicuri itu malah tak jadi soal genting. Barangkali memang ini karena sekolah kita dulu sudah dari awal mencuri pengetahuan kita. Jadi tak ada yang dianggap masalah apalagi hilang.

19 Februari 2015

madah tigapuluh

Betapa mudahnya hukum ditegakkan, tapi betapa sulitnya keadilan ditemukan.

Barangkali karena itulah Socrates mati. Sebab tak ada keadilan di dalam suara terbanyak. Kita tahu,  pengadilan yang menjatuhi hukuman mati bagi filsuf itu, tak pernah mengakui aktifitas Socartes; berfilsafat.

Di Yunani, di saat itu, betapa mudahnya keadilan dipermak. Apakah adil itu? Pertanyaan seperti ini adalah penanda bagaimana keadilan memang tak selamanya jelas. Dalam pengadilan itu, yang menolak argumentasi pembelaan dari Socrates, memutuskan keadilan diberlangsungkan dengan cara suara terbanyak.

Apakah adil itu? Pertanyaan ini barangkali adalah pertanyaan yang memang tak sepenuhnya tuntas. Di saat ketika Socrates hidup, betapa banyaknya kaum sophis, golongan yang pandai membangun opini atas argumentasinya yang menyesatkan. Keadilan memang tak sepenuhnya dapat dijelaskan, sebab tak ada yang disebut kebenaran yang pasti, Phiro mengyakininya demikian. Kebenaran yang pasti sulit dijangkau. Kita, manusia tak bisa menyentuhnya. Kebenaran suatu yang misterium.

Sebab itulah Socrates bangkit melawan. Sebab di Yunani, saat itu sesat pikir jadi massal. Keadaan jadi simpang siur akibat kaburnya ukuranukuran. Filsafat bukan berarti keahlian yang tanpa hormat. Filsafat harus sampai pada satu simpul kebenaran. Kaum sophis salah. Kebenaran pasti ada, sebab itulah filsafat harus mencarinya.

Tapi, bagi banyak orang terutama orangorang kaya, kaum sophis sangat berguna. Keahlian mereka dalam menyusun argumentasi yang alot sangat dibutuhkan. Sebab di waktuwaktu tertentu, argumentasi mereka digunakan untuk berdagang. Retorika mereka sangat tepat untuk menarik perhatian orang. Dalam sejarah Yunani, mereka banyak ditemukan dirumahrumah orang kaya.

Itulah mengapa Socrates membenci kaum sophis. Keahlian yang mereka miliki justru membuat manusia tak hormat terhadap kebijaksanaan. "Aku bukanlah orang yang bijak, tetapi aku mencintai kebijaksanaan." Sepertinya sebab itulah ia tak ingin disebut sophis walau arti dari kata itu sebenarnya suatu yang baik; bijaksana. Tapi, karena orangorang yang menjual kebijaksanaan di pintupintu orang kaya, kata itu jadi cacat. Kata itu jadi rusak.

Di negeri ini, sebagai suatu yang sophis banyak sekali ditemukan. Bahasa kebenaran jadi kabur oleh ketidaklogisan katakata. Dalam hukum, bahasa menjadi medium yang mendua. Bahasa seperti ungkapan kaum sophis, tak mampu menyampaikan apaapa. Bahasa justru menjadi penjara dari apa yang ingin disampaikan. Bahasa tak bisa membawa manusia menjadi lebih tahu. Karena itulah tak ada yang bisa menangkap maksud. Tak ada yang bisa dirumuskan. Juga keadilan.

Keadilan memang suatu yang harus dicari dan diperjuangkan. Di negeri semacam ini, keyakinan sophisme memang tak seperti di Yunani era Socrates yang terang benderang ditemukan. Juga keyakinan mereka tentang kemustahilan ditemukannya kebenaran, tak membuat jemu orangorang mencarinya. Di sini, ditempattempat keadilan ditegakkan justru disaat yang bersamaan, keadilan disembunyikan. Atau yang lebih malang adalah keadilan dibungkam.

12 Februari 2015

madah duapuluhtiga

Konon, di Yunani purba, tubuh merupakan wakil kebaikan dan keuletan. Ia adalah penanda supremasi manusia. Olimpiade, misalnya,  yang dilakukan selama empat tahun sekali di lereng Gunung Olimpus, merupakan pemujaan terhadap tubuh yang ideal. 

Bahkan dalam filsafat, Aristippus, teman Socrates, mengidealkan tubuh sebagai ajaran etika. "Kesenangan tubuh jauh lebih baik dari kesenangan jiwa." Di Yunani sepertinya, tiada jiwa yang ideal tanpa tubuh yang ideal.

Itulah  ada adagium yang akrab; mens sana in corpore sano, di balik tubuh yang kuat, ada jiwa yang sehat. Di balik seratserat otot yang padu, terdapat jiwa yang utuh.

Namun itu di Yunani, suatu masa ketika tubuh ditempatkan sebagai ekspresi atas yang ideal, yang dipuja dan dipuji. Sesuatu yang sempurna.

