Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

21 April 2020

Baltazar: Si Beruang Kutub, Juru Bicara Kebebasan dari Jeruji Valle Central


Judul: Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis: Claudio Orrego Vicuna
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
ISBN: 978-979-1260-82-4
Tebal: 68 halaman




“Barangsiapa sanggup membaca apa yang ada di balik mata seseorang, atau membaca spektrum sinar mentari di lembah, atau membaca bayang pertama di atas salju putih pegunungan, ia akan bebas selamanya” (hal.66).


TIDAK seperti George Orwell melalui alegori politiknya, yang menggunakan banyak hewan-hewan dalam Animal Farm. Fabel politik Claudio Orrego Vicuna ini cuman butuh satu hewan untuk menyampaikan suasana atau gagasan mengenai kediktatoran kekuasaan politik.

Memang, dalam novelet 68 halaman ini tidak ada satupun kata politik dituliskan untuk mencerminkan bahwa ini karya berbicara fakta itu.

Tapi, jika pembaca mempertimbangkan faktor biografis, dan melihat novelet ini dari bayang-bayang penulisnya, maka tersirat dengan cara samar-samar bahwa karya ini juga implisit berbicara banyak berkaitan dengan kekuasaan.

Akan sangat berbeda ketika kebebasan sebagai esensi keutamaan manusia dibincangkan dalam spektrum politik melalui karya sastra. Apalagi jika itu dimasukkan ke dalam kehidupan binatang yang sarat perbedaan dengan manusia.

Dalam rangka itu, Claudio Orrego Vicuna hanya membutuhkan satu saja penanda untuk membenarkan hal ini: kandang binatang.

Apa boleh dikata, sepertinya hanya kandang,
 ilustrasi paling pas untuk menggambarkan makna kebebasan. Bukankah kehidupan manusia juga demikian? Hidup dalam kandang yang ia ciptakan sendiri sambil sembunyi-sembunyi mengharapkan kebebasan?

Dan, dari dunia kandang inilah, sekotak besi jeruji seekor beruang kutub, Claudio membentangkan sejumlah paradoks kemanusiaan, terutama jika itu menyangkut hal ihwal yang dialami manusia.

Ya, novelet ini bercerita tentang seekor beruang yang diberi nama Baltazar, yang namanya diberikan cuma-cuma oleh penjaga kandang. Nama itu diambil dari nama seorang majusi berkulit hitam kelak ditahbis menjadi santo, yang mengunjungi Yesus beberapa saat setelah ia lahir.

Satu-satunya yang menghubungkan Baltazar dengan namanya adalah kulit bulunya yang berlahan berubah menjadi lebih gelap setelah ia lama tinggal di dalam kandang di sebuah kawasan bernama Valle Central, Cile.

Baltazar awalnya berbulu putih bersih seputih pasir es Artik tempat ia berasal.

Suatu pagi, seperti dikisahkan Baltazar sendiri, tiba mahkluk aneh dan jahat yang datang melalui suatu ekspedisi di Artik, suatu kawasan sabana es di daerah kutub. Mereka datang demi satu misi yang kelak diketahui dilakukan untuk menghibur orang-orang dengan cara memamerkan hewan-hewan eksotik di suatu tempat yang disebut kebun binatang.

”Mereka memecah keheningan dengan seruan-seruan mereka. Ledakan mereka dibalas dengan gema yang mengerikan dari es. Segala yang ada pada mereka terlihat di mata kami sebagai penjelmaan iblis” (hal.5).

Itulah kontradiktifnya manusia, yang disebut Baltazar mahkluk aneh penjelmaan iblis. Demi menghibur banyak orang melalui kebun binatang, mereka lalui dengan cara yang ganjil. Meledakkan gunung-gunung es dan menangkap hewan liar yang hidup tentram di habitatnya.

Perlu diterangkan di sini kata liar, mengingat seluruh kisah dalam novelet ini lahir dari kenang-kenangan yang diceritakan Baltazar sendiri. Ya, Baltzarlah sang narator dalam kisah ini. Beruang yang dapat berbicara dan menceritakan kisahnya dari dalam jeruji kandangnya.

Peradaban seringkali mengonseptualisasikan kehidupan di luar dari dirinya sebagai kehidupan liar. Peradaban yang juga berarti telah beradabnya pikiran dan perbuatan manusia, utamanya mendikotomikan dua dunia dari ukuran dirinya sendiri.

Itulah sebabnya, ketika bangsa Barat melalukan ekspedisi ke tanah jauh, yang belakangan disebut dunia Timur, dan melihat pola hidup yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Eropa, kehidupan macam itu disebut tidak beradab. Kehidupan tanpa konsensus, dan lebih mirip kehidupan binatang.

Ini persis seperti adegan pasukan Kaizar Hirohito dalam film The Last Samurai, yang berdiri di atas suatu bukit, dan memandang kehidupan masyarakat tradisional Jepang di bawahnya, yang mengatakan akan kita bangun peradaban di atas tanah ini melalui rel kereta api.

Saat itu atas nama Barat, sang jenderal sedang mengimajinasikan negerinya akan tumbuh sama seperti saat Barat membangun kehidupannya. Atas nama, apa yang diistilahkan secara akademik sebagai civilization.

Atas logika semacam itulah Baltazar kemudian ditangkap dan dibawa pergi meninggalkan kampung halaman. Ia dipisahkan jauh sampai ke tempat para manusia tinggal berbondong-bondong. Tidak seperti padang es yang maha luas, hening, dan selalu menyediakan keterpukauan oleh sebab hari-hari baru yang terus berubah.

