Archive for Februari 2019

Bulan Turun: Sastra Perang ala John Steinbeck

28 Februari 2019 Comments Off


Judul: Bulan Turun
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Basabasi
Edisi: Pertama,  November 2018
Tebal: 204 halaman
ISBN: 9786025783548


BANYAK contoh antara sastra dan kemerdekaan begitu lekat. Di tanah air, sosok Pramoedya Ananta Toer merupakan tonggak kepenulisan yang mendudukkan karangannya sebagai medium kemerdekaan. Bahkan hampir semua cerita yang ditulisnya adalah usaha terus-menerus demi meraih kemerdekaan yang direnggut negara dari dirinya.


Di negara tetangga, Filipina, kita mengenal José Rizal yang menerbitkan novel provokatif berjudul Noli Me Tangere. Novel ini lahir setelah José Rizal berkeliling Eropa Utara dan diterbitkan di Berlin. Novel ini berisikan kritikan kepada penjajahan Spanyol di Filipina. Berkat novelnya ini pula menyebabkan dirinya mati. Dalam suatu tulisan, Benedict Anderson menyebutkan kematiannya sebagai mati syahid. Mati demi mencari kemerdekaan.

Sastra terlepas dari bagaimana ia dituliskan akan selalu menjadi corong suara kemanusiaan. Merdeka tidak merdeka, dijajah tidak dijajah, sastra di mana pun akan berkembang seiring semangat kebebasan manusia.

Novel berjudul Bulan Turun yang ditulis John Steinbeck ini salah satu contoh lainnya. Ia ditulis kurang lebih sama dengan semangat dua contoh di atas. Bedanya, novel ini ditulis dalam masa Perang Dunia II. Masa ketika Hitler “kesetanan” ingin menduduki Eropa melalui ideologi fasismenya.

Dari sudut pandang ini wajar jika karangan Steinbeck ini beraroma anti Nazi –pandangan yang mewakili kubu demokrasi pada PD II. Bahkan, seperti dijelaskan Donald v. Coers dalam halaman-halaman depan buku ini, Steinbeck sudah sebelumnya berdiskusi dengan Donovan –kepala organisasi cikal bakal CIA di Amerika—untuk menuliskan suatu karya bernada propaganda demi mengangkat moral sekutu dari pendudukan Jerman di Eropa.

Syahdan, terlepas dari kontestasi politik PD II, dan kepentingan ideologis ke-Amerika-an dalam Bulan Turun, Steinbeck –seperti sastrawan ulung lainnya—lebih mengedepankan nilai-nilai kebebasan anti penindasan sebagai moral utama yang dikandung dalam karangannya ini.

Kota tenang menjelma teror

Bulan Turun bercerita tentang sebatalion pasukan tentarayang menyerbu suatu kota kecil penghasil batu bara di suatu pagi yang lenggang. Kedatangan pasukan penyerbu ini datang begitu cepat sambil menembaki pasukan kota beranggotakan pemuda-pemuda tanggung. Berkat caranya itu, pasukan penyerbu ini dengan mudah dapat menduduki kota, dan tanpa ba bi bu segera membentuk pemerintahan a la militer pasca mendatangi rumah walikota bernama Orden.

Kedatangan pasukan penyerbu ini terkait sumber daya alam yang dimiliki kota ini. Karena perang masih panjang, kedatangan mereka ingin merebut  tambang-tambang batu bara untuk dijadikan sumber energi tambahan bagi negara induk mereka.

Batalion yang diketahui dipimpin Kolonel Lanser itu digambarkan sebagai tentara yang ramah tapi juga sekaligus intimidatif. Sikap yang pertama ini sungguh menjengkelkan, terutama ketika dalam keadaan pendudukan dan dalam masa perang. Sikap demikian ibarat topeng yang memberi kesan kebaikan tapi membuat orang justru khawatir tentang gerangan apa wajah yang bersembunyi di belakangnya.

Keramahan tentara-tentara ini mengingatkan kepada tesis Hannah Arendt seorang filsuf perempuan, berkaitan dengan banalitas kekerasan. Tesis ini dikatakannya bahwa kejahatan yang sering kali kejam akan dianggap biasa lantaran dinilai sebagai panggilan suci demi mengemban suatu amanah. Hal ini karena kejahatan yang bersangkutan lahir dan dilegitimasi oleh tatanan isme-isme berupa misalnya nasionalisme negara. 

Kota pimpinan walikota Orden ini adalah kota dengan sejarah yang tak pernah sekalipun dijajah.  Karena itu, serangan secara mendadak  membuat warga kota ini menjadi lemah dan tak sigap. Tiadanya sejarah perlawanan adalah sebab utama kenapa kota ini begitu mudah ditaklukkan. Mereka hanya pasrah dan menyerahkan seluruh urusannya kepada pucuk pimpinan, siapa lagi kalau bukan Walikota Orden.

Walikota Orden tidak sendiri. Diceritakan ia memiliki rekan sejawat bernama Winter. Winter adalah seorang dokter kota. Berbeda dari Walikota Orden yang berkeperawakan gemuk dan berkumis, Dokter Winter lebih menyerupai Sherlock Holmes, berbadan tinggi sedikit kurus dengan pandangan mawas ketika berbicara. Ia dokter yang cemerlang dan seringkali memiliki pandangan-pandangan yang dibutuhkan sang walikota.

