Tampilkan postingan dengan label komunisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunisme. Tampilkan semua postingan

11 Maret 2017

Sejarah Perkembangan Masyarakat



Herbert Spencer
27 April 1820 –8 Desember 1903
Filsuf Inggris dan seorang pemikir teori liberal klasik
dia lebih dikenal sebagai bapak Darwinisme sosial


--suatu catatan singkat

Ilmu-ilmu sosial klasik memandang masyarakat sebagai entitas yang stabil dan statis. Ini mesti dimaklumi akibat pengaruh cara pandang positivistik yang menghinggapi ilmuwan sosial  ketika merepresentasekan masyarakat sebagai satuan konsep atomistik.

Paling banter, jika mengisyaratkan adanya tanda-tanda gerak di dalamnya, masyarakat umumnya dipahami ibarat satuan organik. Terbangun atas sistem kehidupan, jaringan interaksi sel-sel, bertingkat-tingkat, dan memiliki karakteristik yang monoton. Tapi tetap saja, konseptualisasi demikian masih ditawan pandangan biologistik, yang sebenarnya sangat tidak representatif menggambarkan masyarakat sebagai entitas yang cair, kompleks, bergerak, rumit, dan menyejarah.

Abstraksi masyarakat yang demikian mengandung kecacatan  mendasar. Pertama, akibat dipandang sebagai satuan yang ajeg dan stabil, dengan sendirinya tidak bisa menerima ide-ide perubahan yang sebenarnya inheren dalam masyarakat itu sendiri. Kedua, akibat menolak ide-ide perubahan secara internal, maka masyarakat dipandang sebagai suatu entitas yang kehilangan dimensi waktunya, atau dengan kata lain, masyarakat tidak mengalami pergerakan sejarahnya sendiri.

Itu artinya, masyarakat yang diandaikan anti perubahan, anti sejarah, bakal menjadi masyarakat yang bergerak statis dan bahkan mengalami kemunduran. Dan, tipe-tipe masyarakat dunia yang sekarang banyak mengalami kejatuhan, akibat imbas dari persepsi mereka tentang masyarakat yang statis dan stabil.

Lantas bagaimanakah masyarakat itu sebenarnya? Semenjak wacana sosiologi memasuki abad 20, masyarakat sebagai suatu konsep berangsur-angsur mengalami pergeseran. Ditengarai besarnya pengaruh dan menguatnya subjektifitas masyarakat yang ditunjukkan dengan kemunculan ide-ide humanistik, masyarakat akhirnya diterima sebagai suatu komunitas yang bergerak dan menyejarah.

Kuatnya pengaruh aktor dibanding hukum besi yang bersifat metafisik, semula-mula ikut mempengaruhi dinamika masyarakat. Pandangan ini, kemudian selain mempertajam hukum-hukum objektif yang berlaku dalam interaksi dan perilaku masyarakat, juga ikut mengamati perubahan masyarakat dari peristiwa ke peristiwa, momen ke momen, dan dari waktu ke waktu.

Dengan diterimanya perspektif tentang masyarakat yang tidak lagi diliputi hukum-hukum di luarnya, maka hampir sebagian besar teoritisasi ilmuwan sosial mencerminkan kecenderungan yang kuat terhadap peran besar kekuatan subjektif manusia sebagai faktor utama perubahan.

Teori tiga tahap

Auguste Comte, mengemukakan evolusi masyarakat dapat dilihat melalui perkembangan bangunan mental/kesadaran masyarakat. Sejauh masyarakat dipengaruhi dan digerakkan alam kesadarannya, secara bertahap akan mengkofigurasi dan menentukan watak masyarakat itu sendiri. Artinya, Auguste Comte melihat dalam masyarakat, ada semacam “substansi” yang mengatasi perubahan-perubahan di dalamnya. Dalam imajinasi Comtean, faktor utama dalam gerak sejarah masyarakat didasarkan kepada kekuatan kesadaran masyarakat. Secara bertahap kesadaran masyarakat dibagi Comte menjadi tiga tahap perkembangan masyarakat.

Pertama, tahap teologis. Masa ini adalah masa yang paling lama dialami manusia. Tahap ini ditandai dengan kepercayaan masyarakat ke dalam keyakinan yang mengakui realitas absolut sebagai penentu kehidupan. Keyakinan yang membagi dua dunia kehidupan, dunia ata dan dewata, misalnya, merupakan ilustrasi masyarakat yang berkesadaran teologik. Dengan menempatkan dunia dewata sebagai kekuatan penentu dan pengubah kehidupan, dan dunia ata sebagai subordinat dari kekuatan-kekuatan teologik, masyarakat dalam konteks ini hanya menjadi entitas yang pasif menerima apa saja selain dari kekuatan yang dianggap teos sebagai satu-satunya kekuatan penggerak.

Tahap teologik seringkali dibagi menjadi tiga bagian periodik sejarah yang mencerminkan adanya perubahan kesadaran di dalamnya.  Berturut-turut periode itu adalah periode fetisisme yang mencerminkan pemikiran masyarakat primitif atas kepercayaannya terhadap roh-roh atau bangsa halus yang turut hidup bersama kita. Ini terlihat pada zaman purba di mana diadakan upacara penyembahan roh halus untuk meminta bantuan maupun perlindungan.

Kedua, periode politeisme di mana masyarakat telah percaya terhadap bentuk para penguasa bumi berup para dewa-dewa yang terus mengontrol semua gejala alam dan mengatur kehidupan masyarakat berdasarkan tugas, tingkatan dan model wujudnya.

Periode monoteisme adalah perkembangan mutakhir dari tahap teologik. Momen sejarah ini ditandai dengan penerimaan masyarakat kedalam satu kepercayaan tunggal yang meyakini satu penguasa tunggal yang berkuasa penuh atas jagad raya, mengatur segala gejala alam dan takdir makhluk hidup di dalamnya.

Kedua adalah tahap metafisik. Tahap ini adalah tahap perantara dalam perkembangan masyarakat menjadi zaman positivistik. Tahap metafisik sering diandaikan dengan kemajuan kesadaran manusia yang semakin kompleks merumuskan pikiran-pikirannya dalam konsep-konsep metafisik berupa filsafat, seni, kebudayaan, dan bahkan agama-agama.

Ketiga adalah tahap positivistik. Berdasarkan pengertian yang diberikan Auguste Comte, sejarah kesadaran masyarakat akan berkembang pesat menjadi kesadaran yang berbasis rasional dan empirik-verifikatif. Zaman ini, kepercayaan-kepercayaan klenik, metafisik, dan juga teologik, seperti yang ditemukan dalam cerita rakyat, mitos, dan agama, akan ditinggalkan akibat tidak sejalan dengan semangat keilmuan yang dimiliki zaman positivistik. 

Kepercayaan yang dimiliki hukum tiga tahapan Comtean, dinyatakan sebagai prinsip apriori yang merangsang dan menggerakkan sejarah perkembangan masyarakat. Secara defenitif, setiap bentuk kehidupan masyarakat akan berjalan berdasarkan hukum tiga tahapan ini.

Pandangan dunia Comtean ini melihat masyarakat bergerak secara linear dan kekal mengatur setiap motif-motif yang ditemukan dalam masyarakat sebagai dasar perubahannya. Dengan kata lain, sejarah, perubahan, dinamika, pergeseran yang dialami masyarakat baik di tingkat mikro dan makro di setiap intitusinya, tiada lain adalah paras perubahan yang bergerak atas dasar perkembangan kesadaran.

Spencer dan Durkheim

Selain pandangan Comtean, Herbert Spencer, tokoh sosiologi awal juga sudah merumuskan tahapan-tahapan perkembangann masyarakat. Atas inspirasi dari teori evolusi Darwinian, Spencer berhasil mengkodekan prinsip-prinsip dasar yang menjadi hukum objektif perubahan masyarakat.

Prinsip yang dirumuskan Spencer dibilangkan dengan cara melihat perkembangan masyarakat dari modelnya yang masih bersifat sederhana menuju paras masyarakat yang bergerak kompleks. Perubahan kompleksitas masyarakat ini dapat ditemui bukan saja melalui bentuk masyarakat, tapi juga di dalam hubungan, level, dan hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat melalui prinsip penggandaan, kompleksifikasi, pembagian, dan pengintegrasian. Selain itu, Spencer juga telah berhasil merumuskan sejarah perkembangan masyarakat yang dilihat dari peran militer sebagai bentuk yang ikut menentukan watak perubahan dalam masyarakat.

