Tampilkan postingan dengan label Friedrich Schleiermacher. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friedrich Schleiermacher. Tampilkan semua postingan

30 April 2017

Niccolo Machiavelli dan Sesat Pikir yang Menyertainya

Semalam seseorang menanyakan apa maksud kutipan di tulisan yang saya upload di blog saya. Mungkin dia merasa ada yang salah dari motivasi saya mengutip pernyataan itu. Bukan apanya, kutipan itu adalah perkataan dari Niccolo Machiavelli, pemikir politik modern yang dinyatakan negatif akibat pemikiran-pemikirannya yang melabrak etika dalam politik kepemimpinan. Apalagi Machiavelli, kadang disebut sebagai “setan besar” yang banyak dimusuhi kaum moralis dan agamawan.

Ini kutipan yang “digugat” itu: berbahagialah orang yang hidup di zaman yang korup.

Pernyataan-pernyataan kontroversial macam itu memang nampak anomali dalam keadaan masyarakat yang selama ini sangat menyukai hal-hal yang berbau normatif. Pernyataan-pernyataan yang kontradiktif secara moral memang sulit diterima oleh masyarakat yang sudah terbiasa dengan cara berpikir konvensional. Bahkan  sistem pemikiran yang rumit-rumit susah diterima dengan tanpa harus menyertakan penalaran kritis di dalamnya. Sehingga jika ada yang pernyataan yang sedikit saja melenceng dari “norma-norma” berpikir masyarakat, maka akan dianggap sebagai penyimpangan, dan kemungkinan besarnya adalah sebuah kesalahan.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin orang dapat bahagia dalam keadaan zaman yang korup? Orang dapat mengatakan “sekarang saya baik-baik saja, walau zaman banyak mengandung kesalahan-kesalahan?” Atau, bisakah orang dapat hidup normal, walau di sekelilingnya penuh dengan masalah-masalah? Etiskah tindakannya itu? Perbuatan baikkah jika demikian, dan jika memang baik, patutkah seseorang berbahagia?

Baiklah, memang hal mendasar yang mengundang kesalahan dari kutipan itu adalah tidak dinyatakannya secara langsung hubungan logis dengan isi tulisan yang saya muat. Dan juga, akan sangat mudah ditemukan masalahnya jika suatu pernyataan kehilangan konteks penuturannya, atau, dalam tulisan saya, ia kehilangan konteks penjelasannya.

Alasan yang paling masuk akal, mengapa ada tanggapan negatif dari seperti si penanya di atas, adalah dengan sebelumnya membangun presuposisi (prasangka) tentang siapa Machiavelli itu sebenarnya. Selain narasi selama ini yang “miring” tentang pemikir berkebangsaan Itali ini, juga akibat sang penanya telah terlanjur memandang Machiavelli sebagai orang yang tak layak diterima pemikirannya.

Dalam ilmu-ilmu sosial, orang ini terjebak ke dalam kesalahan berpikir yang disebut fallacy ad hominem, yakni penilaian atas suatu pernyataan dari siapa sang penuturnya. Jika si penuturnya adalah orang yang dikenal baik, maka otomatis apa pun pernyataannya dianggap sudah pasti benar. Begitu juga sebaliknya. Dalam kasus Machiavelli ini, karena sudah mengganggap Niccolo ini orang yang buruk, maka apapun pemikiran dan pernyataannya sudah pasti salah.

Secara hermeneutik, suatu pernyataan akan sangat bergantung maknanya dengan maksud penutur, sang pembaca, dan teks itu sendiri. Masalah akan sangat pelik jika, ada suatu pernyataan yang sudah kehilangan penuturnya. Dalam kasus pernyataan Machiavelli di atas, masalah ini yang muncul. Sulit menemukan makna yang otentik akibat sang penuturnya telah tiada. Akibatnya, konfirmasi atas teks sudah tidak dapat dilakukan lagi.

Namun, bukan tidak mungkin makna atas suatu teks tidak dapat kita tangkap akibat sang penutur telah tiada. Jika satu-satunya cara memaknai hanya dimungkinkan melalui ada tidaknya sang penutur, maka akan sangat problematis jika itu diperhadapkan kepada pernyataan atau teks-teks dari masa silam seperti buku-buku sejarah, buku kuno, atau bahkan kitab-kitab sakral semisal hadis dan kitab suci.

