Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

01 Mei 2021 Comments Off

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu waktu, itu Anda lakukan saat teori evolusi Darwin menjadi satu-satunya jawaban atas asal-usul kehidupan ini, yang secara bersamaan membuat Anda kelimpungan membantahnya karena itu tertulis di buku-buku pelajaran IPA. Anda, teman Anda, guru Anda, dan semua orang, entah mengapa mempercayai itu dan mengajarkannya seolah-olah itu titah dari entah siapa.

Anda orang beragama, yang dikhotbahkan bahwa sains tentang asal usul kehidupan tidak sepenuhnya benar. Charles Darwin salah, ia tidak mau mempercayai kitab suci yang menyimpan informasi bahwa Adam Hawa lah nenek moyang manusia.

Di hadapan orang seperti Charles Darwin, narasi asal usul manusia tidak original berdasarkan alam empiris. Itu semua tidak lebih dari bualan semata, dan apa yang dituliskan di dalam kitab suci bukan informasi yang lahir dari alam pikiran sains.

Karena Anda orang beragama, mata Anda akan picing terhadap komunisme, mencurigainya, dan membulinya habis-habisan oleh karena ia sudah tidak pantas hidup di Tanah Air.

Meskipun rentetan tragedi pasca 65 sudah berlalu, Anda masih merasa menjadi titisan Soeharto yang bertugas akan memberangus komunisme hingga kapan pun, seolah-olah seperti SUPERSEMAR, Anda mendapatkan surat gaib tentang tugas suci Anda itu.

Komunisme adalah bentuk lain dari Darwinisme. Ia mengajarkan ateisme, menyuruh orang-orang memusuhi agama, dan mengajak siapa pun agar tidak mempercayai mukjizat orang-orang suci.

Itu gagasan yang pernah dipelantang Harun Yahya—yang tiba-tiba belakangan jadi sorotan publik— dalam konten-kontennya yang menyerang komunisme. Ia juga menulis kritiknya itu di buku berjudul Communism In Ambush di tahun 2003, sebuah buku yang bergambar tiga pemimpin komunisme dunia di sampulnya: Lenin, Stalin, dan Mao Zedong.

Tentu Anda bakal senang saat menonton konte video-videonya, atau ketika sudah membaca bukunya, terutama Atlas Penciptaaan setebal 800 halaman itu,  karena mendapatkan dukungan secara moril, dan mungkin itu menambah daftar argumentasi Anda untuk membantah kejadian di masa lalu semisal Revolusi Oktober.

Harun Yahya, dikenal sebagai penulis buku-buku berbau ”sains agama”, yang semuanya ditembakkan khusus kepada dua aliran pemikiran di atas tadi itu. Di Tanah Air, tidak sedikit yang menonton konten video-videonya sampai-sampai ada yang menyimpannya untuk menjadi referensi menolak pikiran-pikiran haram seperti Darwinisme dan komunisme.

Sama seperti sebagian dari orang-orang itu, saya di masa lalu sekali dua kali menonton video-videonya, dan antusias membaca pikiran-pikirannya yang disebut aliran kreasionisme Islam itu. Di salah satu majalah Islam, sebut saja Hidayatullah, saya pernah terkesima membaca butir-butir pikiran aliran kreasionismenya, menemukan namanya yang disebut-sebut sebagai salah satu penggagasnya.

Kreasionisme Islam—betapa pun kaburnya istilah ini—entah datang dari mana, dan menjadi populer melalui Harun Yahya,  dan masuk ke Indonesia melalui buku-buku dan kaset DVD di awal tahun 2000-an, dipercayai sebagai kumpulan stok pengetahuan untuk menjawab pertentangan abadi antara sains dan agama.

Telah lama diketahui, sains dan agama adalah dua seteru yang saling merebut pengaruh, yang masing-masing memiliki cara pandang berlainan menyangkut apa saja, tidak terkecuali menyangkut kosmologi dan asal usulnya.

