Tampilkan postingan dengan label Alain Badiou. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alain Badiou. Tampilkan semua postingan

18 Februari 2016

Kritik atas Frankfurt School


Herbert Marcuse
Salah satu pendiri Mazhab Frankfurt
Dikenal melalui bukunya ”One Dimensional Man”



PERTAMA, kritik hak milik  ekonomi politik Marx yang mengalami pergeseran dari motif kelas menjadi motif psikologi. Pendasaran segregasi kelas yang menjadi acuan marxisme dalam menelusuri motifmotif penguasaan, di tangan pemikirMazhab Frankfurt malah mengalami penurunan ketajaman dalam menganalisis keadaan objektif masyarakat. Apabila Marx melihat asalusul penindasan secara objektif ditemukan dalam pembagian kelas masyarakat, di mana penguasaan alat produksi oleh kaum borjuasi menjadi sumber penghisapan, melalui cara pandang Mazhab Frankfurt malah dikembalikan kepada unsurunsur subjektif berupa dorongandorongan intrinsik manusia. Akibatnya, kritik Marx yang semula ditujukan kepada analisaanalisa idealistik, justru di tangan Mazhab Frankfurt terjadi repetisi atas apa yang telah Marx kritik sebelumnya.

Kedua, dalam kajian Mazhab frankfurt, pendasaran marxisme terhadap kelas buruh tak lagi mendapatkan tekanan seperti yang diharapkan Marx. Telah diketahui sebelumnya, pendakuan Marx bahwa setiap kelas bertindak atas dasar kepentingannya, dan kepentingannya ditentukan oleh situasi objektifnya,  menjadi semacam pintu masuk untuk memahami pertentangan kelas yang terjadi di dalam masyarakat kapitalis. Melalui cara ini berdasarkan kepentingan objektif yang ditentukan oleh kedudukan kelas, menuntut suatu sikap mawas diri demi menjaga eksistensi masingmasing kelas. Karena sikap inilah terjadi pertentangan kelas yang menjadi inti dari gerak masyarakat. Sebab itulah seperti yang ditekankan di dalam Manisfesto Komunis perlunya kesadaran kelas untuk mempertahankan kepentingan kelas buruh yang banyak mengalami tekanan dari kelas di atasnya. Sikap konservatif kelas borjuis yang merupakan konsekuensi dari kedudukan objektifnya di masyarakat, mau tak mau harus berhadapan langsung dengan kelas pekerja yang memiliki semangat progresif dan revoulusioner akibat dari kepentingan kelas yang bertahan di antara keduanya.

Sementara itu, akibat pembacaan yang meluas, serta beragam teoritisi yang terlibat di dalamnya, Mazhab Frankfurt  sulit mendefenitifkan keberpihakannya kepada kelas pekerja seperti dalam pemikiran Marx. Perhatianya yang meluas terhadap musik, budaya, media massa, mode, dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya, mengakibatkan sulitnya mempertahankan pembacaan sekaligus kritik ekopol marxian yang menjadi cara pandang utama dalam tradisi marxis. Akibat lunturnya kepercayaan Mazhab Frankfurt kepada kelas pekerja, di saat yang bersamaan bergerak memasuki segmentasi kelaskelas yang lain semisal kaum radikal terdidik di kampuskampus sebagai agen perubahan.

Ketiga, penyematan label revisionisme yang diberikan pemikir marxis ortodoks, membuat Mazhab Frankurt sulit mendapatkan simpati dari gerakan kiri yang masih percaya terhadap metode pembacaan ekopol Marx. Walaupun dikatakan oleh para tokohnya bahwa usaha yang dikerjakan Mazhab Frankfurt merupakan bagian dari usaha krirtik yang pernah dilakukan Marx terhadap kapitalisme, tetap saja di luar pandangan mereka, mazhab Frankurt dinyatakan sebagai suatu aliran yang keluar dari tradisi pemikiran marxis.