”Masa-masa itu, hidup begitu merdeka, dan mudah. Jangan kira ini hanya karena kami masih muda, sekalipun itu bisa jadi salah satu bagian cerita. Namun juga karena lanskap putih yang mahaluas itu sungguh indah” (hal.4).

Atas nama peradaban, si beruang Baltazar dengan sepihak mesti melayani kebutuhan umat manusia. Dalam hal ini, ia seolah-olah berada di lapangan bundar dalam tenda besar sepasukan badut sirkus, menjadi objek tontonan demi menyenangkan hati manusia.

Semua pandangan itu—dan juga stigma dalam kehidupan manusia—lahir dari bias kehidupan antroposentris yang menganggap manusia sebagai titik gravitasi kehidupan alam semesta. Di luar dari itu, seluruh eksistensi hanyalah realitas sekunder yang berfungsi sebagai faktor penunjang. Dari kehidupan mickrowujud hingga manusia, semua itu mengalami pelapisan secara hirarkis yang mendudukkan manusia di atas puncaknya.

Lalu bagaimana dengan kebebasan?

Baltazar berkisah: ”Untuk menjadi bebas tidaklah cukup dengan hanya bisa bergerak di atas dunia ini atau di antara orang-orangnya. Bebas bergerak hanya sarana untuk menemukan makna yang lebih dalam dari hal ihwal. Tapi itu sendiri belum berarti apa-apa” (hal.62).

Suatu refleksikah ini?

Yang jelas, dari balik jerujinya, Baltazar dapat berkesimpulan demikian ketika melihat muka-muka orang yang ia katakan berwajah kelabu, suatu warna yang ia kontraskan dengan warna putih, warna yang mewakili dunianya.

Di atas serbuk-serbuk es, Baltazar, bersama teman-temanya, dan juga anjing-anjig laut, bisa melakukan apa saja: berburu ikan, menyelam, atau berseluncur di atas bukit-bukit es padat. Di tempat ini, malam dan siang sama saja, kemana pun Baltazar mendongakkan kepalanya hanyalah horizon berwarna putih maha luas.

Dalam konteks ini, seperti Luis Sepulveda, pengarang Cile penulis Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, Claudio Orrego Vicuna juga menjadi musuh Augusto Pinochet, yang  menyublim suara protesnya kedalam renungan-renungan reflektif selama kediktatoran Pinochet berdiri. Satu tema yang mencolok dari karyanya ini sudah tentu kebebasan.

Baltazar, si beruang sekalipun mengatakan, untuk menjadi bebas tidak cukup hanya bisa bergerak di atas dunia dan antara orang-orang, itupun dikatakan belum ada apa-apanya.

Toh pada akhirnya, kebebasan bukan soal tempat, atau bahkan seperti kehidupan maha luas di atas hamparan salju seperti di kutub utara. Baltazar menemukannya, melalui wadah yang juga menjadi senjata satu-satunya dari orang seperti penulisnya: pikiran dalam benaknya.

”Aku takkan pernah benar-benar bebas, tapi aku telah menaklukkan dunia sekelilingku ke dalam benakku… Apa yang bisa diperbuat si pengurung terhadap pikiranku” (hal.62).

“Sebelum itu terjadi, tak ada gunanya mengurung kami di balik jeruji. Orang lebih bebas di balik jeruji ini ketimbang di luarnya, di kota-kota kelabu yang tak mengenal riangnya terang..., bahwa kuperoleh kebebasanku saat berada di balik jeruji penjara dan bahkan aku menganggap diriku lebih tinggi dibanding para pengurungku” (hal. 66).

Demikianlah, di titik ini novelet berjudul asli Las sorprendentes memorias de Baltazar: cuento, gamblang menyorot kebebasan ke dalam pemilahan yang kadang kabur antara makna ”di dalam kandang” dan ”di luar kandang”.

Tentu, bukan kabur di mata seekor Baltazar, tapi kehidupan manusia yang kiwari demikian sulit keluar dari jeruji rutinitasnya, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam. Terjebak di dalam gelembung ideologi, pasar bebas, dan juga agama.

Semua itu kian kesini makin  mirip kandang jeruji Baltazar. Semakin hari makin sesak saja.

11 Oktober 2019

Merebut Aku Otentik a la Soren Aabye Kierkegaard

Judul: Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis: Thomas Hidya Tjaya
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi: Ketiga, April 2018
Tebal: XVII+ 178 halaman
ISBN: 978-602-424-850-5

Orang-orang berpikir bahwa dunia ini membutuhkan republik, dan mereka berpikir bahwa yang dibutuhkan adalah tatanan sosial baru, dan agama baru—tetapi tak seorang pun pernah berpikir bahwa apa yang sekarang dibutuhkan oleh dunia, membingungkan tapi sebenarnya juga sudah banyak diketahui, adalah seorang Socrates.

Anti-Climacus,
The Sickness Unto Deatth, Appendix 223

SEANDAINYA Kierkergaard hidup di masa sekarang, ia bakal getol bersuara mengingatkan publik. Seluruh kritik filsafatnya menemukan momentumnya saat ini.

Di ranah individu, manusia kehilangan orientasi didera krisis eksistensi. Di ranah sosial, masyarakat menjadi kerumunan. Kerumunan melenyapkan kepribadian individu yang khas, dinamis dan bebas. 