Karakter sains yang empiris dan berdasarkan data-data objektif di lapangan dan laboratorium, tidak seperti agama yang menekankan iman meskipun itu tidak sesuai alam kenyataan. Akan sangat membingungkan jika sains dan agama, ingin diberikan tempat yang sama seolah-olah itu wajib dilakukan persis seperti obsesi sebagian orang. Sains memiliki wilayah penyelidikan berbeda dengan agama, begitu pula agama memiliki urusan yang sama sekali tidak bisa dijangkau sains oleh karakternya yang empiris.

Sampai di sini, tanggalkan sementara dulu perbebatan sains dan agama, terlebih-lebih kreasionisme Islam yang sampai sekarang masih pro kontra. Nyatanya, itu bukan urusan kita yang lebih suka kepo dengan hal-hal receh yang sering menyeruak melalui dunia virtual.

Adnan Oktar a.k.a Harun Yahya beberapa hari lalu,  divonis hukuman 1.075 tahun dan tiga bulan penjara melalui pengadilan Turki pada 11 Januari lalu. Ia terbukti bersalah melakukan tindak kekerasan dan pelecehan seksual terhadap beberapa pengikutnya, termasuk di antaranya anak-anak di bawah umur.

Dua situs berita di Turki, Anadolu Agency dan Hurriyet, telah merinci kejahatan Adnan Oktar yang kesemuanya hampir menyerupai pelanggaran 10 perintah tuhan yang pernah turun di tengah-tengah kaum Bani Israil.

Ini kalimat klise sebenarnya: seribu tahun bukan waktu yang sebentar. Butuh ribuan kriminil di Indonesia untuk menyerupai jumlah hukuman penjara Harun Yahya. Umur siapa bakal sampai selama itu. Tapi, pengadilan Turki tidak sedang bercanda, 1.000 tahun justru lebih terdengar seperti mengejek.

Butuh seperdua vonis hukuman Harun Yahya bagi dunia, atau paling tidak Eropa untuk melesat naik dari masa kegelapan menuju abad pencerahan, dan seperempatnya bagi peradaban di dunia Islam menukik turun menuju masa kemunduran. Sains dari masa itu kelak menjadi primadona dan agama kehilangan elan vitalnya menginspirasi penelitiaan ilmu-ilmu terbaru. Kondisi ambivalen ini, dalam kenyataannya melahirkan  sebagian besar komunitas  muslim dunia yang hidup melalui paradigma klenik ketimbang ilmu pengetahuan seperti di periode klasik.

Memang tidak sepenuhnya dapat diterima kenyataan di atas, meskipun itu juga tidak dapat disanggah bahwa ada situasi yang lebih buruk dari masa bui Harun Yahya, yakni ketika gagasan-gagasan pseudosains seperti disebarkan Harun Yahya meraih pengikut fanatik. Implikasinya sudah terbukti satu dekade ini—setidaknya di Tanah Air— naiknya kelompok ultra-religius menjadi gerakan politik identitas.

Pseudosains adalah bentuk lain dari berhentinya kerja metodis ilmu, palsunya fakta-fakta, tidak validnya kebenaran, dan matinya penalaran rasional yang menyokong daya analitik sehingga berakhir kepada taklid buta.

Fenomena ini tidak asing sebenarnya, selama Anda masih mempercayai vaksin Covid-19 misalnya, dapat membuat alat vital sahabat Anda bertambah besar saat diimunisasi. Atau menjadi tentara virtual yang menyerbu grup-grup WA keluarga Anda agar sesegera mungkin menolak vaksin antibodi Covid-19.

Batu ajaib Ponari, kesaktian Dimas Kanjeng, matematika Islam Borobudur, teori bumi datar, minuman sehat kencing unta, kerajaan Sunda Empire, teori konspirasi Covid-19, hingga vaksinnya yang sempat jadi polemik, beberapa rentetan gejala yang menandai separuh kehidupan kita masih seperti di masa abad kegelapan.

