Tampilkan postingan dengan label Jorge Luis Borges. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jorge Luis Borges. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2017

Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Albert Camus, et.al.

"Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya." Oktavio Paz 
"Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan." Gabriel Garcia Marques
Saya harus segera menuliskan ini: menulis itu pekerjaan yang begitu melelahkan, bahkan menyulitkan pikiran. Perasaan ini seketika saja muncul dalam benak saya ketika membaca buku Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, buku yang diterbitkan Oktopus dari Yogyakarta. Menulis bukan hal gampang seperti yang pernah dikatakan Pramoedya bahwa jika ingin menulis ya menulis saja. Kalimat ini memang terasa satire keluar dari orang sekaliber Pram. Apalagi sangat gampang bagi Pram mengucapkannya dengan beragam pengalaman semasa hidupnya jika dibandingkan dengan waktu sekarang. Menulis memang di satu sisi bukan bakat yang secara natural  dimiliki oleh kita seperti saat kita pergi di hutan dan kemudian mampu beradaptasi. Atau seperti anak lembu yang seketika mampu berjalan sedetik ketika ia keluar dari perut ibunya. Menulis, ketika membaca beberapa pengalaman dari penulis-penulis dunia yang disampaikan buku ini nampak sebagai pekerjaan orang-orang yang mau dan rela menghabiskan banyak waktunya untuk menghargai gagasan-gagasannya. Sebenarnya pertanyaan pentingnya apa yang indah dari menulis, ketika di waktu yang bersamaan seseorang bakal menjalani waktu yang panjang, pinggang yang encok, mata yang terpapar udara siang malam, debu-debu yang bertebangan, dan kehilangan banyak energi berbulan-bulan?  Apalagi apa yang bisa didapatkan dari pengalaman seseorang yang sebenarnya tak bisa dipertukarkan begitu saja. Pengalaman seseorang adalah peristiwa yang unik dan berbeda. Dia tak bisa dibagi untuk siapapun. Yang bisa dilakukan hanya menyampaikan cerita atas pengalaman itu sendiri. Sebab pengalaman hanya mampu terjadi selama sekali. Mungkin karena itu tidak semua penulis dunia mau menceritakan pengalamannya ketika menulis. Bukan karena itu adalah peristiwa yang tak memiliki sisi sosial, melainkan menurut saya pengalaman setiap penulis yang dikenal dunia memiliki sisi lain yang menyakitkan. Sisi yang mengundang memori yang sudah lama dipendam. Akibatnya, kita hanya mampu menebak-nebak kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hati para penulis-penulis besar selain daripada keinginan mereka untuk bersuara? Barangkali yang indah dari pengalaman menulis penulis dunia adalah –sudah tentu- adalah kesempatan yang kita miliki untuk membaca karya-karya mereka. Banyak ragam kemungkinan yang mungkin akan terjadi dari kepala sang penulis dengan karya yang sudah mereka lahirkan. Berawal dari gagasan sederhana yang mereka miliki, sudah pasti bakal banyak godaan dan hambatan yang bakal mengganggu proses kreatif sampai lahir karya mereka –coba kita bayangkan bagaimana seorang penulis yang harus diusir dari negaranya hanya karena aktifitas menulisnya dan mendapatkan pelbagai jenis siksa psikologis dan sosial. Selama jarak itu masih ada, maka penghargaan terhadap karya-karya mereka patut kita hidupkan dengan cara membacanya, mendiskusikannya, mencatatnya, atau kalau perlu mengkritiknya. Dengan cara itu maka makna kelestarian dari suatu karya tulis menjadi bukan saja tanggung jawab seorang penulis, melainkan juga menjadi tugas bersama para pembacanya. Menulis mungkin saja adalah bagian yang paling intim di hati setiap penulis. Sebagai suatu keadaan spritual. Paulo Coelho bahkan menyebutkan dirinya sempat terperangkap di dalam tulisannya sendiri. The Alchemist akhirnya menyelesaikan bagian akhirnya dengan menuntun penulisnya larut di dalamnya. Kata Coelho, buku itu yang menyelesaikan sendiri bagian akhirnya. Pengalaman semacam ini yang tidak mungkin dibagi kepada setiap orang. Pengalaman yang hanya dimiliki satu orang di jagad raya ini. “Pengalaman manusia yang esensial”, kata Jorge Luis Borges, yakni pengalaman penulis yang memerlukan kesendirian, dan dia dapat mengambil tempat di dalamnya. Itulah sebabnya setiap penyair dan filsuf misalnya, kata Foucault, “tidak terbentuk dengan cara yang sama”. Tapi kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling berharga. Toh jika pengalaman dapat juga dirasakan bagi dua orang yang berbeda dan tidak saling mengenal, cara Betrand Russell mungkin patut dicoba: meniru gaya menulis penulis yang disukai. Walaupun dalam waktu yang lama dia menyebutkan si penulis yang memfoto copy gaya penulis idolanya akan berhadapan dengan dilema ontensitas dirinya. Di titik inilah maka seseorang harus siap mengambil sikap untuk mencari gayanya sendiri. Di titik ini pulalah, toh jika menulis itu indah, maka tidak ada makna apapun yang sama tentang kata indah itu sendiri. Kemungkinan besar, itu semua akibat setiap penulis lahir dari kesendiriannya masing-masing.