Di ranah etika, manusia lebih mengutamakan hasrat kenikmatan daripada anjuran moral universal. Di panggung budaya, hasrat mengorientasikan masyarakat ke dalam jebakan konsumerisme. Bahkan di ranah agama, religiusitas terjebak ke dalam formalisme kerumunan dan ritualisme belaka.

Kierkegaard merupakan filsuf eksistensialis. Proyek filosofisnya bertolak dari eksistensi manusia sebagai dasar pemikirannya. Bagi Kierkegaard, filsafat mesti menjadi panduan bagi tindakan manusia. Filsafat bukan argumentasi abstrak yang diidealisasi hingga tidak sama sekali mampu menyelesaikan fenomena konkret manusia. Sesungguhnya, filsafat di mata Kierkegaard adalah jalan tengah yang mendamaikan pilihan-pilihan hidup yang demikian sulit dielakkan.

Dengan kata lain, filsafat bukan bekerja di ranah ”apa itu” (what is that?), melainkan ”bagaimana itu” (what I do?) (hal.63).

Itulah sebab, filsafat Kierkegaard dapat dikatakan filsafat manusia. Tiada filsafat yang bertolak dari manusia, begitu kurang lebih dakuan filsafat Kierkegaard.

Filsafat manusia Kierkeegard nampak terang jika dilihat dari kritiknya terhadap filsafat Hegel. Setidaknya ada tiga wilayah kritik filsuf Denmark ini terhadap Hegel.

Pertama, di mata Kierkegaard Hegel terlampau jauh mendudukkan manusia ke dalam idealisasi pergerakan ruh (sejarah). Bagi Hegel hakikat kenyataan adalah dialektika, dan seluruh kehidupan manusia berpijak atas hukum ini. Manusia dalam pemikiran Hegel senantiasa menemukan ketegangan-ketegangan antara pikiran dan kenyataan. Dialektika antara das sein (realitas pikiran) dan das solen (realitas faktual), dengan kata lain adalah rumus paten segala fenomena dunia.

Walaupun demikian, dialektika Hegel bakal dijembatani pemikiran baru berupa sintesis dari pertentangan sebelumnya. Das sein berupa kedamaian dunia (tesis) dan konfrontasinya dengan perang dunia (antitesis) akan ditengahi kenyataan baru berupa kedamaian abadi (sintesis). Kedudukan manusia dalam kasus ini di mata Hegel adalah bagian perubahan yang disebutnya sejarah ruh.

Dalam arti lain, bagi Hegel, seluruh pertentangan dunia fenomenal merupakan dialektika ruh dalam mengidealisasikan (men-sejarah-kan) dirinya menjadi ruh absolut (ruh sadar diri).

Di titik inilah Kierkegaard meletakkan kritiknya kepada filsafat sejarah Hegel. Bagi Kierkegaard, manusia dalam wilayah sejarah ruh Hegel terlampau teridealisasi menjadi semata-mata abstrak. Kedudukan  manusia seperti ini mengandung kontradiksi sebab manusia di kehidupan sehari-hari berkembang berdasarkan kebutuhan-kebutuhan konkret.

Sejarah manusia bukan manifestasi pergerakan ruh yang bergerak menuju satu telos (sintesis) sembari meleburkan pertentangan-pertentangannya (tesis-antitesis). Sejarah manusia adalah emosi, kegelisahan, kerisauan, kemarahan, cinta, dan benci yang secara personal jauh dari idealisasi ruh absolut seperti pendakuan Hegel.

Dari wilayah ini pula Kierkegaard menyatakan pertentangan manusia tidak dapat sepenuhnya lenyap setelah dikonsitusikan ke dalam sintesa baru. Jika Hegel memandang roh obsolut (sintesis) sebagai tujuan akhir pergerakan sejarah, dan itu bakal mendamaikan seluruh konflik dunia fenomenal (tesis-antitesis), bagi Kierkegaard kemelut pertentangan yang dialami manusia akan tetap eksis.

Dengan kata lain, sepanjang sejarah, manusia tidak sepenuhnya bisa keluar dari pertentangan-pertentangan eksistensial dirinya (hal.53).

Kedua, filsafat Hegel adalah filsafat yang ambisius menempatkan dirinya sebagai satuan sistem tunggal. Dalam arti ini, Hegel ingin mengatasi segalanya melalui sistem ilsafatnya. Ruh absolut yang dikatakan Hegel sebagai tujuan segala pertentangan-pertentangan bakal mendamaikan kenyataan ke dalam eksistensi tunggal yang maha menutupi.

Kritik Kierkegaard terhadap pemikiran Hegel ini ia nyatakan sebagai comical lantaran Hegel terlampau jauh meninggalkan kenyataan konkret manusia. Bagi Kierkegaard, pengalaman manusia tidak dapat diletakkan begitu saja ke dalam satuan sistem gagasan. Atau dengan kata lain, dari tilikan filsafat Hegel yang universalis, pengalaman unik dan khas manusia tidak serta merta dapat digeneralkan ke dalam satuan sistem begitu saja. Pengalaman khas manusia hanya bisa dipahami dari pergulatan hidupnya sendiri. Itu artinya manusia tidak begitu saja mampu diterangkan apalagi dipahami dari kaca mata seperti yang dinyatakan Hegel.

Pemikiran Hegel dinyatakan Kierkegaard mengabaikan termporalitas manusia yang hidup dalam ruang dan waktu. Sistem filsafat Hegel dalam hal ini bakal menghilangkan dinamika konkret kehidupan manusia. Dengan kata lain, sistem filsafat Hegel, tidak sama sekali menempatkan manusia sebagai eksistensi penting sebagai tilikan refleksinya.