Di sini, perlu dijelaskan sepintas mengenai tiga tradisi atau pendekatan seputar metode pembacaan terhadap Das Capital Marx yang sampai hari ini masih berlangsung, yang dikemukakan oleh Harry Cleaver. Pertama, tradisi ekonomi politik. Pendekatan tradisi ini mesti dipahami  pada konteks International II berlangsung (1889-1916).  Problemnya berkisar pada persoalan determinasi ekonomi dan teks acuannya, tentu saja, adalah Contribution to a Critique of Political Economy, di mana Marx berbicara tentang relasi ekonomi sebagai basis masyarakat yang darinya muncul bangunan suprastruktur yang bersifat legal politis.  Dalam konteks ini terjadi perdebatan antara Edduart Bernstein dengan Rosa Luxemburg tentang apakah krisis ekonomi yang akan menumbangkan kapitalisme itu niscaya atau tidak. Melalui bukunya Evolutionary Socialism, Bernstein mengajukan pendapat bahwa krisis itu tidak niscaya menghancurkan kapitalisme, krisis itu hanya akan memperlambat akumulasi kapital sementara kaum kapitalis akan dapat mengkonsolidasikan diri menghindari krisis ini. Maka itu bagi Bernstein perjuangan yang mesti dilancarkan melawan kaum kapitalis adalah perjuangan ekonomi seraya menggabungkan diri ke dalam parlemen.

Hasil pembacaan Bernstein atas Kapital ini segera dilawan oleh Rosa Luxemburg dalam Reformasi atau Revolusi (1900) dan Akumulasi Kapital (1913). Luxemburg menyatakan bahwa krisis kapitalisme tak terhindarkan justru, berkebalikan dengan Bernstein, karena akumulasi kapital akan memuncak dalam konflik antar negara. Berdasarkan pengertian ini, Luxemburg memberikan solusi yang berbeda, yakni persiapan revolusi dan penolakan atas sekedar reformasi. Keduanya mewakili posisi dasar pembacaan ekonomi politik atas Das Capital yang akan membayangi para penafsir selanjutnya. Penekanan Bernstein pada reformasi gradual melalui jalur intra-parlementer (dan karenanya lebih dekat dengan tendensi sosial-demokrat) akan diteruskan oleh Karl Kautsky, Rudolf Hilderling, Otto Bauer, Fritz Sternberg, sementara ketidakpercayaan Luxemburg pada perjuangan ekonomi-parlementer dan penekanannya pada revolusi atau jalur ekstra-parlementer akan diteruskan oleh Lenin, Anton Pannekoek dan Paul Mattick.

Sementara di luar konteks internasional kedua, terutama disekitar tahun 1940/50an, berkembang tipe pemikiran yang berusaha mensintesakan kritik ekopol Marx dengan teoriteori yang diajukan Keynes. Tradisi pemikiran ini berkembang di dunia Anglo-Amerika, yakni neo-marxis keynesian. Tokoh-tokohnya adalah Michael Kalecki, Joan Robinson, Paul Sweezy dan Paul Baran. Menurut tradisi ini, pendekatan ekopol Marx yang tertuang dalam Das Capital memiliki beberapa kekurangan terhadap situasi perkembangan kapitalisme. Sebab itulah, mereka berusaha mengkombain dengan memasukkan pembacaan Keynesian terhadap analisis ekopol marxis.  Model pembacaan yang demikian akhirnya menjauhkan tradisi ini dengan sendirinya dari kritik Marx yang bersandar pada suatu analisis yang hanya mencomot beberapa analisis Marx.  Dalam perkembangannya, tradisi inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan kiri baru (new left movement) Eropa di sekira tahun 6oan.

Yang kedua adalah tradisi filsafat. Cleavert membaginya menjadi dua, yakni tradisi yang dikembangkan oleh Louis Althusser bersama muridmuridnya (Balibar hingga Badiou) dan yang kedua adalah revisionisme yang menjadi bagian di dalamnya yakni, Marxisme Barat (Western Marxism): György Lukács, Antonio Gramsci, Karl Korsch—semuanya menekankan pengaruh Hegel dalam Marx, Marxis Neo-Kantian: Galvano, Delavolpe dan Lucio Colletti, Marxis-Hegelianisme: Alexandre Kojéve dan Jean Hyppolite, Marxis-eksistensialisme: JeanPaul Sartre, Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty. Marxisme fenomenologis: Tran Duc Thao dan Karel Kosik, Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin dan Jürgen Habermas.

