Archive for Mei 2020

Nama-nama yang Mesti Dikenang di Hari Pendidikan Nasional

26 Mei 2020 Comments Off


Di hari pendidikan ini, ingin saya tulis nama-nama guru-guru yang telah berjasa bagi pendidikan saya selama ini. Tentu tidak semua dikarenakan tidak semua guru membuat kesan kuat dalam ingatan saya:
  1. Guru dan wali kelas SD kelas 1. Bertahun-tahun setelah saya dewasa, saya kesulitan mengingat nama-nama guru terutama saat duduk di bangku sekolah dasar tahap awal. Nama wali kelas saat itu juga tidak saya ingat, apalagi wajahnya. Mungkin, suka duka para guru-guru SD terutama di kelas-kelas awal, adalah betapa sulitnya mereka diingat oleh murid-muridnya kelak. Meskipun demikian, merekalah para pelopor pendidikan di periode awal pertumbuhan seorang anak. Tanpa mereka apa jadinya kita ini.
  2. Ibu Bene dan Ibu Mince. Dua nama ini paling saya ingat selain Ibu Jum, guru agama saya saat bersekolah di SD N 1 Bonipoi Kupang, NTT. Ibu Bene adalah wali kelas saat saya duduk di kelas 6, dan Ibu Mince merupakah guru olahraga sekolah yang berpenampilan tegas, bersuara lantang, dan tomboi. Ibu Bene guru yang baik, dan sulit saya lupakan jika ia bermuka ketus mengembalikan buku pekerjaan tugas saya pasca ia memeriksanya. Ibu Mince, seperti saya bilang, suaranya lantang dan memotong pendek rambutnya menyerupai laki-laki. Untuk ukuran saat itu, Ibu Mince tergolong guru yang ”galak”. Naik ke SMP, saya hanya berhasil menyelamatkan beberapa nama-nama guru. Saya menjalani satu tahun sekolah menengah pertama di kota Kupang. Kerusuhan 98 di Kupang membuat bapak mengambil langkah pulang kampung ke Bulukumba (bandingkan dengan pengertian mudik yang sempat heboh itu). Praktis sejak saat itu saya pindah sekolah, menemukan kehidupan baru, dan juga guru-guru baru.
  3. Ibu Syarwana. Belio saya ingat karena dialah guru bahasa daerah saat saya menjadi murid baru di SMPN 2 Bulukumba.  Saya selalu kesusahan mengikuti pelajarannya untuk mengingat huruf-huruf asing yang kelak saya tahu sebagai aksara bugis. Belio saat itu sudah lumayan tua, dan mungkin mendekati masa pensiunnya. Ketika sering saya mendengar anak-anak muda Bugis yang tidak mengetahui aksara lokalnya, terlintas Ibu Syarwana ini.
  4. Pak Nurdin dan Pak Syahrir. Dua guru ini saya ingat karena hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran berbau teknis. Pak Nurdin guru teknik saat saya duduk di kelas 3, yang memperkenalkan kami kepada benda-benda kecil bernama transistor dan sejenisnya. Ia suka menggambar garis-garis pendek berbentuk seperti denah rumah yang dalam ilmu teknik elektro sebagai rangkaian listrik. Belio ini tergolong guru yang sering membuat kami takut, apalagi jika belio yang mengambil alih urusan yang berhubungan dengan murid-murid nakal. Pak Syahrir guru muatan lokal kami yang sering membawa kami keluar kelas di halaman sekolah untuk mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh berantakan. Kadang kami harus mencangkul, mengecat pagar, sampai merapikan penataan bunga-bunga sebagai  bagian dari mata pelajarannya.
  5. Guru-guru yang hanya saya ingat wajahnya tapi tidak (lagi) namanya. Pertama guru pendidikan kewarganegaran, seorang ibu bertubuh pendek saja, yang ternyata nenek dari seorang teman bernama Adi Zulhikam. Adi penggemar Jamrud, band rock yang sedang naik daun saat itu, dan memiliki ruas-ruas goresan silet di lengannya yang selalu ia sembunyikan dari guru-guru. Kedua, dua orang ibu guru Matematika dan bahasa Indonesia di kelas tiga. Seorang bapak guru fisika, dan bapak guru mata pelajaran kewarganegaraan.
  6. Seharusnya guru-guru semasa SMA jauh lebih mudah diingat karena masih dekat dengan kehidupan kita saat ini. Tapi apa bloeh buat, saya adalah orang dengan kemampuan ingatan yang buruk. Berikut nama-nama guru di tingkat pendidikan yang disebut-sebut paling indah itu: Ibu Harwati dan Pak Djabar. Yang pertama adalah wali kelas saya ketika kelas 1 empat. Belio ini suka berkomentar lucu-lucu dan mengampu pelajaran fisika. Suami belio guru bahasa indonesia bernama Pak Djabar. Ya mereka berdua pasangan suami istri, dan keduanya merupakan om dan tante saya. Berturut-turut Ibu Hartanti, guru bahasa Inggris yang lumayan judes, ibu Ragwan yang sering dipanggil Ibu Rage dan sering mengeluarkan humor lucu saat mengajar, guru agama. Ibu Darmawati guru PPKN, Pak Karim, Pak Safar, guru sejarah dan guru olahraga. Pak Yasin guru BP. Belio ini salah satu guru angker di sekolah kami. Dia pernah memiting kakak kelas mirip dipertandingan smackdown. Pak Hadis guru geografi, dan… sampai di sini saya mulai lupa nama-nama dan hanya mampu mengingat muka-muka tulus guru-guru saya mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Mereka semua ikut andil dalam membentuk paras pendidikan saya.

 Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020

Riwayat Kepunahan Sapiens: Dari Wadah menjadi Wabah

25 Mei 2020 Comments Off



Creation of Ai


SEJARAH makhluk hidup berupa hewan purba yang sering saya lihat melalui layar kaca lebih satu dekade lalu, memperlihatkan bahwa hewan-hewan bertubuh besar, punah oleh benda-benda raksasa.

Sekitar dua ratus juta tahun lalu, batu-batu panas berukuran raksasa turun seperti hujan, dan  membuat kelompok hewan eksotik bernama dinosaurus seketika punah. Saat itu setengah isi bumi meleleh, dan sisanya tenggelam sekaligus membentuk gugusan pulau-pulau baru.

Sekarang, hujan batu-batu itu sering diabadikan dan dipertontonkan untuk mengingatkan, kelak peristiwa yang sama akan juga kita alami.

Di saat malam hari, kadang peristiwa hujan batu yang lain membuat orang melayangkan doa seolah-olah benda itu jatuh dapat mengubah jalan hidup seseorang.

Di lain waktu, bintang jatuh meninggalkan ekor panjang berwarna orange, sehingga banyak orang menganggap kejadian itu sebagai pengalaman yang mengagumkan.

Di balik kekaguman kita terhadap benda angkasa berukuran jumbo yang bisa melayang itu, justru banyak kehidupan benda-benda superkecil yang tidak kalah mengagumkan.

Di atas punggung kerbau  di sawah, siapa menduga hidup ratusan kutu yang kerap jadi sasaran burung pemangsa. Di sudut-sudut rumah dan di bawahnya, bisa jadi hidup koloni semut berbaris panjang berpusat sampai kepada ratunya. Di sela-sela almari, siapa pernah memerhatikan, hidup bersembunyi ribuan rayap yang menggerogoti pagina buku seperti orang kelaparan.

Siapa juga bakal menyadari, di kaki kaki atau tubuh lalat, hidup hewan kecil bernama tungau yang menumpang pula di beberapa jenis kumbang. Jauh di bawah tanah, lebih kecil dari semut dan rayap,  hidup mikroorganisme yang dijuluki ”hewan pertama” bernama protozoa, yang juga banyak hidup di dalam air.

Hewan-hewan ”mini” ini hidup tanpa sekalipun kita sadari keberadaannya.  Meraka dianggap tidak signifikan bagi kehdupan manusia. Meski demikian, mereka bergerak dalam jumlah jutaan di hampir semua permukaan bumi, dan sebagiannya melayang-layang bebas di udara.

