Archive for Januari 2019

Literasi Desa Labbo: Dari Desa, Oleh Desa, dan Untuk Desa

24 Januari 2019 Comments Off


Ini bocoran saja: dua hari lalu saya didadak Sulhan Yusuf agar segera meresensi buku teranyar dari salah satu desa di Bantaeng --kabupaten di Sulawesi yang mencuri perhatian kita 1 dekade belakangan--"Literasi Dari Desa Labbo". Buku kumpulan tulisan yang tempo hari sudah saya ketahui cikal bakal kedatangannya. Tapi, berhubung masih diikat kesibukan lain, saya akhirnya baru bisa menulis ini di sela-sela pertemuan akhir kelas kuliah yang saya ampu. Sembari memberikan final mahasiswa, saya mencuri waktu agar tulisan yang dibuat ini dapat rampung dan dinikmati sesuai pesanan.

Bukan rahasia lagi, cara untuk mengapresiasi buku-buku yang diterbitkan orang-orang dekat atau komunitas yang sevisi, kami-kami sering saling "memesan", saling mendukung, dan juga saling menyemangati entah dengan cara apa. Resensi ini salah satu wujudnya.

Saya yakin di balik terbitnya buku ini, "pesanan" adalah kekuatannya. Seperti dituliskan dari catatan penyunting, buku ini lahir atas dasar inisiatif warga Desa Labbo yang ingin mengabadikan ingatan, pengamatan, dan pengalamannya mengenai apa saja yang berkaitan dengan Desa Labbo.

"Buku ini merupakan hasil dari proses panjang aktivitas literasi di Desa Labbo, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sejak kepala desa dijabat oleh Subhan Yakub, saya sudah ikut mendorong program-program literasi yang dicanangkan Pemerintah Desa Labbo, mulai dari pembenahan perpustakaan desa hingga pelatihan literasi untuk Karang Taruna."

Di atas, kutipan saya ambil untuk membunyikan makna "pesanan" yang dimaksud. Yakni hasil kalkulasi tukar tambah pengetahuan dan pengalaman dari siapa pun yang terlibat dari macam-macam kegiatan di atas.

Mulai dari kepala desa, kepala dusun, mahasiswa, ibu rumah tangga, aktivis, pendamping desa, dan warga desa, adalah orang-orang yang gotong royong mengafirmasi "pesanan" dari aktivitas bermatra literasi.

Dengan kata lain, "pesanan" itu berwujud pemberdayaan dari desa, oleh desa, dan untuk desa. Ya, buku ini bisa dibilang adalah hasil rembukan warga desa untuk menghasilkan sesuatu bagi desa mereka.

Itulah sebabnya, kalau ada yang mengetahui gerak-gerik para penulis di buku ini, mereka bergerak atas "pesanan" yang sama, visi yang sama, dan beruntungngnya bisa bertahan dalam frekuensi yang sejajar.

Mereka, walaupun datang dari beragam profesi, latar belakang pendidikan berbeda, usia, dan kecenderungan politik yang saling membelakangi, bisa demikian kejadiannya karena lahir dari hasil ijtimak bersama: menerbitkan buku.

Dari sisi ini, imajinasi tentang desa mesti digugat. Kadang desa diidentikkan terbelakang, tidak dinamis, dan sulit berkembang. Bahkan, desa dari kacamata ilmu-ilmu sosial mainstream, didudukkan sebagai lokasi pinggiran dengan kota sebagai pusatnya. Sebab dari itu, desa selalu dipandang wilayah yang tidak layak diperjuangkan dan tidak mesti diprioritaskan.

Hadirnya buku ini ibarat gugatan tentang semua itu. Bukan padi, buah-buahan, atau hasil ternak saja, melainkan buku sebagai penanda signifikan yang menjadi catatan kritis mengenai pergeseran aktivitas warga desa.

Buku yang identik bagi kalangan terdidik, di Desa Labbo diusahakan menjadi lebih liberal lagi. Ia didudukkan sama dengan sawah, kebun, dan ladang sebagai area atau benda yang menjadi pusat pikiran warga desa.

Seketika warga desa bertransformasi bukan saja akrab dengan perkakas pertanian dan perkebunan, tapi juga dengan laptop, jaringan wifi, buku, jurnal, catatan koran, laporan desa, dan siaran televisi yang semuanya menjadi semesta baru membentuk wacana di keseharian mereka.

Dengan kata lain, sebagian warga desa yang akrab dengan pekerjaan-pekerjaan tanah, berubah ikut naik ke ketinggian bagaimana mengabsraksi ide dan gagasan dalam dunia literasi --sesuatu yang demikian jauh dari keseharian mereka.