Lantaran warga kota mengalami demoralisasi setelah pendudukan, kepada dua figur inilah nasib kota dipertaruhkan. Walaupun mereka berdua mengalami ketakutan yang sangat, tapi tetap saja sebagai pejabat publik mereka memiliki amanah yang lumayan berat untuk dilakukan saat-saat ini: mempertahankan kota dari pendudukan.


Kepiawaian Steinbeck dalam hal ini, dengan cemerlang menghidupkan tokoh-tokohnya melalui dialog sebagai cermin psikologis terutama ketika menghadapi suasana teror. Sebagai misal Walikota Orden yang secara pribadi merasakan ketakutan, namun dengan elegan mampu memperlihatkan keberanian kepada  Kolonel Lanser di saat terjadi negoisasi pembentukan pemerintahan boneka. Sebagai pemerintah, ia enggan melakukan kerja sama mengingat kepercayaan publik kepada dirinya.

“Pak, saya bagian dari masyarakat ini…ada masyarakat yang menerima pemimpin yang ditunjuk, dan mematuhinya. Tetapi rakyat saya telah memilih saya. Mereka menjadikan saya dan bisa memberhentikan saya. Mungkin itu yang akan mereka lakukan bila mereka pikir saya telah berpihak kepada Anda.” (hal. 52)

Keberanian Walikota Orden sangat penting karena ia adalah tembok terakhir kotanya. Di titik ini, Steinbeck mengisyaratkan bagaimana karakter seorang pemimpin menjadi faktor fundamen yang bisa memengaruhi psikologi bawahannya. Ia adalah sumber atas berani tidaknya warga ketika menghadapi situasi genting dan runyam.

Mengingat kota yang dipimpinnya sama sekali tidak memiliki riwayat pendudukan dan otomatis tidak ada sejarah perlawanan warga terhadap penjajah, Walikota Orden betul-betul menyadari bahwa dirinya-lah yang menjadi faktor yang dapat membangkitkan perlawanan warganya.

Di sisi ini, sejarah mesti memberikan ruang besar bagi kekuatan individu. Dengan kata lain, bagi keadaan seperti kota ini, warga tidak bisa mengharapkan spirit kebangkitan dari referensi sejarah perlawanan yang memang belum mereka punyai. Mereka sadar bukan warga yang tinggal di kota yang penuh cerita-cerita kepahlawanan, yang bisa menjadi narasi bersama untuk memupuk keberanian.

Itulah sebabnya perlu memulai dan menciptakan sejarah perlawanannya sendiri. Ini penting untuk masa depan agar tidak terjadi kali keduanya. Dan, mereka memulainya dari diri sendiri, menjadi pahlawan itu sendiri, tanpa bersandar kepada kekuatan sejarah yang tidak sama sekali memberi faedah.

Selanjutnya, seperti pada peristiwa pendudukan lainnya, kota menjadi ladang teror. Perasaan mereka seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Terutama bagi pasukan penyerbu yang kian lama tinggal mulai merasa galau. Pendudukan yang entah sampai kapan membuat mereka menjadi rindu kampung halaman, makanan rumah,  dan pacar-pacar mereka di negeri seberang. Moral mereka ciut.

Sebaliknya, bagi warga kota semakin lama mereka mengumpulkan keberanian yang dikoordinir Walikota Orden dan Dokter Winter.  Di bawah kepemimpinan mereka berdua, diam-diam warga kota menyusun serangan balasan. Dengan kata lain mereka tengah menciptakan sejarah perlawanan bagi kota mereka sendiri.

Menuai kritik

Ciri kepenulisan Steinbeck yang sering mengusung kaum proletar tidak kelihatan dalam Bulan Turun. Alasan ini salah satu kritikan terhadap karangannya ini. Apalagi banyak yang meragukan unsur kesastraannya lantaran Bulan Turun dinilai tidak lebih dari tulisan propaganda.

Walaupun tidak dituliskan di kota mana ia menaruh konteks ceritanya, sudah jelas setiap latar belakang yang Steinbeck suguhkan dalam ceritanya adalah versi halus yang memperhadapkan Amerika vis a vis Jerman saat itu.

Terkait dirinya pernah bekerja dalam Office of Strategic Service (OSS) yang jadi cikal bakal organisasi mata-mata Central Intelligence Agency (CIA), dan dalam suasana PD II semakin memperkuat dugaan itu.

Terlepas dari kritikan yang diberikan kepada buku ini, novel ini tidak salah untuk dikatakan sebagai bacaan yang mampu menerbitkan nasionalisme kebangsaan. Logika buku ini yang menaruh simpati kepada warga kota yang diduduki sebatalion tentara, dapat ditarik ke alam kenyataan seperti dialami bangsa-bangsa (atau kawasan-kawasan) yang sampai saat ini mengalami penjajahan.

Secara psikologis, moralitas pembaca akan mudah berempati kepada seperti yang dialami warga kota ini. Bahkan, perubahan sikap warga kota yang mendapatkan keberaniannya dari Walikot Orden untuk melakukan perlawanan adalah ajakan yang sangat terang bahwa di mana pun penjajahan mau tidak mau mesti dilawan. 

Terbukti hal demikian terjadi di Eropa Barat: Norwegia, Denmark, Belanda dan Prancis, Bulan Turun diterbitkan dan dibaca secara sembunyi-sembunyi. Ia dijilid seadanya beredar dari satu pos ke pos pihak sekutu, bersembunyi dari intaian pasukan Nazi. Menjadi bacaan perlawanan dan menerbitkan asa kemerdekaan. 


