Tampilkan postingan dengan label konstruksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konstruksi. Tampilkan semua postingan

01 Februari 2015

madah tigabelas

Sepertinya ada yang diamdiam terus membayangi di balik tegaknya intitusi masyarakat. Terus mengendus dari dalam dan merusak dengan cara yang tak kasat mata. Pelanpelan menjangkiti seperti hasrat yang tak pernah lengkap dan puas. Lamatlamat yang tak pernah puas itu membangun sebuah hirarki. Yang tak pernah puas itu biasa dieja  dalam arti yang sama dengan satu hal; kekuasaan.

Dan kekuasaan yang diamdiam bekerja itu punya dua  sikap yang jadi watak dalam setiap yang berbau birokrasi; Firaun dan Bal'am. Firaun, seperti yang diulangulang dalam sejarah adalah penguasa yang menilap tuhan. Atau nyaris menghabisi tuhan, sebab dalam quran diceritakan ia justru berkoar: aku adalah tuhan yang dapat  mencabut nafas dan mampu menghilangkan nyawa. Sementara Bal'am kita tahu, ia orang yang menyokong Firaun, dengan dalilnya, dengan argumentasi ilmunya. Diceritakan melalui sejarah, dengan dalildalil ilmunyalah, Firaun membangun kerajaannya.

Tetapi adakah itu sudah cukup? Nampaknya sejarah selalu menyisakan tempat untuk yang lain; Qarun. Dalam islam, terutama yang digambarkan Ali Syariati, Qarun adalah simbol antagonisme kelas ekonomi atas, golongan pemilik modal yang kehilangan sentimennya terhadap masyarakat tertindas.

Ali Syariati juga menyebut nama yang lain. Dari telusur filsafat sejarahnya, Ali Syariati menyebut satu nama; Qabil, yakni simbol masyarakat dominan yang mengagungkan hak kepemilikan pribadi atas penguasaan yang publik. Qabil, digambarkannya sebagai simpul yang merangkul dari apa yang ia sebut trinitarianisme sosial; Firaun, Bal'am dan Qarun.

Sebuah narasikah ini? Nampaknya ini tidak sekedar sejarah yang berasal dari negerinegeri seribu satu malam. Apalagi deskripsi dari teksteks yang sering dikutipkutip. Syariati tidak hendak membangun pemahaman yang teologis atas masyarakat, melainkan sebuah pandangan yang sosiologis. Ia rasarasanya resah bahwa dalam kehidupan masyarakat, yang disebut watak, sifat yang mendasari sebuah peran, bisa menjadi sebuah kangker dalam  tubuh masyarakat; ganas dan merusak.

Ini berarti tabiat maupun watak bukan keberadaan yang sui generis. Bukan hakikat yang ahistoris dan di luar sejarah. Tidak seperti subtansi yang sudah dimaktub dalam lauh mahfus. Seperti sesuatu zat yang ada dengan sendirinya. Ia justru dibentuk dan dicipta dalam sejarah. Ditempa dalam lingkungan, diciptakan dari pergulatan dan pengalaman atas kenyataan. Ia -dalam prosesnya- terus mengalami perubahan yang tiada hujung.

Dalam arti inilah tabiat watak tidak sepenuhnya perihal yang sudah jadi. Untuk itulah kita seharusnya tak harus percaya betul terhadap masyarakat di luar sana. Sebab nampaknya memang tabiat selalu mengikuti keadaan sosial; baik buruknya sudah seperti lempung lumpur yang dibentuk. Atau janganjangan memang betul bahwa manusia sebenarnya adalah mahuk antisosial.

Di sini kita boleh saja mengiyakan Hobbes dengan pandangan etisnya bahwa manusia disebut etis bila sejauhjauhnya ia bisa memenuhi keinginan individualnya. Tindak etis ini disebut pemeliharaan diri. Tindak etis ini disebut egoisme. Dari sinilah yang antisosial itu muncul dan meraup segala yang ada. Tapi Hobbes tahu jika yang individual dipertemukan ke dalam yang sosial; bellum omnes contra omnia. Maka yang ada adalah perang yang semua melawan yang semua; homo homini lupus.