Oleh Cleaver, pembagian kubu ortodoks dan revisionis ini dijelaskan melalui dua tendensi yang berbeda: sementara Althusser mencoba menghidupkan kembali doktrin diamat (dialectical materialism) melalui pembacaan atas Kapital, Mazhab Frankfurt dan tendensi Marxisme Barat justru mengutamakan peran kebudayaan dalam analisis Marxis. Diamat versus kulturalisme—pertentangan inilah yang menerangkan dasar perbedaan posisi antara Marxis ortodoks dan Marxis revisionis.

Tendensi kulturalisme yang banyak dikembangkan Mazhab Frankfurt disebutkan Cleavert akibat ketokohan Friedrich Polloch. Melalui bukunya Automation, Pollock memperlihatkan adanya kecenderungan akumulasi kapital oleh kapitalisme negara dan negara otoritarian yang menyebabkan perluasan penghisapan kapitalisme di seluruh sendisendi kehidupan masyarakat. Pendektannya yang memperlihatkan perluasan penghisapan kapitalisme dari pabrikpabrik menuju masyarakat yang lebih luas, mengakibatkan adanya indikasi suatu pembacaan masyarakat yang lebih luas dari hanya sekedar penjelasan ekopol marxis. Menurut Cleavert dari sinilah bermula adanya pembacaan kultural yang menjadi pembacaan dominan atas masyarakat di dalam tradisi pemikiran Mazhab Frankfurt.

Tradisi yang ketiga adalah pendekatan politis seperti yang ditokohkan Lenin. Tradisi ini berputar dalam problem perlunya pendekatan secara strategis dan taktis untuk mewadahi perjuangan kaum proletariat.  Seperti yang dituliskannya dalamWhat Is to be Done?, Lenin menganjurkan betapa pentingnya membangun partai payung dengan kemampuan disiplin yang tinggi untuk melakukan perjuangan. Partai garis depan ini, disebutkan Lenin adalah partai yang bertujuan merangkum seluruh gerakangerakan buruh di dunia. Hanya lewat cara inilah Lenin berkeyakinan revolusi dapat dimungkinkan.

Keempat, peralihan penekanan kritik yang diajukan Jurgen Habermas melalui rasionalitas komunikatifnya, memberikan efek yang berbeda dari intuisi marxisme yang semula bersifat radikal dan revolusioner. Pendekatan komunkatif yang diajukan Habermas sebagai jalan keluar persitengangan antara marxisme dan kapitalisme, malah menjadi suatu pendekatan yang mengabaikan unsurunsur di luar dari komunikasi itu sendiri. Pengandaian Habermas bahwa di dalam tindakan komunikasi dengan sendirinya akan menetralkan suatu posisi dan kepentingan, justru tidak bekerja seperti yang diharapkannya di dalam level praktik. Komunikasi yang disebutnya sebagai tindakan praktis, malah justru menguatkan posisi dari awal bagaimana kepentingan kelas borjuis bekerja untuk mendominasi kelas proletariat. Wacanawacana yang dikembangkan kelas borjuis melalui tindakan komunikasi justru kembali melanggengkan kepentingan melalui subordinasi pengetahuan yang dimilikinya.

Kelima, Cakupan dan rentang penelitian yang luas dari orang-orang yang terlibat dalam Mazhab Frankfurt dinilai sebagai perkembangan yang inkonsisten dengan rancangan awal proyek mereka, dan inkonsistensi ini dianggap sebagai kelemahan paling mendasar dari Teori Kritis. Para pendukung Cultural Studies menuduh bahwa terdapat indikasi kesukaan Mazhab Frankfurt pada “budaya tinggi”, walau gagasan Mazhab Frankfurt juga menjadi inspirasi dan dipraktekkan oleh para environmentalis dan teoretisi teknologi dan alam seperti SF Schumacher.

18 Februari 2015

madah duapuluhsembilan

Louis Althusser, filsuf marxis Perancis yang akhinya gila itu memiliki keyakinan, filsafat seharusnya menjadi tajam. Filsafat seharusnya memiliki sumbangsih. Filsafat harus menjadi senjata revolusi. Bukunya yang dituliskannya dengan judul "Filsafat Sebagai Senjata Revolusi", nampaknya teguh mengikuti bahasa Marx; filsafat tidak sekedar menafsir dunia, melainkan mengubahnya.