Bagi sebagian orang ada keyakinan tubuh adalah medium kejahatan. Tubuh sudah terlanjur dianggap musuh kemurnian. Tubuh adalah ruang yang gelap dan tak harus dicandra. Dari itu, tubuh dijauhi. Dari itu, tubuh diasingkan.

Di Yunani sendiri, sebelumnya ada Platon. Ia berpendapat tubuh adalah kuburan jiwa. Jiwa diandaikannya sebagai entitas ideal yang murni, yang disebutnya hidup dalam archetype. Di sana adalah kebebasan sejati, jiwa hidup bebas dan tiada batas. Namun jiwa mengalami keturunan dan terperangkap dalam tubuh. Jiwa, yang semula hidup bebas akhirnya terpenjara dan terkurung. Dan tubuh adalah dunia yang gelap bagi jiwa; bayangbayang.

Maka itu tubuh dipandang nisbi dan membelenggu. Tanda nisbi pada tubuh, yakni sesuatu yang mengalami spasial. Tanda pembelengguan pada  tubuh, yakni ia meruang dan itu berarti ada jarak dan terbatas. Oleh sebab itulah, tubuh tak memberikan kebebasan. Oleh sebab itulah jiwa mesti dibebaskan. 

Platon memang memiliki pandangan yang tak sepenuhnya mewakili keyakinan umum Yunani. Pandangannya yang diimplisitkan dalam filsafatnya tak juga dapat dikatakan adalah produk kehidupan Yunani. 

Namun Platon tak bisa lepas dari tubuh sebagai modus keyakinannya dieksplisitkan. Sebut saja tumos, salah satu bagian tubuh yang ia sebutkan dalam menjelaskan arete sebagai jalan keutamaan. Tubuh nampaknya, dalam pikiran Platon adalah apa yang disebut Socrates sebagai perangkap jiwa; kelemahan yang terus menerus memotong, mengganggu, memecahmecah dan menghalangi manusia dari kebenaran.

Barangkali sebab itulah tubuh dianggap bertentangan dengan kehendak jiwa. Barangkali inilah maksudnya; yang utama bagi Platon adalah jiwa. Yang ideal bagi Platon adalah unsur yang tak dapat dibagi; sesuatu yang tak berkekurangan; sesuatu yang disebut ultim. Atau apa yang disebut yang real. 

Maka itu yang lain hanyalah bayangbayang; yang lain adalah semu; yang lain adalah palsu; dan yang lain adalah pantulan dari yang substansi. Jika yang lain sudah seperti pantulan, barangkali wajar saja yang lain akhirnya sesuatu yang tak layak diutamakan.

Dengan demikianlah tubuh dilabeli dan diberikan arti yang defenitif; sesuatu yang rendah dan tak berarti. Juga dalam agama, tubuh adalah elemen yang tak selamanya bersih dari sumbersumber petaka. Tubuh dalam agama, sama dengan arti pengutamaan atas jiwa. Tubuh dalam agama, sama berarti adalah bagian yang ditundukkan atas superioritas jiwa.

Tapi ada sebuah keyakinan; firman telah menjadi daging. Ini ada dalam maksud seperti yang dimiliki Kristiani, yakni tuhan menjadi manusia. Keilahian dimanusiakan dan ini juga berarti sebaliknya, segala "kedagingannya", kemanusiaan diilahikan. 

Sebuah tubuhkah daging itu? Yang pasti ada kisah disaat perjamuan terakhir; “Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memotong-motongnya, lalu memberikan kepada murid-muridnya dan berkata; ambillah, makanlah, inilah tubuhku. Sesudah itu ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata; minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab ini darahku.” (Matius 26: 26-27)

Dalam itu, ada sebuah peristiwa menyangkut tubuh yang disucikan. Daging, yang nampaknya dianggap tak memiliki apaapa diubah menjadi hal yang mitis, bahkan ilahiat. Tubuh dalam perjamuan itu ibarat suatu bagian yang tak terpisah dari yang ilahiat. Dalam kisah itu, sang juru selamat berkata; “ambillah, makanlah, inilah tubuhku.” Ada yang ditranformasikan disitu, bahkan ada yang tidak sekedar diubah di situ, melainkan dicipta, yakni yang dalam Platon adalah "kuburan jiwa", justru menjadi bagian yang kudus.

Sementara yang kudus dalam tubuh, hari ini, justru perayaan atas tubuh yang lain, yakni tubuh yang tak pernah disentuh yang kudus. Yang ilahiat, atau yang kudus, hari ini juga ditranformasi. Namun, bukankah saat ini kita samasama tahu apa arti tubuh dalam pasar? Bahkan apa arti tubuh dalam kekuasaan? Hari ini tubuh yang ditranformasi, entah itu pasar atau kekuasaan atau lainnya, adalah tubuh yang bukan milik kita. Tubuh yang tanpa pribadi.

