Tampilkan postingan dengan label Erving Goffman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Erving Goffman. Tampilkan semua postingan

13 September 2017

Dua Literasi Sang Aku

Ego atau diri dalam khazanah teori sosiologi adalah konsep yang mendua. Tidak sebagaimana dalam ilmu psikologi, diri dalam teori-teori sosiologi tidaklah berparas tunggal. Diri, atau ego, melalui teori-teori sosiologi, adalah serangkaian perubahan yang ditentukan dan dipengaruhi oleh hubungan-hubungan konkret masyarakat sebagai fondasi kenyataannya.

Diri yang berparas jamak, dengan begitu adalah rupa yang licin, dan bahkan mudah menipu. Erving Goffman, seorang sosiolog Amerika, mendakukannya melalui dramaturgi.

Tiada orang-orang yang tidak bermain peran dalam interaksi sehari-hari. Begitu kira-kira maksud dari teori dramaturgi Goffman. Baik-buruk, etis-tidak etis, bohong-tidak bohong, bahagia-tidak bahagia, adalah peran yang diambil setiap orang. Ibarat sinetron, di sana selalu ada peran antagonis dan protagonis.

Yang unik dari dramaturgi Goffman, sang manusia seringkali menyembunyikan peran utamanya melalui drama panggung. Di atas panggung, sang manusia bisa memakai topeng dan berperan baik, namun tidak sebaliknya di belakang panggung. Jauh dari sorot lampu panggung, di belakang panggung sang manusia kembali kepada watak sebenarnya melalui skenario yang disusunnya ketika hendak mementaskan dramanya.

Di atas panggung (front stage) dan belakang panggung (back stage) adalah metafora dramaturgi Gooffman. Dua medan itu seringkali tampak ambivalen. Semuanya tergantung skenario pertunjukkan. Peran sang manusia di atas panggung dan belakang panggung adalah tegangan yang melibatkan identitas yang sebenarnya tidak stabil, dan mudah berubah sejauh interaksi yang mengikatnya.

Itulah sebabnya, diksi persona (latin) “memalsukan” identitas seseorang melalui kata personal (inggris) yang berarti topeng. Person, yang menunjuk kepada diri, sebagaimana asal artinya, adalah topeng yang dipakai untuk menyembunyikan identitas diri seseorang yang sebenarnya.

Jika sudah demikian, yang manakah identitas asli seseorang: di atas panggungkah yang bersembunyi di balik topeng,  atau ketika turun ke belakang panggung yang jauh dari sorot mata masyarakat jamak?

George Mead, yang juga seorang sosiolog Amerika menyatakan identitas seseorang selalu berjangkar kepada dua kemungkinan: “i” dan “me”. "I " adalah aku bebas yang spontan, diri yang menjadi subjek dalam percakapan dan interaksi. Sementara "me" adalah saya yang menjadi objek dalam tindakan berbahasa melalui interaksi sehari-hari.

“I” atau “sang aku” didakukan Mead sebagai pasak dari nilai-nilai yang diyakini. Di dalam "I"-lah sang manusia menyimpan dan mengembangkan nilai-nilai yang dianutnya. "I" adalah tempat sang manusia berhadapan dengan subjektifitasnya. “I” adalah identitas asli atau “sang aku” yang bertopeng dan bersembunyi di balik person yang menghadap keluar.

Person, atau “me” sebaliknya adalah “sang aku” yang ditundukkan nilai dan aturan main masyarakat. Dalam masyarakat, “me” adalah identitas yang mengemban peran tertentu setelah “bernegosiasi” dengan kehidupan orang banyak. Kasarnya, "me" adalah identitas pragmatis yang licin mengubah perannya sesuai konteks masyarakatnya.

Masa sekarang, sang manusia banyak bersembunyi di balik topeng-topeng. Sang manusia membangun jarak antara “i” sebagai sang aku, dengan “me” sebagai topeng yang bermain peran. “I” dan “me” ibarat dua sknario di atas pundak “kejahatan” dan “kebaikan” yang saling menipu sang manusia.

“Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri”. Begitu salah satu bunyi syair Gurindam 12 Raja Ali Haj, seorang penyair dari masa silam. Syair didaktik ini mendedahkan sesuatu yang misterium dari “diri”, yang sebenarnya adalah pintu masuk mengenal “diri” Tuhan yang Maha Dalam.

Siapa mengenal “diri-nya”, maka telah mengenal Tuhannya, juga adalah ungkapan “perjalanan” yang ditemui dalam tirakat-tirakat sufisme. Barang siapa berjalan mengenal “ego dirinya”, maka dia bakal membuka selubung tabir tempat dia mengenal Tuhannya.

“Diri” dalam dua literasi syair dan sufisme, adalah pangkal utama dari semua topeng-topeng identitas. “Tempat” sang aku berpulang dan berkenalan dengan dirinya yang sebenarnya. Di sanalah “sang aku” menemukan asalnya. Dalam dua literasi syair dan sufisme, asal sang aku adalah “Sang Pemilik semua Diri”.

Ketika sang manusia di era sekarang banyak memuja “person-person” yang menipu, alangkah baiknya kita berbalik arah berjalan “pulang” menemukenali diri yang sebenarnya. “Sang aku” seperti yang diliterasikan dalam syair 12 gurindam dan tirakat-tirakat sufisme. “Sang aku” yang reflektif mencari identitasnya yang asali.

Hatta, “diri”, “sang aku” atau “self”, bukanlah apa yang tampak dalam gambar-gambar yang mudah ditangkap mata. Diri yang demikan ibarat pasir gersang drama modernisme yang menyuguhkan fatamorgana. Semuanya menguap tanpa sisa, dan licin menipu seperti minyak. Ibarat kisah burung sufi Simurgh mencari Maha Raja Para Burung, “Sang aku” sejati hanya bisa ditemukan di dalam “sang aku” itu sendiri sebagai pangkal segala asal.

---

Terbit sebelumnya di kalaliterasi.com, 12 September 2017

11 September 2015

Orang-Orang Berparas Ganda

Mitos di alaf kebudayaan, selalu difungsikan dengan maksud perayaan. Di dalamnya pujapuji dipanjatkan melalui ritual untuk menceritakan kebesaran dewadewa. Mitos, di sejarah awal peradaban, biasa diolah menjadi drama untuk mewantiwanti sang manusia. 

Mitos melalui drama, juga ingin membangun satu hirarki antara dunia dewata dengan dunia ata. Melalui drama, mitos ingin meletakkan manusia dalam horison superioritas dewadewa. Dengan demikian, di dalam drama, manusia selalu disimbolkan sebagai mahluk yang mungil.

Manusia di dalam drama, selain mungil, juga sering digambarkan dengan paras yang kejam. Niat dasarnya adalah bahwa manusia secara diametris berlawanan dengan idealitas dewadewa. Di atas cara demikian, manusia dibulatkan dengan defenisi yang buruk.

Drama juga sebenarnya adalah tempat tragedi dipertunjukkan. Tragedi di dalam drama, barangkali adalah cara untuk menyadarkan bahwa manusia sungguh rentan dari nasib yang sial. Sebab kehidupan yang ideal hanya dimiliki oleh dewadewa di atas khayangan. Itulah mengapa, hampir semua ceritacerita di masa Yunani purba, drama menceritakan kisahkisah sang manusia yang tak utuh untuk meraih harapan.

Di Yunani, mitos yang didramakan menjadi mekanisme publik untuk mempertontonkan pelbagai macam watak manusia. Mulai dari watak yang humanistik sampai narsistik. Dari dua kutub paras ini, entah baik dan jahat, keji atau bajik, manusiawi atau hewani, manusia selalu berpulang kepada tragedi.

