Tampilkan postingan dengan label Gabriel Garcia Marquez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gabriel Garcia Marquez. Tampilkan semua postingan

18 September 2017

Selamat Jalan, Tuan Presiden, Gabriel García Márquez



Selamat Jalan Tuan Presiden
Karangan Gabriel Garcia Marquez
yang terkenal dengan Seribu Tahun Kesunyian



Kemengan terbesar dalam hidupku adalah bila semua orang melupakanku.

Barangkali ironi, barangkali juga adalah paradoks. Dua pengertian ini menjadi sejenis benang merah yang menghubungkan empat cerita Gabriel García Márquez dari Selamat Jalan, Tuan Presiden, kumcer yang diambil dari Strange Pilgrims. Manusia sesungguhnya adalah mahluk yang menanggung ironi, dan juga belenggu kesepian. Di suatu waktu ia bisa menjadi seseorang yang di tiap waktunya disorot lampu panggung, tapi ketika dia susut, tak ada satu pun mulut dan mata yang menyanjungnya. Kesepian, dengan demikian adalah saat-saat kritis ketika semua mata mulai luntur dan menghilang dari tubuh Anda, pergi tanpa sisa dengan suara yang bisu meninggalkan kita di suatu keadaan yang tiba-tiba menjadi asing. Kumcer ini dibuka dengan kisah seorang bekas presiden yang dipapar kesepian pasca digulingkan dari kekuasaannya. Dia presiden yang telah melewati dua perang dingin. Presiden yang memimpin suatu negeri dengan cara yang tidak disenangi warganya. Tapi, kesepiannya bukan kesepian yang biasa akibat pengasingan yang dia alami sendiri. Jauh dari negerinya, di suatu negara yang sangat berbeda dari kampung halamannya, dan juga tak ada satupun yang mengenalnya. Di suatu sudut taman daerah yang dikelilingi danau, perubahan sangat cepat berlalu, di bawah pepohonan berdaun kuning, sambil melihat angsa-angsa berdebu, waktu bukan saja telah banyak mengubah dirinya, melainkan juga dunianya. Kekuasaan memang ada masanya, ada batasnya. Namun, jika suatu hasrat keabadian tiba-tiba dimentalkan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari hanya kekuasaan yang berada di atas singgasana, maka sebesar apapun kekuasaan itu akan jatuh juga. Apalagi jika itu terjadi bagi seseorang yang sudah berusia renta. Sang presiden sudah berumur tujuh puluh tiga tahun, masa-masa tua yang juga digerogoti penyakit yang awalnya membuat bingung semua dokter yang telah banyak memeriksanya. Mereka mencari di hatinya, di dalam ginjal, pankreasnya, prostatnya, di mana pun tak ada penyakit. Sampai akhirnya penyakit itu dikatakan mengendap ditemukan di bagian tubuh yang ditunjuk dokter dengan jari telunjuknya: kepala. Semuanya memang dimulai dari dan dalam benak. Scholar psikologi bahkan mendefenisikan diri kita sebagai apa yang kita pikirkan. Ini semacam sugesti yang bisa membuat Anda akan menjadi super hero jika Anda memang berpikiran demikian. Atau seorang miliarder yang akhirnya secara tidak sadar akan menuntun Anda bekerja layaknya seorang miliarder mengumpulkan pundi-pundi kekayaan di tiap harinya. Itulah kekuatan sugesti, atau dengan kata lain suatu pikiran. Sugesti memang memiliki dampak yang tidak ringan jika Anda selalu mendengung-dengungkan tujuan hidup Anda di setiap saat dalam kepala Anda. Dengan sendirinya kekuatan sugesti akan mengubah cara Anda menjalani hidup sehari-hari, dimulai dari ketika Anda membuka mata sampai Anda menutupnya kembali di malam hari. Tapi, pikiran yang terlalu diidealkan akan menjadi semacam kangker yang menggerogoti pikiran Anda juga. Menjadi penyakit mematikan yang bahkan Anda tak tahu keberadaannya. Sang bekas presiden hanya pasrah dengan penyakit yang berimpikasi ke mana-mana di tubuhnya yang tidak lagi muda. Kita pernah menyaksikan bekas presiden di sebuah negeri yang mati walaupun dikerumuni alat-alat pernapasan yang serba canggih. Pengobatan yang serba mahal. Dan alat-alat yang sangat jarang disaksikan di puskesmas-puskesmas kampung Anda. Dia mati dengan meninggalkan bekas kekuasaannya yang dipimpinnya hampir seperdua abad. Dan dua juta penduduk yang sebagian di antaranya menyimpan dendam kesumat agar ia tidak saja mati secara normal, melainkan di gantung di sebuah lapangan terbuka yang disaksikan banyak orang akibat dosa-dosa sosial dan kemanusiaannya. Presiden semacam itulah yang kuat dugaan menjadi persamaan dengan bekas presiden ini. Tapi kehidupan masih bersetia dengannya. Dengan caranya yang unik segala pantangan yang dikemukakan dokternya, dilanggar dengan perasaan yang ringan seperti kapas untuk menghadapi kematian. Tapi, umurnya panjang. Bahkan di masa pengasingannya dia bertemu sepasang suami istri yang mengundangnya makan malam. Ngobrol panjang lebar jika ia datang berkunjung ke rumah teman barunya yang diketahuinya adalah petugas ambulance di rumah sakit tempattnya sering kali berobat. Tidak di negerinya, di bawah atap rumah teman barunya, sepasang  suami istri itu seperti penduduk di tempat negerinya pernah berkuasa. Suka-tidak suka memang bisa di mana saja, termasuk apa yang dirasakan istri dari sang suami yang sebaliknya menyukai sang bekas presiden. Di masa mudanya, ia pernah terlibat menjadi bagian dari sejumlah pemuda yang mendukung sang presiden menduduki tahta kepemimpinannya. Sembari dia menunjukkan selembar foto yang menunjukkan dirinya bersama sang bekas presiden di sebuah tempat di masa-masa sang bekas presiden berkampanye. “Mengejutkan” dia berbisik. “Aku selalu mengatakan, sebuah masa lebih cepat dalam sebuah foto daripada dalam kehidupan yang sebenarnya.” Begitulah perubahan itu hanyalah suatu alamat yang berlaku dalam selembar kertas. Sang presiden kembali memakan banyak daging, meminum kopi bercangkir-cangkir, dan menenggak minuman keras yang disesuaikan takarannya. Di umurnya yang tidak lagi muda, memasuki masa 75 tahun, sembari kembali merokok, takdir kematiannya hanyalah ketakutan yang sudah dia tanggalkan seiring ujung kehidupan yang sulit diprediksi. “Tuhanku…tidak ada yang bisa membunuh lelaki itu” ucap sang suami ketika melepas pergi sang Presiden. Sekalipun akhirnya, sang presiden menyatakan diri berniat kembali ke negerinya untuk memimpin sebuah gerakan reformasi. Hasrat kekuasaan memang tidak akan kemana, termasuk pada sang bekas presiden tua.