Bagaimana mungkin memahami kitab suci, misalnya, jika itu bergantung sepenuhnya pada sang penutur? Bukankah kitab-kitab suci beberapa di antaranya tidak memiliki “sang penutur”?

Maka, ada salah satu jalan untuk dilakukan apabila menemukan suatu teks jika sang pengarangnya telah tiada. Atau ketika mendapatkan teks yang berasal dari masa lampau. Jalan hermeneutik ini adalah metode empati yang diperkenalkan Schleiermacher, filsuf hermeneutik modern. Metode empati yang dimaksudkan Schleiermacher dijalankan dengan prinsip yang dia sebut “lingkaran hermeneutik” antara “memahami partikularitas melalui keseluruhan” dan “memahami keseluruhan dari partikularitas”.

Pertama-tama, ada penjelasan sederhana tentang apa itu metode empati. Menurut Schleiermacher ketika ingin menafsirkan suatu teks, si penafsir harus mengambil jalan dengan cara membayangkan dirinya seolah-olah adalah sang pangarang teks itu sendiri. Dengan kata lain, sang penafsir didorong “menjadi” sang pengarang untuk “mengalami” dalam momen apa yang melatarbelakangi sang pengarang mau menuliskan teksnya.

Dengan cara ini, selain penafsir dimungkinkan untuk mengetahui situasi diri sang pengarang. Si penafsir dapat masuk ke dalam “alam pikir” sang pengarang, membayangkannya, menimbang-nimbangnya, dan merenung-renungkan bagaimana ketika sang pengarang berpikir menuliskan teksnya. Dan juga membuka jalan untuk mengetahui situasi sosial-budaya-politik sang pengarang ketika “membangun” kembali keadaan otentik sang penulis  dalam menangkap maksud yang “sebenarnya” dari suatu teks.

Ketika mengikuti kaidah “kesebagian-keseluruhan” dan “keseluruhan-kesebagian” dari Schleiermacher, itu berarti pentingnya relasi pemahaman antara sang pengarang dengan keseluruhan teksnya. Caranya, untuk memahami teks, si penafsir melakukan jalan masuk dari diri sang pengarang untuk “melihat” keseluruhan jaringan teks sang pengarang.

Sementara dengan model “keseluruhan-kesebagian” yakni sang penafsir melakukan jalan sebaliknya dengan cara memahami sang diri pengarang dari keseluruhan teks-teksnya.

Prinsip lingkaran hermeneutis juga dapat diartikan dengan cara kita diharuskan “membuka” keterhubungan teks-teks yang ingin dipahami dengan teks-teks lain yang lebih luas demi mengungkap “timbunan” makna. Itu artinya, penting mendudukkan teks dalam kaitannya dengan teks-teks lain yang terkait yang pernah ditulis sang penulis itu sendiri. Artinya tidak ada teks yang dapat dipahami seluruhnya tanpa keterhubungannya dengan teks lain. Suatu makna hanya bisa dipahami jika terjadi intertekstualitas. 

Itulah sebabnya sangat mungkin terjadi kesalahan ketika ingin memahami ungkapan “berbahagialah orang yang hidup di zaman yang korup” ketika diartikan begitu saja tanpa mengikutkan perangkat epistemologik dalam menangkap suatu maksud.

Artinya yang lain, untuk mau menangkap maksud yang sebenarnya dari teks yang dikutip itu, pertama mesti memahami diri Machiavelli dengan cara menjadi dirinya saat mengungkapkan teksnya itu tadi. Ini secara beriringan dengan suatu proses memahami dalam situasi zaman seperti apa teks itu ditulis oleh pengarangya.

Kedua, dengan model lingkaran hermeunetis, pemaknaan akan jauh lebih baik jika melibatkan teks-teks di luar teks yang ingin diartikan itu tadi. Dengan cara itu, maka penting mengetahui keseluruhan teks yang pernah ditulis Machiavelli, atau yang berkaitan dengannya, untuk menangkap maksud “sebaris” teks yang dikutip di atas.

