Tampilkan postingan dengan label serpihserpih cerita bahrul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serpihserpih cerita bahrul. Tampilkan semua postingan

28 Maret 2020

Pandemi, Sampar, dan Kepandiran Abad 21



Sampar (La Peste)
Karangan Albert Camus
dialihbahasakan NH. Dini

BARU kali ini saya dibuat deg-degan atas suatu penyakit. Tidak seperti virus SARS dan MERS dua nama penyakit yang serba mengapung di telinga, corona nampak berbeda akibat gembar-gembor pemberitaan media, dan penanganan pemerintah yang seolah-olah sedang menghadapi wabah Tuberkulosis .

Sekarang jenis penyakit jadi aneh-aneh setelah manusia dibuat kaget. Kok, ada penyakit imporan hewan yang bikin keder.

Bukankah manusia lebih sering mengekspor segala capaiannya ke luar wilayah kehidupannya? Lah, ini malah kita kayak dijajah binatang. Kali ini hewan tertentu memberikan serangan balik setelah tubuh mereka jadi olahan kuliner dengan menyebarkan virus ke umat manusia.

Sejak tiga hari lalu, tubuh saya seperti mengalami kelainan terutama di sekitar kerongkongan. Ini gejala saat Anda akan mengalami flu yang membuat wilayah antara hidung dan tenggorokan seperti ditumbuhi selaput lendir.

Tidak ingin menerima keadaan ini begitu saja, semenjak ada sinyal tubuh bakal mendera suatu penyakit, tanpa perlu menunggu lama saya rajin mengkonsumsi suplemen vitamin c.

Tidak tanggung-tanggung dalam sehari saya bisa menghabiskan tiga butir kapsul. Corona membuat kewaspadaan saya meningkat, seolah-olah penyakit ini sudah mengantre di depan pintu rumah, dan hanya tinggal menunggu waktu kapan ia bakal mengetuk pintu.

Apalagi tiga hari belakangan ini, selaput lendir yang saya miliki membuat saya cukup khawatir. Jangan-jangan covid 19 dimulai dari tanda-tanda semacam ini.

Pertama ia mulai dulu bersemayam di dalam leher, semacam prakondisi untuk menyusun strategi saat bakal menginvasi tubuh korbannya.

Kedua dia bakal melipatgandakan dirinya dan mulai memberikan signal kepada tubuh yang merangsang otak menaikkan sistem imunnya.

Di saat ini, seperti dua pihak yang terlibat sengketa, keduanya bakal saling tarik ulur menegoisasikan kedua kepentingannya. Dalam keadaan ini demam merupakan tanda peperangan ini.

Jika tubuh Anda menang, maka Anda berhak mengusirnya dari dalam, tapi jika tubuh Anda kalah bersaing, covid bakal menguasai Anda dan menyebar memeriahkan kemenangannya.

Sialnya, sambil berpikir positif, selama tiga hari ini daya ingat saya tidak sama sekali membantu untuk melacak di mana dan siapa-siapa yang sudah saya ajak bertemu belakangan ini. Ingatan saya seperti hilang meluber seiring bekas air sisa cuci piring ke dalam lubang saluran pipa, pekerjaan yang sudah mulai malas saya lakukan dua hari ini.

Makanya, saya kerap berpikir mulai saat ini, siapa pun dalam keadaan seperti sekarang mulailah menyisihkan waktu seperti saat seorang penulis menuliskan catatan-catatan kerjanya di buku harian.

Anda tidak akan saya minta menjadi seperti seorang gadis  malang, yang tiap malam mengisi buku diari sambil menangis hanya karena gagal meyakinkan orang tua menerima lamaran sang pacar. Anda cukup duduk di meja makan, atau di atas tempat tidur sampai mulai mencatat apa-apa saja yang sudah Anda lakukan, dan yang paling penting, kemana dan dengan siapa Anda bertemu hari ini.

Tidak perlu saya jelaskan apa kegunaan catatan ”rekam jejak” Anda di atas, terutama bagi keadaan seperti saat ini. Setidaknya dengan cara itu, Anda akan dibuat seperti seorang pengarang yang betah menghabiskan 1576 kata dalam semalam sekali menulis.

Berabad-abad lamanya umat manusia melawan berbagai macam jenis penyakit, di samping selama itu pula umat manusia mengembangkan pengetahuannya mengenai dunia obat-obatan.

Kadang, umat manusia kalah dari virus sederhana hanya karena pengetahuan yang kurang memadai atasnya, sekaligus kalah lagi karena perkembangan teknologi medis yang masih sederhana. Penyakit dan teknologi dunia medis ciptaan peradan manusia adalah dua sisi yang saling berlomba dalam rangka mengisi rekam jejak capaian umat manusia.

Flu Spanyol ((1918-1919), 500 juta korban), Cacar ((10.000 SM-1979), 300 juta korban), Campak ((abad 7 SM-1963), 200 juta orang), Black death ((1340-1771), 75 juta orang), merupakan tonggak-tonggak sejarah penyakit mematikan bagaimana tubuh manusia bersisian hidup sangat dekat dengan marabahaya.

Kiwari semakin canggih gaya hidup peradaban semakin canggih pula jenis penyakit menyertainya, walaupun itu tidak menjamin kecanggihan cara berpikir manusia.

Yoval Noah Harari dalam literasi seri Sapiensnya menulis bakal memanasnya perseteruan ilmuwan dengan para ahli agama menghadapi ujian-ujian peradaban.  Dua kubu ini akan sengit mencari solusi-solusi teknis dan praktis ketika memecahkan soal-soal semisal kemiskinan, seksualitas, genetika, krisis peradaban, dan penyakit.

Saya akui geram melihat ketololan kelompok jemaah agama yang bersikap enteng menghadapi covid 19 ini. Di video Whatsapp beredar sekelompok jemaah agama di Gowa, Sul- Sel yang mengaku kebal corona.

Mereka seperti yakin hidup di masa Firaun, dan menganggap pandemi saat ini merupakan sihir ciptaan konco-konco Firaun, dan mendaku hanya dengan iman yang kuatlah jalan keluar atas penyakit ini.

Itu artinya, covid 19 bukan tentara Allah seperti diyakini selama ini setelah mereka meneriakkan takbir berkali-kali untuk menegaskan merekalah tentara Allah yang sebenarnya. Corona tidak usah dikhawatirkan oleh sebab dari namanya tidak sama sekali berbau Arab. Sesuatu yang bukan Arab mesti dilawan segesit-gesitnya, dan dengan atas nama Tuhan semua itu mesti dilakukan.

Kelompok ini kurang lebih sama perhitungannya dengan perwatakan dalam kisah La Peste karya Albert Camus, kisah mengenai wabah pes di Kota Oran, Prancis, yang awalnya tenang-tenang saja kemudianbermunculan tikus-tikus yang linglung kemudian mati dan diikuti angin panas dan hadirlah sampar.

Novel ini sedikit banyak menggugat dalil-dalil di belakang keyakinan bahwa dunia telah diciptakan dalam tujuan spesifik oleh Tuhan, atau sebaliknya, tidak ada tujuan spesifik atas penciptaan alam semesta ini.

Dalam Sampar hasil terjemahan N.H Dini ini, kelompok agamawan dinarasikan melalui sosok seorang pendeta yang memilih tinggal di kota Oran bermodal keyakinan bahwa apa yang dihadapi Oran merupakan bagian dari ujian Tuhan.

Itu mengapa, hanya bermodal keyakinannya semata, ia memilih membantu kota Oran menghadapi wabah pes, walaupun ia akhirnya mati tanpa diketahui oleh sebab yang pasti.

Dua sosok lain dalam Sampar adalah sang Ilmuwan dan sang Pemikir yang meski berbeda titik tolak dari sang agamawan, memiliki motivasi berbeda dalam melihat wabah Pes yang dikenal dalam sejarah Eropa sebagai ”Kematian Gelap” itu.

Narasi Sampar, jika dikalkulasikan untuk masa sekarang akan tetap relevan, mengingat perseteruan antara kelompok-kelompok umat manusia yang diperwatakkan di dalamnya.

Pengetahuan adalah kunci, meski pernyataan ini meski dilengkapi dengan pertanyaan lanjutan pengetahuan macam apa?

Ada jenis pengetahuan ketika manusia sangat percaya bahwa sejak tahun 60-an dunia tempat kita hidup saat ini juga ditempati oleh para alien yang datang dari galaksi lain.

Ada juga ragam pengetahuan yang mendaku dunia tempat kita tinggali ini hanyalah sebuah lempengan tanah panjang, dan di tempat-tempat tertentu terdapat puncak gunung tertinggi tempat para dewa-dewi tinggal sehari-hari.

Meski memang tidak sedikit ada pula ragam pengetahuan yang menolak dua perspektif di atas dengan cara benar dan salahnya keyakinan itu mesti diuji secara akal sehat dan ilmiah.

Abad modern, rasa-rasanya hanya merupakan narasi kebudayaan dari belahan bumi lain yangtidak berlaku di sini. Bagaimana tidak, ketika zaman menuntut untuk berpikir terbuka, memiliki empati, kerja kolaboratif, dan hidup cerdas,  kita justru sebaliknya, menjadi kelompok masyarakat yang bebal dan denial.