Berkat itu semua, Desa Labbo berhasil meraih penghargaan Perpustakaan Desa terbaik dari seluruh perpustakaan desa se-Tanah Air. Tentu ini hanya salah satu program dari sekian banyak program desa yang bergerak dengan visi literasi.

Sekarang konteks masyarakat desa tidak jauh berbeda keadaannya dengan masyarakat kota, para kontributor di buku ini masih mempertahankan oleh apa yang disebut sosiolog Prancis, Emile Durkeim sebagai "kesadaran kolektif". Ihwal inilah yang memandu hal-hal di atas dapat mewujud menjadi satu buku seperti ini.

Patut dicurigai jangan-jangan warga kota sudah tidak mampu lagi memiliki kemampuan seperti warga Desa Labbo. Selain berwatak individualis dan dinamisnya aktifitas profesi, sulit rasanya membayangkan, satu kelurahan, misalnya, mau keluar sejenak dari spekulatifya hidup kiwari demi melakukan kerja kultural semacam menerbitkan buku.

Di sisi ini kita mesti mengacungi jempol buat warga Desa Labbo. Kendati tidak semua, mereka yang menulis untuk buku ini telah memosisikan dirinya sebagai figur-figur publik, walaupun untuk desa mereka saja. Figur publik di sini, tentu mereka yang mengedepankan urusan umum sebagai urusan pribadi mereka.

Dengan kata lain, mereka bekerja dan menulis tentu untuk kemajuan bersama. Kemajuan Desa Labbo sendiri.

Walaupun tema tulisan buku ini macam-macam, tapi barangkali kecintaan terhadap desa mereka-lah sehingga buku ini dapat terbit di hadapan khalayak. Itulah sebabnya, sulit menemukan narasi yang mampu mengikat keseluruhan dan keberagaman tulisan di buku ini yang juga mengikutkan fiksi di dalamnya.

Literasi Dari Desa Labbo terdiri16 artikel, 16 esai, 11 cerita, 4 puisi. Editor atau penyunting buku ini, barangkali sedikit kesulitan mengkamar-kamarkan baik genre, tema, isi dan jenis tulisan dalam buku ini. Dari sisi ini mungkin pembaca bisa menilai dan mengkritisinya, bahwa akan jauh lebih baik jika sebuah buku mesti berdiri di dalam satu genre tulisan saja.

Satu hal yang pasti, kehadiran buku ini yang merupakan buah tangan langsung para warga Desa Labbo, walaupun sifatnya tidak umum, adalah gejala tersendiri bahwa di desa-desa sekarang, terutama di Sulawesi Selatan, tengah terjadi perubahan senyap memformulasikan ulang modal utama apa yang bisa dimaksimalkan di desa bersangkutan. Uniknya semua itu tidak lagi didasakan kepada tradisi lisan, sesuatu yang khas masyarakat desa, melainkan beralih menjadi tradisi tulisan.

Perubahan tradisi keberaksaraan ini besar kemungkinan akan mengubah pola pikiran, sumber daya, mengikut hasil-hasil apa saja yang lahir dari potensi desa. Bukan lagi hasil-hasil bumi saja, tapi bisa saja bakal lahir potensi lain yang lebih besar karena ditunjang dengan kegiatan-kegiatan literasi.

Dilihat dari sisi ini, walaupun demikian masih jauh, kegiatan literasi adalah salah satu syarat terjadinya transformasi masyarakat agar lebih maju dan kreatif. Merupakan teka-teki, apa yang nanti bakal terjadi, bukan saja di Sulawesi saja, jika semua desa di Indonesia bergeliat yang sama seperti Desa Labbo. Menarik mengamati perkembanganya.

Terakhir, jika Anda sudah sampai di bagian ini, Anda bakal mengerti bahwa tulisan ini bukanlah sepenuhnya resensi. Biarlah pembaca lain yang melakukannya, atau warga Desa Labbo sendiri yang mengisi tugas itu. Tulisan ini hanya berusaha menempatkan dirinya pada keberpihakan yang sama, bahwa --meminjam istilah Alwy Rachman-- gerak-gerik perababan yang baik, tidak dimulai kecuali dari aktifitas literasi di dalamnya. Ihwal yang menjadi modal sejarah Bugis-Makassar, seperti sudah kita ketahui selama ini.