Belakangan, ketika ilmu pengetahuan semakin maju, dan alat indera buatan semakin mutakhir, ditemukan kehidupan lain jauh lebih spektakuler dari hewan-hewan mini di atas.

Hewan supermini ini, tidak bisa lagi diderivasi kedalam taksonomi kehidupan hewan. Bahkan oleh para ilmuwan, keberadaan kategori makhluk ini berada pada jenjang batas antara hidup atau mati. Ia sulit dikatakan makhluk hidup, tapi tidak bisa juga disebut benda mati.  

Dengan alat khusus yang menciptakan cahaya untuk melihatnya, para ahli baru pertama kali ”menemukannya” dua abad lalu. Mereka bersepakat makhluk ini disebut dengan sebutan virus.

Melalui alat-alat canggih, kehidupan makhluk hidup supernano ini dicari tahu dan ditelisik lebih jauh. Apakah mereka berjenis kelamin? Apakah mereka beranak pinak? apakah mereka makan dan minum? Apakah mereka berusia panjang? Apakah mereka bisa dikendalikan?

Seperti juga hewan-hewan mini lainnya, virus hidup berpindah-pindah dalam satuan dengan jumlah besar. Bermigrasi dengan cara mereplika dirinya dari satu wadah ke wadah lain sebagai inangnya. Dari tumbuhan ke tumbuhan, dari binatang ke binatang, dan bahkan, tanpa dirasakan tidak sedikit yang hidup berpindah-pindah dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lainnya.

Pernah pada suatu alaf sejarah kehidupan umat manusia, masyarakat hidup berbaur dengan kepercayaan takhayul, dan menganggap penyakit sebagai respon tubuh atas gangguan roh jahat. Demam, atau cacar, misalnya, saat itu akan dianggap sebagai tanda tubuh sedang didiami makhluk jahat yang berniat memberikan pelajaran terhadap suatu komunitas.

Sekarang,   tidak semua tubuh demam bagian dari interaksi tubuh dengan alam gaib. Dibantu alat teknologi medis, umat manusia sudah memiliki jenis pengetahuan yang lebih maju dari dua atau tiga abad lalu, sehingga bukan lagi gangguan makhluk halus manusia mengalami kelainan panas tubuh. 

Ternyata demam menjadi tanda bagi tubuh yang telah menjadi wadah bagi kehidupan makhluk supernano bernama virus ini, yang berkemampuan merusak sistem daya tahan tubuh manusia.

Daya serang makhluk supernano ini, meskipun berwujud sangat kecil, sampai hari ini telah mencatat sejarah panjang mengenai wabah yang mengguncang kehidupan umat manusia. Flu Spanyol, Cacar, Campak, Sampar, HIV AIDS, Ebola, dan kini Covid-19 adalah nama-nama penyakit hasil dari daya dobrak virus superkecil itu.

Dari satu jenis penyakit ke jenis penyakit lainnya, virus ini juga berevolusi melewati seleksi alam, bergerak meningkatkan kualitas eksistensinya, bergerak dari satu wadah ke wadah lainnya.
Dan, jika mereka menemukan wadah terbaik, tanpa persetubuhan, bukan dengan kesadaran, tidak juga dengan menggunakan organ lainnya, apalagi memanfaatkan sel yang mustahil mereka miliki, cukup ”mereplika” diri dari satu inang protein, mampu berlipat ganda menghasilkan wabah berkepanjangan.   

Antara wabah dan wadah, di abad 21 kini, di dalam tubuh inangnya,  ia bermutasi di antara kesenyapan suara dan gemerlap ingar bingar lampu-lampu gedung pencakar langit, di antara migrasi tubuh manusia dan hilir mudik transportasi super  jet,  di antara keheningan rumah-rumah ibadah dan dentuman musik diskotik, di antara kaki-kaki penjual pedagang kali lima hingga ruangan dingin pejabat negara.

Ia hidup dan bertahan di antara gerak super cepat peradaban, mati atau tidak,  selama ia mendiami satu inang, toh ia memiliki kemampuan bertahan yang spektakuler, jauh di ujung mata peradaban.  Tepat jika ia dikatakan oleh para ahli virologi sebagai makhluk ”organisme di ujung kehidupan”.  Sesuatu yang jauh di belakang kehidupan manusia. Ada, tapi tidak sama sekali diketahui pasti.

Syahdan, jika  ratusan juta tahun lalu  hewan-hewan raksasa punah karena benda-benda berukuran besar,  kelak dan mungkin kini, umat manusia, bakal punah hanya karena ”sentuhan kecil” makhluk supermini ini.

===

Sudah dimuat di Dialektikareview.org dengan judul Dari Wabah ke Wadah Manusia dan Riwayat Kepunahannya 


Bangsa-Bangsa Empatik

24 Mei 2020 Comments Off


Ilustrasi kapal-kapal di masa lalu
yang dijadikan transportasi antar bangsa


Awal waktu Covid-19 merajalela di negeri Tirai Bambu Cina, beredar di jaringan dinding dunia maya, gambar kardus-kardus bantuan alat kesehatan dari Jepang. Yang unik, saat perhatian Cina terkuras untuk mengatasi pandemi ini, diselipkan sebait puisi di kotak bantuan berisi masker dari Jepang itu: ”Meski berasal dari tempat yang berbeda, namun kita berada di bawah langit yang sama.”

Sejarah puisi ini diambil dari kata-kata Daiwaj Tseiden, sebuah cerita Jepang tentang biksu Buddha Cina Jianzhen yang bepergian di Jepang pada abad ke-8. Dikutip dari Tempo, baris puisi ini dijahit dan diberikan kepada Jianzhen dari seorang kaizar Nagaya yang mengundangnya untuk berceramah tentang ajaran Buddha di Jepang. Merasa tersentuh atas undangan itu, Jianzhen menyanggupi undangan sang raja.

Belakangan, ketika Cina berangsur pulih menyatakan menang atas keganasan virus corona, Cina berbalik mengirimkan bantuan alat kesehatan ke negara-negara yang masih melawan corona dengan cara yang sama seperti dilakukan Jepang.

Ketika Cina mengirimkan bantuannya kepada Korea Selatan, di kotak kirimannya diselipkan kutipan syair dari zaman Dinasti Joseon. Bunyinya ditulis begini: ”Pohon pinus dan pohon cemara di musim dingin, tidaklah saling melupakan satu sama lain.” Walupun kedua negara ini bersaing secara ekonomi, syair ini mengingatkan, Cina dan Korea Selatan, adalah ”dua tanaman yang tumbuh di musim yang sama.”

Iran, negeri jauh dari seberang Cina, dan berjatuhan banyak korban mendapatkan perlakuan serupa. Di kotak kiriman alkes, ”dilabeli” sajak tua dari Dinasti Persia: ”Keturunan Adam adalah seperti bagian tubuh, diciptakan dari satu sumber, ketika ada bencana yang menimpa satu bagian tubuh, bagian tubuh yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri.”

Di dua negara Eropa, seperti Jerman dan Italia, Cina juga melayangkan kiriman bantuan alkes dengan mengutip pula kata-kata arif yang diambil dari sejarah negeri bersangkutan.

Di Jerman, jika Anda tinggal di sana saat ini, bantuan alkes dari negeri  Tembok Cina itu diikutkan sajak bertulis: ”Gunung dan lembah tidaklah bersatu, tapi berbeda dengan manusia.” Kutipan barusan diambil dari abad Pertengahan, ketika Eropa sedang mengalami transisi kemanusiaan dari Abad Kegelapan menuju Renaisance.

Bagaimana dengan Italia? ”Kita adalah ombak dari laut yang sama, daun dari pohon yang sama, dan bunga dari kebun yang sama.” Begitu kutipan kata-kata yang diambil dari zaman Romawi kuno, yang ditempel di ribuan kardus bantuan Cina, untuk menyemangati negeri pizza dari sebaran corona yang kian eskalatif.

Apa yang sebenarnya terjadi di antara bangsa-bangsa ini? Mengapa mesti syair?

