Tampilkan postingan dengan label Leo Tolstoy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leo Tolstoy. Tampilkan semua postingan

27 Februari 2016

Menyoal Plagiarisme

Saya mulai risau. Soal plagiarisme. Dua hal yang bikin jadijadi. Pertama janganjangan sebagian besar karya tulis saya plagiat. Kedua, bisa jadi di luar sana banyak yang curi tulisan saya. Tapi, yang bikin akut, soal pertama. Apalagi kalau itu dilakukan dengan kesadaran penuh. Gawat.

Tempo hari sudah ada diskusi. Menyoal plagiarisme dan pencuri bahasa. Saya tak tahu apakah dua konsep itu berbeda. Saya tak sempat tanyakan. Atau mungkin itu punya arti yang sama. Kalau iya, jadi itu hanya soal teknis judul saja. Suatu teknik promosi.

Inti diskusi itu yang jadi perkara. Apa itu plagiarisme? Sejauh apa batasannya? Bagaimanakah bentuknya? Seperti apa jenisnya? Siapasiapa pelakunya? Siapa korbannya? Bagaimana plagiarisme dilakukan? Pada tekskah? Simbol; ide; gagasan? Atau niat barangkali?

Kalau mau dipersoalkan lebih jauh bisa berupa, bagaimanakah plagiarisme masuk dalam wacana ilmupengetahuan? Siapa yang berkepentingan di dalamnya? Apakah ini soal wewenang? Soal hak cipta? Sejauh manakah suatu karya disebut memiliki hak cipta? Lantas untuk apa hak cipta itu sebenarnya?

Pasca diskusi itu juga jadi soal. Banyak yang belum jelas betul. Termasuk perkara etik. Kejujuran.

Omongomong soal kejujuran, terutama soal ide, saya agak ragu kalau saya punya wewenang mau sebut itu murni karya saya. Banyak tulisan saya hasil replika atas karya orang lain. Apalagi itu karena didorong oleh gagasan yang saya daur ulang. Kalau sudah begitu, saya berjagajaga dari pelbagai prasangka: saya sematkan nama atau dari mana saya dapat ide yang dibilang. Aman.

Di Indonesia pernah jadi soal dalam sejarah kesusastraan. Misalnya, sebagian karya Chairil Anwar yang dianggap saduran dari beberapa karyakarya Willem Elsschot, Archibald MacLeish, E Du Perron, John Cornford, Hsu Chih-Mo, Conrad Aiken, WH Auden. Beberapa ahli bilang, kalau beberapa karya pelopor angkatan 45 ini hanya berupa peralihan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Juga kasus “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” Buya Hamka yang disinyalir mengikuti cerita Musthafa al-Manfaluthi berjudul Magdalaine. Ini pernah ditulis Seno Gumira Ajidarma tahun 2008 yang dimuat di Kompas, Senin, 9 Juni.

Bahkan, sempat juga jadi buah bibir, atau sampai bikin ribut, karya Seno sendiri "Dodolidodolitdodolibret" yang jadi pemenang cerpen terbaik versi Kompas 2011. Walaupun di akhir tulisannya, Seno sudah mewanti cerpennya hanyalah versi ulang sendiri dari ceritacerita agama, namun tetap saja jadi soal, plagiatkah Seno? Cerita yang ditulis Seno sendiri juga ada yang mengaitkan dengan karya Leo Tolstoy karena kemiripan cerita dan plotnya. Lantas kalau sudah begini, apa soal?

Dari soal itu berkembang dua problem subtansial. Pertama tentang keorisinalitasan pengarang. Kedua, soal kematian pengarang. Yang pertama menyoal keagungan pengarang. Yang kedua mau bilang kalau pembaca punya posisi penting dalam menentukan kebesaran pengarang.

Orientasi problem pertama akan krusial jika diajukan kepada pertanyaan seberapa pentingkah sang pengarang dalam problem plagiarisme. Apakah karya yang rusak akan mempengaruhi kredibilitas sang pengarang? Ataukah itu akan jadi lain jika sudah terjadi pemutusan antara sang pengarang dengan karangannya seperti diorientasikan problem yang kedua.

Dua problem di atas hanya soal. Boleh jadi sudah jadi buah bibir. Apalagi wacana. Kalau yang terakhir baik jadi urusan para scholar. Agar jelas. Biar tuntas.

Sudah sering saya dengar kasus plagiarisme. Apalagi kejadiannya di pucukpucuk peradaban; kampus. Ini miris. Plagiarisme jadi lakon intelektual. Saya kira pasalnya bukan soal pengetahuan semata, tapi etika intelektual.