Saya agak sulit membayangkan, filsafat yang ditandai sebagi ilmu yang abstrak dapat jauh menyentuh halhal yang kongkrit, yakni suatu kehidupan praktis. Dalam hal ini malah mendorong suatu perubahan masyarakat; revolusi.

Tapi, di mata orangorang semacam Louis Althusser, atau yang teguh dengan marxisme, itu adalah hal yang mesti. Filsafat tidak seperti ungkapan Hegel yang berpretensi atas gerak ruh yang menyejarah dalam alam. Dalam marxisme, jusru sejarah adalah milik manusia kongkrit. Sejarah adalah milik orangorang yang ingin keluar dari tindihan beban kerja. Dalam sejarah sebenarnya adalah perubahan yang dicipta kaum pekerja. Dan di sanalah filsafat bekerja, di antara orangorang yang dihimpit beban kerja.

Sebab itulah filsafat diperuntukkan untuk kaum pekerja. Bukan untuk orangorang yang banyak memiliki waktu luang dan dengan enteng berpikir akan halhal yang jauh di atas batasbatas imajinasi. Filsafat demikian disebut Marx adalah pemikiran yang berjalan dengan halhal yang abstrak, filsafat yang berjalan dengan kepala. Filsafat yang untuk kaum pekerja harus diawali dari penyelidikan kongkrit. Dari hidup seharihari. Dari masalahmasalah praktis. Filsafat ini punya nama; materialisme historis.

Dengan demikianlah Louis Althusser menganjurkan sebuah cara berpikir yang historis. Yakni penyelidikan atas asalusul kehidupan yang dialami dan dijalani. Suatu cara materialisme untuk mengubah sejarah. Suatu filsafat emansipatif. Suatu filsafat revolusioner sebagai senjata perubahan.

Dalam arti itulah filsafat memiliki dengan sendirinya suatu tanggung jawab. Kata Alain Badiou suatu resiko. Resiko sebagai suatu konsekuensi atas sudut pandang. Dengan begitu filsafat menjadi konsekuen.

Filsafat yang konsekuen itu barangkali dapat kita temukan dalam kisah seorang Socrates, filsuf yang mati dengan menanggung resiko sudut pandang yang ia teguhi. Di sana, di suatu sudut penjara kota Athena ia membuktikan ucapannya; berfilsafat berarti bersiap menanggung mati dikemudian kelak.

Melalui cara pandang yang diperjuangkannya, akhirnya Socrates mati dengan cara yang teguh; keyakinannya ia pertahankan hingga racun cemara merenggutnya bersamaan dengan kematiannya.

Dan tak ada yang lebih puitis dari berbicara tentang kebenaran. Frase ini pernah diucap Gie. Anak muda yang resah sekaligus risau atas keadaan di sekitarnya. Kerisauannya kita tahu, ia tuliskan dalam catatan yang akan terkenal kelak; "Catatan Seorang Demonstran."

Melalui catatancatatanya kita akhirnya bisa tahu bahwa Gie adalah orang yang mudah risau. Sebab ia menanggung sebuah cara pandang yang konsekuen terhadap keyakinannya. Cara pandangnyalah yang sebenarnya membuatnya harus bersikap demikian teliti terhadap keadaan di sekitar. Dan dari sanalah ia menulis catatancatatannya. Dari keresahan.

Baik Socrates atau pula Gie, mungkin tidak seperti yang dikehendaki Althusser, bahwa konsekuensi dan keresahan dari suatu pandangan tidak berhenti pada suatu ruangan gelap penjara dan bukubuku catatan. Filsafat harus jauh menaksir yang tak pernah tersentuh oleh capaian perubahan manapun. Dalam marxisme, keyakinan demikian mereka sebut sebagai hukum dialektis.

