Tampilkan postingan dengan label Plato. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Plato. Tampilkan semua postingan

25 Januari 2017

Menemukan Kembali Bahasa Indonesia

Mari memahami praktik berbahasa era kiwari tidak serta merta representasi kesadaran atas persatuan. Justru sebaliknya akibat cermin ketidaksadaran. Atau lebih berbahaya akibat false consciousness (pemahaman palsu). Atau mungkin trauma kelam masa lalu. Atau juga didorong rasa dendam, bahkan mungkin sentimentalisme sempit.

Artinya, bahasa selama ini bukan cermin ilmu pengetahuan. Malah bahasa percakapan yang dipraktikkan sehari-hari hanya cara manusia memanipulasi dirinya yang mengalami hambatan perkembangan kejiwaan.

Ibarat teori allegory of the cave-nya Platon, filsuf Yunani purba, kiwari hampir semua bahasa percakapan ditengarai gelapnya perangkap gua, bukan karena “cahaya” di luar gua. Imbasnya, bukan manusia yang “menyarangkan” bahasa lewat praktik pemaknaan, tapi manusialah yang ditawan bahasanya sendiri, bahasa samar dan gelap.

Itu sebabnya, manusia terhambat mengetahui kenyataan lewat bahasa temaram yang digunakannya. Kenyataan, hanyalah realitas palsu akibat tak terjamah terang bahasa.

Masih dalam ilustrasi allegory of the cave-nya Platon, manusia hanya bisa bebas jika dia keluar dari gelapnya gua. Meninggalkan bayangan palsu di tembok gua akibat tipuan api di belakangnya. Hanya berjalan ke luar dan mencandra matahari di luar gualah manusia mampu mengalami pencerahan bebas dari tipuan yang dialaminya selama ini.

Itu artinya, manusia harus meninggalkan seluruh praktik kehidupannya di dalam gua, termasuk bahasa. Manusia harus menggunakan bahasa percakapan yang tidak terdistorsi kegelapan sebagaimana ketika di dalam gua. Sang manusia harus menciptakan “bahasa baru”, bahasa yang lahir di bawah terang “mentari”. Hanya dengan itu manusia “dewasa”.

Tapi, “manusia dewasa” harus dahulu menyadari situasi dirinya ketika benar-benar ingin dewasa. Praktik berbahasa “manusia dewasa” harus bersih dari gangguan traumatik masa lalunya ketika masih berada di dalam kegelapan gua.

Psikoanalisa Sigmund Freud menyatakan, orang-orang yang ketika dewasa mengalami hambatan mental, dapat diterangkan dengan dua cara. Pertama, akibat tidak berkembang normalnya struktur kepribadian di masa kanak-kanak, dan yang kedua, disebabkan oleh trauma-trauma masa lalu.

Yang menarik menurut Freud, pengalaman traumatik masa lalu, dapat mendorong lahirnya sikap agresif ketika dewasa. Fenomena ini juga menerangkan, sikap agresif yang muncul dari praktik berbahasa ataupun tindakan, merupakan relasi langsung dari libido berupa insting kematian.

Insting kematian berbeda dari insting kehidupan. Menurut Freud, keberlangsungan interaksi manusia hanya bisa bertahan lama akibat insting kehidupan yang beroperasi melalui regenerasi dan reproduksi. Sementara insting kematian ditampakkan manusia melalui tindakan-tindakan agresif dan brutal yang mengancam kehidupan itu sendiri.

Keluar dari mulut gua

Ibarat mahluk gua, praktik berbahasa bangsa Indonesia sudah lama keluar dari gua kegelapan. Sumpah pemuda, misalnya, merupakan penanda perjuangan bangsa Indonesia merumuskan bahasa persatuannya. Ketika itu pemuda-pemudi merumuskan “bahasa baru” yang harus dipakai selain “bahasa gua penjajahan.” Dengan bahasa yang diterangi “matahari” kemerdekaan, bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang dewasa, bangsa bermartabat.

Bahasa kemerdekaan dipakai pasca keluar dari mulut gua penjajahan, bukan saja keinginan kuat keluar dari gua kegelapan penjajahan, melainkan meminjam istilah indonesais Benedict Anderson, karena suatu harapan yang dibayangkan bersama. Dengan harapan yang dibayangkan inilah bangsa Indonesia merumuskan dirinya sebagai komunitas merdeka melalui bahasa yang mencerminkan persatuan dan rasa persaudaraan sesama penduduk bangsa.

16 Januari 2017

Platon dan Dunia Tanpa Cacat



Ilustrasi pop art wajah Socrates.
Socrates adalah bapak sekaligus "guru" para filsuf
Ajarannya paling terkenal adalah metode dialektika


BARANGKALI teori adalah paras terbalik dari kehidupan nyata. Ibarat paralax, pantulannya berkebalikan dari objek sebenarnya. Dan begitulah Platon. Paras teorinya adalah hasil sublimasi kehidupan masyarakatnya yang dirundung masalah.

Platon hidup di masa perang dan huru-hara politik yang lebih parah dari zaman Heraclitus. Sebelum Platon lahir, Athena adalah kota yang baru saja keluar dari gua tribalisme. Tapi juga itu masa-masa yang penuh tirani. Athena akhirnya jadi kota yang terkatung-katung di antara oligarki dan penegakkan demokrasi. 

Athena yang gundah juga kota yang mengalami perang berkepanjangan dengan Sparta, negara-kota yang masih menganut tribalisme aristokrasi kuno. Selama dua puluh delapan tahun perang berkecamuk, membuat masyarakat tercabik-cabik. Perang Pelopponesus itu akhirnya membuat Athena menjadi pihak pesakitan. Ketika perang itu berakhir, Platon muda berumur 24 tahun. 

Imbas perang, Platon muda tumbuh di situasi yang koyak. Ikatan kekerabatan warga kota mengalami hambatan. Masyarakat korban perang dihinggapi epidemi, putus ada, dan juga kelaparan berkepanjangan. Dan di situasi yang serba runyam itu, Athena berada di bawah kekuatan totaliter pemerintahan rezim Tiga Puluh Tirani yang dipimpin Critias dan Charmides, dua paman Platon. 

Critias dan Charmides dua paman dari pihak ibu Platon. Seperti Heraclitus, Platon sesungguhnya keturunan bangsawan. Di nadinya mengandung darah raja-raja. Ayahnya keturunan Codrus, raja tribal terakhir dari Attica. Seperti kebiasan masyarakat bangsawan yang mengklaim diri sebagai keturunan raja-raja, Platon sering kali membangga-banggakan itrahnya. 

Di antara dua tradisi inilah Platon menyadur pikiran-pikiran Filosofisnya. Melalui masyarakat yang tidak stabil, putus asa, dan gamang, Platon membaca gejala-gejala perubahan sosial. Dari sini kelak Platon menemukan suatu hukum kekal yang mengatur baik di benda-benda sampai ke tingkat yang lebih kompleks, masyarakat.

Sementara dari itrah raja-raja keturunan bangsawan, Platon menemukan dasar kebanggaannya ketika merumuskan stratifikasi filsuf sebagai satu-satunya puncak kelas masyarakat yang memiliki kualifikasi di atas manusia budak. 

Akhirnya Platon meringkas pengalaman mudanya atas situasi masyarakat yang diluluhlantakkan kecamuk perang; putus asa; ketidakpastian; kepada satu rumusan: hukum perkembangan masyarakat. 

Seperti filsuf sebelumnya, Platon meneruskan suatu hasrat filosofis tentang "suatu realitas yang tak berkesudahan" sebagai suatu bagian arus sejarah yang Platon sebutkan akan dihinggapi pembusukan, kekacauan, dan degenerasi.

Itu artinya, masyarakat yang bergerak akibat diombang-ambing perubahan yang tidak menentu tiada lain pada akhirnya akan mengalami pembusukan, berakhir dengan begitu saja. Masyarakat di situasi itu ibarat organisme yang bakal mengalami kesakitan imbas ketegangan di dalamnya, dan setelah itu akan mati menemukan dirinya penuh kekacauan. 

Begitulah imajinasi Platon ihwal perkembangan masyarakat yang akhirnya dia generalkan ke segala yang ada. Hukum sejarah Platon ini mengandaikan bekerjanya hukum kosmik, yang mengikat seluruh mahluk, seluruh benda-benda. Semua benda yang berubah, semua yang bergerak yang berkembang, dinasibkan membusuk.

Platon percaya, pembusukan yang kerap berlaku bagi benda-benda, adalah juga prinsip yang sama bagi moral manusia. Itu artinya, dalam masyarakat yang koyak dan patologis, dengan sendirinya akan mengalami pembusukkan moral. Bagi Platon, hukum pembusukkan ini bekerja atas dasar manifestasi hukum kosmik di antara urusan-urusan manusia. 

Tapi masyarakat yang membusuk bakal gagal jika ada kemauan moral yang kuat. Takdir sejarah dapat dibelokkan dengan kekuatan akal manusia. 

Sebagaimana alam bermusim, setelah pembusukkan terbit juga titik balik. Tidak jelas bagaimana cara Platon meyakini, tapi ketika pembusukan moral dan politik terjadi hukum kosmik akan termanifestasikan dengan munculnya figur-figur terpilih yang disebut penguasa yang agung untuk menjadi pemimpin. Ibarat sang mesiah, dengan kekuatan moral baru dan kekuatan akal sang penguasa agung itu akan mengakhiri pembusukan moral dan politik yang berlangsung.

Ibarat aliran sungai, keyakinan Platon merupakan hilir sungai yang tidak terpisah dari induk sungainya. Keyakinan atas hukum perkembangan sejarah merupakan paras lama dengan polesan yang lebih halus. Sebagaimana zaman mitologi yang mengerahkan perhatian kepada suatu masa gemilang akhir sejarah, pikiran Platon juga ikut dibayang-bayangi imajinasi serupa. 

Itu sebabnya, dibayang-bayangi akhir sejarah masyarakat yang gemilang, perlu ada suatu wadah yang dipimpin seseorang yang memiliki kekuatan intelek yang kuat. Wadah itu akhirnya kemudian disebut negara yang bebas dari segala pembusukan, suatu negara yang tidak berubah. Negara paripurna. 