Telah tayang di Nyimpang.com

Komunisme dan Lelucon

24 Februari 2019 Comments Off


"Forward! To the West!" Viktor Ivanov, 1942.

Puki mai e. Di sela-sela melihat Banu tertidur, video ini menjelaskan banyak hal. (click video di sini)

Pertama, kekuasaan sering kali jadi soal karena disulut hasrat menguasai perempuan. Perang Troya antara bangsa Yunani dan bangsa Sparta salah satu contohnya. Helena, perempuan di tengah-tengah perang akbar itu, menjadi pemicunya.

Di video ini, disebutkan Raisa adalah kunci. Jangan-jangan semua hasrat kekuasaan di balik gelagat baik politik hanyalah tameng untuk menyembunyikan keinginan yang sama demi menguasai perempuan.

Kedua, olok-olok adalah cara lain untuk mempermainkan kebenaran. Miguel Cervantes si pencipta Don Quixote adalah contoh yang baik dalam hal ini.

Di novel itu Don Quixote memperagakan keberanian yang datang dari khayalannya. Ia berkhayal sebagai seorang ksatria abad pertengahan yang hidup di Spanyol modern. Ia lantaran didorong khayalannya menjadi hero di tengah-tengah zaman yang sudah tidak mengenal lagi konsep itu.

Kehadiran Don Quixote yang jenaka dan berkhayal persis menjadi kisah anakronisme di situasi seperti sekarang. Melalui video ini, hero bukanlah siapa-siapa. Dan toh jika ia ada, yang ia perjuangkan hanyalah seorang perempuan belaka.

Dengan kata lain, ia mesti ditertawakan. Tanpa harus malu-malu.

Ketiga, video ini tanpa takut memperlihatkan simbol-simbol yang selama ini dilarang negara. Tapi dengan cara mengubahnya menjadi lelucon, ini cara satir bagi siapa saja yang masih terkooptasi negara dalam melihat sejarah masa lalu.

Sejarah, seserius apa pun ia dibentuk, akan dengan mudah berganti sudut pandang dan optiknya jika ditempuh cara-cara seperti ini. Ingat, Gus Dur adalah figur yang menggunakan lelucon sama seriusnya ketika membabar fakta-fakta sejarah.

Keempat, dengan gaya lelucon, video ini mengetengahkan insight yang segar tentang bagaimana kita berhadapan dengan kebenaran sejarah. Yakni, dengan dibiarkannya tertawa melalui olok-olok adalah suatu kesedian yang mahal harganya untuk mengakui kerendahhatian.

Saya masih ingat di masa-masa mahasiswa, ada anjuran agar tidak terlalu serius memberlakukan kebenaran. Cara yang paling asyik ketika menemukan kebenaran adalah menertawakannya. Mungkin, itulah maksudnya, menertawakan kebenaran yang ditemukan diri sendiri juga berarti cara lain untuk mengakui betapa rendahnya diri kita sehingga pantas ditertawakan.


Memang, sekarang tertawa mahal harganya. Ia kualitas manusia yang ringsek dimakan ambisi politik belakangan ini.

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: Kemelut Manusia Modern dalam cerita Obrolan Sederhana

23 Februari 2019 Comments Off


Judul: Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Insist Press
Edisi: Maret 2009
Tebal: xii + 160 halaman
ISBN: 978-602-8384-20-9

ADA tiga hal ditemui dari Obrolan Sederhana dalam kumcer Puthut EA, Seekor Bebek Yang Mati di Pinggir Kali. Pertama, esensi manusia sebagai makhluk sosial. Kedua, sebagai makhluk sosial, selalu ada dorongan untuk berinteraksi walau dua orang itu tidak diperantai keakraban

Dan yang ketiga,  obrolan remeh temeh dari dua orang yang tidak saling kenal, dan hanya dipertemukan lantaran tidak sengaja, bisa menjadi pintu masuk kepada sebuah problem yang lebih pelik: permenungan atas centang-perenang kehidupan manusia.

Obrolan Sederhana dimulai dari tokoh Aku yang tak sengaja dipertemukan dengan seseorang akibat hujan. Di cerita itu, si Aku secara kebetulan lewat di depan vila seseorang yang tak dikenal pasca membeli rokok. Tak dinyana ketika si Aku lewat, seseorang di balik pagar mengajaknya masuk berteduh dari lebatnya hujan.

Di beranda rumah tetangga yang mengajaknya masuk itulah berlangsung hampir keseluruhan cerita yang ditulis Puthut. Sampai di sini melalui dialog pembuka yang dipakai, pembaca bisa langsung menangkap suasana ketika mengalami hal yang sama: hujan lebat datang, tanpa payung, dan tibatiba harus berteduh di beranda rumah yang tak kita kenal.

Peristiwa semacam itu sering kali dialami siapapun. Tapi sangat jarang di saat demikian seseorang bisa terlibat pembicaraan yang akrab sekaligus mendalam. Apalagi dalam konteks masyarakat perkotaan yang dikenal sebagai pribadi yang individualis. Namun di Obrolan Sederhana, Puthut justru memperlihatkan karakter tak didugaduga yang dimiliki manusia perkotaan: sikap toleran.

Karakter yang tak disangka ini bukan berarti tak dipunyai oleh masyarakat perkotaan umumnya, namun membayangkan itu sebagai sesuatu yang diharapkan agaknya terkesan berlebihan mengingat cara hidup perkotaan yang sering kali acuh antar sesama.

