Tampilkan postingan dengan label kekuasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekuasaan. Tampilkan semua postingan

25 November 2016

Kelas, Klas

Kelas di suatu waktu bisa bermakna sepetak ruang, yang membagi sesuatu menjadi partisi-partisi. Tapi di lain waktu ia tanda dari kesenjangan. Sesuatu yang membangun jarak. 

Kelas sebagai sesuatu istilah, dipopulerkan pertama kali oleh seorang sosialis tulen berkebangsaan Jerman, Karl Heinrich Marx. Tapi, kelas yang dia maksudkan bukan untuk menunjuk pada batas-batas tentang ruang, bukan ruang petak yang berbentuk kubus, apalagi ruangan yang menggelantung di dalamnya gambar dua muka penguasa sebuah negeri. Kelas yang ia istilahkan menunjuk pada entitas yang berjarak sekaligus diskriminatif. Suatu tingkatan sosial yang ia bagi menjadi dua entitas atau kelompok: proletar dan borjuis. Dua mata sosial yang saling tolak menolak.

Di hadapan Marx ada masyarakat yang ingin tumbuh. Eropa baru saja kuncup dari keadaan menyesakkan. Harapan hidup tak lagi semata-mata urusan dominan dogma-dogma gerejawan. Eropa sedang dalam transformasi besar-besaran. Orang-orang menaruh harap pada pabrik-pabrik yang berdiri gegap, menanggalkan hidup yang ringkih dengan kehidupan tradisional menuju perhelatan akbar dari kemajuan peradaban baru; zaman industrialisasi.

Namun, Max murka sekaligus ia berusaha memahami keadaan yang ia saksikan dengan mata telanjang. Dari pembacaannya ia berusaha tidak menerima dunia sebagai entitas yang dicipta dalam keadaan begitu saja. Bagi Marx, dunia adalah entitas yang melibatkan usaha. Namun di balik kenyataan setiap usaha masyarakat, muncul masyarakat elit  yang ia katakan mampu mengubah usaha ril menjadi suatu hal yang berbau kumulatif. Bahasanya di suatu waktu: segalanya yang padat menguap keangkasa.

Bisa jadi Marx benar tentang tangan-tangan kelas pekerja yang bergulat dengan barang-barang, yang sembari waktu pada akhirnya ghalib ditelan kehampaan. Tak ada barang yang dimiliki kelas pekerja, yang ada hanyalah proses perpindahan barang dari kelas pekerja ke kelas borjuasi. Yang ada, barang yang padat semuanya berubah menjadi alienasi.

Tapi, itu Marx yang melihat masyarakat industri awal berdasarkan determinasi barang-barang. Karena barang-barang yang dikuasai maka keadaan bisa berubah. Nampaknya nasib hanya bicara tentang barang yang dikuasai dan barang yang menguasai. 

Beda Marx beda Francis Bacon.

Bacon memiliki iman yang lebih menjanjikan, bahwa zaman kelak akan menampik posisi yang semula akan dikuasi oleh kaum pemodal.  Bacon punya iman yang tegas, bahwa zaman harus diarahkan berdasarkan kemajuan sains, dengan deret ukur yang tegas dalam memprediksi kebutuhan manusia; ilmu pengetahuan.

Tentu Marx bukan penganut pikiran Bacon: barang siapa menguasai ilmu pengetahuan maka nasib serentak bisa ditakdirkan.

Entah Marx, entah Bacon. Di suatu tempat yang lain, ilmu bisa menjadi sinyalemen yang kuat untuk membentuk dua wajah yang hirarkis. Ketika insitusi pendidikan menjadi medan yang sarat dengan kepentingan.

Kelas bisa berarti pencerahan, atau justru keterasingan.

Kita tak tahu kapan era dimulainya pengetahuan harus identik dengan sepetak ruang padat. Seakan-akan pengetahuan harus dihadirkan dalam bentuk-bentuk yang padat pula: tembok.

Tembok bagi sejarah silam bisa jadi berarti perlindungan. Itulah mengapa, mungkin saja setiap kerajaan membangun daerah kekuasaannya dengan tembok-tembok yang tinggi serta tebal. Benteng bagi kekuasaan masa lalu memanglah penting, apalagi dahulu batas kekuasaan tak berbanding lurus dengan  luas tidaknya tanah yang dimiliki.

Maka galibnya tembok cina dibuat untuk menjadi patokan betapa besarnya kekuasaan dinasti Ming. Ini juga yang menjadi inspirasi bagi Jerman, di mana di Berlin berdiri tembok setebal hampir dua siku dengan konsekuen geografis yang membagi Jerman menjadi dua kawasan. Memang tembok adangkala selalu berdiri berbarengan dengan kedatangan kekuasaan.

Indonesia, negeri yang pernah dikuasai rezim selama lebih dari tiga puluh dua tahun, tembok bisa berarti pembelokan ingatan masa silam. Tentu yang saya bicarakan di sini adalah tembok yang berdiri di tengah-tengan makam tujuh jenderal. Di sana secara dramatis terpampang gambar perjalanan penumpasan ideologi komunis yang diakhiri dengan gambar sosok pemimpin sebagai dewa penyelamat yang mengangkat tangan sebagai simbol penaklukan.

Tembok pada akhirnya bisa menyiratkan perlindungan; entah dari kejaran kekuasaan ataupun ingatan masa lampau.

Tembok memanglah keras, namun apa hendak dikata, kelas berarti seruangan yang harus dihadirkan dengan petak-petak batu. Ini berarti barang siapa hendak berpengetahuan, maka hendaknya harus bergumul dengan tembok-tembok. Dan namanya tembok, pasti ia membatasi.

27 oktober 2011

25 Maret 2015

madah limapuluhsatu

Tahun 1984, suatu tempat di Jerman Timur.

Rumah Dreyman disusupi. Hampir setiap sudut rumahnya penuh kabelkabel tersembunyi di balik dinding. Di vas bunga, di balik pintu, terminal listrik, belakang lemari, di bawah tempat tidur, bahkan di dalam kamar mandi. Praktis setiap sudut jadi suatu proyek pengintaian. Ruang tempat tinggal Dreyman jadi pusat perhatian negara. Di bawah pengintaian, Dreyman jadi manusia yang transparan. Gerak geriknya jadi bahan amatan dari objek kekuasaan. Tapi ia tak tahu.

Sementara di suatu sudut rumah, di mana kabelkabel itu berpusat, empat sampai lima monitor tak pernah padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap setiap bunyi. Dan seseorang dengan taat mengawasi gerakgerik Dreyman dari ruang kotak itu. Mencatat setiap detil yang mencurigakan. Memasukkannya dalam laporanlaporan setiap hal yang dialami Dreyman. Pria yang taat itu akhirnya mulai mempelajari Dreyman dengan membangun jadwal aktivitasnya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.

Dosa Dreyman hanya satu, ia terlahir sebagai seorang penulis.

Di negerinya Jerman Timur, yang berhaluan komunisme, setiap huruf harus mengikuti intruksi negara. Negara tempat Dreyman tinggal punya kebijakan, bahwa setiap proyek pencerahan harus memuati maksud seperti yang dikehendaki negara. Seluruh proses pembudayaan mesti selaras dengan semangat revolusi komunisme. Ini berarti, setiap tulisan yang lahir dari lidah setiap penulis, harus berbicara tentang hal ihwal revolusi; semangat kaum proletar, pandangan realism, kemajuan partai, pabrikpabrik yang dinasionalisasikan, dan tentu komunisme sebagai pandangan universal.  