Syair adalah bahasa paling universal dan tua bagi peradaban manusia. Dalam tinjauan ilmu jiwa, syair merupakan bahasa yang mampu menenangkan jiwa ketika menghadapi guncangan. Syair, jika diurutkan bersama usia manusia, dia sudah ada dan berumur sama tuanya dengan peradaban manusia.

Cina, Iran, Jepang, Jerman, Italia, dan Korea Selatan, adalah negeri-negeri yang memiliki sejarah panjang. Bahkan beberapa di antaranya memiliki peninggalan peradaban tinggi. Iran, misalnya, adalah negeri  berperadaban Persia dengan capaian seni, arsitektur, filsafat, dan sastra yang gemilang di masa lalu.

Jepang pun demikian. Sampai hari ini masyarakatnya hidup dengan kearifan Shinto  yang diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.

Cina apalagi, negeri yang digadang-gadang bakal menguasai perekonomian dunia, sering dicap melalui hadis Nabi agar bersegera belajar sampai ke negerinya. Belajarlah sampai ke negeri Cina, begitu sering diucapkan, yang berarti ada ”sebongkah” pelajaran di sana sehingga Rasulullah mewantinya.

Korea selatan, Italia, dan Jerman, negeri-negeri yang kiwari jadi kiblat kemajuan seni peran, olahraga, dan teknologi. Dari Cina sampai Iran, Jepang sampai Italia, Jerman hingga Korea Selatan, meski jauh dipisahkan jarak, tapi dekat secara kemanusiaan.  "Kita adalah ombak dari laut yang sama, daun dari pohon yang sama, dan bunga dari kebun yang sama," kata syair Romawi kuno.

Syair adalah bahasa peradaban, yang lahir dari jiwa luhur kemanusiaan. Coba tengok peradaban-peradaban tua, hampir semua pencapaiannya dinarasikan dengan syair, dan jiwa manusialah pusat dan sasarannya. Itu artinya, sepanjang kemanusiaan kerap jadi sasaran tragedi, di sepanjang itu pula jiwa kemanusiaan membutuhkan kearifan syair.

Kiwari, dunia sedang menghadapi tragedi. Tidak ada satu bangsa pun merasa aman dari tragedi kali ini, yang sekarang datang dalam wujud pandemi mematikan. Pelan dan hampir pasti, seolah-olah di layar kaca, tiap menit angka kematian bermain teka-teki. Akan sampai berapakah misteri jumlah angka kematian akibat tragedi ini?

Sembari melawan misteri angka-angka korban pandemi, setiap bangsa-bangsa terdorong berpegang tangan mengirim bantuan dari masing-masing peradaban.

Kata Ernest Renan, sebuah bangsa adalah sebuah jiwa. Bangsa bukan saja berisi sejumlah tubuh, melainkan dibangun di atas jiwa. Tubuh bangsa bukan sekadar fisik, melainkan diikat jiwa sebagai unsur utamanya. Bangsa-bangsa, bagi Renan merupakan wujud dari apa yang ia sebut ”le desir de vivre ensemble”, panggilan untuk hidup bersama.


Kini setiap bangsa-bangsa—tidak terkecuali Indonesia— sedang  memperjuangkan kehidupan bersama. Saling bahu membahu mengirim spirit dan energi satu sama lain agar dapat bangkit dari keterpurukan pandemi. Peragaan ini sesungguhnya cerwin jiwa bangsa yang besar dan kuat. Indonesia harus belajar dari bangsa-bangsa ini. Bangsa-bangsa berjiwa empatik.

===

Sudah dimuat sebelumnya di https://belopainfo.id/

Kapitalisme Waktu: Bagaimana Si Kaya Mati (Suatu Telaah atas in Time (2011))

19 Mei 2020 Comments Off


Ilustrasi aktivitas pabrik. Salah satu kunci kemenangan kapitalisme
Sumber gambar di sini


Film fiksi ilmiah in Time (2011), saya kira, kisah fiksi yang kurang lebih dekat dengan pengertian marxisme dalam melihat kancah kehidupan masyarakat yang dikuasai modal. 

Dalam film ini setiap manusia terlahir membawa tanda jam digital dilengannya, dan berhenti menua di usia 25 tahun. Tanda jam digital yang tertanam di tiap lengan manusia menandai saldo waktu yang sekaligus menjadi tanda usia mereka. Untuk mencegah kelebihan penduduk, waktu menjadi mata uang dan alat untuk membeli barang mewah dan keperluan lainnya. 

Film in Time awalnya berjudul i’m.mortal untuk mengesankan bahwa cita-cita setiap orang dalam hidup adalah keabadian. Meski demikian dalam in Time keabadian itu bukan merupakan dunia metafisis pasca kematian, melainkan suatu eksistensi berbasis materil yang ditandai dari kepemilikan saldo waktu tanpa batas.

Coba bayangkan jika saldo ATM Anda tertulis angka 9999.9999. 9999. 9999. 9999…, yang berarti merupakan angka tak terhingga yang tidak akan habis dipakai untuk membeli apa saja.  Dalam in Time seseorang bisa hidup abadi jika memiliki quota waktu tak terbatas, sekaligus bisa melakukan apa saja atas waktu melimpah yang dimiliki.

Kapitalisme waktu: si Miskin vs. si Kaya

Dalam dunia in Time kehidupan masyarakat terbelah atas penguasaan kapital berupa saldo waktu. Ibarat uang, penguasaan politis atasnya membuat masyarakat tersegregasi menjadi dua kubu tak berimbang berupa kaum kaya dan kaum miskin.

Kaum kaya ditandai oleh kemampuan mereka yang dapat mengakses apa saja dari  saldo waktu mereka yang tak terbatas. Sementara bagi si miskin, saldo waktu yang terbatas membuat mereka mesti perhitungan menggunakannya saat bertransaksi.

Bagi si miskin, ia diwajibkan mesti ”berburu waktu” demi mempertahankan eksistensinya. Waktu, seperti yang dibayangkan setiap orang demikian berharga. Jika ada adagium waktu adalah uang, dalam in Time lebih dalam lagi maknanya: waktu adalah nyawa.

Dunia kehidupan yang berbasis pertukaran waktu ini juga mewujud ke dalam lingkungan tempat tinggal. In Time memeragakan kehidupan kelas elite waktu dari kluster pemukiman yang indah, teratur, dan aman. Sementara di sepanjang sisi area itu terdapat kehidupan masyarakat kelas dua yang serba terancam dan nyaris bangkrut akibat tingkat keamanan yang minim.

Jelas kelihatan, jika selama ini penguasaan atas aset dan modal dinyatakan melalui kekayaan atas uang, dalam in Time jika dapat diterima, memperlihatkan suatu pengertian lain menyangkut kapitalisme. Selama ini dalam kajian kritik ideologi, kapitalisme senantiasa dilihat sebagai kekuatan ekonomi politik yang bergerak memonopoli alat produksi dan tenaga kelas pekerja.

Melalui film ini, kapitalisme mewujud menjadi kekuatan produksi yang menguasai waktu sebagai kekuatan materialnya. Dengan kata lain, alat kekayaan yang selama ini disandarkan kepada modal dan aset-aset ekonomi, tidak ditemukan dalam film ini, yang justru memberikan suatu penafsiran berbeda mengenai waktu sebagai wahana penghisapan umat manusia.

Itu artinya, dilihat dari sisi ini, kapitalisme bukan semata-mata bergerak dalam rangka mengakumulasi modal, namun juga ikut mengakumulasi waktu yang hakikatnya inheren dalam gerak perputaran modalnya.

Akumulasi atas waktu ini, diduga kuat mengimplikasikan munculnya kelas penikmat waktu luang (the leisure class) yang memiliki peluang, dan kemerdekaan yang lebih dari cukup saat menikmati waktunya. Dan di satu sisi, kelas ini dengan arogan menindas kaum miskin yang menggunakan waktu yang serba terbatas, saat mengakses kebutuhan pokoknya yang serba terbatas pula.

Keberlimpahan waktu senggang

Dalam in Time saldo waktu memiliki dua pengertian, selain menjadi penanda sampai kapan orang dapat terus hidup. Pertama sebagai saldo, kredit waktu setiap orang menjadi alat ukur bagi kemampuan mengakses kebutuhan yang ditransaksikan melalui mekanisme pertukaran waktu sebagai alat tukarnya.