Durkheim sosiolog terkemuka juga memiliki pandangan kesejarahan dalam mengapresiasi perubahan masyarakat. Durkheim merumuskan gerak masyarakat berdasarkan pemilahan yang  dilihat dari pembagian kerja yang diterapkan dalam masyarakat. Berbeda dari Spencer dan juga Auguste Comte, Durkheim lebih melihat perubahan masyarakat terjadi akibat bentuk kongkrit dalam peran-peran kerja yang ditemukan dalam model-model masyarakat dunia.

Bahkan pandangan masyarakat Durkheim, juga melihat pembagian kerja dalam masyarakat ikut menentukan ikatan solidaritas yang menjadi faktor pengikat interaksi masyarakat.

Umumnya, model perubahan masyarakat Durkheiman dilihat atas dua tipe masyarakat, yakni masyarakat mekanik dan organik. Masyarakat mekanik seperti yang ditunjukkan dalam masyarakat pedesaan, didasarkan atas persamaan. Persamaan dan kecenderungan untuk berseragam inilah yang membentuk struktur sosial masyarakat. Akibatnya masyarakat bersifat homogen dan mirip satu sama lain. Ciri masyarakat dengan solidaritas mekanis ini ditandai dengan adanya kesadaran kolektif, kesadaran bersama yang ditunjukkan dengan penghormatan dan ketaatan terhadap tradisi dan norma-norma masa lalu.

Kedua, masyarakat organis yang mengarah atas hilangnya konsep kolektivitas. Artinya setia individu berperan sebagaimana organ yang mempunyai fungsi masing-masing yang saling bergantung dan tidak dapat diambil alih oleh fungsi lainnya. Konfigurasi dari model demikan adalah dikenalnya pembagian kerja berdasarkan spesialisasi dan spesifikasi. Spesialisasi ini juga mendorong terbangunnya struktur kerja yang hirarkis ataupun demokratis.

Dari komunal primitif menuju masyarakat tanpa kelas

Berbeda dari tokoh-tokoh sebelumnya, Karl Marx, pencetus teori-teori komunisme, menerangkan dinamika masyarakat berdasarkan cara kerja produksinya. Motor perubahan masyarakat bagi Marx ditentukan oleh hubungan-hubungan produksi yang meliputi alat-alat produksi, tenaga produksi, dan lahan produksi. Berdasarkan hubungan tiga komponen produksi inilah sejarah masyarakat berkembang.

Dimulai dari cara produksi yang masih bersifat sederhana, masyarakat di tahap awal bagi Marx masih sangat ditentukan dengan komunalisme. Model masyarakat ini masih memproduksi kehidupannya dengan alat-alat produksi yang terbilang sederhana. Jika mengacu kepada masa-masa awal kehidupan manusia, cara manusia komunal mengatur kehidupannya masih terkait dengan alat-alat pertanian yang dibuat manual.

Pada tingkatan ini alat-alat produksi dimiliki secara bersama (komunal). Kegiatan produksi hanya diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan konsumsi kelompok. Oleh karena itu, kelebihan hasil produksi yang dalam istilah Karl Marx disebut surplus valeu tidak ada. Dengan demikian, adalah wajar jika sejarah mencatat pada tahap ini tidak berkembang sistem pertukaran barang. Di masa yang disebut Marx tidak berlaku kepemilikan pribadi, disebut dengan nama komunal primitif.

Kedua, sistem perbudakan (slavery). Sistem ini tercipta dari hubungan produksi antara orang-orang yang menguasai alat-alat produksi dengan orang-orang yang hanya memiliki tenaga kerja. Dari pola produksi ini menyebabkan berlipat gandanya keuntungan pemilik alat produksi. Pada tahap ini masyarakat mulai terdikotomi menjadi kelas-kelas, yakni kelas pemilik alat produksi dan budak yang menjual tenaganya. Upah yang diterima hanya sampai pada batas untuk mempertahankan hidup.

Ketiga sistem feodalisme. Jika dalam sistem sebelumnya tingkat kesejahteraan kelas buruh sangat tragis, maka dalam sistem feodalisme nasib buruh sedikit ada peningkatan. Hal tersebut ditandai oleh pembebasan dari status budak dan komposisi upah yang diterima lebih layak.

Keempat sistem kapitalisme (industrialisasi). Menurut Karl Marx, sistem kapitalisme ditandai oleh upaya untuk meningkatkan keuntungan atau akumulasi kapital yang tinggi. Di samping itu, karakteristik menonjol dari sistem ini adalah kebebasan individu yang didasarkan pada hak milik atas alat-alat produksi.

Kelima sistem sosialisme. Menurut Karl Marx, sosialisme merupakan tahapan transisional dari sistem sebelumnya, kapitalisme menuju sistem komunisme. Komunisme adalah hasil evolusi sejarah yang panjang. Pada masyarakat ini tidak ada hak milik, kelas dan pembagian kerja. Semuanya dikelola secara kolektif (bersama).

Bagi Marx, tahapan-tahapan masyarakat di atas bersifat niscaya. Artinya, faktor-faktor produksi yang berada dan mengatur interaksi masyarakat tidak dapat dihindari dan sangat menentukan arah perkembangan masyarakat. Bahkan bertolak dari hukum-hukum yang niscaya ini, sejarah masyarakat sudah pasti bergerak sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

---

Disampaikan pada pelatihan kepemimpinan (LK2) BEM Fakultas Psikologi UNM

16 Mei 2016

takhayul dan komunisme

Comte menandai masa teologik-metafisik sebagai rentang sejarah manusia yang bergerak oleh kekuatan mitos dan takhayul. Dua kekuatan ini adalah cara manusia bertahan hidup dari semesta alam yang asing. Di masa ini, keyakinan jika manusia menghadapi hambatanhambatan dalam kehidupan, mampu diselesaikan dewadewi seperti yang diyakini dalam mitos. Bagi masyarakat prarasional, mitos dan takhayul dipakai sebagai perangkat pengetahuan untuk menjadi pegangan hidupnya.

Tapi, kesadaran berkembang. Mitos dan takhayul akhirnya digantikan dengan ilmu pengetahuan. August Comte menyebut masa ini zaman keemasan. Ilmu pengetahuan menjadi ratu peradaban. Berbeda dari dua masa sebelumnya, hal ihwal yang belum terjelaskan selama manusia hidup ternyata bisa dipecahkan oleh sains. Akibatnya, kata Comte, di zaman ini segala hal berbau teologis dan metafisis akan dihapus ilmu pengetahuan. Sainslah keyakinan baru masyarakat positivis.

Prediksi Bapak Sosiologi Barat itu bisa benar bisa tidak. Masyarakat memang telah maju oleh kesadaran rasional. Namun, keyakinan terhadap takhayul tidak sepenuhnya bisa hilang begitu saja. Terutama apa yang terjadi akhirakhir ini, soal ketakutan kepada entah apa. Walaupun begitu, siapapun yang mengikuti perkembangan berita akhirakhir ini tahu, beberapa elemen pemerintah khawatir terhadap satu mitos; komunisme.

Komunisme memang dibilangkan Marx dan Engels sebagai hantu yang bergentayangan di langitlangit Eropa kala itu. Di Manifesto Komunis secara eksplisit tujuan Marx dan Engels memakai metafora hantu sebagai penanda terhadap keyakinan baru yang bakal merinsek keyakinan dogmatis masyarakat Eropa. Sebagaimana mahluk halus, keberadaan komunisme akan membuat gentar pendirian masyarakat yang digerakkan filsafat kelas borjuis saat itu. Dan, filsafat kelas borjuis saat itu tiada lain adalah filsafat idealisme Hegel.

Sulit memprediksi apa dasar utama beberapa perangkat negara dan ormas akhirakhir ini getol mengkampanyekan anti komunisme dengan tindakan mutakhir sweeping karya intelektual berbau komunisme. Cuman satu hal yang pasti, mereka khawatiir hantu yang diistilahkan Marx dan Engels bakal seperti kejadian sejarah 65 silam. Padahal alasan ini tidak cukup kuat jika mau melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat.

Artinya bisa dibilang ketakutan negara dan beberapa ormas hanyalah ketakutan kepada hantu yang sebenarnya, yakni suatu keberadaan yang tidak memiliki wujud; pikirannya sendiri. Dengan kata lain, marxisme dan komunisme adalah hantu yang diciptakan sendiri di dalam imajinasi pemerintah. Suatu takhayul yang tidak terbukti kebenarannya.

Lantas bagaimana dengan kegandrungan kelompok mahasiswa atupun komunitas yang getol mengunyah pemikiran marxisme dan seluruh yang berbau kiri? Di sinilah letak soal suatu kebudayaan ditakar. Apakah untuk memecahkan soal itu harus menggunakan cara primitif atau cara yang lebih intelektuil. Cara fisik atau cara pikir.