Bukan saja pandemi global seperti covid 19, saat ini pandemi kepandiran juga mesti menjadi perhatian kita semua. Semoga semuanya cepat teratasi.

---
Sudah tayang di Kalaliterasi.com


22 Februari 2020

Kitab Hammurabi



Code of Hammurabi atau Kitab Hammurabi
Sekujur sisinya diukir 282 peraturan
menggunakan bahasa Akkadia.
Prasasti ini sekarang menjadi koleksi Museum Louvre Prancis


KALI pertama saya mendengar Hukum Hammurabi yakni dari pelajaran sosiologi. Saat itu saya sudah duduk di kelas tiga sekolah menengah atas, dan seperti umumnya teman-teman saat itu, saya mulai berpikir masa SMA adalah masa ketika anak-anak seperti kami harus berhenti bersekolah. Setelah itu jika dinyatakan lulus, kami beranggapan bisa kemana saja termasuk pergi  ke terminal pasar menghabiskan waktu dan melakukan apa saja tanpa harus dibebani ini itu karena masih dianggap sebagai pelajar sekolah. Hukum Hammurabi diceritakan berasal dari masyarakat Mesir kuno Babilonia, begitu diceritakan guru sosiologi kami saat itu. Masyarakat Mesir kuno adalah masyarakat yang suka hidup di sekitar Sungai Nil karena tanahnya subur dan lebih lembab daripada tanah di pedalaman Afrika saat itu. Keadaan tanah di sekitar sungai ini sangat cocok untuk kehidupan binatang sejenis sapi atau domba karena ditumbuhi rumput-rumput hijau. Keadaan ini memungkinkan masyarakat untuk hidup menetap dengan mengandalkan peternakan dan bercocok tanam setelah hidup berpindah-pindah seperti generasi kehidupan masyarakat sebelum mereka. Guru kami mengatakan Hukum Hammurabi dibuat oleh seorang raja bernama Hammurabi untuk mengatur kehidupan manusia yang sudah mulai hidup secara bermasyarakat. Bagi para ahli, hukum ini adalah produk hukum tertua di dunia, yang pernah diciptakan manusia yang dipahat di prasasti setinggi delapan kaki di tengah keramaian yang disebut kota untuk mengimbau masyarakat agar selalu bertindak sesuai norma-norma kebaikan. Kalau tidak salah ingat, demikian pernah dikatakan saat itu, yang membuat saya membayangkan suatu kehidupan manusia yang suka berjalan-jalan melewati batu raksasa di pusat keramaian sambil bertelanjang dada seperti orang-orang Mesir kuno yang selalu menggunakan tudung kepala berkepala ular. Pelajaran ini bukan pelajaran sejarah, dan benar-benar dikatakan guru sosiologi kami, Ibu Suraedah, walaupun saya sendiri meragukannya, oleh sebab produk ”orang-orang terdahulu” saya pikir lebih pantas menjadi objek pembicaraan ilmu Sejarah. Saat itu Hukum Hammurabi muncul di lembaran kerja siswa, yang suka kami sebut LKS, yang membuat Ibu Suraedah senang membicarakannya dengan seringkali membuat pertanyaan-pertanyaan untuk kami jawab. Sosiologi adalah pelajaran yang mudah, begitu saya pikir saat itu, karena saya hanya tinggal menghapal dua atau tiga kalimat yang tertera di LKS jika Ibu Suraedah mengajukan pertanyaan, dan saya bisa menyampaikannya persis seperti apa yang ditulis dalam buku. Kadang-kadang memang tidak mesti harus sama seperti dalam buku, Anda hanya cukup mengetahui kata-kata kuncinya dan mampu melihat hubungan kata-kata itu dengan bunyi pertanyaan yang diberikan. Trik itu lumayan ampuh untuk pelajaran sosiologi dan itu membuat saya menjadi murid yang gampang diingat karena sering terpilih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Ibu Suraedah. Saat naik kelas tiga, dan mesti berpisah dari teman-teman selama kelas 1 dan 2, merupakan masa-masa yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Saya sedih karena itu berarti kami akan saling berpisah dari teman sebangku sekaligus geng pergaulan di kelas selama ini. Teman yang paling saya ingat saat ini adalah  Asdar, kawan sebangku, dan kami memutuskan untuk tidak saling berpisah jika kami naik ke kelas dua nanti. Kesetiaan kami atas pilihan ini sama seperti kisah kesetiaan Lennie dan George  dalam Of Mice and Men karya John Steinbeck, walaupun mesti saya katakan di sini, kami sama-sama bersikukuh bahwa saat itu tidak ada di antara kami yang ingin seperti Lennie yang bodoh dan lugu. Sekarang Asdar telah berprofesi sebagai polisi, cita-citanya yang selalu ia gadang-gadang sebagai profesi terbaik semenjak dari kelas satu. Asdar salah satu orang yang memiliki kepercayaan diri secara berlebihan bahwa masa depannya akan bisa bekerja di institusi kepolisian negara, dan ”mulut besarnya” itu sudah ia buktikan setelah berpisah cukup lama sejak kami lulus. Asdar sekarang tampak memiliki badan yang lebih berisi setelah saya melihat dan berteman dengannya melalui facebook. Ia sering saya lihat memasang foto-foto kala bertugas di jalan raya, atau sedang berpose di depan mobil sedan PATWAL nya. Naik ke kelas tiga IPS sama artinya kami tidak akan lagi menemukan pelajaran berisi angka-angka yang harus kami jumlahkan menggunakan rumus-rumus, atau simbol-simbol dalam ilmu fisika dan kimia, yang tidak kami pahami mengapa pelajaran seperti itu sangat disukai beberapa teman kami, seperti juga Nurlaela. Nurlaela adalah murid yang tanpa ragu selalu mengisi slot kursi di paling depan tepat di depan papan tulis berada. Nurlaela murid tercerdas di kelas kami. Ia bersama kecerdasannya seakan-akan diciptakan ke dunia seperti suatu amanah khusus demi menjawab setiap soal yang ditulis setiap guru di atas papan, dan selalu saja membuatnya mampu menjawab dengan benar. Ketika ini terjadi, hampir semua isi buku catatan kami, terutama pelajaran hitung-menghitung, adalah hasil kerja Nurlaela di atas papan. Saat itu terjadi, sebagian dari kami  dibuat seperti kerbau dungu yang hanya bertugas mencatat ulang hasil pekerjaannya di atas papan ke dalam buku catatan. Suatu waktu, Nurlaela mengeluh merasakan sakit di kepalanya saat mengikuti pelajaran matematika. Saat itu kami sedang mengerjakan soal yang sulitnya bukan main, yang diberikan Ibu Ros di atas papan. ”Jangan terlalu banyak berpikir, Laela,” kami mengingatkannya seperti koor lagu dari bangku paling belakang sambil terkekeh-kekeh bahwa otaknya sepertinya sudah aus. Kami mengira siang itu juga akan membuat Nurlaela tidak lama lagi menjadi gila karena terlalu keras menggunakan pikirannya. Peristiwa itu diam-diam membuat kami membatin ”ilmu matematika ternyata bisa menjadi penyebab sakit kepala dan pusing-pusing.” Kecerdasan Nurlaela tidak ada duanya di kelas saat itu, tetapi tetap saja setelah peristiwa sakit kepala itu membuat kami mulai khawatir otak yang dipaksa bekerja terlalu keras untuk bidang-bidang pelajaran tertentu, bukan saja membuat kepala kami akan sakit seperti Laela, tapi bisa membuat kami sinting. Kami takut mengalami kejadian yang lebih parah dari Nurlaela, yakni tanpa bisa kami kendalikan kepala kami tiba-tiba meledak membuat kaget seisi kelas karena bersikeras ingin memecahkan soal yang tidak satupun orang bisa menjawabnya. Kata orang Jerman hasil pendidikan adalah ”apa yang kita ingat setelah yang lain dilupakan.” Saya sekarang masih mengingat Hukum Hammurabi dan melupakan tabel zat dalam ilmu kimia, seperti saya mengalami kesulitan jika mengingat-ingat rumus-rumus matematika yang pernah saya dapatkan selama bersekolah.  Banyak yang saya pelajari hingga saat ini, terutama di masa sekolah, tapi tidak semuanya dapat saya simpan dengan baik. Ternyata ingatan bekerja secara politis oleh sebab Anda dapat memilih mengingat sesuatu jika selama sesuatu itu melibatkan emosi dan berkesan bagi Anda. Saya bisa mengingat Hukum Hammurabi karena otak saya begitu emosional menanggapinya sampai mampu membayangkan bagaimana keadaan pasar, kuil-kuil, padang pasir, rumah-rumah tanah, jalan raya, tenda-tenda, dan bagaimana cara orang berpakaian saat itu. Saya yakin, inilah sebab yang membuat Nurlaela merasakan sakit di bagian kepalanya. Ia berpikir sampai-sampai menggunakan emosi dan bersikeras ingin memecahkan soal yang sulitnya bukan main itu. Sebagaimana saya yang masih mengingat Hukum Hammurabi, sekarang ia pasti bakal mengalami kesulitan melupakan bunyi soal matematika yang ingin ia pecahkan saat 16 tahun silam.