Memang sepertinya itulah yang terjadi di sekitar kita. Situasi yang timpang sana timpang sini. Yang punya kuasa justru nampak seperti serigala; menindas, menghambat dan memaksamaksa. Sementara di bawahnya justru seperti dibilang Pram, menjilat, mengembik atau malah penghambaan. Jadi bukannya kita harus mafhum terhadap alur masyarakat yang mencipta “kangker” yang tak pernah sembuhsembuh, melainkan kenapa seluruh watak yang pernah ada dalam sejarah masih tetap bertahan hingga kini. Adakah ini memang seperti hilir sungai yang baik hilir dan muaranya sudah tercemari.  Apakah memang yang individual sudah seperti yang sosial; bellum omnes contra omnia. Perang di sana sini. Meraup segala hal selagi sempat dan mampu.

08 Juli 2014

Masjid

Ramadhan jika dianggapkan semacam kuil, maka dia adalah tempat kita belajar. Sebagai sebuah kontruksi, kuil  bertujuan untuk mengasah dimensi bathin. Tempat berkontemplasi. Di dalamnya manusia mengalami transformasi kualitatif. Di mana yang kualitatif adalah bukan perkara rasio konseptual dalam merumuskan yang suci, tapi penghayatan terhadap yang ilahiat. Melaluinya manusia membangun intensi, bukan kesadaran yang dikonstuksi. Dengannya,  manusia diajak menolak segala unsur duniawi yang menyesakkan; sesuatu yang sering dikalkulasi. Kuil memanglah tempat yang khusus  yang kudus.  Sebab itulah kuil didirikan untuk satu hal:  ibadat.

Dalam islam, ibadat, terutama ritual yang kolektif, selalu punya kaitan dengan masjid. Sama halnya dengan kuil, sebagai tempat ritual, masjid adalah ungkapan untuk  mengapresiasi kehadiran atas yang ilahiat. Di dalam masjid suatu hubungan dibangun antara manusia yang kerap pupus dengan tuhan yang kudus. Dengan itu, maka masjid adalah tempat munajat yang paling baik. Sebab itulah ia disebut rumah tuhan.

Tetapi apa yang harus kita petik dari sebuah masjid. Konstruksi yang kerap digunakan untuk mengalami peristiwa yang transenden, jika masjid akhirnya mengalami  pemaknaan yang ritualistik. Ibadat dengan embelembel eksoteris. Yang di sana pendangkalan terhadap yang ilahiat akhirnya mulai berbarengan dengan dunia yang selangseling dihinggapi hiruk keramaian. Dengan itu masjid akhirnya adalah penanda semangat religiusitas yang dangkal, yang melihat ilahiat hanyalah perihal yang kita kerdilkan.

Bisa jadi sekarang tuhan yang akbar, yang maha segala, adalah apa yang kita kucilkan. Tuhan hanyalah gema pada ruang yang sunyi. Sementara makna ritual seringkali pupus tak jua hinggap pada dimensi kedalaman manusia. Dari itu, barangkali kita sulit untuk menghidupkan tuhan dalam habitat hidup seharihari.

Masjid adalah sejarah. Yang dahulu setelah hijrah, rasul penutup para nabi, membuat tanda waktu dengan membangun masjid. Kala itu masjid adalah tanda kemajuan, simbol keagungan yang gaung di tengahtengah semangat yang akbar terhadap agama yang dibawanya. Umat kala itu sedang mengalami peristiwa besar dalam sejarah, bahwa masjid adalah pusat di mana arah dan tujuan dirumuskan. Masjid adalah pusaran yang hendak menata zaman.

Namun, bukankah sebelumnya masjid sudah menjadi bangunan yang berbeda? Bangunan yang tidak lagi menjadi pusat, justru menjadi tersisih dari setiap kesadaran kita. Masjid hanyalah kontrusksi alam material yang kita lihat tak beda dengan bangunan yang lain; mall yang sewaktuwaktu bisa kita datangi dengan maksud konsumsi, tempat siap saji dikala kita lapar ataukah diskotik untuk mempermudah masalah. Atau seperti bangunan tinggi yang akrab dengan rutinitas kita. Diwaktu demikianlah masjid bukan lagi konstruksi bathin yang selalu hidup, melainkan bahan material yang sewaktuwaktu bisa  dienyahkan.