Dalam hal ini, uang, alat tukar yang kerap dijumpai untuk melakukan transaksi jual beli, tidak berlaku kecuali kredit waktu sebagai saldonya. Melalui model transaksi semacam ini, waktu adalah segalanya.   

Kedua, waktu bagi setiap orang juga menjadi tanda eksistensi kehidupannya. Dalam arti ini, ia juga bertindak sebagai durasi kehidupan, yang bagi setiap orang berbeda-beda. Perbedaan ini selain ditentukan oleh aset waktu turun temurun, juga ditentukan melalui interaksi pertukaran sehari-hari, entah melalui transasksi ekonomi, atau pemberian cuma-cuma dari kebaikan orang lain.

Dua pengertian atas waktu ini, pada kenyataannya memiliki irisan di dalam kenyataan hari ini mengenai masyarakat kelas atas yang keberlimpahan modal. Bukan saja sebagaimana modal yang bisa membuka peluang penguasaan di dalam kehidupan ekonomi, waktu dalam in Time, juga berimplikasi kepada keberlimpahan waktu senggang.

Data film:
Genre: Sains fiksi
Pemeran: Amanda Seyfried, Justin Timberlake,
Olivia Wilde Matthew Bomer
Rilis:   Oktober 28, 2011
Direktur: Andrew Niccol
Screenplay: Andrew Niccol
Producer: Marc Abraham, Amy Israel,
Kristel Laiblin, Eric Newman
Distributor: 20th Century Fox


Itu artinya, semakin seseorang memiliki banyak modal/waktu, semakin besar peluangnya untuk menikmati waktu senggang yang menjadi wahana leyeh-leyeh. Di waktu yang bersamaan, karena keberlimpahan modal/waktu, membuat kelas kaya tidak mesti ambil bagian dalam aktivitas produksi, yang membutuhkan tenaga dan pikirannya untuk memperjuangkan kehidupan mereka yang serba tak terbatas.

Secara budaya dan pendidikan, keberlimpahan waktu senggang membuat kesenjangan begitu jauh antara kelas kaya dan kelas miskin. Kelas kaya sebagai penikmat waktu senggang mampu mengkompensasikan waktu luangnya ke wilayah-wilayah kehidupan sekunder yang berhubungan dengan kebiasaan rekreatif tanpa ada beban politis sama sekali.

Di lain waktu, keberlimpahan waktu yang ada dapat dipertukarkan dengan kegiatan produktif demi peningkatan kualitas kejiwaan dan pikirannya, semisal les piano, les bahasa, megikuti kelas-kelas kebudayaan, pengajian, atau sekaligus memanfaatkan waktunya untuk berbelanja dan menonton di pusat perbelanjaan.

Menurut Thorstein Veblen, yang mempopulerkan istilah the leisure class  dalam The Theory of The Leisure Class, aktivitas sehari-hari the leisure class adalah menikmati hidup dengan cara mengonsumsi waktu luang.

Waktunya tiada lain ”dikorbankan” hanya untuk kenikmatan bagi diri atau kelompoknya. Veblen menyebut aktivitas tersebut sebagai tindakan ”konsumsi yang mencolok” (conspicuous consumption). Conspicious consumption diartikannya tidak memiliki tujuan apa-apa selain untuk melanggengkan kesenjangan dan hierarki sosial.

Bagaimana dengan si miskin? Waktu bagi si miskin malah berfungsi kebalikan dengan kelas si kaya. Jangankan bisa dipakai demi pemenuhan kebutuhan sekunder, seperti dipakai berjalan-jalan atau arisan, justru ia habis dimanfaatkan untuk mempertahankan kebutuhan primernya ke dalam aktivitas kerja yang kian hari menjadi sulit dipenuhi lantaran digerogoti oleh kerakusan kaum kaya.

Kutukan keabadian

Banyak orang mengira, keabadian adalah hal yang menyenangkan dan patut untuk diusahakan. Dalam kenyataan sehari-sehari, segala upaya melalui pendekatan medis, ekonomi, budaya, dan agama, berpacu menarasikan suatu usaha agar orang dapat hidup abadi, atau setidaknya dapat berumur panjang. Keadaan ini seolah-olah ingin menjamin hasrat terdalam manusia demi mencari kehidupan abadi.

Berbeda dari pernyataan di atas, in Time justru membalik perkiraan ini. Keabadian bukan anugerah yang menyenangkan, tapi malah menjadi kutukan.

Diceritakan pasca Will Salas (Justin Timberlake), seorang pemuda yang lahir dari keluarga kelas bawah, bertemu Hanry Hamilton (Matthew Bomer), seorang miliarder waktu yang memberikannya waktu melimpah karena telah bosan hidup abadi, mengalami banyak masalah.

Belum lama memiliki quota waktu seabad, Salas ditetapkan sebagai buronan oleh Timekeeper, sejenis FBI, karena diduga terlibat pembunuhan miliarder di kotanya.

Berawal dari sinilah, kehidupan abadi Salas mengalami banyak masalah. Ia dikejar Timekeeper dan juga kelompok perompak waktu yang mengincar orang-orang kaya waktu.

Narasi kehidupan abadi Salas bukannya mengandung kebaikan-kebaikan bagi nasibnya. Justru waktu melimpah yang dimilikinya menjerumuskannya ke dalam kehidupan yang serba mawas diri, persis seperti orang super kaya yang setiap hari sibuk memikirkan keamanan harta bendanya.

Sama seperti Hanry Hamilton, si jutawan waktu yang telah bosan hidup abadi, keabadian seharusnya menempatkan seseorang kepada tingkat yang lebih hakiki, bukan malah membuat seseorang mengalami depresi dan gangguan orientasi hidup.

Nampak jelas di sini, keabadian, jika ia memang betul-betul dapat dibuktikan di alam kehidupan ini, akan mendatangkan kemungkinan kehidupan yang jauh lebih berisiko dari kehidupan saat ini.

Dengan kata lain, sekalipun itu itu mungkin, hidup dengan umur tak terbatas berpeluang melahirkan sosok semacam Logan ”Wolvrine” dalam kisah X-Men, yang sepanjang usianya tersiksa gangguan pengalaman-pengalaman traumatis dari kehidupan masa lalunya.

Zaman dromologi

Apakah film ini juga berbicara mengenai dromologi? Dromologi adalah ilmu kecepatan. Dalam lanskap pemikiran dromologi, segala sesuatu mesti dipresentasikan secepat mungkin. Makanan cepat saji, hitung cepat, flash sale, kecepatan lalu lintas, cepat nikah, cepat lulus kuliah, rapid test, merupakan fenomena-fenomena berpengalaman yang memanfaatkan waktu serba cepat.

Ada dua kemungkinan mengapa ini bisa terjadi. Pertama, kontur masyarakat kapitistik menekankan efisiensi sebagai modus pengalaman yang membuat masyarakat mesti memanfaatkan waktu seefesien mungkin. Ini ketika ditarik ke dalam mekanisme produksi masyarakat kapitalisme, seluruh pemaanfaatan atas waktu mesti disingkronkan dengan gerak perputaran modal.

Sekolah mesti cepat karena di ranah kerja, tenaga buruh segera diperlukan. Tubuh mesti cepat sehat karena di pabrik-pabrik kekurangan tenaga kerja. Pajak mesti cepat dibayar karena negara defisit pemasukan. Handphone harus segera diganti karena produk menumpuk di gudang-gudang. Berbelanja mesti cepat karena modal mesti terus bergerak.

Kedua, faktor efektivitas. Faktor ini berhubungan langsung dengan efesiensi waktu dan tenaga yang diperlukan bagi aktivitas kerja produksi. Artinya, akan sia-sia jika penggunaan waktu yang serba cepat, tetapi tidak tepat sasaran dari tujuan dikeluarkannya waktu bersangkutan.

Di dalam ranah kerja, buruh yang cepat menghasilkan suatu produk belum terhitung menguntungkan jika tidak efektif mencapai target.  Itulah sebab agar efektif, buruh mesti memiliki skill yang terlatih melalui pendidikan atau pelatihan.