Model lingkaran hermeunetis semakin lengkap jika sebelumnya juga melakukan jalan masuk untuk mengenal alam pikiran Machiavelli  melalui profil dan sejarah hidupnya di saat hendak memahami keseluruhan teks-teksnya.

Teks “berbahagialah orang yang hidup di zaman yang korup”, secara harafiah memang menyesatkan (saya menduga cara mengartikan seperti ini banyak dialami orang-orang masa kini ---termasuk orang yang bertanya tadi). Tapi, jika sedikit mau “bersusah payah” mengikuti cara penafsiran Schleiermacher, kemungkinan besarnya ada perubahan dalam menangkap makna yang “tersembunyi” di balik teks yang dimaksud.

Sekarang dengan bantuan perangkat pemahaman yang dikenalkan Schleiermacher, saya mengusulkan kepada si penanya untuk menerapkan cara yang ditawarkan si filsuf asal Jerman ini untuk memaknai teks yang saya kutip itu.

Namun, sedikit bocoran, pemikir politik modern ini adalah seorang realis, apa yang diitulisnya adalah apa yang ia saksikan. Jadi jika banyak ditemukan teks-teksnya yang selama ini disebut “ tujuan menghalalkan segala cara” dalam etika politiknya, maka itu merupakan cerminan langsung  dari keadaan zamannya yang tidak menentu saat itu.

Selain itu, Machiavelli memiliki pandangan yang humanis atas manusia. Di zamannya, Machiavelli-lah pemikir modern pertama yang memisahkan politik (publik) dari kekuatan adi kodrati metafisis ke tangan manusia. Urusan politik bagi Machiavelli merupakan urusan akal budi, bukan kekuatan di luar manusia. Manusia harus mandiri mengatur urusannya, termasuk dalam urusan publik, yang berarti politik semata-mata adalah ekspresi akal budi manusia.

Menurut Robertus Robert, selama ini Machiavelli sangat diidentikkan dengan karyanya yang berjudul “Sang Pangeran” sehingga banyak mengundang apresiasi negatif terhadap pemikirannya. Bertolak dari karya itulah, semata-mata penilaian atas pemikirannya disandarkan.

Padahal menurut Robert, jika membaca karyanya yang lain terutama Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio, maka kesan berbeda akan segera nampak. Di karya itulah pandangan-pandangan humanis Machiavelli banyak diungkapkan. Bahkan Robertus Robert mengatakan, karya itu sangat jauh berbeda dengan karyanya “Sang Pangeran” yang dianggap merendahkan moralitas itu.

Machiavelli yang seorang humanis, sangat kritis terhadap kekuatan adi kodrati yang terlembagakan sampai bersifat totaliter terhadap cara pandang manusia. Akibatnya, manusia menurutnya harus mampu menentukan nasibnya sendiri tanpa disandarkan kepada kekuatan selain daripada kekuatan akal budinya. Manusia harus mandiri, menjadi mahluk otonom yang bertanggung jawab dan mampu berdiri di atas cara pandangnya sendiri. Dari pandangan ini pula, perspektif manusia menurut Machiavelli adalah mahluk bebas non dominasi.

Melalui pandangan inilah konsep politik Machiavelli juga sebernanya tidak bisa dan harus menyertakan manusia sebagai subjek politik yang mengedepankan akal budi. Dalam situasi politik yang memerlukan kepastian manusia membutuhkan apa yang disebut Machiavelli sebagai virtu, yakni kualitas kemanusiaan berupa kebajikan, ketangkasan, keberanian dan kecerdasan yang dimiliki manusia. Virtu sangat berbeda dengan fortuna, yakni apa yang dikiaskan Machiavelli sebagai keberuntungan, ketidakpastian, dan ketidakberaturan yang sering kali melingkupi dan “mengancam” subjek politik dalam mengambil keputusan-keputusan yang bersifat substansial dan fondasional.

Dengan kata lain, subjek politik harus pandai menempatkan dirinya dalam segala situasi yang serba tak menentu. Manusia mesti mampu bergerak dengan kualitas kemanusiaannya di antara dua pendulum yang saling tarik menarik, yakni virtu dan fortuna.