Sebelumnya diintai, ia adalah seorang sastrawan dan penulis naskah teater yang tak begitu dicurigai negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak mengandung unsurunsur seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia di mata petinggipetinggi partai adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan untuk mendorong kebudayaan negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia dipandang sebagai salah satu seniman yang diberikan kebebasan untuk berkarya sesuai dengan pandanganpandangan komunisme.

Tapi semenjak kedatangan Gerd Wiesler, agen matamata Jerman Timur, di suatu pertunjukannya, semuanya berubah. Dari atas balkon pertunjukan,  Gerd Wiesler mengamati dengan teliti Dreyman di tempatnya ia menyaksikan teater yang merupakan hasil garapan tulisannya. Dari pengamatan Wiesler di atas balkon, Dreyman disimpulkan sebagai orang yang tak sepenuhnya bersih.  Dari gerak tubuh, mimik wajah, bahkan setiap detil yang dimiliki Dreyman  yang di amati Wiesler, kesimpulannya adalah Dreyman adalah orang yang mesti dicurigai sebagai tersangka yang berbahaya. Dia bukan seniman yang lurus, melainkan ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.

 Tapi Wiesler perlu bukti yang menguatkan kecurigaannya. Biar bagaimanapun kecurigaan tak bisa dijadikan modal untuk menuntut orang tanpa datadata yang jelas dan akurat. Sebab itulah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol dan diselipkan alatalat yang merekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia dicurigai sebagai musuh negara.

Akhirnya tiap detik dari Dreyman adalah jadi bahan amatan negara. Setiap yang dilakukannya jadi catatan terperinci Wiesler berdasarkan waktu dan tempat di mana itu terjadi. Wiesler harus bisa mengajukan bukti kepada petinggi partai bahwa Dreyman sebenarnya adalah seniman yang diamdiam mengkritisi komunisme. Tapi Wiesler butuh waktu untuk suatu bukti yang gamblang.

Sampai di sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang sama seperti Georg Dreyman. Seorang penulis naskah yang dimatamatai negara oleh sebab dicurigai memiliki maksud tersembunyi yang tak sesuai dengan paham negara.

Di film itu ada dua hal yang akhirnya menjadi genting; kebebasan berekspresi dan kontrol negara. Dua hal ini yang menjadi sisi antagonis di film drama Jerman itu. Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan Dreyman dan kontrol negara yang merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau besar. Dua hal ini, dalam konteks negara dan kebebasan berekspresi menjadi dua anasir yang seringkali berhadaphadapan. Tapi jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali adalah Wiesler itu sendiri, seorang yang telaten mematamatai Dreyman.

Wiesler, di kehidupan seharihari seperti yang kita alami, tak jauh berbeda dengan pekerja pemerintah yang memiliki pengabdian total terhadap negaranya. Taat dan setia menjalankan tugas. Di Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen matamata yang berdedikasi tinggi dan idealis menjalankan tugasnya. Orangnya tepat waktu dan jernih mengamati halhal detail. Dan selama mematamatai Dreyman sang penulis drama, ia juga menulis laporan pengamatannya tanpa unsurunsur dramatik.

Ia mengamati, mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.

Tapi Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama pengamatannya, justru ia tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol, apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya tanpa sepengetahuan. Ia ingin tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi apa daya, melalui buku yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang dimatamatainya. Kekuatan sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan seseorang, begitu juga Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai melindungi Dreyman dari atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas pengarang itu. Begitu seterusnya.

Das Leben der Anderen barangkali film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan menggunakan cara yang bisa dibilang melankolik; drama. Tapi itu sepertinya pembacaan yang terlalu jauh, sebab tak ada kesan dalam film itu yang mengarahkan kepada pengertian yang mengungkapungkap sejarah. Sebab pula di film itu tak menyebut cerita yang pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin disebut demikian, film itu hanya bicara plot orangorang yang hidup di situasi yang cekam dan kontrol negara yang terlampau totaliter.

Dan Dreyman merasakan, juga barangkali orangorang yang terbiasa hidup dengan kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara tak bisa merebut hal yang paling intim dari mahluk bernama manusia; kebebasan berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.


11 Maret 2015

madah limapuluh


ADA kisah tentang Pak Hamid yang  risau. Atau sebenarnya ia takut. Sebelumnya datang kabar nun jauh dari Papua. Anak bungsunya bakal menikah. Dari tempatnya yang jauh dari anaknya tinggal, tidak terbersit bahagia di mukanya. Yang ada justru tanda suatu soal berat. Anaknya akan menikahi perempuan berbeda agama. Usut punya usut, dari pengalaman anaknya yang lain, setiap pasca menikah dengan pasangan beda iman, anaknya pindah keyakinan.

Sebab itulah air mukanya jadi murung. Kabar yang ia terima seperti air jebol merusak apa saja. Anaknya yang dibesarkannya bertahun-tahun kini jadi orang yang bikin hatinya gulana. Membikin hatinya runyam.

Bagi sebahagian orang agama adalah pilihan. Tapi bagi Pak Hamid, yang namanya agama tidak mesti diganggu gugat. Ia setua tradisi turun temurun. Itulah sebab, agama jadi soal penting. Bertahun-tahun anaknya dididik sesuai agama tradisi, walaupun memang istrinya seorang muallaf. Tapi malang, justru di saat akan membangun rumah tangga, anaknya bakal berpindah keyakinan.

Tapi apa yang sesungguhnya dikhawatirkan Pak Hamid, sebuah label agamakah? Atau suatu yang lain. Sesuatu semisal, kebenaran yang hakiki.

Di negeri ini, suatu label sering kali memakan korban. Apalagi label yang telah mapan dalam memori kolektif masyarakat. Dalam sejarah Indonesia, label abadi yang terus dipugar dan melekat kuat tak pernah keluar dari dua hal: agama dan komunisme.

Dengan dua label itulah, sejarah Indonesia dinarasikan sesuai tafsir kekuasaan. Hingga akhirnya, label itu menjadi artefak mengakar kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Label dianggap penting oleh sebab suatu pengertian dapat dirujuk. Kasus Indonesia, label dipakai untuk kepentingan identifikasi. Dengan begitu suatu golongan dapat dengan mudah dikelompokkan berdasarkan kesamaan dan cirinya. Jika sudah demikian, suatu rencana akan lebih mudah diatur dan dikerjakan.

Tapi suatu identifikasi juga terkadang jadi sumber pelecehan. Dan dari sanalah datang korban. Sebab pelabelan dengan maksud membangun batas seringkali mempertautkan hal ihwal subtil: hasrat untuk benar.

Nietzsche, filsuf akhir abad 19 menyebut perkara hasrat yang timbul semacam itu sebenarnya adalah soal moral. Yakni kebenaran yang selalu jadi tujuan moral orang-orang.

Artinya, jika ada yang selalu menggebu-gebu menunjuk kebenaran melalui telunjuknya, maka itu berarti bukan soal kebenaran, tetapi justru posisi moralnya, kedudukannya.

Dari sanalah Nietzsche menyebut itu sebagai hasrat berkuasa. Yakni keinginan untuk mengambil posisi yang layak dan tak tergugat. Dari Nietzsche, soal-soal kebenaran tak selamanya jadi perkara yang murni demi kebenaran. Tapi di baliknya motif, ada maksud inheren dari wacana kekuasaan.
Ini berarti kebenaran atau hal ihwal yang berputar di sekitarnya adalah sesuatu yang politis. Apalagi menyangkut pengakuan. Dalam politik pengakuan itu penting, sebab dari situlah sumber kekuasaan. Tanpa pengakuan kekuasaan tak dapat stabil berdiri.

Barangkali karena label itu penting. Barangkali memang label itu harus ada. Pak Hamid resah, karena soal label itu penting. Apalagi ini soal agama, soal iman.