22 Januari 2015

madah empat

Menjadi manusia dan memilih menjadi manusiawi adalah dua ihwal yang berbeda. Apalagi di dalam situasi yang dibilangkan Ulrich Beck; masyarakat berisiko. Beck mencurigai dan juga meresahkan pencapaian yang telah direkam dalam peradaban saat ini. Terlalu banyak hal yang di luar perhitungan, terlalu banyak resiko. Peradaban atau masyarakat yang kita sebut modern, sudah terlalu banyak menciptakan kemajuan, tetapi juga kesenjangan.  Lahirnya kapitalisme hanya berpusat di dalam pusaran kekuasaan, di luarnya; ada kaum miskin kota yang tergusur; buruh yang tak diupah; petani yang kehilangan lahan; nelayan yang tak kunjung melaut; dan kita sendiri yang masih saja resah terhadap nasib yang paspasan. Di dalam nasib yang paspasan itulah menjadi manusia atau memilih menjadi manusiawi adalah urusan yang bisa subtil. Walau terlalu banyak bahaya. Terlalu banyak resiko.

Di saat resiko kemajuan menciptakan dunia yang penuh bopeng, justru kita hidup dengan topeng.  Itulah barangkali saat ini menjadi manusia adalah hal yang massal. Yakni berbuat atas pikiran yang massal, selera yang massal dan akhirnya juga sikap yang massal. Yang massal, atau yang dalam permisalan Herbert Marcuse sebagai manusia satu dimensi, adalah orangorang yang sudah sama dengan yang lain. Menjadi manusia disaat ini bisa berarti menjadi yang massal, menjadi bagian yang tercerabut dari dimensi kritisisme hingga akhirnya menjadi bagian dari kelompok yang kukuh membangun kesepakatan terhadap dunia yang sudah bopeng. Sementara arti dari kesepakatan berarti menutup ruang untuk alternatif, sebuah minat yang berbeda dan juga sikap yang berlainan.

Tetapi terlalu banyak bahaya. Terlalu beresiko.

Tetapi bukankah sebuah topeng adalah sebuah kamuflase. Sebuah tempat untuk bersembunyi? Ini dia masalahnya.  Zizek, filsuf yang eksentrik di abad ini menyatakannya dalam satu permisalan; ideologi bukan apa yang bermain di atas bahasa dan pemikiran, tetapi apa yang telah dan akan diperbuat. Topeng atau sikap yang massal, bisa jadi adalah sebuah ideologi, sebuah kesadaran semu. Tetapi mengapa manusia tak jemu menjadi yang massal? Sebabnya sudah jelas, ialah bukan dari  what you think tetapi what you do.

Oleh karenanyalah yang semu itu kita lakukan berulangulang hingga tak bisa lagi dibilang. Angka sudah di luar limit atas kedunguan kita. Di kehidupan yang berporos atas produk, kita tidak lagi kikuk untuk ramai dalam massal hiruk pikuk. Atau dalam bahasa Baudrillard kita yang massal itu menjadi konsumtif. Dan nampaknya segalanya memang berputar dalam satu prinsip yang ajeg; nilai lebih ke nikmat lebih.

Dan di balik nilai lebih itulah kita mencumbu nikmat lebih, sebagai sikap yang di afirmasi dan dikonfirmasi pasar. Kita, yang menjadi manusia, atau yang massal, sudah selalu ingin dan di dalam zona yang nyaman. Di sanalah pojok dunia yang kita huni dan sebenarnya penuh bopeng itu. Di mana dengan topeng kita hidup tanpa pernah untuk memilih kembali menjadi manusia yang manusiawi.  Barangkali ini usaha yang sudah usang dan bisa jadi sudah jarang. Sebab janganjangan kita beranganangan dibalik topeng yang sudah nyaman untuk menyusun skenario.

Skenario atau jalan cerita yang disusun bangun, selalu mengandaikan situasi yang kritis dan juga taktis. Yang kritis dalam cerita biasanya adalah plot yang menegangkan agar di sana ada situasi yang tibatiba di rembukkan kembali, atau bahkan adalah momen yang akan menentukan jalannya cerita selanjutnya. Tanpa situasi yang kritis dalam sebuah alur, maka cerita menjadi kisah yang hanya menciptakan emosi yang datar. Sementara yang taktis adalah cara bagaimana sang tokoh keluar dari situasinya yang kritis. Dengan cara yang taktis yang kritis itu dijaga hingga akhir cerita.

Yang malang, skenario yang kita susun selama ini justru skenario yang lain dari plotplot yang kritis dan taktis. Hidup kita malah tak pernah mengalami plot yang kritis oleh karena memang kita tak bersiap menyusun taktis yang lengkap. Maka barangkali wajar jika kita, yang massal ditilap zaman. Yang kritis dan taktis sepertinya sama yang dimaksudkan oleh Sokrates dalam ungkapannya yang masyur; hidup yang tak terperiksa adalah hidup yang tak layak dipersiapkan. 

Sebenarnya menjadi manusiawi adalah menjadi “yang pribadi” yang terus memeriksa, sigap dan tanggap agar sikap tidak tilap oleh gelap. Semuanya agar tidak menjadi yang massal. Dan ini butuh berani dan nyali. Sebab menjadi pribadi adalah sikap yang siap menghadapi yang kritis dengan taktis. Menjadi pribadi berarti mengambil resiko yang lain, apalagi hidup di zaman seperti ini terlalu berbahaya, terlalu beresiko.