Dalam kaitannya dengan maksud inilah, kutipan yang saya sematkan itu dapat sedikit membantu menerangkan makna apa yang ada di balik pernyataan di atas. Berbahagialah orang yang hidup di zaman yang korup, dengan kata lain ingin mengatakan bahwa di zaman yang korup, subjek politik yang ideal adalah seseorang yang mampu merealisasikan dan mengembangkan kualitas akal budinya untuk menjadi warga politik yang baik. Di zaman yang korup-lah, subjek politik menemukan peluang dan momentumnya demi mempertahankan kehidupan publik melalui kabjikan virtu yang dipunyainya.

22 Maret 2017

Memahami Seni Memahami: Pengantar ke Hermeneutika Friedrich Schleiermacher

---catatan singkat atas Seni Memahaminya F. Budi Hardiman

Manusia mahluk simbolik. Begitu pendakuan scholar kebudayaan. Bahkan Clifford Geertz, antropolog abad 20 menyatakan, manusia adalah mahluk yang tidak lepas dari jebakan simbol. Lebih radikal lagi, Gertz mengatakan manusia dalam kehidupannya senantiasa dijerat makna-makna.

Itu artinya secara sosiologis interaksi manusia tidak terlepas dari cara mereka menangkap makna. Bagaimana diartikan dan diaplikasikan melalui hubungan tingkah laku antara sesama. Dengan kata lain, interaksi manusia hanya mampu dimungkinkan jika diperantai makna. Tanpa makna, hampir semua hubungan manusia dalam masyarakat mengalami defisit eksistensi dan tanpa arti.

Makna sebagai satuan pengikat yang memperantai komunikasi antar individu, komunitas, bangsa, agama, ras, kebudayaan dlsb., sangat rentan mengalami bias yang mendatangkan kesalahpemahaman. Disebabkan bentuk, tingkatan, situasi, tradisi, tempat, waktu, dan latar belakang pengetahuan, pemahaman begitu krusial dipertahankan akibat keadaan yang tidak sepadan. Itulah sebabnya, “memahami” sebagai konsep ideal dalam praktik keseharian begitu penting dibutuhkan.

Karena itu, melalui tulisan ini, memahami sebagai diskursus ataupun wacana akan mengambil percik pikiran Schleiermacher tentang hermeneutika demi kebutuhan membangun cara pandang baru dalam memahami kehidupan beserta dinamikanya.

Apa itu hermeneutika?

Secara etimologik, hermeneutika terkait dengan Hermes, tokoh mitologi Yunani yang bertindak sebagai utusan dewa-dewa dalam menyampaikan pesan ilahi kepada manusia. Sebagai perantara pesan bahasa dewa-dewa kepada alam berpikir manusia, Hermes memiliki keahlian memahami bahasa dewa-dewa dan kemudian menerjemahkan maksud yang diinginkan dewa-dewa dengan ungkapan bahasa manusia.

Kemampuan memahami yang dimiliki Hermes dinyatakan F.Budi Hardiman memiliki kerumitan tersendiri. Pertama, pihak yang menyampaikan pesan harus memahami pesan yang dibawanya. Kedua, agar maksud pesan dapat disampaikan, sang pembawa pesan harus membuat artikulasi yang sesuai dengan maksud pemberi pesan. Kesenjangan yang terbentang antara pemberi pesan, penyampai pesan, dan penerima pesan inilah yang nantinya menjadi medan kerja hermeneutika.

Sementara apabila diasalkan kepada arti Yunaninya, hermenueuein, hermeneutika berarti “menerjemahkan” atau “bertindak sebagai penafsir”. Di dalam kegiatan yang bersinggungan dengan teks, hermeneutika berarti kegiatan mengungkap dan menyingkap makna sebuah teks. Sementara yang dipahami teks di sini adalah jejaring makna atau struktur simbol-simbol yang tertuang entah dalam bentuk teks ataupun bentuk lainnya.

Dengan kata lain, sebagai sebuah jejaring makna, teks juga dapat diartikan dalam bentuk sikap, perilaku, tindakan, norma, benda kebudayaan, hukum, ideologi, dlsb.  Sebagai sebuah makna yang ditangkap manusia, semua yang disebutkan sebelumnya, bahkan kebudayaan, agama, politik, masyarakat, dan negara adalah teks itu sendiri.