Agama memang bisa mendatangkan kasak-kusuk. Di mana kita pernah kisruh hanya soal suatu identitas perlu atau tidak dicantumkan. Di negeri ini, di saat awal pemerintahan Jokowi memimpin, masalah tentang pencantuman label agama dalam kartu identitas jadi perbincangan nasional. Soalnya suatu label identitas selama ini jadi sumber diskriminasi. Dengan suatu label, suatu golongan dapat bersuara lantang dan suatu golongan harus tiarap bersembunyi.

Di negeri ini, memang soal label jadi perkara sensitif. Label seperti sebelumnya dinyatakan adalah soal pengakuan. Tapi terkadang pengakuan atas posisi, jabatan, kekuasaan secara bersamaan malah sering menundukkan yang lain. Mungkin, dengan itulah negara ingin menghapus label identitas. Biar bagaimana pun suatu label tak selamanya mampu mewakili keanekaragaman di baliknya.

Ini berarti secara tidak langsung negara ingin menghapus cara berpikir dominatif. Dengan kata lain, keyakinan mayoritas  tidak mesti menundukkan keyakinan minoritas.

Namun ini sebenarnya kisah Pak Hamid yang risau mempersoalkan keyakinan putranya. Sebab dia tahu, suatu label tidak dengan mudah dapat berganti begitu saja. Agama putranya berarti pula agaama dirinya yang sudah lama menjadi label turun temurun. Walaupun akhirnya, rasa gundahnya tak bisa serta merta menghindar dari suatu kenyataan. Dengan kata lain yang namanya agama, tidak selamanya berkedudukan sebagai agama pemberian generasi sebelumnya.

Apa boleh buat raut muka Pak Hamid adalah jawabannya. Putranya telah memilih.

27 Februari 2015

madah tigapuluhdelapan

"Tidak ada misi yang lebih rumit, lebih gawat, daripada pergulatan orang dengan jiwanya sendiri.."

Begitulah ungkapan Duong  Thu Huong. Tulisannya dalam Beyond Illusions, begitu menggetarkan. Dalam katakatanya itu ada getir, sekaligus tentu saja, getar.

Di tahuntahun komunisme berjaya di Vietnam, getir sekaligus getar itu menjadi hal yang menjulang dalam sorak sorai revolusi tanpa batas. Tapi juga, akhirnya harus redup untuk sebuah jalan yang telah ditetakkan partai: realisme sosialis.

Di Vietnam, seperti negerinegeri ketika komunisme akbar dipuja, sastra dan seni hanya berarti bahwa realisme sosialis adalah satusatunya ekspresi yang mampu membangun kebudayaan yang luhur. Maka, akhirnya itu jadi kebijakan, partai mengambil alih, dan sastra serta seni hanya bisa bicara dua hal: revolusi dan aturanaturan sastra partai.

Tapi pernah suatu saat partai sadar dan berbenah. Di tahun 1987, pasca perang yang amuk dengan pihak sekutu, partai mengambil cara yang tak lazim. Melalui pidato Nguyen Van Linh, ketua partai saat itu, kaum sastrawan dan intelektual dihimbau terlibat secara bebas dan kritis untuk membangun dan menangani Vietnam yang ambruk akibat perang. Akhirnya katup  dibuka, dan segera saja suarasuara yang sembunyi dari radar kekuasaan, menguap kemanamana.

Suasana itu akhirnya menyediakan suatu kondisi seperti yang diungkap Linh, dalam Beyond Illusions, kepada suaminya "kita tidak hidup untuk menyenangkan hati orang lain. Kita hidup sesuai dengan keyakinan kita." Linh menyebut itu dalam arti yang ideal, dalam arti bagaimana seharusnya tugas seorang penulis: jujur terhadap kenyataan.

Vietnam sebelum itu adalah suatu negeri yang diproyeksi dan dicanang revolusi, negeri yang mengolokngolok tuantuan tanah. Di Vietnam kala itu, seperti negeri yang membebaskan seluruh tanah untuk dikelola komunekomune. Tak ada tanah yang berbasis pribadi. Tiada yang berbau individual. Tanah di masa itu adalah saatsaat di mana padi adalah juga urusan negara.

Sontak proyek land reform itu menjadi semacam mantra yang membebaskan, tapi juga sebenarnya menghisap tumbal. Pembebasan tanah jadi program yang massif dari revolusi yang sedang berjalan. Tanah yang dikelola komune, adalah penyamarataan seperti yang dilakukan Mao di China. Tapi land reform justru bukan imune, justru banyak yang sakit, banyak yang justru kelaparan. 

Yang jadi tumbal, yang jadi sakit, adalah orangorang yang kehilangan tanahnya dan harus bekerja dengan tanah yang kering. Bahkan berita pun dibuatbuat, seperti ditulis Duong dalam novel ke duanya, penuh kebohongan "para pemimpin komune memerintahkan kami ke sini untuk dipotret, untuk korannya para tukang foto itu.

Orangrang dikibuli dengan gambargambar padi berlatar subur dan petani yang bahagia bekerja, namun sebenarnya itu hanyalah bagian kecil dari keadaan yang sebenarnya. Yang sebenarnya tak ada tanah subur yang dibebaskan. Yang ada hanyalah pengerahan besarbesaran petani ke bidangbidang tanah yang tak menghasilkan panen apaapa. Yang ada hanya berita manipulatif yang disebarkan demi menyangga revolusi.

Sebab itulah akhirnya di suasana bebas itu  banyak yang berani bersuara atas kebohongankebohongan kemajuan revolusi. Sastrawan menulis syair juga novel, seniman membangun panggung dan kaum cendikia mengungkap kenyataan. Demi suatu yang luhur: kejujuran atas yang terjadi.

Drastis tak ada lagi beritaberita kebohongan tentang kemajuan yang dipesan partai. Tak ada lagi ungkapan yang memujimuji revolusi.

Tapi suarasuara yang kritis nampaknya justru menjadi gema yang menyulut panas kekuasaan. Kritik berbalik arah terhadap partai yang diamdiam memang menilap kekayaan. Akhirnya banyak yang marah seperti tuantuan kepala partai yang menimbun harta. Sehingga jika kekuasaan jadi gerah, maka selanjutnya kita tahu, yang ada adalah pembungkaman. Sebab itulah kritik seperti memang hanya suara yang seperti uap. Cepat hilang. Sempat panas kemudian hilang tanpa sisasisa, oleh kekuasaan.

Suara yang sempat menjulang saatsaat itu, sudah tentu suara getar Duong Thu Huong. Perempuan yang sempat diusir dari partai ini akhirnya juga menanggung nasib sebagai seorang yang diasingkan. Tulisantulisannya menjadikannya sebagai orang yang karib dengan penjara tanpa pengadilan. Dan dari situ tahun 1990 ia didepak dari partai komunis Vietnam.

Tapi novelnovelnya, juga Beyond Illusions, sebenarnya getir yang memotret sebuah negeri yang dimanipulasi dengan rencanarencana partai. Suatu hal yang ia sebut "memandang menembus topengtopeng," saat semuanya bersuara berdasarkan pesanan partai. Saat banyak yang hanya mengumbar kesenangan rakyat dari sejumlah beritaberita, ceritacerita yang dipelintir dari kenyataan sebenarnya.

Saat itulah Duong menulis "kita kaum intelektual, misi kita bukannya memupukmupuk kebanggaan rakyat kita, melainkan meninjau sedalamdalamnya cacat dan kelemahannya yang fatal, untuk menemukan dan menunjukkannya lebih awal dari yang lainlain."

Karena itulah Duong menulis keadaan yang getir di negerinya sendiri.  Tapi sampai di sini saya tidak tahu, apakah tulisan Duong  di negeri ini juga dapat membuat orang bergulat dengan jiwanya sendiri.