23 November 2017

Ektopik.  Pria itu terkulai lemah. Selang kecil terpasang di hidungnya seperti ular pipih yang masuk merayap ke sarangnya. Dua pergelangan tangannya tak bergerak. Jarum infus menancap di urat venanya. Ukuran kantungnya lebih besar dari kantung infus biasanya. Wajahnya pias. Kulitnya yang cokelat legam tak bisa menyembunyikan mukanya yang pucat.

Di sekitar tubuhnya dua tiang dipasang menyangga kantung darah yang berwarna merah gelap. Sementara monitor EKG berbunyi dengan irama yang konstan. Penanda jantungnya berdetak normal. Juga pernapasannya. Walaupun begitu, sesekali pria itu menengok resah garis-garik hijau yang bergerak berubah naik turun. 

Pria itu semenjak kemarin baru saja menjalani operasi akibat lambungnya yang pecah. 

“Sebelumnya dia menolak dipasangi selang dari mulut menuju lambungnya,” ungkap istrinya yang cemas. 

Istri pria itu merujuk kepada prosedur yang biasa disebut sebagai nasogastrik tube, pemasangan selang berisi cairan bagi pasien yang mengalami muntah-muntah tak berkesudahan. Gejala yang sering kali ditemui bagi orang-orang maag akut atau lambung yang sudah boyak. 

“Setahun lalu dia sempat beradu fisik dengan keluarga sendiri akibat harta warisan. Karena itu ia dipenjara selama 12 tahun, dia membunuh kemenakannya sendiri.” Beber kakak sang pasien. 

Caranya berbicara, dengan bahasa bugis yang khas mengingatkan eike kepada kabupaten yang bersebelahan langsung dengan Bulukumba. 

“Selama setahun di penjara dia terserang maag akut,” cerita sang kakak melanjutkan. 

“Tapi, memang sebelumnya lambungnya bermasalah, barangkali selama di penjara makannya tidak teratur.” Dia berucap lagi.  

Sampai di sini eike tiba-tiba teringat istri eike yang terbaring menahan sakit pasca operasi. Dia terkulai lemah seperti baru saja menghadapi kejadian dahsyat. 

Tapi memang dia baru saja melewati peristiwa yang benar-benar kritis. Dengan kata lain peristiwa yang betul-betul tak biasa. Peristiwa yang memang di luar dugaan. Masa-masa yang sulit diucapkan.Perutnya baru saja dibelah menyerupai prosedur cesar. 

Sekarang, kadar hemoglobinnya belum normal. Itu menyebabkan parasnya putih pucat. Bibirnya tidak semerah biasanya. Matanya memejam. 

Dia hanya terbaring dipenuhi alat-alat bantu pernapasan, infus, dan sekantung darah yang tergantung di sampingnya. Dua lembar sarung menutupi tubuhnya yang dingin. 

Monitor elektro kardio grafi berbunyi menunjukkan garis-garis kritis tubuhnya. 

Di ruang ICU itu, istri eike hanya berdua dengan pria yang lambungnya sobek tadi.  

Selebihnya, berjejer deretan panjang tempat tidur kosong. Dan kesunyian. 

***

Minggu pagi eike segera mempercepat laju motor sebelum lepas subuh meninggalkan rumah. Di rumah, Lola, istri eike, sebelumnya mengabari perutnya yang sakit.    

Belakangan, disela-sela aktivitasnya dia sering kali mengeluhkan sakit di bagian perutnya. Maag, eike menduganya. 

Karena berbeda dari dua kali keguguran sebelumnya, kali ini tidak ada fleg atau darah yang mengalir dari rahimnya. Janinnya yang sudah 8 minggu, sepertinya baik-baik saja.  

Setiba di rumah, eike melihat ia mengerang kesakitan. Tangan kirinya tergeletak di atas perutnya. Matanya memejam. Kakinya ia angkat dengan dinding sebagai penahannya. 

Sepertinya dia baru saja berganti pakaian. Pagi itu dia berencana menghadiri pelatihan yang jauh-jauh hari sudah ia persiapkan. Tapi, dia belum sempat mengenakan jilbabnya. 

Eike menduga, sebelum mengenakkan jilbab sakit itu datang lagi menyerang perutnya. Kali ini disertai dadanya yang ia rasakan seperti dipukul seseorang. 

Maag. Itu gejala maag. Eike langsung teringat beberapa tahun silam ketika ia tergeletak hampir pingsan ketika masih kuliah. Kala itu maagnya kambuh sehingga harus segera dibawa ke rumah sakit. Pasca kejadian itu dia dirawat  beberapa hari di rumah temannya yang jauh dari tempat kosnya.

Tak lama melihatnya terbaring memendam perih perutnya, eike keluar berkendara secepatnya membelikannya biskuit serta minuman ringan sari kacang hijau. 

Biskuit konon ampuh meredakan  penderita maag yang tiba-tiba diserang asam lambung. Kacang hijau untuk memberikan asupan gizi yang segera dibutuhkan tubuh. 

Selang beberapa saat setelah meneguk minumannya, dia ingin muntah. Kuat dugaan ini sepertinya memang maag. 

"Perutku sepertinya tambah membesar," tiba-tiba dia berucap. 

"Kan sedang mengandung," eike memberikan jawaban seadanya, agar ia tidak berpikir macam-macam. 

"Tapi, kok sakit kalau ditekan?" 

"Mungkin maagnya memang kambuh,"

"Sebelah kanan?" Istri eike menimpali dengan kalimat tanya. 

Istri eike, memang sering kali banyak bertanya tentang hal-hal baru yang sering ia temui. Termasuk gejala tubuhnya yang sering ia anggap ada perubahan. 

Pernah suatu kali, eike dibuat kagok atas pertanyaan-pertanyaan praktisnya soal agama. Maklum, eike berbeda pandangan keagamaan dengannya. Kalau sudah begitu, untuk meminimalisir kekalahan, eike hanya bilang, baiknya baca saja buku, lebih praktis. "Malas, justru tugas Kakak untuk membacanya. Nanti setelah itu baru dijelaskan kepada saya". Begitu selalu kalimat ampuhnya. 

Sepengetahuan eike, penderita maag sering mengeluhkan lambungnya yang kerap perih. Bahkan ada yang sampai sakit bukan main. Lambung berada di sebelah kiri. Sumber sakit di perut Lola berada di sebelah kanan. Eike mulai curiga. 

Kalau dalam mazhab politik, kata kanan diidentikkan dengan golongan yang pro pemerintah. Dalam politik, yang kanan itu memuakkan, konservatif dan, menjengkelkan untuk diajak melakukan perubahan. 

Walaupun  ini tubuh perut istri eike, memang kanan kali ini menjengkelkan. Ditambah lagi mengkhawatirkan. 

Tidak lama Lola, muntah kedua kalinya. Eike melihat air muntahnya berwarna cokelat menyerupai air teh. Sepertinya zat kacang hijau barusan dilemparkan keluar dari lambungnya. 

Ia mengerang.  

Tubuhnya seketika tidak bisa bergerak luwes. Perutnya mengejang.

Parasnya mengeluarkan keringat. Dan, tanpa ditanya seperti sebelumnya, tiba-tiba dia meminta untuk segera dibawa ke rumah sakit. Kali ini sakitnya tak tertahankan. 

“Sakit.”

Segera saja eike memesan grab. Mustahil bagi eike membawanya dengan motor mengingat kondisinya yang sulit bergerak. Setiap guncangan akan membuat perutnya tambah sakit. Tak lama setelah banyak yang menolak, seorang pria menerima bookingan dengan melayangkan pesan terkait alamat rumah. 

Semenjak dari keluar dari kamar, Lola nampak masih bisa menahan-nahan rasa sakitnya. Dia berusaha dengan hati-hati menghindari otot perutnya banyak bergerak yang sewaktu-waktu sakit datang menusuk-nusuk. Dari kamar kos kami di lantai dua dituruninya dengan pelan dengan kaki kanan terlebih dahulu di setiap anak tangga. 

Tak lama berselang dengan wajah yang memelas kami sudah berada di atas mobil. Mobil diarahkan segera menuju rumah sakit Haji. Tak jauh dari mukim kami. Dengan menempuh waktu selama kurang lebih dua puluh menit kami sudah tiba di IGD rumah sakit. Kami berdua segera masuk dan seorang suster menghampiri. Kami pun dibawa ke sebuah ranjang yang dipisahkan tirai-tirai plastik berwarna hijau peroz. 

Agak lama kami dibiarkan sendiri dengan suster-suster yang lalu lalang entah mengurus apa. Eike baru saja menaruh tas di sebelah tempat tidur yang kosong ketika seorang suster datang untuk meminta eike mendaftar di bagian administrasi. Selang kembali mendaftarkan istri eike, Lola baru saja dihampiri seorang suster yang mengecek kesehatan dengan beberapa pertanyaan.

Semenjak ditanyai keluhan yang diderita istri eike, keterangan belum jelas terkait sakit yang dideritanya. Berdasarkan informasi dari seorang bapak yang sedari tadi menulis-nulis beberapa kalimat di atas kertas dari IGD, maag dan usus buntu adalah penyakit yang diduga dialami Lola. Dia hanya duduk di balik mejanya sembari melihat gejala-gejala yang ditanyakannya sebelumnya. Tapi, bagaimana dengan kandungan istri eike? 