Biografi singkat

Pendakuan Schleiermacher sebagai filsuf masih agak rentan mengingat tradisi pemikirannya yang dibangun dalam tradisi teologi kristiani. F. Budi Hardiman dalam suatu ceramahnya bahkan menyebut tokoh ini sebagai teolog dibanding filsuf. Tapi, mengingat kiprahnya membangun hermeneutika lepas dari tradisi eksegesis dan filologi, dan membuatnya menjadi pendekatan yang lebih univesal, belakangan akan banyak mempengaruhi filsuf-filsuf abad 20.

Schleiermacher adalah anak  seorang pendeta tentara di Silesia Utara. Kedua orang kakeknya juga pendeta. Ayahnya yang memiliki kecenderungan pietis (gerakan yang menekankan doktrin alkitabiah, kesalehan pribadi, dan kehidupan Kristen yang berkobar-kobar) yang kuat, mengirimnya ke seminar Moravian di Barby dengan harapan supaya segala kecenderungan ini akan bertambah berkembang di dalam diri anaknya.

Schleiermacher disebutkan tidak pernah menulis suatu traktat sistematik tentang hermeneutika. Tapi melalui dua ceramah di depan Akademi Prussia dan catatan-catatan pinggirnya, Schleiermacher telah meletakkan dasar-dasar hermeneutika modern.

Perlu digarisbawahi, sampai saat ini belum ada teks terjemahan Jerman tentang karya Platon sebaik hasil terjemahan Schleiermacher. Melalui aktifitas penerjemahan ini, Schleiermacher banyak terinspirasi pemikiran-pemikiran Platon. Melalui konteks ini pula, hermeneutika yang dikembangkannya sedikit banyak dipengaruhi cara berpikir Platonian. Di satu sisi, idealisme Jerman terutama melalui pikiran-pikiran Schelling, Fitche, dan Hegel, juga memberikan warna tertentu dalam pemikiran Schleiermacher.

Schleiermacher mengambil studi teologi, filsafat, dan filologi di Halle (kemudian menjadi pusat pemikiran radikal di Jerman) dan pertama kalinya membaca filsafat kritis Kant. Schleiermacher juga bergabung di perkumpulan para penulis dan pujangga Romantik ketika sekembalinya dari Berlin. Disinyalir melalui kelompok ini, pandangan romantik Schleiermacher semakin tajam dan banyak menolak ide-ide pencerahan yang menekankan rasio jauh lebih utama dari misteri, imajinasi, serta intuisi.

Melalui gerakan romantik, minat Schleiermacher mulai memperhatikan hermeneutika sebagai suatu kajian. Di bawah kerinduan atas ajaran kebijaksanaan kuno dalam tradisi mitos dan agama, hermeneutika Schleiermacher di satu sisi adalah suatu kegiatan penafsiran teks untuk menemukan “isi” atau “inti sari” yang bersifat nonrasional/psikologistis.

Hermeneutika: seni memahami

Situasi mendasar hermeneutika Schleiermacher bukan pemahaman, melainkan kesalahpahaman. Artinya, dalam situasi yang majemuk dan beragam kebudayaan, tradisi, cara hidup, pandangan dunia, sistem moral dlsb., adalah medan hermeneutika Schleiermacher. Bahkan, kesalahpamahan yang lumrah terjadi bukan saja ditengarai akibat perbedaan konteks waktu dan tempat, melainkan prasangka yang lebih mementingkan perspektif pribadi dibanding memahami kawan bicara.

Di situasi itu dibutuhkan seni memahami. Seni di sini diandaikan sebagai suatu keahlian khusus, kemahiran, atau kepiawaian sebagaimana orang-orang yang memiliki kualitas dan “kelincahan” tertentu dalam satu bidang.

F. Budi Hardiman menuliskan dua hal mengapa hermeneutika disebut seni memahami. Pertama, karena dasar situasi yang mengalami kesenjangan kepahaman sehingga membutuhkan kecakapan khusus untuk memahami.  Kedua, di situasi itu, keadaan membangun pemahaman tidak dialami secara spontan, melainkan perlu menerapakan kaidah-kaidah tertentu.

