Tampilkan postingan dengan label John Steinbeck. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label John Steinbeck. Tampilkan semua postingan

01 Januari 2018

Of Mice and Men, John Steinbeck

Data buku:
Judul Buku: Of Mice and Men
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Gramedia Pustaka
Tahun terbit: 2017
Tebal halaman: 144 halaman 

BUKU lawas Of Mice and Men karya John Steinbeck adalah buku pertama yang eike baca di awal tahun 2018. Tidak butuh waktu lama menghabiskannya, mengingat membaca karangan Steinbeck di hari pertama tahun baru adalah peristiwa yang lumayan menggembirakan. Aktivitas yang menghibur sekaligus bisa menjadi permulaan yang bagus untuk hari-hari yang akan datang. Ya, setidaknya di tahun 2018 eike dapat membaca jauh lebih banyak buku dari tahun sebelumnya. Kembali ke buku ini. Buku ini sebenarnya sudah eike miliki dari bulan Oktober tahun lalu, tapi apa daya, saking malasnya eike membaca akhirnya baru kesampaian di tahun 2018. Seperti karangan Steinbeck yang lain, Cannery Row misalnya, di buku ini Steinbeck memulai kisahnya dari sosok minor, katakanlah orang-orang yang tersisihkan dari kelas masyarakat dominan. Orang-orang yang kalah dari nasib mujur. Kisahnya dimulai dari dua orang pengembara pencari kerja yang membutuhkan uang demi sebidang tanah tempat mereka akan menghabiskan waktunya dengan bekerja tanpa harus diperintah oleh siapa pun. Dua orang dengan mimpi yang sederhana. Hidup dengan bebas tanpa beban pekerjaan yang ditentukan orang lain. Mereka bercita-cita menjadi tuan bagi hidupnya sendiri. Dua orang yang ingin memiliki sebidang tanah dan sebuah rumah sederhana yang bisa mereka tinggali dengan kemauan sendiri. George dan Lennie adalah dua sosok yang membuat eike berpikir betapa persahabatan dua tokoh ini adalah jenis pertemanan yang saling mengisi. Bahkan dua sosok ini mewakili gagasan mengenai kesepian yang di alami orang-orang yang termarginalisasi. Dengan kata lain, interaksi mereka adalah persahabatan yang dipupuk dari kesepian masing-masing dari mereka. Di sini Soledad, tempat yang bakal mereka tuju, sebuah kota di California, menjadi nama sekaligus arti yang mewakili kesepian itu sendiri. George bertubuh kecil, dan Lennie adalah sosok raksasa yang berotak seperti anak-anak, tapi kekuatannya jauh lebih besar dari siapa pun yang tak pernah membayangkannya. George-lah yang menjadi sahabat Lennie setelah Lennie ditinggal mati Bibi Clara, sekaligus orang yang melindungi Lennie dari keluguan sekaligus kebodohannya. Lennie memang berbadan besar tapi jangan menyangka dia secemerlang tubuh dan tenaganya. Pikirannya hanya bisa ditemukan di kepala anak-anak berusia sekira lima sampai tujuh tahun. Secara emosional Lennie bukanlah orang yang mampu mengontrol dirinya sendiri. Sangat lugu bahkan. Di sini eike merasa kadang memang keluguan anak-anak sering kali dipandang kebodohan bagi orang-orang dewasa. Dari cara berpikir orang dewasa, anak-anak sering didudukkan sebagai orang yang mesti mengikuti perintah yang lahir dari otak orang-orang yang jauh lebih tua. Tapi Lennie sebenarnya adalah bukan anak-anak. Itulah sebabnya eike merasa kebesaran hati George yang dengan kesabaran yang dimilikinya menjadi kekuatan yang mengikat persahabatan mereka. Dengan kata lain persahabatan mereka persahabatan yang juga sekaligus ikatan yang tidak lazim. Apalagi di keadaan saat itu –diceritakan keadaan ekonomi mengalami Depresi Besar—  para pekerja musiman seperti mereka sangat jarang berpergian berdua-duaan. Bukankah berpergian dengan dua orang akan membuat jatah makanan akan lebih banyak atau sebaliknya, malah berkurang. Dengan  kata lain, itu masalah