Kondisi-kondisi semacam itu bakal menjadi tren yang terjadi 1.000 tahun ke depan, dan kehidupan ini justru akan menjadi satu fase yang buruk sama sekali, jika para ahli tidak diberikan tempat dalam pengambilan keputusan, dan  iklim ilmu pengetahuan tidak bergerak dari cuaca mendungnya.

Syahdan, jika Anda dipenjara sama waktunya seperti masa tahan Harun Yahya, kira-kira sebelum masa hidup keburu habis, karya intelektual apa yang bakal akan Anda lahirkan?

---

Telah tayang di Kalaliterasi, 14 Januari 2021

Fakhrizadeh, Sains, dan Terorisme

12 Desember 2020 Comments Off


Pendek saja: Mohsen Fakhrizadeh. Catat nama ini. Dia barangkali satu dari sedikit nama ilmuwan dunia yang dikhawatirkan Barat, terutama Amerika dan Israel. Barangkali pula jarang seorang prajurit seperti Fakhrizadeh, yang sekaligus ilmuwan ahli nuklir. Di Indonesia, sulit menemukan seorang mantan tentara mengabdikan seragamnya di kancah sains, kecuali menderetkan namanya sebagai pemilik saham di perusahaan tambang berskala nasional. 

Di Iran, kecil kemungkinan menemukan seorang mantan jenderal seperti di Indonesia yang masih berlumpur berebut kekuasaan di kubangan politik praktis. Di negeri para ulama itu, tarik ulur kekuasaan elite tidak lebih memikat dari pada nama-nama seperti Imam Khoemeni atau Ali Khamenei, atau bahkan para Imam Suci, yang dipandang sebagai suluh cita. Perdebatan semisal akal vs. wahyu, negara vs. agama, atau nasionalisme vs. tauhid, misalnya, sudah dipungkasi dengan kemajuan sains dan agama yang luar biasa. Di Iran debat-debat dikotomis semacam itu sudah lama diselesaikan di hauzah-hauzah dan universitas.

Fakhrizadeh tewas Jum’at 27 November lalu setelah dibombardir tembakan di desa Absard di sebelah timur ibu kota Iran. Kesyahidannya menambah daftar panjang ilmuwan Iran yang menjadi target pembunuhan diduga Israel. Beberapa pengawalnya tewas di tempat, sementara Fakhrizadeh meninggal tidak mampu diselamatkan tim medis setelah dibawa ke rumah sakit.

Saat ini Fakhrizadeh, salah satu ilmuwan top Iran yang dikhawatirkan Amerika Serikat dan Israel karena diduga masih mengepalai diam-diam program pengembangan nuklir, meski Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan bahwa “program terstruktur” itu berakhir pada 2003, seperti dikutip dari Kompas.

Sains saat ini menjadi primadona dalam hal modus pencarian kebenaran. Tidak seperti filsafat, sastra, dan bahkan agama, yang lebih argumentatif dan reflektif, karena sifat kebenaran sains yang revolusioner menjawab kebutuhan praktis manusia, membuat dirinya mampu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan-perubahan material masyarakat.

Setiap bangsa besar, mulai dari yang hanya tinggal catatan sejarah atau yang sedang berada di masa puncak, mendudukkan sains pertama kali sebagai iklim intelektual daripada sebagai produk kebudayaan. Entah itu ditandai dari lukisan di dinding-dinding gua, tekhnik cetak gerabah, sistem saluran air, tekhnik pengawetan jenazah, arsitektur piramida, hingga algoritma android, tidak akan mungkin lahir sebelum tercipta kondisi lingkungan yang berpihak kepada tumbuhnya sains.

Sains, sekalipun ia melesat maju ditopang dengan pikiran canggih dan berhasil menghasilkan temuan mutakhir, tapi jika tidak lahir dalam iklim sains yang terbuka, maka hanya akan berakhir seperti Galileo Galilei atau Giordano Bruno yang mati digantung dan dibakar hidup-hidup inkuisisi gereja.