Setelah diketahui Lola sedang mengandung, tak lama kami dibawa oleh dua orang suster ke ruangan yang belakangan eike tahu tempat khusus bagi ibu-ibu yang akan bersalin. Lola ditempatkan di sebuah ruangan setelah ia sebelumnya bersusah payah memekam sakit selama perjalanan di atas kursi roda.  Sesekali ia mengeluarkan suara seperti berteriak.

Segera ia dibawa dan dibaringkan di atas tempat tidur. Tapi, tubuhnya menolak. Goyang sedikit saja perutnya merasakan sakit. Ia berusaha untuk kedua kalinya. Masih saja tidak bisa. Lalu ia mengubah gaya duduknya untuk kemudian berusaha rebahan, namun tetap saja tak bisa. Wajahnya berkeringat. Keningnya dipenuhi titik-titik air yang mulai menetes tanda ia menahan sakit yang sangat.  

Suster-suster yang melihat Lola bersusah payah memegang perutnya berusaha memeriksa tubuhnya. Sambil duduk istri eike menjawab setiap pertanyaan dengan bicara seadanya. Cara itu dilakukan agar ia bisa mengambil napas agar perutnya bisa bertahan menahan beban sakitnya. Dari belakang datang dokter muda yang eike duga bukan dokter yang sebenarnya. Dia menanyai keluhan istri eike dengan perhatian yang khas dokter muda. Tetap saja Lola bicara secukupnya. Keringatnya semakin banyak. 

Setelah dianalisis dengan cara memegang dan menekan di beberapa bagian perut,  dan Lola yang merasakan sakit di bagian tertentu, dokter muda itu menampakkan raut muka yang berubah. Mimiknya seolah menemukan sesuatu yang mengganjal. 

Sontak ruangan semakin gaduh dengan bertambahnya suster-suster yang berdatangan. Mereka sesekali bergantian datang melihat istri eike yang duduk tak bergerak bagai patung. Nampaknya ada hal yang baru yang dimiliki tubuh Lola yang mesti mereka ketahui. Seketika istri eike jadi objek.  

Sementara di luar ruangan, eike memerhatikan dokter muda tadi berkonsultasi via telepon dengan suara entah milik siapa. Setelah mendengar pembicaraannya dengan seksama, eike duga kalau yang berbicara dengannya adalah seorang dokter ahli kandungan. Nampaknya dokter muda tadi sedang melaporkan temuan-temuannya dari tubuh Lola kepada sang dokter .

Pelan-pelan eike menenangkan diri berusaha menangkap setiap gelagat perawat yang masuk melihat istri eike. Setiap mereka masuk seperti ada yang hendak mereka sembunyikan. Tapi entah apa. Eike mulai merasa was-was.

Lola yang dari tadi memegang perutnya hanya bisa pasrah mengeluhkan ulu hatinya. Entah dari mana ia tahu bahwa ulu hatinya yang sebenarnya sakit. Tapi, begitu yang ia sampaikan ketika ada perawat baru yang masuk menanyakan lagi keluhannya.

Sampai di sini waktu terus berjalan tanpa kepastian bahwa penyakit apa yang sebenarnya sedang mendera istri eike.

***

Air mukanya masih belum berubah. Masih sepucat setelah dari ruang bersalin. Matanya hanya menatap kosong menghadap ke atas. Bibirnya sudah hampir berwarna putih. Walaupun begitu kesadarannya masih tetap terjaga. Eike hanya bisa menggenggam tangannya berusaha memberikan kekuatan kepada dirinya yang terlentang di atas meja roda yang membawanya ke suatu ruangan.

Setelah menemani Lola sampai ke ruang tungggu untuk dibersihkan. Eike kembali mengingatkan dan membisikkan dekat di telinganya agar ia banyak-banyak bersalawat. Segera eike menyebutkan nama seorang perempuan suci agar ia tetap mengirimkan salawat kepadanya.

Selang beberapa meter, eike ditinggalkan sendirian setelah dia dibawa masuk menuju meja operasi.

***

Beberapa waktu sebelum itu, dalam laporan awal dari IGD disebutkan istri eike mengalami APP, istilah medis yang menyebut pecahnya usus buntu. Tapi, keterangan yang eike berikan kemungkinannya Lola menderita maag akut mengingat kejadian beberapa tahun sebelumnya.

Simpang siur masih terjadi sampai Lola akan dipindahkan kembali ke ruangan yang lain karena ia menempati bagian pemeriksaan yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Kemungkinan besarnya ia akan dipindahkan ke ruang bedah setelah saya mendengar bahwa kemungkinan ususnya memang pecah.

Saat ia akan dibawa kembali ke ruangan lainnya, Lola sulit berjalan. Kursi roda yang disediakan buatnya pun tak sanggup ia duduki. Ia seketika berteriak. Perutnya goyang. Suaranya membuat semua perawat merasa merana. Hingga dari ujung pintu seorang perawat yang lebih tua melihat dan merasa curiga atas raut muka istri eike yang drastis menjadi semakin pucat.

“Coba periksa kembali, ini mungkin bukan APP?”, sembari ia meraba-raba tubuh istri eike yang seketika dingin. Mukanya nampak keheranan. Sementara Mata istri eike memandang sesuatu seperti kehilangan daya. Melihat sorot matanya yang berbeda, perasaan tak enak seketika menggerayangi tubuh eike.

“Ini nampaknya karena kandungannya, coba kembalikan ke tempat tidur. Ini pasien kita!”

Eike mulai merasakan hal yang tak enak.

“Tapi keterangannya tertulis APP!”

“Coba periksa lagi, sepertinya ini di luar kandungan”

Mendengar kata yang terakhir itu pikiran eike semakin menjadi-jadi. Ada apa dengan kandungannya? 

Di meja lain seorang perempuan dokter muda mengecek kembali data pasien yang diberikan dari ruang IGD. Tertulis jelas APP di kolom penyakit yang diderita. Di samping kanan kirinya dua orang perawat ikut memerhatikan kertas keterangan yang tertulis nama istri eike di salah satu kolomnya. Mereka menampakkan keheranan, antara keterangan yang tertera di atas kertas dan kemungkinan baru yang disebutkan sang perawat senior barusan.

Demi memastikan kembali keterangan yang diterakan dari IGD, sang dokter muda cepat-cepat menghubungi seorang dokter ahli. Dia mengabarkan tentang kemungkinan baru yang diinformasikan sang perawat. Pernah sebelumnya sang perawat menemukan gejala yang sama pada pasien yang dia sebut hamil di luar kandungan. Gejala yang sama ia lihat dialami Lola.

Sementara itu sahabat-sahabat istri eike datang satu persatu. Mereka adalah orang pertama yang Lola kabari via grup whatsapp sebelumnya ketika dia masuk di IGD. Mereka duduk harap-harap cemas sembari menunggu kabar terbaru dari kondisi Lola.

Tidak lama berselang, seorang perempuan berbaju training datang dan langsung masuk tanpa babibu. Nampaknya ia baru saja pulang dari acara olah raga kelompok entah di mana. Melihat kedatangannya, seorang suster mengambil mesin USG yang diambil entah dari mana. Tidak lama seluruh perawat dan sang dokter muda berdiri membentuk setengah lingkaran di belakang sang perempuan. Mata mereka tertuju ke layar USG setelah sang dokter mengecek keluhan istri eike dengan beberapa pertanyaan. Tidak lama sang dokter mengambil dan menggerakkan gagang alat pindai di perut Lola.

“Coba lihat,” Ia memberikan arahan kepada seluruh orang yang berada di belakangnya. Ia menggerak-gerakkan dari kanan ke kiri alat USG di perut Lola, seperti mencari sesuatu.   

“Ini sudah pendarahan.” Ia berkata sambil menunjukkan suatu gambar yang eike tak mengerti. Gambar di layar mengingatkan eike kepada pola-pola zat yang dibesarkan beratus-ratus kali melalui mikroskop.

“Perhatikan ini?” ia menggerakkan gagang USG. “Itu cairan darah semua”.

Semua orang di belakangnya serius memerhatikan sang dokter.

“Ini hamil di luar kandungan.”

Istri eike akhirnya positif dinyatakan mengalami kehamilan di luar kandungan.

Sekira tidak sampai satu menit ketika dokter Fatmawati memberikan “kuliah singkat” kepada perawat-perawat yang mengelilinginya, ia berkata: “Tolong siapkan ya, kita operasi sekitar satu setengah jam ke depan. Bisa ya!”.

Tiba-tiba ada yang lekas hilang tercerabut dari tubuh eike setelah mendengar langung ucapan sang dokter. Di pintu tempat eike berdiri, eike melihat seketika para perawat yang kembali lalu lalang menyiapkan berkas-berkas untuk operasi. Ya, tidak lama lagi Lola akan segera dioperasi. Sungguh di luar dugaan.

Eike segera menenangkan diri, berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Dan berusaha mengingat siapa-siapa yang segera harus eike informasikan berkaitan dengan keputusan dokter yang tiba-tiba itu.

“Sebaiknya Bapak cepat-cepat menghubungi siapa saja keluarga Bapak,” ucap perawat tempat eike memberikan tanda-tangan sebagai persetujuan operasi.

Operasi tidak bisa ditunda-tunda lagi. Dan itu satu-satunya jalan!