15 Januari 2015

Beragama dengan Tindak Filsafat

Filsafat di hadapan agama dalam sejarah adalah ilmu yang selalu mengandung perselisihan. Di dalam peradaban Barat maupun Timur, filsafat  selalu disisihkan dari khalayak umum. Dijatuhmatikannya orang-orang semisal Socrates, Galileo, dan juga Bruno dalam sejarah sosial politik Barat, dan pembunuhan terhadap Suhrawardi, kecaman Al Gazali, dan Ibn Taimiyah terhadap filsafat di sejarah pemikiran Islam, adalah ilustrasi bagaimana agama menjadi hakim atas tindak berpikir filosofis yang dianggap membahayakan keberlangsungan tatanan masyarakat. Filsafat sebagai tindak berpikir kritis dan radikal dianggap dapat mempengaruhi atau merusak tatanan iman yang merupakan inti dari keyakinan agama.

Jika meminjam analisis Alain Badiou,  ada empat faktor yang dimiliki filsafat sehingga dapat membahayakan agama. Yang pertama adalah apa  yang ia istilahkan revolt. Dalam kasus Soscrates, revolt adalah diskursus pengetahuan yang merupakan cara berpikir baru atas penolakan terhadap keyakinan-keyakinan lama.  Dalam arti ini, filsafat selalu ditandai dengan penolakan logis terhadap dunia yang dihadapi. Dengan demikian filsafat bermaksud untuk menguak tabir terselubung yang menjadi cangkang dari kesadaran lama. Dalam arti inilah krtisisme filsafat dimaksud.

Kedua dalam filsafat selalu mengandaikan sistem yang logis. Apa yang dikandung dalam filsafat adalah sistem logika yang berbeda dari zaman yang dihadapinya. Filsafat harus menjadi sistem pemikiran yang menyandarkan asusmsi-asumsinya pada kronologi pikiran yang logis. Dengan pikiran yang logis maka asumsi-asumsi yang dibangun dalam filsafat menjadi penalaran yang argumentatif dan gamblang.

Dengan cara sebelumnyalah maka filsafat dengan sendirinya menjadi sistem yang universal. Hal ini dimungkinkan oleh elementasi filsafat yang hendak menduduk perkarakan sistem keyakinan yang tidak logis berdasarkan prinsip-prinsip penalaran akal sehat. Tetapi hal ini dalam perekembangannya tidaklah mudah, sebab filsafat selalu mengandung resiko. Sebagai elementasi yang keempat, resiko adalah derivasi dari filsafat atas keputusan cara pandang baru yang dianutnya.

Atas keempat elemen inilah, seperti yang ditunjukan Alain Badiou, filsafat adalah ilmu yang melatarbelakangi terjadinya reposisi pemikiran yang telah mapan. Hal ini disebabkan karena filsafat selalu mengandaikan tindak berpikir logis dan kritis terhadap seluruh pernyataan-pernyataan yang ada dalam iman agama. Filsafat seperti yang telah ditunjukkan dalam sejarah merupakan modus berpikir yang paralel dengan rasa keingintahuan manusia sebagai mahluk pencari kepastian. Pada sudut pandang ini filsafat adalah human conditio yang menjadi esensi kemanusiaan.

Dalam kaitannya dengan agama, filsafat bukan saja tindak berpikir yang secara eksplisit kontradiksi dengan agama, tetapi dengan cara kerja yang kritis dan radikal sebaliknya justru akan menjadi penopang bagi bangunan pengetahuan manusia. Di dalam kandungan kontradiktatori inilah sebenarnya filsafat dapat menjadi elementasi yang bersinergi dalam membangun keimanan yang kokoh, pun juga dalam agama.

Tetapi mungkinkah hal itu terjadi? Di mana dalam tindak berpikirnya, filsafat disituasikan untuk tidak mudah menerima sebuah pernyataan yang sungguh berbeda dengan agama. Dalam agama, pernyataan yang berkaitan dengan pandangan yang prinsipil selalu ditundukkan dalam iman yang diterima begitu saja. Sementara filsafat, sejauh dari sejarahnya adalah produk khas pikiran manusia yang senantiasa mencari kejernihan kebenaran daripada terhempas di belantara rimba raya yang tanpa dasar.

Untuk menyeleraskan eksposisi di atas, saya ingin menjadikan bagaimana plato mengandaikan filsafat sebagai “usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus” untuk dijadikan titik tolak dalam rangka dimungkinkannya filsafat dan agama mampu bersinergi. Setidaknya dari acuan yang diungkapkan Plato, filsafat menjadi subjek introgator atas kemapanan baku dan beku keyakinan-keyakinan yang dikandung dalam kehidupan agama, sosial budaya, ekonomi dan politik.

Lantas bagaimanakah filsafat yang diandaikan Plato dapat dioperasionalkan di dalam membangun sinergisitas kehidupan, dalam hal ini agama, agar tidak menjadi apa yang ia sebut doxa. Apabila mengacu dari konsep epistemologi Plato, doxa merupakan pengetahuan yang tidak memiliki acuan dari asas-asas kebenaran yang diderivasikan menurut prinsip-prinsip logis penalaran. Doxa seperti yang diistilahkannya adalah pengetahuan semu berupa bayang-bayang dari pantulan kebenaran yang bernilai delusif.