Ketiga, fungsi filsafat Hegel dinyatakan Kierkegaard tidak sama sekali berfaedah bagi keputusan-keputusan praktis eksistensial manusia. Filsafat Hegel terlampau spekulatif dan abstrak sehingga tidak relevan menjadi pegangan hidup.

Jika mengajukan pertanyaan ini kepada Hegel ”apa hubungan dialektika sejarah ruh terhadap keputusan Si A memilih pasangan hidup?”, maka nampak sulit menemukan hubungannya. Bagi Kierkegaard, filsafat mesti memproblematisir masalah-masalah manusia, bukan ihwal yang jauh dari kebutuhan praktis manusia.

Dengan kata lain, di mata Kierkergaard spekulasi rasional filsafat Hegel tidak memadai untuk memahami pergulatan eksistensial manusia dalam kehidupan sehari-hari (hal. 65).

Tiga kritik Kierkegaard terhadap filsafat Hegel ini sedikit banyak memperlihatkan kecenderungan orientasi eksitensialisme Kierkegaard. Tesis Kierkegaard atas pemikiran Hegel merupakan turning point yang meletakkan kecenderungan semangat idealisme kepada soal-soal pergulatan konkret manusia. Di mata Kierkegaard, pergulatan eksistensi manusia jauh lebih menantang  diajukan ke dalam refleksi filosofis. Ini akan nampak jelas jika sejarah hidup Kierkegaard ikut jadi pertimbangan mengapa filsafatnya berorientasi eksistensialis.




ALAM pemikiran Kierkegaard tidak bertolak dari titik hampa. Kenyataannya, pemikirannya merupakan refleksi atas situasi yang ia hadapi. Di masa Kierkegaard hidup ada dua keadaan sosial yang menjadi tujuan kritiknya. Pertama adalah crowd, kerumunan (publik). Dan, yang kedua adalah formalisme agama.

Proposal utama filsafat Kierkegaard adalah perjuangan manusia menemukan akar kepribadiannya. Dengan kata lain, dorongan agar manusia bertindak otentik. Otentisitas karena itu merupakan refleksi penting dalam filsafat Kierkegaard.

Kierkegaard menyatakan otentisitas atau keaslian diri mesti bertolak dari subjektivitas. Subjektivitas bagi Kierkegaard hanya berarti jika itu ditopang keyakinan atas kebenaran. Uniknya kebenaran bagi Kierkegaard bukan pernyataan objektif, universal, dan diandaikan ”di luar” atas keselarasan ”pikiran” dan ”objek pikiran”, melainkan sebagai sesuatu yang berhubungan langung dengan dirinya.

Itu artinya kebenaran  adalah hubungan subjektif manusia dengan kebenaran yang ia yakini. Kebenaran dalam hal ini tidak dapat diandaikan dari apa hakikat kebenaran itu sendiri, melainkan seberapa dekat dan taat manusia kepada kebenaran yang dipegangnya. 

Singkatnya, kebenaran bukan dilihat dari sisi kepentingan objeknya, tapi dari sudut bermanfaat tidakkah bagi penganutnya (hal.68).

Itulah sebab, otentisitas dan kepalsuan dalam kerumunan adalah dua wilayah yang tidak dapat didamaikan. Bagi Kierkegaard, otentisitas merupakan pergulatan manusia dengan kebenaran yang dianutnya. Otentisitas hanya bisa diraih melalui usaha manusia menemukan pusat subjektivitas atas keyakinan yang ia pegang.

Bagi Kierkegaard kebenanaran tidak dapat diandaikan ”di luar” manusia, dan tidak ditemukan di permukaan kerumunan, melainkan ”di dalam” kedalaman diri manusia selama ia berusaha bergulat mencarinya.

Masih menurut Kierkegaard, kerumunan, satuan wahana yang menghilangkan subjektivitas manusia. Di dalam kerumunan subjek kehilangan peluang mengemukakan kesadarannya.

Manusia yang tenggelam dalam kerumunan mengalami transformasi dari pribadinya yang unik, khas, bebas, dan rasional menjadi pribadi massa yang monoton, imperatif, dan irasional.

Dari sudut pandang ini, kerumunan mensubordinasi individu sampai ke tingkat nihilistik. Melalui keadaan ini otentisitas individu menjadi tidak mungkin. Otentisitas individu di dalam kerumunan, dengan kata lain, menjadi subordinat hanya sekadar objek kekuasaan.

Kerumunan juga diandaikan Kierkegaard tidak hanya sebagai kelompok atau satuan massa, tapi juga diidentikkan sebagai cara pandang dan sistem nilai mayoritas. Cara pandang ini seringkali menjadi ukuran kebaikan, kebenaran, kesopanan dan kepantasan walaupun tidak sama sekali menyediakan ruang reflektif bagi individu.

Dalam arti ini, subjektifitas manusia hanya merupakan dorongan-dorongan imperatif kelompok yang sama sekali berbeda dari kesadaran individu itu sendiri.

Menurut Kierkegaard, individu yang hidup dalam imperatif kelompok akan menjadi pribadi inotentik. Pribadi inotentik adalah pribadi palsu yang tercerabut dari akar kesadarannya. Atau dengan kata lain, pribadi yang tidak sama sekali memiliki kekuatan reflektif mengenai eksistensinya.