“Dan mohonkan doa,” ucap perawat menambahi.

Eike tertegun sejenak. Ada yang berubah seketika dari tubuh eike.

***

Baru saja eike meninggalkan ruangan operasi yang tertutup bagi siapa pun kecuali dokter dan perawat-perawatnya. Sahabat-sahabat dari istri eike berada di luar menunggu pada kursi yang tersedia seadanya. Sementara teman-teman dekat eike satu persatu mencari tempat rebahan juga untuk menunggu. Istri eike beberapa menit yang lalu baru saja masuk setelah tubuhnya dibersihkan. Cincin dan anting-atingnya juga dilepas. Praktis ia hanya menggunakan baju khusus bagi orang-orang yang akan menjalani operasi.

Pintu ruang operasi sudah ditutup rapat. Terakhir sebelum meninggalkan, dokter Fatmawati berpesan agar eike memanjatkan doa. Dia juga mengatakan operasi tidak akan lama dari satu jam. Dia pun akhirnya masuk. Sepenuhnya istri eike, eike pasrahkan kepada Sang Maha Penentu.

Sekarang istri eike sedang bertarung. Eike sendiri, berusaha menguat-kuatkan diri, menuju mushola untuk bersujud seikhlas-ikhlasnya. 

13 November 2017

BURHANUDDIN. Faktanya belum bisa entas dalam benak anaknya, Burhanuddin yang saban hari memandikannya dengan merek sabun yang turun temurun dipakai hingga zaman sekarang. Di atas susun bilah kayu yang mirip batang kelapa, tiga empat drum penampungan air, dan dinding kamar mandi dibuat seadanya dari triplek dan bekas karpet plastik. Di bawahnya saluran air yang anaknya yakin digali tangan Burhanuddin kala masih muda. Di ujungnya ada galian lubang selebar hampir dua meter, yang dijadikan saluran akhir pembuangan air. Airnya berwarna cokelat. Kadang di situ tempat Burhanuddin mencelup mati tikus yang masuk perangkap besi yang dibuatnya sendiri. Faktanya, peristiwa itu memang masih terekam baik. Saban pagi geliat tangan Burhanuddin yang meliuk-liuk di tubuh anaknya. Dengan sabun yang anaknya hafal betul harumnya. Air yang dingin, dan rengekan anaknya yang menolak dimandikan. Burhanuddin seorang yang sabar. Burhanuddin memiliki kebiasaan berkumpul dengan teman-teman kerjanya di kala malam tiba. Entah dari mana datangnya pria-pria berkulit legam itu. Tapi, yang anaknya ingat, mereka senang mendatangi rumah Burhanuddin demi bermain kartu remi atau domino. Meja-meja berkaki besi sering kali mereka pakai dengan puntung-puntung rokok yang semakin malam semakin bertambah. Burhanuddin kala itu perokok yang kuat. Suatu waktu, anaknya dan Fajar, adiknya, senang mengumpulkan puntung-puntung rokok yang ditinggal semalaman ke dalam kaleng bekas Blueband. Hampir penuh bahkan. Siangnya, setelah pulang sekolah, mereka berusaha membakarnya, mengisapnya di dalam kamar mandi. Tak dinyana Burhanuddin mengetahuinya. Asapnya bergentayangan di atas kamar mandi yang memang tak beratap. Hari itu, Burhanuddin murka. Kedua anaknya digantung di terali jendela. Hari yang naas, belaka. Kebiasaan itu tidak dilanjutkan anaknya, walaupun nanti pergaulan anaknya mengubahnya ketika sekolah menengah pertama. Burhanuddin dianugerahi tangan yang terampil. Hampir semua mainan anaknya dia yang membuatnya, termasuk membuat pesawat terbang yang sepanjang hampir selengan anaknya sekarang. Bobotnya lumayan berat. Anaknya sering kali menjadikannya sebagai kendaraan layaknya mobil truk. Tangan Burhanuddin juga diberkahi semacam “mukjizat” tertentu. Belakangan anaknya menyadari, bakat menggambarnya diwarisi dari tangan “seni” Burhanuddin. Kesabaran Burhanuddin dilihat anaknya kala ia pergi mengirimkan hasil menggambar kepada majalah Bobo melalui kantor Pos. Mungkin Burhanuddin merasai gambar anaknya tak bakalan menang, tapi tetap saja ia pergi mengirimkannya dengan motor bututnya berwarna merah. Di atas motor butut Suzuki-nyalah juga yang kelak dipakainya mengebut ketika membawa anaknya ke rumah sakit lantaran luka akibat terjatuh. Kini luka itu masih membekas di kaki anaknya dengan tujuh jahitan. Dulu kakak anaknya sering kali mengejek luka itu mirip lintah kering yang melekat kemana anaknya pergi. Sampai sekarang suara Burhanuddin masih selantang seperti saat mengimami salat magrib berjamaah. Di waktu ia membangun rumah baru, kamar Ima, anaknya yang tertua, yang ditinggal setelah dikirim ke pesantren sengaja dijadikan mushola. Di tempat itu pula, kelak Fajar, anak bungsunya tercium bau tembakau oleh istrinya. Burhanuddin kembali murka, apalagi istrinya. Fajar sendirian dihukum walaupun kenyataannya di sorenya Fajar bersama saudara laki-lakinya sama-sama merokok. Fajar baik ketika itu, dia menanggung kesalahan saudaranya tanpa melapornya kepada Burhanuddin. Mulai saat itu daun jeruk menjadi penting. Tanaman jeruk yang ditanam di halaman rumah mereka akhirnya bermanfaat. Sehabis menghisap rokok, daun jeruk mereka kunyah demi menghilangkan baunya. Sampai sekarang Fajar sang adik masih merokok. Tapi, tidak lagi mengunyah daun jeruk setelahnya. Entah tahun berapa Burhanuddin memutuskan berhenti merokok. Yang anaknya ingat, pembungkus rokoknya sering dikoleksinya seiring disusunnya berjejer di dinding dekat jendela. Yang pasti istrinya protes lantaran kebiasaan anehnya. Mungkin protes istrinya juga sehingga Burhanuddin berhenti merokok. Yang pasti tubuh Burhanuddin bertambah gemuk pasca memutuskan tidak merokok lagi. Makanya anaknya sering membandingkan, mengapa tubuhnya masih seperti tubuh Bapaknya yang ramping setelah tidak merokok lagi. Walaupun, anaknya sebenarnya khawatir tubuhnya bertambah besar. Tubuh Burhanuddin yang kian bertambah beratnya pernah terserang penyakit keras. Waktu itu sampai dia tidak mampu berjalan dan beraktifitas. Hampir berminggu ia sakit keras di atas tempat tidurnya. Seisi rumah khawatir lantaran sakitnya yang tiba-tiba dan tidak biasa. Hingga diputuskanlah Burhanuddin harus dirawat di rumah sakit berhari-hari. Anaknya sangat terpukul ketika melihat ia mesti digendong hanya untuk dinaikkan di atas mobil. Itu pertama dan terakhir kalinya seingat anaknya, Bapaknya masuk rumah sakit. Sekarang tubuh Burhanuddin sehat sentosa walaupun umurnya kian menua. Anaknya sering cemas jika ia berkendara tidak menggunakan jaket. Itu kebiasaan Burhanuddin yang anaknya lihat sampai sekarang masih dilakukannya. Di hari-hari tuanya, Burhanuddin masih sering beraktifitas layaknya seorang yang berlatar belakang pendidikan tehnik. Terakhir, anaknya membantunya mengecat pagar besi pesanan temannya yang dibuat dan dilasnya sendiri. Anaknya juga melihat, Burhanuddin membuatkan pesawat yang hampir sama yang pernah dibuatnya untuk kedua anak lelakinya, kepada cucunya sekarang. Mainan pesawat itu tanpa disadarinya, membangkitkan kenangan anaknya kepada ribuan hari silam. Di antara ribuan hari itu, ada satu hal yang paling berkesan bagi anaknya, ketika ia pulang dari pelatihan di tempat kerjanya selama beberapa hari di Bandung. Itu peristiwa yang panjang bagi kedua anak laki-lakinya yang ditinggal berhari-hari. Namun, hari kepulangannya menjadi hari yang istimewa bagi mereka. Dari atas mobil angkutan diturunkan sebuah sepeda berwarna biru dengan ban yang masih hitam mengkilat. Siang itu benar-benar spesial. Entah dari mana Burhanuddin membelinya, kecil kemungkinan dibelinya jauh-jauh dari Bandung, tapi mungkin juga sebaliknya. Sepeda itu benar-benar kejutan untuk kedua anak laki-lakinya. Itu hadiah bagi kedua anaknya. Kelak, sepeda itu jugalah yang membuat Burhanuddin cemas akibat anaknya yang mulai jauh jarak bermainnya. Sepeda itu membuat kedua anaknya bisa pergi kemana-mana di luar jarak tempuh hanya jika mengandalkan jalan kaki. Sampai sore hari tiba, cemas Burhanuddin belum juga lesap. Anaknya masih asyik bersepeda hingga magrib tiba. Sebelumnya, jika magrib tiba, Burhanuddin bersiap-siap mengantarkan kedua anaknya pergi ke suatu pasar yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Di pasar itulah bermukim sepasang suami istri yang memiliki banyak murid mengaji. Entah info dari mana, ia mengetahuinya. Yang pasti, jauhnya pasar dari rumahnya ditempuhnya dengan sabar demi kedua anaknya agar pintar membaca huruf-huruf hijaiyah. Entah diketahuinya atau tidak, kedua anaknya sering kali merasa takut kepada guru mengajinya yang super galak. Dari magrib hingga jam sembilan malam tiap hari, anaknya bersama puluhan anak-anak pasar mengaji di rumah yang sangat sederhana. Rumah yang ditinggali sepasang suami istri itu dibagi menjadi tiga petak kamar yang dihubungkan oleh satu lorong. Kamar pertama diisi murid campuran yang masih pemula, kelas ini diasuh istri sang ustad. Kelas ini adalah kelas yang paling ribut lantaran isinya adalah anak-anak yang berusia sekira kelas 4 SD. Di tengah adalah kelas khusus perempuan yang sudah masuk ke tahap “al-Quran besar”. Di sebelahnya, ruangan paling ujung adalah kelas yang diampu sang suami khusus para ikhwan yang berusia setara dengan anak lelaki yang sudah siap disunat. Dua anak lelakinya dititipnya di tempat itu. Tentu dimulai dari ruangan paling kiri, kelas pemula, walaupun sebelumnya kedua anak lelakinya pernah dibawanya ke Masjid Nurul Iman untuk belajar mengaji. Tapi di masjid itu tidak cocok. Metodenya agak kaku dan tidak dinamis. Maka dibawalah kedua anaknya ke tempat yang berlokasi di dalam pasar Inpres, ke kedua tangan besi guru mengaji yang lumayan galak. Tapi tidak disangka, kedua anak Burhanuddin lumayan cepat mengkhatamkan dan lancar membaca huruf-huruf hijaiyah tanpa terbata-bata. Dengan cepat pula kedua anaknya menyeberang ke ruangan paling kanan, tempatnya anak-anak yang sudah layak membaca al Quran dengan lancar. Hampir tiap hari Burhanuddin mengantar kedua anaknya dengan tabah. Selepas isya dia sudah bersiap-siap menjemput anaknya. Burhanuddin mungkin juga tahu, bahwa di tempat mengaji anaknya, para murid baru bisa pulang jika selesai melaksanakan salat isya berjamaah. Yang unik dari prosesi itu, sang guru mengaji akan berjalan mondar mandir dari depan ke belakang melewati tiap saf mengawasi murid-muridnya yang malas menjaharkan suaranya. Jika ada murid yang kedapatan tidak membesarkan suaranya secara serempak mengikuti surah-surah yang dibaca, atau mengantuk, maka tak segan-segan sang guru mengibaskan rotannya kepada bokong atau betis muridnya yang malas. Burhanuddin mungkin saja tidak tahu kalau anaknya sering kali menertawakan teman mengajinya jika melihat temannya kedapatan mengantuk dan ditempelkan balsem di bawah pelupuk matanya. Jika sudah begitu, sang anak bakal dipanggil dan mendapatkan juga hukuman dari istri sang ustad. Burhanuddin sangat senang terhadap kemajuan anaknya membaca al Quran. Dengan begitu dia tidak repot lagi mengajarkan mengaji kecuali rela menunggu anaknya pulang bersamaan losmen-losmen kios yang mulai menutup jualan lantaran malam kian larut. Kini Burhanuddin banyak menghabiskan waktunya di rumah. Sesekali dia bersenda gurau dengan cucu keduanya. Sembari menikmati masa-masa tuanya bersama istrinya, dia masih sering mencari kesibukan dengan hal-hal yang mampu ia perbaiki dari rumahnya. Beberapa tahun lalu, saat cucu pertamanya sudah dimasukkan ke PAUD, ia masih sering mengantar jemput cucunya seperti ketika ia masih mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan menggunakan motor bututnya. Anaknya masih mengingatnya ketika ia pertama kali dibawa ke suatu tempat bermain yang disadarinya adalah taman kanak-kanak. Burhanuddin pula yang mengantar dan menjemputnya. Kelak, ia tak akan mengetahui anaknya bakal menceritakan sepenggal kisah hidupnya di hari yang biasa seperti sekarang ini. Anaknya yang bertahun-tahun silam dia azani di kedua kuping mungil bayi laki-lakinya. Anaknya yang dulu dia namai seperti nama eike.

