Tampilkan postingan dengan label gerakan sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerakan sosial. Tampilkan semua postingan

18 November 2014

Gerakan Sosial: Revolusi Payung Hongkong

Gerakan sosial dalam arti defenitifnya selalu ditandai dengan tindakan kolektif yang bersifat spontan dan massif. Pengertian ini juga mengacu pada tindakan masyarakat yang mengarah pada tujuan bersama sejauh ikatan-ikatan yang bersifat semi organisasional terbangun. Beberapa pengertian yang diberikan ahli sosial misalnya, melihat gerakan sosial merupakan bagian integral dalam masyarakat yang berfungsi sebagai kekuatan pendorong perubahan. Dengan kata lain, gerakan sosial yang merupakan kesatuan integral dalam tatanan masyarakat, memposisikan dirinya sebagai kekuatan yang memiliki fungsi penyeimbang bahkan sebagai bentuk pembaharuan tatanan itu sendiri.

Pengertian lebih jauh diberikan Blummer, misalnya, yang melihat signifikansi gerakan sosial dalam pengaruhnya terhadap penciptaan nilai-nilai baru yang menggantikan anutan-anutan lama di masyarakat. Hal ini menjadi salah satu indikator untuk mengukur capaian-capaian gerakan sosial sebagai kekuatan perubah yang merembesi sistem nilai dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh misalnya, perubahan cara mengidentifikasi masyarakat Amerika dalam kaitannya dengan perjuangan Apertheid kulit hitam yang lambat laun akhirnya berubah pasca munculnya gerakan sosial yang dimotori Malcolm X. Dalam kasus ini kita bisa menyaksikan dampak perubahan sosial yang ditimbulkan gerakan civil society sebagai variabel yang juga menentukan perubahan dalam sistem nilai masyarakat Amerika.

Penciptaan nilai baru yang dimaksudkan Neil Smelser yakni sebagai upaya penataan ulang nilai-nilai lama yang dianut sebagai alasan bertindak. Dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai kolektif, semisal keadilan, pengetahuan, kebaikan, kasih sayang, demokrasi dsb, secara prinsipal menjadi sandaran epistemologis dalam bersikap. Pada kasus Apertheid, gerakan yang di motori Malcolm X tidak saja mengubah secara sosiologis posisi masyarakat kulit hitam, melainkan secara paradigmatik memberikan nilai baru secara kultural terhadap keberadaan kulit hitam di tengah-tengah masyarakat kulit putih Amerika.

Gerakan sosial sebagai tindakan kolektif juga dapat kita temukan misalnya tahun 1999 di Seatle Amerika Serikat. Kala itu hampir 40.000 masyarakat pekerja, aktivis NGO, kaum anarkhi, aktivis lingkungan hidup, serta pembela hak-hak asasi manusia tumpah ruah di jalan-jalan menentang pertemuan tingkat dunia yang diselenggarakan WTO. Dalam konteks peristiwa, gerakan sosial yang menolak isu neoliberalisme kala itu juga memperlihatkan  bentuk spontanitas sebagai salah satu indikator gerakan sosial yang bisa menjadi titik permulaan dari kegiatan kolektif.

Sebagai kekuatan penggerak masyarakat, gerakan sosial adalah sarana alternatif yang menjadi pendorong perubahan ketika dimensi struktural kemasyarakatan tak menghasilkan pemenuhan hak-hak dasar kemasyarakatan. Kecenderungan ini termuat dalam pembacaan yang bersifat marxian ketika melihat ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh struktur kelas masyarakat atas dasar dominasi kapital oleh kelas masyarakat tertentu. Model gerakan sosial marxian banyak kita temukan pada negara-negara belahan dunia ke tiga yang rentan akibat disparitas ekonomi sebagai penyebab ketidakpuasan masyarakat.