---

Pernahkah Anda terkesima kepada seorang perempuan dalam suatu perjalanan di atas angkasa. Ketika cukup waktu yang banyak yang bisa Anda manfaatkan untuk bertegur sapa, membicarakan tujuan perjalanan Anda, berbicara makan apa Anda sebelumnya, apa pekerjaan Anda, buku apa yang sudah Anda baca di hari ini, shampoo apa  yang Anda gunakan saat mandi di siang yang terik seperti hari ini, dan segala perbincangan remeh temeh yang membuat Anda akan merasa menjalani hari yang amat beruntung. Atau sebaliknya, Anda yang bertanya kepadanya: mau kemana kamu setelah ini, apa yang ada dalam isi kopernya; sudahkah kamu menikmati secangkir kopi sebelum menjalani penerbangan yang lumayan akan memakan banyak waktu ini; atau menyatakan bahwa lipstik yang kamu pakai cukup membuat kedipan mataku sanggup bertahan lebih dari lima detik; atau caramu memegang rambutmu yang kemudian kamu kibaskan tiba-tiba ke belakang membuatku mengerti mengapa perempuan sangat suka memanjangkan rambutnya. Tapi semua itu hanya kejadian dalam kepala Anda. Sang gadis cantik seperti langit-langit yang sulit dijangkau. Sekalipun Anda menaiki puncak gunung tertinggi. Jarak Anda hanya bersebelahan dengannya di saat Anda pun duduk di kabin yang sama karena memilih secara tiba-tiba nomor tempat duduk yang akan Anda tempati. Lagi-lagi ini ironi. Apalagi jika perempuan cantik itu hanya tidur selama perjalanan. Dan yang Anda lakukan hanya melihatnya melalui ketakjuban yang mendasari pandangan Anda. Anda dan dia dibekuk jarak yang dekat, tapi dipisahkan tanpa perbincangan apapun. Satu-satunya perbincangan hanya terjadi dalam kepala Anda, dan suara itulah yang Anda ajak berdialog. Anda bisa saja membangunkannya. Atau sengaja menyuruh pramugari di belakang pesawat agar dapat menyodorkan minuman dingin supaya dengan cara itu dia bisa terbangun. Mungkin juga Anda akan berharap terjadi guncangan ringan. Pesawat tiba-tiba saja masuk ke dalam gumpalan asap awan yang tebal, dan akibat sedikit guncangan yang mirip duduk di atas punggung banteng liar, dia mulai membuka mata dan menanyakan apa yang sedang terjadi kepada Anda. Dari situlah Anda menyadari bahwa di situasi itulah kemenangan Anda. Itu adalah momen peting. Sayang untuk dilewatkan. Itu adalah waktu yang tepat untuk membuka percakapan. Dan, akhirnya Anda akan menanyakan namanya, dan tidak lama kemudian Anda berdua sudah saling bertukar nomor telepon. Benar-benar pertemuan yang tak diduga-duga. Di negeri yang jauh bertemu seorang gadis dengan keistimewaan gadis-gadis tropis dengan warna kulit kuning langsat. Kulit yang hanya mengenal dua musim. Dan rambut hitam khas perempuan Asia. Sungguh, tapi itu adalah suatu ironi. Anda begitu dekat dengannya sampai-sampai hidung Anda dapat menangkap bau parfumnnya yang bercampur keringat. Menciptakan bau khas yang dapat mengundang seekor harimau jantan mempertahankan betinanya agar dapat melahirkan keturunan-keturunannya. Dan, semua itu hanyalah kejadian yang hanya Anda sendiri rasakan. Ketika Anda hanya mampu melihatnya dari dekat, begitu dekat. Betapa eksotisnya seorang perempuan yang tak dapat Anda jangkau, tapi Anda seperti akan mengatakan langsung di hadapannya bahwa Anda cukup tertarik kepadanya, si cantik yang tertidur di atas pesawat.