Oleh cara demikianlah filsafat menjadi ilmu yang bekerja dalam sejarah. Mao menyebutkannya dengan cara berpikir dua tahap: pencerapan dan pengamatan. Dengan cara demikian, Mao menyepakati suatu keyakinan purba dalam ilmuilmu; teori dan praktik adalah dua hal yang tak bisa ditanggalkan salah satunya.

Sebab itulah fisafat yang disebut Althusser sebagai senjata revolusi yang ilmiah. Ini berarti seluruh asumsi filsafat harus diujicobakan dalam kehidupan praktis. Ini berarti filsafat juga mesti dipraksiskan. Dengan kata lain, filsafat sebagai senjata revolusi adalah jenis ilmu yang menjawab kebutuhan praktik seharihari. Ilmu yang menutupi kekurangan seharihari.

Tapi kata Alain Badiou filsafat hari ini sedang mati suri. Di kehidupan seharihari ia diserang sanasini oleh alam yang tak jemujemu menawarkan kebebasan, kesimpangsiuran, ketidaklogisan dan keacuhan terhadap komitmen. Filsafat menjadi ilmu yang tersisihkan dari kehidupan yang tak bertujuan. Filsafat kata Badiou harus dibangkitkan. Filsafat harus dibangunkan dari tidur panjangnya. Filsafat ia sebut sedang sakit bahkan sekarat. "Tapi saya yakin dunia," ungkapnya di suatu waktu, "sedang berkata pada filsafat: "bangkit dan berjalanlah!"

Hanya saja bagaimana ia harus dibangkitkan? Jika ingin disebut sebagai senjata revolusi? Jika Socrates, barangkali ia akan menuruni keramaian dan bertanya kepada banyak orang akan segala hal ikhwal, seperti saat ia berkeliling di Agora untuk berdiskusi dengan siapa saja. Atau seperti Gie yang memilih jalan memutar untuk menyimpannya dalam bentuk refleksi pemikiran; menulis catatancatatan. Atau seperti marxisme yang menganjurkan cara praksis revolusioner gerakan massa. Atau di luar dari semua itu, bahwa seperti keyakinan Heidegger; berjalanlah sebagaimana anak kecil untuk pertama kalinya melihat alam yang asing.

15 Januari 2015

Beragama dengan Tindak Filsafat

Filsafat di hadapan agama dalam sejarah adalah ilmu yang selalu mengandung perselisihan. Di dalam peradaban Barat maupun Timur, filsafat  selalu disisihkan dari khalayak umum. Dijatuhmatikannya orang-orang semisal Socrates, Galileo, dan juga Bruno dalam sejarah sosial politik Barat, dan pembunuhan terhadap Suhrawardi, kecaman Al Gazali, dan Ibn Taimiyah terhadap filsafat di sejarah pemikiran Islam, adalah ilustrasi bagaimana agama menjadi hakim atas tindak berpikir filosofis yang dianggap membahayakan keberlangsungan tatanan masyarakat. Filsafat sebagai tindak berpikir kritis dan radikal dianggap dapat mempengaruhi atau merusak tatanan iman yang merupakan inti dari keyakinan agama.

Jika meminjam analisis Alain Badiou,  ada empat faktor yang dimiliki filsafat sehingga dapat membahayakan agama. Yang pertama adalah apa  yang ia istilahkan revolt. Dalam kasus Soscrates, revolt adalah diskursus pengetahuan yang merupakan cara berpikir baru atas penolakan terhadap keyakinan-keyakinan lama.  Dalam arti ini, filsafat selalu ditandai dengan penolakan logis terhadap dunia yang dihadapi. Dengan demikian filsafat bermaksud untuk menguak tabir terselubung yang menjadi cangkang dari kesadaran lama. Dalam arti inilah krtisisme filsafat dimaksud.

Kedua dalam filsafat selalu mengandaikan sistem yang logis. Apa yang dikandung dalam filsafat adalah sistem logika yang berbeda dari zaman yang dihadapinya. Filsafat harus menjadi sistem pemikiran yang menyandarkan asusmsi-asumsinya pada kronologi pikiran yang logis. Dengan pikiran yang logis maka asumsi-asumsi yang dibangun dalam filsafat menjadi penalaran yang argumentatif dan gamblang.