Pertama, sebagai acuannya adalah bagaimana menempatkan “usaha mencari” sebagai modus awal dari usaha sinkronik terhadap agama. Kegiatan ini di dalam tradisi filsafat, diaksentualisasikan kedalam bentuk-bentuk pertanyaan sebagai jalan memutar untuk merehabilitasi sudut pandang keyakinan. Usaha ini ditandai dengan sikap terbuka  dan skeptik atas pernyataan-pernyataan yang belum terbukti kebenarannya. Oleh filsuf-filsuf, dari model semacam inilah mereka membangun pemikiran filosofisnya.

Sementara itu, tindak lanjut dari kegiatan “usaha mencari” setidaknya membutuhkan “kecermatan yang gigih” untuk menemukan presisi dalam menetapkan penemuan-penemuan yang dialami. Etika  sikap ini memerlukan perhatian dari purnaragamnya alternatif kemungkinan sehingga membutuhkan kecermatan terhadap koherensi antara pernyataan di dalam sistem pemikiran rasional. Sejarah pemikiran filsafat menandai kondisi ini dengan silih bergantinya sudut ragam pemikiran yang berkembang hingga akhir ini.

Usaha ini akhirnya menjadi kaidah metodis dalam “usaha  yang terus menerus” disebabkan oleh sifat kebenaran yang dipahami menjadi kepastian yang dialektis. Ini berarti berfilsafat secara inheren mengacu kepada sikap rendah hati untuk mendialogkan keyakinan yang dimiliki dengan model-model keyakinan yang lain. Mengacu dari prinsip ini kebenaran dalam agama akhirnya dikeluarkan dari sifatnya yang dogmatis menjadi dialogis.

Berdasarkan usaha di atas, maka filsafat sebagai ilmu yang kritis menjadi seni penghayatan terhadap keimanan agama yang memerlukan pemugaran. Berdasarkan beberapa pemahaman, asumsi ini berangkat dari  konsep agama sebagai seperangkat keyakinan yang dipegang teguhkan tanpa mengetahui asal usul dasar epistemnya. Sesungguhnya keyakinan yang demikian sebaliknya menjadi iman yang bercirikan nomad (gerombolan), yang diaktuskan pada kehidupan keagamaan yang fundamentalistik.


01 Oktober 2013

Di Ambang Kenyataan; Beban atau Peluang?

Martin Heidegger, dengan pemikiran ontologinya yang rumit, pernah memaktubkan gejala mendasar dan problematis, pada metafisika Barat- dengan seluruh totalitasnya sudah lupa- terhadap Ada. Di suatu waktu ia berkata, kita lupa terhadap sesuatu yang sederhana namum begitu fundamental; Ada. Yang terlupakan adalah entitas yang mendasari adaan yang lain. Sesuatu yang mengendap pada dasar kenyataan yang nampak, metafisika Barat dengan seluruh tradisinya terjangkiti penyakit yang segera harus dibersihkan dari kategorikategori yang dianggap gagal membaca kenyataan. Demikian sehingga telah membawa manusia melupakan dasar keberadaannya.

Semenjak Parmenides sampai Sokrates, Platon hingga Kant; metafisika sebagai filsafat awal, tengah mengalami kecemasan. Filsafat guyah dari sendisendinya. Yang dahulu deskripsi tentang Ada menjadi anasir utama akhirnya harus terpinggirkan. Kemungkinan manusia untuk mendapati dan menggapai Ada; kenyataan sublim, akhirnya mengalami jalan yang buntu. Manusia akhirnya tergugat, bahwa manusia bukanlah mahluk yang mampu mengatasi kenyataan.

Namun apa yang sebenarnya diyakini sebagai kenyataan yang sublim; ihwal segala yang mendasar, sesuatu yang bagianbagian turut di dalamnya, yang sebenarnya dipahami sebagai ia yang sesungguhnya tak telibat dalam sesuatu. Soal yang tak berubahubah diantara nampakannampakan yang silih berganti. Atau sesuatu yang lain di mana semua bergantung padanya, dan tiada perubahan mensifatinya, sesuatu yang dibilangkan sebagai pusat,  subtansi. Lantas apakah kenyataan yang guyah ini, tak pejal adalah kenyataan yang satusatunya,  sehingga daripadanya bersandar seluruh totalitas keberadaan lainnya dan akhirnya menampik perihal yang tetap, universal, sehingga kita harus beralih pada situasi yang tak menentu.

Dimulai dari Kant, di tanganya semuanya berbalik. Kenyataan; realitas hakiki, sebagai yang tak berubah harus ditinggalkan sebagai bentuk keterbatasan manusia. Oleh sebab, ihwal yang subtantif hanyalah kesan yang berada diseberang kesadaran, sesuatu yang tak menampil kejelasan. Selubung adaan yang tak mengenal identitas, yang di balik kenyataan, semesta yang tak dikenali oleh apa yang ia terakan sebagai noumena. Sehingga mulailah batas dipancangkan oleh kesan yang diwartakan; manusia dengan  cogitonya tak mampu menyeberangi lebih jauh, fasih untuk memberikan prediksi pada sesuatu yang tak dikenali. Manusia, dengan akalnya punya batasan.