Peradaban mana pun akan memberikan perhatian yang besar bagi ilmuwannya daripada kelompok masyarakat lain, dikarenakan melahirkan seorang ilmuwan akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan orang-orang yang pandai mengklaim diri sebagai titisan dewa.

Sains bukanlah wahyu, yang seketika bisa ditemukan secara rahasia dan tertutup, melainkan sesuatu yang dikerjakan secara terbuka, kontinyu, dan bertahap. Proses dan hasil sains adalah pekerjaan publik, sehingga kecil kemungkinan bisa dimanipulasi.

Tidak seperti nabi atau imam-imam palsu, yang berkecenderungan mengalami waham kebesaraan, dan kerap kali berhasil memperdayai publik dengan kekuatan massa, para ilmuwan bekerja dan berbicara melalui akal budi dan hasil eksperimen. Daripada membuang energi mencari pengakuan dan dalih, ilmuwan lebih terpikat mencari tahu cara bekerja alam melalui dalil yang mereka rumuskan.

Itulah sebabnya, kematian ilmuwan terlebih lagi jika itu rekayasa hasil kerja intelijen, sama buruknya dengan inkuisisi lembaga agama di abad pertengahan. Bahkan meskipun abad pertengahan telah lama berlalu, tapi masih ditemukan pihak-pihak yang berusaha memberhentikan gerak laju temuan sains di bidang-bidang kehidupan masyarakat dengan cara membunuh, itu sama tapi lebih buruk dari terorisme agama.

Belum lama ini, di jaringan pertemanan Fb, seseorang dengan sengaja memposting berita mengenai Abu Bakar Ba’asyir yang sedang sakit. Sebagaimana galibnya mendoakan kesembuhan orang yang diserang sakit, ia melakukan tindakan mulia itu di dinding medsosnya kepada salah satu gembong pengader teroris yang ia tulis sebagai ustadz itu.

Orang ini, saya cukup tahu memiliki afiliasi dengan kelompok salafi yang sudah menetes ke mana-mana sama seperti tumpahan bahan bakar minyak. Daerah tempat tinggalnya pernah diduga menjadi salah satu kawasan tempat pelarian milisi sipil yang dinyatakan teroris ketika Poso bergejolak. Sekali tempo, ia pernah memposting foto saat berpose seperti tentara  memegang senjata sambil mengimbuhkan kalimat-kalimat motivasi hijrah. Pose ini, bukanlah kenyataan sebenarnya yang membuatnya patut disebut teroris.

Di Sigi Sulaewesi Tengah, sama buruknya dengan kematian Fakhrizadeh, sekelompok milisi bersenjata hidup bak gerliyawan Jenderal Soedirman dan berhalusinasi ISIS masih berdiri kokoh di  Suriah. Kelompok itu adalah Mujahidin Indonesia Timur,  salah satu faksi teroris yang berbaiat kepada ”pemerinntahan” ISIS dan merupakan titisan kelompok militan bentukan Abu Bakar Ba’asyir.  Jum’at pagi, hanya berselisih sekian jam dari kematian Fakhrizadeh, mereka bertindak bar-bar sama seperti gajah overdosis hormon kawin. Kelompok ini mengamuk dan kehilangan akal sehat membunuh satu keluarga seolah-olah sedang berlaga di perang Khandaq.

Tindakan terorisme ini, tidak sama dengan martirnya Fakhrizadeh karena sentimentalisme dan kekhawatiran berkaitan dengan kemajuan sains di bidang pengayaan nuklir. Terorisme di Sigi, adalalah model terorisme kuno yang lebih parah dari Abad Kegelapan. Tidak ada motivasi yang dipantik karena sains, apalagi menjadikan para ilmuwan sebagai target. Di Sigi, milisi yang tidak lebih dari 40 orang ini besar kemungkinan melakukan aksinya sama seperti binatang hutan yang kehilangan teritori kekuasaan dan diserang lapar.