Cara yang pertama, seperti marak di pemberitaan, menyita bukubuku kiri, adalah cara yang digolongkan seperti masa yang disebut Comte sebagai masa teologik-metafisik, yakni tindakan yang digerakkan ketakutan akibat takhayul. Akibat kesadaran takhayul macam demikian, tindakannya tergolong primitif, tidak ada tanda kebudayaan sama sekali. Ini mirip Nazi yang membumihanguskan seluruh karya intelektuil yang berbau Yahudi. Betulbetul fasis.

Seharusnya pemerintah menempuh cara yang lebih akademis, yakni pemikiran dilawan dengan pemikiran. Cara ini adalah caranya kaum intelek, lewat diskursus.

Nampaknya, takhayul belum juga hilang dari ruang kebudayaan masyarakat modern. Parahnya lagi itu terjadi di antara orangorang yang secara sosial hidup di tengahtengah zaman yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Ini ambivalensi yang tentu konyol. Tapi apa boleh dikata, itulah yang terjadi belakangan ini.

14 Februari 2016

Catatan Kecil Tentang Mhor

Karl Marx lebih dari sebuah nama. Karl Marx adalah sebuah pemahaman. Perspektif. Kita tahu, sejak dia menggedor dunia dengan pikirannya, suatu tatanan tidak sekadar utopis. Masyarakat tanpa segregasi, yang jadi utopia sosialis tradisional, di tangan Marx  jadi ilmiah. Itu disebutnya komunisme.

5 Mei 1818, Marx lahir di Trier. Kota di perbatasan barat Jerman, waktu itu termasuk Prussia. Besar dari rahim Yahudi, kemudian berpindah agama; protestan. Konon rasa “emoh” Marx terhadap agama karena pilihan masa lalu orang tuanya yang gampang berpindah keyakinan. Kuliah hukum agar melanjutkan pekerjaan sang ayah, notaris. Karl Marx muda tidak terlalu tertarik hukum. Dia berminat jadi penyair. Terutama dilihat dari surat kepada ayahnya yang ditulisnya di bulan November selama studinya di Berlin tahun 1837.

Ketika saya membaca surat Marx yang ditulis tanggal 10-11 itu, sejak muda Marx telah membangun disiplin keilmuan yang ketat. Dia bercerita pengalaman keilmuannya kepada ayahnya. Bagaimana dia juga berkembara dengan puisipuisi liris sampai soalsaal filosofis, terutama tesistesis Hegel.

Marx tulis, “begitu tiba di Berlin, aku memutuskan segala ikatan yang ada dengan handai taulan, jarang berkunjung dan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam ilmu pengetahuan dan kesenian”1 Di sini Marx mau bilang betapa konsentrasinya hanya untuk ilmu pengetahuan dan seni, sampaisampai harus menjadi orang yang menarik diri dari hiruk pikuk.

Membaca surat Marx berarti membaca gairah seorang muda berusia 19 tahun yang disiplin belajar ilmu hukum, membaca banyak buku, dan menerjemahkan beberapa buku. Sejarah seni, musik, sejarah Jerman, dan puisi untuk menyebut beberapa disiplin di antaranya, yang menarik perhatiannya. Dan, seperti yang ditulisnya, ada dorongan untuk bergelut dengan filsafat. Akibatnya, Marx muda tumbuh tanpa tanggungtanggung, menjadi seorang intelektual.

Agak sulit menemukan kebiasaan Marx muda di situasi sekarang. Mau menulis surat panjang kepada seorang ayah. Menceritakan pengalaman belajarnya di tanah jauh. Menceritakan tokoh apa saja yang telah dibahasnya. Buku apa saja yang telah dibuatkan catatannya. Kritiknya terhadap pemikiran Hegel. Dan rasa rindunya kepada Jenny, kekasihnya.

Yang membaca tulisantulisan awal Marx setidaknya tahu, bahwa suatu pilihan intelektual butuh pertimbangan yang matang. Tak ada jalan panjang tanpa bekal yang ditimang, matangmatang. Jauh hari saat menyelesaikan studinya di Gymnasium, dia sudah pikir panjang ihwal tekad yang dipilihnya. Dia tulis “karenanya, kita mesti dengan serius memeriksa apakah kita telah betulbetul terinspirasi dalam pilihan profesi kita, apakah suara hati menyetujuinya, ataukah inspirasi lain adalah khayalan, dan apa yang kita kira panggilan sang dewa sebetulnya merupakan tipu daya atas diri sendiri. Namun bagaimana kita bisa mengenali  ini kecuali dengan melacak sumber inspirasi itu sendiri?”2

Kita mesti serius memeriksa apa yang menjadi pilihan. Begitu ucap Marx muda. Bahwa menjadi pengembara butuh keseriusan lebih dari yang dikira. Saya pikir, secara biografis, seorang penimbang adalah orang yang tahu apa yang dibutuhkannya. Apa yang harus menjadi tujuannya. Tujuan mesti dipilah apakah itu suara hati atau hanya tipuan sesat belaka. Di masa mudanya Marx sudah memalu niatnya dari yang dia sebut “kerja bagi umat manusia.” “Karenanya, kita tak akan merasa kecil, terbatas, atau merasakan kegembiraan yang egois. Kebahagiaan kita akan jadi milik banyak orang.”3

Kalau kita membaca habis esai pendek yang jadi tugas akhir Gymnasiumnya itu, akan terlihat bahwa Marx sedang dalam masa yang tegang. Bisa dibilang diumurnya yang baru 17 itu, Marx muda sudah mulai membangun komitmen atas profesi yang kelak dijalani. Akan sangat jauh berbeda dengan anak usia muda saat ini yang lebih memilih cara yang fleksibel dalam memilih. Marx muda sudah berpikir berat. Dia sudah mulai membangun kesadaran atas nasib masyarakatnya. Dan, atas posisi itulah yang nanti akan menjadikannya pemikir sosial berpengaruh.

Saya pribadi sulit membayangkan pemikiran Marx muda yang menulis “…petunjuk utama yang mesti mengarahkan kita dalam pilihan profesi adalah kesejahteraan umat manusia dan penyempurnaan diri kita sendiri. tak boleh dipandang bahwa kedua kepentingan itu berselisih, bahwa yang satu akan menghancurkan yang lain. Justru sebaliknya, kodrat manusia telah terbangun sedemikian rupa sehingga ia hanya bisa meraih kesempurnaan dirinya dengan cara bekerja bagi penyempurnaan sesamanya.”4

Mari membayangkan kesadaran macam apa yang mendasari Marx muda menulis demikian. Di situ dia sudah berpikir keselarasan antara yang individual dan yang sosial dalam hubungannya dengan masyarakat banyak. Makanya tidak terlalu salah kalau kita mau menyebut bibit awal perhatian Marx terhadap hukum dialektika masyarakat dimulainya dari periode ini.  Bahkan dalam perspektif humanisme, Marx muda sudah menunjukkan karakter dasar manusia sebagai mahluk sosial. Karena hanya dengan cara itulah dia bilang manusia hanya sempurna bila ada hubungan kerja sama antara sesamanya. Dalam konteks ini saya mau bilang, perspektif humanisme yang akan mendasari pemikiranpemikiran Marx selanjutnya, sudah disebutnya secara eksplisit di usia 17 tahun. Di usia muda dia sudah mulai membentuk kesadaran sosialnya.

Marx muda dengan begitu tumbuh menjadi pembaca yang evaluatif. Anak muda yang diskursif. Dan juga kritis. Itu ditunjukkannya saat tergabung dengan Young Hegelian saat di Berlin. Di saat inilah dia menjadi pembaca yang taat. Dari yang ditulis Nyoto dalam Marxisme: Ilmu dan Amal, bahkan Marx tidak menyusun bukubuku di dalam lemari menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya.5

Di Berlin Marx tidak membaca Hegel secara sentimentil. Walaupun awalnya Hegel disebutsebut sebagai guru revolusi, itu tidak menjadikan pemikirannya layak diterima begitu saja. Melalui Feurbach, murid yang pernah berguru dari Hegel, Marx menemukan cela pemikiran yang menjadi jalan lain dalam memahami kenyataan.

Atas kritik Feurbach terhadap Hegel, Marx merumuskan eksposisi berupa pertanyaan atas klaim roh absolut Hegel. Bagaimanakah cara memahami yang absolut, yang dianggap rasional, padahal yang rasional hanyalah dalam subjek pemikir, padahal dunia tak seperti yang dibayangkan. Kata lain, bagaimanakah memahami yang roh yang absolut dalam filsafat Hegel, sementara baik Hegel sendiri adalah pemikir yang subjektif.