Sebelumnya, Immanuel Kant, seorang filsuf rasionalis yang saleh, yang taat dalam soal waktu itu, ternyata dibangunkan dari tidurnya yang berkepanjangan. Oleh Hume, filsuf empirisme Inggris menghentak kesadaran rasionalis Kant. Dia dibangunkan pada kenyaataan yang berbeda, tentang asumsi yang lain daripada sebelumnya, bahwa tiada keberadaan yang universal, sesuatu inti yang tetap dan absolut, suatu subtansi, oleh sebab kenyataan adalah suatu yang mengalir tak tetap. Bahwa apa yang disebut dasar kenyaatan, yang prime adalah pengetahuan yang tak bisa dilacak muasal keberadaannya. Dan seperti apa yang pernah diwartakan berabadabad yang lalu, oleh Heraklitos, di mana kita tak bisa melangkahkan kaki untuk kedua kalinya pada aliran sungai yang sama.

I freely admit that remembrance of David Hume was the very thing that many years first interrupted my dogmatic slumber and gave a completely different direction to my researches in the field of speculative philosophy ((prolegomena, 1997;10), Donny Gahral Adian)   
     
David Hume, dengan prinsipnya nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu, memanglah seperti sebilah godam. Ia menghantam tepat dijantung seluruh asumsi filosofis yang menetapkan keyakinan terhadap subtansi, yang universal, bahkan yang ilahi dengan mengembalikannya pada kesan yang primer yakni sensibility. Sensibility adalah fakultas yang utama dalam mencandra kenyataan, berupa bendabenda, hubunganhubungan, kualitas, kuantitas, modalitas dsb, sebab sensibilitylah kesan yang paling kuat menangkap objekobjek. Dengan keyakinannya demikian, daripadanya ia menolak bayangbayang yang bernaung di dalam benak imaji manusia. Dengan tegas prinsip tiada kesan sesuatu pun dalam pikiran yang tiada berawal dahulu pada penampakan inderawi akhirnya ditotalitaskan.

Darimana akhirnya permulaan itu? Tentang padanan kenyataan adalah apa yang terinderai. Mengenai perihal yang menolak ideide platonian itu? Atau kategori yang dianggap nyata adalah apa yang dipersentuhi oleh kesan indrawi kita? Sesungguhnya asumsiasumsi demikian adalah bentuk yang tak jauh dari apa yang dibilangkan oleh Aristoteles. Di umur 18 ia menjadi murid Plato, belajar giat di Academia dan setelahnya menjadi orang yang menolak apa yang pernah diterimanya. Aristoteles merombak gagasan Platon tentang subtansi yang bersemayam di alam Archetype, alam bentukbentuk; alam yang di luar alam indrawi. Sebab Platon memiliki iman terhadap dua dunia, yakni dunia yang diendapi ketakmenentuan, cenderung berubahubah, dan akhirnya semata semu, dan yang ideal, immortalitas bentukbentuk, dunia idea, tempat jiwa pada waktu ia total mengetahui. Darinya Platon, menolak yang semu dan menerima subtansi yang sesungguhnya adalah apa yang ada di luar sana, dunia idea.

Tetapi bukankah, yang subtansi adalah apa yang nyata di hadapan mata. Dan bukankah ia adalah perihal yang tak jauh dari tangkapan retina kita. Subtansi adalah apa yang menyatu pada tampilan kongkrit bendabenda, bukan pula seperti apa yang ada di dunia idea. Melainkan merupakan adalah apa yang menampakkan benda itu dapat dimungkinkan, yakni subtansi sebagai bagian dari morph dan hyle  yang berpeluang untuk diaktuskan, yakni berupa potensi. Daripanyalah subtansi akhirnya bukanlah esensi yang berada di langitlangit Platonian, melainkan padu rapat pada bendabenda.  

Akhirnya dengan cara pandang demikian, kita menerima kenyataan berdasarkan kategorikategori yang menyelubungi kenyataan. Dengan merangkak naik ke atas dan mengukurnya dengan prediksiprdiksi yang terukur. Oleh aturanaturan subtansi, universal, tak berubahubah dan pejal. Dengan penalaran yang rigoris; sebuah cara pikir yang sistematis dan tertata. Tetapi apa hak kita dari kenyataan yang kita berikat predikasi, mengenai ukuranukuran yang sebenarnya tak mampu ditinjau secara total? Dan itulah yang disebut dengan kenyataan Ada? Bukankah itu adalah konstruksi metafisika yang tergenang di dalam anti metafisika? Dan di sinilah Heidegger membawa pikirannya menjauh dari selubung yang belum keluar dari dikotomi terhadap kenyataan.

Bahwa kenyataan adalah dunia alam beserta dengan seluruh isinya, seluruh peristiwa yang di alami. Sesuatu yang tunggal dan tak terbelahbelah, yang dialami, kemudian digeluti dan dihayati. Yang oleh ia disebut dengan lebenswelt, kehidupan yang dikesani tanpa tedeng alingaling pretensi susun yang mengkontruksi kenyataan. Sebuah kenyataan yang present dan bukan representasi pikiran. Dari padanya kemudian kenyataan adalah bukan yang berdiri di atas konstruksi bangunan pemikiran yang penuh dengan indikatorindikator, melainkan hidup yang teralami, ada di dalam dunia.