Menariknya, dalam kehidupan Kierkegaard, kerumunan atau publik mendiami wilayah yang sama dengan kehidupan religius masyarakatnya. Artinya, kehidupan umat beragama di masa Kierkegard hidup menggunakan cara pandang yang sama dalam kerumunan. 

Orang beragama disebut religius hanya karena mengikuti ritual mayoritas umat beragama. Dengan bahasa lain, otentisitas yang diinginkan Kierkergaad tidak ditemukan dari cara orang menghayati agamanya. Orang banyak malah terjebak ke dalam ritualisme formal dan pelabelan-pelabelan kelompok bergama.

Masyarakat kehilangan gairah dan kedalaman dalam beragama diibaratkan Kierkegaard seperti orang yang menaiki perahu di atas lumpur. Tidak ada lagi kekuatan yang mampu mendorongnya maju ke tempat-tempat yang dimungkinkan.

”Pernahkah Anda melihat sebuah perahu yang terjebak dalam lumpur? Perahu itu hampir tidak mungkin berlayar lagi karena tidak bisa didayung lagi…Dayung pun tidak dapat mencapai dasar sungai sehingga tidak ada tumpuan untuk menggerakkan perahu. Demikianlah seluruh generasi terjebak di pinggiran akal-budi yang berlumpur…” (hal.77).

Itulah sebab, agama bagi Kierkegaard adalah pengalaman personal individu. Ia pengalaman pribadi yang demikian subjektif. Pengalaman agama bukan sekadar iman hasil konseptualisasi kelompok. Ia mesti merupakan penghayatan yang didorong gelora dan semangat dari kekuatan subjektivitas manusia.

Dengan kata lain, kemampuan publik tempat individu mensubordinatkan dirinya bagi Kierkegaard, tidak bakal cukup membangun pengertian tentang Tuhan. Tuhan bukanlah pengertian dari cara pandang kerumunan. Apalagi hanya sekadar mengandalkan common sense. Tuhan hanya bisa dihayati melalui refleksi subjektif penganutnya. Antara penganut agama dengan Tuhannya sendiri.




EKSISTENSI manusia senantiasa berkembang sesuai cara pandang melihat kenyataan. Seringkali paradigma manusia tidak sesuai dengan kenyataan. Harapan, keinginan, pemikiran, dan cita-cita, yang tidak sesuai kenyataan ini seringkali membuat manusia gamang dan gelisah.

Kegelisahan semakin dalam apabila manusia diperhadapkan kepada berbagai macam pilihan hidup yang masih relatif dan tidak pasti. Itulah sebab, di balik kegelisahan, manusia dituntut memiliki dasar kuat keyakinan otentik agar tidak diombang ambing gelombang samudera kehidupan.

Kierkegaard mengembangkan tiga wilayah eksistensi (spheres of existense) yang menandai perkembangan eksistensi manusia (stages on life’s way). Masing-masing wilayah eksistensi ini  menjadi ziarah manusia di dalam menemukan otentisitasnya.

Pertama, level eksistensi estetis (the aesthetic). Di wilayah ini orientasi kehidupan manusia terpaku kepada sensas-sensasi kesenangan dari objek-objek di sekitarnya. Eksistensi manusia hanya bergerak di level suka tidak suka, senang tidak senang, dan puas tidak puas. Kierkegaard menyatakan keadaan perilaku manusia pada wilayah ini tidak merujuk kepada apa yang baik (good)dan apa yang jahat (evil), melainkan hanya mengedepankan sensasi (aisthesis) perasaan (hal.88).

Wilayah kedua adalah eksistensi etik (the ethical). Model eksistensi ini bertumpu di atas anjuran-anjuran moral. Orang di level ini bertindak atas larangan tertentu yang menganjurkannya apakah boleh atau tidak boleh, pantas tidak pantas, dan layak tidak layak. Di level ini tindakan seseorang tidak lagi diperantai sensasi untuk segera dilakukan, melainkan melalui tahap refleksi akal budi. 

Melalui perantara akal budi inilah tindakan seseorang memasuki pilihan-pilihan yang mengikutkan komitmen dan tanggung jawab di dalamnya.

Eksistensi religius (the religious) merupakan puncak kedua wilayah sebelumnya. Di wilayah ini tanpa mensubordinatkan dua wilayah sebelumnya, eksistensi diri bergerak naik ke level tindakan religius.

Dalam wilayah eksistensi religius, Tuhan menjadi satu-satunya orientasi hidup. Pertimbangan baik dan jahat seperti di level etik tidak lagi memadai menjadi dasar utama bertindak. Tindakan dalam wilayah ini meletakkan orientasi pribadi di atas kedekatan dengan Tuhan. Dengan kata lain, eksistensi diri yang bergerak atas dorongan pribadi, di wilayah religius berubah menjadi ketaatan total kepada tujuan Tuhan.




KEMAMPUAN Thomas Hidya Tjaya menyatakan pemikiran Kierkegaard ke dalam bahasa yang lugas dan mudah dicerna patut dihargai. Buku ini walaupun tidak sepenuhnya memberikan cakupan luas atas pemikiran Kierkegaard, setidaknya sudah lebih dari cukup untuk mengantar pembaca ke dalam ”pergulatan” pemikiran Kierkegaard yang demikian khas.

Eksistensialisme Kierkegaard yang tidak sepenuhnya ateis seperti pemikir eksistensialis lainnya sedikit banyak cocok dengan tujuan berpikir masyarakat kita yang sulit melepaskan pengaruh Tuhan ke dalam seluruh aktivitas masyarakat. Artinya, jika pembaca khawatir menjadi ateis pasca mendalami pemikiran eksistensialis Barat, saya kira Kierkegaard adalah pengecualian. Tidak seperti Jean Paul Sartre, misalnya, Tuhan bahkan entitas penting di dalam eksistensialisme Kierkergaard.