Gerakan sosial yang ditemukan di belahan dunia ketiga memiliki ciri ikatan yang bersifat normatif. Ikatan ini merupakan gagasan bersama sebagai bentuk kepahaman yang bersifat kolektif. Ikatan normatif ini memiliki arti ideologis untuk mempersatukan visi dan misi sebagai tujuan gerakan bersama. Contoh kasus misalnya, gerakan petani karet di Brazil yang dipelopori Chiko Mendes pada tahun 1987, dipersatukan oleh keyakinan umum yang melatarbelakangi munculnya penentangan terhadap pembabatan hutan oleh korporasi saat itu. Keyakinan mereka terhadap pemanfaatan hutan secara ekologis menjadi pemahaman dasar sehingga sampai saat ini Brazil memiliki 48 lokasi seluas 12 juta hektar di hutan Amazon yang berstatus kawasan suaka ektraktif.

Dari beberapa kasus di atas, cara-cara yang ditempuh dari gerakan sosial merupakan sikap kolektif yang berada di luar mekanisme sistem institusi yang ada. Dalam hal ini apabila institusi kemasyarakatan tidak memberikan dampak sosial yang diharapkan, maka kolektifitas dari gerakan sosial adalah mekanisme yang ditempuh untuk menjadi alternatif dari institusi yang ada. Merujuk hal ini, juga diungkapkan Antony Giddens dan Calhoun yang menyebutkan bahwa gerakan sosial sering kali memiliki ciri-ciri dari penggunaan cara-cara di luar sistem yang dianut. Tindakan aksi massal masyarakat sipil, pemberontakan kaum tani, dan kelompok-kelompok minoritas yang memperjuangkan hak-hak sipilnya, memang selalu menggunakan cara-cara yang tak lazim dianut dalam kebiasaan-kebiasaan masyarakat.

Apabila dilihat dari tatanan struktural masyarakat, gerakan sosial juga dapat diidentifikasi sebagai respon dari kalangan elit yang berada pada puncak hirarki kelas masayarakat. Pengertian ini mengacu pada aktivitas elit masyarakat sebagai agen gerakan sosial yang memberikan pengaruhnya terhadap masyarakat dominan untuk mengarahkan perubahan yang dikehendaki. Dalam ketatanegaraan kita, kasus RUU Pilkada barangkali bisa menjadi ilustrasi berkenaan dengan maksud pengertian ini.

Perlawanan dari gerakan yang diprakarsai elit adalah gerakan dari bawah yang bersumber dari masyarakat luas sebagai bentuk kebersamaan. Gerakan yang berasal dari bawah ini adalah gerakan yang mengikutkan kolektivitas masyarakat sebagai eksponen gerakannya.

Gerakan Revolusi Payung Hongkong

Revolusi Payung merujuk pada gerakan kaum muda pro demokrasi di Hongkong yang muncul pada 23 september 2014 lalu. Gerakan yang dipelopori oleh kalangan pelajar ini merupakan respon terhadap kebijakan RRC atas mekanisme pemilu Hongkong 2017 nanti. Selain dari itu, gerakan ini dimotivasi atas dasar kekhawatiran masyarakat Hongkong, terutama kaum terpelajar atas kebebasan yang kian merosot oleh kawasan bekas koloni Inggris ini.

Perlu juga diketahui, Hongkong merupakan bagian pemerintahan Cina yang diserahkan Inggris pada 1997 lalu. Semenjak penyerahan ini, Cina menerapkan kebijakan satu negara dua sistem demi keberlangsungan otonomi Hongkong.  Namun semenjak perpindahan tangan ini, Hongkong, terutama kalangan eksekutifnya lebih pro terhadap pemerintahan Cina dibandingkan dengan warga Hongkong sendiri.

Kebebasan yang kian terbatasi sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang telah lama tertimbun. Revolusi Payung tidak saja mempersoalkan mekanisme pemilihan pimpinan eksekutif yang selama ini dipilih langsung oleh dewan partai komunis Tiongkok, melainkan adanya migrasi penduduk daratan yang masuk ke Hongkong dengan mengambil lahan pekerjaan penduduk lokal. Kaum muda juga tidak puas dengan keadaan ekonomi yang dikuasai Taipan kaya di wilayah itu.

Gerakan sosial Hongkong ini telah berlangsung dua bulan lamanya semenjak September 2014. Dampak dari gerakan ini juga memberikan pengaruh politis terhadap keberlangsungan pemerintahan dewan partai Tiongkok di Hongkong. Oleh sebab, tuntutan yang menjadi perhatian utama dari gerakan payung ini adalah perubahan sistem politik yang tidak memberikan kebebasan memilih bagi warga Hongkong.