21 Februari 2015

madah tigapuluhdua

Undian itu dilakukan dengan sut. Lingsang dan pasukannya mendapat kehormatan jadi ujung barisan yang akan memasuki Kutaraja dari selatan. Di belakangnya akan menyusul pasukan Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca…

Begitulah prosesi awal perang dikisahkan dalam Arok Dedes. Membaca fragmen cerita itu, kita akan segera tahu, tentang sebuah peristiwa jatuhnya kekuasaan seorang raja sekitar 1220 masehi. Saat itu, di Nusantara, dikisahkan Pramoedya Ananta Toer, Tunggul Ametung akhirnya mati bersimbah darah. Dan dalam lakon rajaraja, bersimbah darah berarti cara heroik untuk mati.

Tapi, di luar itu sebenarnya ada peristiwa yang lebih heroik. Jauh di luar jangkauan raja Tunggul Ametung, sebuah skenario kekuasaan sesungguhnya telah disusun rapi jauh hari tanpa sisa adegan yang kosong. Melalui tangan Buto Ijo, Arok, melalui peran yang panjang akhirnya menjelma kekuatan yang menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung.

Dan dari serangan itu, sejarah akhirnya mencatat, di saat itulah kudeta pertama terjadi di Nusantara.

Jika ada kekuasaan yang diceritakan tanpa menyisihkan intrik, barangkali Pramlah orangnya. Dalam Arok Dedes, sebuah naskah yang ia tulis di pulau Buru, barangkali ingin menjangkau ruang kesadaran banyak orang, bahwa kekuasaan sebenarnya dibangun bukan dengan cara yang langgeng dan sepi muslihat. Kekuasaan justru di tangan Pram, dikisahkannya adalah poros yang mudah keropos oleh intrik.

Melalui kisah Arok Dedes, Pram barangkali ingin membuka suatu tafsiran baru di sekitar kekuasaan. Bahwa, kekuasaan sesungguhnya adalah sesuatu yang tak stabil dan mudah retak. Di sini ada yang nampaknya sama sekali menyelisih dari adat kebiasaan. Apalagi dominasi cara memandang kekuasaan yang selalu ditautkan dengan hal ihwal berbau teos. Kekuasaan, seperti yang ditampilkan Pram dalam lakon Arok Dedes, adalah kekuasaan berwajah politik, bukan yang mitologik dan teologik. Artinya, kekuasaan itu mudah dihimpun juga diguyah selama intrik diberlangsungkan.

Juga bahwa politik sebenarnya adalah bagaimana kekuataan harus disusun dan dirombak. Yakni kekuatan bilamana ingin berhasil, selama disusun dan dirombak harus bermain pada semua lingkaran kelompok. Dan dalam lakon politik suatu rencana harus menyeimbangkan kekuatan di antara beragam kepentingan di sekitar kekuasaan.

Dengan cara itulah Arok memainkan perencanaannya. Seorang pemuda pelajar yang berhasil menghimpun kawula dan elit terdidik, serta kekuatan militer untuk menggerakkan sebuah perlawan terhadap Tunggul Ametung.

Barangkali, Pram juga ingin bermaksud bahwa politik sebenarnya adalah keadaan yang tanpa pusat. Sebab kekuatan sebenaranya bisa muncul dari mana saja selagi sebuah keadaan terlampau sesak oleh himpitan kekuasaan. Dan yang dibutuhkan sebenarnya adalah inisiatif yang cemerlang dalam bertindak dan membaca situasi yang serba mungkin.

Bila itu yang dimaksudkan, inisiatif sebenarnya adalah peran yang timbul tanpa lepas dari situasi yang kongkrit. Dalam arti ini, sebuah inisiatif lahir dari seorang subjek politik.

Slavoj Zizek, seorang filsuf abad 21, menyebut subjek politik adalah seseorang yang berperan radikal yang menerka keadaan dari segala ketermungkinan yang ada. Suatu yang disebut Zizek adalah “peran istimewa,” yakni suatu kemampuan dalam mengubah yang serba mungkin menjadi kekuatan yang menggerakkan. 

Dan Arok adalah orang yang melihat itu, menyusun dan memprediksi kekuatan mana yang kosong dan dapat ia manfaatkan menjadi kekuatannya. Ia seperti Sang Pangeran yang ditulis Machiavelli, orang yang menunggu dan bersikap di antara virtue dan fortuna.

Lakon kisah yang ditulis Pram ini, juga sebenarnya adalah bagaimana ia menjadi suara yang dibungkam di tengahtengah kekuasaan. Di pulau Buru, sebuah naskah sastra politik ditulis dengan kesadaran yang kental terhadap prosesi keberlangsungan sebuah kekuasaan saat itu. 

13 Februari 2015

madah duapuluhlima

Buruh atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apaapa selain tenaga. Tak memiliki apaapa selain otot. Dalam sistem yang terlanjur memuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan dihisap. Mereka mengalami suasana yang asing dari mesinmesin, dari barangbarang, juga dari sesama. Suasana alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja yang satusatunya adalah milik buruh, justru jadi kepunyaan tuan pemodal. Dengan upah, tuantuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan; menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem yang kapitalistik, buruh tak selamanya berarti pribadi yang individual. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum. Sebab itulah sebuah kaum berarti ada yang massal dibalik sistem  yang kapital. Karena itulah ada yang berbau kolektiv di dalam urat nadi industrialisasi. Di dalamnya, yang massal di hisap dan ditindas. Di dalamnya,  buruh kerdil secara massal menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Tapi di dalam tatanan yang akbar itu, justru mengandung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Marx itu memang kejam. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrikpabrik. Tapi zaman sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem yang tunggal, melainkan jamak menjadi srtruktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun. Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuantuan kapital.

Sebuah penghisapankah ini? Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalisme sama halnya menjual jasa pada sistem yang berlapislapis. Kerja dengan sistem yang tidak seperti abad industri awal, berarti tidak selamanya bersentuhan langsung dengan mesinmesin pabrik. Kerja, dengan zaman yang baru, adalah bagaimana tenaga ditiap waktunya dihitung hingga akhir bulan. Tenaga diganti dengan keahlian, otot diganti dengan pikiran.

Itulah sebabnya kerja menjadi mekanisme dalam sistem kapital. Tapi Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem yang kapital, kerja menjadi alienatif. Sehingga kita paham apa arti Marx mencela kapitalisme yang mengkerdilkan manusia.

Kerja, bagi Marx adalah modus eksistensial. Kerja adalah cara manusia mengelola nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kapitalisme memang kejam. Kerja yang manusiawi menjadi yang nonmanusiawi. Buruh yang tak memiliki apaapa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. "Wahai kaum buruh sedunia bersatulah." Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginpirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak matimati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuantuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti; di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

10 Februari 2015

madah keduapuluhsatu

Suatu waktu, perempuan boleh jadi sudah seperti tulah. Dalam agama, tulah itu bersumber dari telaga surga. Ada versi, dari sanalah sumber itu bermula: perempuan jadi biang kerok atas nasib warisan. 

Maka dari itu, perempuan harus diberi peringatan. Perempuan harus diatur, diproyeksikan untuk keseimbangan tatanan. Sebab jika tidak, banyak yang tercemari, banyak yang jadi korban. Karena itulah dia tulah.

Juga perempuan adalah mahluk yang asing. Sebab kehadirannya bukan sebagai sesuatu yang diinginkan. Kehadirannya adalah suatu yang tak didugaduga dalam cosmos penciptaan; berkat tulang rusuk yang bengkok. Dari "tulang rusuk yang bengkok" itu pengertian dibangun dan tafsir disepakati. Juga dari sanalah perempuan justru akhirnya menjadi tersisihkan. Perempuan, dari tafsir yang menyisihkan itu adalah mahluk yang tak hadir dalam sejarah, hingga akhirnya bukan menjadi bagian dari sejarah.