Singkat cerita, buku ini masih relevan dengan suasana kebangsaan belakangan dan masa akan datang. Terlebih lagi buku ini menganjurkan satu adagium yang nyaris terlupakan bagi kehidupan politik, budaya, dan agama: be your self!   

Judul            : Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis         : Thomas Hidya Tjaya
Penerbit        : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi             : Ketiga, April 2018
Tebal            : XVII+ 178 halaman
ISBN             : 978-602-424-850-5


21 Juli 2019

Dialogi Pesona Sari Diri


Judul: Pesona Sari
Penulis: Sulhan Yusuf
Penerbit: Liblitera
Edisi: Pertama, 2019
Tebal: 530 hal
ISBN: 978-602-646-23-1

--Apresiasi buku Pesona Sari Diri karangan Sulhan Yusuf

ALKISAH, seorang pria tampan terpesona melihat cerminan parasnya di permukaan air. Ia lama termangu seolah-olah paras yang ia lihat tiada bandingan sebelumnya. Dalam kisah sastra Yunani klasik, cerita ini diabadikan dalam Methamorposes karangan Ovid. Diceritakan lebih jauh, Narcissus, nama pria rupawan ini, dikutuk dewa karena angkuh terhadap Echo. Ia menolak cinta Echo dan lebih memilih mencintai sosok yang ia lihat di atas permukaan air, yang tiada lain adalah dirinya sendiri.

Narsisme, nama penyimpangan mental dalam psikologi diambil dari kisah Narcissus di atas. Barang siapa yang terpesona dengan dirinya sendiri, memuja-muja secara berlebihan dirinya, dikatakan mengidap narsisme. Kiwari, narsisme sangat gampang ditemui. Fenomena selfie berlebihan adalah contoh mutakhir betapa masyarakat sekarang sadar tidak sadar banyak mengidap mental disorder berupa narsisme.

Buku Pesona Sari Diri karangan Sulhan Yusuf ini, bukan bicara gejala narsisme. Walaupun berpangkal kepada ”diri” sebagai dasar semua karya tulisnya, di buku ini malah secara impilisit mengejek orang-orang pengidap narsisme. Banyak orang terpukau dengan ”diri” fisiknya: paras rupawan, gaya hidup, jabatan, harta dlsb., tapi lupa mengingat ”diri” nonfisiknya: jiwa, ruh, dan akalnya. ”Diri” yang belakangan disebut ini, alih-alih diberikan perhatian lebih, malah dilupakan oleh masyarakat mutakhir belakangan.

Problem mendasar tak kalah dahsyatnya di masa sekarang  adalah masalah otentisitas diri. Banyak masalah di negeri ini yang disinyalemen karena kegagalam masyarakat mengenal dirinya. Pemahaman atas “diri” kian runyam karena kuatnya “otoritas kebanyakan” dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi individu. Orang-orang hanya akan berarti jika ia bersama “massa” dominan dari pada menemukan makna dari perenungan dirinya sendiri.

Dalam esai ketiga di buku ini, Sulhan Yusuf menggunakan istilah unik mengenai  diri, yakni sari diri. Seringkali dalam percakapan kita mengenal istilah jati diri. Istilah ini menunjuk kepada inti kepribadian manusia yang terbentuk dalam waktu panjang. Sebagaimana pohon jati, inti kepribadian inilah yang sejati, kuat, dan asli, karena membawa karakter dasar manusia. Seringkali ada pertanyaan “siapakah engkau?”, atau ungkapan permenungan “siapakah aku?”, yang keduanya sama-sama mencari tahu “jati” diri otentik seseorang.

Esai dengan judul Memberilah Dengan Sari Diri, lebih metafor lagi dari istilah jati diri. “Sari diri” jika membaca esai ini disimpulkan sebagai kemampuan manusia memberikan pemberian terbaik kepada calon penerima. Dalam praktik beri-memberi, Sulhan menganjurkan berilah pemberian kepada orang lain sebagaimana itu adalah dirimu sendiri. Posisikanlah orang lain adalah dirimu yang layak mendapatkan hal terbaik. Sesungguhnya pemberian yang layak, sama halnya bagaimana madu lebah menghasilkan rasa manis bagi lidah pengecapnya.

Anjuran moral demikian banyak ditemukan di hampir semua esai buku ini. Yang tidak kalah menarik adalah esai berjudul Generasi Sofa dan Kentang. Esai ini tanpa tedeng aling-aling mengkritik perilaku individual generasi milenial. Mayoritas generasi sekarang adalah generasi digital native yang dibesarkan di tengah teknologi digital berupa smartphone. Melalui smartphone, generasi milenial dapat ”berkeliling” dunia walau tanpa kemana-mana. Sangat gamblang perilaku demikian dinyatakan Sulhan sebagai generasi yang tinggal duduk di atas sofa sambil mengemil keripik kentang dan telah merasa melakukan banyak hal melalui smartphonenya.  

Generasi sofa dan kentang jika bukan satire, malah dapat disebut ironi. Bagaimana mungkin dari segi usia produktif, generasi milenial lebih banyak berdiam diri menekuri gawainya berjam-jam tanpa henti. Ironi ini justru semakin terasa gaungnya jika generasi sofa dan kentang diidentikkan dengan generasi yang emoh keluar dari zona nyamannya. Saking nyamannya, generasi milenial justru menjadi generasi tanpa tanggung jawab sosial.