Apabila dilihat dari tipe gerakan yang terjadi, gerakan yang dipelopori oleh Joshua Wong bersama ratusan pelajar belumlah sampai pada jenis gerakan yang bersifat menyeluruh dalam hal perombakan seluruh sistem kehidupan. Tetapi hal ini dimungkinkan apabila dalam prosesnya mengalami perluasan isu yang berdampak kepada seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Pada tingkatan ini, gerakan yang bersifat revolusioner menjadi tindak lanjut dari proses perubahan yang ditimbulkan gerakan sosial sebelumnya.

Gerakan payung Hongkong juga dapat diamati sebagai tindakan kolektif yang berorientasikan perubahan struktur politik. Melalui pendudukan basis-basis wilayah tempat perputaran ekonomi, gerakan ini dapat diterjemahkan sebagai bentuk sikap-sikap yang keluar dari sikap-sikap intitusi politik. Hampir ribuan kaum terpelajar turun ke jalan untuk memberikan sikapnya terhadap sistem politik yang dianggap tidak merepresentasikan semangat demokrasi. Gerakan pendudukan yang terkenal dalam revolusi payung adalah gerakan ocuppy love and peace yang terinspirasi dari gerakan Wall Street di Amerika tahun 1999.

Dari sisi yang lain, revolusi payung adalah ungkapan ketidak puasan kaum terpelajar dari sistem politik yang diterapkan di Hongkong. Sebagai perbandingan, apa yang pernah terjadi di Indonesia semasa orba yang memunculkan gerakan reformasi juga dilator belakangi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem pemerintahan yang dipimpin Soeharto. Dalam dua kasus ini, seperti yang dimaksudkan oleh Zald dan Berger tentang ketidakpuasan berupa keluhan yang menjadi pendorong dari lahirnya perubahan sosial.

Hal yang senada juga menjadi indikator yang dibilangkan Eyerman dan Jamison berkenaan dengan nuansa emotif yang menjadi bagian dari gerakan sosial. Kaitannya terhadap nuansa emotif bahwa gerakan sosial menampakkan ciri-ciri tindakan kolektif yang mengungkapkan perasaan tak puas di depan umum. Hal ini dilakukan  untuk mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak memuaskan. Pada kasus gerakan pendudukan kaum pelajar Hongkong adalah contoh kongkrit bagaimana ketidakpuasaan yang dimaksud dikolektifkan menjadi tindakan bersama dihadapan umum saat menduduki pusat-pusat strategis kota Hongkong.

Pendudukan yang berlangsung selama dua bulan ini, setidaknya menarik minat media-media internasional dalam hal keikutsertaan kaum pelajar sebagai penggerak utama revolusi payung. Di satu sisi keikutsertaan kaum pelajar ini akhirnya mendorong elemen masyarakat lain agar turut mengambil peran dalam perubahan yang mereka inginkan. Dalam studinya Ign Mahendra mengungkapkan bahwa gerakan yang dipelopori kaum terdidik dapat menjadi bagian dari gerakan sosial ataupun malah secara kualitatif akan berubah menjadi gerakan politik.

Dalam studinya pula Mahendra menjelaskan bahwa kaum terpelajar sebagai agen perubah menjadi kelas masyarakat yang dapat menyerap sentimen-sentimen politik dibandingkan golongan masyarakat yang lain. Hal ini didorong karena kaum terpelajar sangat sensitif terhadap perubahan yang berlangsung di tengah proses dinamika masyarakat. Dengan begitu, kalangan terdidik malah menjadi barometer yang merefleksikan animi yang beregerak dalam masyarakat.

Revolusi Payung Hongkong mengingatkan kita kepada gerakan reformasi yang sedikit banyaknya diprakarsai oleh kalangan terdidik untuk mengarahkan perubahan pasca Orde Baru. Gerakan reformasi dalam tinjauan gerakan sosial mengacu pada tema marxian yang mengelolah isu-isu ekonomi sebagai sebab musabab kemandekan sosial dan disparitas masyarakat. Namun yang terjadi pada masa gerakan mei 98, justru mampu membawa yang semula berawal dari analisis ekonomi akibat krisis ekonomi menjadi analisis politik yang berujung pada penjatuhan rejim Orde Baru.