Tapi itu tafsir sejarah. Tapi itu tafsir agama.

Di negeri ini, perempuan nampaknya ditafsirkan menjadi senjata ampuh untuk mencipta kecacatan. Barangkali ini adalah simptom sejarah bahwa kejatuhan kekuasaan cukup dengan kehadiran perempuan. Dan sepertinya, dalam situasi itu, kita diajak untuk mengingat  hadis rasul; ada tiga hal yang berbahaya, harta, tahta dan wanita. Akhirakhir ini, di sekitar daerah kekuasaan bekerja, tamsil atas apa yang dibilangkan rasul berabadabad yang lalu itu, benarbenar terjadi.

Sepertinya ini adalah ujian tapi juga bisa jadi tragedi. Sebab perempuan sudah jadi komoditi. Dalam skema kapitalisme, perempuan adalah properti yang ditampilkan bersamaan dengan barangbarang. Berkat itulah sebuah iklan misalnya, dapat membuat untung tuantuan besar. Tapi dalam politik malah nampak berbeda. Dalam politik, justru perempuan bisa bikin tuantuan besar malah jadi tersungkur.

Itulah mengapa perempuan bisa jadi tragedi. Di dalam mitologi yunani, malah sebuah perang yang panjang bisa disulut oleh perempuan. Helena barangkali tak sempat menyangka, perang troya yang menyulut dendam dua kerajaan itu bisa bermula dari dirinya. Helena tak menyangka, cintanya yang melintasi batasbatas Yunani hingga ke hati Paris, justru berbuah tulah.

Sebagai tulah, itu juga yang terjadi di negeri ini. Perempuan menjadi tragedi yang jadi sebab kasakkusuk. Dua lembaga negara saling membakar picu senjata. Di mulai dari usaha untuk mengusut penyakit yang kronik, perempuan akhirnya jadi sulut pamungkas yang membuat runyam keadaan. Sehingga dalam politik yang mengusung integritas, perempuan bisabisa jadi sebab rusaknya sebuah identitas.

Tetapi akar masalahnya tidak seperti perang troya yang disulut perempuan. Di perang troya ada Paris, sang anak raja yang menculik Helena, dan di kubu Yunani tentu saja ada Achiles, ksatria yang jadi legenda itu. Di negeri ini, yang terjadi bukan perang antara dua negeri untuk saling menaklukkan. Di negeri ini, justru perang dilakoni oleh dua institusinya, dan tentu saja di perang ini, akar soalnya ada pada tuan presiden sebagai tokoh utamanya.

Lantas bagaimanakah tuan presiden di negeri ini? Atas dua institusinya yang saling gebuk dan gaduh? Soalnya banyak yang risau dan tak sabar menanti gebrakan. Kekuasaan nampaknya sedang tak normal, sehingga negara butuh keputusan yang besar. Namun  sepertinya saat ini tuan presiden juga belum bisa banyak kiprah. Seratus hari kekuasaannya belum banyak jadi tandatanda menuju negeri hebat.

Maka itu kita hanya bisa dibikin geger dan berkasakkusuk. Janganjangan tuan presiden khawatir, janganjangan tuan presiden ragu, janganjangan tuan presiden gamang. Atau janganjangan tuan presiden bimbang, janganjangan tuan presiden… hingga nampaknya pelanpelan tuan presiden kehilangan pesonanya di atas panggung. Sampai kemudian kasakkusuk itu jadi makin besar, sampai semua janganjangan itu bisa berarti janganjangan tuan presiden juga punya perempuan. 


Tapi perempuan tuan presiden ini bukan sumber tragedi apalagi tulah. Perempuan tuan presiden di negeri ini malah bisa saja jadi sumber titah dan malah perintah. Tapi itu hanya kasakkusuk. Tapi itu hanya janganjangan. Apalagi  anganangan. 


05 Februari 2015

madah delapanbelas

Demokrasi sebagai kekuatan politik adalah sistem yang sebenarnya tidak selamanya tepat. Terutama bagi negaranegara yang masih menyimpan sisasisa masa lalu. Di negeri seperti indonesia, sisasisa masa lalu itu sudah seperti akar beringin yang tak ingin kehilangan pengaruh; feodalisme, aristokrasi dan mitologi.

Negeri yang tak sepenuhnya demokratis sama artinya dengan negeri yang belum sepenuhnya modern. Modern, kata yang mengandung kemajuan itu, berarti hadirnya subjek sebagai kekuatan yang kukuh. Modern dengan subjeknya yang kukuh, sama halnya seperti Kant menyebutnya sebagai pencerahan. Kant dengan semangat kritismenya, menandai pencerahan sebagai usaha yang mandiri, setelah ia terbangun dari tidur dogmatisnya, ia menyebutnya sebagai pemikiran yang berangkat dari pikiran yang mandiri.

Itu berarti demokrasi setidaknya adalah subjek yang tegak atas pemikirannya, suatu "aku" yang keluar dari ikatan yang totalis. Dalam arti inilah modern sejajar dengan demokrasi, atau demokrasi adalah sistem yang membutuhkan ruang yang modern. Suatu tempat yang tegak dengan semangat atas "aku" yang otonom dan mandiri.

Dengan begitu dengan sendirinya demokrasi menghasilkan kedaulatan. Daulat berarti posisi yang mengalami kemerdekaan bersamaan dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Sebab yang mendaulat adalah subjek "aku" atas "aku." Rakyat atas rakyat dan untuk rakyat. Dan yang daulat berarti juga rakyat yang menyadari dirinya bagian dari yang mendaulat. Tapi bukankah ini mengandung implikasi yang kontardiktif?, walaupun begitu, justru sebenarnya dari sanalah kekuatannya. Demokrasi menjadi tatanan yang mengawasi dan tatanan yang diawasi. Kedaulatan yang daulat adalah kedaulatan yang bersih diri. Jika demikian maka tak ada yang daulat dari selain dirinya sendiri.

Tapi demokrasi punya cacat. Kekuatannya bisa menyimpang walaupun kedaulatan masih tegak dan berdiri Pertama, demokrasi dalam tatanan yang modern selalu mengandaikan agregasi. Dibalik kekuatannya, yang banyak adalah suara yang mayor. Dan yang mayor diartikan sebagai suara yang mewakili kebaikan umum. Kedua, yang mayor berarti menempatkan minoritas justru sebagai bagian yang periperi, yakni suara atas hakhak yang tak diakui, terpinggirkan.  Dengan arti inilah demokrasi bisa berbahaya, yakni yang mayor, yang banyak, bisa membangun konsensus yang timpang.

Karena itulah demokrasi adalah sistem yang dicela sekaligus dipuja. Demokrasi selalu dianggap jalan terbaik dari politik, sekaligus usaha terburuk dari kesepakatan. Sebab demokrasi dicela bukan karena prosedurnya yang memang ribet, melainkan demokrasi selalu ditandai dengan satu hal; status quo.

Dari itulah demokrasi seperti di Indonesia bisa saja salah kaprah, atau seperti kurang tepat. Status quo dalam sejarah Indonesia selalu menyertai dirinya bersamaan dengan kehadiran semangat feodalistik yang aristokratik. Dan segala hal yang berbau mitos, selalu menjadi daya penjelas diantara berdirinya tatanan yang aristokratik.

Maka dari itu, diantara tegaknya semangat demokrasi, bersamaan dengan usaha memodernkan diri, selalu ada legenda yang dipertahankan. Selalu ada babad yang disertakan. Sampai akhirnya demokrasi yang semula berwajah modern, justru adalah peragaan paham demokrasi yang berbau klenik.