Dengan cara sebelumnyalah maka filsafat dengan sendirinya menjadi sistem yang universal. Hal ini dimungkinkan oleh elementasi filsafat yang hendak menduduk perkarakan sistem keyakinan yang tidak logis berdasarkan prinsip-prinsip penalaran akal sehat. Tetapi hal ini dalam perekembangannya tidaklah mudah, sebab filsafat selalu mengandung resiko. Sebagai elementasi yang keempat, resiko adalah derivasi dari filsafat atas keputusan cara pandang baru yang dianutnya.

Atas keempat elemen inilah, seperti yang ditunjukan Alain Badiou, filsafat adalah ilmu yang melatarbelakangi terjadinya reposisi pemikiran yang telah mapan. Hal ini disebabkan karena filsafat selalu mengandaikan tindak berpikir logis dan kritis terhadap seluruh pernyataan-pernyataan yang ada dalam iman agama. Filsafat seperti yang telah ditunjukkan dalam sejarah merupakan modus berpikir yang paralel dengan rasa keingintahuan manusia sebagai mahluk pencari kepastian. Pada sudut pandang ini filsafat adalah human conditio yang menjadi esensi kemanusiaan.

Dalam kaitannya dengan agama, filsafat bukan saja tindak berpikir yang secara eksplisit kontradiksi dengan agama, tetapi dengan cara kerja yang kritis dan radikal sebaliknya justru akan menjadi penopang bagi bangunan pengetahuan manusia. Di dalam kandungan kontradiktatori inilah sebenarnya filsafat dapat menjadi elementasi yang bersinergi dalam membangun keimanan yang kokoh, pun juga dalam agama.

Tetapi mungkinkah hal itu terjadi? Di mana dalam tindak berpikirnya, filsafat disituasikan untuk tidak mudah menerima sebuah pernyataan yang sungguh berbeda dengan agama. Dalam agama, pernyataan yang berkaitan dengan pandangan yang prinsipil selalu ditundukkan dalam iman yang diterima begitu saja. Sementara filsafat, sejauh dari sejarahnya adalah produk khas pikiran manusia yang senantiasa mencari kejernihan kebenaran daripada terhempas di belantara rimba raya yang tanpa dasar.

Untuk menyeleraskan eksposisi di atas, saya ingin menjadikan bagaimana plato mengandaikan filsafat sebagai “usaha mencari kejelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus menerus” untuk dijadikan titik tolak dalam rangka dimungkinkannya filsafat dan agama mampu bersinergi. Setidaknya dari acuan yang diungkapkan Plato, filsafat menjadi subjek introgator atas kemapanan baku dan beku keyakinan-keyakinan yang dikandung dalam kehidupan agama, sosial budaya, ekonomi dan politik.

Lantas bagaimanakah filsafat yang diandaikan Plato dapat dioperasionalkan di dalam membangun sinergisitas kehidupan, dalam hal ini agama, agar tidak menjadi apa yang ia sebut doxa. Apabila mengacu dari konsep epistemologi Plato, doxa merupakan pengetahuan yang tidak memiliki acuan dari asas-asas kebenaran yang diderivasikan menurut prinsip-prinsip logis penalaran. Doxa seperti yang diistilahkannya adalah pengetahuan semu berupa bayang-bayang dari pantulan kebenaran yang bernilai delusif.

Pertama, sebagai acuannya adalah bagaimana menempatkan “usaha mencari” sebagai modus awal dari usaha sinkronik terhadap agama. Kegiatan ini di dalam tradisi filsafat, diaksentualisasikan kedalam bentuk-bentuk pertanyaan sebagai jalan memutar untuk merehabilitasi sudut pandang keyakinan. Usaha ini ditandai dengan sikap terbuka  dan skeptik atas pernyataan-pernyataan yang belum terbukti kebenarannya. Oleh filsuf-filsuf, dari model semacam inilah mereka membangun pemikiran filosofisnya.

Sementara itu, tindak lanjut dari kegiatan “usaha mencari” setidaknya membutuhkan “kecermatan yang gigih” untuk menemukan presisi dalam menetapkan penemuan-penemuan yang dialami. Etika  sikap ini memerlukan perhatian dari purnaragamnya alternatif kemungkinan sehingga membutuhkan kecermatan terhadap koherensi antara pernyataan di dalam sistem pemikiran rasional. Sejarah pemikiran filsafat menandai kondisi ini dengan silih bergantinya sudut ragam pemikiran yang berkembang hingga akhir ini.