Di bagian itulah ada frasa yang sering diucapkan, “Hegel berjalan dengan terbalik, dia berjalan dengan kepalanya” yang menjadi semacam statement sentimentil untuk mengkritik dasar pemikiran Hegel. Marx dengan kesadaran baru atas filsafat Hegel, menemukan suatu cara berfilsafat yang berbeda dengan filsuf umumnya. Kesadaran itu bisa dikalimatisasi menjadi “Hegel hanya merumuskan pikiran, filsafat harusnya merumuskan kenyataan.” Dari kesadaran macam inilah kelak filsafat Marx hanya mungkin dipahami sebagai bagian yang tidak sekadar merepetisi situasi masyarakat menjadi rumusrumus filsafat, melainkan masuk ke dalam dan mengubahnya secara langsung. Banyak orang bilang, di tangan Marx, filsafat menjadi praksis.

Mengenal Marx berarti juga mengikutkan satu persona yang karib menjadi sahabatnya. Semenjak mendapatkan tekanan saat memimpin harian koran yang liberal dan progresif, Marx pindah ke Paris. Di Paris dia bertemu tokohtokoh sosialis Prancis semisal Proudhon dan juga tokoh sosialis yang juga pelarian dari Jerman. Dan tentu  satu persona, sang “jenderal” panggilan keluarga anakanak Marx terhadap sahabatnya yang karib; Friedrich Engels.

Biografi Marx tanpa Engels akan sulit memberikan input yang berarti saat masuk di dalam perjalanan pemikiran Marx. Melalui Engels-lah Marx menemukan fakta objektif sumber keterasingan manusia. Engels yang sebelumnya anak pengusaha tekstil, menemukan terang kenyataan bahwa buruh manusia bukanlah mesin yang harus diperlakukan semenamena. Di pabrik Manchester ketika dia mengepalai suatu bagian tugas ayahnya, kenyataan itu yang membuatnya sadar bahwa tatanan industri yang sedang berkembang banyak berdiri di atas penghisapan kaum buruh. Setelahnya lewat The Holy Family dan setelah German Ideology,  Marx bersama kawan karib ini menjelma menjadi pasangan intelektual bapak sosialisme.

Saya kira dari kekariban Marx dan Engels ada hal yang luput, bahwa barang siapa tengah merancang suatu rumus pemikiran, harus memiliki semacam kawan dialog. Kekariban Marx dan Engels, bagi saya adalah suatu model bagaimana suatu kerja kolektif didasarkan. Marx dan Engels menjadi simbol yang mewakili suatu tindak pikiran filosofis; dialog.

Baik Marx dan Engels, melalui karya intelektual bersama, sama halnya Socrates dan Platon, menghidupkan esensi dari seni berpikir melalui dialog sebagai mekanisme dialektis dalam menemukan jalan keluar atas problem yang dihadapi. Lewat dialog keduanya, diskursus jadi soal yang kolektif, bukan sekedar pemikiran monologis yang selama ini diketahui sebagai inti filsafat. Saya kira dari sini Manifesto Komunis yang disusun keduanya, tidak sekedar seruan kolektif terhadap masyarakat pekerja, melainkan bagaimana suatu karya pemikiran sedari awal sudah harus menunjukkan dimensi kolektifnya.

Banyak yang berharga dari Marx, termasuk sisi lain bahwa Marx bukan saja pemikir yang mudah murung dan keras, tapi juga seperti yang ditulis putrinya Eleanor, bahwa Marx orang yang humoris yang punya  segudang cerita yang bisa membuat orang tertawa.  Seorang ayah yang senang membelikan  dan membacakan novel kepada anaknya di usia yang masih sangat muda. Juga seorang kepala keluarga yang lebih sering jadi teman anakanaknya. Mohr, begitu panggilan anakanaknya terhadap Marx, kadang bermain “kudakudaan” seperti yang ditulis Eleanor “Dengan duduk di pundaknya, memegangi rambutnya yang lebat, hitam dan beberapa yang sudah menguban, saya puas "mengendarainya" berkeliling kebun kecil kami dan mengitari lapangan yang melingkari rumah kami di Grafton Terrace.”6

Marx mati di London 14 Maret 1883. Usianya genap 64 tahun. Dia sakit selama 15 bulan di  akhir hidupnya, akibat radang pernapasan yang membuatnya mengalami brongkhitis akut. Pemakamannya hanya dihadiri sembilan sampai sebelas orang. Tapi pemikirannya saya kira banyak yang jadi pegangan bagi banyak orang. 7

---
  1. Martin Suryajaya, Teks-Teks Kunci Filsafat marx, Resist Book,2016: hlm. 10
  2. ibid, hal 7
  3. ibid
  4. ibid
  5. http://indoprogress.com/2015/07/marx-dan-tauladan-bagi-remaja/
  6. www.marxistsfr.org/indonesia/archive/marx-eleanor/001.htm
  7. https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx

25 Maret 2015

madah limapuluhsatu

Tahun 1984, suatu tempat di Jerman Timur.

Rumah Dreyman disusupi. Hampir setiap sudut rumahnya penuh kabelkabel tersembunyi di balik dinding. Di vas bunga, di balik pintu, terminal listrik, belakang lemari, di bawah tempat tidur, bahkan di dalam kamar mandi. Praktis setiap sudut jadi suatu proyek pengintaian. Ruang tempat tinggal Dreyman jadi pusat perhatian negara. Di bawah pengintaian, Dreyman jadi manusia yang transparan. Gerak geriknya jadi bahan amatan dari objek kekuasaan. Tapi ia tak tahu.

Sementara di suatu sudut rumah, di mana kabelkabel itu berpusat, empat sampai lima monitor tak pernah padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap setiap bunyi. Dan seseorang dengan taat mengawasi gerakgerik Dreyman dari ruang kotak itu. Mencatat setiap detil yang mencurigakan. Memasukkannya dalam laporanlaporan setiap hal yang dialami Dreyman. Pria yang taat itu akhirnya mulai mempelajari Dreyman dengan membangun jadwal aktivitasnya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.

Dosa Dreyman hanya satu, ia terlahir sebagai seorang penulis.

Di negerinya Jerman Timur, yang berhaluan komunisme, setiap huruf harus mengikuti intruksi negara. Negara tempat Dreyman tinggal punya kebijakan, bahwa setiap proyek pencerahan harus memuati maksud seperti yang dikehendaki negara. Seluruh proses pembudayaan mesti selaras dengan semangat revolusi komunisme. Ini berarti, setiap tulisan yang lahir dari lidah setiap penulis, harus berbicara tentang hal ihwal revolusi; semangat kaum proletar, pandangan realism, kemajuan partai, pabrikpabrik yang dinasionalisasikan, dan tentu komunisme sebagai pandangan universal.  

Sebelumnya diintai, ia adalah seorang sastrawan dan penulis naskah teater yang tak begitu dicurigai negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak mengandung unsurunsur seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia di mata petinggipetinggi partai adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan untuk mendorong kebudayaan negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia dipandang sebagai salah satu seniman yang diberikan kebebasan untuk berkarya sesuai dengan pandanganpandangan komunisme.

Tapi semenjak kedatangan Gerd Wiesler, agen matamata Jerman Timur, di suatu pertunjukannya, semuanya berubah. Dari atas balkon pertunjukan,  Gerd Wiesler mengamati dengan teliti Dreyman di tempatnya ia menyaksikan teater yang merupakan hasil garapan tulisannya. Dari pengamatan Wiesler di atas balkon, Dreyman disimpulkan sebagai orang yang tak sepenuhnya bersih.  Dari gerak tubuh, mimik wajah, bahkan setiap detil yang dimiliki Dreyman  yang di amati Wiesler, kesimpulannya adalah Dreyman adalah orang yang mesti dicurigai sebagai tersangka yang berbahaya. Dia bukan seniman yang lurus, melainkan ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.

 Tapi Wiesler perlu bukti yang menguatkan kecurigaannya. Biar bagaimanapun kecurigaan tak bisa dijadikan modal untuk menuntut orang tanpa datadata yang jelas dan akurat. Sebab itulah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol dan diselipkan alatalat yang merekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia dicurigai sebagai musuh negara.