Dalam pendekatan tertentu, gerakan sosial semacam gerakan revolusi payung beserta gerakan sosial di abad kontemporer, dari analisis yang diberikan Tourine dikategorikan menjadi model gerakan sosial baru. Gerakan sosial baru sangat berbeda dengan gerakan sosial lama yang memiliki ciri-ciri tertentu. Perbedaan ini juga dibedakan berdasarkan perkembangan modernitas terutama kapitalisme di masa kapitalisme awal dan kapitalisme lanjutan.

Tourine memberikan beberapa variabel yang menjadi perhatian dalam menganalis perbedaan antara gerakan sosial baru dan gerakan sosial lama diantaranya yakni status keanggotaan yang ketat pada gerakan sosial lama dibandingkan gerakan sosial baru yang cenderung fleksibel. Hal ini disebabkan oleh karena sifat organisasi yang cenderung tertutup pada tipe gerakan lama dibandingkan dengan gerakan sosial baru. Akibat dari jenis organisasional yang demikian maka akan cenderung lebih luas ikatan antara organisasi lainnya bagi gerakan sosial baru dibandingkan gerakan sosial lama. Hal yang paling mencolok diantaranya adalah fokus isu yang lebih beragam dianut gerakan sosial baru daripada gerakan sosial lama. Dalam hal ini yang dapat kita golongkan gerakan sosial baru adalah gerakan ekologi, feminisme maupun gerakan perdamaian.

Berdasarkan tinjauan yang diberikan Tourine, revolusi payung yang lebih fleksibel dalam keikutsertaan yang tidak bersandar pada satu elemen kelas masyarakat, dapat masuk dalam model gerakan sosial baru. Sementara revolusi payung juga tidak memiliki karakter antagonistik kelas sehingga lebih terbuka baik dari model organisasinya maupun anggota yang terlibat di dalamnya. Juga berdasarkan pengertian Kriesi, gerakan revolusi payung tiongkok lebih memusatkan persoalan pada masalah kultural seperti kebebasan berpendapat dan politik dibandingkan is ekonomis sebagaimana isu-isu yang diusung gerakan sosial lama.

Revolusi Payung yang identik dengan payung oleh peserta demonstrasi, selain sebagai gerakan sosial, dalam kaitannya dengan perubahan sosial menghendaki tujuan yang diinginkan berupa perubahan mekansisme pemilihan yang lebih demokratis bila dibandingkan dengan konsep pemilihan tak langsung. Walaupun akan berpengaruh terhadap iklim politis dan ekonomi, setidaknya revolusi payung hingga kini masih menjadi bagian dari suara mayoritas masyarakat Hongkong untuk mendapatkan otonominya dari pemerintahan RRC. Walaupun demikian, revolusi payung Hongkong juga pada akhirnya akan menjadi gerakan yang berproses mengikuti hukum perubahan sosial yang membutuhkan gerakan sosial berikutnya.

---

Daftar bacaan
  1. Sosiologi Perubahan Sosial. Piotr Sztompka.2008
  2. Lubang Hitam Kebudayaan. Hikmat Budiman.2006
  3. Bergerak Bersama Rakyat. Suharsih dan Ign Mahendra.2007
  4. http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/14/10/07/nd2h0a19-revolusi-payung, diakses pada Senin 10 November 2014
  5. http://properti.kompas.com/index.php/read/2014/10/16/133159221/Minggu.Ketiga.Demonstrasi.Penjualan.Rumah.di.Hong.Kong.Jeblok. diakses pada Senin 10 November 2014.

07 November 2013

Bencana

Ada masa yang patut kita berikan rasa yang tinggi, namun juga ada situasi yang membuat dada kita sesak bukan main. Beberapa waktu yang lalu sebuah kabar bisa berarti sebuah bencana. Apalagi jika kabar yang sayup didengar bertolak dari lingkungan yang akademis; kampus. Tempat yang mafhum kita tahu dari sana harapan bisa ditandai dengan gelora pujapuji. Tempat pengetahuan bersemai seiring silih berganti hari.