Ramadhan, rentang waktu yang berkah bisabisa rentan, jika masjid sebagai yang material adalah satusatunya makna yang dimengerti. Kuntowijoyo, sejarawan gaek, pernah menulis muslim tanpa masjid. Di situ kita bisa tahu masjid, yang kita anggap simbol kemajuan sejarah justru adalah manifes dari sosioreligi masyarakat kita, terutama kaum muda. Bahwa masjid di mata yang muda-bukan bermaksud mengeneralkan- adalah tanda dari simbol budaya yang minus pesona. Masjid barangkali sudah mirip tugu, atau artefak, atau kerak sejarah. Dan namanya tugu ataupun artefak adalah tanda ingatan; sesuatu yang hanya dikenang.

Dan ramadhan, ketika masjid ramai kembali, barangkali itu hanya bermaksud untuk "singgah". Sebab dia bukanlah iman yang tegak dalam bathin, bukan juga seperti rasul yang mengabadikan jengkal waktu untuk menandakan kehadiran ilahiat yang imanen dalam alam manusia. Bahwa iman adalah berarti masjid yang bermunajat dalam ruang hadirat; sisi dalam yang bulan ini tengah kita daur.

Jika ramadhan adalah sebuah kuil, oleh sebab di sana adalah tempat yang tibatiba kita datang untuk berziarah. Tibatiba kita kembali teringat ada "rumah" yang sudah lama kita tinggalkan.

07 November 2013

Bencana

Ada masa yang patut kita berikan rasa yang tinggi, namun juga ada situasi yang membuat dada kita sesak bukan main. Beberapa waktu yang lalu sebuah kabar bisa berarti sebuah bencana. Apalagi jika kabar yang sayup didengar bertolak dari lingkungan yang akademis; kampus. Tempat yang mafhum kita tahu dari sana harapan bisa ditandai dengan gelora pujapuji. Tempat pengetahuan bersemai seiring silih berganti hari.

Namun bencana tidaklah bermata, ia datang begitu tibatiba, menyulut tanpa tatakrama. Dan memang bencana adalah sesuatu yang memiliki kekutan massif. Seperti yang sudahsudah, bencana memanglah massif, tak tanggungtanggung, melabrak seluruh tanpa pamrih, tak mengenal aturanaturan, kampus sekalipun.

Namun bencana apakah yang saya maksudkan disini? Patutkah kita menyebutnya bencana? Tentang situasi yang tak didugaduga seperti beliung yang datang serempak. Seperti tsunami yang menyisir bersih tanpa didahului tandatanda sebelumnya. Ataukah wabah penyakit yang menghapus nyawa ribuan orang di suatu tempat.  Barangkali adalah salah saya, kamu, dia, mereka, bapak itu, ibu yang disana, tuan polisi, ataukah bapakbapak yang terhormat serta organorgan yang seringkali tumbuh tenggelam, yang menjadi sebab bencana itu dapat terjadi.

Memang bencana adalah sulit untuk dihindari. Namun jika bencana itu bersemayam didalam kampus maka itu suatu hal yang patut kita risaukan. Bisakah kita menebak tentang kemelut api yang melahap lapar? Juga tawuran yang seringkali menjadi trend bagi kita? Ataukah kelupaan kita bahwa kampus semestinya tempat manusia unggul untuk menolak diam? Ataukah suasana pencerahan sudah tercuri di saat kita sedang memperbincangkannya? Atau kita purapura tuli dan buta tanpa kita pernah tahu dari mana datang sumber suara dan kesan yang harus kita tangkap?

Bencana memang menyesakkan dada. Apalagi yang baru saja dialami. Ditengah tengah tempat kita belajar. Di saat baru saja kita mendeklarasikan sumpah di delapan puluh tiga tahun yang lalu. Dan barangkali memang kita tak pernah tahu apa sebenarnya sumpah itu jika diperhadapkan dengan sektarianisme yang kalap kita belabela.

Bencana juga bisa kita pahami sebagai alam yang hendak berkata, kepada sesiapa saja yang tumbuh diatasnya. Bahwa alam tak selamanya berdiam diri menerima aksi, ia bereaksi. Sebagaimana bencana, barangkali dari apa yang UNM lalui akhirakhir ini adalah bahasa yang hendak didengarkan, bahwa di dalamnya semuanya tak dalam situasi yang baikbaik saja. 


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...