Judul                         : Literasi dari Desa Labbo
Penulis                     : Sulhan Yusuf, dkk.
Penerbit                   : Liblitera
Edisi                         : Pertama, Desember 2018
Tebal                        : 374 hal
ISBN                        : 9786026646170

Ahlan Wa Sahlan 2019, Berusia Panjang Dikutuk Bernasib Sial!

08 Januari 2019 Comments Off


Cover buku Soe Hok Gie ”Zaman Peralihan”. 
Gie adalah aktivis dan mahasiswa Fakultas Sastra 
Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969

MEMILIKI usia yang panjang nampaknya bisa menjadi masalah tersendiri. Pertama, sebagai sepuh, ketebalan pengalaman kehidupan yang berlapis-lapis bakal membuat kehidupan ibarat video game yang sudah tamat berkali-kali. Tidak ada tantangan. Semua kunci dan jalan-jalan rahasia tidak bakal membuat diri semringah merasakan sensasi yang ndakik-ndakik.

Semua rahasia kehidupan baik yang tersembunyi di ceruk-ceruk bumi sampai yang terselip dalam ruas ruang kosong ayat-ayat kitab suci, bukan lagi hal baru. Semuanya nampak biasa saja. Sensasinya sudah aus, malah.

Kedua, lantaran panjangnya usia, dan sudah kebanyakan makan asam manis kehidupan, kematian adalah satu-satunya pilihan wajar daripada ikut menyaksikan zaman kemaruk yang bedebah ini. Daripada dibuat pusing bukan lagi tujuh keliling, mungkin lebih, atau bahkan lebih lagi….lebih baik mengakhiri hidup dengan tenang dengan rasa yang berkecukupan adalah salah satu kebijakan terakhir yang layak dirasakan.

Namun masalahnya, kapan kematian itu datang menjemput sepenuhnya-penuhnya hanya urusan malaikat Izrail dan juga Tuhan saja yang tahu. Si sepuh yang kulit-kulitnya melipir hanya bisa pasrah saja.

Soe Hok Gie untuk konteks ini pernah menerjemahkan nasib berdasarkan panjang umur seseorang. Menurutnya, celakalah orang dengan usia panjang. Dia bakal menemukan zaman pelik yang berbeda dari situasi tempat ia hidup. Dinamika perubahan yang kian cepat bakal membuatnya ketinggalan dalam menanggapi dan menentukan sikap.

Ini persis seperti ramalan Anthony Giddens, si sosiolog gaek Inggris, tentang zaman tunggang langgang, mirip juggernaut yang berlari dengan kecepatan maha ampun tanpa memberikan kesempatan bagi masyarakat memahami dan merenungi perubahan yang dihadapinya.

Yang lebih beruntung dari itu adalah orang yang mati muda. Soe Hok Gie adalah orang dari jenis ini. Dia wafat di puncak gunung Semeru. Mati dalam keadaan menjalani hobi yang disenanginya: mendaki gunung. Dengan kata lain, dia mati di saat-saat paling bahagia. Di saat-saat paling tenang dan sepi. Jauh dari hiruk pikuk politik yang kala itu sedang panas-panasnya.

Dan, orang paling beruntung dari keduanya menurut Soe Hok Gie adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan sama sekali. Orang-orang yang belum merasakan dentuman waktu, denyut aliran perut bumi, dan detak jantung kehidupan.

Bahkan, orang-orang yang hanya sempat singgah dalam rahim ibunya dan kemudian gugur entah kenapa, juga merupakan suatu keberuntungan pula. Ia bukan saja belum sempat berbuat apa-apa, namun juga dihindarkan dari kemungkinan-kemungkinan perbuatan buruk.

Orang-orang macam ini –jika sudah layak disebut manusia–bakal langsung dapat jalan pintas ke alam baka. Ia tidak mesti repot-repot lagi singgah di alam yang fananya minta dimaklumi ini. Ia jika sudah sampai di alam perhitungan, di hadapan Tuhan barangkali hanya tinggal disuruh memilih saja: mau surga atau neraka? Dua-duanya berpeluang menjadi dunia abadinya.

Omong-omong soal nasib sial, Logan dalam kisah X-Men adalah contoh orang paling tidak beruntung. Kemampuan genetik yang bisa meregenerasi jaringan sel-sel tubuhnya membuatnya cepat pulih ketika terluka. Sistem tubuh seperti ini membuat diri Logan tidak pernah merasakan sakit hati berkepanjangan. Berkat kemampuannya ini, Logan dikaruniai usia yang panjang. Tubuhnya senantiasa memperbaharui dirinya. Bahkan bisa jadi tidak menua sama sekali.