Itu berarti negara paripurna adalah negara yang bebas dari unsur-unsur perpecahan. Negara yang bersih dari dimensi-dimensi keburukan. Atau dengan kata lain negara terbaik dari yang terbaik. 

Tapi, bagaimana itu mungkin? Membayangkan negara yang tanpa cela, tanpa cacat?

Salah satu kemungkinannya adalah tentu dari teori forma atau ide yang menjadi pokok filsafat Platon. 

Melalui teori forma inilah Platon membangun pemahaman bahwa di antara benda-benda yang membusuk, di sana juga mengandung ketetapan atas sesuatu yang sempurna. Ketetapan yang sempurna ini bersifat abadi, kekal selama-lamanya. 

Masyarakat yang dialiri perkembangan sejarah tertentu dengan begitu hanya bisa dimungkinkan mengalami stabilitas yang mapan jika dibangun atas forma negara ideal. 

Kemungkinan sejarah itu menurut Platon merupakan kepastian apabila diikuti syarat-syarat politik berupa negara yang dipimpin suatu agen sejarah yang ideal. Melalui itulah sejarah perkembangan masyarakat dibikin atas kekuatan intelek yang kokoh. Dengan melalui itu, hukum besi sejarah yang mengarah kepada pembusukan dapat dicegah dengan mengajukan perbaikan-perbaikan rasional. 

Perbaikan rasional hanya bisa terjadi jika manusia memahami dirinya melalui forma yang ideal. Bukan melalui pembusukan yang dilanda perubahan. Juga bukan lewat bayangan-bayangan yang memalsukan keadaan. Di sinilah teori allegori of the cave yang terkenal dari Platon mengilustrasikan, di dalam gua tiada apa-apa selain dunia tiruan. Semua yang dipandang dari api di belakang sang manusia hanyalah bayang-bayang semu. Keluarlah dari gua, menuju matahari yang sesungguhnya.

Sampai di sini, konon filsafat Platon adalah imbas putus asa dari situasi yang tidak menentu. Itulah sebabnya Platon merumuskan ketetapan-ketetapan melalui ide tentang forma. Suatu bentuk  yang pasti dan tak berubah. 

Ibarat di depan cermin, tiada yang mampu menghilangkan bayangan dirinya sendiri. Pikiran, atau apapun bentuknya, sesungguhnya merupakan pantulan objek-objek yang disaksikan, dan bukan berasal dari mana-mana.

Namun, bagaimanakah jika itu berasal dari dunia yang tidak terbayangkan sebelumnya? Suatu realitas yang tidak tersentuh ruang dan waktu? Dunia yang disebut Platon sebagai dunia idea. Tempat seluruh forma menjadi arkhetype.

Platon memang tidak memberikan keterangan bagaimana dunia idea dapat dibuktikan. Toh jika mungkin, forma-forma abadi yang diisyaratkan sebagai induk segala bentuk-bentuk di alam kongkrit, tidak dengan sendirinya menjelaskan suatu alam murni yang menjadikan semua itu dapat dimungkinkan. Itu artinya, suatu dunia yang disebut kekal dan abadi hanya semata-mata pengandaian untuk menjelaskan teori formanya.

Akibat forma ide yang dinyatakan Platon sebagai satu-satunya realitas, dengan otomatis mengandung implikasi-impliakasi totalitarian. Forma sebagai realitas universal yang mengatasi penampakan wujud material, juga akan tampak ketika negara di mata Platon sebagai satu-satunya medium yang mengatasi manusia beserta masyarakatnya.

Sudah disebutkan dari awal, masyarakat yang mengalami pembusukan hanya bisa diselamatkan dengan kehadiran negara paripurna yang tidak mengandung perubahan. Absolutisme inilah yang akan terang, bahwa satu-satunya figur yang mampu mengimplementasikannya hanya sang filsuf sebagai raja.

Ibarat raja-raja sebelumnya dari trah sang ayah, Platon meneruskan sentimen tradisi kebangsawanannya dengan mengartikan bahwa hanya filsuflah seorang yang layak memimpin negara. Dengan merelatifkannya kelas-kelas masyarakat di bawahnya,sang filsuf satu-satunya kelas elit yang paling layak berbicara perubahan atas nama negara.

Syahdan, jika memang ide-ide Platon merupakan pantulan terbalik dari cermin masyarakatnya, maka itu didasarkan atas dua hal. Pertama akibat trauma kehidupan masa mudanya yang tidak menemukan suatu keadaan masyarakat yang stabil dan mapan. Dan yang kedua, akibat tradisi kebesaran kebangsawanannya yang memberikan pengertian sedikit berbeda bahwa filsuflah yang paling layak mewakili kelas masyarakat dalam hal kepemimpinan. Itu artinya, kekuatan akal yang menjadi kaualifikasi seorang filsuf, hanyalah bentuk lain dari ikatan darah atau trah kebangsawanan yang hanya dimiliki dari orang-orang tertentu.

Jika demikian, siapakah sesungguhnya yang mampu mengubah sejarah? 


29 September 2016

Filsafat Indomie Mi Goreng

Seharusnya siapa pun Anda berterima kasihlah kepada makanan satu ini: Mi Goreng Indomie Instan. Makanan paling instan di jaman serba instan.

Ini bukan iklan. Tapi sekadar memfilsafati makanan sejuta umat ini. Makudnya, dari makanan remeh temeh ini, apakah ada sesuatu yang substantif tinimbang sekadar merasai gurihnya minyak sayur dan bumbunya yang asinasin sedap itu.

Ya. Kita ingin mencari keugaharian dari makanan seharihari ini. Sesuatu yang utama. Yang falsafati.

Lantas, bagaimana caranya menemukan keutamaan dari makanan yang paling banyak dicecap mahasiswa ini. Mari dibahas satu dua tiga hal.

Pertama dari cara dibuatnya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengandung kontradiksi? Jika belum, coba Anda membuatnya. Kadang melalui praktik, beberapa hal akhirnya nampak terang.

Jika sudah, dapatkah Anda menemukannya? Ya, tepat sekali. Mi goreng ini hanya namanya saja mi goreng, sebab saat Anda membuatnya ternyata dengan cara direbus. Bukankah itu kontradiksi? Sesuatu yang bertentangan dari caranya diciptakan? Bukankah lebih baik disebut saja mi rebus?

Kadang memang sesuatu nampak utama jika dalam prosesnya penuh pertentangan. Termasuk mi goreng ini, mengajarkan kepada kita terkadang hidup penuh pertentangan. Bukankah dari proses yang demikian kontradiktif itu, justru mengandung keugaharian?

Bukankah sesuatu akan nampak terang jika di dalamnya diperlukan pertentangan. Baik akan nampak baik jika ada keburukan. Terang hanya bisa dimengerti jika ada kegelapan. Begitu juga Anda menjadi jelek karena saya tampak gagah?

Jangan kecewa! Contoh di atas hanya mau menjelaskan dari mi goreng ini kita bisa belajar bahwa hidup itu penuh perbedaan. Tampak kontradiksi, tapi menyimpan keugaharian.

Kedua, dari komposisinya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengajarkan perlunya hidup seimbang. Bagaimana itu mungkin? Begini, jika anda penikmat mi goreng, maka Anda akan cepat memahaminya.

Ketika Anda selesai merebusnya, apa yang Anda lakukan? "Menyampur bumbubumbunya". Benar sekali. Tanpa penyampuran bumbubumbunya, Anda tidak akan menemukan kenikmatan rasanya. Hanya dari cara itulah Anda menemukan rasa nikmat. Hanya dengan keseimbangan bumbubumbunya.

Pelajaran yang kedua, ternyata mi goreng ini tersirat ajaran yang dahsyat. Yakni, dalam hidup ini dibutuhkan keseimbangan. Coba Anda bayangkan jika tidak ada keseimbangan dalam hidup Anda? Yakin dan percaya, hidup Anda bakal hancur lebur.

Kemudian, dari keseimbangan itu, tidak mungkin terjadi tanpa ada keterlibatan macammacam unsur. Mi goreng ini mengajarkan bahwa dengan minyak bumbu, bubuk cabe, dan kecap manis, kenikmatan dapat dimungkinkan.

Begitu pula hidup ini, tanpa pencampuran berbagai macam unsur, kelak hidup menjadi nisbi. Keugaharian hanya bisa jika ada berbagai macam perbedaan yang berjalan seimbang. Melalui cara itulah ideal kehidupan dibuat.

Bahkan, mi goreng ini mengafirmasi Platon --filsuf Yunani purba, yakni kebahagiaan dapat diraih jika "kepala", "dada", dan "di bawah dada" berjalan berseiringan tanpa melewati batasbatasnya. Kebahagiaan adalah bekerjanya sesuatu berdasarkan ciri khasnya masingmasing. Begitu kirakira maksud Platon.

Ketiga, yakni walaupun disebut mi goreng instan, tetap saja ada proses tahapan saat Anda menyajikannya. Pertama, Anda harus membuka bungkusannya, kedua, merebus air, dan terakhir Anda menyajikannya dengan menyampur pelbagai bumbubumbunya. Setelah itu Anda bakal kenyang.

Artinya, tiada yang terjadi dengan cara begitu saja. Semuanya mesti berproses. Bahkan jika Anda ingin cantik seperti Dian Sastro.

Jangan dikira, kecantikan Dian Sastro terjadi begitu saja. Dia cantik karena berproses. Tapi, tunggu dulu, kecantikan yang saya maksud bukan sekadar tampilan fisik belaka. Dian Satro cantik karena dia bisa dikatakan bertalenta. Dia punya karakter. Dan karakter itu datang dari "dalam kepalanya".

Ya, benar sekali. Itulah yang kerap dibilang inner beauty. Kecantikan yang lahir dari "dalam diri". Dan, semua itu butuh proses.

Dian Sastro punya kecerdasan inner beauty karena dia belajar. Banyak mendalami ilmuilmu saat mahasiswa. Mau melahap banyak bukubuku. Dan mau bersabar mendalami apa passionnya.

Bagaimanakah dengan Anda? Hidup sekarang memang banyak yang instan Bung. Tapi, bukan berarti membuat Anda menjadi serba instan pula. Ikuti proses, jalani dengan tekun apa yang menjadi tujuan Anda. Biarkan yang lain serba instan. Sesungguhnya mereka tak dapat apaapa.