Akhirnya tiap detik dari Dreyman adalah jadi bahan amatan negara. Setiap yang dilakukannya jadi catatan terperinci Wiesler berdasarkan waktu dan tempat di mana itu terjadi. Wiesler harus bisa mengajukan bukti kepada petinggi partai bahwa Dreyman sebenarnya adalah seniman yang diamdiam mengkritisi komunisme. Tapi Wiesler butuh waktu untuk suatu bukti yang gamblang.

Sampai di sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang sama seperti Georg Dreyman. Seorang penulis naskah yang dimatamatai negara oleh sebab dicurigai memiliki maksud tersembunyi yang tak sesuai dengan paham negara.

Di film itu ada dua hal yang akhirnya menjadi genting; kebebasan berekspresi dan kontrol negara. Dua hal ini yang menjadi sisi antagonis di film drama Jerman itu. Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan Dreyman dan kontrol negara yang merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau besar. Dua hal ini, dalam konteks negara dan kebebasan berekspresi menjadi dua anasir yang seringkali berhadaphadapan. Tapi jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali adalah Wiesler itu sendiri, seorang yang telaten mematamatai Dreyman.

Wiesler, di kehidupan seharihari seperti yang kita alami, tak jauh berbeda dengan pekerja pemerintah yang memiliki pengabdian total terhadap negaranya. Taat dan setia menjalankan tugas. Di Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen matamata yang berdedikasi tinggi dan idealis menjalankan tugasnya. Orangnya tepat waktu dan jernih mengamati halhal detail. Dan selama mematamatai Dreyman sang penulis drama, ia juga menulis laporan pengamatannya tanpa unsurunsur dramatik.

Ia mengamati, mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.

Tapi Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama pengamatannya, justru ia tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol, apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya tanpa sepengetahuan. Ia ingin tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi apa daya, melalui buku yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang dimatamatainya. Kekuatan sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan seseorang, begitu juga Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai melindungi Dreyman dari atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas pengarang itu. Begitu seterusnya.

Das Leben der Anderen barangkali film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan menggunakan cara yang bisa dibilang melankolik; drama. Tapi itu sepertinya pembacaan yang terlalu jauh, sebab tak ada kesan dalam film itu yang mengarahkan kepada pengertian yang mengungkapungkap sejarah. Sebab pula di film itu tak menyebut cerita yang pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin disebut demikian, film itu hanya bicara plot orangorang yang hidup di situasi yang cekam dan kontrol negara yang terlampau totaliter.

Dan Dreyman merasakan, juga barangkali orangorang yang terbiasa hidup dengan kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara tak bisa merebut hal yang paling intim dari mahluk bernama manusia; kebebasan berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.


07 Maret 2015

madah empatpuluhlima

"Saya belajar dari Maxim Gorki yang betulbetul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semuanya berubah dan bergerak" Pramoedya Ananta Toer.

Semenjak rumahnya kedatangan orangorang asing. Syahdan, semua berubah menjadi berbeda: dunia dipandang sebagai tempat di mana niat mesti diperjuangkan. Pelagia Vlassov menjadi perempuan yang berubah. Ia menjadi seorang ibu yang tegar hadapi dunia yang karutmarut.

Semangatnya membuncah penuh getar untuk bertindak. Perempuan yang awalnya jadi korban kekerasan rumah tangga akhirnya tahu, bahwa perempuan tidak dinubuatkan untuk mengembik.

Dunia yang dilihatnya hanyalah keadaan yang sudah terlembakan berabadabad lamanya, dengan kekerasan, kemiskinan, kerja rodi, mabukmabukkan, sontak berubah. Di balik matanya yang biru: dunia memang tak seharusnya menjadi kalap.

Keadaan itu berubah semenjak anaknya, yang aktivis buruh, menjadikan rumahnya tempat pertemuan tersembunyi. Anaknya, Pavel, memang seorang aktivis buruh. Bersama temantemannya, dirumah sudut perkampungan di atas sebuah tanggul, perbincangan Pavel bersama temantemannya menyadarkan Pelagia Vlassov tentang arti sebenarnya keadaan yang mereka alami.

Saat itu memang Rusia adalah negeri yang sedang menyambut awal abad dua puluh. Sebagaima Eropa, industrialisasi gencar. Sulingsuling pabrik ditiap paginya sudah bunyi membangunkan kaum buruh untuk bekerja. Asapasap mengepul membungbung. Di bawahnya, kaum pekerja harus bangun dengan tuntutan kerja atas tenaga yang mereka miliki.

Dengan cara itulah Pelagia hidup. Wanita empat puluh tahunan dengan tubuh yang sedikit bungkuk harus bekerja dengan suaminya yang berperangai kasar sebagai montir di sebuah pabrik. Juga anaknya Pavel yang pendiam.

Begitulah Maxim Gorki dalam novelnya, Ibunda, membangun sebuah sketsa cerita. Suatu kehidupan seorang Ibu dan anaknya yang sadar untuk memotong rantai nasib yang tak melar berabadabad. Di ceritanya itu, Gorki, melalui Pelagia, ingin membilangkan bahwa seorang ibu yang memiliki satu bilik di dalam rumah, juga bisa turut mengambil sikap perjuangan atas keadaan yang timpang.

Sebab itulah barangkali Pram terkagumkagum. Gorki nampak mengguncang tiang pancang suatu rumah, dan membuatnya berubah dan bergetar.

"Rumah" dalam kalimat Pram bisa berarti banyak hal. Tapi, sebagai suatu tempat di mana kesadaran dan tubuh dipertautkan, rumah adalah ruang tempat semuanya mesti sejenak rehat. Di sana, di rumah, kita berhenti untuk bertindak, sebab fungsi rumah adalah tempat tenaga dan pikiran dipupuk. Rumah, adalah ruang yang dibangun untuk menyediakan tempat aman dan rasa tentram ditemukan. Di rumah, semuanya akhirnya jadi normal.

Tapi kata Pram, Gorki datang untuk mengguncangkannya. Tiangtiangnya tiba untuk digetarkan agar semua berubah dan nampak berbeda. Rumah, dalam arti stage yang sudah selalu kokoh bagi landasan pandangan dan keyakinan kita, akhirnya barangkali memang mesti dipugar. Sebab, yang kokoh biasanya akan kehilangan sesuatu yang bisa membuat orang bisa peka. Yang kokoh, kadangkadang memang tak selamanya sudah sempurna.

Maka itulah suatu guncangan bisa membuat semuanya berubah. Dalam Ibunda, Pelagia mengalami itu dari pertemuan anaknya Pavel dengan temantemannya. Di saat ia menjamu tamutamu anaknya, terbukalah pintu rumah jiwanya. Ia banyak mendengar kata asing dan pemikiran asing yang nampak baru dan membingungkan.

27 Februari 2015

madah tigapuluhdelapan

"Tidak ada misi yang lebih rumit, lebih gawat, daripada pergulatan orang dengan jiwanya sendiri.."

Begitulah ungkapan Duong  Thu Huong. Tulisannya dalam Beyond Illusions, begitu menggetarkan. Dalam katakatanya itu ada getir, sekaligus tentu saja, getar.

Di tahuntahun komunisme berjaya di Vietnam, getir sekaligus getar itu menjadi hal yang menjulang dalam sorak sorai revolusi tanpa batas. Tapi juga, akhirnya harus redup untuk sebuah jalan yang telah ditetakkan partai: realisme sosialis.

Di Vietnam, seperti negerinegeri ketika komunisme akbar dipuja, sastra dan seni hanya berarti bahwa realisme sosialis adalah satusatunya ekspresi yang mampu membangun kebudayaan yang luhur. Maka, akhirnya itu jadi kebijakan, partai mengambil alih, dan sastra serta seni hanya bisa bicara dua hal: revolusi dan aturanaturan sastra partai.

Tapi pernah suatu saat partai sadar dan berbenah. Di tahun 1987, pasca perang yang amuk dengan pihak sekutu, partai mengambil cara yang tak lazim. Melalui pidato Nguyen Van Linh, ketua partai saat itu, kaum sastrawan dan intelektual dihimbau terlibat secara bebas dan kritis untuk membangun dan menangani Vietnam yang ambruk akibat perang. Akhirnya katup  dibuka, dan segera saja suarasuara yang sembunyi dari radar kekuasaan, menguap kemanamana.

Suasana itu akhirnya menyediakan suatu kondisi seperti yang diungkap Linh, dalam Beyond Illusions, kepada suaminya "kita tidak hidup untuk menyenangkan hati orang lain. Kita hidup sesuai dengan keyakinan kita." Linh menyebut itu dalam arti yang ideal, dalam arti bagaimana seharusnya tugas seorang penulis: jujur terhadap kenyataan.