Hal itulah yang menurut saya ingin ditolak Puthut, dan sekaligus ingin memperlihatkan betapa sering abainya manusia perkotaan, perhatian antara sesama justru bisa datang dari obrolan sederhana di beranda suatu vila di atas bukit. Dan kejadian itu malah terjadi di saat yang tak terdugaduga. Saat hujan lebat.

Sebagaimana kaum lelaki perkotaan, rokok menjadi kunci penghubung dua orang yang semula tak saling kenal. Puthut menggambarkan hal itu sebagai jembatan untuk membuka obrolan di mana pembicaraan selanjutnya sedikitbanyak menyentuh tema-tema yang realatif berat. Melalui rokok, simbol yang kuat penekanan maskulinnya menjadi cara Puthut mendialogkan dua tokoh ceritanya sembari menyeruput kopi yang mengencerkan suasana.

Dari perkenalan masing-masing tokoh, awalnya cerita disuguhkan dengan perbincangan ala kadarnya seperti perbincangan orang biasa, namun setelah perkenalan basa-basi dengan saling memberikan nama palsu, obrolan dua orang asing ini akhirnya menukik ke persoalan pribadi masing-masing.

Yang unik dari obrolan ini sekaligus dalam ceritanya,  adalah keengganan tokohnya  memberikan identitas asli walaupun dimulai dengan sebuah perkenalan. Saya menduga Puthut sengaja memberlakukan ceritanya dengan cara demikian karena ingin menekankan isi obrolan dari dua tokohnya.

Sebab itulah barangkali cerita ini diberi judul obrolan sederhana. Tapi justru pelan-pelan melalui obrolan tokohnya, nantinya pembaca akan dibawa memasuki problem-problem yang dirasakan tokoh-tokohnya.

Sampai di sini cerita akan terasa memasuki satu level pembicaraan yang terbilang serius. Apalagi di saat tokohnya sudah melibatkan arak yang menggantikan kopi sebagai suguhan perbincangan.

Kalau dipilah, ada tiga tema yang secara tidak sadar mengalir begitu saja di antara obrolan dua tokoh ini. Pertama, soal asmara yang dihadapi oleh tokoh kedua sebagai penyedia tumpangan vila. Kedua, adalah soal kebahagiaan dan ketidakbahagiaan yang dirasakan oleh masingmasing tokoh, terutama tokoh kedua. Dan yang ketiga adalah soal hidup yang dirundung pekerjaan yang tak bermakna apa-apa selain ketidakjujuran.

Tiga hal ini bagi orang kebanyakan, tema perbincangan yang sulit diungkapkan kepada orang yang baru pertama kali bertemu. Kita akan sulit menemukan teman bicara di terminal, misalnya, yang mau bersedia mendengarkan keluh kesah yang dirasakan sembari saat menunggu bus. Toh kalau pun ada, paling tidak pembicaraan hanya pembicaraan yang artifisial.

Tapi, kesan itu malah berbeda dari sikap kedua tokoh ini, terutama tokoh pemilik vila yang disinggahi. Obrolannya menjadi lebih sensistif ketika dia mengajukan pernyataan yang tak lazim dikemukakan kepada orang yang belum dekat. “Aku sedang bimbang, dan aku ingin menyepi.” Sontak penyataannya membuat kaget lawan bicaranya. Tanpa dibalas dia langsung bilang “setahun yang lalu, aku menginap seminggu di vila ini sebelum memutuskan untuk keluar dari pekerjaanku. Keputusan yang berat saat itu. Dan kini aku berharap, dalam beberapa hari ini, bisa memutuskan, apakah aku akan segera melamar kekasihku atau tidak.”

Bagian dialog inilah perbincangan antara pelaku cerita memasuki tahap perbincangan yang lebih serius. Begitu juga jawaban yang diberikan oleh tokoh kedua ketika menjawab beberapa dialog lanjutan yang bernada pernyataan tentang keharusan meneruskan hubungan yang dijalani tokoh pertama dengan kekasihnya. “Pasangan yang terlalu membuatmu banyak berpikir, apalagi sampai mengasingkan diri, kurasa bukan pasangan yang tepat.” Jawab singkat tokoh kedua.

Kemelut manusia modern

Kita ini mengalami zaman edan
di dalamnya setiap orang kebingungan
orang tak bisa ikut-ikutan ngedan
namun kalau tidak ikut ngedan
orang tidak akan dapat bagian
dan malah akibatnya orang akan mati kelaparan
Ya, Allah; salah adalah salah
berbahagialah mereka yang lupa
tapi lebih berbahagia lagi

mereka yang ingat dan memiliki tilikan yang mendalam1

Abad 21 adalah tonggak modernitas: kecepatan, efektifitas, rasionalitas, birokratisasi, universalisme, logosentrisme, dan kapitalisme; yang mendewasakan manusia dari masa kekanak-kanakannya menjadi titik tolak segala ukuran; estetik, hukum, logis, dan yang kudus. Tidak ada di luar manusia selain ke-aku-annya sebagai fundamen segala sesuatu. Ini adalah salah satu ciri yang disebut Edward Shils, seorang sosiolog A.S sebagai “kehendak-untuk-menjadi-modern.”

Tapi, tidak ada yang tanpa risiko. Justru di belakang panggung pencapaiannya, modernitas banyak memakan korban. Dan korban utamanya sudah tentu adalah manusianya.