Keempat, mie goreng yang Anda makan itu mengajarkan kebohongan. Maksudnya? Begini, jika Anda jeli memerhatikan bungkusan mi goreng Anda, maka apa yang terpampang di bungkusan dengan apa yang Anda sajikan bagai langit dan bumi.

Jika diperhatikan, di bungkusan mi goreng Anda tergambar sajian nikmat lengkap beserta telur setengah matang, dua biji udang rebus, seiris tomat segar, butiran kacang polong, dan sedikit acar beserta irisan bawang merah. Namun itu tidak terjadi saat Anda menyajikannya di rumah. Apa artinya? Itu yang saya maksud kebohongan.

Begitulah, dari mi goreng itu, Anda diajarkan jangan cepat percaya apa yang sedang tampak di hadapan Anda. Apa yang sedang Anda lihat, dengar, dan rasakan. Melainkan kadang apa yang Anda sedang saksikan justru berbeda jauh dari yang sebenarnya terjadi.

Sering Anda menyaksikan begitu nyamannya keindahan sebuah kota, tapi bisa jadi sesungguhnya itu hanya tiupan belaka. Justru di balik itu tersembunyi keadaan yang sebenarnya, pemukiman kumuh, misalnya.

Kadang Anda percaya statistik minat baca yang rendah, padahal yang terjadi tidak demikian. Justru yang Anda baca, punya maksud membuat Anda percaya, bahwa memang minat baca suatu masyarakat betulbetul rendah, padahal jauh panggang dari pada api. Sesungguhnya itu juga belum tentu benar.

Seperti itulah, mi goreng yang sudah berharga duaribu lima ratus ini, secara tersirat menyatakan apa yang tampak belum tentu mewakili apa yang sesungguhnya terjadi.

Terakhir, apa keugaharian yang paling dahsyat dari semua ini? Kesederhanaan. Ya, kesederhanaan. Mi goreng ini mengajarkan walaupun Anda bisa melahap segalanya, punya banyak duit, seorang jutawan, jika Anda memilih makanan ini, maka sebenarnya Anda memilih cara menikmati makanan dengan sederhana.

Tapi, di kondisi lain, jika Anda memilihnya sebagai makanan utama, maka itu bisa jadi tandatanda kehidupan ekonomi Anda sedang dilanda krisis? Baiklah saya kadung lapar. Percayalah.


22 Maret 2016

Sinisme Sang Filsuf

Akhirnya cara menjawabnya harus dimulai dari seorang nama tua: Platon. Platon, yang filsuf itu punya pandangan tentang Philosopher-King. Tatanan masyarakat baginya harus diatur oleh seorang filsuf. Manusia yang punya kualitas kontemplatif. Seorang filsuf diandaikan sebagai kepala masyarakat. Sang filsuf dengan begitu, dengan kualitas kebaikannya jadi kelas ideal bagi Platon.

Boleh jadi,  jika mau sedikit kritis, semesta pemikiran Platon, terutama pemosisian sang filsuf sebagai puncak teratas hirarki sosial, berangkat dari semacam sinisme. Bagaimana pun idealnya sang filsuf, profesi yang lainnya selalu secara hirarkis di bawah posisi sang filsuf. Pertama, konsekuensinya, semesta pandangan Platon masih melihat tatanan terdiri dari kelaskelas. Akibatnya, hanya sang filsuflah sebagai manusia yang mampu menjamin kebenaran, kebebasan, keindahan, dan kejujuran, sedang yang lain hanya bagian yang subordinat.

Dari konteks negara kota (Polis), yang mengikuti tatanan tiga tingkatan, kaki-badan-kepala, sang filsuflah yang ideal sebagai kepala negara. Akibatnya, politik dianggap sebagai pekerjaan yang derivatif. Bahkan kalau mau bincang politik, seseorang harus mengambil optik filsafat. Artinya dengan terang optik akal budi, sang filsuflah yang punya tugas mengurusi kehidupan politik. Bagi Platon seorang negarawan haruslah seorang filsuf. Begitu kirakira maunya.

Akibat dari itu muncul pembelahan. Sang filsuf berbeda dengan orang biasa adalah orang yang punya tugastugas penting kenegaraan (das sein). Sebaliknya, orang biasa hanya mengurusi soalsoal cetek kehidupan seharihari (das sollen). Sang filsuf tugasnya lebih utama bersentuhan dengan akal budi, tatanan abstrak yang menuntut konsentrasi tingkat tinggi. Melalui itu negara diatur dan diberlangsungkan. Sedangkan orangorang biasa hanya mengikuti hasil refleksi sang filsuf.

Sinisme kedua, Platon punya kelompok elit intelektual. Yang ini dikenal sebagai Hekademia (akademia), kelompok intelektual yang hidup terpisah dengan polis, masyarakat umum.  Ini yang dibilang Hanna Arendt, perempuan pemikir politik abad 20,  sebagai sikap elitis. Sikap ini dinyatakannya sebagai cara kaum terdidik untuk mengungkapkan kebebasan elitis yang hanya dipunyai khusus selain dari masyarakat umum.

Kebebasan ini paralel dengan waktu luang yang tidak dimiliki masyarakat umum terutama kaum budak. Waktu luang yang dipunyai ini, secara epistemik memberikan syarat material dan pemikiran kepada kaum terdidik untuk asyik tenggelam dalam percobaanpercobaan pemikiran kontemplatif. Implikasinya, secara politik, kaum terdidik jauh dari kecenderungan banyak orang yang hidup secara berbeda. Itulah sebabnya, kecenderungan politik kaum terdidik lebih mengutamakan kebebasan sebagai sarana akal budi untuk berpikir, dibandingkan tuntutan material lainnya yang memang bukan bagian dari kehidupannya seharihari.

Karena itu kaum terdidik selalu memuja kebebasan sebagai tujuan sikap politiknya. Pun kalau mereka terlibat dengan suatu perjuangan politik, itu hanyalah anasir dari tuntutan kebebasan yang dikehendaki. Akibatnya, sikap politik kaum terdidik seperti ini adalah sekaligus sikap elitis atas hirarki yang menempatkan kaum terdidik sebagai kelas tertentu. Mengacu sejarah perubahan dunia, hampir semua perjuangan politik dengan nama demokrasi adalah hasil dari tuntutan kebebasan kaum terididik.

Sang filsuf atau kaum terdidik dengan previlage tertentu dengan begitu adalah kelas yang lahir dari pemisahan sejak awal yang ditunjukkan Platon dengan Hekademianya. Posisi akademia yang berjarak dengan tatanan Polis, bukan sekedar kesenjangan secara demografis, melainkan juga menggambarkan betapa jauhnya “hal ihwal kaum terdidik” dengan “tetek bengek masyarakat umum”.  Pemilahan ini akhirnya menjadi skema tatanan sejarah masyarakat yang membagi masyarakat atas “kepemilikan ilmu”,  yang sudah dimulai Platon.

Imbas dari berjaraknya dunia intelektual dengan aktifitas seharihari masyarakat, juga mengakibatkan perubahan objekobjek ilmu yang bergerak dari “partikularitas” peristiwa seharihari menjadi “universalitas” hal ihwal keilmuan. Ilmu akhirnya tidak tertuju pada ikatanikatan sosial masyarakat dengan kebutuhankebutuhan mendasarnya, melainkan sibuk menyoal hububunganhubungan proposisi demi tuntutan ilmu itu sendiri.

Sinisme sang filsuf juga tampak dari antagonisme filsafat atas sastra. Sikap ini dimulai Platon dengan memandang sastra sebagai bidang ilmu yang hanya menjiplak kenyataan. Sastra dibilangnya tak mampu menjadi perangkat manusia menangkap kenyataan “yang ideal”.  Sastra dengan model yang lebih banyak dibentuk lewat gaya bahasa, dianggap hanya “bermainmain” tanpa bisa memberikan kebenaran yang bersifat ideal. Anggapan ini didaku Platon karena melihat sastra hanya sibuk berkutat pada soal bentuk, bukan “isi” seperti yang disebut Platon hanya bisa ditemukan dalam filsafat.

Universalisme filosofis yang jadi horison pikiran Platon, dengan sendirinya menolak bentukbentuk partikularitas yang diajukan dari gaya berfilsafat Aristoteles. Bahasa akhirnya, melalui gaya Platon, harus memikul beban makna yang universal untuk menyebut “ideal type” yang dibilangnya hanya dimungkinkan melalui filsafat. Sastra yang sering kali menangkap halhal partikular, bukanlah objek filsafat itu sendiri. Akibatnya, universalisme yang diharapkan Platon, sebenarnya adalah pelecehan terhadap kenyataan yang bisa saja terjadi dengan beragam kemungkinan dari kejadiankejadian seharihari yang partikular.

Yang terakhir adalah soal konsep form yang terkenal itu. Platon, membagi dua dunia. Dalam imajinasi pemikirannya dia meyakini suatu dunia baqa yang tak tersentuh sejarah. Suatu tatananan yang tak berubah dan bergerak.  Di sana jiwa bebas mengenali bentukbentuk ideal. Platon menyebutnya archetype, yakni bentukbentuk ideal dari sesuatu yang tampak di dunia. Dunia archetype adalah dunia yang sebenarnya, karena di sanalah “sesuatu yang ideal” bersemayam. Di sanalah yang esensil. Platon menyebut dunia itu Alam Idea, dunia sebelum tubuh tercipta.

Melalui konteks itulah Platon menyebut dunia tubuh adalah bayangbayang. Bukan yang esensil akibat mudah berubah, kumpulan yang mudah hancur. Tubuh dia bilang adalah kuburan Jiwa. Tubuh, adalah sebab jiwa tak mampu mengenal kembali yang ideal pasca dia turun kedalam kubangan serat daging. Akibatnya, tubuh harus ditinggalkan, jiwa harus lurus mengacu ke dalam yang universal esensil, dunia asali nun jauh “di atas” sana.

Monisme Platonian ini diamdiam akhirnya menyimpan sikap sinis terhadap dunia tubuh. Dunia seharihari, akhirnya menjadi tatanan yang tak layak dirundung soal. Sebab yang terkandung di dalamnya hanyalah sementara belaka, hanya bayangbayang semata. Hirarki dua dunia ini berimplikasi hanya menempatkan alam archetype  sebagai satusatunya realitas yang layak diperjuangkan.