Maka lupa itu dipecahkan dengan Dasein ( da: di sana, sein: ada) keberadaan satusatunya yang mampu mempertanyakan kembali Ada. Dengan cara  menjadikannya sebagai bentuk penyingkapan terhadap Ada. Sebab hanya manusialah yang memiliki kesadaran untuk menggugat fenomena dengan cara menyikapinya; sebuah sikap yang dan dalam dunia, dengan cara bertanya di hadapan Ada. Namun kesadaran seperti apakah, yang tidak tercemari dikotomi yang memilahmilah? Bukankah sebelumnya kesadaran adalah hal yang menegasikan kenyataan di bawah superioritas ego yang berpikir? Dengan membelahnya menjadi kenyataan yang dipikirkan dengan Aku yang berpikir? Sebab kenyataan di mata Dasein adalah aku yang di tengah dan dalam dunia. Yang mafhum bahwa tiada objek selama tak berintensi dengan kesadaran dan sebaliknya tiada kesadaran yang terpaut dengan objek, atau dengan kata lain kesadaran adalah keterjalinan yang intensif.

Dalam totalitas kesadaran yang terpaut dengan bendabendalah manusia akhirnya menemu kenali kembali kenyataan yang sebelumnya tunduk di bawah hukum kategorikategori. Hingga akhirnya keberadaan dapat terjangkau dengan  cara menyertakan kesadaran yang mendistingsi adaanadaan yang terberi. Karena Dasein sebagai faktisitasi dari Ada adalah ego yang mampu memberikan dasar bagi keberadaannya. Sebab bukan apa sesungguhnya Ada itu (what is being) yang mendasari, melainkan apa makna ber-Ada sesungguhnya (What it means to be).To be continue…

12 April 2013

Filsafat dan Agama; Dua Persisian

Marilah kita ziarah pada sebuah masa yang telah lampau; alaf waktu medan hidup manusia belum tersentuh dengan label dalam makna modern. Di mana disana formasi sosial belum terdefenisikan lewat jejaring struktur yang terlalmpau kompleks. Di sana, dimensi ruang belum tersekat oleh defenisi kelas social yang ajeg. Hidup masih berjalan pada usaha mencari sesuatu yang hakiki dan ilahiat. Ruang ini; tercipta alam kebebasan untuk mengaktualkan seluruh potensi manusia. Dengan tujuan pencapaian sebuah tata hidup yang harmonis dan kekal. Tempat inilah yang kita kenal dengan tanah Yunani.

Yunani dengan situasinya; model dan ciri karakteristik kehidupan masyarakat yang harmonis, terdapat alam kebudayaan subur untuk tumbuh berkembangnya produk khas dari potensi akliah manusia; filsafat. Potensi yang jauh melampaui dari kepemilikan seluruh mahluk hidup alam semesta. Dengan kemampuan inilah, manusia menerbangkan kepak imajinya untuk menyusuri kelokan labirin yang paling elok, sampai pada yang paling misterius sekalipun. Untuk pertama kalinya, manusia harus mengakui bahwa ada keberadaan yang terhampar luas terbentang di depannya. Sebuah dunia siap untuk dijelajahi. Inilah saat filsafat bermula menjadi jalan manusia untuk mencari makna kebijaksanaan yang hakiki.

Filsafat adalah tradisi pemikiran. Serangkaian “narasi” dimana di sana  bertutur sapa dipertemukan. Terbentang dalam perlintasan sejarah umat manusia. Hendak mencari keterhubungan antara manusia disatu titik dengan “panorama kebajikan” dititik seberangnya; sebuah kebajikan primordial. Bentang relasi yang terdapat usaha sadar antara manusia dengan realitas hakiki. Dengan tujuan mencari kebermaknaan hidup. Filsafat adalah bagaimana hidup bisa selaras dengan tata kosmik.

Filsafat juga bisa menjadi medan lapangan perebutan. Di dalamnya filsafat menjadi daerah pertarungan antara dua wajah antagonistik. Setidaknya ini yang dikatakan Betrand Russell, seorang filsuf Inggris.  Agama dan Sains, persilangan kontrari yang senantiasa menampilkan sebuah epos pertarungan untuk menarik seluruh perhatian manusia. 

Demi memberikan pemecahan dalam membawa manusia untuk mencapai ketinggian harkat dan akal budinya. Maka filsafat adalah ruang netral dimana memasukinya, siapa pun harus bersiap menanggalkan seluruh identitas yang dimiliki. Sekalipun pada ruang-ruang privativ. Melepaskan seluruh nilai subjektiv kemudian bergegas datang dengan kevulgaran. Filsafat adalah daerah yang tak  bertuan; petak ruang yang seringkali dijadikan otoritas dalam menentukan segala sesuatunya pada tafsir yang tunggal.