12 November 2016

Jorge Luis Borges dan Sepasang Mata Buta dan Sebuah Cerita

“I have always imagined that paradise will be a kind of Library”

-Jorge Luis Borges-

Jorge Luis Borges pada akhirnya buta. Sastrawan berkebangsaan Argentina itu kehilangan penglihatan di tahun 30an di usia menjelang 60.  Konon, ketika buta, Borges tak sekalipun berhenti membaca. Dari toko buku di suatu sudut Buenos Aires, seorang pemuda senantiasa menemani membacakannya buku-buku. Dengan mata pemuda itu, Borges bisa tahu banyak hal.

Alberto Manguel datang tiga kali seminggu di rumah Borges. Sering kali dengan suara lantang, pemuda yang kelak menjadi sastrawan ini membacakan segala hal kepada Borges. Pemuda ini sangat beruntung menjadi bagian sejarah dengan menjadi “mata” bagi penulis besar yang menjadi tonggak fiksi realisme magis.

Borges sudah buta, tapi dari kegelapan matanya ia telah banyak membangun cerita. Menyusun dan mengeditnya selekas mungkin tanpa menuliskannya di atas secarik kertas. Borges barangkali tengah membangun kertas imajinatif di dalam benaknya ketika mengisahkan cerita-ceritanya. Itu juga sebabnya, magis adalah sebilah kata yang sudah dia susun sedari awal di dalam imajinasi kreatif benaknya.

Alberto Manguel boleh saja menyusupkan cerita melalui suaranya ketika membacakan buku-buku untuk Borges. Tapi, tetap saja Borges-lah yang memiliki kekuatan membangun kembali imajinasi di balik matanya yang buta. Saat itulah, imajinasinya mengambil alih kebutaan yang dialaminya. Membentuknya sesuka hati seperti yang tak bisa dilakukan mata penglihatan manusia pada umumnya.

Itu sebabnya mata hanyalah jembatan warna-warni, namun di dalam benaklah tempat peristiwa imajinatif sesungguhnya terjadi. Mata hanyalah jangkar bentuk-bentuk, tapi di dalam imajinasilah simbolisme berkembang.

Karena itu sesungguhnya Borges tidak benar-benar buta. Ia memang kehilangan penglihatannya, tapi ia –sekali lagi, tidak buta. Bahkan ia sendiri pernah menulis esai berjudul “Blindes” yang berbicara tentang kebutaan yang dialaminya. “Saya tak memperkenankan kebutaan mengintimidasi saya,” ungkap Borges sebagai ikhtiar agar terus dapat menulis.

Kebutaan, bahkan, bagi Borges disebutnya sebagai anugerah, sebagaimana ia juga menyebut bahwa Homer, penyair Yunani purba juga buta. Tapi dari kebutaan itu, justru ia memiliki sensibilitas melihat sesuatu dengan cara berbeda. Dengan kebutaan, suatu instrumen lain tercipta, dan kesempatan membangun dunia yang lain dari yang tidak banyak dipahami khalayak.

Dari sensibilitas yang peka, Borges punya visi, perspektif tempat “matanya” memandang dan membangun cerita. Dan, dengan buku-buku jemarinya yang tangkas mengalir aliran sungai cerita yang membuat banyak orang terhanyut. Sampai akhirnya siapa bisa menolak dari dua hal inilah Borges menjadi penulis dengan nama yang fenomenal.

***

Kebutaan boleh saja mencuri dan menghilangkan satu wilayah sensibilitas yang dimiliki manusia. Tapi, kebutaan juga sebaliknya mendorong indera lainnya menjadi lebih maksimal.

Konon, otak manusia akan mengkondisikan pekerjaannya jika ada satu alat inderanya yang mengalami hambatan atau gagal berfungsi. Otak akan mendukung dan memaksimalkan indera yang lain agar dapat lebih bekerja. Itu sebabnya, orang-orang yang buta, sebenarnya tidak benar-benar buta. Dia hanya berganti dan memaksimalkan alat indera yang lain.

Borges memang pada akhirnya buta, tapi seluruh indera sensibilitasnya memiliki cara yang lain dalam mencandra realitas. Juga, tentu dengan imajinasinya, realitas menjadi lebih kaya dan kompleks untuk dipahami dan dimaknai. Bagi Borges, barangkali cerita tanpa imajinasi yang kuat hanyalah istana khayangan di atas pasir.

Yang ajaib dari Borges, dia menjadi direktur perpustakaan nasional di Argentina saat mulai mengalami kebutaan. Bagaimana mungkin ini didamaikan? Ketika kegelapan menghingapi di balik sepasang matanya, sementara Borges berada di tengah-tengah buku-buku sebagai jendela persada. “Aku berbicara tentang ironi yang mempesona dari Tuhan yang memberikan aku sekaligus 800.000 buku beserta kegelapan.”

Bukankah ini suatu ironi yang mencengangkan? Dari sepasang mata yang buta, asal dari segala kegelapan bersarang, justru menjadi pangkal cerita imajinasi yang berlapis-lapis? Sungguh dari sepasang mata yang buta, Borges tak benar-benar buta.

Sungguh itu adalah berkah.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...