---

Waktu dan tempat salah menempatkan Maria de la Luz Cervantes. Atau Maria-lah sendiri yang malang. Dia terjebak salju yang tebal. Tepatnya mobil yang ia sewa menuju Barcelona yang dipakainya mogok di tengah perjalanan di saat salju turun dengan lebat. Selama satu jam ia mencari tumpangan. Di saat itulah kemalangannya bermula. Ia diangkut oleh sebuah bis yang berisi banyak perempuan dari segala usia. Dengan maksud mencari telepon untuk menghubungi suaminya, tanpa sepengetahuan Maria, akibat tertidur bis yang ditumpanginya membawanya pada sebuah bangunan yang mirip biara dengan tembok-tembok pagar yang tinggi di tengah hutan. Mereka pun turun, perempuan-perempuan yang dilihat Maria tidur selama perjalanan seperti anak-anak domba yang diperintah berjalan begitu saja. Tanpa suara sekali pun mereka mengikuti instruksi dari perempuan yang mirip seorang wasit lengkap dengan peluitnya. Mereka nampak tidak normal. Setiba di halaman bangunan yang cukup luas, ia berlari menuju sebuah gedung yang ia sangka mempunyai telepon. Tapi di sinilah ironiya; dirinya di sangka bagian dari perempuan-perempuan yang mengalami gangguan mental. Maria menemukan kejadian yang tidak pernah dia sangka sebelumnya; dia di bawa ke suatu tempat berupa tempat semacam rumah sakit jiwa. Lengkap dengan penjaga-penjaga bermuka tidak ramah dan dokter-dokter yang hanya terlihat di waktu-waktu tertentu. Maria hanya membutuhkan telepon untuk mengabarkan kepada suaminya, bahwa ia tidak akan sampai ke rumah seperti yang ia sudah janjikan kepada suaminya sebelumnya. Sebenarnya itulah yang sebenarnya akan terjadi. Namun, sekali lagi dia berada pada situasi yang serba salah. Malangnya, dan ini memang kemalangan Maria, di dalam rumah sakit jiwa itu tidak ada yang berhak memutuskan siapa sebenarnya yang waras selain suatu otoritas medis tertentu. Situasi inilah yang disinggung Michel Foucault tentang rezim medis tertentu. Kewarasan seseorang dipandang dari segi otoritas yang mengendalikannya. Seperti di abad-abad 16 di Eropa, bagaimana penyakit dikendalikan dari atas kekuasaan dengan menganggap siapa pun tidak layak berbicara atas dirinya selain dari otoritas itu sendiri. Termasuk kegilaan, adalah suatu kondisi yang tidak layak dinilai oleh diri sendiri. Segala upaya yang menjelaskan dirinya sendiri bahwa ia tidak gila akan dianggap sebagai kegilaan itu sendiri. Dapatkah Anda percaya omongan seseorang yang dinyatakan gila oleh medis bahwa dirinya tidak gila? Tentu akan sulit kita memercayai perkataan orang yang kita anggap gila. Apalagi jika ia membicarakan suatu pembicaraan yang tidak kita ketahui sebelumnya. Kita akan menganggap itu adalah hasil dari pikirannya yang kacau, atau imajinasi gila yang tak pernah terbukti sekalipun dalam kenyataan. Termasuk keinginan meminjam telepon. Siapa yang akan memercayai Maria, seorang perempuan yang turun bersama barisan perempuan-perempuan bergangguan mental dan tiba-tiba berlari ingin meminjam sebuah telepon. Orang gila mana yang memiliki teman di dunia lain yang ingin diajaknya berbicara melalui saluran telepon di saat musim begitu dingin. Kemalangan itu tetap berlanjut dari hari ke hari. Setiap hari menjadi semakin berat dengan menjalani model pegobatan yang dialami orang bergangguan mental. Makanan-makanan yang buruk, serat bentakan-bentakan ibu-ibu penjaga. Hari demi hari hingga dengan cara tertentu tanpa disadari Maria telah berada dalam sebuah ruangan kosong tanpa seorang pun dengan sebuah  telepon yang berbunyi. Dengan keberaniannya, entah dari mana, ia masih mengingat nomor rumahnya. Dia pun menelepon. Suaminya mengangkatnya, dan akibat kecurigaan yang tidak beralasan –selama Maria tidak pulang ke rumah, suaminya menyangka Maria pergi bersama mantan pacarnya dan meninggalkannya sendirian—dia merasa dipermainkan, dan menutup telepon secara tiba-tiba. Tapi suatu waktu entah dengan cara bagaimana suami Maria, yang seorang magi kabaret, datang ke rumah sakit biara tempat Maria mendekam secara paksa. Dan ketika melihat Maria yang bermuka lecet akibat menjatuhkan dirinya dengan melompat dari lubang jendela, hanya menganggap sang istri benar-benar gila. Di sinilah kemalangan itu yang sebenarnya, untuk tidak mengatakannya sebagai ironi, saat orang terdekat yang kita cintai juga tidak mampu membawa kita keluar dari lubang jarum penderitaan. “Aku bahkan tidak tahu berapa hari aku di sini, atau berapa bulan, atau tahun, yang aku tahu hanyalah setiap hari selalu lebh buruk dari yang terakhir,” dia mengeluh dengan seluruh jiwanya. “Aku tidak berpikir bahwa aku akan selamat.” “Semuanya sudah berakhir sekarang,” dia mengatakan sambil mengusap-usap bekas luka di wajahnya dengan ujung jarinya. “Aku akan datang setiap hari Sabtu. Lebih sering dari itu, jika direktur mengizinkanku. Kamu akan lihat, semuanya akan baik kembali.” Dia menatap Saturno (suaminya). Saturno mencoba menggunakan pesonanya. Dia mengatakan pada Maria tentang ramalan dokter. “itu berarti,” dia menyimpulkan, “Bahwa kamu masih memerlukan beberapa hari lagi untuk menyembuhkan penyakitmu secara total.” Maria mengerti tentang kebenaran itu. “Demi Tuhan, sayang,” dia memohon. “Jangan katakan padaku bahwa kamu juga mengira aku gila!” Begitulah titik yang sulit dipercaya. Tak ada seorang pun yang dapat menolong Maria de la Luz Cervantes. Bahkan, orang yang dia sangka dapat mengeluarkannya dari tempat terkutuk yang dipenuhi orang-orang gila. Tidak sekali pun suaminya sendiri.