Rekonsepsi: hermeneutika universal

Schleiermacher meyakini prinsip-prinsip penafsiran dapat diperluas di luar dari teks-teks yang disakralkan. Sejauh bahasa memiliki tata aturan gramatik yang memungkinkan penarikan makna atasnya, pembedaan teks suci dan tidak suci tidak lagi relevan bagi Schleiermacher.

Berbeda dari prinsip hermeneutika filologi yang concern terhadap teks-teks kuno, dan eksegesis biblikal yang mendasari penafsiran hanya berlaku di dalam teks-teks sakral, Schleiermacher meradikalkan kegiatan penafsiran ke dalam teks-teks yang jauh lebih umum.

Imbas prinsip hermeneutika yang melihat adanya hukum gramatikal yang tidak banyak berbeda dari semua teks, Schleiermacher menekankan arah baru kegiatan penafsiran jauh lebih luas dari para pendahulunya. F. Budi Hardiman menyebutnya hermeneutika universal.

Sebelumnya kegiatan hermeneutis dalam teks-teks kuno maupun dalam kegiatan eksegesis hanya bertujuan untuk menemukan makna mendasar yang menjadi latar belakang suatu kebudayaan (kesadaran kolektif, roh, volksgeits, seitgeits). Dilatari semangat idealistik demikian, kegiatan hermeneutik juga berusaha menjangkau relasi pikiran subjektif yang ditunjukkan dari ungkapan, pikiran, minat, pandangan dunia dengan akal budi bersama yang dipadatkan dalam akal universal. Kelak Schleiermacher mengembangkan model ini melalui prinsip “lingkaran hermeneutis”.

Cara di atas juga dilengkapi dengan menempatkan kegiatan mengintrepetasi sebagai tindakan dialogis antara penafsir dengan penulis teks. Bentuk komunikasi yang diandaikan melalui kegiatan membaca teks dan dengan “membayangkan” alam pikiran penulisnya, disebutkan sebagai proses kreatif yang tidak sekadar menganalisis kata. 

Empati

Salah satu konsep inti dari hermeneutika Schleiermacher adalah divinatory, yakni kemampuan subjektif seseorang untuk menyeberangi dan masuk ke dalam alam pemikir si penulis teks. Konsep yang dibilangkan bercorak psikologistik ini mengandaikan kegiatan menafsirkan berarti masuk ke dimensi pikiran, batin, dan kejiwaan untuk sekaligus menemukan latar belakang apa yang mendasari si penulis teks menuliskan isi pikirannya.

Dalam situasi ini, berempati adalah model pengoperasian divinatory untuk mau masuk ke dalam cakrawala pikiran dan batin si penulis teks. Kegiatan mengintrepetasi teks melalui alam berpikir penulisnya ini lebih menekankan aspek-aspek di luar teks akibat lebih banyak menyorot sisi subjektif penulisnya.

Divinatory ini sepadan dengan pengertian intuisi yang terinspirasi dari Platon. Dengan kata lain, ketika aktifitas ini diterapkan dalam hermeneutika Schleiermacher, itu berarti menafsirkan adalah mengabstraksi (meramal, membayangkan) kembali latar belakang penulis teks entah itu situasi apa, pemikiran apa, dalam momen apa, melalui cara apa, dlsb., ketika penulis menurunkan isi pikirannya menjadi suatu teks. Hermeneutika Schleiermacher menyebut cara ini sebagai empati psikologis.

Tapi, empati psikologis juga harus dijalankan bersamaan dengan interpretasi gramatikal sebagai satu kesatuan kegiatan hermeneutis. Tanpa itu, maka kegiatan menafsirkan hanya akan bertolak belaka kepada “dunia pikiran penulisnya” tanpa memerhatikan teks penulis yang bagi Schleiermacher adalah dua hal yang setara. Artinya, tanpa interpretasi gramatikal (objektif), intrepetasi psikologis tidak akan memberikan pandangan yang bisa dibilang utuh. 