Manusia terpapar keterasingan di ceruk-ceruk gedung pencakar langit, di ruang antara keramaian penduduk, di sela-sela etalase gemerlap toko-toko, di hilir mudik kendaraan kekinian sampai nyala-padam lampu-lampu pusat hiburan. Di satu titik semesta itu, jiwa manusia koyak dan jatuh di lubang sumur tanpa dasar.

Kesepian adalah kemelut manusia modern.

Dengan apik nuansa ini yang eksplisit dalam cerpen Obrolan Sederhana. Tanpa diduga perbincangan dua orang ini mengarah ke soal-soal kritis yang menyasar eksistensi kejiwaan. Dialog mereka berdua semakin ke sini bernuansakan pribadi yang dipapar kesepian laiknya manusia modern umumnya.

Kedua tokoh ini bahkan sampai tinggal di vila puncak sampai berminggu-minggu lamanya tanpa ditemani seorang pun. Ini metafora pribadi kota yang ulet mengejar impian dan butuh waktu jedah setelah menemukan palang pintu yang menyegel jiwa mereka.

“”Apakah kamu bahagia akhir-akhir ini…” kataku sambil mencoba tersenyum.

“Ia tertawa sampai terbatuk-batuk. Lalau segera meracik lagi minuman, kami bersulang lagi.”

“untuk kebahagian yang tinggal sesloki””(hal.30)

Penggalan dialog dua tokoh ini sekiranya cukup mengidentifikasi apa problem eksistensial yang mendera mereka berdua. Kebahagian, entitas kualitatif yang nirfisik bukanlah capaian yang ditemukan dari kehidupan mereka sehari-hari. Ibarat buruh pabrik, jiwa mereka teralienasi secara berlapis di balik pekerjaan yang kian mendesak.

Dengan kata lain, pekerjaan manusia modern bukanlah perolehan yang dicapai secara kualitatif. Di kantor-kantor, perusahaan, swalayan, pemerintahan, sekolah, perguruan tinggi, manusia modern nampak maju dengan peran sosial sebagai makhluk ekonomikus. Tapi, tanpa disadari pekerjaan –sesuatu yang bergerak berdasarkan logika efisiensi dan efektifitas–yang mereka lakoni malah membuat lubang di jiwa mereka.

Secara kuantitatif perolehan fisik manusia modern malah menimbun jiwa mereka. Jiwa yang sejatinya memerlukan capaian-capaian kualitatif, malah rusak akibat berat beban dari peradaban materialisme.

Itulah sebabnya, kebahagiaan bagi manusia modern menjadi utopia. Bahkan demi meraihnya cenderung melahirkan distopia.

Tapi, tidak juga dapat dikatakan kedua tokoh ini larut dalam kekalutan jiwa mereka. Justru keberadaan mereka di puncak, dengan mendiami vila, adalah strategi hidup membuat jarak dengan keseharian kota. Dengan kata lain, mereka melakukan kritik internal terhadap jiwa mereka. Merefleksi.

”“kenapa kita tidak seperti banyak orang yang lain? Mencari tempat yang lebih hingar, untuk mengusir rasa seperti ini.”

“karena kita mencoba menghadapinya. Bukan melarikan diri”” (hal.30)

Orang kebanyakan jika menemukan problem kejiwaan, umumnya mencari ruang eksterior untuk mengkompromikan dirinya. Mal dan diskotik adalah dua tempat yang sering disasar untuk menghilangkan kepenatan jiwa. Terkadang obat-obatan terlarang juga dikonsumsi demi menambah efek ekstase dalam rangka menyelesaikan masalahnya.

Namun, kedua tokoh ini mengambil jalan berbeda. Ibarat pengertian Das Sein Heidegger, mereka membedakan diri dengan Das Man, orang kebanyakan yang tidak mengupayakan suatu jalan masuk ke dalam ruang interior dirinya; jiwanya.

Lewat cara mengambil vila, kedua tokoh ini mengambil jarak memasuki dunia kritis berupa refleksi terhadap problem yang sedang mereka hadapi. Karena kita mencoba menghadapinya. Bukan melarikan diri, kata tokoh kedua di atas.

““kamu mungkin benar. Pagi tadi, aku melihat seorang petani mencangkul sawah di depan sana. Mungkin pemilik vila ini sengaja mendirikan bangunan ini agar kita, para penghuninya, menonton petani itu sebagai bentuk eksotisme. Biasanya, aku melihatnya seperti itu. Tetapi pagi tadi… Aku melihat sebuah spiritualitas yang dijejakkan ke bumi. Dalam satu bulir padi yang ia tanam kelak, akan menghasilkan beratus-ratus bulir. Dan mungkin ini klise, padi yang ia tanam, padi pulalah yang akan ia panen.””(hal.32)

Setiap orang bisa saja menemukan insight yang menyentuh jiwanya. Tokoh di atas menemukannya melalui seorang petani sederhana. Bukan saja insight yang bermakna keindahan yang disebutnya eksotis, melainkan sebuah spiritualitas. Inilah salah satu makna penjarakan, yakni menemukan penekananan jiwa yang berbeda dari fenomena yang sering disaksikan. Si Aku menemukannya pada peristiwa sederhana dan biasa. Yang sering ia saksikan. Berkat penjarakan dengan kesehariannya.

Yang menarik pula disimak adalah penanda semakin personalnya pembicaraan mereka, maka suguhan yang mereka nikmati ikut berganti. Yang dimaksud di sini adalah disuguhkannya arak setelah kopi mereka berdua tandas.