---


Cahaya itu seperti air. Toto dan Joel berhasil mengubah cahaya seperti air laut yang maha luas. Kemampuan yang mereka miliki ibarat sang alchemis yang dapat mengubah setiap logam menjadi sebongkah emas murni. Di tiap malam rabu, ketika kedua orangtua keluar menikmati malam-malam pertunjukkan film, kedua anak berprestasi ini mengubah isi rumah mereka ibarat samudera yang di isi titik-titik pulau yang mengapung. Cahaya ibarat air. Karena itulah di malam “pengembaraan” mereka, lampu-lampu dinyalakan seterang-terangnya hingga menempus sela-sela pepohonan yang tumbuh di luar rumah mereka. Dari atas sebuah sampan alumunium yang mereka tempatkan dalam sebuah kamar, melalui kekuatan imajinasi mereka, mereka berubah menjadi dua orang pelaut yang mengapung-ngapung mencari daratan. Ibarat kenyataan yang sebenarnya, setiap benda yang mereka temui dari isi rumah menjadi benda-benda laut yang menunjang pelayaran mereka. Hingga Rabu berikutnya, kepergian kedua orangtuanya adalah karunia yang tak mereka sia-siakan. Setelah mendapatkan harapan mereka berupa seperangkat alat selam dan beberapa mainan sirip hiu, mereka kembali menjadi pelaut yang tangkas menyelam sampai ke dalam karang-karang tersembunyi. Mereka menyelam sampai di bawah tempat tidur, di bawah meubel yang diimajinasikan berupa benda-benda yang hanya ditemukan di kedalaman laut tertentu. Kekuatan imajinasi yang membuat mereka bagaikan seekor lumba-lumba, sesekali menjadi seekor hiu, mendorong mereka mengundang teman sekelas mereka agar ikut bermain di tiap rabu malam. Bermandikan cahaya yang disulap bagaikan air. Hingga satu apartemen itu memancarkan cahaya yang super terang sampai ke ujung jalan raya, seperti sebuah kemilau mutiara yang menyala terang diterpa cahaya mentari. Begitu berkilau hingga membuat mereka tidak menyadari betapa gembiranya mereka, dengan sampan alumunium, seperangkat alat selam, berenang di antara barang-barang kedua orangtua mereka, di dalam lautan, yang sebenarnya adalah sebuah ruangan di apartemen mereka yang jauh dari lautan sekali pun. Tapi begitulah anak-anak, kenyataan hanyalah keberadaan sederhana dibandingkan imajinasi yang jauh lebih dahsyat di mata mereka.

22 Agustus 2017

Pedro Paramo dan Hantu-Hantu Abadi Juan Rulfo

Di sini di mana udara terasa begitu ganjil, suara-suara itu kudengar jauh lebih jelas. Suara-suara itu ada dalam diriku, begitu nyaring dan bising (Juan Preciado)