mengingat kehidupan yang semakin sulit serta pendapatan yang tak kunjung membaik. Tapi di situlah kekuatan persahabatan, sekaligus cita-cita, setidaknya seperti yang dimimpikan George di dalam kepalanya. Sebidang tanah yang ia idam-idamkan dengan cara mengumpulkan uang sen demi sen. Suatu kehidupan, lebih tepatnya kebebasan yang bakal diraihnya. Sampai akhirnya mereka mendapatkan masalah akibat kebodohan, lebih tepatnya keluguan Lennie yang mengakibatkan mereka harus bersembunyi dari kejaran orang-orang di suatu malam. Saat itu, Lennie yang memiliki kesukaan aneh dengan menyentuh apa saja yang halus –ya, Lennie memiliki kesukaan menyentuh permukaan yang lembut nan halus— terperangah kepada baju seorang wanita yang dilihatnya menarik. Tanpa pikir panjang, dengan keluguannya dia berusaha meraba permukaan baju sang wanita yang membuat dirinya seperti seorang maniak seks yang mengancam (bayangkan dengan kepolosan seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba datang kepada Anda dengan memegang-megang busana yang Anda kenakan!). Masih mengelus-ngelus permukaan halus baju sang wanita, tak disadarinya Lennie membuat takut sang perempuan yang menuduhnya ingin memperkosanya. Saat itulah tindakan polos Lennie memancing kegaduhan lantaran kepanikan sang perempuan. Mereka akhirnya melarikan diri dari amuk orang-orang. Bersembunyi selama semalaman dan melalui perjalanan jauh tibalah mereka di sebuah barak tempat mereka akan bekerja mengangkut biji jelai (sejenis padi-padian yang biasa dipakai untuk makanan ternak). Tapi, tak bakal ada yang akan menduga, di situlah Lennie akan membuat masalah di luar ekspektasi siapa pun. Di tempat ini George dan Lennie diterima bekerja sekaligus sudah merasai dari awal bahaya yang akan dihadapi oleh mereka berdua, setidaknya bagi George yang mengkhawatirkan ulah lugu Lennie yang tak mampu dikontrolnya. Kedunguan Lennie di mata George bukanlah suatu soal jika mampu dikontrolnya melalui perintah yang diberikannya. Namun, sebaliknya akan menjadi masalah jika Lennie ditinggal pergi tanpa kehadiran George di sampingnya. Sampai di sini eike merasakan ketegangan-ketegangan yang dihadapi George beserta kenalan-kenalan barunya; Slim, Candy, Carlson, Crooks, seperti di saat si istri Curley (istri yang dinilai genit dan murahan) atau Curley (sosok anak pemilik peternakan yang sok jago) itu sendiri datang secara tiba-tiba menemui mereka di tengah percakapan para pekerja. Curley dan istrinya, bagi George adalah dua sosok yang mesti dihindarkan dari Lennie. Biar bagaimana pun Lennie akan menjadi masalah jika dia dibiarkan berbicara semaunya. Hingga kedunguan Lennie-lah yang membunuh istri Curley di suatu sore dengan cara mati kehabisan napas dicekik tangan Lennie yang besar dan kuat. Bukan dicekik! Melainkan itu hanya upaya Lennie akibat ketakutan yang lahir dari kepanikan berlebihan lantaran istri Curley yang juga panik dengan cara mendekap mulutnya –sampai leher istri Curley patah. Kepanikan dengan kepanikan yang  bertemu akhirnya melahirkan tindakan bodoh yang menyebabkan matinya istri Curley. Endingnya-lah yang membuat eike merasa kemalangan yang dihadapi Lennie. Lennie mati ditembak dari belakang oleh sahabatnya sendiri setelah di dongengkan cerita berkaitan dengan impian mereka berdua untuk memiliki tanah dan rumah sendiri. Dengan polos Lennie mendengarkan cerita yang terus menerus didongengkan selama ini kepadanya dan George yang tangannya gemetar menarik pelatuk pistol yang ditempelkannya tepat di belakang batok kepala Lennie. Kematian yang tak mesti dilakukan oleh Slim atau bahkan Curley, tapi tangan George sendiri: orang yang menjadi pelindung bagi Lennie.