Di luar dari itu, dua prinsip kunci kapitalisme ini juga menjadi paradigma yang jauh lebih luas sampai menyasar bidang kehidupan lain. Hal ini dikarenakan universalisasi kapitalisme itu sendiri yang banyak menguasai sendi-sendi kehidupan. Di model masyarakat kapitalistik inilah waktu menjadi serba mengalir mengimplikasikan segala mesti  bersicepat memburu dan diburu waktu.

Meski demikian, tidak semua kelas dapat ditundukkan melalui prinsip-prinsip di atas. Kelas kaya, dengan segala akses dan modalnya yang tak terbatas, tanpa pamrih menikmati privilege atas semua itu.

Lalu, jika bisa disebut pertanyaan utama, lantas bagaimana si kaya mati? Agak terdengar retoris, meski demikian, akan lebih mudah memberikan suatu gambaran dari pertanyaan sebaliknya, bagaimana cara si miskin mati?

Utopia Kuburan Kapitalisme di Hari Buruh Sedunia

17 Mei 2020 Comments Off


Gambar pamflet peringatan Hari Buruh
Sumber gambar di sini

BURUH atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apa-apa selain tenaga. Tak memiliki apa-apa selain otot. Dalam sistem pemuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan diisap. Mereka mengalami keterasingan, dari mesin-mesin, dari barang-barang, juga dari masyarakat.

Alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja satu-satunya milik buruh berubah menjadi milik tuan pemodal. Dengan upah, tuan-tuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan: menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka dari itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem kapitalistik, buruh bukan berarti pribadi individualistik. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum.

Sebab itulah di balik sistem kapitalistik, ada penjajahan massal. Di dalam urat nadi industrialisasi kaum buruh menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Ia kecil tapi signifikan justru bukan bagi kelasnya. Di dalam tatanan akbar itu, buruh kian dirundung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Karl Marx itu nyatanya bertransformasi. Ia berkembang berjilid-jilid. Dari kapitalisme tua, pramodern, modern, hingga kapitalisme lanjut. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrik-pabrik.

Tapi itu tadi, zaman berubah, dan kapitalisme juga berubah: sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem tunggal, melainkan jamak menjadi struktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun.

Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuan-tuan kapital.

Sebuah penghisapan massalkah ini?

Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalistik sama halnya menjual jasa pada sistem yang belum tamat ini. Kerja di abad kiwari, bukan lagi persis seperti di abad lalu yang mesti bersentuhan langsung dengan alat produksi berupa mesin di pabrik-pabrik.

Kerja, dengan semangat zaman yang baru, adalah pertukaran tenaga dan keahlian menjadi keuntungan kapital bagi nama baik perusahaan, rating tinggi media, citra baik pemerintah, atau bahkan nilai sempurna akreditasi perguruan tinggi. Abad kiwari, setiap tetes keringat akan ditransformasikan menjadi kapital baru. Dari tenaga menjadi keahlian. Dari otot diganti otak.

Tiada yang abadi di dalam kapitalisme selain kerja. Kerja atau mekanisme menggerakkan modal dari cukup menjadi berlipat ganda adalah inti sistem global saat ini. Siapa pun mau tidak mau, atas nama apa pun bakal disedot masuk mengisi satu slot ruang pekerja. Entah menggunakan seragam, helm pengaman, atau stetoskop. Dipaksa atau terpaksa.

Karl Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem masyarakat kapitalistik, kerja yang dilakukan tanpa gairah dan kebebasan akan menjadi petaka.  Akan menjadi alienatif. Kerja  macam inilah yang disebut mengkerdilkan kemanusiaan. Menciutkan arti hakikat manusia seolah-olah seperti binatang.

Kerja, bagi Marx adalah modus sejarah. Kerja adalah cara manusia mengelola apa yang awalnya nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kekejaman kapitalisme mampu mendesak kerja yang manusiawi menjadi nonmanusiawi. Mau tidak mau buruh yang tak memiliki apa-apa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. “Wahai kaum buruh sedunia, bersatulah!” Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginspirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak mati-mati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuan-tuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti: di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

Dengan itu sepertinya buruh yakin atas ramalan Marx. Kapitalisme akan menggali kuburannya sendiri. Sistem kapitalisme akan terjerat pertarungannya sendiri. Marx menyebutnya kontradiksi internal: iman yang pasti akan keruntuhan dengan sendirinya kapitalisme. Meski itu bakal lama terjadi. Meski bisa sebaliknya, itu bakal tidak mungkin terjadi.

Adakah yang salah dengan itu? Adakah yang mesti dibuktikan di situ? Saya pikir ramalan bukan berarti urusan keyakinan yang harus dibuktikan. Justru sebaliknya, karena tidak pernah terbukti, sesuatu itu semakin menjadi keyakinan. Sesuatu utopiakah ini? Rasa-rasanya optimisme itu penting: karena suatu cita-cita jadi utopia, maka ia mesti terus diperjuangkan. Juga buruh yang jadi alat kekayaan pemodal itu, semakin diisap semakin melawan. Ini memang mirip pegas.
Selamat hari Buruh Internasional. 1 Mei 2020

===

Telah tayang di Kalaliterasi.com

Tubuh al Insan, Kebajikan Badani saat lulus PSBB

10 Mei 2020 Comments Off


Nurhidayat “Images dévorantes” (2017). 150 cm x 150 cm, cat akrilik di atas kanvas. 
FOTO: Nurhidayat. Sumber: https://artspace.id/


SELAMA ramadan kali ini, tubuh dan jiwa mengalami ujian dua kali lipat dari biasanya. Masa PSBB membuat jiwa, terutama tubuh mengalami pembatasan radikal dan ekstrem. Tubuh seketika tidak dapat bergerak kemana-mana. Pengalaman spasialnya otomatis menyempit untuk tidak mengatakannya hilang sama sekali.

Tubuh, berkat PSBB mau tidak mau mesti menerima rumah sebagai satu-satunya wahana tempat ia bergerak.

Agak unik melihat fenomena ini, oleh sebab seolah-olah secara sosial tubuh mengalami obesitas. Ia sulit bergerak berpindah dari satu ruang ke ruang lain, walaupun tidak sama sekali kelebihan serat daging.

Meski tubuh fisik secara fungsional mampu mengatasi ruang yang maha melimpah,  namun tetap saja, di luar, ruang sosial yang lebih luas, tubuh mengalami penyempitan kehilangan kemampuan bergeraknya seperti saat kelebihan beban.

Obesitas tubuh sosial ini bukan tidak mungkin akan berdampak terhadap tubuh fisik ini. Dengan kata lain, semakin lama kita terkurung di dalam rumah, akan semakin cepat tubuh kita mengalami pembengkakan akibat kehilangan setengah ruang geraknya.

Dalam momen ini, agaknya hikmah Ramadan dalam suasana PSBB ini adalah menjadi alat timbang yang mengontrol tubuh agar tidak mengalami obesitas. Ruang gerak yang minim akan ditransformasikan menjadi lebih sepadan saat tubuh mengalami pengurangan asupan melalui puasa.

Walaupun demikian, meski tubuh saat ini mengalami diet sosial, ia senantiasa memanfaatkan jiwa untuk mengoperasikan dirinya agar dapat bergerak lebih bebas.

Di saat inilah jiwa mengalami dua kali lipat ujian. Di samping ia ditimpa beban keinginan tubuh agar ingin terus bergerak, ia sendiri juga mengalami godaan dari dalam berkat kemampuannya melakukan proses imajinasi secara bebas.

Kiwari, tubuh lebih fleksibel bergerak ketika ia dibantu melalui device canggih berupa smartphone. Teknologi smartphone dalam hal ini selain menjadi alat bantu indera, sebenarnya juga menjadi kepanjangan tubuh.

Tubuh, dengan kata lain, di saat mengalami hambatan gerak saat PSBB, tidak serta merta terpenjara sama sekali. Selama ia dibantu melalui identitas maya melalui akun-akun virtual, ia dapat bergerak dari satu situs wilayah ke situs wilayah lain dengan menggunakan tubuh maya yang dibuat sebelumnya.