Saya membutuhkan lebih banyak konsentrasi membaca Pedro Paramo (terbitan Gambang, terjemahan Lutfi Mardiansyah) akibat setting ceritanya yang tanpa disadari seketika berubah begitu saja (bahkan saat menulis tulisan ini saya juga masih membaca untuk kedua kalinya). Tehnik penceritaan yang mirip lorong waktu ini, yakni penceritaan yang hampir bersamaan dan juga bolak balik antara masa sekarang dan masa lalu dengan intens, membuat gaya penceritaan Juan Rulfo mesti dibaca dengan hati-hati dan lebih teliti. Perubahan konteks cerita dengan tokoh-tokoh yang kurang lebih berjumlah 20, membuat cerita menjadi tumpang tindih sekaligus menjadi acak. Alur yang demikian mengingatkan saya kepada gaya penceritaan yang menjadi khas dari sastra Amerika Latin terutama yang ditemukan dalam Seratus Tahun Kesunyian-nya Marquez (Pedro Paramo disebut-sebut teks yang paling menentukan dan mempengaruhi banyak penulis Amerika Latin setelahnya, semisal Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, dan Marquez sendiri [disebutkan di situs berita Independent, tanpa Pedro Paramo tak akan lahir Seratus Tahun Kesunyian]). Apalagi dua setting waktu yang intens berubah seketika, dan berpusat pada dua tokoh yang berbeda dengan masing-masing tokoh tambahan di cerita yang berbeda pula, pelan-pelan akan menguak isi cerita yang sebenarnya akan membuat kaget pembacanya. Dengan cara ini, Pedro Paramo adalah novel yang menyimpan teka-tekinya sejak awal ketika membacanya. Pedro Paramo dibuka dengan kisah Juan Preciado, seorang pemuda yang ditinggal mati ibunya yang di saat terakhir hidupnya, berpesan kepadanya untuk mencari ayahnya di suatu tempat bernama Comala. Comala adalah tempat nun jauh yang tak pernah didatangi Juan Preciado, namun karena amanah terakhir ibunya, maka itu dilakukannya juga. Sampai di sini, setting ceritanya membawa imajinanasi saya tentang kisah yang akan menceritakan perjalanan Juan Preciado ke Comala untuk menjalankan misi mencari ayahnya. Di perjalanan, dia bertemu seseorang yang menunggangi keledai bernama Abundio, yang menceritakan seperti apa Comala, tempat yang akan dituju Juan Preciado (di perjalanan bersama Juan Preciado, Comala dikisahkan Abundio sebagai tempat yang sangat panas, kota yang “bertengger di atas bara api bumi, tepat di atas mulut neraka”, metaforanya menarik: “ketika orang-orang di sana mati [Comala] dan pergi ke neraka, mereka yang mati itu akan datang kembali untuk meminta selimut”—bayangkan betapa panasnya Comala dibandingkan neraka). Dan, dari mulut Abundio-lah, Juan Preciado tahu, bahwa Pedro Paramo, yang dinyatakan oleh ibunya sebagai ayahnya, yang menjadi tujuan pencariannya, telah mati bertahun-tahun yang lalu. Di sinilah imajinsai pembaca seketika stuck, tetapi sekaligus teka-tekinya itu sendiri. Sebelum sempat kita mengetahui siapa Pedro Paramo, bagaimana keperawakannya, bagaimana ia hidup, kenapa ia harus dicari, tiba-tiba dinyatakan sudah mati bertahun-tahun lalu. Lantas untuk apa kisah Juan Preciado dilanjutkan? Nah, justru di sinilah petualangan Juan Preciado sebenarnya akan dimulai. Setelah sebelumnya misi kisahnya adalah mencari Pedro Paramo yang disangka masih hidup, tiba-tiba mundur bertahun-tahun lalu di kota Comala. Setelah Pedro Paramo dinyatakan mati oleh Abundio, dan sudah terlanjur tiba di Comala –dikisahkan semenjak Juan Preciado sampai di Comala, keheranannya mencuat melihat suasana kota yang tak biasa. Kota itu adalah tempat yang sepi dan tak berpenghuni, bahkan sudah lama ditinggalkan penduduknya-- Juan Preciado menyempatkan singgah sekaligus istirahat di tempat yang direkomendasikan Abundio. Rumah itu adalah rumah Eduviges, seorang perempuan tua yang mengenal ibu Juan Preciado di masa lalu, dan Pedro Paramo itu sendiri. Dikisahkan, Eduviges sudah menanti kedatangan Juan Preciado dan mengetahui kedatangannya melalui informasi ibunya (bagaimana ia bisa tahu, bukankah ibu Juan Preciado sudah meninggal?). Melalui perbincangan dengan Eduviges di rumahnya, tersibak kenyataan aneh bahwa lelaki yang bertemu dengan Juan Preciado di perjalanan yang bernama Abundio ternyata adalah roh gentayangan, dan seseorang yang tuli di masa hidupnya. Di sinilah letak titik yang membuat saya mengerutkan jidat. Jadi ternyata orang yang berbicara selama perjalanan dan mengatakan Pedro Paramo sudah meninggal kepada Juan Preciado adalah sesosok hantu? Hantu yang mengabarkan kematian? Pantas ketika Juan tiba di Comala kecurigaannya mencuat, Comala