Namun bencana tidaklah bermata, ia datang begitu tibatiba, menyulut tanpa tatakrama. Dan memang bencana adalah sesuatu yang memiliki kekutan massif. Seperti yang sudahsudah, bencana memanglah massif, tak tanggungtanggung, melabrak seluruh tanpa pamrih, tak mengenal aturanaturan, kampus sekalipun.

Namun bencana apakah yang saya maksudkan disini? Patutkah kita menyebutnya bencana? Tentang situasi yang tak didugaduga seperti beliung yang datang serempak. Seperti tsunami yang menyisir bersih tanpa didahului tandatanda sebelumnya. Ataukah wabah penyakit yang menghapus nyawa ribuan orang di suatu tempat.  Barangkali adalah salah saya, kamu, dia, mereka, bapak itu, ibu yang disana, tuan polisi, ataukah bapakbapak yang terhormat serta organorgan yang seringkali tumbuh tenggelam, yang menjadi sebab bencana itu dapat terjadi.

Memang bencana adalah sulit untuk dihindari. Namun jika bencana itu bersemayam didalam kampus maka itu suatu hal yang patut kita risaukan. Bisakah kita menebak tentang kemelut api yang melahap lapar? Juga tawuran yang seringkali menjadi trend bagi kita? Ataukah kelupaan kita bahwa kampus semestinya tempat manusia unggul untuk menolak diam? Ataukah suasana pencerahan sudah tercuri di saat kita sedang memperbincangkannya? Atau kita purapura tuli dan buta tanpa kita pernah tahu dari mana datang sumber suara dan kesan yang harus kita tangkap?

Bencana memang menyesakkan dada. Apalagi yang baru saja dialami. Ditengah tengah tempat kita belajar. Di saat baru saja kita mendeklarasikan sumpah di delapan puluh tiga tahun yang lalu. Dan barangkali memang kita tak pernah tahu apa sebenarnya sumpah itu jika diperhadapkan dengan sektarianisme yang kalap kita belabela.

Bencana juga bisa kita pahami sebagai alam yang hendak berkata, kepada sesiapa saja yang tumbuh diatasnya. Bahwa alam tak selamanya berdiam diri menerima aksi, ia bereaksi. Sebagaimana bencana, barangkali dari apa yang UNM lalui akhirakhir ini adalah bahasa yang hendak didengarkan, bahwa di dalamnya semuanya tak dalam situasi yang baikbaik saja. 


17 September 2013

Mayangmayang Kenyataan; Sebuah Anamnesia*

I've got a picture in my head (in my head)
It's me and you , we are in bed (we are in bed)
You'll always be there when I call (when I call)
You'll always be there most of all. (all, all, all)
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like….

---(Hollywood, The Cranberries)

Ada yang paradoks tentang dunia pengalaman manusia. Suatu keadaan yang terjungkal dari porosnya, terjadinya pembalikkan secara massif antara yang semu dengan yang nyata, antara penampakan dan kenyataan, antara yang sejati dan palsu, bahwa realitas era sekarang sesuatu yang sulit dipilah berdasarkan intensitas kedalamannya.

Tak bisa akhirnya kita sanksi, dari apa yang kita alami, dunia tindakan kita adalah dunia yang berada pada tepian batasbatas antara yang imagi dan keyataaan. Sehingga dampak daripadanya terlampau sulit untuk kita bedakan dan candrai. Oleh sebab begitu besarnya determinasi kemajuan dunia tekhnologi informasi, yang begitu besar pengaruhnya pada sikapsikap yang akan kita jalani. Di mana era digital tengah melanda dan mengambil alih kenyataan kita yang sebenarnya.

Oleh media massa, dengan seluruh muatan fungsinya, akhirnya menempatkan dunia pada kenyataan yang dikehendakinya. Bahwa kenyataan adalah apa yang dapat dilipat, ditekuk, dan dimapatkan. Sehingga dunia kehilangan ukuran yang sebenarnya, seperti ruang, waktu, kedalaman dan keluasan akhirnya harus mangut pada logika era digital. Yang mana seluruh ukuran mengalami perubahan secara intens, ketika yang “di sana” bisa berarti yang “di sini”, yang “lampau” bisa dimaknai sebagai “kekinian”, yang “permukaan” akhirnya  bermakna “kedalaman” dan yang “tersembunyi” pada kenyataannya diterima sebagai “Kenyataan”.