Kopi, jika bisa diartikan sebagai minuman pengencer suasana, maka arak lebih maju lagi dalam pengertian ia sebagai minuman pendobrak yang tidak lagi mempedulikan segala hal yang ditutupi, bahkan yang tabu. Kopi walaupun sering dipakai sebagai minuman yang menandai kedekatan, tapi masih memberikan peluang bagi orang untuk menjaga normatifitas saat bercakap-cakap. Arak sebaliknya, ia penghangat tapi sekaligus mampu membalik dan bahkan meniadakan batas-batas yang menjadi acuan kemaluan percakapan.

Barangkali, itulah sebabnya mengapa setelah minuman berganti arak, obrolah dua tokoh ini kian dekat. Bahkan seolah-olah mereka adalah kawan lama yang sudah saling mengenal luar dalam. Hal inilah yang menjadikan obrolan mereka kian terbuka dan kian jujur.

““Aku orang yang tidak jujur. Bahkan kepada diriku sendiri. Dan sesuatu di luar sana, entah apa, sedang menghukumku. Aku tidak bahagia”” (hal.33)

Pernyataan ini adalah sebuah pengakuan Aku –pemilik vila. Pengakuan yang justru memperlihatkan kejujurannya kepada diri sendiri, bahwa ia tidak jujur. Yang menarik ugkapan ini lahir setelah obrolan mereka ditemani arak —yang menandakan keterbukaan jiwa tanpa khawatir setelah dikemukakan.

Ini jika dikembalikan ke dalam kenyataan sehari-hari akan ditemukan betapa manusia modern bukanlah pribadi-pribadi yang jujur. Lantaran khawatir penghakiman-hukum sosial, pribadi modern cenderung  menjadi pribadi hipokrit. Mereka mendayagunakan segala ketrampilan untuk membentuk jati diri kedua demi menyembunyikan alter egonya. Dengan kata lain, pribadi manusia modern bukanlah pribadi otentik karena hanya ingin tampil seperti yang diinginkan banyak orang.

Itulah mengapa orang modern sulit menemukan kebahagian. Mereka sulit terbuka dan jujur kepada diri mereka sendiri. Padahal, salah satu pintu kebahagian sederhana belaka, yakni mau menerima diri apa adanya. Mau jujur dengan apa yang ada dan tidak ada dalam diri sendiri.

Obrolan Sederhana sampai di sini nyatanya bukan obrolan yang sederhana lagi. Puthut lihai menggiring jalan ceritanya menjadi kian berbobot dan reflektif. Terbukti salah satu srateginya adalah tidak ada nama tokoh dikemukakan di sini. Hanya Aku yang berdialog dengan Aku yang lain yang dalam hal ini tidak saling mengenal. Mungkin bisa dipahami penggunaan kata ganti orang pertama tunggal ini adalah cara cerpen ini mengidealisasi percakapan menjadi dialog yang akan dialami pembacanya sendiri. Sudahkah Aku bahagia?


1] Dikutip dari buku Melampaui Positivisme dan Modernitas karangan F. Budi Hardiman hal.105. Di situ Hardiman tidak menyebutkan nama penyair puisi ini. Ia hanya menyebutkan Penyair Jawa. 

Sadar Diri dan Obrolan Sederhana dari Sebuah Cerpen

16 Februari 2019 Comments Off


GNOTHI SEAUTON. Setelah membaca cerpen ini* kali kedua --semenjak beberapa tahun lalu—saya baru menyadari cerpen ini merefleksikan keadaan masyarakat sekarang, terutama ketika saling bertemu.

Sudah jarang terlihta --dan juga pergaulan diri sendiri--masyarakat sekarang yang saling terbuka satu sama lain ketika berada di dalam komunitasnya. Tapi, jangan dulu komunitas terdekatnya, di dalam keluarga saja sekarang malah seperti tidak saling mengenal. Maksudnya, sudah pasti saling mengenal, saling tahu sesama keluarga inti, namun tidak untuk hal-hal yang personal dan fundamen. Interaksi tetap berjalan, hanya saja tidak saling menjiwai.

Cerpen ini menariknya menawarkan insight yang mesti dipikirkan. Pertama, seperti yang saya bilang di atas, yakni tentang "kedekatan" dengan orang-orang terdekat. Kedua, mengenai keterbukaan. Coba ingat-ingat, kapan terakhir kita ngobrol bersama saribatangta, tentang segala ihwal, tentang ceruk-beruknya kehidupan, yang saling mengerti, saling menguatkan antar keduanya. Ini menyerupai saat kita mendapatkan teman bicara yang menjadi kawan kritis, bicara curhat saling membantu jiwa masing-masing.

Ketiga, kalau tidak ada ditemukan yang saya sebut di atas, bisa jadi teman ngopi Anda hanya sekadar teman semeja. Bukan kawan kritis yang mampu mengajak Anda berbenah diri. Kalau yang seperti ini, berarti pertemanan Anda tidak berkualitas. Ternyata teman Anda cuma selevel kaleng-kaleng.

Belakangan banyak saya menyaksikan orang-orang ketika saling bertemu hanya berkutat di soal politik, pekerjaan, atau masalah perempuan. Tidak pernah sama sekali ada pergaulan yang bebas terbuka tapi seperti saya sebut di atas. Mungkin bisa Anda katakan, "ah tidak juga, mungkin itu hanya perasaan Anda saja. Saya sejauh ini baik-baik, kok." "Saya selama bergaul santai-santai, kok. Tidak usah terlalu serius dipikirkan. Ini hanya dunia, bung."