adalah kota yang sepi dan sudah lama ditinggalkan penghuninya. Lantas, kejutan selanjutnya adalah Eduviges itu sendiri. Ketika Juan Preciado tersadar dari waktu istirahatnya di pagi hari, seorang wanita datang menemuinya. Dari wanita bernama Damiana inilah Juan Preciado juga mengetahui, Eduviges yang mengajaknya berbicara dan menawarkannya ruangan tempat tidur semalam, yang ternyata bekas ruangan orang terbunuh, adalah juga sesosok hantu bergentayangan. Ya, Eduviges sesosok hantu, roh yang bergentayangan. “Evudiges yang malang. Pasti dia masih bergentayangan seperti jiwa yang tersesat,” kata Damiana. Dan semakin ke sini, kisah Pedro Paramo menyadarkan saya ternyata Comala adalah kota hantu—termasuk Damiana sendiri. Kota yang berisikan roh-roh yang bergentayangan tepatnya. Melalui roh bergentayangan inilah, yang mencuat dan mengendap dan bersuara di sekitar tembok-tembok mati, penglihatan dan di telinga Juan Presciao kisah Pedro Paramo, satu persatu terkuak. Tanpa disadari sebelumnya, kisah yang dikuak melalui plot yang maju mundur  di antara tokoh-tokoh yang banyak bermunculan tanpa latar belakang yang cukup (bahkan dalam dialog-dialognya unsur kemewaktuan masa lalu dan masa sekarang banyak berlaku dalam satu paragraf sekaligus), sebenarnya adalah gema dari kota, cinta, sejarah, kemiskinan, pencurian, pemerkosaan, skandal dan penderitaan masyarakat miskinnya, orang-orangnya, dan Pedro Paramo itu sendiri. "Kota ini penuh dengan gema… Seperti mereka terjebak di balik dinding atau di bawah batu-batuan ketika Anda berjalan, Anda merasa seperti seseorang di belakang Anda, melangkah dalam langkah Anda, Anda mendengar gemeresak.. Dan orang tertawa… Tawa yang terdengar habis… Dan suara-suara yang aus oleh tahun.” Pedro Paramo bisa dibilang adalah kisah sejarah suatu kota dengan masyarakatnya yang terjerat skandal yang berpusat kepada Pedro Paramo sebagai orang berpengaruh di Comala. Dengan gaya kepemimpinannya yang culas, penuh tipu muslihat, acuh tak acuh, Pedro Paramo “memimpin” kota Comala menuju masa-masa depresinya. Melalui figurnyalah novel ini mengetengahkan asal-usul sejarah Comala dan penduduknya yang dibentuk dengan perampasan, pemerkosaan, korupsi, dan cinta yang rumit. Melalui Juan Preciado, novel Pedro Paramo tersirat kisah seseorang anak yang mencari asal-usulnya yang berpusat dari bapaknya yang “misterius”, tetapi juga pencarian itu harus berakhir ke dalam kematian ayah yang sebenarnya bukan tujuan pencarian itu sendiri. Juan Preciado nyatanya memulai pencarian bukan dari siapa sebenaranya Pedro Paramo, melainkan membuka sejarahnya sendiri melalui kematian yang secara "kebetulan" melalui Pedro Paramo. Dengan kata lain, jika ingin mencari asal-usul, titik permulaannya bukanlah mencarinya kedalam sejarah orang-orang tertentu, tapi ke dalam kematian (akhir) itu sendiri sebagai suatu peristiwa yang menyejarah. Pedro Paramo novel yang di satu sisi mengaburkan atau bahkan mencampuradukkan dimensi waktu dan ruang lingkup kehidupan orang-orangnya, sehingga nampak seperti waktu yang abadi tanpa mengenal batas-batas masa lalu dan sekarang. Dialog-dialognya tumpang tindih, berlapis-lapis seiring pergantian kata ganti orang. Gaya penceritaan yang demikian seolah-olah membuat semacam pemahaman, bahwa kenangan suatu tempat hanya akan bertahan dengan kenangan itu sendiri melalui penceritaan terus menerus yang melintasi ruang dan waktu, walaupun orang-orang datang silih berganti. Mati ataupun hidup. Orang yang masih menginjakkan kakinya di bumi, atau sudah bergentayangan seperti hantu-hantu di Comala. Dengan kata lain, Pedro Paramo dibangun bukan saja dari suara-suara orang-orang yang masih hidup, melainkan juga gema suara orang-orang yang sudah mati melalui cara yang menajubkan tetapi juga aneh: tokoh-tokohnya yang hidup dikisahkan telah mati, dan sekaligus yang mati diceritakan masih hidup. Ya, cerita Pedro Paramo dibangun dari hantu-hantu yang bercerita tentang kenangannya di suatu kota yang tidak bisa mereka tinggalkan (Juan Preciado sendiri juga adalah sesosok hantu ketika ia menyadari melihat tubuhnya terkubur di suatu pemakaman [jadi semenjak awal cerita Juan Preciado adalah juga sesosok hantu]). Akhirnya, dengan begitu antara kematian dan kehidupan menjadi tidak jelas batasnya, yang membuat seluruh apa yang ditinggalkan di Comala termasuk arwah yang bergentayangan di dalamnya, menjadi penduduk kota hantu yang abadi. Tersesat di dalamnya, selama-lamanya.