Terorisme tidak akan punah selama ada orang-orang yang masih ngotot menjadi satu-satunya umat terbaik dan merekrut orang sama seperti kerja MLM. Dengan cara membuat negara agama dan memproklamirkannya dari atas gunung-gunung, akan membuat peradaban  terus terancam. Memang nampak aneh,  jika negara atau agama ditafsirkan  oleh orang-orang yang lebih suka tidur bersama senjata daripada buku-buku, dan lebih memilih hidup di kaki gunung. Mereka bukan masyarakat sipil yang menjadikan pendidikan sebagai medium perbaikan diri. Jadi jangan kira buku- buku, atau sains akan membuat mereka sadar.

Terorisme bisa datang dari latar belakang  agama mana saja, seperti ia  juga bisa lahir dari paham atheisme sekali pun. Jadi ini bukan semata-mata soal penerimaan ada tidaknya konsep teologi, tapi lebih kepada soal hubungan kepada keberlainan, meski banyak ditemukan tindakan terorisme dimulai dari konteks pemahaman agama yang harfiah dan sepihak. Uniknya, jika ditelisik, entah itu karena antisains dan antinegara, terorisme muncul beranakpinak dari sifat inferior yang melahirkan ketakutan dan kekhawatiran mendalam menyangkut keberagaman.

Pelaku teror, terutama yang dipantik pemahaman sempit agama, tidak akan menghiraukan bahwa kata ”ilmu” lebih banyak disebutkan dalam Al-Qur’an daripada kata tagut yang suka mereka lontarkan. Mereka juga tidak akan peduli, bahwa Al-Qur’an lebih banyak mendorong umatnya agar mengembangkan sikap bak seorang ilmuwan dengan kata-kata ”membaca”, ”berpikir”, ”lihatlah”, atau ”perhatikanlah” daripada menjadi kombatan halu yang tidak sama sekali dikenal dalam agama mana pun.

Tagut adalah satu-satunya kata favorit pelaku terorisme, yang kedudukannya lebih mirip seperti ajaran atomistik Demokritos. Demokritos, filsuf Yunani antik sebelum Socrates berabad-abad lalu menyatakan intisari seluruh hakikat disusun melalui sesuatu yang sangat kecil dan tidak dapat dibagi. Ia menyebut itu sebagai atom; pisang yang Anda makan memiliki atom pisang, kata Demokritos. Kopi yang Anda minum tersusun dari partikel supermini yang tidak bisa dibagi lagi menjadi sesuatu dan itulah atom kopi. Kursi, tanah, pohon, dan bulan tampak berbeda di permukaan, tapi mereka sama-sama tersusun dari miliaran atom-atom, yang tidak lagi bernama dan berbentuk.  Temuan Demokritos ini menjadi cikal bakal perkembangan sains berabad-abad setelahnya, tapi meskipun begitu, Demokritos tidak pernah berhasrat memanggil siapa pun sebagai atom meskipun ia tahu diri kita tersusun dari atom-atom.

Sementara pelaku teror suka menyatakan sesuatu di luar dari mereka sebagai tagut bahkan terbuat darinya. Inti negara adalah tagut, bendera merah putih adalah tagut, pemerintah adalah tagut, sama seperti orang di luar dari mereka adalah tagut-tagut yang layak mereka enyahkan. Tagut is no good. Semuanya terdiri dari unsur tagut. Tapi, tidak seperti teori atomis Demokritos yang menjadi penopang sains, entah ilmu pengetahuan jenis apa yang bakal dilahirkan dari falsafah tagut ini.

Anda, tidak perlu saya imbau mengingat kata tagut ini sebab dalam sepuluh hari, dua bulan, satu tahun, atau berabad-abad lamanya, kata ini tidak akan menginspirasi kelahiran ilmu pengetahuan jenis apa pun. Sebaliknya, ia bakal jadi contoh buruk bagi peradaban mengenai bagaimana di semesta maha luas ini masih ada orang-orang tertentu yang percaya  dunia hanya diciptakan untuk mereka belaka.

Podcast: Babanuroom Channel