Vietnam sebelum itu adalah suatu negeri yang diproyeksi dan dicanang revolusi, negeri yang mengolokngolok tuantuan tanah. Di Vietnam kala itu, seperti negeri yang membebaskan seluruh tanah untuk dikelola komunekomune. Tak ada tanah yang berbasis pribadi. Tiada yang berbau individual. Tanah di masa itu adalah saatsaat di mana padi adalah juga urusan negara.

Sontak proyek land reform itu menjadi semacam mantra yang membebaskan, tapi juga sebenarnya menghisap tumbal. Pembebasan tanah jadi program yang massif dari revolusi yang sedang berjalan. Tanah yang dikelola komune, adalah penyamarataan seperti yang dilakukan Mao di China. Tapi land reform justru bukan imune, justru banyak yang sakit, banyak yang justru kelaparan. 

Yang jadi tumbal, yang jadi sakit, adalah orangorang yang kehilangan tanahnya dan harus bekerja dengan tanah yang kering. Bahkan berita pun dibuatbuat, seperti ditulis Duong dalam novel ke duanya, penuh kebohongan "para pemimpin komune memerintahkan kami ke sini untuk dipotret, untuk korannya para tukang foto itu.

Orangrang dikibuli dengan gambargambar padi berlatar subur dan petani yang bahagia bekerja, namun sebenarnya itu hanyalah bagian kecil dari keadaan yang sebenarnya. Yang sebenarnya tak ada tanah subur yang dibebaskan. Yang ada hanyalah pengerahan besarbesaran petani ke bidangbidang tanah yang tak menghasilkan panen apaapa. Yang ada hanya berita manipulatif yang disebarkan demi menyangga revolusi.

Sebab itulah akhirnya di suasana bebas itu  banyak yang berani bersuara atas kebohongankebohongan kemajuan revolusi. Sastrawan menulis syair juga novel, seniman membangun panggung dan kaum cendikia mengungkap kenyataan. Demi suatu yang luhur: kejujuran atas yang terjadi.

Drastis tak ada lagi beritaberita kebohongan tentang kemajuan yang dipesan partai. Tak ada lagi ungkapan yang memujimuji revolusi.

Tapi suarasuara yang kritis nampaknya justru menjadi gema yang menyulut panas kekuasaan. Kritik berbalik arah terhadap partai yang diamdiam memang menilap kekayaan. Akhirnya banyak yang marah seperti tuantuan kepala partai yang menimbun harta. Sehingga jika kekuasaan jadi gerah, maka selanjutnya kita tahu, yang ada adalah pembungkaman. Sebab itulah kritik seperti memang hanya suara yang seperti uap. Cepat hilang. Sempat panas kemudian hilang tanpa sisasisa, oleh kekuasaan.

Suara yang sempat menjulang saatsaat itu, sudah tentu suara getar Duong Thu Huong. Perempuan yang sempat diusir dari partai ini akhirnya juga menanggung nasib sebagai seorang yang diasingkan. Tulisantulisannya menjadikannya sebagai orang yang karib dengan penjara tanpa pengadilan. Dan dari situ tahun 1990 ia didepak dari partai komunis Vietnam.

Tapi novelnovelnya, juga Beyond Illusions, sebenarnya getir yang memotret sebuah negeri yang dimanipulasi dengan rencanarencana partai. Suatu hal yang ia sebut "memandang menembus topengtopeng," saat semuanya bersuara berdasarkan pesanan partai. Saat banyak yang hanya mengumbar kesenangan rakyat dari sejumlah beritaberita, ceritacerita yang dipelintir dari kenyataan sebenarnya.

Saat itulah Duong menulis "kita kaum intelektual, misi kita bukannya memupukmupuk kebanggaan rakyat kita, melainkan meninjau sedalamdalamnya cacat dan kelemahannya yang fatal, untuk menemukan dan menunjukkannya lebih awal dari yang lainlain."

Karena itulah Duong menulis keadaan yang getir di negerinya sendiri.  Tapi sampai di sini saya tidak tahu, apakah tulisan Duong  di negeri ini juga dapat membuat orang bergulat dengan jiwanya sendiri.


18 November 2014

Gerakan Sosial: Revolusi Payung Hongkong

Gerakan sosial dalam arti defenitifnya selalu ditandai dengan tindakan kolektif yang bersifat spontan dan massif. Pengertian ini juga mengacu pada tindakan masyarakat yang mengarah pada tujuan bersama sejauh ikatan-ikatan yang bersifat semi organisasional terbangun. Beberapa pengertian yang diberikan ahli sosial misalnya, melihat gerakan sosial merupakan bagian integral dalam masyarakat yang berfungsi sebagai kekuatan pendorong perubahan. Dengan kata lain, gerakan sosial yang merupakan kesatuan integral dalam tatanan masyarakat, memposisikan dirinya sebagai kekuatan yang memiliki fungsi penyeimbang bahkan sebagai bentuk pembaharuan tatanan itu sendiri.

Pengertian lebih jauh diberikan Blummer, misalnya, yang melihat signifikansi gerakan sosial dalam pengaruhnya terhadap penciptaan nilai-nilai baru yang menggantikan anutan-anutan lama di masyarakat. Hal ini menjadi salah satu indikator untuk mengukur capaian-capaian gerakan sosial sebagai kekuatan perubah yang merembesi sistem nilai dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh misalnya, perubahan cara mengidentifikasi masyarakat Amerika dalam kaitannya dengan perjuangan Apertheid kulit hitam yang lambat laun akhirnya berubah pasca munculnya gerakan sosial yang dimotori Malcolm X. Dalam kasus ini kita bisa menyaksikan dampak perubahan sosial yang ditimbulkan gerakan civil society sebagai variabel yang juga menentukan perubahan dalam sistem nilai masyarakat Amerika.

Penciptaan nilai baru yang dimaksudkan Neil Smelser yakni sebagai upaya penataan ulang nilai-nilai lama yang dianut sebagai alasan bertindak. Dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai kolektif, semisal keadilan, pengetahuan, kebaikan, kasih sayang, demokrasi dsb, secara prinsipal menjadi sandaran epistemologis dalam bersikap. Pada kasus Apertheid, gerakan yang di motori Malcolm X tidak saja mengubah secara sosiologis posisi masyarakat kulit hitam, melainkan secara paradigmatik memberikan nilai baru secara kultural terhadap keberadaan kulit hitam di tengah-tengah masyarakat kulit putih Amerika.

Gerakan sosial sebagai tindakan kolektif juga dapat kita temukan misalnya tahun 1999 di Seatle Amerika Serikat. Kala itu hampir 40.000 masyarakat pekerja, aktivis NGO, kaum anarkhi, aktivis lingkungan hidup, serta pembela hak-hak asasi manusia tumpah ruah di jalan-jalan menentang pertemuan tingkat dunia yang diselenggarakan WTO. Dalam konteks peristiwa, gerakan sosial yang menolak isu neoliberalisme kala itu juga memperlihatkan  bentuk spontanitas sebagai salah satu indikator gerakan sosial yang bisa menjadi titik permulaan dari kegiatan kolektif.

Sebagai kekuatan penggerak masyarakat, gerakan sosial adalah sarana alternatif yang menjadi pendorong perubahan ketika dimensi struktural kemasyarakatan tak menghasilkan pemenuhan hak-hak dasar kemasyarakatan. Kecenderungan ini termuat dalam pembacaan yang bersifat marxian ketika melihat ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh struktur kelas masyarakat atas dasar dominasi kapital oleh kelas masyarakat tertentu. Model gerakan sosial marxian banyak kita temukan pada negara-negara belahan dunia ke tiga yang rentan akibat disparitas ekonomi sebagai penyebab ketidakpuasan masyarakat.

Gerakan sosial yang ditemukan di belahan dunia ketiga memiliki ciri ikatan yang bersifat normatif. Ikatan ini merupakan gagasan bersama sebagai bentuk kepahaman yang bersifat kolektif. Ikatan normatif ini memiliki arti ideologis untuk mempersatukan visi dan misi sebagai tujuan gerakan bersama. Contoh kasus misalnya, gerakan petani karet di Brazil yang dipelopori Chiko Mendes pada tahun 1987, dipersatukan oleh keyakinan umum yang melatarbelakangi munculnya penentangan terhadap pembabatan hutan oleh korporasi saat itu. Keyakinan mereka terhadap pemanfaatan hutan secara ekologis menjadi pemahaman dasar sehingga sampai saat ini Brazil memiliki 48 lokasi seluas 12 juta hektar di hutan Amazon yang berstatus kawasan suaka ektraktif.