Syahdan, sinisme sang filsuf ibarat sikap keras Platon atas filsafat sebagai satusatunya jalan mendedah dunia. Dan, saya kira, sikap semacam itu adalah bentuk lain dari totalitarianisme epistem yang mengklaim bahwa filsafatlah satusatunya ibu pengetahuan. Filsafat karena menjadi satusatunya rahim ilmu bermula, maka dialah yang punya semacam wewenang menentukan jalan sejarah pengetahuan. Sampai kiwari,  hanya filsafatlah yang disebut jalan kebahagiaan, jalan kebijaksanaan, atau bahkan jalan keselamatan. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menolak filsafat?

03 Desember 2015

Filsafat itu Dialog


Santo Thomas Aquinas
 Frater Dominikan Italia. Imam Katolik, dan Doktor Gereja (Pujangga Gereja). Ia juga adalah teolog, dan filsuf yang sangat berpengaruh dalam tradisi skolastisisme. 
Thomas Aquinas juga dikenal karena memadukan ajaran kristiani dengan filsafat Aristotelian. 
Karya-karyanya yang paling dikenal adalah Summa Theologiae dan Summa contra Gentiles

FILSAFAT sebetulnya adalah dialog. Jadi bukan sekadar aktifitas monologis untuk merenungkan suatu segala, tapi peristiwa dua arah untuk mempercakapkan segala ihwal. 

Filsafat sebagai dialog bekerja di dua lapisan sekaligus; intrapersonal dan interpersonal. Di tingkatan pertama, filsafat bergelut dengan "aku yang berkesadaran" di dalam kesadaran itu sendiri, sementara di tingkatan kedua, "aku yang berkesadaran" dengan aku yang lain di luar dirinya.

Tingkatan pertama, filsafat dimulai dari permenungan mendalam, sedangkan di lapisan kedua, filsafat bekerja dengan percakapan antara dua subjek.

Itulah mengapa, philia yang berarti cinta, membutuhkan dua subjek yang hadir bersamasama. Karena cinta hanya bekerja apabila diandaikan pada dua orang yang saling berdialog. Di saat dialog, dua subjek memiliki posisi yang setara tanpa yang satu memonopoli percakapan. Hanya dengan itulah percakapan bisa berlangsung tanpa menjadi khotbah, seimbang tanpa diskriminasi. Melalui dialog cinta menjadi penyetara antar dua subjek.

Cinta yang tanpa dua subjek untuk saling mempercakapkan, adalah narsisme, tindakan menyenangi diri sendiri. Sementara cinta antara dua subjek adalah persahabatan (philia). Fisafat sebagai dialog, dengan begitu berwatak sosial. Tiada filsafat yang berwatak antisosial. Jika semenjak mula, filsafat tidak dibangun dengan cara dialog, maka filsafat tidak mungkin berkembang dalam sejarah.

Socrates memulai filsafatnya dengan cara bercakapcakap. Dia berdialog dengan banyak orang. Membangun gugus percakapan dengan cara mempertemukan pendapatnya dengan pendapat khalayak tentang hal ihwal. Kelak, cara ini disebut dengan dialektika, yakni memperhadapkan dua asumsi untuk mengambil titik temu (sintesa) antara keduanya. Model seperti ini akan berkembang sebagai  salah satu mekanisme filsafat untuk menemukan kebenaran.

Platon, murid Socrates, juga menempuh cara dialog untuk memulai aktifitas filsafatnya. Bahkan, salah satu karyanya berjudul Dialogue. Melalui buku itu, Platon pelanpelan memperkenalkan filsafat melalui hasil percakapannya dengan gurunya. Bahkan pada titik tertentu, kitab yang merekam dialog Socrates dengan muridmuridnya itu, adalah reportase pertama di dalam sejarah manusia yang memperlihatkan bagaimana suatu peristiwa dapat direkam untuk dikabarkan kepada khalayak.

Syahdan, Socrates dan Platon mengajarkan dua hal, yakni filsafat harus dikerjakan secara bersamasama antara dua sahabat yang bercakapcakap, dan dengan cara reportase Platon, filsafat diperkenalkan sebagai informasi yang bisa dikonsumsi banyak orang. Dengan alasan ini, tidak bisa tidak, filsafat harus disebut sebagai pekerjaan sosial.

Dunia sosial adalah dunia yang jamak. Begitu banyak ragam manusia memberlangsungkan kehidupannya. Dimulai dari lahir, manusia sudah membawa sidik jari yang berbeda, hingga model bahasa, agama, dan kebudayaan yang juga berbeda. Melalui perbedaan itu, manusia bertukartangkap saling memahami. Dengan purnaragam perbedaan, manusia dituntut saling menghargai perbedaan.

Filsafat yang berarti pekerjaan sosial, dengan sendirinya memungkinkan filsafat sebagai medium untuk menjadi bijaksana. Sophia, yang berarti kebijaksanaan, tidak dengan sendirinya hanya berhubungan dengan aspek semantik bahasa belaka, melainkan bagaimana kebijaksanaan hanya berarti apabila itu diberlakukan kepada dua orang atau bahkan lebih.  Sama seperti predikat ayah hanya berlaku bagi seorang suami ketika memiliki anak, bijaksana hanya bernilai apabila ia diterapkan di dalam hubungan perbedaan antara dua ragam obyek atau bahkan lebih.

Artinya tiada kebijaksanaan yang lahir dari keseragaman. Dengan cara itu pula, kebenaran di dalam filsafat diberlangsungkan melalui beragam perbedaan perspektif. Sebagaimana hukum dialektika, kebenaran hanya lahir ketika perbedaanperbedaan diperhadapkan untuk dipercakapkan.

Percakapan sebagai metode menemukan kebenaran, nampaknya juga adalah sifat sejarah filsafat. Yunani pra sokratik menuju pasca sokratik, ditengahi oleh dialog tematema kosmologi antara Thales hingga Aristoteles. Dari masa Hellenis hingga Abad pertengahan, dihubungkan dengan percakapan antara filsuffilsuf Stoa sampai Thomas Aquinas. Dan dari masa modern hingga postmodern, filsafat selalu diucapkan dengan cara dialogis melalui Machiavelli hingga Slavoj Zizek. Dengan begitu kebenaran dari masa ke masa senantiasa berkembang melalui percakapan dengan zaman sebelumnya, membentuk pola kebudayaan seiring perkembangan masyarakat.

Berdasarkan perkembangan masyarakat, maka filsafat dengan cara dialog dan sifat sejarahnya, adalah suatu pekerjaan terbuka. Berbeda dengan agama misalnya, kebenaran yang diberlakukan secara terbuka, harus menanggung resiko untuk selalu mengalami perubahan, karena dengan cara itulah kebenaran filsafat memurnikan dirinya. Berbeda dengan agama, filsafat harus selalu membuka diri untuk senantiasa memperbaharui kebenaran yang dikandungnya.

Bisa jadi, karena itulah nampak perbedaan mencolok antara seorang agamawan dengan seorang filsuf memberlakukan kebenaran. Seorang agamawan dalam memberlakukan kebenaran selalu dengan fixed minded, sementara seorang filsuf mengakrabi kebenaran dengan cara open minded. Itulah mengapa kebenaran seorang filsuf, dipandang tidak sebagaimana wahyu di dalam agama, karena kebenaran adalah ihwal yang manusiawi; bisa berubah kapankapan saja.

Kebenaran yang bersifat manusiawi dengan sendirinya berdimensi sosiologis lebih ketimbang teologis. Kebenaran yang berwatak sosiologis berarti kebenaran yang muncul dari ragam orang yang berbedabeda, lahir dari orang banyak dan dipercakapkan melalui banyak mulut. Berbeda dengan agama yang bermula dari satu persona tertentu, walaupun akhirnya diperuntukan untuk banyak orang. Perbedaan paling mendasarnya adalah, filsafat bisa datang dari bibir banyak orang, sementara agama hanya bermula dari bibir satu nabi.

Filsafat juga memungkinkan lahirnya lingkungan percakapan yang lebih demokratis, disebabkan karena kebenarannya dapat dipercakapkan oleh banyak orang. Berbeda dari agama yang memiliki kecenderungan suatu hierarki  ketika menyelengarakan suatu kebenaran. Dari sudut pandang ini maka, kebenaran di dalam filsafat membangun pola yang melingkar ke luar, sementara agama justru masuk bergerak ke dalam pada suatu poros yang menjadi pusat. Kecenderungan ini dapat disaksikan jika suatu wacana berkembang di dalam suatu tindak verbal, maka agama akan berpulang kepada suatu titik legitimated, sementara filsafat justru berkembang dengan mendelegitimade suatu keputusan yang telah tetap sebelumnya.

By the way
, filsafat adalah cara manusia menjaga agar pikiran tetap bekerja, dengan cara dialog, melalui omongomong sederhana dengan cara yang hikmat. Dengan begitu filsafat bukan ilmu yang penuh dengan perbincangan yang berat. Apalagi sangkaan yang angker.


12 Februari 2015

madah duapuluhtiga

Konon, di Yunani purba, tubuh merupakan wakil kebaikan dan keuletan. Ia adalah penanda supremasi manusia. Olimpiade, misalnya,  yang dilakukan selama empat tahun sekali di lereng Gunung Olimpus, merupakan pemujaan terhadap tubuh yang ideal. 

Bahkan dalam filsafat, Aristippus, teman Socrates, mengidealkan tubuh sebagai ajaran etika. "Kesenangan tubuh jauh lebih baik dari kesenangan jiwa." Di Yunani sepertinya, tiada jiwa yang ideal tanpa tubuh yang ideal.

Itulah  ada adagium yang akrab; mens sana in corpore sano, di balik tubuh yang kuat, ada jiwa yang sehat. Di balik seratserat otot yang padu, terdapat jiwa yang utuh.

Namun itu di Yunani, suatu masa ketika tubuh ditempatkan sebagai ekspresi atas yang ideal, yang dipuja dan dipuji. Sesuatu yang sempurna.