Tepat. Ini memang  perasaan saya. Dunia sekarang memang selalu dilihat dari aspek rasional dan seperti Barat, materialistik. Tapi, justru karena itu, semuanya hendak diukur, ditimbang, dan dinilai sesuai isi kepala Anda, bukan isi hati Anda. Sederhananya, semuanya mesti berdasarkan asas untung rugi. Itulah sebabnya,  banyak pertemanan hanya sekadar sambil lalu. Kualitas relasinya mentok tanpa bisa lebih dalam lagi. Hanya sekadar kumpul-kumpul belaka.

Di cerpen ii, Puthut EA juga mengisyaratkan satu hal: manusia modern yang dirundung kemendesakan rutinitas mesti sekali-sekali menengok dirinya. Issengi alenu. Begitu sering diingatkan orang tua-orang tua di kampung. Frase ini mengingatkan  saya kepada kuil Apolo di Delphi Yunani yang tertulis di atas gerbangnya: "gnothi seauton" (kenali dirimu).

Kalau di konteks masyarakat Yunani, frase ini berarti tahulah dirimu di hadapan dewa-dewa. Engkau mahluk terbatas yang mesti menghormati dewa-dewa. Jangan sekali-kali melawan takdirmu sebagai manusia fana.

Tapi, untuk konteks sekarang, perkataan ini lebih kurang sama dengan arti di atas. Kita mesti tahu diri. Siapa dan apakah kita ini sebenarnya.

Malangnya, selama kita tidak tahu diri, sering berdiskusiki menjadi ajang saling serang. Seolah-olah Anda adalah satu-satunya yang benar. Kalau sudah begini, sudah tidak patut dibilang obrolan, tapi kampanye.

Omong-omong, hanya itu yang ingin saya katakan.

--

* Cerpen berjudul Obrolan Sederhana Karangan Puthut EA dalam bukunya Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, terbitan Insist Press

Berani Berkata Benar dari Yunani Antik: Pharresia

07 Februari 2019 Comments Off


Judul : Pharresia: Berani Berkata Benar
Penulis : Michel Foucault
Penerjemah : Haryanto Cahyadi
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun Terbit : Mei 2018
Tebal : 209 Halaman
ISBN : 978-979-1260-78-7

Pertama patut diapresiasi atas usaha Haryanto Cahyadi sebagai penerjemah mengingat buku ini bisa dikatakan sebagai teks filsafat. Bahasanya yang ringan dan mudah dicerna membuat pembaca merasa nyaman membacanya. Apalagi ini adalah Michel Foucault, filsuf yang lumayan berat pemikirannya –setidaknya bagi saya— lewat tangan Cahyadi dapat lebih mudah mengurai pokok-pokok gagasan yang ditranskip dari ceramah seminarnya di tahun-tahun belakangan sebelum ia wafat.

Diambil dari rangkaian kuliah Foucault di Universitas California, Berkeley, buku ini mengelaborasi hubungan wacana dan kebenaran dari suatu tilikan risikonya. Dengan kata lain, buku ini menawarkan suatu sikap keberanian –yang jarang dijumpai—dalam mengungkapkan kebenaran di saat banyak wacana menutupinya, dan tentu saja ketika semua pihak takut menyatakannya.

Merupakan suatu keberanian ketika mengungkapkan kebenaran di samping harus menanggung risiko, seperti, kehilangan nyawa, mungkin. Bukankah disebut keberanian, seperti Sokrates, misalnya, yang menghadapi risiko difitnah dan kemudian dibunuh, dari pekerjaannya sebagai filsuf untuk mengungkapkan kebenaran? Galileo Galilei, misalnya, atau, di tanah air ada seorang Munir?

Sokrates, Galileo Galilei, dan Munir –begitu juga orang seperti mereka—ketika tanpa khawatir menyatakan kebenaran walaupun risiko menghadang disebut –dalam istilah Yunani Antik—sebagai parrhesia.

Tapi tidak semata-mata risiko. Parrhesia yang secara etimologi berarti “mengatakan segala sesuatu” memiliki kekhususan yang khas karena tidak semua pernyataan yang dinyatakan dalam rangka mengatakan sesuatu disebut pharresia.

Secara peyoratif pharressia hanyalah sikap tanpa bobot ketika seseorang sekadar mengungkapkan apa saja yang terlintas di pikiran dan hatinya. Bukankan seseorang selalu mengatakan sesuatu melalui apa yang ia pikirkan dan rasakan? Apakah sesuatu yang dinyatakannya memang perlu diungkapkan karena dirasa benar atau memang benar? Apakah mengatakan yang memang benar itu disebut pharresia?

Di bagian awal buku ini, Foucault menerangkan beberapa kualifikasi yang dimiliki pharresiastes (pengungkap kebenaran) ketika mengambil sikap pharresia.

Artinya selain risiko, tanpa tiga kualifikasi yang disebut di antaranya adalah kewajiban, keberanian, dan posisi, seseorang belum disebut sebagai pengungkap kebenaran. Dengan kata lain yang bersangkutan belum menempuh sikap pharresia.