Dengan dua model ini, maka pemahaman bagi Schleiermacher adalah menghadirkan kembali dunia mental penulis teks. F. Budi Hardiman menyebutnya sebagai suatu usaha merekonstruksi kembali pegalaman mental pengarang. Dengan kata lain ada transposisi, yakni penafsir demi pemahaman, mesti menempatkan dirinya seolah-olah menjadi sang pengarang dalam melihat dan menuliskan teksnya dalam pengalaman tertentu yang khas.

Lingkaran hermeneutis

“Kita memahami bahasa lewat pemakainya, tetapi pemakai bahasa dapat dipahami lewat bahasa yang dipakainya”. Pendakuan ini dipakai Hardiman untuk memutuskan lingkaran setan yang mengakui isi pikiran pengarang jauh lebih utama daripada teksnya, atau sebaliknya, teks jauh lebih penting dari isi pikiran pengarang ketika menuliskan karyanya.

Schleiermacher menekankan dua model interpretasi (gramatikal dan psikologis) dalam keadaan yang saling mengandaikan dan mengisi. Maksudnya, tidak ada hubungan kausalistik yang saling menegasi, dua-duanya setara dan utama. Kesetaraan antara dua model inilah yang disebut lingkaran hermeneutis (hermeneutischer zirkel).

Dalam konteks interpretasi teks, lingkaran hermeneutika bekerja dengan pemahaman atas pengarang melalui teksnya (gramatikal), dan sekaligus memahami teks melalui kepribadian pengarangnya (psikologis).   Inilah yang sebelumnya disebut hubungan cafĂ© dialektika, yakni untuk memahami sebagian melalui keseluruhan, dan juga mengetahui keseluruhan dari bagian-bagiannya.

Melawan literalisme

Literalisme adalah pemahaman terhadap teks yang hanya didasarkan atas makna harfiah belaka. Dalam keyakinan agama-agama, selain sebab lainnya, literalisme banyak bersinggungan langsung dengan aksi-aksi kekerasan. Bahkan aksi kekerasan yang diistilahkan dengan ekstremisme agama, disebabkan akibat cara pandang literalis yang hanya mengakui penafsiran dari “permukaan” teks belaka.

Imbas cara memahami teks dari “permukaan”, literalisme dengan sendirinya menolak berbagai penafsiran. Secara pemaknaan, literalisme hanya mengakui satu pengertian tunggal dari apa yang sudah dikatakan teks secara harfiah. Maka, konsekuensinya terhadap kebenaran, literalisme hanya mengakui satu penafsiran tunggal selain dari kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lainnya.

F. Budi Hardiman melalui Seni Memahaminya menyatakan model hermeneutika Schleiermacher adalah cara memahami teks yang “melawan” literalisme. Membaca teks apa adanya seperti ditemukan dalam literalisme bukanlah metode hermeneutika Schleiermacher yang menawarkan cara membaca teks (kalimat) di antara teks (kalimat). Strategi pemahaman di antara teks ini memungkinkan untuk masuk ke dalam dunia penulis dan konteks kehidupannya yang secara tersembunyi tidak dinyatakan langsung di dalam teks yang ada.

Itu artinya sebuah teks tidak dapat dengan sendirinya menjelaskan dirinya. Di sana pemahaman mesti menangkap “sesuatu” yang lain di luar teks, yakni bangunan mental pengarang (serta konteks kehidupannya) dan juga teks-teks berkaitan, yang membentuk pengertian jauh lebih luas.

Dengan pendekatan interpretasi psikologis dan interpretasi gramatikal, memungkinkan pemahaman menangkap keluasan konteks dari bagaimana teks dibaca sebagai suatu anyaman yang saling berkaitan. Juga, melalui prinsip “keseluruhan dan sebagian” teks akhirnya menjadi dialektis yang berarti membuka pengertian-pengertian jauh lebih variatif daripada makna teks apa adanya

---

Sebagian besar ide tulisan ini diambil dari buku Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman, termasuk kutipan di dalamnya. Juga pada bagian yang menjelaskan biografi, penulis mengambilnya dari www.biokristi.sabda.org

---

Disampaikan pada program diskusi Membaca Cafe Dialektika 21 Maret 2017

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...