Bagi sebagian orang ada keyakinan tubuh adalah medium kejahatan. Tubuh sudah terlanjur dianggap musuh kemurnian. Tubuh adalah ruang yang gelap dan tak harus dicandra. Dari itu, tubuh dijauhi. Dari itu, tubuh diasingkan.

Di Yunani sendiri, sebelumnya ada Platon. Ia berpendapat tubuh adalah kuburan jiwa. Jiwa diandaikannya sebagai entitas ideal yang murni, yang disebutnya hidup dalam archetype. Di sana adalah kebebasan sejati, jiwa hidup bebas dan tiada batas. Namun jiwa mengalami keturunan dan terperangkap dalam tubuh. Jiwa, yang semula hidup bebas akhirnya terpenjara dan terkurung. Dan tubuh adalah dunia yang gelap bagi jiwa; bayangbayang.

Maka itu tubuh dipandang nisbi dan membelenggu. Tanda nisbi pada tubuh, yakni sesuatu yang mengalami spasial. Tanda pembelengguan pada  tubuh, yakni ia meruang dan itu berarti ada jarak dan terbatas. Oleh sebab itulah, tubuh tak memberikan kebebasan. Oleh sebab itulah jiwa mesti dibebaskan. 

Platon memang memiliki pandangan yang tak sepenuhnya mewakili keyakinan umum Yunani. Pandangannya yang diimplisitkan dalam filsafatnya tak juga dapat dikatakan adalah produk kehidupan Yunani. 

Namun Platon tak bisa lepas dari tubuh sebagai modus keyakinannya dieksplisitkan. Sebut saja tumos, salah satu bagian tubuh yang ia sebutkan dalam menjelaskan arete sebagai jalan keutamaan. Tubuh nampaknya, dalam pikiran Platon adalah apa yang disebut Socrates sebagai perangkap jiwa; kelemahan yang terus menerus memotong, mengganggu, memecahmecah dan menghalangi manusia dari kebenaran.

Barangkali sebab itulah tubuh dianggap bertentangan dengan kehendak jiwa. Barangkali inilah maksudnya; yang utama bagi Platon adalah jiwa. Yang ideal bagi Platon adalah unsur yang tak dapat dibagi; sesuatu yang tak berkekurangan; sesuatu yang disebut ultim. Atau apa yang disebut yang real. 

Maka itu yang lain hanyalah bayangbayang; yang lain adalah semu; yang lain adalah palsu; dan yang lain adalah pantulan dari yang substansi. Jika yang lain sudah seperti pantulan, barangkali wajar saja yang lain akhirnya sesuatu yang tak layak diutamakan.

Dengan demikianlah tubuh dilabeli dan diberikan arti yang defenitif; sesuatu yang rendah dan tak berarti. Juga dalam agama, tubuh adalah elemen yang tak selamanya bersih dari sumbersumber petaka. Tubuh dalam agama, sama dengan arti pengutamaan atas jiwa. Tubuh dalam agama, sama berarti adalah bagian yang ditundukkan atas superioritas jiwa.

Tapi ada sebuah keyakinan; firman telah menjadi daging. Ini ada dalam maksud seperti yang dimiliki Kristiani, yakni tuhan menjadi manusia. Keilahian dimanusiakan dan ini juga berarti sebaliknya, segala "kedagingannya", kemanusiaan diilahikan. 

Sebuah tubuhkah daging itu? Yang pasti ada kisah disaat perjamuan terakhir; “Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memotong-motongnya, lalu memberikan kepada murid-muridnya dan berkata; ambillah, makanlah, inilah tubuhku. Sesudah itu ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata; minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab ini darahku.” (Matius 26: 26-27)

Dalam itu, ada sebuah peristiwa menyangkut tubuh yang disucikan. Daging, yang nampaknya dianggap tak memiliki apaapa diubah menjadi hal yang mitis, bahkan ilahiat. Tubuh dalam perjamuan itu ibarat suatu bagian yang tak terpisah dari yang ilahiat. Dalam kisah itu, sang juru selamat berkata; “ambillah, makanlah, inilah tubuhku.” Ada yang ditranformasikan disitu, bahkan ada yang tidak sekedar diubah di situ, melainkan dicipta, yakni yang dalam Platon adalah "kuburan jiwa", justru menjadi bagian yang kudus.

Sementara yang kudus dalam tubuh, hari ini, justru perayaan atas tubuh yang lain, yakni tubuh yang tak pernah disentuh yang kudus. Yang ilahiat, atau yang kudus, hari ini juga ditranformasi. Namun, bukankah saat ini kita samasama tahu apa arti tubuh dalam pasar? Bahkan apa arti tubuh dalam kekuasaan? Hari ini tubuh yang ditranformasi, entah itu pasar atau kekuasaan atau lainnya, adalah tubuh yang bukan milik kita. Tubuh yang tanpa pribadi.

12 Oktober 2013

Antara Jurnalisme dan Filsafat

Konon sikap jurnalis dan filsuf cenderung berbeda terutama memperlakukan kebenaran.

Di tangan  jurnalis kebenaran menjadi pesan informatif. Bagi filsuf kebenaran diberlakukan lebih reflektif. Jurnalis sigap terhadap kenyataan, sementara seorang filsuf justru tenang di hadapan kenyataan.

Seorang jurnalis, menjadikan dunia faktual sebagai titik tolak pena dan kertasnya. Sementara bagi seorang filsuf, dunia faktual tidak lebih penting dibanding dunia abstrak-teoritik sebagai dunia kerjanya.

Dengan kata lain, kesigapan wartawan menjadikan kenyataan luar (fakta) sebagai sumber berita. Sedangkan dunia dalam (makna) merupakan medan “kabar” bagi pikiran reflektif seorang filsuf.

Tetapi apa sesungguhnya hubungan di antara keduanya? Apa sebenarnya sumbangsih keduanya terhadap kehidupan manusia di saat seperti ini?

Sikap filsuf dan seorang jurnalis boleh jadi berbeda menghadapi kebenaran. Namun ada kenyataan yang tidak bisa disanksikan: keduanya didorong hasrat yang sama untuk mengungkap kebenaran.

Dengan kata lain, keduanya sama-sama bekerja dalam perkara yang sama. Seorang filsuf sudah tentu mendedah dan mendaur kebenaran, maka seorang jurnalis, seperti kata Bill Kovach, seorang veteran jurnalis Amerika Serikat, bertugas melayani kepentingan publik dengan melaporkan kebenaran.

Imbas tuntutan yang berbeda, sangat sedikit nama-nama, taruhlah seorang filsuf atau sebaliknya, seorang jurnalis, yang bergerak di antara irisan dunia filsafat dan jurnalisme.

Filsafat kadang menilai realitas sebagai medan kompleks di balik kenyataan yang sederhana. Atau sebaliknya, di balik kenyataan sederhana tersembunyi fenomena kompleks.

Sedangkan di mata seorang  jurnalis, entah berupa kenyataan sederhana atau kompleks, jika itu adalah kebenaran, keduanya mau tidak mau mesti dikabarkan.

Barangkali hanya Jean Paul Sartre atau Albert Camus, yang berani mengabdi di dalam dunia yang berbeda itu.

Keduanya di masa pasca Perang Dunia ke-2, kerap menulis di media massa Perancis. Sartre maupun Camus memperagakan praktik jurnalisme sebagai medium manyatakan gagasan filosofisnya. Atau, Hannah Arendt melaporkan hasil reportasenya menyangkut kekejaman Nazi melalui wawancaranya terhadap Adolf Eichmann, sekitar 1960-an. Selebihnya tak banyak nama filsuf yang mau melibatkan diri pada kegiatan jurnalisme, atau sebaliknya.

Tetapi apakah keduanya tak bisa didamaikan di mana keduanya justru bisa saling memberikan arti satu sama lain? Mengingat praktik jurnalisme sudah dicontohkan Plato dari 2500 tahun yang lalu?
Karangan Platon, Dialog¸ sadar tidak sadar adalah hasil reportase. Ia merekam detik-detik terakhir Socrates menjelang kematian. Dari reportase Platon itu, yang mewakili suara Socrates, dunia bisa paham tentang risiko kebenaran: kematian.

Selain kematian, apa sesungguhnya risiko jurnalisme dan filsafat yang lain? Apa maksud kejujuran bagi keduanya. Apa pesan bisa kita peroleh dari kematian seorang Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, misalnya, setelah nyawanya direnggut orang-orang tidak dikenal? Apakah kita harus bersedih hati dari kematian seorang jurnalis ataukah seorang filsuf? Ketika kebenaran pada akhirnya tak pernah sampai kepada khalayak?




JURNALISME dunia yang memperjuangkan kebenaran adalah dunia yang mengedepankan akurasi atas fakta-fakta temuan. Sebuah informasi harus bernilai objektif seperti terjadi di lapangan. Demikan karena jurnalisme mengharamkan interest pribadi. Opini adalah barang haram yang merusak nilai sebuah informasi. Maka dari itu seorang jurnalis harus mengerti tentang batas antara kepentingan pribadi dengan objektifitas suatu temuan lapangan.

Sementara filsafat tidak berhenti sampai batas dunia faktual kegiatan jurnalistik. Sang filsuf tidak ingin begitu saja menerima kenyataan apa adanya seperti di mata seorang jurnalis. Pekerjaan filsuf justru masuk di balik penampakan fenomena.

Artinya, seorang filsuf akan menimbang fenomena dari sudut pandang tertentu. Ia bekerja berdasarkan kategori-kategori logis yang bisa saja berbeda dari fenomena di hadapannya. Dari pengertian inilah barangkali Marx berangkat: tugas seorang filsuf bukan sekedar menangkap kenyataan, melainkan turut mengubahnya.




AWALNYA melalui tulisan ini saya ingin menulis sesuatu berkaitan dengan media massa. Tentang posisi media massa di keberbagaian kepentingan politik dan pasar. Namun, apalah dikata, terkadang sulit mengapresiasi ide-ide ke dalam lembaran bahasa yang layak. Apalagi, belakangan muncul kekhawatiran terhadap kekuatan kata. Kata-kata di era deru deras revolusi komunikasi, malah acapkali sulit dipertanggungjawabkan.

Maka saya akhiri saja tulisan ini walaupun nawaitu tulisan ini belum dapat terealisasi.