Soal etika intelektual juga soal iklim intelektual. Banyak kasus plagiarisme tumbuh karena tidak ditunjang iklim yang baik. Contoh kecil ada beberapa kawan yang saya tahu melakukan plagiarisme karena hidup di iklim intelektual yang buruk. Saya duga mereka melakukan itu karena tidak ditunjang wawasan literasi yang baik. Akibatnya mental meniru sudah jadi budaya.

Mental meniru saya kira sudah jadi urusan bawaan yang integral dari bangsa pasca kolonial. Banyak ahli menyitir soal mentalitas bangsa bekas jajahan. Hampir semua lini jadi medan tiruan. Semuanya hasil jiplakan. Yang soal kalau tidak ada proses daur ulang di dalamnya. Tidak ada usaha refleksi disertakan. Makanya mandiri itu penting. Mau mengambil apaapa yang dipunyai. Mengolahnya jadi hal yang baru. Dengan usaha sendiri, tenaga sendiri.

Jenis plagiarisme bisa berlapis. Lapis paling ringan ada yang bilang plagiarisme minimalis. Model ini ditampakkan dengan cara mengambil ide, gagasan, atau pikiran melalui pengungkapan bahasa yang lain, bahasa yang berbeda. Ini masih diragukan apakah masuk kategori plagiasi.

Yang kedua, plagiat jenis parsial. Model ini memadukan beberapa sumber dengan penggabungan menjadi bentuk baru. Walaupun ada ada unsur kreatifitas di dalamnya, tapi tetap tidak mengubah konten.

Plagiat berat adalah plagiat yang paling gampang ditemukan. Bahasa, ide, ataupun gagasan tak berubah sama sekali. Plagiator hanya memindahkannya belaka. Tanpa menyebut dari mana sumbernya. Ini model yang sering banyak orang lakukan.

Plagiasi saya kira bisa jauh ditarik di masa mitosmitos. Mitos Prometheus saya kira contoh bagaimana plagiasi atas ide ilmupengetahuan diwartakan. Atas nama ilmupengetahuan, Prometheus dikutuk karena mencuri api pengetahuan dewa tertinggi sebelum membagibagikannya kepada manusia. Akibatnya Prometheus dikutuk seumur hidup. Sanksinya abadi berupa cabikan patukan burung nasar di hati dan jantung bertahuntahun lamanya.

Plagiasi Prometheus adalah aksi pemberontakan. Tindakan yang diarahkan untuk melawan dominasi dewadewa. Pencuriannya dilakukan atas dasar semangat pencerahan kepada umat manusia. Dari kacamata dewadewa, Promotheus adalah pencuri ilmupengetahuan, tapi di mata manusia, dia adalah pahlawan yang memberikan terang cahaya ilmu.

Saya khawatir di balik pelarangan plagiasi, ada dominasi yang ingin kukuh berdiri. Suatu sistem yang butuh pengakuan. Wewenang yang tak ingin bergeser. Jadi ini hanya seolaholah soal orisinalitas, soal sumber, ide, gagasan, yang semuanya dijunjung untuk satu tujuan; kekuasaan.

Tapi, itu hanya dugaan saya saja. Sampai di sini plagiasi, yang berarti menculik itu, semua orang sepakat adalah tindakan yang sewenangwenang. Aktifitas kejahatan yang tidak etis. Kalau saja, ini hanya soal siapa dahulu menemukan apa, siapa yang lebih orisinal, dan dari mana ide gagasan itu ditemukan, saya kira tidak sesederhana itu plagiarisme.

Plagiasi jadi genting kalau memang suatu komunitas sudah melek literasi. Itu mengapa plagiarisme jadi marak, soalnya literasi di sekitar kita belum jadi obrolan. Belum jadi yang penting.


19 Mei 2012

Asketisme Leo Tolstoy

AWALNYA melimpah, selebihnya hidup dalam asketisme.

Setidaknya itu yang dialami Leo Tolstoy. Bak seorang manusia suci mengalami sebuah pergolakan batin. Barangkali ia rindu pada apa yang menjadi harapan semua orang yakni hidup di dalam rahmat Tuhan.  

Tapi, terkadang kerinduan membutuhkan satu pengorbanan besar di mana hidup harus dipandang dengan cara tak biasa. Leo Tolstoy mengalami pengalaman batin mendorong ia menanggalkan segalanya:  gelar, status sosial bahkan berhektar-hektar tanah yang ia miliki.

Transformasi hidup kerap dimulai dari kegoncahan iman. Hingga akhirnya suatu pilihan mesti dibayar dengan harga yang mahal. Keberanian mengubah bukan berarti tanpa risiko. Dalam hal ini Leo Tolstoy meninggalkan kemapanan hidup demi menemukan ihwal yang subtil dalam kehidupan.