Media massa memang bukanlah sekedar medio penyampai realitas, atau apa yang kita sebutkan sebagai pesan, makna, pun juga informasi dan berita. Oleh sebab dia juga tak bisa kita katakan sebagai jendela kenyataan, karena media juga dalam makna ideologisnya adalah institusi yang tak sekedar menyembunyikan kenyataan, melainkan jauh daripadanya menciptakan realitas baru. Sehingga dalam sifatnya yang demikian, media massa adalah perpanjangan tangan dari sebuah sistem yang jauh melampaui, keterjalinan yang turut memproduksi kenyataan dalam sebuah konstruksi kepentingan.

Lalu bagaimanakah yang dimaksudkan dari apa yang disebut sebagai konstruksi kepentingan? Sebuah tatanan yang mapan, yang mampu mencipta dan mendaur kenyataan? Sehingga realitas dapat dibentuk berdasarkan apa yang menjadi ukuran mesin hasrat? Lantas apa yang dibilangkan sebagai mesin hasrat? Sistem struktur yang mengambil alih proses penciptaan budaya dari yang adihulung menjadi budaya yang rendahan? Dimana maknamakna kemudian terlucuti dari ihwal yang sakral, yang ideal, menjadi sesuatu yang banal, dangkal dan tak bermakna.

***
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like.

Kenyataan sekarang adalah dunia yang merupakan hasil olahan produksi mesin kapital. Keterjalinan darinya kita anggapkan sebagai momok yang begitu ideologis. Dalam analisa Marxian situasi ideologis ini adalah peralihan dari kesadaran menuju keterselubungan di dalam dunia. Sehingga seakanakan kesadaran yang sering kita terima sebagai kebenaran hanyalah bentuk ilutif dari situasi yang demikian. Lebih daripadanya kita mengimani kebenaran yang kita sadari adalah murni sebagai episteme, yakni kebenaran sejati. Namun sebenarnya dari apa yang kita prediksikan sebagai segenggam kebenaran tak lebih daripada sebuah doxa, ihwal segala yang tak murni, bukan yang sejati; sesuatu yang menipu.

Doxa, atau segala yang bukan sejati, hakiki, bukan saja sejumput istilah perlawanan dari episteme (penegetahuan hakiki) melainkan gejala yang menjangkiti tampakan kebudayaan kita. Oleh media massa, dengan totalitas daya hegemoniknya, juga turut bertanggung jawab dalam membangun realitas kebudayaan dewasa ini. Daya virtual yang super canggih, oleh media massa tengah bekerja merangsek kehidupan kita dengan membangun citra, kesan dan imagi dari yang diproduksinya. Maka daripadanya dunia nyata dan maya adalah dua peririsan yang tak bertepi.

Kebudayaan populer (produser barang, film, musik, fashion, media, tontonan, seni) sebagai residu atau budaya dangkal, sesungguhnya adalah produk orisinal yang didasari olen imagi yang diproduksi oleh mesin hasrat kapital. Kapitalisme kebudayaan (industrialisasi, konsumerisme)  atau suguhan citra yang nampak dari budaya populer, sesungguhnya adalah mode kebudayaan yang mengekstase di atas citra permukaan. Yang mana turut mensituasikan adanya pemujaan terhadap bungkusan daripada isi. Sehingga kita kehilangan pesona kedalaman dibandingkan dari pada perayaan terhadap permukaan.

Tetapi apakah sesuatu yang harus kita tampik, tentang pemujaan terhadap iconicon populer? Terhadap kesan yang terbangun di dalam dunia layar? Oleh sebab disana ada pembebasan hasrat yang terpendam melalui saluransaluran semisal mencintai iconicon K POP? Apakah memuja alatalat canggih semisal I Pad adalah bentuk dari kemunduran kebudayaan? Walaupun sesungguhnya disana ada kiblat yang bergengsi, tentang kehidupan yang glamour dan hingar binggar.