Di indonesia, kenyataan terhadap yang klenik juga mengandung masalah yang pelik. Agama, sebagai suatu anjuran moral, sebagai suatu keyakinan, tidak sepenuhnya merupakan keyakinan yang mengurung diri di bawah kubah. Agama juga punya hasrat untuk memerintah dan bertahta, maka dari itu ia keluar mengatur umat, mengatur rakyat. 

01 Februari 2015

madah tigabelas

Sepertinya ada yang diamdiam terus membayangi di balik tegaknya intitusi masyarakat. Terus mengendus dari dalam dan merusak dengan cara yang tak kasat mata. Pelanpelan menjangkiti seperti hasrat yang tak pernah lengkap dan puas. Lamatlamat yang tak pernah puas itu membangun sebuah hirarki. Yang tak pernah puas itu biasa dieja  dalam arti yang sama dengan satu hal; kekuasaan.

Dan kekuasaan yang diamdiam bekerja itu punya dua  sikap yang jadi watak dalam setiap yang berbau birokrasi; Firaun dan Bal'am. Firaun, seperti yang diulangulang dalam sejarah adalah penguasa yang menilap tuhan. Atau nyaris menghabisi tuhan, sebab dalam quran diceritakan ia justru berkoar: aku adalah tuhan yang dapat  mencabut nafas dan mampu menghilangkan nyawa. Sementara Bal'am kita tahu, ia orang yang menyokong Firaun, dengan dalilnya, dengan argumentasi ilmunya. Diceritakan melalui sejarah, dengan dalildalil ilmunyalah, Firaun membangun kerajaannya.

Tetapi adakah itu sudah cukup? Nampaknya sejarah selalu menyisakan tempat untuk yang lain; Qarun. Dalam islam, terutama yang digambarkan Ali Syariati, Qarun adalah simbol antagonisme kelas ekonomi atas, golongan pemilik modal yang kehilangan sentimennya terhadap masyarakat tertindas.

Ali Syariati juga menyebut nama yang lain. Dari telusur filsafat sejarahnya, Ali Syariati menyebut satu nama; Qabil, yakni simbol masyarakat dominan yang mengagungkan hak kepemilikan pribadi atas penguasaan yang publik. Qabil, digambarkannya sebagai simpul yang merangkul dari apa yang ia sebut trinitarianisme sosial; Firaun, Bal'am dan Qarun.

Sebuah narasikah ini? Nampaknya ini tidak sekedar sejarah yang berasal dari negerinegeri seribu satu malam. Apalagi deskripsi dari teksteks yang sering dikutipkutip. Syariati tidak hendak membangun pemahaman yang teologis atas masyarakat, melainkan sebuah pandangan yang sosiologis. Ia rasarasanya resah bahwa dalam kehidupan masyarakat, yang disebut watak, sifat yang mendasari sebuah peran, bisa menjadi sebuah kangker dalam  tubuh masyarakat; ganas dan merusak.

Ini berarti tabiat maupun watak bukan keberadaan yang sui generis. Bukan hakikat yang ahistoris dan di luar sejarah. Tidak seperti subtansi yang sudah dimaktub dalam lauh mahfus. Seperti sesuatu zat yang ada dengan sendirinya. Ia justru dibentuk dan dicipta dalam sejarah. Ditempa dalam lingkungan, diciptakan dari pergulatan dan pengalaman atas kenyataan. Ia -dalam prosesnya- terus mengalami perubahan yang tiada hujung.

Dalam arti inilah tabiat watak tidak sepenuhnya perihal yang sudah jadi. Untuk itulah kita seharusnya tak harus percaya betul terhadap masyarakat di luar sana. Sebab nampaknya memang tabiat selalu mengikuti keadaan sosial; baik buruknya sudah seperti lempung lumpur yang dibentuk. Atau janganjangan memang betul bahwa manusia sebenarnya adalah mahuk antisosial.

Di sini kita boleh saja mengiyakan Hobbes dengan pandangan etisnya bahwa manusia disebut etis bila sejauhjauhnya ia bisa memenuhi keinginan individualnya. Tindak etis ini disebut pemeliharaan diri. Tindak etis ini disebut egoisme. Dari sinilah yang antisosial itu muncul dan meraup segala yang ada. Tapi Hobbes tahu jika yang individual dipertemukan ke dalam yang sosial; bellum omnes contra omnia. Maka yang ada adalah perang yang semua melawan yang semua; homo homini lupus.

Memang sepertinya itulah yang terjadi di sekitar kita. Situasi yang timpang sana timpang sini. Yang punya kuasa justru nampak seperti serigala; menindas, menghambat dan memaksamaksa. Sementara di bawahnya justru seperti dibilang Pram, menjilat, mengembik atau malah penghambaan. Jadi bukannya kita harus mafhum terhadap alur masyarakat yang mencipta “kangker” yang tak pernah sembuhsembuh, melainkan kenapa seluruh watak yang pernah ada dalam sejarah masih tetap bertahan hingga kini. Adakah ini memang seperti hilir sungai yang baik hilir dan muaranya sudah tercemari.  Apakah memang yang individual sudah seperti yang sosial; bellum omnes contra omnia. Perang di sana sini. Meraup segala hal selagi sempat dan mampu.

23 Januari 2015

madah lima

Politik memang kisruh yang berkepanjangan. Dalam politik selalu mengandaikan antagonisme. Tanpa itu, politik hanya peristiwa yang hampa dan lurus tanpa kritik. 

Politik dengan demikian adalah proses jalin kelindan kekuasaan yang saling tumpang tindih, menyilang, menyeberang dan sulit untuk padu. Sebab dalam politik kepentingan menjadi tujuan tanpa akhir di mana di dalamnya negoisasi dan komunikasi menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. . 

Tetapi bagaimana jika politik yang penuh dengan negoisasi itu justru adalah perlintasan dialog yang tanpa katalog? Atau politik yang tanpa arah? Suatu peristiwa berkepentingan tanpa disertai perhitungan tanpa etiket.

Politik  tanpa etiket adalah politik tanpa gagasan. Tak bisa dibayangkan jika politik demikian akhirnya banyak menyedot kepentingan dari kesepakatan tanpa maksud. Jika memang sedari awal tak ada bangunan yang sama untuk dinegoisasikan. Atau sedari awal memang tak ada kesepakatan yang tak ingin dibangun. Barangkali dari sanalah sebuah kepentingan bermula. Diamdiam mengambil peran dan menentukan jalannya proses negoisasi tanpa arah, tanpa maksud.

Ada sebuah pandangan bahwa politik yang tanpa maksud bisa dibangun dengan cara yang komunikatif. Politik yang sebelumnya adalah pertarungan antara kepentingan sudah selayaknya berubah. Habermas, dengan pandangannya yang masgul itu memang berbeda dari cara politik diberlangsungkan sebelumnya. Sebelumnya, politik adalah peristiwa yang ditafsir atas kelas, atas dasar kepentingan yang diberlangsungkan tanpa dialog. Politik yang demikian memang monolog, bukan seperti sinagog yang sepi dari peristiwa yang sunyi. Sebelumnya, politik sama dengan membangun sebuah gerakan tanpa negoisasi; sebuah revolusi.

Tetapi jaman berubah, keadaan tak jua berubah. Politik yang berarti revolusi itu tak bertahan lama. Politik yang revolusioner itu kehilangan arah, kehilangan maksud. Tepat di sinilah dengan pandangannya yang masgul itu, Habermas membangun keyakinannya dengan pandangannya yang berbeda. Politik baginya tidak harus dan selamanya diberlangsungkan dengan slogan yang arogan. Baginya, politik itu interaktif dan komunikatif. Optimiskah ini?