01 Oktober 2013

Di Ambang Kenyataan; Beban atau Peluang?

Martin Heidegger, dengan pemikiran ontologinya yang rumit, pernah memaktubkan gejala mendasar dan problematis, pada metafisika Barat- dengan seluruh totalitasnya sudah lupa- terhadap Ada. Di suatu waktu ia berkata, kita lupa terhadap sesuatu yang sederhana namum begitu fundamental; Ada. Yang terlupakan adalah entitas yang mendasari adaan yang lain. Sesuatu yang mengendap pada dasar kenyataan yang nampak, metafisika Barat dengan seluruh tradisinya terjangkiti penyakit yang segera harus dibersihkan dari kategorikategori yang dianggap gagal membaca kenyataan. Demikian sehingga telah membawa manusia melupakan dasar keberadaannya.

Semenjak Parmenides sampai Sokrates, Platon hingga Kant; metafisika sebagai filsafat awal, tengah mengalami kecemasan. Filsafat guyah dari sendisendinya. Yang dahulu deskripsi tentang Ada menjadi anasir utama akhirnya harus terpinggirkan. Kemungkinan manusia untuk mendapati dan menggapai Ada; kenyataan sublim, akhirnya mengalami jalan yang buntu. Manusia akhirnya tergugat, bahwa manusia bukanlah mahluk yang mampu mengatasi kenyataan.

Namun apa yang sebenarnya diyakini sebagai kenyataan yang sublim; ihwal segala yang mendasar, sesuatu yang bagianbagian turut di dalamnya, yang sebenarnya dipahami sebagai ia yang sesungguhnya tak telibat dalam sesuatu. Soal yang tak berubahubah diantara nampakannampakan yang silih berganti. Atau sesuatu yang lain di mana semua bergantung padanya, dan tiada perubahan mensifatinya, sesuatu yang dibilangkan sebagai pusat,  subtansi. Lantas apakah kenyataan yang guyah ini, tak pejal adalah kenyataan yang satusatunya,  sehingga daripadanya bersandar seluruh totalitas keberadaan lainnya dan akhirnya menampik perihal yang tetap, universal, sehingga kita harus beralih pada situasi yang tak menentu.

Dimulai dari Kant, di tanganya semuanya berbalik. Kenyataan; realitas hakiki, sebagai yang tak berubah harus ditinggalkan sebagai bentuk keterbatasan manusia. Oleh sebab, ihwal yang subtantif hanyalah kesan yang berada diseberang kesadaran, sesuatu yang tak menampil kejelasan. Selubung adaan yang tak mengenal identitas, yang di balik kenyataan, semesta yang tak dikenali oleh apa yang ia terakan sebagai noumena. Sehingga mulailah batas dipancangkan oleh kesan yang diwartakan; manusia dengan  cogitonya tak mampu menyeberangi lebih jauh, fasih untuk memberikan prediksi pada sesuatu yang tak dikenali. Manusia, dengan akalnya punya batasan.

Sebelumnya, Immanuel Kant, seorang filsuf rasionalis yang saleh, yang taat dalam soal waktu itu, ternyata dibangunkan dari tidurnya yang berkepanjangan. Oleh Hume, filsuf empirisme Inggris menghentak kesadaran rasionalis Kant. Dia dibangunkan pada kenyaataan yang berbeda, tentang asumsi yang lain daripada sebelumnya, bahwa tiada keberadaan yang universal, sesuatu inti yang tetap dan absolut, suatu subtansi, oleh sebab kenyataan adalah suatu yang mengalir tak tetap. Bahwa apa yang disebut dasar kenyaatan, yang prime adalah pengetahuan yang tak bisa dilacak muasal keberadaannya. Dan seperti apa yang pernah diwartakan berabadabad yang lalu, oleh Heraklitos, di mana kita tak bisa melangkahkan kaki untuk kedua kalinya pada aliran sungai yang sama.

I freely admit that remembrance of David Hume was the very thing that many years first interrupted my dogmatic slumber and gave a completely different direction to my researches in the field of speculative philosophy ((prolegomena, 1997;10), Donny Gahral Adian)   
     
David Hume, dengan prinsipnya nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu, memanglah seperti sebilah godam. Ia menghantam tepat dijantung seluruh asumsi filosofis yang menetapkan keyakinan terhadap subtansi, yang universal, bahkan yang ilahi dengan mengembalikannya pada kesan yang primer yakni sensibility. Sensibility adalah fakultas yang utama dalam mencandra kenyataan, berupa bendabenda, hubunganhubungan, kualitas, kuantitas, modalitas dsb, sebab sensibilitylah kesan yang paling kuat menangkap objekobjek. Dengan keyakinannya demikian, daripadanya ia menolak bayangbayang yang bernaung di dalam benak imaji manusia. Dengan tegas prinsip tiada kesan sesuatu pun dalam pikiran yang tiada berawal dahulu pada penampakan inderawi akhirnya ditotalitaskan.

Darimana akhirnya permulaan itu? Tentang padanan kenyataan adalah apa yang terinderai. Mengenai perihal yang menolak ideide platonian itu? Atau kategori yang dianggap nyata adalah apa yang dipersentuhi oleh kesan indrawi kita? Sesungguhnya asumsiasumsi demikian adalah bentuk yang tak jauh dari apa yang dibilangkan oleh Aristoteles. Di umur 18 ia menjadi murid Plato, belajar giat di Academia dan setelahnya menjadi orang yang menolak apa yang pernah diterimanya. Aristoteles merombak gagasan Platon tentang subtansi yang bersemayam di alam Archetype, alam bentukbentuk; alam yang di luar alam indrawi. Sebab Platon memiliki iman terhadap dua dunia, yakni dunia yang diendapi ketakmenentuan, cenderung berubahubah, dan akhirnya semata semu, dan yang ideal, immortalitas bentukbentuk, dunia idea, tempat jiwa pada waktu ia total mengetahui. Darinya Platon, menolak yang semu dan menerima subtansi yang sesungguhnya adalah apa yang ada di luar sana, dunia idea.

Tetapi bukankah, yang subtansi adalah apa yang nyata di hadapan mata. Dan bukankah ia adalah perihal yang tak jauh dari tangkapan retina kita. Subtansi adalah apa yang menyatu pada tampilan kongkrit bendabenda, bukan pula seperti apa yang ada di dunia idea. Melainkan merupakan adalah apa yang menampakkan benda itu dapat dimungkinkan, yakni subtansi sebagai bagian dari morph dan hyle  yang berpeluang untuk diaktuskan, yakni berupa potensi. Daripanyalah subtansi akhirnya bukanlah esensi yang berada di langitlangit Platonian, melainkan padu rapat pada bendabenda.  

Akhirnya dengan cara pandang demikian, kita menerima kenyataan berdasarkan kategorikategori yang menyelubungi kenyataan. Dengan merangkak naik ke atas dan mengukurnya dengan prediksiprdiksi yang terukur. Oleh aturanaturan subtansi, universal, tak berubahubah dan pejal. Dengan penalaran yang rigoris; sebuah cara pikir yang sistematis dan tertata. Tetapi apa hak kita dari kenyataan yang kita berikat predikasi, mengenai ukuranukuran yang sebenarnya tak mampu ditinjau secara total? Dan itulah yang disebut dengan kenyataan Ada? Bukankah itu adalah konstruksi metafisika yang tergenang di dalam anti metafisika? Dan di sinilah Heidegger membawa pikirannya menjauh dari selubung yang belum keluar dari dikotomi terhadap kenyataan.

Bahwa kenyataan adalah dunia alam beserta dengan seluruh isinya, seluruh peristiwa yang di alami. Sesuatu yang tunggal dan tak terbelahbelah, yang dialami, kemudian digeluti dan dihayati. Yang oleh ia disebut dengan lebenswelt, kehidupan yang dikesani tanpa tedeng alingaling pretensi susun yang mengkontruksi kenyataan. Sebuah kenyataan yang present dan bukan representasi pikiran. Dari padanya kemudian kenyataan adalah bukan yang berdiri di atas konstruksi bangunan pemikiran yang penuh dengan indikatorindikator, melainkan hidup yang teralami, ada di dalam dunia.

Maka lupa itu dipecahkan dengan Dasein ( da: di sana, sein: ada) keberadaan satusatunya yang mampu mempertanyakan kembali Ada. Dengan cara  menjadikannya sebagai bentuk penyingkapan terhadap Ada. Sebab hanya manusialah yang memiliki kesadaran untuk menggugat fenomena dengan cara menyikapinya; sebuah sikap yang dan dalam dunia, dengan cara bertanya di hadapan Ada. Namun kesadaran seperti apakah, yang tidak tercemari dikotomi yang memilahmilah? Bukankah sebelumnya kesadaran adalah hal yang menegasikan kenyataan di bawah superioritas ego yang berpikir? Dengan membelahnya menjadi kenyataan yang dipikirkan dengan Aku yang berpikir? Sebab kenyataan di mata Dasein adalah aku yang di tengah dan dalam dunia. Yang mafhum bahwa tiada objek selama tak berintensi dengan kesadaran dan sebaliknya tiada kesadaran yang terpaut dengan objek, atau dengan kata lain kesadaran adalah keterjalinan yang intensif.

Dalam totalitas kesadaran yang terpaut dengan bendabendalah manusia akhirnya menemu kenali kembali kenyataan yang sebelumnya tunduk di bawah hukum kategorikategori. Hingga akhirnya keberadaan dapat terjangkau dengan  cara menyertakan kesadaran yang mendistingsi adaanadaan yang terberi. Karena Dasein sebagai faktisitasi dari Ada adalah ego yang mampu memberikan dasar bagi keberadaannya. Sebab bukan apa sesungguhnya Ada itu (what is being) yang mendasari, melainkan apa makna ber-Ada sesungguhnya (What it means to be).To be continue…

20 Agustus 2012

Dialogi Tafsir atas Masyarakat dan sejarah: Ulasan terhadap Karya Murtadha Muthahhari

Paradigma adalah gambaran fundamental mengenai masalah pokok dalam ilmu tertentu. Paradigma membantu dalam menentukan apa yang mesti dikaji, pertanyaan apa yang mesti diajukan, bagaimana cara mengajukannya, dan apa aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperoleh.[1] 

Paradigma sesungguhnya mencakup pengertian yang bersifat ontologis yang darinya sebuah objek menjadi fundamental dalam penentuan skala pengetahuan. Pelacakan terhadap status objek yang hendak dikaji pada gilirannya akan mengarahkan persoalan-persoalan pada penisbahan tentang metodologi apa yang pas untuk digunakan.