Syahdan, ia hidup dikepung harta benda tak terhingga. Ia menjadi tuan tanah dengan ratusan petani pekerja. Hidup di dalam rumah bak istana raja.  Lengkap dengan lakon hidup teratur di dalamnya.
Namun ia menemui batu besar dalam dirinya. Sebuah pertanyaan mendasar yang belum mampu ia tuturkan dalam deret argumentasi yang teoritik. Ia menulis;

”Pertanyaan -yang memenuhi benakku pada usia 50 tahun membuatku hampir bunuh diri- adalah pertanyaan paling sederhana…”

Dalam satu tarikan napas:

”…yang tertanam di dalam jiwa setiap orang, mulai anak yang bodoh hingga orang dewasa yang paling bijak. Itu adalah pertanyaan tanpa jawaban yang tak bisa ditangung seorangpun sebagaimana kuketahui dari pengalaman. Pertanyaan itu adalah apa yang akan terjadi dari apa yang kulakukan hari ini atau yang akan kulakukan besok? Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?”

Di usia 50 ia terdorong keluar dari pemikiran mapan. Pemikiran yang dimulai pada masa kanak-kanak berupa iman Kristen ortodoks. Masa kecil yang disokong sakramen-sakramen upacara misa dan puasa-puasa ketat.

Dengan kata lain, di usia 50 ia mengambil jedah. Dengan pertanyaan ini, ia menampik hidup untuk sebuah jawaban yang entah. Sebuah permulaan yang meneruskan satu sikap hidup yang bakal mengubah segalanya.

Hidup dalam ukuran seorang Tolstoy; menulis, meminum anggur, pesta dansa, dan wanita, di mana hidup sebagai seorang muda dijalani dengan pandangan hidup anti kristus. Menjadi seorang pada tahun-tahun di mana menghabiskan waktu di meja judi adalah kehidupan yang dinilai normal namun sekaligus menjemukkan;

”…aku tak bisa memikirkan tahun-tahun itu tanpa kengerian, perasaan muak sekaligus kepiluan. Aku telah membunuh banyak lelaki….aku kalah dalam permainan kartu, memeras tenaga para petani, menjatuhkan mereka dalam hukuman…Aku menipu, merampok, berzina…dan orang-orang sezamanku dianggap dan menganggapku sebagai orang yang termasuk bermoral.”

Namun interupsi itu datang. “Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?” Sebuah pilihan untuk hijrah.

Hijrah? Mungkin adalah keniscayaan gerak. Proses yang harus dialami seluruh manusia. Di mana konsekuensinya adalah sebuah jalan tak punya ujung. Dan di sana ada pilihan. Maka seorang Tolstoy mengerti; hidup adalah perjalanan yang dirunut untuk dilangkahi. Ia, seorang tua, bermula dari sebuah pertanyaan yang eksplosiv; apa hujung dari apa yang kita sebut sebagai hidup?




ADA adagium masyur dari Socrates; hidup tak terperiksa adalah hidup yang tak patut dijalani.  Dan mungkin saja di suatu waktu,  kita mendapati kenyataan yang tak bisa kita duga sebelumnya, kemudian membuat kita terhenyak. Berusaha melihat secara terbuka untuk mencari jalan keluar dari apa yang terjadi. Dan di sini, pada titik ini, barangkali adagium dari Socrates kemudian berlaku. Di mana sebuah permenungan kemudian menjadi aktifitas yang menuntut laku sunyi; refleksi diri.

Namun, di mana zaman tengah tumbuh melesat, melakoni hidup seperti orang-orang soliter menjadi kian sulit. Di luar sana, pada apa yang kita katakan sebagai kehidupan, sedang terburu buru membawa dirinya pada titik entah. Di mana waktu dan ruang dimobilisasi sedemikian cepat, sehingga membuat hidup menjadi hal yang begitu cepat menguap.  Barangkali itulah hukum modernitas, segala begitu cepat berlalu, semuanya begitu licin dipertahankan.

Dari diri Tolstoy kita bisa belajar harta benda, status sosial, dan kekuasaan tak membuatnya harus takluk. Suatu waktu ia bakal tahu, apa yang ia miliki bisa menjerumuskannya pada situasi yang mencuri kedaulatannya.

Setidaknya dari seorang Tolstoy maupun Socrates kita bisa belajar, modernitas atau zaman yang ugalugalan ini, dengan percepatan komoditas, mobilisasi waktu, pemapatan ruang,  di mana terjadi pembalikan pada seluruh tatanan nilai, membuat kita harus tahu dan percaya tentang satu hal; di luar sana, nilai kedaulatan kita sebagai manusia tengah direcoki.[] 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...