Konsekuensi usia panjang Logan—di semesta Marvel dia hidup sudah sejak abad 19 dan telah melalui banyak peperangan antara bangsa di dunia–membuatnya menanggung beban mental luar biasa. Ia sering mengalami trauma pasca perang. Sering kali pula ia mengalami mimpi-buruk tentang kekejian korban perang dan orang-orang terkasih yang sudah lebih dulu mangkat dari dirinya.

Berkat itu semua Logan menjadi pribadi yang secara fisik kuat tapi secara psikis adalah orang yang rentan terhadap trauma. Kenangan pahit masa lalunya ibarat hantu yang bersemayam di alam bawah sadarnya. Suatu waktu, ingatan masa lalunya menjadi katalisator yang bakal membuat pikirannya meledak. Hal ini besar kemungkinan akan terus terjadi seiring pemicu yang ia temukan dalam kehidupan masa kininya. 

Saya memiliki nenek yang berusia entah sudah berapa. Ketika sering menanyakan  berapa usia nenek melalui anaknya, yang juga adalah mamak saya, ia hanya mengatakan usianya sekitar 90 tahunan. Jawaban yang saat itu asal terka. Jawaban yang tidak memuaskan memang lantaran dia menyebut kata sekitar.

“Di kampung, tidak adami yang seusia dengannya. Dia maumi sendiri. Banyakmi seusianya lebih duluan meninggal.”

Itu jawaban mamak  jika saya mengejar lebih jauh berapa sebenarnya usia nenek saya itu.

Entah 90-an atau kurang, ketidakpastian akuratnya usia nenek menandai betapa lamanya ia hidup. Sampai-sampai usia sebenarnya–dan juga tanggal lahirnya–sudah tidak diketahui pula. Semoga ia diberikan umur panjang.

Sudah semenjak tiga tahun lalu nenek hanya bisa berbaring di tempat tidurnya. Makan, minum, bahkan berak, semuanya dilakukan di atas pembaringannya. Tungkai kakinya sudah tidak mampu membawanya berjalan. Terakhir kali ia hanya bisa mengesot jika ingin ke kamar mandi.

Rasanya sudah lama saya melihat nenek terakhir kali menggunakan mukena untuk salat. Kala itu ia masih sering saya temukan di atas kasurnya salat sambil duduk. Walaupun saya tahu, saat itu orientasi waktunya sudah mulai berubah. Kadar ingatannya pelan-pelan memudar. Itulah sebabnya, ketika salat, ia sering kali salah waktu. Bahkan, barangkali ia bisa melakukan salat dua kali dalam satu waktu.

Nenek tidak mengenal Soe Hok Gie. Dia sudah pasti tidak mengenal sepak terjang pemuda yang mati di usia yang lagi panas-panasnya itu. Apalagi ia tidak tahu kategori nasib sial Soe Hok Gie di atas. Dia juga tak tahu, dengan umurnya yang sudah sangat uzur itu, apakah termasuk bernasib sial layaknya ucapan Gie.

Satu hal yang pasti, jika seorang anak manusia berumur panjang, di usia uzurnya, ia kemungkinan bakal mengalami kehilangan ingatan–suatu hal yang dialami nenek saya sendiri. Ia bahkan sudah lupa siapa anak siapa ibu jika bertemu anak-anaknya. Kadang malah ia sering menganggap salah satu anak lelakinya sebagai bapaknya.

Ingatan memang sesuatu yang demikian lentur. Ia bisa melar sepanjang banyaknya peristiwa yang sudah dilakoni, yang sudah disaksikan, dan yang sudah didengarkan menjadi tugu kenangan. Sebaliknya, ia bakal menyusut kerisut sependek daya kenangan membangun tugu di dalamnya. Dengan kata lain, kuat tidaknya daya ingat seseorang, tergantung seberapa kokoh tugu kenangan dibangun selama ia hidup.

Ketika menulis ini di akhir tahun, tiba-tiba datang dengan sendirinya suatu perasaan yang interogatif dalam benak saya: sampai berapakah usiamu kelak anak muda? Berapa sisa jatah umurmu di dunia ini? Sebentar lagi pergantian tahun, sudahkah engkau banyak mengambil pelajaran dari ingatanmu sebelum kau kehilangan segalanya, termasuk ingatan yang paling intim darimu? Jangan sampai kau tergolong orang yang bernasib sial, berumur panjang dengan ingatan yang pendek?

*Telah tayang sebelumnya di Kalaliterasi.com

Podcast: Babanuroom Channel