Dari beberapa kasus di atas, cara-cara yang ditempuh dari gerakan sosial merupakan sikap kolektif yang berada di luar mekanisme sistem institusi yang ada. Dalam hal ini apabila institusi kemasyarakatan tidak memberikan dampak sosial yang diharapkan, maka kolektifitas dari gerakan sosial adalah mekanisme yang ditempuh untuk menjadi alternatif dari institusi yang ada. Merujuk hal ini, juga diungkapkan Antony Giddens dan Calhoun yang menyebutkan bahwa gerakan sosial sering kali memiliki ciri-ciri dari penggunaan cara-cara di luar sistem yang dianut. Tindakan aksi massal masyarakat sipil, pemberontakan kaum tani, dan kelompok-kelompok minoritas yang memperjuangkan hak-hak sipilnya, memang selalu menggunakan cara-cara yang tak lazim dianut dalam kebiasaan-kebiasaan masyarakat.

Apabila dilihat dari tatanan struktural masyarakat, gerakan sosial juga dapat diidentifikasi sebagai respon dari kalangan elit yang berada pada puncak hirarki kelas masayarakat. Pengertian ini mengacu pada aktivitas elit masyarakat sebagai agen gerakan sosial yang memberikan pengaruhnya terhadap masyarakat dominan untuk mengarahkan perubahan yang dikehendaki. Dalam ketatanegaraan kita, kasus RUU Pilkada barangkali bisa menjadi ilustrasi berkenaan dengan maksud pengertian ini.

Perlawanan dari gerakan yang diprakarsai elit adalah gerakan dari bawah yang bersumber dari masyarakat luas sebagai bentuk kebersamaan. Gerakan yang berasal dari bawah ini adalah gerakan yang mengikutkan kolektivitas masyarakat sebagai eksponen gerakannya.

Gerakan Revolusi Payung Hongkong

Revolusi Payung merujuk pada gerakan kaum muda pro demokrasi di Hongkong yang muncul pada 23 september 2014 lalu. Gerakan yang dipelopori oleh kalangan pelajar ini merupakan respon terhadap kebijakan RRC atas mekanisme pemilu Hongkong 2017 nanti. Selain dari itu, gerakan ini dimotivasi atas dasar kekhawatiran masyarakat Hongkong, terutama kaum terpelajar atas kebebasan yang kian merosot oleh kawasan bekas koloni Inggris ini.

Perlu juga diketahui, Hongkong merupakan bagian pemerintahan Cina yang diserahkan Inggris pada 1997 lalu. Semenjak penyerahan ini, Cina menerapkan kebijakan satu negara dua sistem demi keberlangsungan otonomi Hongkong.  Namun semenjak perpindahan tangan ini, Hongkong, terutama kalangan eksekutifnya lebih pro terhadap pemerintahan Cina dibandingkan dengan warga Hongkong sendiri.

Kebebasan yang kian terbatasi sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang telah lama tertimbun. Revolusi Payung tidak saja mempersoalkan mekanisme pemilihan pimpinan eksekutif yang selama ini dipilih langsung oleh dewan partai komunis Tiongkok, melainkan adanya migrasi penduduk daratan yang masuk ke Hongkong dengan mengambil lahan pekerjaan penduduk lokal. Kaum muda juga tidak puas dengan keadaan ekonomi yang dikuasai Taipan kaya di wilayah itu.

Gerakan sosial Hongkong ini telah berlangsung dua bulan lamanya semenjak September 2014. Dampak dari gerakan ini juga memberikan pengaruh politis terhadap keberlangsungan pemerintahan dewan partai Tiongkok di Hongkong. Oleh sebab, tuntutan yang menjadi perhatian utama dari gerakan payung ini adalah perubahan sistem politik yang tidak memberikan kebebasan memilih bagi warga Hongkong.


Apabila dilihat dari tipe gerakan yang terjadi, gerakan yang dipelopori oleh Joshua Wong bersama ratusan pelajar belumlah sampai pada jenis gerakan yang bersifat menyeluruh dalam hal perombakan seluruh sistem kehidupan. Tetapi hal ini dimungkinkan apabila dalam prosesnya mengalami perluasan isu yang berdampak kepada seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Pada tingkatan ini, gerakan yang bersifat revolusioner menjadi tindak lanjut dari proses perubahan yang ditimbulkan gerakan sosial sebelumnya.

Gerakan payung Hongkong juga dapat diamati sebagai tindakan kolektif yang berorientasikan perubahan struktur politik. Melalui pendudukan basis-basis wilayah tempat perputaran ekonomi, gerakan ini dapat diterjemahkan sebagai bentuk sikap-sikap yang keluar dari sikap-sikap intitusi politik. Hampir ribuan kaum terpelajar turun ke jalan untuk memberikan sikapnya terhadap sistem politik yang dianggap tidak merepresentasikan semangat demokrasi. Gerakan pendudukan yang terkenal dalam revolusi payung adalah gerakan ocuppy love and peace yang terinspirasi dari gerakan Wall Street di Amerika tahun 1999.

Dari sisi yang lain, revolusi payung adalah ungkapan ketidak puasan kaum terpelajar dari sistem politik yang diterapkan di Hongkong. Sebagai perbandingan, apa yang pernah terjadi di Indonesia semasa orba yang memunculkan gerakan reformasi juga dilator belakangi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem pemerintahan yang dipimpin Soeharto. Dalam dua kasus ini, seperti yang dimaksudkan oleh Zald dan Berger tentang ketidakpuasan berupa keluhan yang menjadi pendorong dari lahirnya perubahan sosial.

Hal yang senada juga menjadi indikator yang dibilangkan Eyerman dan Jamison berkenaan dengan nuansa emotif yang menjadi bagian dari gerakan sosial. Kaitannya terhadap nuansa emotif bahwa gerakan sosial menampakkan ciri-ciri tindakan kolektif yang mengungkapkan perasaan tak puas di depan umum. Hal ini dilakukan  untuk mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak memuaskan. Pada kasus gerakan pendudukan kaum pelajar Hongkong adalah contoh kongkrit bagaimana ketidakpuasaan yang dimaksud dikolektifkan menjadi tindakan bersama dihadapan umum saat menduduki pusat-pusat strategis kota Hongkong.

Pendudukan yang berlangsung selama dua bulan ini, setidaknya menarik minat media-media internasional dalam hal keikutsertaan kaum pelajar sebagai penggerak utama revolusi payung. Di satu sisi keikutsertaan kaum pelajar ini akhirnya mendorong elemen masyarakat lain agar turut mengambil peran dalam perubahan yang mereka inginkan. Dalam studinya Ign Mahendra mengungkapkan bahwa gerakan yang dipelopori kaum terdidik dapat menjadi bagian dari gerakan sosial ataupun malah secara kualitatif akan berubah menjadi gerakan politik.

Dalam studinya pula Mahendra menjelaskan bahwa kaum terpelajar sebagai agen perubah menjadi kelas masyarakat yang dapat menyerap sentimen-sentimen politik dibandingkan golongan masyarakat yang lain. Hal ini didorong karena kaum terpelajar sangat sensitif terhadap perubahan yang berlangsung di tengah proses dinamika masyarakat. Dengan begitu, kalangan terdidik malah menjadi barometer yang merefleksikan animi yang beregerak dalam masyarakat.

Revolusi Payung Hongkong mengingatkan kita kepada gerakan reformasi yang sedikit banyaknya diprakarsai oleh kalangan terdidik untuk mengarahkan perubahan pasca Orde Baru. Gerakan reformasi dalam tinjauan gerakan sosial mengacu pada tema marxian yang mengelolah isu-isu ekonomi sebagai sebab musabab kemandekan sosial dan disparitas masyarakat. Namun yang terjadi pada masa gerakan mei 98, justru mampu membawa yang semula berawal dari analisis ekonomi akibat krisis ekonomi menjadi analisis politik yang berujung pada penjatuhan rejim Orde Baru.

Dalam pendekatan tertentu, gerakan sosial semacam gerakan revolusi payung beserta gerakan sosial di abad kontemporer, dari analisis yang diberikan Tourine dikategorikan menjadi model gerakan sosial baru. Gerakan sosial baru sangat berbeda dengan gerakan sosial lama yang memiliki ciri-ciri tertentu. Perbedaan ini juga dibedakan berdasarkan perkembangan modernitas terutama kapitalisme di masa kapitalisme awal dan kapitalisme lanjutan.