Dengan demikian, filsafat akan memberikan dan membentuk sebuah sense yang ada dalam manusia, untuk mau menerima seluruh kekurangan dari apa yang kita pahami sebagai hal yang benar. Oleh sebab dalam  filsafat akan kita temukan keanekaragaman yang jamak, sebuah panorama yang saling memberikan warna dari keseluruhan apa yang ada di dalamnya. Sebuah tempat dimana ruang bathin mau tak mau harus menerima wajah-wajah kebenaran yang tak pernah tampil dalam bingkai yang ajeg.

Jika filsafat adalah lapangan yang netral, area yang tak memiliki otoritas kebenaran, maka dengan apakah kita harus memberikan penilaian terhadap  persentuhan kita dengan realitas? Filsafat terkadang menyesakkan. Selalu menyebabkan ketegangan, darinya selalu mengundang dilema-dilema kemanusiaan. Mungkin saja sampai masuk meronrong dimensi bathin; kemapanan iman dan keyakinan

Awal dari tragedi 

Semesta kehidupan manusia bukan petak bujur sangkar tempat  dimainkan dramaturgi. Sehingga laku dan peran sejak azali dilekatkan pada identitas-identitas yang ajeg.  Dengan tokoh yang masuk dalam panggung,  menyuguhkan narasi dengan skenario teater. Bertujuan dengan untuk menyenangkan hati sang sutradara tunggal dibalik layar kendali. Sekali pun tak mampu menjangjangkaunya dengan cerapan indera dan imaji, seperti apa rupa dan kehendak yang di inginkannya.

Peristiwa inilah yang mengundang perdebatan dikalangan filsuf dan ahli kalam dalam mendedah kemuskilan-kemuskilan yang dihadapi. Disana ada dua model corak berfikir yang bertentangan. Dua system berpikir yang masing-masing berbeda pada pem-posisian otoritas kebenaran. Di ufuk yang paling timur, memiliki corak yang ditimpali dengan teks-teks ke-wahyu-an sebagai the one truth dan daya rasio sebagai sekumpulan kubangan doxa-doxa. Sementara pada sebuah era yang telah melepaskan eksistensi manusia pada pemagaran para padri agama dan otoritas sabda kudus gereja, mempertontonkan satu jejaring pemikiran yang bebas menjejalkan kakinya pada penemuan-penemuan baru. Tentu berdasarkan pada kebebasan rasio sebagai pemandu ziarahnya. Salah satu dari dua system berpikir inilah yang diserap dan digunakan pada alam berpikir sebahagian cendikia Islam pada perjumpaannya dengan kultur hellenisme. Datang menggelayungi semesta kehidupan masyarakat Islam pada masanya.

Maka sebutlah epik yang telah tergariskan sejarah manusia, dari masa seorang Socrates harus memilih jalan untuk meneguk racun cemara sebagai keteguhan sebuah pilihan. Iman pada jalan yang senyap dan terjal ditengah-tengah sahabat dan murid-muridnya. Dalam ruang penjara, ia mati. Tangisan pun melepaskannya. Baginya yang paling memiris hati adalah tunduk patuh pada keyakinan yang buta; pada sabda-sabda padri agamawan tanpa kemerdekaan berpikir. Apalagi gagasan yang didasari oleh argumentasi yang tidak kokoh. Nalar yang menelikungi kebenaran. Pada kisah ini, Socrates mencintai kebenaran dengan cara kematian, dibandingkan masuk terpenjat dan dijejali keterasingan yang paling nyata, yakni terpenjara pada iman yang tak jelas.

Pada alaf yang lain, pada waktu yang berselang, kediktatoran agamawan abad pertengahan menjadi marak. Saat dimana penjatuhan hukuman bagi orang-orang yang melakukan bid’ah. Ditenggarai oleh karena melakukan satu kesalahan fatal pada masa itu, kesalahan yang membuat sang terdakwa harus digantung pada tiang pancungan. Sampai terkadang dibakar dalam keadaan hidup adalah hal yang lumrah. Menentang gereja adalah iman yang melenceng. Hanya dikarenakan orang-orang seperti Galileo Galilei dan Copernicus mempertanyakan keabsahan kebenaran yang dianut oleh pihak gereja, tentu mengenai keyakinan pada bumi yang diimani sebagai poros sentral alam semesta.

Pada belahan dunia yang berbeda, Islam telah berjaya. Sebutlah seorang failusuf yang meregang nyawa diusianya yang masih muda, tiga puluh delapan tahun umurnya. Konon ia mati ditangan eksekutor seorang algojo dimasa dimana Islam menjadi agama yang sedang menikmati masa-masa emasnya. Ia syahid sebagaimana apa yang dialami orang-orang sepertinya di zaman sebelumnya. Ihwal yang sama hanya dikarenakan melakukan aktifitas yang dianggap berbahaya; berfilsafat. Yakni melakukan upaya kritis kontemplatif, usaha untuk menemukan realitas yang paling sublim dalam  tatanan wujud alam semesta. Dimana buah dari aktifitas yang dimaksud terkadang membuat gerah orang-orang yang memiliki keyakinan yang mapan. Suhrawardi harus membayar dengan nyawanya demi menegakkan pekerjaan yang paling luhur dari seluruh aktifitas manusia; berkontempasi dalam membangun keimanan yang utuh. 


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...