Fenomena hijrah dialami hampir di semua lapisan sosial belakangan ini, juga tidak luput dari nukilan buku ini. Menariknya, konsep hijrah tidak semata-mata diartikan sebagai peristiwa perubahan keimanan seseorang menjadi lebih religius belaka. Dalam salah satu esainya, Sulhan Yusuf memberikan konsep lain dari hijrah berupa tonggak perubahan yang terkait dengan perubahan tatanan sosial secara fundamental. Tujuan hijrah sebagaimana Rasulullah melakukannya adalah pembangunan masyarakat egaliter dan setara. Artinya, puncak hijrah seseorang seperti bagaimana nabi melakukannya adalah revolusi sosial.

Nuansa kritis yang ditemukan dalam esai bertemakan hijrah di atas dapat pula dijumpai pada esai lainnya.  Dalam Sepak Bola, Religiusitas, dan Spiritualitas, penulis mengangkat fenomena cara masyarakat beragama dari tilikan religiusitas dan spiritualitas. Menurut penulis, dua hal ini berbeda untuk mengatakan tidak saling memunggungi. Religiusitas adalah doktrin agama yang diwarisi dari para nabi atau padri agama, sementara spiritualitas adalah penghayatan doktrin agama yang dialami pelaku agama itu sendiri. Religiusitas umumnya menampakkan dirinya dari ciri-ciri fisik agama, sedangkan spiritualitas seringkali diukur dari akhlak penganutnya.

Syahdan, Pesona Sari Diri memang bukan bermaksud berkhotbah. Ia malah ditulis seperti orang yang sedang mengobrol. Ringan, jenaka, satire dan kadang-kadang ironi. Karena gaya bahasanya demikian, tidak ada kesan otoritatif dari teks buku ini untuk memaksakan suatu pemahaman kepada pembacanya. Malah buku ini, diam-diam mengajak pembacanya untuk melakukan satu hal yang luput dilakukan selama ini: “Siapakah Aku ini?”

*Telah terbit di Harian Fajar, Minggu 21 Juli 2019


13 Juli 2019

Petualangan Si Lugu dan Voltaire


Judul Buku: Candide
Penulis: Voltaire
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: KPG
Tahun Terbit: 2016
Cetakan ke: Pertama 
ISBN: 978-602-424-160-5

”Untuk apa dunia ini diciptakan?” tanya Candide.

”Untuk menjengkelkan kita,” jawab Martin.


CANDIDE diam-diam adalah novel yang jenaka, tapi juga dibubuhi ironi. Voltaire, penulis buku ini tentu punya maksud tertentu mengapa ia menulis dengan banyak satire di dalamnya.

Cek per cek, ternyata buku ini adalah wujud lain dari pandangan filsafatnya. Dicek lagi lebih dalam, buku ini bukan menceritakan sembarang kisah. Selain menyiratkan kritikan terhadap Leibniz, Voltaire dengan gaya menulis tempo cepat tengah mendedahkan suatu pemahaman berkaitan dengan kosmologi bahwa dunia tidak seperti yang kerap diharapkan. Antara idealitas dan realitas kadang saling memunggungi, bahkan meniadakan.

Candide dilihat dari satu sisi seperti kisah petualangan Don Quixote karya Miguel Cervantes. Bahkan keluguan karakter Candide—namanya saja sudah berarti lugu, mengingatkan saya kepada Schweik, si tentara polos dan tolol ciptaan Jaroslav Hasek. Petualangan dan keluguaan inilah yang banyak mewarnai kisah Candide. Uniknya, keluguan ini bukan keluguan kacang-kacangan. Voltaire mendudukkannya dalam kaitannya dengan filsafat.

Filsafat seringkali dianggap sebagai ilmunya orang-orang yang besar rasa ingin tahunya. Dalam fenomenologi, barang siapa ingin berfilsafat ria, seseorang mesti berperilaku seperti anak-anak kali pertama menyaksikan sesuatu. Polos plus takjub dengan fenomena yang belum pernah disaksikan tiada duanya. Lantaran ketakjuban inilah filsafat baru dapat dimulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang sesuatu.

Candide—sesuai namanya adalah murid lugu dari Pangloss, si jenius filsafat yang hidup di dalam istana. Ia bahkan disebut sebagai filosof paling hebat di seantero Imperium Suci Romawi. Mereka berdua diibaratkan Socrates dengan muridnya, Platon, yang kerap berdiskusi mengenai apa saja. Hanya saja, Candide dan Pangloss versi satire a la Voltaire. Belakangan ketika jalan cerita semakin panjang, akan semakin tampak mengapa Voltaire terkesan mengejek filsafat rasionalis melalui dua figur yang secara ironi mempelajari filsafat.

Kisah petualangan Candide didorong peristiwa yang sebenarnya tidak terduga. Ia ditemukan berciuman dengan Cunegonde, putri seorang baron bernama Thunder-ten-tronch setelah tanpa sengaja berpapasan di balik sebuah ruangan. Malang nasib mereka berdua. Pasca kejadian mesum itu, Candide diusir dari istana tempatnya hidup, dan Cunegonde, yang digambarkan cantik, rupawan, dan bertubuh montok, jadi korban amarah ibunya.