20 Agustus 2017

Cannery Row, John Steinbeck

Betapa berharganya seorang John Steinbeck bagi warga Ocean View Avenue sehingga mengubah namanya menjadi Cannery Row. Ini dilakukan atas penghormatan terhadap Steinbeck yang mengambil Ocean View Avenue sebagai latar cerita novelnya ini (akan sangat membanggakan kalau hal ini juga dilakukan terhadap sastrawan-sastrawan kita di Indonesia). Jika ingin tahu di daerah mana Ocean View Avenue berada, maka bukalah peta via goggle map, letaknya berada di kota Monterey, California, Amerika Serikat. Cannery Row adalah daerah pesisir menghadap laut, kawasan pemukiman yang berisikan orang-orang yang hidup dari hasil lautan. Mungkin sebagian besar warga Cannery Row akrab dengan perahu-perahu nelayan, desir angin asin, air pasang, dan tentu ikan-ikan yang menjadi penghasilan keuangan mereka. Sesekali menyesap bir atau wiski ketika angin dingin melanda. Atau membuka lebar-lebar pintu atau jendela ketika matahari sedang terik-teriknya. “Cannery Row di Monterey California adalah puisi,” tulis Steinbeck, “kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan, cahaya, nada, kebiasaan, nostalgia, dan mimpi. Cannery Row adalah kerumunan dan hamburan orang-orang, kaleng dan besi dan karat dan serpihan kayu, aspal yang mengelupas dan tanah yang penuh rumput dan timbunan sampah, pabrik-pabrik pengalengan sarden dan dibangun dari pintu-pintu lipat besi, tempat-tempat kumuh, restoran-restoran, rumah pelacuran, dan toko-toko kelontong kecil yang berdesak-desakkan, laboratorium, dan rumah-rumah kumuh.” Itu sebagian kalimat pembuka novel yang diterjemahkan Eka Kurniawan. Seperti gado-gado, seluruh kesan bercampur baur. Puisi dan kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan dan cahaya, nada dan kebiasaan, dan nostalgia dan mimpi, yang semuanya memberikan semacam kesan Cannery Row adalah tempat yang unik dan antik. Ya, Cannery Row adalah cerita orang-orang pinggiran, dan yang dianggap tak berguna, namun masih memiliki hati yang luas seperti lautan yang melingkupi daerah mereka. Orang-orang yang sama yang ditulis Steinbeck sebagai germo, tukang tipu, judi, pelacur, anak haram jadah, tapi jika dilihat dari lubang yang lain adalah “para santo, dan malaikat dan orang-orang suci.” Cerita masyarakat kelas kedua. Cannery Row punya Le Chong, yang diceritakan memiliki toko kelontong ketika segala kebutuhan dapat segera terpenuhi, toko serba ada yang tak pernah memberikan diskon walaupun barang dagangannya telah digigit tikus-tikus pengganggu. Cannery Row punya Doc, lelaki tua yang gandrung dengan hewan laut, yang sering dicarinya di sekitar pesisir pantai California, pria aneh yang sering menyalurkan pesanan berkilo-kilo hewan laut ke universitas-universitas, laboratoriun, bahkan museum, juga seseorang yang menempati Western Biological, gedung yang befungsi sebagai laboratorium tempat menyimpan benda-benda aneh, segala jenis binatang-binatang laut, zat-zat beracun, obat-obatan yang sulit diketahui untuk apa menyimpannya, dan benda-benda yang diawetkan di dalam stoples yang berisikan ramuan khusus. Doc memiliki Franky seorang bocah  gangguan mental yang hanya mau tinggal bersamanya di sebuah lemari yang disenanginya. Cannery Row memiliki Dora Flood, perawan tua berumur 50 tahun dengan gadis-gadis peliharaanya. Si induk semang yang memiliki gaya etika seperti orang terhormat dari rumah pelacuran bernama Bear Flag Restauran dengan insting bisnis yang memukau, yang membantu tagihan-tagihan toko kelontong di sekitar Cannery Row. Di Bear Flag, siapa pun bisa memesan segelas bir dengan memakan sandwich –suatu istilah bagi orang-orang dewasa yang sering berdatangan di Bear Flag. Di Cannery Row ada Mr. dan Mrs. Molly, pasangan suami istri yang menjalani hari tuanya dengan tinggal di dalam pipa ketel uap bekas yang dibuang begitu saja di hamparan tanah kosong. Dengan jeli mereka menyulap pipa-pipa bekas sebagai tempat tinggal bagi gelandangan-gelandangan dengan cara menyewakannya. Di Cannery Row tinggal juga Henry, pria yang senang