“Paradigma” sebagai sebuah diskursus wacana dan keilmuan, utamanya dipopulerkan oleh Thomas Samuel Kuhn (1922-1996), seorang pemikir Amerika. Walaupun pandangan-pandangannya menyangkut paradigma bernasib marginal dalam ilmu sosiologi, namun di dalamnya terdapat pemikiran besar bahwa ilmu tak pernah terlepas dari konteks dimana ia dimunculkan. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1962, The Struktrure of Scientific Revolutions, Kuhn menerangkan bahwa sebuah ilmu tidaklah berkembang secara kumulatif  sebagaimana yang umum dipersepsikan. Walaupun Kuhn mengakui bahwa akumulasi memang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi perubahan besar justeru terjadi akibat revolusi dalam ilmu pengetahuan. Ilmu mendapatkan tantangannya jika terjadi anomali terhadap status kebenaran yang berdampak pada krisis terhadap keberadaan ilmu dalam menyikapi suatu diskursus. Krisis ini akan berakhir dengan terjadinya revolusi pengetahuan.

Sebagaimana peta yang memiliki fungsi deskriptif terhadap wilayah yang diterangkannya, sebuah paradigma juga memiliki informasi-informasi berupa pernyataan-pernyataan normatif serta nilai etis dalam fungsi ke-peta-annya. Fungsi ke-peta-an sebuah paradigma bertujuan memediasi manusia dalam menentukan tujuan hidupnya. Menurut Murtadha Muthahhari, seorang filusuf Iran, paradigma bisa disejajarkan dengan konsep “pandangan dunia”. Murthahhari melihat adanya sinergitas antara pandangan dunia dengan wacana epistemologis dalam membentuk ideologi.[2]

Menurut George Ritzer, seorang sosiolog, ilmu-ilmu sosial paling tidak mengandung empat komponen paradigma. Pertama, eksemplar. Hal ini mengacu pada karya-karya tokoh yang dijadikan rujukan bagi penganut paradigma tertentu. Kedua, gambaran masalah pokok. Yakni status ontologis dari permasalahan yang dituju. Ketiga, metode. Yakni sikap metodis dan metode yang hendak diterapkan oleh penganut paradigma. Keempat, teori. Yakni perspektif teoritis dalam menerangkan permasalahan-permasalahan.[3]

Betapapun ilmu-ilmu sosial telah memandirikan dirinya dari pernyataan-pernyataan filosofis semenjak sains menubuatkan diri sebagai ilmu yang menerangkan segalanya, namun pada kenyataannya, dalam sejumlah grand theory, ilmu-ilmu sosial tetap memiliki pijakan asumsi filosofis yang terkandung dalam teori-teori yang dikemukakannya. Asumsi-asumsi ini hendak menerangkan realitas yang dihadapinya, yakni kedudukan human nature (manusia), society (masyarakat), dan rasional eksplanation sebagai model yang universal dalam menyusun paradigmanya. Jika sebuah teori tidak memiliki kandungan tiga elemen paradigma tersebut, maka ada kemungkinan teori-teori yang datang darinya tidak pula memilki kekuatan argumentatif untuk mempertahankan bangunan teoritisnya. Dengan demikian, seluruh teori pasti turut mewakili paradigma yang dibawanya.

Dalam kaitannya dengan tiga elemen paradigma tadi, khususnya aspek society, maka jika kita membangun sejenis eksposisi maka kita akan menemukan sejumlah pertanyaan: Apakah masyarakat itu? Apakah yang mendorong hingga terbentuknya masyarakat? Apakah individu memiliki posisi sentral dalam pembentukan masyarakat atau sebaliknya? Apakah penentu masyarakat berkisar dari jiwanya sendiri ataukah berdasarkan faktor eksternal dalam menentukan gerak sejarahnya?

Asal Usul Masyarakat

Masyarakat selalu menjadi studi yang kompleks. Studi atas masyarakat bisa ditelusuri akar sejarahnya dari dokumen-dokumen Yunani klasik, terutama dalam buku Politics karangan Aristoteles. Di situ konsep masyarakat yang dikemukakan Aristoteles memiliki kaitan erat dengan konsep negara. Konsep masyarakat dalam pengertian aristotelian merujuk pada negara kota yang khusus lahir sebagai pencitraan hukum moral.

Walaupun demikian, dalam menempatkan masyarakat sebagai kajian utamanya, baik oleh Thomas Hobbes, Adam Smith, Karl Marx, sampai Max Weber dan Alfred Scutz, teori kemasyarakatan tak pernah lepas dari bias intervensi ideologis, pengaruh gejolak ekonomi, maupun tarik-ulur kekuasaan politik.Pemilahan antara kepentingan ideologis dan ilmu pengetahuan terlihat pada positivisme Comte yang menekankan sosiologi sebagai puncak dari ilmu-ilmu haruslah bersih dari tendensi subjek.[4]

Pasca perang dunia kedua, Amerika Serikat sebagai negara adikuasa banyak membentuk lembaga-lembaga penelitian sosial. Ilmuwan-ilmuwan sosial diberdayakan untuk membangun teori-teori sosial dalam rangka kepentingan politik dan ekonomi Amerika. Sejumlah ilmuwan sosial juga dikirim ke wilayah-wilayah strategis negara dunia ketiga untuk melakukan penelitian (pengamatan). Hal ini bertujuan untuk menjadikan negara dunia ketiga sebagai bumper bagi keadikuasaan Amerika.[5]

Dalam pandangan eropasentris, masyarakat dilihat sebagai perwujudan yang tidak berbeda dengan organisme menurut tinjauan ilmu-ilmu alam. Hal ini ada kaitannya dengan pandangan-pandangan evolusi darwinis, seperti yang dikatakan Herbert Spencer. Menurut Spencer, keilmuan abad ke-19 masih didominasi oleh ilmu-ilmu alam, sehingga studi kemasyarakatan masih menjadi anasir studi kealaman. Di sini masyarakat digambarkan sebagaimana mahluk hidup yang ditunjang oleh sel-sel dasar sebagai elan vitalnya. 

Masyarakat seperti kesatuan tubuh manusia yang terdiri dari otot dan bagian-bagian tubuh sebagai unsur pembentuk jasad. Masyarakat yang dipandang dari perspektif hukum biologis, menyebabkan konsepsi yang terbangun senantiasa bersifat determinis dan linear.

Berbeda dengan Spencer, Emile Durkheim melihat masyarakat sebagai fakta sosial. Durkheim menilai bahwa masyarakat adalah ungkapan yang dicitrakan dari norma-normanya, adat-istiadatnya, serta nilai-nilai yang diturunkan secara turun-temurun lewat tradisi. Kata Durkheim, seorang sosiolog harus meneliti fakta sosial, bukan interaksi pelakunya. Jadi, jika Durkheim ditanya, kenapa seorang ibu bisa membunuh anaknya sendiri hanya karena ia merasa tak sanggup menghidupinya? Maka perspektif durkheimian akan menjawab: “hal itu terjadi karena nilai-nilai yang ada telah rusak!” Murtadha Muthahhari memandang bahwa masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok manusia yang hidupnya mengandung sejumlah nilai, norma-norma, adat-istiadat, dan tradisi.[6]

Durkheim menggambarkan masyarakat sebagai “tatanan moral”. Konsepsi ini diungkapkan lewat penjelasannya tentang “conscience collective dan “reperesentations collective”. Masyarakat dalam pandangan Durkheim tidak lebih spesifik dari entitas yang bersifat supra-personal yang misterius. Karena itu, dalam pandangan ini, Durkheim dianggap gagal dalam penekanannya terhadap spesifikasi personal yang menjalani situasi material dalam aktifitas sehari-hari.[7] Pandangan Durkheim yang terlalu membawa masyarakat pada level yang sulit dinilai kekongkritannya, memiliki dampak serius pada perkembangan ilmu-ilmu sosial.

Masyarakat harus dilihat dari pembentuknya, yakni individu itu sendiri, bagaimana mereka berinteraksi satu dengan lainnya. Masyarakat harus dinilai dari interaksi orang-orang yang ada di dalamnya, bagaimana mereka membentuk kelompok-kelompoknya, dan seperti apa proses interaksi yang terbangun di dalamnya. Pendapat tersebut dikemukakan Simmel dengan pandangannya yang empiristis. Kata Simmel, masyarakat seharusnya dibawa pada penelitian yang bisa diobservasi langsung, bukan nilai dan pranata yang ada di dalamnya yang abstrak dan sulit diukur berdasarkan pengalaman langsung.

Pandangan Simmel yang bercorak aritotelean tersebut berbeda dengan para sosiolog Jerman semisal Weber dan Marx yang sibuk dengan tema-tema besar. Tingkat analisis Simmel terletak pada penekanannya terhadap kejadian pada skala yang lebih kecil. Berbeda dari para pendahulunya, sosiolog yang menginspirasi lahirnya mazhab Chicago ini, lebih menilik masyarakat pada penggambaran individu melalui tindakan dan interaksinya.[8]Teori Simmel tersebut mewakili pandangan menyangkut status ontologis masyarakat yang dititik-beratkan pada kehadiran individu-individunya. Masyarakat dalam hal ini hanyalah keterwakilan dari individu yang membentuk kelompok sebagai dasar pemenuhan sesuatu yang bersifat kolektif.

Dalam memahami masyarakat, setidaknya ada tiga pandangan yang mengemuka: Pertama, yang melihat masyarakat sebagai gerak yang secara fitrawi terbentuk dari kecenderungan individu untuk mengaktualkan potensi sosialitanya, yang dimotivasi oleh fitrah dalam dirinya sendiri. Kedua, yang melihat masyarakat sebagai fenomena yang didatangkan untuk menjawab ketidakmampuan individu untuk berproses di dalam alam, sehingga untuk bisa bertahan hidup, maka manusia dengan terpaksa bermasyarakat. Pandangan ini melihat individu sebagai faktor yang inferior, dan menemukan identitas superiornya hanya jika harus menerima fenomena kemasyarakatan dengan desakan. Ketiga, yang melihat masyarakat hanyalah sebatas fenomena individual yang dimotivasi berdasar kalkulasi pilihan rasionalnya. Artinya, seorang individu bisa saja memilih hendak bermasyarakat ataukah tidak, selama hal itu membawa keuntungan baginya.