Tetapi dari itu kita bisa tahu bahwa politik sebagai peristiwa sejarah tak selamanya membangun arogansi. Politik dengan wajah yang sudah berubah itu lebih banyak menginginkan emansipasi. Ini berarti pembebasan yang diinginkan dalam politik hendak membebaskan dua pihak yang bersitegang. Apakah memang politik tak selamanya membangun persitegangan? Sepertinya ini adalah hal yang nihil sekaligus tak mustahil. Sebab tiada politik yang lepas dari kepentingan, tiada politik yang berarti tanpa maksud. Itulah mengapa, yang berkepentingan itu dinegoisasikan,didialogkan. Habermas menyatakannya dengan istilah etika diskursus.

Dengan politik yang dibangun melalui etika diskursus berarti memutlakkan komunikasi sebagai syarat yang penting. Habermas mengimani bahwa politik yang demikian adalah kegiatan kekuasaan yang tak menomorsatukan kepentingan mayoritas. Dengan etika diskursus, politik selalu berpusat pada argumentasi parsial; kesepakatan yang dibangun dengan cara dialog yang emansipatif tanpa hirarki. Dengan melalui itu, maka politik mencapai konsensusnya. Mencapai kebaikan bersama.

Walaupun demikian, kita juga mengenal pandangan yang lain, bahwa diamdiam di balik dibangunnya diskursus, justru sebuah kekuasaan yang jauh mengerikan berlangsung. Dan kekuasaan seperti ini bertaut langsung dengan pengetahuan. Itulah sebabnya, saya sanksi dari politik yang mengedepankan kesepakatan melalui diskursus. Alasannya bahwa tak ada diskursus yang emansipatif apalagi tanpa dominasi. Dengan begitu, diskursus tak selamanya bersih dari kekuasaan, apalagi kepentingan yang dominan. Itu juga mengapa, politik selalu menjadi peristiwa yang memang selalu kisruh.


22 Januari 2015

Dari Teologi Hingga Ideologi Dan Keluarga Berwawasan Gender

Dalam agama, konsep gender selalu bermuara dari tindak baca teologis. Perempuan dalam teologi, islam misalnya, direduksi sampai pada tingkat yang subordinat; sebagai tulang rusuk yang patah. Cara baca yang demikian mengandung problema yang berkepanjangan hingga mengakibatkan perempuan sulit mendapatkan posisi yang sepatutnya. Persoalannya semakin menjadi rumit pada saat penafsiran terhadap teks-teks primer juga mengandung pandangan yang misoginis. Pandangan yang bias terhadap gender ini disinyalir oleh pemikir feminis islam sebagai dalang dari keterbelakangan perempuan. Ternyata teologi, ilmu yang mendasari iman itu juga tidak bersih dari pandangan yang timpang. Untuk itulah pemikiran islam kontemporer juga memperturutkan isu gender sebagai wacana kritis untuk memasukan peran perempuan di dalam keterlibatannya terhadap dunia publik.

Teologi yang implisit dalam ideologi gender juga ditemukan dalam pemahaman keagamaan yang lain; kristiani. Doktrin dosa awal secara eksplisit mengacu kepada peran perempuan (Hawa) yang menjadi musabab dibuangnya Adam dari telaga surga. Perempuan di dalam teologi kristen, dipandang sebagai biang dosa-dosa anak cucu adam yang berakibat terhadap cara pandang perempuan yang di streotypekan negatif. Bahkan kontruksi teologi kristiani juga diimplisitkan secara diam-diam sebagai iman yang maskulin. Kerangka keimanan ini diperlihatkan dari model peribadatan yang berpusat dari “bapa” sebagai episentrumnya. Seperti juga dalam islam, gerakan pembaharuan teologi atas bias gender juga dilakukan dalam teologi kristiani.

Perempuan sesungguhnya sudah lama berlarut-larut dalam situasi yang subordinat. Tidak saja dalam teks tetapi juga konteks. Dalam teks, perempuan diandaikan sebagai mahluk yang peripheri, nomor dua. Pengandaian ini memiliki dampak paradigmatik dalam mencitrakan perempuan sebagai mahluk rendahan. Hal ini, seperti dalam teologi agama-agama, nampak begitu kuat mendominasi paradigma keagamaan hingga hari ini. Tidak saja dalam sejarah agama-agama, di dalam teks-teks yang menjadi literatur perkembangan keilmuan juga memposisikan kelemahan perempuan di bawah dominasi ilmu pengetahuan. Singkatnya baik dalam teks keagamaan dan juga teks keilmuan, perempuan dijauhkan dari posisi strategis dari pusat-pusat paradigmatik.

Sementara di dalam konteks, sejarah perkembangan masyarakat mengisahkan bagaimana perempuan dijauhkan dari peran sentralnya sebagai pusat kehidupan. Semenjak ditemukannya alat-alat berburu, pengalihan peran perempuan kepada kaum laki-laki diawali dengan bergesernya posisi dominan yang awalnya dimiliki perempuan. Akhirnya berubahnya karakter hidup dari pola menanam menjadi berburu mengawali sejarah pergeseran peran-peran perempuan dari ruang publik ke ruang domestik. Situasi ini digambar sebagai masa kelam  ketika perempuan untuk pertama kalinya mengalami domestifikasi.

Baik dari teks dan konteks semacam di ataslah, kontruksi atas peran perempuan di ranah sosial berpijak. Tumpuan ini menandai bagaimana feminisme memberikan pembacaan yang jauh berbeda dari tindak baca yang berpusat dari sistem keilmuan teologi maupun sains. Sebab pembebasan terhadap perempuan harus diawali dari pembersihan terhadap teks-teks yang timpang atas gender. Begitu pula, pembebasan ini juga harus dibarengi dalam tindakan praktis untuk mengubah konteks sejarah sosial kebudayaan bagi masa depan. Melalui dua elementasi inilah feminisme berkehendak untuk membangun tata dunia yang berkeadilan dan setara tanpa diskriminasi atas pembagian kelamin.

Feminisme dan Pembebasan Ideologi Gender dalam Keluarga

Anthony Giddens mengungkapkan, perubahan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern dapat disaksikan pada peralihan model kehidupan keluarga. Perubahan ini merupakan derivasi langsung dari berubahnya sistem dunia yang berangsur-angsur meninggalkan pola hidup tradisional. Modernitas yang diilustrasikannya dengan juggernaut sangat cepat mengubah sendi-sendi kehidupan keluarga sampai pada tingkat yang radikal. Perubahan tata dan pranata keluarga dari ciri masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern adalah salah satu aspek pengamatan yang dilakukannya untuk melihat sejauh mana modernisasi mempengaruhi perubahan kehidupan keluarga. Ciri masyarakat yang hidup dalam modernitas tinggi, dalam keluarga ia istilahkan dengan model keluarga demokratis. 

Dalam bukunya yang terkenal itu; The Third Way, The Renewal of Social Democracy, keluarga dalam analisis Giddens ditempatkan sebagai institusi yang menjadi dasar dari masyarakat Ini berarti keluarga sebagai formasi sederhana dari sebuah institusi, juga memiliki sejumlah kaitan terhadap model masyarakat di luarnya. Dengan kata lain, secara paralel bentuk keluarga sangat ditentukan dari aturan-aturan yang berlaku umum di dalam masyarakat sebagai model kerangkanya. Dalam hal ini, keluarga demokratis yang disebutkannya memiliki sejumlah kualifikasi kesetaraan secara langsung mengikuti format dan nilai-nilai dari masyarakat demokratis.