Di satu sisi keadaan ini akan sama dengan situasi ketika PSBB belum diberlakukan. Selama ini tubuh memanfaatkan pasar sebagai arena bermainnya. Di mal, toko pakaian, pub, restoran siap saji, adalah wilayah-wilayah penting tempat tubuh selama ini memenuhi kebutuhan hasratnya.

Sekarang, saat tubuh mengalami pembatasan berskala besar, ia memanfaatkan dunia maya sebagai medan petualangan barunya. Ini dalam pengertian tertentu, merupakan kompensasi dari situasi yang sudah diakrabi tubuh sebelumnya.

Bahkan, pergerakan tubuh maya di saat ini lebih bebas merambah dunia yang tak pernah dijamah tubuh fisik. Dengan aturan sosial yang lebih bebas, tubuh maya bisa melakukan apa saja dengan cara apa pun jika ia ditopang unsur genetik berupa byte-byte yang tak terhitung jumlahnya.

Itu artinya ketika tubuh kehilangan medium gerak dalam ranah spasial-sosialnya, ia bakal mencari medium baru agar ia dapat terus bergerak dan menyalurkan keinginan terpendamnya di ranah yang lebih aktual.

Interaksi kelas online, kajian online, belanja online, dan grup-grup maya yang lebih ramai dari masa sebelum PSBB merupakan contoh konkret bagaimana tubuh susah ditundukkan oleh aturan yang membatasi ruang bergeraknya. Positif atau negatifkah ia, terlepas dari motivasi apa pun itu, tubuh liat mencari cela dan ruang baru untuk mempertahankan eksistensinya.

Bagaimana dengan jiwa? Jiwa lebih dahsyat lagi. Selama tubuh bergerak bebas melalui interaksi maya, di saat bersamaan jiwa juga melakukan gerak imajinatif di dalam dunia imajinary.

Bukan saja jiwa dapat menyambangi dunia fantasi yang dibentuk realitas imajiner, bahkan ia sendiri bisa menduplikasi dengan cara membentuk sendiri dunia fantasi yang ia inginkan.

Dibandingkan tubuh, imajinasi jauh lebih berbahaya jika dibiarkan bebas bergerak. Jika tubuh menemukan momentum aktusnya di dalam dunia maya, jiwa justru dapat menciptakan aktus di dalam dunia kemungkinan yang tidak dapat ditemukan di dalam dunia maya tempat tubuh beroperasi.

Itu artinya, jiwa yang tidak dikendalikan dengan bajik, akan membuat suatu dunia imajiner yang melanggar nilai normatifitas yang selama ini diakui.

Dalam terminologi Islam, tubuh dikategorisasi menjadi tiga tipe. Al Qur'an membaginya menjadi tiga berupa al insan, al nas, dan al basyar. Pemakaian tiga terma tubuh dalam al Quran ini berbeda-beda dari segi makna dan tujuannya.

Al Insan adalah lapisan subtantif yang mengakomodasi dinamika transendental manusia berupa kemampuan intelektual dan merasanya. Insan adalah pribadi yang unik. Tubuh dari sisi insan, tidak bisa disamakan walaupun diperhadapkan kepada dua anak kembar sekalipun.

Al Nas sering dipakai al-Qur'an untuk menunjuk tubuh sosial manusia. Nas adalah kualifikasi interaktif tubuh ketika berhubungan dengan sejarah dan kebudayaannya. Ia bakal langgeng ketika tubuh mengalami ”perbauran” dan ”persatuan” bersama tubuh lain di masyarakat.

Sementara al basyar adalah unsur fisikalitas manusia. Tanpa unsur ini, tubuh tidak mungkin tersusun berdasarkan urutan dan fungsi biologisnya. Basyar merupakan kulit paling terdepan manusia yang membentuk anatomi khusus dari organ-organ pembentuknya. Basyar sering dirujuk al Qur'an ketika menarasikan tubuh yang berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhan biologisnya.

Melihat tubuh dari tiga tipe di atas, nampaknya hanya dua yang berhasil ditundukkan melalui aturan PSBB. Tubuh dalam pengertian nas dan basyar adalah dua tipe tubuh yang mengalami perumahan. Ia praktis dalam masa PSBB mengalami pendisiplinan ketat untuk menghalau penyebaran penyakit yang saat ini sedang dihadapi.

Sementara, insan adalah tubuh yang menjadi golden goal selama puasa. Jika PSBB bertujuan menundukkan tubuh nas dan basyar sekaligus secara bersamaan, maka selama Ramadan, dua tubuh ini mesti mencapai tubuh insan sebagai tujuan utamanya. Al Qur’an menyebutnya taqwa sebagai puncak keberhasilan jika dua tipe tubuh sebelumnya berhasil dididik selama menjalani masa karantina puasa ini.

Kelak jika kualitas al Insan dapat diraih, jiwa akan merdeka dan suci setelah selama 30 hari menjalani karantina dari godaan gejolak tubuh, hasrat, dan imajinasi yang selama ini menjadi lawan terberatnya.

===

Telah tayang di Kalaliterasi.com dengan judul Al Insan, Kebajikan Tubuh Saat Lulus PSBB

Merisik 5 Jalan Permenungan dari Rumah

08 Mei 2020 Comments Off


PANDEMI corona, selama lebih sebulan ini, diterima tidak diterima, berhasil mendesak manusia mengurung diri sampai ke pertahanan terakhirnya. Perkumpulan banyak orang di pasar, kantor, masjid, terminal, sekolah, warung kopi, dlsb., dipecah menjadi satuan atomik terpisah-pisah sampai ke rumah-rumah.

Di tempat inilah, semua pekerjaan yang sering dilakukan di luar mesti diambil alih dari rumah. Mendadak rumah jadi kantor, rumah jadi sekolah, dan rumah jadi tempat ibadah. Singkatnya, pandemi corona telah mengurai seluruh aktivitas kepublikan menjadi sebatas wilayah domestik.

Menarik sebenarnya melihat gejala ini dari sisi seperti apa masyarakat merespon perubahan mendadak ini. Di samping struktur ekonomi, politik, dan budaya ikut berubah, struktur agama juga mau tidak mau ikut berubah.

Fenomena ditutupnya masjid, berhentinya pengajian, nonaktifnya salat berjamaah, berkurangnya kas masjid, sampai menganggurnya imam memimpin salat, merupakan dampak langsung dari masifnya penyebaran corona.

Tulisan sederhana ini, ingin melihat peluang berharga apa yang bisa diambil dari ujian yang dihadapi dunia saat ini, terutama bagi umat Islam di tanah air.

1. Kembali merefleksikan yang sakral

Emile Durkheim, sosiolog Prancis dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life menulis inti seluruh agama berasal dari konsep sederhana tentang apa yang sakral dan yang tidak sakral.

Prinsip sakral tidak sakral ini merupakan ejawantah dari apa yang suci dan tidak suci. Tuhan suci maka ia sakral, malaikat suci maka ia sakral, nabi itu suci maka ia sakral. Konsep semacam ini, juga berlaku pada praktik-praktik peribadatan. Salat itu sakral karena ia ibadah yang suci. Itu sebabnya, bukan saja salat, setiap ingin melakukan peribadatan umat muslim wajib sebelumnya bersuci.

Jika, ada pertanyaan apakah salat di rumah mengurangi kadar kesakralannya dibanding salat berjamaah di masjid? Jika berdoa selain di masjid apakah mengurangi kadar pahalanya? Jika bersedekah di masjid akan sama jika itu dilakukan di tempat-tempat lain?

Selama salat, berdoa, dan bersedekah masih bisa dilakukan di rumah, semua usaha itu insya Allah tidak mengurangi kadar kesakralannya. Salat berjamaah di masjid meski penting, itu bisa disebut cara atau pakem tradisi. Berdoa di rumah Allah meski dianjurkan, merupakan kebiasaan baik yang tidak ada salahnya dapat dilakukan di banyak tempat. Bersedekah apa lagi, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Makna physical distancing, dengan melihat kenyataan di atas, dapat berfungsi sebagai wahana refleksi untuk memikirkan ulang apa sebenarnya yang kita harapkan dari cara kita beragama hari ini. Apakah kita beragama hari ini hanya sekadar mengejar ”tradisi” atau ”inti agamanya” itu sendiri?