Sebagai contoh: risiko sudah pasti menuntut keberanian, tapi bukannya disebut pharessia ketika seorang raja menyatakan kebenaran terhadap rakyatnya mengingat posisinya sebagai penguasa. Risikonya pun nyaris muskil. Tidak ada yang menghalang-halanginya apalagi membatasinya dalam mengungkapkan kebenaran. Raja adalah raja sejauh ia menggunakan hak istimewanya sebagai penguasa absolut.

Bagi si raja, tidak ada juga kewajiban yang menjadi dorongan etik untuk menyatakan sesuatu. Ia bahkan dalam banyak kasus tidak dikenai kewajiban dalam menyatakan sesuatu. Mengingat ia adalah raja, justru ia dalam hubungannya dengan wacana sering kali bukan pihak yang memiliki kewajiban sebagai pengungkap kebenaran.

Tapi, berbeda bagi seorang hamba. Dilihat dari situasinya seorang hamba adalah pihak yang tidak memiliki kekuasaan. Meski terkadang kekuasaan yang justru menindasnya. Ia juga dari segi profesi bukan siapa-siapa dalam struktur kekuasaan kerajaan. Tapi, ketika ia mampu menyatakan ketidakadilan kepemimpinan ketika diperhadapkan kepada sang raja, dan di baliknya ia akan menerima risiko kemurkaan raja, bahkan kehilangan nyawanya, maka ia sesungguhnya sedang menerapkan pharresia.

Jika dilihat dari statusnya, posisi si hamba jauh di bawah sang raja. Ini yang menyebabkan keterusterangan sang hamba menjadi pharresia. Pharessia dengan kata lain tidak sama sekali datang dan diungkapkan dari “atas”, tetapi ia dimunculkan dari “bawah”.

Dari penjelasan di atas, pharessia berhubungan pula dengan posisi. Dalam kasus di atas pharessia tidak dimiliki seorang raja karena statusnya sebagai orang yang berkuasa, ia juga dari awal memiliki kebebasan berbicara. Namun kepada si hambalah pharessia itu ditemukan. Ia meski tidak memiliki hak berbicara, namun dari sisi posisinya dalam menyatakan kebenaran bermakna keberanian.

Yang patut diperhatikan adalah pada bagian-bagain awal buku ini. Dengan runut Foucault menjelaskan makna asal kata pharessia beserta konteksnya dalam bidang politik dan filsafat. Setelah itu pharessia diterangkan dengan lugas oleh Foucault melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam naskah sastra Yunani Antik.

Di dalamnya kita akan banyak menemukan pengertian lain parrhesia dari naskah-naskah drama semisal Euripides yang berpusat pada tokoh-tokoh seperti Phoinissai, Hippolytos, Bakhai, Elektra, Ion, dan Orestes. Melalui kisah merekalah Foucault menerangkan berbagai sisi arti parrhesia.

Terlepas dari tahu tidaknya kita terhadap naskah-naskah drama itu, uraian Foucault yang mengikutkan sedikit demi sedikit latar belakang dan kejadian-kejadian demi menerangkan parrhesia dalam naskah itu sedikit banyaknya ikut menolong orang seperti saya yang asing dengan cerita-cerita drama dalam buku ini dapat lebih mudah dipahami.

***

Kiwari, ketika semua orang memiliki kesamaan hak berbicara, pharessia berangsur-angsur kehilangan momentumnya. Nyaris pharessia atau keberanian berbicara benar sulit dibedakan dengan semakin banyaknya orang berbicara. Semakin bebas alam demokrasi, semakin tidak relevan lagi pharresia mendudukkan posisinya sebagai bagian dari kritiknya terhadap tatanan yang mengancam.

“yang paling pertama, mereka bebas. Kebebasan dan berbicara bebas (pharresia) marak di mana-mana; siapa pun diperbolehkan melakukan apa yang ia sukai… Begitulah, setiap orangakan menata cara hidupnya sendiri dengan kesenangannya.” (hal. 93)

Demikianlah, ucapan Sokrates dalam Politeia-nya Platon berkaitan dengan hubungan kebebasan yang menjadi ciri demokrasi dengan pharresia yang banyak disalahgunakan oleh warga negara. Sesuatu yang dialami oleh banyak negara demokrasi modern sekarang ini.

Platon dalam konteks yang tidak jauh berbeda dari Sokrates juga menyatakan bahwa berbahayanya pharresia bukan karena ia bisa dilakukan oleh setiap warga negara paling buruk sekalipun, melainkan kebebasan berpendapat yang dimiliki setiap warga negara berpeluang besar menjadikan negara kehilangan konsesus mengenai apa yang baik dan ideal bagi dirinya karena setiap warga negara bebas mengekspresikan kemauannya dengan bebas.

“Bahaya utama kebebasan dan berbicara bebas dalam demokrasi adalah hasil yang timbul manakala setiap orang punya cara hidupnya sendiri,gaya hidupnya sendiri…karena tidak ada logos (wacana) bersama, tidak mungkin ada persatuan demi polis.”(Hal.93)

Berkaca kepada perkataan Sokrates dan Platon, rasa-rasanya di sini di waktu sekarang ruang publik penuh disesaki wacana dari setiap orang. Masing-masing atas nama demokrasi dengan bebas tanpa kualifikasi moral tertentu dapat berkata apa saja, mengkritik apa saja seturut isi hati dan pikirannya. Keadaan yang tidak mencerminkan sebagai pelaku pengungkap kebenaran. Keadaan yang sama sekali bukan pharresia.

Podcast: Babanuroom Channel