Sesungguhnya adalah situasi yang begitu malang. Hidup diantara batasbatas yang tak jelas antara kehakikian dan kesemuan, oleh karena modernisme adalah kiblat yang dibaliknya membawa pesan kolonialisme. Dimana dari modernisme, semuanya kerap kali berubahubah begitu pesat dan gesit atas nama kemajuan dan kepopuleran. Dimana tak ada yang tetap, dan budaya populer memanglah pemujaan terhadap kegilaan yang akut. Adalah budaya populer merupakan  budaya Skizofrenia dari yang diistilahkan oleh Deluze, yakni situasi kehampaan dari kedalaman makna dari hancur dan kesimpang siuran sistem penandaan. Sehingga kita lebih bersedih hati menyaksikan icon pop kita mengalami gosip yang tak benar muasalnya, dibandingkan dengan hilangnya lokalitas dan keotentikan budaya di tengahtengah kita.

Dan akhirnya adalah masyarakat konsumtif sebagai tatanan dari situasi yang diproduksi oleh konstruksi kepentingan (kapitalisme, Industrialisasi, konsumerisme) untuk dasar akumulatif. Bukan saja akumulasi modal sebagai alas gerak kapitalisme, melainkan juga makna turut diakumulatifkan sebagai cara memproduksi hasrat konsumtif. Kita telah sampai pada masa kegilaan, kata Guattari, sebuah konstruk kehidupan yang timpang, bukan saja masyarakat kapitalis, melainkan juga kehidupan kebudayaan yang simpang siur. Maka, daripadanya kenyataan budaya akhirnya terselubungi dengan cangkang keras fantasi citra imaginer.

Pop Culture; Peluang atau Beban?

Sesungguhnya realitas kebudayaan yang kita hadapi sekarang adalah diskursus yang panjang, tak dan belum sampai pada batasbatasnya yang paling jauh. Sehingga membuka peluang bagi kita untuk dibincang dan dipersoalkan. Sebab kebudayaan adalah entitas yang harus kita maknai sebagai ihwal yang fluid, pembicaraan yang cair serta terbuka. Atau dengan kata lain ada cela yang bisa kita intipkan darinya untuk kita masuki. Sehingga standar antara yang adihulung dan yang dangkal bisa kita batasi dalam batasbatasnya yang moralistis.

Budaya populer sebagai fenomena kebudayaan yang dilahirkan dari industri kebudayaan massal, adalah fenomenon yang memiliki kepentingan ideologi pasar. Cara bekerja dari budaya populer itu sendiri mensyaratkan keabaian kritisisme untuk budaya yang diterima secara massal. Oleh karena budaya populer selalu beroperasi melalui cara berpikir populer, yakni budaya yang dipengaruhi oleh film, musik, tontonan dan seni hiburan sehingga mematikan fungsifungsi asas kebutuhan dibandingkan dengan nalar gengsi.

Betapa di era kemajuan seperti sekarang ini, budaya populer adalah new religion yang tentu memiliki ritual untuk membudidayakan dan memurnikan ajarannya. Selama ia menjadi stimulus dari gejala semisal shopping mall, life style, cara hidup glamour sampai hingar bingar diskotik, maka ia menjadi agama baru yang merebak pesat di dewasa ini. Maka telisik mendalam perlu kita lakukan untuk membersihkan gejala kebudayaan yang berimplikasi kepada hilangnya budaya lokal yang bersifat adihulung.

Namun dari semua itu, pada kenyataannya jika budaya populer adalah hasil dari transpalansi kebudayaan pada masyarakat terjajah, apakah tiadakah konsep dan praktik kebudayaan tandingan sebagai counter hegemony dalam mendeteritorialisasikan kebudayaan budaya populer itu sendiri. Setidaknya pada stadium yang paling minimal, perlu ada usaha kesadaran yang intens dan demokratisasi gerakan kebudayaan yang perlu dipancangkan sebagai usaha emansipasi dan pembebasan untuk keluar dari massifisitas budaya populer sebagai bentuk selubung kolonialisasi baru. Sehingga fantasifantasi kebudayaan massal yang hanya berupa mayangmayang kenyataan bisa ditiadakan. Setidaknya seperti dengan cara penggal lagu diatas, bahwa ini dan di sini bukanlah Hollywood![]

…This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like !, Like !, Like…!

---

Disampaikan pada Intermediate Training BEM FIP UNM, 13-15 September 2013.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...