Usaha ini akhirnya menjadi kaidah metodis dalam “usaha  yang terus menerus” disebabkan oleh sifat kebenaran yang dipahami menjadi kepastian yang dialektis. Ini berarti berfilsafat secara inheren mengacu kepada sikap rendah hati untuk mendialogkan keyakinan yang dimiliki dengan model-model keyakinan yang lain. Mengacu dari prinsip ini kebenaran dalam agama akhirnya dikeluarkan dari sifatnya yang dogmatis menjadi dialogis.

Berdasarkan usaha di atas, maka filsafat sebagai ilmu yang kritis menjadi seni penghayatan terhadap keimanan agama yang memerlukan pemugaran. Berdasarkan beberapa pemahaman, asumsi ini berangkat dari  konsep agama sebagai seperangkat keyakinan yang dipegang teguhkan tanpa mengetahui asal usul dasar epistemnya. Sesungguhnya keyakinan yang demikian sebaliknya menjadi iman yang bercirikan nomad (gerombolan), yang diaktuskan pada kehidupan keagamaan yang fundamentalistik.


28 Juli 2013

Alain Badiou dan Hasrat Kebenaran


Lahir di Maroko pada 17 januari 1937. Pada kisaran tahun 60an mengeluarkan novel dengan judul Almagestes (1964) dan Portulans (1967). Badiou dikenal sebagai seorang filsuf Marxian. Banyak dari artikel yang diterbitkannya kental dengan kerangka Althuserian. Badiou, seperti filsuffilsuf yang terlibat aksi demontrasi di tahun 1968, sempat dilarang untuk memperkenalkan pikiranpikirannya untuk kalangan mahasiswa Prancis karena dianggap berbahaya bagi umum.

Pada tahun 1988, dunia internasional mulai mengenal namanya ketika ia menerbitkan tulisan utuhnya dengan judul L’etre et l’evenement ( Ada dan Peristiwa). Di tahun 1989 bersama Derrida dan Lyotard mendirikan College Internationale de Philosophie. Menjadi professor emeritus pada tahun 1999 di ENS dan mendirikan pusat pengkajian internasional tentang filsafat Prancis kontemporer.

Filsafat di mata Badiou perlu untuk disembuhkan. Filsafat harus melampaui dirinya dan bahasa, sehingga perlu kembali direposisi ke dalam tempatnya semula. Yang mana filsafat harus dikeluarkan dari kemorosotannya sampai harus menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Di mana Badiou ingin mengembalikan filsafat, kebenaran, dan subyek sebagai usaha untuk memahami kenyataan dengan cara yang kritis, sistematis dan radikal.

Bagi Badiou hal yang paling esensial untuk dihidupkan kembali dalam batang tubuh filsafat adalah hasratnya untuk kebenaran. Dalam hasrat kebenaran, filsafat memiliki 4 elementasi; yang pertama adalah revolt (pemberontakan), logis (logika), universalitas dan resiko.

Keempat elementasi ini yang terkandung dalam hasrat kebenaran fisafat harus mampu mengambil tempat pada dunia yang menyingkirkan filsafat sampai pada wilayah pinggiran. Katanya pada suatu tulisannya, dunia saat ini sudah seharusnya membutuhkan filsafat untuk menyelesaikan masalahmasalah yang terkandung disekitaran manusia.

Dalam pembacaannya, semenjak kemunculannya, filsafat adalah ikhtiar yang datang dalam merespon keyakinankeyakinan terdahulu, dimana filsafat adalah bentuk pemberontakan (revolt) di tengahtengah masyarakat untuk mencapai kebenaran murni dengan urutan argumentasi yang logis (logika). Dalam mengatasi keterbelakangan pemikiran yang terdahulu, filsafat menggunakan susunan logika baru untuk mengatasi ketidakadilan yang dimunculkan oleh keyakinankeyakinan sebelumnya.