melukis menggunakan kulit kacang, tapi lebih suka membuat perahu sepanjang sepuluh tahun dan tak pernah dibawanya berlayar karena selalu dibongkarnya untuk dibuat kembali dari awal. Dan, Cannery Row juga memiliki Mack, seorang pemimpin dari  segerombolan yang ia sebut anak-anak, yang mempunyai kejeniusan seorang pengangguran untuk bertahan hidup dari keacuhan Cannery Row, dengan rela bekerja apa saja melalui tipuan-tipuan handalnya. Mack tinggal di sebuah bangunan tak terawat yang mirip gudang—setelah dipinjamkan oleh Le Chong dengan sedikit tipuan yang cerdik-- bersama Hazel, seorang pemuda 26 tahun yang pernah bersekolah di sekolah tempat anak-anak bermasalah. Hazel memiliki kecakapan berbicara yang bisa memancing obrolan dengan menjebak lawan bicaranya tapi tak memahami dengan baik apa yang seringkali diomongkan, bersama Eddie, seseorang batender pengganti di sebuah pub bernama La Ida yang sering kali mengumpulkan sisa-sisa bir, wiski, scotch, anggur, rum, gin, atau minuman apapun yang tidak dihabiskan dari para pelanggan di bawah meja kerjanya untuk dibawa pulang agar dapat diminum bersama lainnya, bersama Hughie yang memiliki sedikit kecerdasan ketika memanfaatkan barang-barang bekas yang dipungutnya entah di mana dan mampu diubahnya menjadi tempat tidur sederhana yang tidak dipunyai teman-temannya, bersama Jones seseorang yang rela bekerja apa saja untuk membantu kelompoknya agar dapat menikmati hari-hari tanpa harus kelaparan, dan  anggota terakhir, Gay, pria yang memiliki kecakapan bak montir berbakat yang mampu menyulap seonggok truk yang ditinggal begitu saja menjadi alat transportasi menguntungkan bagi mereka. Mereka semua tingga di tempat bernama Palace Flophouse yang dipermak menjadi tempat tinggal seadanya dari barang-barang rongsokan. Di Cannery Row mereka semua saling bersinggungan, sehari-hari bertukar sapa, di antara bising dan busuknya tempat tinggal yang asin dibawa angin laut. Tapi, selalu ada saat-saat kebaikan entah muncul dari mana yang membuat satu dengan lainnya harus memberikan yang terbaik untuk menunjukkan simpati dan tentu, kebaikan itu sendiri. Dan, kebaikan itu adalah pesta sederhana yang menyatukan mereka di bawah suatu persahabatan di malam hari yang dirancang oleh Mack beserta gerombolannya. “Si Doc itu sahabat sialan yang baik hati, ia akan memberi kalian seperempat galon setiap waktu. Ketika tak sengaja aku terluka ia menyiapkan perban baru setiap hari. Sahabat sialan yang baik hati.” “Aku telah berpikir sangat lama… apa yang akan kita lakukan untuknya—sesuatu yang manis. Sesuatu yang ia suka.” Kemudian rencananya ini menyebar dari mulut ke mulut seperti rambatan angin yang menyelinap ke setiap jendela untuk memberikan kejutan terhadap Doc–dan akhirnya adalah pesta dan kebahagiaan bagi mereka bersama. Sangat jarang menemukan orang semacam Mack, apalagi seorang gelandangan yang memiliki hati murni untuk membalas kebaikan seseorang dengan sesuatu harta yang tidak ia miliki di sepanjang hidupnya. Di mana-mana suatu pesta perayaan seringkali dilakukan oleh orang-orang berduit, orang-orang yang memiliki akses yang besar terhadap kemeriahan dan keberlimpahan. Dengan tujuan kegembiraan yang seringkali malah sebagai ajang pamer diri ketika mampu mengambil langkah keberhasilan yang tak dapat orang lain tiru. Dengan kata lain suatu pesta yang tak berfaedah, bukan sebagai ajang simpati dan terima kasih. Tapi, Pesta Mack ini bukanlah pesta yang meriah, namun cukup untuk menarik setiap dari mereka menyiapkan waktu dan kado khusus untuk menunjukkan kebaikan satu persatu di antara mereka. Suatu pesta yang sebenarnya adalah balas budi bagi kehidupan mereka, yang memiliki orang-orang yang rela melalukan apa saja demi suatu kebaikan yang dapat dikenang bersama. Pada akhirnya suatu pesta yang dikerjakan bersama-sama tanpa bersembunyi dari kenyataan pahit  dan kere, yang mereka alami sehari-hari. Suatu kebaikan yang akan dibicarakan dan dibagi di sisa usia warga Cannery Row.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...