Itulah sebab di dalam kebudayaan, manusia selalu ditempatkan di dalam koordinat yang jauh dari purnawatak. Mitos dalam drama, telah mengintrodusir kesadaran manusia menjadi orangorang yang inferior. Lugwig Feurbach, seorang filsuf cum antropolog  agama, dengan melihat keadaan itu, akhirnya menangkap satu pengertian dari optik yang lain; manusia memang selalu mengasingkan dirinya dalam kebudayaan yang dibuatnya. Maksudnya, kenapa manusia selalu berparas lemah dan tragis, sebab manusia hanya melihat idealitas jauh di atas khayangankhayangan, sementara dirinya selalu diartikan sebagai mahluk yang penuh kelemahan.

Di dalam maksud sebenarnya, khayangankhayangan itu disebut Feurbach berasal dari agama. Di dalam agama manusia mengasingkan dirinya dengan membangun satu dunia imajinasi kebaikan; tuhan, malaikat, surga, maupun alam kebahagiaan, dan kehidupan manusia sejatinya hanyalah tragedi.

Orangorang yang anti agama sering menyebut agama adalah sumber tragedi. Barang siapa beragama, berarti dia adalah agen aktif yang bisa memulai tragedi. Orangorang beragama adalah orangorang yang memikul beban spiritual hingga bebal. Dan tragedi yang datangnya dari agama adalah tragedi yang paling purba; peperangan.

Agama sebagai perang nampaknya menjadi kode penting tentang kebudayaan religi sang manusia. Banyak orangorang yang kerap mengucapkan agama dengan intonasi yang antagonistik. Agama dengan cara yang demikian, adalah dunia imajinasi yang mengasingkan sang manusia dari dirinya sebab yang ideal telah dilukiskan ke dalam khayangan dewadewa. Sementara yang tersisa pada manusia adalah kekejian yang berkebalikan dari apa yang dilukiskannya.

Orangorang beragama sudah seperti yang dipercakapkan Erving Goffman --sosiolog Amerika, yakni orangorang yang sering bermain peran. Goffman mengandaikan dua sisi peran manusia dalam melakoni kehidupannya. Permainan peran manusia di atas panggung kehidupan disebutnya sebagai dramaturgi.

Di dalam dramaturgi, peran kebaikan selalu diperlihatkan di atas panggung depan dengan adegan yang disorot cahaya panggung, sementara peran kejahatan, selalu disembunyikan di belakang panggung gelap yang jauh dari sorotan. Baik di atas dan di belakang panggung itulah manusia senantiasa bermain peran, entah di bawah sorot cahaya panggung dengan menampakkan kebaikan dan sebaliknya, menjadi kejam di belakang panggung.

Orangorang beragama adalah orang yang bermain lakon. Jika berperilaku baik, itu hanyalah lakon yang diperagakan di atas panggung. Apabila ia bersikap manusiawi, itu hanya karena disoroti cahaya lampu orangorang. Tapi jika lampu tak lagi menyorotnya, maka dia akan menunjukkan watak dasarnya di balik panggung. Jadi bisa jadi, orangorang beragama adalah orangorang yang pandai bermain peran, dia baik hanya di atas panggung, tetapi tidak di belakangnya.

Feurbach dan deretan orangorang anti agama bisa bersuara dengan pesimistik atas perilaku orangorang beragama. Tapi kenyataan juga punya jawabannya. Feurbach dan orangorang anti agama tidak selamanya salah. Belakangan ini banyak orangorang beragama berperan dengan paras antagonistik. Fenomena dengan terang menunjukkan betapa berbahayanya agama jika diajukan sebagai problem solving dari kehidupan yang timpang. Agama, ketika dipercakapkan dengan paras yang berbeda dari sekelilingnya, justru dengan niat sebagai pemecah masalah, malah menjadi sumber masalah baru.

Kiwari, betapa banyaknya kelompok orangorang beragama berhimpun diri, mengorganisir, dan menggunakan agama sebagai suatu kesadaran kolektif. Dari itu, agama menjadi optik untuk mempersepsi dan merasai kenyataan, dan bahkan dengan agama sebagai satusatunya jalan keluar atas segala soal. Tapi anehnya, orangorang beragama, seperti kita sering saksikan, adalah orangorang yang pandai bermain lakon. Di atas panggung seolaholah menjadi the good man, tapi tidak sebaliknya di belakang panggung.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...