10 Agustus 2017

Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Albert Camus, et.al.

"Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya." Oktavio Paz 
"Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan." Gabriel Garcia Marques
Saya harus segera menuliskan ini: menulis itu pekerjaan yang begitu melelahkan, bahkan menyulitkan pikiran. Perasaan ini seketika saja muncul dalam benak saya ketika membaca buku Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, buku yang diterbitkan Oktopus dari Yogyakarta. Menulis bukan hal gampang seperti yang pernah dikatakan Pramoedya bahwa jika ingin menulis ya menulis saja. Kalimat ini memang terasa satire keluar dari orang sekaliber Pram. Apalagi sangat gampang bagi Pram mengucapkannya dengan beragam pengalaman semasa hidupnya jika dibandingkan dengan waktu sekarang. Menulis memang di satu sisi bukan bakat yang secara natural  dimiliki oleh kita seperti saat kita pergi di hutan dan kemudian mampu beradaptasi. Atau seperti anak lembu yang seketika mampu berjalan sedetik ketika ia keluar dari perut ibunya. Menulis, ketika membaca beberapa pengalaman dari penulis-penulis dunia yang disampaikan buku ini nampak sebagai pekerjaan orang-orang yang mau dan rela menghabiskan banyak waktunya untuk menghargai gagasan-gagasannya. Sebenarnya pertanyaan pentingnya apa yang indah dari menulis, ketika di waktu yang bersamaan seseorang bakal menjalani waktu yang panjang, pinggang yang encok, mata yang terpapar udara siang malam, debu-debu yang bertebangan, dan kehilangan banyak energi berbulan-bulan?  Apalagi apa yang bisa didapatkan dari pengalaman seseorang yang sebenarnya tak bisa dipertukarkan begitu saja. Pengalaman seseorang adalah peristiwa yang unik dan berbeda. Dia tak bisa dibagi untuk siapapun. Yang bisa dilakukan hanya menyampaikan cerita atas pengalaman itu sendiri. Sebab pengalaman hanya mampu terjadi selama sekali. Mungkin karena itu tidak semua penulis dunia mau menceritakan pengalamannya ketika menulis. Bukan karena itu adalah peristiwa yang tak memiliki sisi sosial, melainkan menurut saya pengalaman setiap penulis yang dikenal dunia memiliki sisi lain yang menyakitkan. Sisi yang mengundang memori yang sudah lama dipendam. Akibatnya, kita hanya mampu menebak-nebak kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hati para penulis-penulis besar selain daripada keinginan mereka untuk bersuara? Barangkali yang indah dari pengalaman menulis penulis dunia adalah –sudah tentu- adalah kesempatan yang kita miliki untuk membaca karya-karya mereka. Banyak ragam kemungkinan yang mungkin akan terjadi dari kepala sang penulis dengan karya yang sudah mereka lahirkan. Berawal dari gagasan sederhana yang mereka miliki, sudah pasti bakal banyak godaan dan hambatan yang bakal mengganggu proses kreatif sampai lahir karya mereka –coba kita bayangkan bagaimana seorang penulis yang harus diusir dari negaranya hanya karena aktifitas menulisnya dan mendapatkan pelbagai jenis siksa psikologis dan sosial. Selama jarak itu masih ada, maka penghargaan terhadap karya-karya mereka patut kita hidupkan dengan cara membacanya, mendiskusikannya, mencatatnya, atau kalau perlu mengkritiknya. Dengan cara itu maka makna kelestarian dari suatu karya tulis menjadi bukan saja tanggung jawab seorang penulis, melainkan juga menjadi tugas bersama para pembacanya. Menulis mungkin saja adalah bagian yang paling intim di hati setiap penulis. Sebagai suatu keadaan spritual. Paulo Coelho bahkan menyebutkan dirinya sempat terperangkap di dalam tulisannya sendiri. The Alchemist akhirnya menyelesaikan bagian akhirnya dengan menuntun penulisnya larut di dalamnya. Kata Coelho, buku itu yang menyelesaikan sendiri bagian akhirnya. Pengalaman semacam ini yang tidak mungkin dibagi kepada setiap orang. Pengalaman yang hanya dimiliki satu orang di jagad raya ini. “Pengalaman manusia yang esensial”, kata Jorge Luis Borges, yakni pengalaman penulis yang memerlukan kesendirian, dan dia dapat mengambil tempat di dalamnya. Itulah sebabnya setiap penyair dan filsuf misalnya, kata Foucault, “tidak terbentuk dengan cara yang sama”. Tapi kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling berharga. Toh jika pengalaman dapat juga dirasakan bagi dua orang yang berbeda dan tidak saling mengenal, cara Betrand Russell mungkin patut dicoba: meniru gaya menulis penulis yang disukai. Walaupun dalam waktu yang lama dia menyebutkan si penulis yang memfoto copy gaya penulis idolanya akan berhadapan dengan dilema ontensitas dirinya. Di titik inilah maka seseorang harus siap mengambil sikap untuk mencari gayanya sendiri. Di titik ini pulalah, toh jika menulis itu indah, maka tidak ada makna apapun yang sama tentang kata indah itu sendiri. Kemungkinan besar, itu semua akibat setiap penulis lahir dari kesendiriannya masing-masing.