05 Mei 2017

1 Orang Bodoh ditambah 1 Orang Bodoh?

Ada prinsip sederhana yang seringkali diingatkan mamak ketika saya masih bersekolah tentang cara praktis agar dapat memiliki otak encer: bertemanlah dengan orang-orang pintar, lebih baik bodoh di antara mereka daripada pintar di antara orang-orang bodoh.

Kelak ketika mulai dewasa, saya menduga anjuran ini mirip dengan nasehat agama untuk mengajak umatnya agar berkumpul dengan orang-orang saleh.

Mendengar nasehat itu membuat saya yakin seratus persen bahwa ketika bergaul dengan orang-orang pintar pasti dengan sendirinya saya akan tertulari kecerdasan seperti orang yang tertulari flu burung dari entah siapa yang baru saja melancong dari negeri Cina nun jauh di sana.

Anehnya ketika mendengar nasehat ini, saya seperti disadarkan bahwa diri saya bukan anak yang cerdas. Entah mengapa nasehat itu menjadi semacam sugesti bahwa saya memang bukan orang yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Itulah sebabnya, mamak selalu mengingatkan dengan nasehat demikian.

Tapi jika diingat-ingat, semasa bersekolah otak saya memang pas-pasan. Dari SD hingga SMA, saya tidak pernah mendapatkan rangking. Bahkan nilai-nilai raport saya jarang membuat bapak dan mamak terkesan.

Ketika SD saya memiliki sahabat yang sekaligus tetangga rumah. Kami bertiga seringkali berangkat ke sekolah bersama-sama, terutama ketika menjelang kelas enam. Yang membuat pertemanan kami semakin dekat ketika kami harus mengerjakan PR secara berkelompok di salah satu rumah teman kami.

Saat itu mengerjakan PR memang saya artikan semata-mata sebagai pekerjaan rumah belaka. Saat itu tidak ada konsep belajar yang saya ketahui sebagai pelajaran tambahan di luar sekolah yang bertujuan untuk melatih dan mendidik melalui tugas-tugas sekolah. PR hanyalah PR jika itu berarti saya dengan gembira bisa keluar rumah ketika magrib baru saja usai. Dan ini berarti sesuai pergaulan  yang dianjurkan mamak, berkawan dengan orang yang lebih unggul dari diri saya.

Rumah yang dituju adalah rumah ketua kelas kami. Seorang perempuan yang selalu mendapat peringkat pertama. Rumahnya lumayan jauh dengan berjalan kaki. Kami sering pergi dengan membawa buku tulis yang masih kosong dari PR yang diwajibkan. Satu-satunya harapan kami, saya tepatnya, adalah ketua kelas ini. Dari dialah nanti saya bisa menulis ulang PR yang pura-pura kami kerjakan bersama.

Di rumahnya kami selalu disambut baik orang tuanya. Mungkin kami dinilai sebagai anak-anak yang rajin belajar. Seringkali kami dibuatkan kue dan segelas teh ketika harus gelontoran di atas lantai mengerjakan soal-soal menghitung. Nur nama teman saya itu begitu cekatan menjawab soal-soal. Taufik, tetangga sebelah rumah saya juga nampak baik-baik saja mengikuti alur rumus yang dicontohkan Nur kepadanya. Masalahnya, adalah saya, rumus-rumus itu nampak hanya menjadi simbol-simbol yang membingungkan.

Di antara kami bertiga, saya sering merasa menjadi orang yang paling lambat menggunakan otak ketika berhadapan dengan rumus-rumus. Saya sering berandai-andai, mungkin saya memiliki otak yang paling buruk di antara mereka.

Sepertinya, pelajaran yang bersentuhan dengan angka-angka sangat tidak klop di kepala saya. Otak saya sepertinya lebih afdol kalau itu menghadapi pelajaran-pelajaran semisal bahasa indonesia, kesenian atau semacamnya.

Itulah sebabnya, ketika memasuki kelas enam, saya hanya hapal sampai perkalian empat dan lima, itupun dengan bersusah payah. Sementara rumus-rumus untuk menghitung bidang-bidang tak ada satupun yang bertahan lama di kepala saya.  

Sampai akhirnya saya kadang memikirkan jangan-jangan nasehat mamak di kala itu tidak berlaku. Saya tidak pernah merasa tertulari kecerdasan dari teman-teman saya. Kecerdasan mungkin tidak seperti penyakit.

Lain kasusnya jika saja kalau saya bersahabat dengan orang-orang yang bodoh. Bermain bersama, pulang bersama, dan mengerjakan PR bersama. Kecerdasan saya sudah pasti tidak akan bertambah dua kali lipat. Justru yang ada kebodohan saya akan jauh lebih meningkat. Dua orang bodoh di tambah satu orang bodoh tetaplah tiga orang bodoh.

Kecerdasan tidak dapat menular. Tapi malangnya, kebodohan sangat gampang berpindah dari kepala satu ke kepala lainnya. Ibarat penyakit, kebodohan sangat gampang menulari orang-orang yang kurang menggunakan akal sehatnya.