Tourine memberikan beberapa variabel yang menjadi perhatian dalam menganalis perbedaan antara gerakan sosial baru dan gerakan sosial lama diantaranya yakni status keanggotaan yang ketat pada gerakan sosial lama dibandingkan gerakan sosial baru yang cenderung fleksibel. Hal ini disebabkan oleh karena sifat organisasi yang cenderung tertutup pada tipe gerakan lama dibandingkan dengan gerakan sosial baru. Akibat dari jenis organisasional yang demikian maka akan cenderung lebih luas ikatan antara organisasi lainnya bagi gerakan sosial baru dibandingkan gerakan sosial lama. Hal yang paling mencolok diantaranya adalah fokus isu yang lebih beragam dianut gerakan sosial baru daripada gerakan sosial lama. Dalam hal ini yang dapat kita golongkan gerakan sosial baru adalah gerakan ekologi, feminisme maupun gerakan perdamaian.

Berdasarkan tinjauan yang diberikan Tourine, revolusi payung yang lebih fleksibel dalam keikutsertaan yang tidak bersandar pada satu elemen kelas masyarakat, dapat masuk dalam model gerakan sosial baru. Sementara revolusi payung juga tidak memiliki karakter antagonistik kelas sehingga lebih terbuka baik dari model organisasinya maupun anggota yang terlibat di dalamnya. Juga berdasarkan pengertian Kriesi, gerakan revolusi payung tiongkok lebih memusatkan persoalan pada masalah kultural seperti kebebasan berpendapat dan politik dibandingkan is ekonomis sebagaimana isu-isu yang diusung gerakan sosial lama.

Revolusi Payung yang identik dengan payung oleh peserta demonstrasi, selain sebagai gerakan sosial, dalam kaitannya dengan perubahan sosial menghendaki tujuan yang diinginkan berupa perubahan mekansisme pemilihan yang lebih demokratis bila dibandingkan dengan konsep pemilihan tak langsung. Walaupun akan berpengaruh terhadap iklim politis dan ekonomi, setidaknya revolusi payung hingga kini masih menjadi bagian dari suara mayoritas masyarakat Hongkong untuk mendapatkan otonominya dari pemerintahan RRC. Walaupun demikian, revolusi payung Hongkong juga pada akhirnya akan menjadi gerakan yang berproses mengikuti hukum perubahan sosial yang membutuhkan gerakan sosial berikutnya.

---

Daftar bacaan
  1. Sosiologi Perubahan Sosial. Piotr Sztompka.2008
  2. Lubang Hitam Kebudayaan. Hikmat Budiman.2006
  3. Bergerak Bersama Rakyat. Suharsih dan Ign Mahendra.2007
  4. http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/14/10/07/nd2h0a19-revolusi-payung, diakses pada Senin 10 November 2014
  5. http://properti.kompas.com/index.php/read/2014/10/16/133159221/Minggu.Ketiga.Demonstrasi.Penjualan.Rumah.di.Hong.Kong.Jeblok. diakses pada Senin 10 November 2014.

07 April 2013

Chavez


Chavez kritis. Ia bernapas meradang. Kemudian, di pembaringannya ia mangkat. Di usia 58.

Chavez bersusah payah melawan kanker: sakit yang menggerogoti sisa usianya. Beberapa kali operasi berjalan. Dokter terbaik berjibaku. Di rumah sakit Kuba, tempat sekutunya domisili, Castro, menjadi tempat terakhir sebelum akhirnya ia dipulangkan. Venezuela.

Dari atas dipan bilik rumah sakit militer ia masih memimpin rakyatnya. Instruksi-instruksi: bagaimana pun juga pemerintahan harus tetap bergerak. Negara, institusi politik yang ia kuasai tak mengenal ampun. Batapa pun sakit, negara adalah segalanya.

Namun, Selasa di suatu sore, 16.25, waktu berubah genting. Sesuatu mesti dikabarkan. Maduro, wakil Chaves mengumumkan: ”Kami telah menerima sebuah informasi yang paling tragis dan memilukan. Hari ini, pukul 04.25 sore, Presiden Hugo Chavez Frias meninggal dunia.” Suaranya tersedak, wakil presiden itu menangis. Selang detik kemudian Venezuela berkabung.
Chavez telah tiada.

kepergiannya tiada meninggalkan sesuatu selain dua hal: sosialisme dan negaranya tercinta.
Venezuela, seperti halnya negeri-negeri pewaris sosialisme: kesetiaan rakyat, pemerintahan demokratis, dan setiap inci tanah kemerdekaan, mau tak mau memiliki agenda total. Ketika Chavez memerdekakan Venezuela dari komparador kapitalis, sosialisme harus sampai ke rumahrumah warga. Tiada lagi warga melarat. Sosialisme satu-satunya juru selamat.

Syahdan, kolektivisme bukanlah prinsip yang nihil. Chavez belajar dari pengalaman masa lalunya. Kolektivitas adalah sisi terang yang mengatasi kemiskinan. Gagasan ini ia rawat semenjak dari militer. Baginya, militer bukan garis diametral yang menjauh dari entitas tempat mengabdi: rakyat. Militer dipahami sebagai sosialisme yang mengacung moncong senapan kepada penjarah tanah air. Militer sesungguhnya sosialisme berseragam. Ia  mekanisme pertahanan negara menghadapi ancaman apapun. Termasuk jenderal-jenderal sayap kanan berpolah korup. Chavez meyakini militer yang korup adalah musuh kemanusiaan.

Dari sosialisme jenis demikianlah ia hendak menata kembali Venezuela. Kemudian: kudeta militer dikerahkan. Walau akhirnya ia mengumumkan;

”Kamerad, sayang sekali untuk saat ini misi yang kami rancang gagal dijalankan di ibu kota. Beberapa di antara kita yang berada di Caracas tidak merebut kekuasaan. Di manapun kalian berada, kalian telah melakukan hal terbaik, tetapi sekarang adalah masa untuk merenung. Kesempatan baru akan muncul dan negara ini harus diarahkan ke masa depan yang lebih baik.”

Ia gagal.

Ia menunggu sembari menyusun rencana lain.

Venezuela dikeruk aksi pemerintahan korup. Oligarkhi kian liat. Agen-agen neolib bercokol di pemerintahan. Minyak melimpah, namun kemiskinan kian meluas. Saat-saat seperti ini revolusi satu-satunya jalan.

Kini, permasalahannya berbeda. Sosialisme bukan semata-mata rumusan mengelola negara. Bukan jargon yang harus dikhatamkan begitu rupa. Sosialisme tidak bakal tumbuh di tanah kering. Sosialisme tidakuntuk dijiplak.

Dengan kata lain, tidak seperti bangsa phobia perubahan, revolusi harus berangkat dari ingatan terdalam sejarahnya sendiri. Dan sosialisme, pada tafsirnya yang lain, di mana Chavez telah gagal memiliki isyarat: marxisme sudah uzur.

Itulah sebab, sosialisme dibersihkan dari kekolotan Leninisme. Apa yang menjadi aturan pakai, revolusi Venezuela kembali dengan tema besar: Revolusi Bolivarian. Dan akhirnya, dari partai, serempak sosialisme yang dinspirasi revolusi Bolivarian menjadi pekerjaan 24 jam. Kemudian dimulailah agenda besar itu: penyejahteraan berkala.

Hingga kini pasca pengumuman itu, 4000 lebih dewan-dewan komunal menemukan kenyataan, dan bisa jadi masalah; Chavez betul-betul mati.

Spekulasi di balik kematiannya bermunculan. Chavez diracun. Agen CIA dalangnya. Itu asumsi kalangan internal pemerintahan Venezuela. Walau demikian, umur Chavez tak sepanjang sosialismenya. Tanpa Chavez setelahnya, Revolusi Bolivarian bakal dirundung ujian.

Revolusi di manapun adalah batas antara ”yang konservatif” dengan ”yang revolusioner”. Revolusi bagai gerbong yang membutuhkan masinis. Apapun skenarionya mesti ada seseorang berdiri di depan menyisihkan lengan baju. Dan semuanya harus percaya. Tetapi kepercayaan bukanlah tanpa risiko, terlebih ketika sang masinis mangkat tanpa usul pengganti.

Walaupun demikian, bagi negeri-negeri sosialis keyakinan terhadap sosialisme ibarat jubah yang membutuhkan sosok, sekalipun ia sudah mangkat. Sosialisme dan sosok mesti abadi. Ia kedap perubahan.

Seperti Lenin maupun Mao, di Venezuela, sosialisme mau tak mau harus menjadi tubuh yang awet. Tujuannya kelak agar ingatan tak mudah disalib lupa. Sebagai simbol sebagai monumen ingatan. Di negeri sosialisme setiap pemimpin sesungguhnya berumur panjang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...