Tetapi dari apa yang dituliskannya, keluarga demokratis belum merupakan bentuk yang stabil dari masyarakat modern. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh tradisi dalam masa transisi menuju model masyarakat pasca tradisional, yang masih menggenapi cara hidup keluarga-keluarga eropa. Walaupun demikian, dugaan Giddens hanyalah sebahagian dari bentuk masyarakat yang dinilainya masih bermasalah dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembagian peran dan hak dalam keluarga. Hal ini dikatakannya masih sulitnya tatanan demokrasi diberlakukan dalam keluarga sejauh menyangkut bagaimana peran-peran domestik diberlakukan.

Persoalan itu barangkali bisa dibaca melalui pendekatan feminisme postmodernis, atau lebih tepatnya gaya membaca yang diacu dalam pemikiran Lacan. Cara pandang psikoanalisis Lacan mencurigai bahwa dominasi hubungan patriarkhi, sudah bermula semenjak proses sosialiasi dalam keluarga. Melalui jejaring dunia simbol yang merupakan dunia yang dimasuki oleh anak, adalah tatanan bahasa yang disebutnya sebagai medan dominan yang membentuk karakter dan sikap subordinat anak. Melalui bahasalah anak diperkenalkan dengan simbol-simbol sosial, kebudayaan, agama bahkan politik yang dalam bahasa Lacan adalah dunia yang sudah selalu ditafsirkan oleh Bapak. Artinya dengan bahasa, anak ditundukkan sedemikian rupa berdasarkan pembagian peran yang timpang dan diskriminatif atas penafsiran paternal yang di dalamnya budaya patriarki bekerja.

Asumsi demikian tidak jauh dari psikoanalisis Freud yang membagi secara anatomis peran perempuan dan laki-laki berdasarkan pandangan yang biologis. Dalam hal ini perempuan mengidentifikasi dirinya sebagai mahluk yang berbeda atas ketiadaan penis yang tidak dimilikinya sebagaimana yang dimiliki laki-laki. Dari pengidentifikasian semacam ini, menurut Freud, perempuan dalam perkembangan kepribadiannya mengalami keadaan psikis yang selalu berkekurangan. Perempuan sejauh ia tumbuh dan berkembang adalah mahluk yang kurang lengkap dari laki-laki. Atas dasar inilah dari semenjak perkembangannya perempuan mengalami keadaan yang berkekurangan.

Di dalam masa pertumbuhan, keluarga sangatlah dominan dalam menentukan proses sosialisasi yang dihadapi anak. Proses sosialisasi ini juga sangat bergantung pada bagaimana aspek-aspek edukasi diterapkan. Dalam keluarga tradisional, proses sosialisasi dan edukasi hanya diberlakukan bagi anak laki-laki yang dianggap lebih utama dalam keluarga. Keyakinan ini didorong oleh kebudayaan paternalistik yang menganggap perempuan hanya sebagai kaum nomor dua dibandingkan peran laki-laki dalam masyarakat. Keadaan ini juga berlanjut dalam hal kepengasuhan anak yang tidak melibatkan keikutsertaan Bapak dalam urusan domestik. Walaupun demikian sejauh peran domestik dijalankan oleh Ibu, pusat kekuasaan dalam hal keberlangsungan keluarga tetap menjadi hak sang Bapak.

Dengan demikian, walaupun keluarga demokratis belum merupakan bentuk keluarga yang stabil secara umum, tetapi dalam hal kesetaraan dan pembagian kerja, model keluarga demokratis dapat menjadi alternatif untuk memiminimalisir ketegangan akibat bias gender dalam keluarga. Seperti yang dibahasakan Giddens, beberapa bentuk kesetaraan berupa hak dan tanggung jawab yang diberlakukan secara timbal balik, kesetaraan emosional dan seksual, menjadi orang tua bersama serta keluarga yang terintegrasi secara sosial adalah kualifikasi yang seharusnya mampu dikembangkan dalam hubungan keluarga masa kini. Sebab bias gender yang sering kali terjadi dalam keluarga berupa marginalisasi, subordinasi dan kekerasan terhadap istri selalu berhula dari hubungan yang hirarkis.

Sebagai salah satu alternatif dalam membangun keluarga yang berbasis gender, selain kualifikasi di atas, Giddens juga memasukkan kebutuhan terhadap perundangan akan hak-hak orang tua yang telah lanjut usia. Kebutuhan ini berangkat dari asumsi bahwa selain keharusan  tanggung jawab orang tua kepada anak selama kepengasuhan, tetapi juga merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada anak agar diberlakukan secara setara untuk memperhatikan dan menopang kebutuhan-kebutuhan dan perlindungan bagi orang tua yang sudah uzur. Ini berarti keluarga yang bebasis gender, tidak saja mengatur dan meperbaiki hubungan orang tua kepada anak tetapi juga dari anak kepada orang tua.


15 Januari 2015

catatan empat

Minggu ini, perempuan, kekuasaan, dan harta menjadi tema tontonan yang menghebohkan. Bahasa rasul itu memang terjadi dan tak jauh dari penyebaran pemberitaan saat ini; penetapan tersangka calon kepala polisi RI oleh KPK dan beredarnya fotofoto panas yang mirip pimpinan KPK juga turut Putri Indonesia. 

Apa lagi ini? Masalah siapa lagi ini? Tibatiba awal tahun kita dibawa kepada situasi politik yang ituitu lagi; kekisruhan yang membuat daftar panjang bagaimana penyelenggaraan pemerintahan selalu ditandai dengan intrik dan taktik.

Politik memang medan yang antagonis. Bahkan politik sudah merupakan skenario yang disiapkan ceritanya sedari awal; siapa sutradaranya, pemeran utamanya, tokoh kuncinya, kapan cerita harus didramatisir, kapan penjahatnya kalah dan menang, dsb. Politik dengan skenario yang sudah diatur memang adalah panggung yang awalnya minim dialog; mulanya disiapkan diamdiam, kemudian, riuh rendah suara mulai mengisi dialog para pemerannya hingga akhir cerita. 

Tapi apakah ada akhir dalam politik? Saya kira tidak, sebab akhir berarti ada pahlawan yang menutup cerita. Sementara dalam politik, sang penjahat punya jalan cerita sendiri untuh mengubah jalannya skenario.

Untuk itu kita tunggu saja satu demi satu adegan, peran demi peran dimainkan. Dalam kasus penetapan BG oleh KPK ada dialog di sana, dan tentu akan berlanjut dengan konfirmasi dan klarifikasi. KPK menetapkan dan BG mengklarifikasi, sehingga itulah selanjutnya; bantah membantah antara dua peran. 

Pada titik inilah kita biasanya dibuat bingung mana yang benar dan yang mana memang salah,  mana yang harus dibela atau didukung. Tetapi ada hukum, walaupun terkadang hukum di negeri ini bisa jadi perusak pikiran kita. Lantas kalau sudah begitu mau bagaimana lagi? Harus apa lagi? Jika yang terlibat adalah para penegak hukum. Barangkali Gie benar: Keadilan memang hanya ada di langit dan di bumi hanyalah omong kosong.

Lalu apa lagi ini? Gambargambar panas pimpinan KPK dengan Putri Indonesia!!! Seksualitas memang kekuatan destruktif yang paling halus, sehingga tak ada yang luput darinya. Di antara pusaran kekuasaan, seksualitas bisa menjadi pusara yang melumat habis siapa saja. Dan kisruh tentang penetapan tersangka rekening gendut menjadi semarak dengan beredarnya gambar syakwasangka dari kecapkecup kening; kita dibuat tak berkedip dan miris sekaligus bertanyatanya.

Sebuah pertarungankah ini? Setidaknya dulu ada film cicak vesus buaya yang pernah tayang. Ini adalah skenario yang klise tetapi barangkali kita butuh tontonan yang menghibur.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...