2. Kemungkinan melakukan refleksi untuk hidup otentik

Hidup otentik adalah hidup jujur. Hidup sesuai kata hati, atau hidup atas dasar pilihan otonom sebagai mahkluk berkesadaran.

Kiwari, karena desakan publik, banyak orang hidup dengan kepalsuan. Banyak orang menjalani kehidupannya bukan atas dasar usulan-usulan kata hatinya, atau hasil pertimbangan akal budinya.
Atas dasar penampilan, banyak orang melakukan oplas. Atas nama kekuasaan, tidak sedikit pemimpin bermain peran baik. Atas nama kasih sayang, seorang suami pura-pura perhatian kepada istrinya. Atas nama agama, si munafik berpura-pura taat beragama.

Singkatnya, atas kehendak mayoritas, seseorang kehilangan suara hati dan akal sehatnya dalam menentukan keputusan pribadinya.

Corona, toh jika ia mendatangkan banyak kerugian, tetap saja menyimpan banyak hikmah. Salah satunya, kedatangannya menyediakan peluang bagi kita dapat berpikir ulang mengenai kepribadian kita.

Apakah selama ini setiap keputusan saya ambil atas desakan banyak orang atau pertimbangan pribadi? Apakah  selama ini saya bekerja untuk mencari harta atau rizki? Apakah saya menikah atas dasar kasih sayang atau nafsu semata? Apakah saya berbelanja demi kepuasan atau kebutuhan? Apakah saya beribadah agar terlihat religius atau alim? Apakah selama ini saya telah menjadi diri sendiri?

3. Banyak waktu memperdalam ilmu agama

Selama masa physical distancing banyak hal-hal kecil yang selama ini diabaikan dapat dilakukan. Jika selama dalam kedaan ”normal” kadang kita lupa merawat bunga-bunga, membersihkan gudang, menyervis kendaraan, dan merawat anak, di waktu sekaranglah momen yang tepat untuk memerhatikan hal-hal ”sekunder” semacam itu.

Selain hal-hal di atas, sekaranglah saat yang tepat agar Anda dapat kembali menyervis diri dengan memperdalam ilmu agama. Jika selama ini banyak waktu habis karena pekerjaan, sudah saatnya Anda mengambil buku di almari Anda. Buka dan bacalah tulisan-tulisan sekaliber Quraish Shihab, Gusdur, atau Jalaluddin Rakhmat untuk merefresh kembali pemahaman agama yang belakangan kian baku dan kaku.

Jika Anda ingin menukik lebih dalam, baca dan kaji dengan penuh khidmat ayat-ayat suci Al Qur’an. Bacalah dalam keadaan tartil yang jika sampai kepada ayat-ayat tentang neraka seolah-olah Anda merasakan panasnya api neraka, dan jika tiba di ayat-ayat tentang surga seakan-akan Anda ingin secepat mungkin berada di depan pintunya. Wallahu a’lam bishawab.

4. Berkhidmat kepada keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Meski demikian, anehnya, bagi masyarakat pekerja, akibat kesibukan di kantor membuat banyak waktu tersisa dari keluarga. Agak dilematis memang jika mengingat tujuan akhir semua itu dilakukan demi keluarga juga.

Berhubung sekarang sebagian besar pekerjaan dilakukan di rumah, Anda dapat lebih banyak waktu bersama keluarga. Setelah Anda selesai meeting via online dan menutup laptop, segeralah cari Anak anda. Peluk dan gendonglah ia seolah-olah itu sudah lama tidak Anda lakukan. Ajak ia bermain di teras atau berlari-lari kecil tidak jauh dari halaman rumah Anda.

Jika Anak anda sudah dewasa, ajaklah ia bersama-sama memperbaiki mesin air yang rusak, atau mengajaknya naik di loteng mencari genteng yang sudah seminggu bocor dan butuh dibetulkan.

Bagaimana dengan anak perempuan dan istri Anda? Segeralah memesan makanan via ojol, manjakan mereka dengan makanan yang sudah lama ingin mereka nikmati. Terutama istri Anda, jangan lupakan ia yang selama ini berjuang di ”belakang” demi menopang rumah tangga dapat terus berjalan. Yang terakhir ini jika dilewatkan akan panjang urusannya.

5. Bersiap memasuki Ramadan

Kurang seminggu lagi umat muslim bakal memasuki bulan suci Ramadan. Tahun ini, berkat corona, umat muslim akan memasuki bulan puasa terberat dari biasanya. Meskipun demikian, bukan berarti respon umat muslim atas ujian ini mengurangi semangat kita saat menjalani ibadah puasa kelak. Bahkan semakin berat rintangannya, semakin besar pula nilai ibadah yang bakal diraih.

Sejak Indonesia darurat corona, tidak satu pun seantero negeri dibuat tenang hidupnya. Selain karena belum ditemukan obat dan anti vaksinnya, karakteristik penyebaran virus yang super cepat, serta semakin banyaknya korban berjatuhan membuat semua pihak merasa was-was, resah, khawatir, dan takut. Seolah-olah virus corona bakal datang mengetuk setiap pintu rumah  masing-masing kita. Mudah-mudahan tidak!

Sesungguhnya suatu cobaan tidak bakal melebihi kapasitas orang yang sedang diuji. Di setiap kesulitan terdapat kemudahan. Setiap ujian pasti ada hikmahnya.

Masih banyak lagi kalimat serupa yang bisa dipetik dari Al Qur’an dan hadis, yang mengindikasikan bahwa apa yang sedang melanda negeri ini merupakan ujian bagi kita semua, dan akan berakhir dengan kualitas yang lebih baik.

Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa optimis dan tidak mudah menyerah. Seberat-beratnya ujian virus corona, cepat atau lambat kita akan segera melaluinya. Satu hal yang pasti, seluruh ujian ditimbulkan dari pandemi ini merupakan pelajaran berharga bagi Ramadan nanti. Ia menjadi timbangan yang ikut menaikkan kualitas ibadah puasa nanti. Selain usaha, tawakal adalah kuncinya. Berpasrah diri kepadaNya.

Esai Pengantar Arwah Luis Sepúlveda, Penulis Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

07 Mei 2020 Comments Off

Rest in Peace Luis Sepúlveda (1949-2020).

BUKU ini tipis saja, dan setelah membacanya, sampai sekarang saya masih ”berutang budi” kepada penulis buku ini. Saya belum sekalipun menyempatkan menulis beberapa kata atas pengalaman membaca kisah memukau yang ditulis orang yang pernah diasingkan rezim militer Pinochet, semenjak ia muda ini.

Sampai akhirnya saya membaca status penerjemah buku yang berjudul asli Un viejo que leia historia de amor, Ronny Agustinus, tadi malam. Pemilik penerbit Marjin Kiri itu mengabarkan sang penulis wafat karena telah seminggu lebih berjuang melawan virus corona di tubuhnya.

Diberitakan La Vanguardia, salah satu media di Spanyol, Sepúlveda mengalami gejala Covid-19 setelah pulang dari festival sastra Correntes d’Escritas in Póvoa de Varzim di Portugal.

Sepúlveda mengembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (16/4/2020), setelah lebih enam pekan sejak 25 Februari terdeteksi mengalami gejala corona di Rumah Sakit Pusat Universitas Asturias (Oviedo).

Berita kematian peraih Tigre Juan Award pada tahun 1989 atas bukunya ini, dan sudah lama berutang budi terhadap ceritanya yang berkesan, mendorong saya dengan sendirinya menulis tulisan ini.

Entah mengapa, saya seolah-olah masih terjebak di dalam belantara hutan Amazon, dan tidak bisa lepas dari keterperanjatan menyaksikan kuku cakar dan taring macan kumbang yang tiba-tiba datang, mengendus-endus, dan bergulat di perkelahian babak akhir dengan si Pak Tua Antonio Jose Bolivar Proano, tokoh kunci dari Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.