20 Juli 2017

Gabo dan Kisah-Kisah Penculikan-nya

Membaca karangan fiksi sudah pasti akan mendorong pembacanya merasakan betapa kejadian-kejadian yang dibacanya bukan seratus persen dari kenyataan yang sedang dan sudah terjadi. Dengan kata lain, apa yang ditemuinya hanyalah hasil akal-akalan sang sastrawan. Bermain-main dengan imajinasi: itulah makna sastranya. Namun apa jadinya jika ada laporan berupa karya nonfiksi yang mengandung unsur-unsur sastra? Dengan kata lain suatu hasil dari kerja jurnalisme? Itulah sebabnya, ketika membaca Kisah-Kisah Penculikan (News of a Kidnapping) karya Gabo –nama panggilan Gabriel Garcia Marquez- seolah-olah membaca karangan sastra. Padahal, karya ini merupkan karya jurnalisme Marquez yang dikerjakannya selama tiga tahun bersama dua asisten yang membantunya –Luzangela Artega seorang jurnalis yang membantunya dalam melacak fakta-fakta sulit yang detail, dan Margarita Marquez Caballero, sepupu dan sekertaris pribadinya ketika mengelola transkip dan memverifikasi bahan-bahan kasar rumit, yang dikatakan Marquez bakal menegelamkan mereka. Saya berkeyakinan karena latar belakangnya juga sebagai seorang sastrawan (di masa hidupnya Gabo juga seorang reporter), sehingga membaca karya tangannya ini seperti didorong dengan motivasi yang sama ketika membaca karangan fiksinya. Saya seakan-akan terbenam dalam alur penceritaan jurnalistiknya yang seolah-olah hasil rekaan imajinasinya. Dengan dorongan inilah sehingga saya dapat menghabiskan seluruh laporan Marquez yang diterjemahkan dan diterbitkan penerbit Circa di tahun 2016 kemarin –News of a Kidnapping sendiri pertama kali terbit di tahun 1996 dan setahun kemudian dengan versi Inggrisnya. Kisah-Kisah Penculikan –disebutkan Marquez adalah karyanya “yang paling sedih dan sulit dalam hidupnya”—adalah  cerita 10 warga Kolombia yang diculik oleh kartel Madellin (pimpinan Pablo Escobar, seorang gembong narkoba di era 80 dan 90-an) yang di antaranya delapan jurnalis dan tiga lainnya merupakan tokoh politik, salah satu di antaranya merupakan anak presiden. Dengan tujuan politis, Pablo Escobar sebagai dalang utama dari penculikan ini menginginkan suatu cara agar Kolombia tidak meneken perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat. Kisah yang dituliskan dengan akses terhadap tokoh-tokoh penting yang jarang dipunyai seorang reporter sekaliber Marquez, dibangun dengan pendekatan yang hampir sama dengan teknik metafora, penyingkapan karakter, dan penggunaan teknik penceritaan seperti dalam karya fiksinya, dan semua itu tidak ditemukan dengan sekali dua kali pengalaman reportase. Buku ini juga mengetengahkan dengan gamblang bagaimana keadaan politik yang dialami warga Kolombia tidak semata-mata dunia yang terpisah dan bahkan mendapatkan tegangan dan intervensi yang intensif dari kelompok-kelompok penyelundup obat bius. Apalagi dengan kehadiran Pablo Escobar, musuh nomor satu Kolombia saat itu, membikin keputusan-kepustusan politik mau tidak mau harus ikut memperhitungkan keberdaan orang-orang semacam Escobar. Khususnya Medellin, tempat yang dinyatakan sebagai kawasan paling berbahaya di Kolombia, bahkan dunia, yakni akibat betapa banyaknya kasus-kasus pembunuhan yang terjadi di sana, dan dengan nama Escobar yang “harum” akibat kedekatannya dengan masyarakat tingkat bawah, membuat pihak pemerintah dalam mengambil jalan ketika hendak memutuskan menyelamatkan para sandera menimbulkan perhitungan yang mendalam. Di balik kisah semacam itulah Marquez menggambarkan bukan saja peristiwa ketika para sandera mengalami penculikan, tapi juga saat-saat ketika ia menerangkan betapa rumitnya kecemasan, kesabaran, kepusingan, kehati-hatian, dan waktu yang dilalui pihak pemerintah –terutama presiden dengan timnya—saat menentukan langkah-langkah antisipasi yang mesti diambil di tengah-tengah konstelasi politik yang terjadi. Kehebatan Marquez juga nampak ketika dia memiliki “keleluasan” dalam menggambarkan pihak penculik di saat menjalankan tugas mereka ketika menjaga sandera selama berbulan-bulan. Dan, tentu bagaimana dia menuliskan betapa peliknya perasaan manusiawi yang dialami penjaga para sandera di tengah-tengah tugas berat mereka. Terutama terhadap pihak-pihak yang disebutnya protagonis, kisah yang ditulisnya ini dikerjakannya bersamaan dengan perasaannya yang disebutnya frustasi akibat “tahu bahwa tak satupun dari mereka yang akan menemukan tempat di koran lebih dari sekadar cerminan pudar tentang horor yang harus mereka tanggung dalam kehidupan nyata”. Dari semua itu rangkaian wawancara yang dilakukannya merupakan “pengalaman manusiawi yang memilukan hati dan tak terlupakan”. Pelajaran yang paling berharga dari jurnalisme Gabo ini adalah menyadari betapa di saat membaca hasil kerjanya yang luar biasa ini, saya masih bisa menangkap hampir secara utuh kejadian yang sudah lampau terjadi melalui narasi yang dibangunnya. Ikut tenggelam dalam suasana psikologis para korban, dan melihat sisi manusiawi yang lain dari seorang penjahat sekaliber Pablo Escobar dan gerombolan kartelnya.  

---

*sebagian kutipan yang ada dalam tulisan ini diambil dari tulisan Marquez yang menjadi pendahuluan dari bukunya yang diterjemahkan dan diterbitkan penerbit Circa


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...