Dengan cara seperti itu, dengan susunan logis untuk mengatasi keadaan, filsafat akan menyentuh wilayah universal yang berputar pada pengalamanpengalaman konkrit manusia. Dimana disituasi demikian, komitmen menjadi aras yang membawa filsafat pada pengambilanpengambilan keputusan yang keluar dari pengandaianpengandaian umum. Dengan modelnya seperti itu maka dalam filsafat juga disertai resiko yang mengikutinya.

Untuk memulai proyek filsafatnya, Badiou bertolak dari pemikiran Permanides tentang soal ketunggalan dan kejamakan. Bagi Permanides Ada selalu menegasi ketiadaan, sehingga mustahil Ada dan ketiadaan dimungkinkan dalam perwujudannya. Dalam pengandaian ini, asumsi ontologis  Permanides yang merentang dalam diktum rasionalisme dan empirisme disanksikan dengan teori logika himpunan yang dipreferensikan Badiou. Dengan ilustrasi teori himpunan, Badiou berusaha keluar dari genangan cacat yang di yakininya sebagai bentuk pemikiran pseudonetral yang menggejala pada kasus ontologi, dengan membilangkan bahwa Ada dan tiada adalah dimungkinkan dengan keadaan yang berhubungan. Dengan begitu dalam menjawab Ada dan Banyak bisa ditenggarai.

Badiou juga dikenal sebagai pemikir yang serius membincang ontology politik. Baginya situasi politik yang ditawarkan oleh demokrasi liberal saat ini tidak memungkinkan lagi untuk diikuti. Oleh sebab subjek masih dalam situasi yang terpinggirkan. Pemikiran ini berawal dari pemikirannya yang masih percaya terhadap komunisme sebagai antitesa yang mempunyai ideide dasar tentang subjek yang revolusioner.

Mengenai itu, dalam tesisnya tentang hypothesis komunisme, Badiou menawarkan proyek pemikirannya yang bertolak pada “situasi yang tak terlabeli”.  Dalam memperkenalkan pemikirannya, Badiou memberikan eksposisinya dengan mempertanyakan bagaimana manusia harus berada dan pada situasi bagaimanakah manusia berpolitik?

Dari sejenis eksposisi seperti itu, Pemikir Maoist ini memperkenalkan konsep event yang berbeda dengan kejadian politik yang ada dalam situasi poltik demokrasi liberal. Negara dengan konsep kekuasaannya tengah runtuh karena berada pada susunan yang terepresentasi oleh kekuasaan itu sendiri. Baginya subjek, yakni elemen yang mengatasi keberadaannya dari situasi yang melingkupinya harus menggunakan fungsi kesetaaraan dalam rangka mengenal event. Event dalam kacamata Badiou adalah Event, menurut Badiou, adalah momen politik, sebuah momen pemutus yang hanya bisa diraih oleh aktivitas politik – yang membedakannya dengan aktivitas politisi. Event adalah “yang mungkin”, yang keberadaannya telah terpresentasikan. Ia merujuk pada situasi yang luar biasa, yang tak dapat dikalkulasi, dan yang mengubah keadaan secara keseluruhan. Manusia yang mengarahkan perhatian pada Event disebut subjek militan.

Tentang subjek militan, diterangkan disana bahwa event adalah pusat perhatian yang harus dibentuk oleh subjek. Dimana event mengandaikan situasi yang keluar dari logika simbolik yang dibentuk oleh Negara. Oleh karena Negara adalah keberadaan yang dibenci sekaligus dibutuhkan. Maka dari itu, demokrasi sejatinya adalah pemusatan kekuatan subjek militan yang bergerak melintasi pemikiran yang beregerak pada logika demokrasi yang cacat.

Dengan begitu subjek militan haruslah mampu mengatasi situasi yang tercipta dari kekuasaan Negara. Bagi Badiou situasi militant hanya bisa tercipta oleh subjek militant dengan mencipta kebaruan yang mengatasi kebenaran yang selalu nampak pada permukaan kekuasaan Negara. Oleh sebab, politik demokrasi liberal selalu menunda datangnya kebaruan. Maka dari itu, kebaruan adalah momen politik yang harus dihadirkan oleh subjek militan itu sendiri.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...