Antonio Jose Bolivar Proano awalnya bisa dibilang bagian masyarakat koloni yang ada irisannya dengan gerakan misionaris para Jesuit di abad 19, yang masuk  berdakwah di hutan perawan Amazon.

Mereka hidup menerapkan praktik religius bersama masyarakat miskin campuran Eropa-Amerika Latin di gunung-gunung dengan menggunakan poncho, pakaian khas menyerupai mantel untuk menghalau hawa dingin angin pegunungan.

Misi kristenisasi para Jesuit ini dalam kenyataannya berdampak jauh mengubah pola hidup suku-suku asli di hutan Amazon.

Tradisi hidup ala masyarakat Eropa mau tak mau berbaur dengan masyarakat setempat melalui penggunaan bahasa Spanyol yang menggantikan bahasa asli suku pedalaman, berkurangnya peperangan antara suku, pembukaan lahan baru, dan tentu pada akhirnya, semua itu akan terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi pasar yang tidak dikenal sebelumnya di kawasan itu.

Bolivar korban pergunjingan masyarakatnya, oleh satu sebab yakni istrinya yang tak mampu menghasilkan anak dan mengalami semacam menstruasi berkepanjangan, sehingga mengundang pandangan miring dari orang di sekitarnya.

Mesti Anda ketahui bagaimana keyakinan masyarakat pedalaman hutan Amazon, terutama bagi perempuan yang mengalami menstruasi. Perempuan yang mengalami menstruasi akan dianggap kotor, najis, dan bahkan mesti dikucilkan dari pergaulan sehari-hari.

Orang-orang pedalaman Amazon bahkan rela membuatkan sebilik rumah menyerupai kandang, dan sebuah lubang di tanah menyerupai kloset jauh dari dalam pemukiman untuk mengisolasi perempuan menstruasi. Bayangkan tanpa pembalut, perempuan menstruasi hanya mengandalkan daun-daunan dan membiarkan darahnya jatuh menetes di lubang tanah yang sudah dibuat sebelumnya.

Luis Sepúlveda (1949-2020)

Tak tahan jadi korban gosip tidak-tidak, Bolivar bersama istrinya bernama lengkap Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo akhirnya mengungsi dari gunung dan masuk ke tengah hutan, dan tiba di tempat bernama El Idilio, suatu kawasan yang dibuka untuk dijadikan pemukiman baru.

Di El Idilio ini, setelah gagal hidup berbulan-bulan bercocok tanam akibat minim pengetahuan mengenai karakter lingkungannya, Bolivar bertemu orang Shuar suku pemburu yang suka menciutkan kepala musuh-musuhnya dengan cara mengawetkannya seperti dendeng sapi, atau lebih tepatnya orang Shuar-lah yang menemukan Bolivar. Bersama beberapa orang yang kelimpungan, Bolivar mulai putus asa dan merasa kalah dari hutan rimba beserta hewan-hewan buas yang menghabisi mereka satu per satu.

Orang Shuar adalah orang Indian semi nomaden yang banyak tinggal di hutan hujan tropis di antara pegunungan Andes, dan di hutan hujan tropis dan sabana di dataran rendah Amazon, di Ekuador meluas sampai ke Peru. Dari orang Shuar-lah Bolivar belajar bagaimana hidup seharusnya di tengah hutan.

”Bersama mereka ia abaikan adat kesopanan Katolik udiknya. Ia berjalan-jalan setengah telanjang dan menghindari kontak dengan pemukim-pemukim baru, yang menganggapnya orang gila” (hal. 31).

Di titik inilah, menurut saya permulaan yang menandai bagaimana Bolivar belajar dan berusaha menyatu dengan adat dan tradisi masyarakat asli Amazon, yang mendudukkan hutan sebagai episentrum kehidupan yang diistimewakan.

Di titik ini juga Bolivar belajar cara berjalan di dalam hutan, berenang,  belajar mengenal jejak hewan buruan dan berusaha mengenal hewan buruannya hanya dari warna tainya. Di lain waktu bersama sahabatnya, Nushino, berburu ular dan menukarkan bisanya dengan sebilah parang atau sekantong garam.

Di titik ini pulalah, saya bisa katakan, bagaimana seharusnya kehidupan peradaban modern mesti menghormati dan mengakui ”peradaban” lain yang dirawat dari cara hidup suku-suku asli pedalaman hutan Amazon.

”Untuk menghormatinya, mereka lukis tubuhnya dengan warna-warni ular boa dan memintanya bergabung dalam tarian” (hal.35). Penerimaan Bolivar sebagai bagian dari kehidupan asli suku Shuar diupacarakan dengan meminum natema, suatu minuman khusus yang berefek halusinatif diramu dari akar tumbuhan yahuasa.

Bolivar telah dinyatakan lulus setelah lolos dari maut yang disebut ”perploncoan” dewa-dewa jahat yang mengujinya lewat gigitan ular yang membuat tubuhnya demam dan menggigil berhari-hari saat mencari buah di dalam hutan.

Di akhir kisahnya, kematian si betina macan kumbang—hewan yang membuat cerita ini menjadi lebih menarik, bukanlah akhir pertarungan yang diharapkan Pak Tua Bolivar.

Ia bahkan diliputi rasa malu, nista, dan tak berguna sama sekali setelah membunuh hewan yang sakral bagi masyarakat dan hutan semacam Amazon.

”Lantas dengan penuh amarah ia buang senapannya dan melihatnya tenggelam tanpa kejayaan. Monster logam yang dikutuk semua mahkluk” (hal.121).

Macan, seperti juga bagi suku-suku pedalaman adalah hewan yang mesti dihormati dan menjadi simbol penghargaan atas alam rimba yang tak terpemanai.

Itulah mengapa, setelah Pak Tua menyadari betapa anggunnya hewan yang tinggal tubuh saja itu, setelah tubuhnya disobek-sobek, diterkam, dan ditindih di bawah taring yang menganga, ia menangis.
Matanya berlinang air mata, beriringan air hujan yang ikut jatuh di atas sungai yang mengalir menuju riam yang jauh.

Pak Tua menangis sebab ia tahu, yang menang bukanlah dirinya. Macan yang mati terbunuh setelah juga diburu orang-orang berkulit putih, yang tak tahu adab selama di dalam hutan, merupakan simbol kemenangan peradaban eskalatif yang bakal mengekstraksi kehidupan hutan Amazon.

”Mesin-mesin raksasa membobol jalan, dan orang Shuar jadi kian gesit. Sejak itu mereka tak lagi mengikuti adat untuk tinggal selama tiga tahun di suatu tempat sebelum pindah, guna membiarkan alam memulihkan dirinya sendiri” (hal. 39).

Begitulah, kisah Pak Tua Bolivar juga sebenarnya sedang menggaungkan suara dari  tengah hutan penghasil oksigen terbesar di dunia, mengenai ancaman peradaban  luar terhadap ekosistem hayati yang dijaga melalui budaya kehidupan suku pedalaman.

Buku yang dengan penghargaan sastra Tiger Juan, yang disebutnya tanda yang ia ingin peruntukkan kepada sahabat terkasih irit bicara, Chico Mendes, dengan sendirinya adalah buku perpisahan dengan pejuang lingkungan hidup itu. Saat penghargaan buku ini diumumkan di Spanyol, di waktu itu juga di pedalaman hutan Amazon, Chico Mendes mati ditembak oleh kaki tangan pengusahan pembalak hutan.

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta pernah digarap ke layar lebar oleh sutradara Australia Rolf de Heer  dan tayang perdana 2001 silam dengan aktor Richard Dreyfuss sebagai Antonio Bolivarnya.

Luis Sepúlveda wafat di usia 70, dan tidak banyak yang menyadari kematiannya secara tidak langsung adalah buah dari kerusakan alam besar-besaran yang mendorong perubahan drastis kehidupan hayati berserta kehidupan mikrocosmosnya.

Hutan dibabat sehingga merusak penangkaran alami yang menjaga virus-virus asing tidak keluar melintas di kehidupan manusia.

Selamat jalan ”Pak Tua” Sepúlveda.

Podcast: Babanuroom Channel