Sekarang, cara orang-orang bodoh menulari kebodohan jauh lebih praktis dengan menuduh dan menyalahkan siapa saja yang berbeda pikiran dengannya. Cara ini jauh lebih ampuh dibanding ketika orang cerdas menilai orang bodoh. Kecuali sebaliknya, tidak ada orang bodoh mampu mengenali orang cerdas.

Rumusnya masih sama: orang tolol hanya mampu mencium bau yang sama dengan orang yang tolol. Satu orang tolol ditambah satu orang yang sama, hasilnya tetap saja sama. Dua orang tolol.

Tapi coba kalau prinsip di atas dibalik menjadi: janganlah berkawan dengan orang-orang bodoh, lebih baik cerdas bukan di antara mereka, daripada bodoh di antara orang-orang yang sama. Pasti ceritanya menjadi berbeda!

Akibat kebodohan cepat menular, maka lakukanlah dia seperti penyakit. Hal pertama yang mesti di lakukan, jangan mencari orang bodoh untuk membantu Anda, sebab tiada orang bodoh mengenali apa sesungguhnya kebodohan itu sebenarnya. 

Hanya orang pintarlah yang tahu siapa yang tolol, siapa yang tidak. Ingat prinsip di atas, orang-orang tolol pasti gemar menilai orang menjadi bodoh bersama-sama. Itulah sebabnya, jika ada orang tolol yang Anda temui, maka tinggalkanlah dia secepat Anda ingin menyembuhkan penyakit Anda.

Dan memang demikian, ketika seseorang mulai sadar sedang digerogoti kebodohan, maka sebenarnya dia tidak benar-benar tolol!

29 Januari 2017

Cultural Lag dan Kehidupan Bapak Tanpa Gadget

Saya kira bukan bapak saja yang kerap mengalami kegagapan ketika menggunakan handphonenya. Saya yakin banyak orang tua seperti bapak saya. Ibarat masyarakat terbelakang, bapak menjadi orang yang tak tahu apa-apa di hadapan teknologi masa kini.

Bapak menggunakan handphone merk Samsung. Perangkat itu bukan gawai smartphone seperti dipakai kebanyakan orang. Tapi, bapak sering kali kesulitan mengoperasikan handphonenya ketika, misalnya, ingin menyetel alarm, atau ingin menggunakan fasilitas short message.

Ketidaktahuan bapak ditengarai akibat menggunakan handphone yang tidak lagi sama dengan merk sebelumnya. Sebelumnya bapak menggunakan handphone merk Nokia. Imbas fitur dan cara pakai yang berbeda, membuat bapak semakin bingung menggunakannya.

Namun soal sebenarnya bukan akibat cara pakai yang berbeda, melainkan pengetahuan yang mendasarinya. Ini jauh lebih mendasar dibanding peralihan cara pakai dari dua merek yang berbeda.    
Saya seringkali kasihan melihat bapak yang kebingungan jika menghadapi masalah di atas. Tapi, saya juga merasa beruntung, bapak tidak mesti repot-repot disibukkan dengan segala kelebihan yang dimiliki handphonenya.

Itulah sebabnya, handphone hanya digunakan bapak untuk memanggil dan menerima telepon. Kadang kala jika sempat menulis sms. Itupun dengan sedikit perjuangan.

Akan lucu membayangkan jika bapak turut ikut perkembangan teknologi gawai yang serba baru itu. Bersama-sama jutaan pengguna lain beralih menggunakan smartphone berbasis layar sentuh. Dan kemudian, pengalaman baru yang dialami bersamaan dengan segala fitur dan aplikasi dari smartphone turut mengubah kebiasaan bapak.

Barangkali seperti praktik kebudayaan masyarakat kekinian, bapak ikut membuat akun media sosial, nimbrung berkomentar ria dalam puluhan grup whastup, atau berkali-kali selfie jika menemui kolega-koleganya di saat ada pertemuan. Namun semua itu tidak satu pun bapak alami, termasuk harus berkali-kali update status di media sosial semisal facebook.

Saya membayangkan betapa jauhnya jarak kemajuan antara pemahaman bapak dengan kecanggihan teknologi saat ini. Hal ini menjadi lebih rumit jika bapak diperhadapkan dengan kecanggihan smartphone era kekinian.

Di kasus ini bapak seperti orang yang disebut sebagai kelompok masyarakat yang mengalami cultural lag. Istilah ini mengacu kepada kesenjangan pengetahuan yang diakibatkan kemajuan unsur-unsur kebudayaan.

Melalui konteks pemikiran William F. Ogburn, cultural lag diakibatkan karena adanya hambatan yang dialami salah satu unsur kebudayaan dibanding kemajuan unsur kebudayaan yang lain. Dalam kasus ini kemajuan teknologi informasi tidak diiringi kemajuan sumber daya pemikiran yang menyertainya.

Kegagalan memahami teknologi, barangkali ditentukan sejauh mana pengalaman itu sendiri tumbuh di antara kemajuan teknologi. Kita akan sulit menemukan orang-orang pedalaman Kajang yang memahami cara menggunakan gadget dengan baik akibat pengalaman mereka yang tidak pernah menjumpai gadget itu sendiri, misalnya.

Itu sebabnya, betapa mudah menemukan anak-anak usia dini sudah mahir mengoperasikan gadget akibat betapa gampang pengalamannya bersentuhan dengan alat-alat canggih semacam itu.

12 Januari 2017

Tujuh Literasi yang Bertahan dan Hanya Berakhir Menjadi Bukan Apa-Apa

Sepanjang 2016 kita banyak menemukan esai, artikel, cerpen, opini, puisi, dlsb., dari penulis-penulis hebat yang betebaran melalui media cetak maupun online. Dalam bentuk majalah, buku, koran, dan makalah, tulisan apik itu banyak membuka wawasan kita tentang apa saja. Dari mereka (sebut nama penulis yang Anda sukai di sini), kita banyak belajar mulai dari gagasan, cara pandang, sikap, perasaan, bahkan sampai cara mereka menuliskan itu semua.

Saya meyakini di belakang karya tulis mereka, banyak draf tulisan berupa catatan, ide lepas, daftar ide, atau gagasan sederhana yang masih mentah yang belum sempat disempurnakan menjadi karya utuh. Terkadang catatan itu disimpan dan dituliskan kembali di kemudian hari, atau malah sebaliknya hilang tertumpuk di antara rancangan tulisan-tulisan lainnya.

Di bawah ini tujuh daftar draf tulisan saya sepanjang 2016 yang bertahan dan tersimpan begitu saja tanpa pernah diselesaikan seperti karya tulis lainnya.

Pertama, Aku dan Tubuh yang Tua. Karya ini tidak setua judulnya. Frase tubuh yang tua mungkin saja menyiratkan waktu penanggalan yang cukup panjang, sampai akhirnya hilang di lipatan-lipatan ingatan. Ibarat seorang kakek renta yang kehilangan ingatan tentang usianya. Aku dan Tubuh yang Tua pertama kali dituliskan sekitar tanggal 13 November 2015.

Pertama kali karya ini dikerjakan, dimulai dari ide sederhana tentang organ vital yang kehilangan fungsi-fungsi biologisnya.  Seiring dengan tubuh seseorang yang beranjak uzur, organ vital ini juga ikut mengalami ancaman berupa kematian yang semakin dekat. Akibat semakin tua, organ ini pelan-pelan mati bersama tubuh seseorang tempatnya berada. Begitulah, tulisan ini diniatkan.

Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, cerpen ini ingin menarasikan perasaan dan segala peristiwa yang dialami “sang organ” ketika menghadapi hari-hari akhir dan pasca kematian. Dengan meminjam tekhnik stream of consciousness-nya Fyodor Dostoyevsky, cerpen ini dimulai dari “sang organ” yang bercerita tentang dirinya sebagai bagian awal penceritaan.

Tapi apa boleh buat, karya ini tidak bernasib baik. Takdirnya tidak pernah selesai sebelum paragraf kedua. Sekarang saya baru menyadari, tehknik arus kesadaran bukan praktik penulisan yang sama dengan cara menulis pada umumnya.

Seperti bahasa umumnya, di dalam teknik arus kesadaran tergolong dua jenis bahasa. Pertama, bahasa sebelum percakapan (prespeech level). Bahasa ini kesadaran di dalam benak seseorang berupa perasaan, pikiran, prasangka, motivasi dlsb., sebelum diucapkan. Karena sebelum diucapkan, bahasa praucapan bersifat tidak terstruktur, meloncat-loncat, spontanik, dan tidak berdasarkan hukum logis rasional dan dasar-dasar berkomunikasi. Ini seperti celotehan sebelum hukum pikiran berkerja.

Sementara kedua, disebut bahasa saat pengucapan (speech level) yang diatur logika, direncanakan, dan berdasarkan dasar-dasar berkomunikasi. Berkebalikan dari bahasa sebelum percakapan, bahasa level pengucapan merupakan bahasa yang mampu membangun dialog dengan lawan bicara akibat sifatnya yang terbahasakan.