Menurut Durkheim, masyarakat berada di luar individu dan sifatnya memaksa. Individu harus mengikuti anjuran serta pakem-pakem yang sudah diterima secara turun-temurun dalam tradisi masyarakat, suka ataupun tidak. Dalam perspektif Marx, masyarakat merupakan realitas utama dibandingkan dengan individu. Individu hanya menjadi anasir sekunder bila diperhadapkan dengan masyarakat. Penekanan Marx terhadap kolektivisme menyebabkan hak-hak individu menjadi tidak penting. Terkadang memang masyarakat memiliki kekuatan memaksa yang sifatnya sedemikian impulsif, sehingga individu tak berdaya menolak atau berkilah untuk tidak menerimanya. Mekanisme ini terjaring melalui representasi nilai-nilai yang tercitrakan pada aturan-aturan semisal simbol-simbol yang dikonvensi pemaknaannya berasarkan kehendak umum.[9]

Pada sisi lain, terdapat pula pandangan yang lebih menekankan aspek individu yang sedemikian rupa lebih penting dari kolektivitas. Kalaupun ada yang namanya kepentingan umum, itu tidak lain merupakan perwujudan dari kehendak individu-individu. Masyarakat dipandang sekadar sebagai fenomena sekunder. Pandangan semacam ini kita kenal dengan sebutan individualisme. Prinsip individualisme dapat kita lihat contohnya pada bangunan ideologi dan operasi ekonomi kapitalisme.

Kalau kita mencermati jalan cerita film V for Vendetta[10], di situ tampak tokoh V yang berhasil membentuk masyarakatnya berdasarkan kemauan umum walaupun awalnya ia hanya bekerja seorang diri. Kisah ini, memberikan pengertian bahwasannya seorang individu memiliki kemerdekaan diri yang terlepas dari kesadaran mayarakatnya untuk turut  membentuk kesadaran orang banyak. Pandangan ini berbeda dari pandangan tadi yang tidak melihat hakikat manusia yang notabene memiliki ikhtiar untuk merespon sesuatu, apakah hendak menerima ataupun menolaknya. Walaupun masyarakat memiliki sejumlah kehendak bersama, bukan berarti bahwa individu turut larut di dalamnya dengan terpaksa sehingga kehilangan identitasnya. Seorang individu tetap memiliki kehendak bebas untuk memilih keluar dari batas-batas paksaan yang ada di masyarakat.
          
Masyarakat dan Peran Agency

Marxisme meyakini bahwa datangnya sejarah berasal dari kelas pekerja yang merebut kekuasaan dari kepemilikan barang-barang kaum borjuis. Menurut mereka, sejarah bermula dari masyarakat komunal yang diatur berdasarkan hukum-hukum tradisional hingga berevolusi menjadi masyarakat komunis. Masyarakat komunis adalah masyarakat tanpa kelas yang lahir dari konsekuensi perjuangan kaum buruh. Gerak sejarah ini diyakini bisa terealisasi dengan adanya desakan kelas pekerja melalui revolusi proletariat.

Jika pandangan marxian menempatkan revolusi sebagai penentu jalannya sejarah, maka August Comte memandang sainslah yang akan menentukan sejarah. Tahap akhir dari sejarah manusia menurut Comte, akan sampai pada keadaan dimana masyarakat menjunjung tinggi sains sebagai satu-satunya jalan menjawab segala kebutuhan manusia. Tahapan sejarah comtean ini diawali dari tahap teologis, dimana manusia dan corak kehidupannya masih berdasarkan keyakinan takhayul dan mistis. Pada berkembangan selanjutnya, masuk pada tahap hukum evolusi kesadaran, dimana masyarakat sampai pada tingkatan yang bercorak metafisis. Di sini kesadaran masyarakat berusaha keluar dari kungkungan teologis yang tidak mendewasakan kesadaran. Usaha pendewasaan akal budi, akan berkembang hingga manusia benar-benar matang, dengan sains sebagai faktor penopangnya. Pada tingkatan inilah masyarakat mengalami kemajuan signifikan.

Teori marxian dan comtean menyangkut kepastian sejarah, mendasari asumsi-asumsinya pada dua narasi besar yang mewarnai jatuh bangunnya paradigma filsafat Barat, yakni platonisme dan aristotelian. Kedua narasi besar ini seringkali terlibat persitegangan. Platonisme dengan pandangannya yang bercorak absolut terhadap keberadaan ide, memberikan penekanan yang besar terhadap ide daripada keberadaan yang bersifat inderawi. Keberadaan yang hanya mampu dicerap oleh inderawi, bagi Plato, hanyalah doxa yang bersifat semu dan tak sempurna. Sementara itu, dalam pandangan Aristoteles, dunia ide yang dideskripsikan Plato hanyalah hasil abstraksi dari objek-objek eksternal. Abstraksi yang terjadi bermula dari persentuhan alam inderawi dengan alam eksternal yang dialami oleh manusia.[11]

Pandangan marxian menghendaki ketiadaan peran agency dalam mengawal dan mempolarisasi struktur, dimana struktur memiliki peran sentral dalam mengarahkan gerak sejarah. Agency dipandang sebagai faktor yang tidak dominan dalam rentetan kejadian yang dapat mempengaruhi jalan dan berkembangnya sejarah. Di sini sejarah dipahami sebagai suatu proses penciptaan dan pemuasan kebutuhan-kebutuhan manusia secara terus-menerus. Penciptaan kebutuhan dimediasi oleh aktivitas kerja dalam hubungannya dengan alam. Dengan demikian, sejarah merupakan materialisasi upaya manusia dalam memenuhi segala aspek fundamental kehidupannya.[12]

Kekitaan

Ulrich Beck, seorang ilmuan sosial, melihat masyarakat beserta institusi dan struktur sosialnya telah bergerak secara radikal dari masyarakat tradisional menuju masyarakat pra-modern, kemudian menuju masyarakat super-modern. Dalam masyarakat tradisional, struktur beserta pengalaman kemasyarakatan bersifat “kekitaan”. Di sini masyarakat terintegrasi secara vertikal dan horisontal. Individu tradisional terbentuk dan dibentuk dalam nilai-nilai komunal. Masyarakat yang terbangun berdasarkan “kekitaan” tidak menyerahkan dirinya pada institusi. Individu tahu dan sadar bahwa dirinya adalah bagian utama dari “kekitaan”.

Dalam masyarakat modern yang ditandai dengan peneguhan yang tinggi terhadap subjektvitas, terjadi pergeseran dari kesadaran “kekitaan” menuju kebebasan individu dan otonomi personal. Individu mengambil peran sentral dalam keberlangsungan kehidupan. Dengan begitu, terjadi peralihan dari masyarakat “kita” menjadi masyarakat “aku”. Sementara itu, pada masyarakat super-modern, “aku” tidak lagi disandarkan pada institusi negara. Kebebasan individu dan otonomi personal beranjak kepada institusi-institusi baru yang lebih luas. Kesadaran tidak lagi merujuk pada kesadaran komunal maupun negara, melainkan pada sistem informasi dan teknologi yang sedang berkembang. Di sini masyarakat mendapati dirinya menjadi bagian yang terintergrasi dalam sistem teknologi dan informasi yang abstrak. Hal ini disebut Jean Baudrilard sebagai simulacrum, yaitu realitas kedua yang menggantikan realitas sejati melalui penciptaan realitas semu dengan sistem penandaan semiotik melalui simbol-simbol.[13]

Bila kita menyakini konsepsi masyarakat sebagai penjaga individu-individu melalui pencitraannya sebagaimana sosok “ibu”[14], maka masyarakat sebagai sebuah panggilan moral adalah konsepsi yang nonsense. Masyarakat dengan kediriannya seperti sekarang ini adalah jenis masyarakat yang penuh dengan apatisme yang melihat jalannya sejarah secara given tanpa kehendak mengubah jalannya sejarah. Pandangan-pandangan menyangkut filsafat sejarah, baik yang memandang sejarah sebagai produk materialisasi ide ataukah idealisasi materi, sungguh telah mendapatkan tantangan episteme dalam kaitannya dengan proses jalannya sejarah manusia dewasa ini. []

Daftar Bacaan

Cambell, Tom, 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius.
Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Hardiman, F. Budi, 2004. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat dan Sejarah: Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya. Bandung: Mizan.
————————–, 2001. Mengenal Epistemologi. Jakarta: Lentera.
Piliang, Yasraf A., 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Kanisius.
Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Wibowo, Edi dan Tangkilisan, Hessel Nogi S, 2004. Kebijakan Publik Pro Civil Society. Yogyakarta: YPAPI.

[1]     Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana, apindeks.
[2]     Muthahhari, Murtadha, 2001. Mengenal Epistemologi. Jakarta: Lentera, hal. 18.
[3]     Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas, 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana, hal. 118.
[4]     Hardiman, F. Budi, 2004. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.
[5]     Wibowo, Edi dan Tangkilisan, Hessel Nogi S, 2004. Kebijakan Publik Pro Civil Society. Yogyakarta: YPAPI.
[6]     Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat dan Sejarah: Kritik Islam atas Marxisme dan Teori Lainnya. Bandung: Mizan, hal 15.
[7]     Cambell, Tom, 1994. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius, hal. 179.
[8]     Ritzer, George, op.cit., hal. 45.
[9]     Muthahhari, Murthada, 1998. Masyarakat…, op.cit., hal 34.
[10]    Film yang diangkat berdasarkan novel David Llyod dan dibintangi Natalie Portman dan Hugo Weaving.
[11]    Hardiman, F. Budi, op.cit., hal. 24.
[12]    Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. Jakarta: Universitas Indonesia Press, hal. 27.
[13]    Piliang, Yasraf A., 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Kanisius, hal. 58.
[14]    Seperti yang termuat dalam Khittah Perjuangan HMI (MPO) pada bab Wawasan Sosial.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...