Saya meyakini tehnik penulisan arus kesadaran harus melibatkan kesadaran yang intens. Mentautkan kesadaran kepada seluruh situasi yang melingkupinya. Bahkan bukan saja objek-objek atau pengalaman yang sedang dirasakan, tapi juga peristiwa masa lalu yang dapat membangkitkan kenangan, sensasi, perasaan, dan memori. Melalui semua itu, narasi akhirnya diceritakan dengan berpusat pada “sang aku” sebagai tokoh utamanya.

Akibat sifatnya yang cenderung psikologis dan eksistensialis, dan sifatnya yang spontanik, cerpen saya ini berakhir begitu saja. Tanpa bisa diteruskan sampai paragraf terakhir.

Menyibak yang Akrab dari Obrolan Sederhana Puthut EA, adalah karya kedua yang sebenarnya tinggal ditutup dengan paragraf pamungkas di bagian akhir. Namun akibat dikerjakan bersamaan dengan “keributan” kawan-kawan PB saat itu, tulisan ini berhenti tanpa menyisakan semangat melanjutkannya kembali.

Motivasi tulisan ini diambil dari buku kumpulan cerpen Puthut EA, “Melihat Bebek Mati di Pinggir Kali”, terkhusus mengenai cerpen yang menceritakan dua orang tetangga penghuni vila yang tidak saling mengenal. Akibat hujan yang tiba-tiba jatuh, membuat mereka dapat mengobrol di teras vila setelah salah satu di antaranya terjebak hujan pasca membeli rokok. Kira-kira begitu yang saya ingat narasi cerpen berjudul Obrolan Sederhana itu.


Esai ini sekadar ingin memberikan dan mencatat pandangan saya  tentang ide –yang menurut saya—individualisme, karakter orang kota, kerja, dan sifat khas manusia abad 21 yang dikandung di dalam cerpen Puthut EA itu.

Namun, sampai sekarang Menyibak yang Akrab dari Obrolan Sederhana Puthut EA,  tergeletak begitu saja, seiring dengan jalan cerita cerpen itu yang pelan-pelan hilang dari ingatan saya.

Menulis ide-ide filosif dalam format esai pendek memiliki tantangan tersendiri. Selain harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, penggunaan istilah-istilah teknis juga harus diminimalisir. Dan yang paling penting, setiap asumsi-asumsi dari ide tertentu harus runut dan logis sebagaimana sistem pemikiran filsafat itu sendiri.

Ketiga, Keadilan Ilahi: merupakan tema besar filsafat yang harus saya urai seperti aturan di atas. Namun tulisan ini sulit saya tuliskan. Selain pikiran yang kalang kabut, tema ini memang tidak mudah diuraikan. Saya bukan seperti misalnya, Budi F. Hardiman, Mulyadi Kartanegara, Haedar Bagir, Bambang Sugiharto, Yasraf Amir Piliang, atau penulis-penulis filsafat hebat lainnya yang mampu membuat pembahasan filsafat nampak sederhana melalui bahasa yang mereka pakai. Apalagi tulisan ini dibuat untuk menjadi bahan diskusi pada format pelatihan dasar yang notabene masih berat menangkap pemikiran yang menuntut analisis dan kedalaman.  

Ketika tulisan ini dibuat, saya mengalami krisis bacaan berbau filsafat, terutama filsafat Islam. Keadaan semakin parah akibat tidak ditunjang buku-buku referensi yang ketika itu berada jauh di kamar tempat tinggal saya. Hanya bermodal referensi online, semangat saya tiba-tiba semakin lama menjadi kendur. Guyah, kemudian hilang.

Akhirnya, sampai detik ini, draf esai ini saya biarkan begitu saja.

FTV dan Selera Imajinasi yang Buruk merupakan esai keempat tahun 2016 yang juga berimajinasi buruk. Berakhir tragis tanpa tahu kemana ia akan berakhir sempurna. Esai ini dibuat ketika saya merasa sedikit jengkel dengan jalan cerita FTV yang beberapa hari itu sering saya saksikan. Akibat kekurangan tontonan yang bergizi, setiap pagi saya dipaksa menonton karya kreatif yang tidak benar-benar kreatif. Selain semua jalan ceritanya sama, saya merasa orang-orang di balik setiap FTV yang saya saksikan adalah orang yang sama pula dengan selera yang buruk pula. Esai ini dibuat di akhir 2016.  

Yang kelima, Kota dan Cagar Ilmu Pengetahuan. Sepanjang 2016 saya banyak melihat pemberitaan di beberapa daerah tentang pengusiran dan penggusuran paksa komunitas mahasiswa dan literasi yang dilakukan entah pemerintah, militer, dan birokrasi kampus. Peristiwa ini juga berbarengan dengan maraknya larangan pembuatan forum-forum diskusi yang diinisiasi komunitas-komunitas gerakan kiri. Atas beberapa peristiwa itu saya menulis judul di atas.

Kota dan Cagar Ilmu Pengetahuan juga dibayang-bayangi latar peristiwa yang dialami komunitas Pasar Sabtu Makassar yang diusir paksa pemerintah kota dengan dalih keamanan dan keindahan kota. Begitu juga yang dirasakan adik-adik almater saya di UNM yang dilarang berjualan buku di dalam kampus.

Inti dari karya ini ingin menguji pertanyaan-pernyataan kritis tentang kota sebagai ruang publik yang terbuka bagi semua warga dalam mengekspresikan akitvitas perkotaannya. Aktivitas perkotaan salah satunya tentu berupa kegiatan-kegiatan produktif yang berkaitan dengan dimensi edukasi.

Dilihat dari dimensinya, orang-orang yang terlibat terutama adalah kalangan cerdik cendikia yang diwakili kalangan mahasiswa dan ilmuwan, ataupun seniman, penyair, dlsb. Berkaitan dengan aktivitas yang ditemukan dari profesi kaum cerdik cendikia, pertanyaan utamanya, yakni, bagaimanakah kota memberlakukan golongan cerdik cendikia sebagai orang-orang yang bertugas dekat dengan ilmu pengetahuan? Apakah ada ruang perkotaan yang menunjang pekerjaan mereka? Jika ada, seberapa jauhkah kota menyediakan sarana prasarana demi menunjang aktivitas edukasi warganya? Mengapa kota cenderung represif dengan akitivitas mahasiswa walaupun itu berkaitan dengan gerakan literasi? Dlsb.

Tapi ketika tulisan ini dibuat, saya malah mencurahkan energi kepada esai saya yang lain. Imbasnya, esai ini hanya tinggal berupa pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat dituliskan jawabannya.

Kota dan Publik Space. Akhir tahun 2016 saya sering berniat ingin menulis esai dengan tema-tema perkotaan.  Tapi keinginan ini belum mampu saya realisasikan. Selalu ada tema-tema lain yang membuat saya “kegatelan” agar dituliskan. Akhirnya seperti nasib rencana tulisan yang lain, karya keenam ini hanya bisa saya tunaikan sampai di judulnya saja.

Yang ketujuh, serial Madah. Ini adalah proyek literasi pribadi saya yang paling ambisius. Saya mulai mengerjakannya tahun 2015. Esai ini diinspirasi dari Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad. Tapi, jika GM menulis Caping seminggu sekali, saya justru satu esai satu hari. Itulah sebabnya mengapa saya sebut ambisius.

Esai ini membawa satu gaya menulis yang tidak biasa, yakni tidak diperuntukkan memakan berlembar-lembar halaman kertas. Cukup selembar saja selagi bisa mewadahi perasaan, keresehan, sudut pandang, atau sikap saya atas beragam fenomena yang saya saksikan sehari-hari. Karena tidak mematok tema tertentu, serial Madah bisa menyasar pokok soal apa saja. Bahkan, pernah saya menyoal suara azan yang kerap biasa kita dengarkan. Inti dari serial Madah sebenarnya berusaha membuka persolaan walaupun dimulai dari tema-tema sederhana.

Namun, di sisi lain, Serial Madah membawa beban tersendiri bagi saya. Kesulitan serial Madah ini adalah saya harus memiliki banyak ide agar mampu menyelesaikan satu esai setiap malam. Ditambah beragamnya aktivitas dari pagi hingga sore, terkadang membuat saya kewalahan menulisnya tiap malam. Saya sering kehabisan energi. Kadang juga kepala saya kosong tanpa ide satupun untuk dituliskan.

Akhirnya, cara mentaktisi kesulitan saya itu hanya dengan membaca buku. Maka hampir di tiap malam saya harus membuka lembaran-lembaran kertas buku hanya untuk mencari ide di dalamnya.  

Selain itu, saya sering kali sengaja mengajak seseorang untuk berdiskusi di siang harinya hanya untuk menemukan satu proposisi sederhana yang bisa saya bawa pulang dan dijadikan ide menulis di saat malam kelak. Dengan dua cara itu, saya sering kali terseok-seok menulis tanpa henti tiap harinya. Tapi apa boleh buat, ini proyek ambisius saya.

Sekarang, proyek literasi yang hanya bisa saya lakukan kurang dari dua bulan itu, berhenti di serial Madah 54. Ketika menulis serial terakhir Madah, saya hanya berniat: suatu saat saya harus melanjutkannya kembali.

Syahdan, sampai sekarang saya hanya menunggu semacam perspektif baru untuk dapat melanjutkan kembali ketujuh draf yang sekarang berakhir bukan seperti apa-apa.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...