Pasca Candide terusir dari istana, petualangannya tidak akan pernah dapat ia tebak. Semula ia menjadi tentara yang membawanya ke dalam perang yang ia tak pahami seluk beluknya. Ia ditangkap dan kemudian dibebaskan dari hukuman 2000 resimen karena dipandang raja sebagai orang dengan kemampuan ahli metafisika. Kemudian ia melarikan diri dan sampai di Portugis dengan sebelumnya berjuang dengan kapal yang karam. Di perjalanan itu ia bertemu kembali Pangloss, guru filsafatnya yang ternyata menjadi gelandangan.  Di Lisabon mereka dihukum otoritas setempat. Pangloss mati digantung sedangkan Candide masih beruntung diselamatkan seorang nenek dengan kisah pilu tentang sejarah hidupnya.

Paris, Peru, Portugal, Venezia, Konstantinopel adalah garis panjang petualangan Candide. Ia digambarkan Voltaire persis sebagai bidak catur yang bergerak tanpa kendali sama sekali. Kemana mata angin nasib berembus ke sanalah Candide berada.

Tampaknya, ini bukan seperti petualangan sungguhan yang digerakkan keinginan kuat mengembara. Alih-alih Candide adalah ejekan jika dikaitkan dengan kehendak rasional manusia, sebab petualangannya banyak didorong oleh faktor x di luar dari kenginannya.  

Petualangan Candide yang diombang-ambing peristiwa yang tak dikehendakinya merupakan antinomi bagi filsafat yang menyakini segalanya telah diatur secara presisi. Tidak ada yang melenceng sama sekali. Apa pun kejadiannya, entah keburukan atau sebaliknya, semuanya adalah panorama takdir yang sudah diatur sebaik-baiknya.

Dengan kata lain, optimisme, jantung dari filsafat yang melihat jagad raya sepenuhnya adalah kebaikan, hanyalah secercah kilatan yang tidak menggambarkan kenyataan sesungguhnya. Justru, Candide si naif, banyak menemukan pengalaman yang bersebarangan tidak seperti diajarkan guru filsafatnya.

Petualangannya yang sesungguhnya merupakan kisah pelarian dari satu marabahaya ke marabahaya lainnya, malah membuka cangkang pemahamannya: pembunuhan, peperangan, pemerkosaan, eksekusi mati, perbudakan, adalah satu sisi dunia yang tidak selamanya dapat dinafikan begitu saja.

Dalam salah satu adegan perjalanannya, Candide bertemu Martin, seorang penganut manicheisme, filsafat tua Persia yang melihat alam semesta dikuasai dua kekuatan yang saling bertentangan. Mereka berdiskusi mengenai kebaikan dan keburukan sampai limabelas hari berturut-turut di atas kapal dengan kesimpulan seperti hari pertama. Di sini dengan penggambaran macam demikian, filsafat bagi Voltaire bukan usaha percakapan yang bertele-tele, tapi lebih mengedepankan tindakan nyata.

Bagaimana mungkin tanpa putus limabelas hari, diskusi hanya membawa kesimpulan yang tidak berkembang sama sekali. Sia-sia belaka.

Candide, walau bagaimanapun secara tidak langsung menarasikan betapa manusia terlampau lugu jika tidak menarik pemahamannya di dalam kenyataan itu sendiri. Ibarat seseorang yang berdiri di atas menara tanpa pernah tahu dengan pasti bentuk dan rupa pasir pantai sesungguhnya.

Manusia mesti bergerak melalui tindakannya, tanpa mesti terlarut dalam eksplanasi filosofis yang kelewat panjang.

Setelah tiba di Istanbul dan melewati duka lara di sepanjang perjalanan mereka, Candide, Martin, dan si guru filsafat yang ternyata tidak mati, Pangloss, akhirnya menghentikan diskusi-diskusi filsafat mereka.

”Mari kita bekerja tanpa banyak berdiskusi…. Itulah satu-satunya cara agar hidup kita ini lebih tertanggungkan.”

02 Juli 2019

Merasakan Kibasan Bertarung Dalam Sarung


Judul Buku: Bertarung Dalam Sarung
Penulis: Alfian Dippahatang
Penerbit: KPG
Tahun Terbit: 2019
Cetakan ke: Pertama  
ISBN: 978-602-481-100-6

PENDEKATAN saya dengan buku ini tidak seperti buku-buku lain. Di toko buku, saya cenderung memilih buku karena tema utamanya. Terkadang juga mencari unsur kebaruan dari buku-buku yang lebih belakangan terbit. Atau mengejar karangan-karangan dari penulis-penulis yang saya favoritkan—tapi seringkali semua itu gugur selama persediaan kantong terbatas :).

Bertarung Dalam Sarung saya pilih—dari sekian banyak pilihan—bukan karena alasan-alasan di atas, walaupun ia tergolong judul baru dalam khazanah kesusastraan Tanah Air (Dari segi ini bayangkan berapa banyak judul buku baru dicetak setiap harinya?).

Bertarung Dalam Sarung ditulis oleh orang yang berasal dari daerah yang sama dengan saya: Bulukumba. Walaupun nama Alfian Dippahatang sudah lebih dulu santer dikenal di jagad kepenulisan Makassar maupun nasional.

Bulukumba, biar bagaimanapun adalah semesta yang lain bagi saya. Saya lahir di tanah para expert pembuat Pinisi, tapi merasa jauh dengan adat istiadatnya, budayanya, orang-orangnya. Saya dibesarkan jauh di tanah rantauan. Sejak kanak-kanak Bulukumba hanyalah titik kecil yang sering saya dengar dari percakapan orang tua. Di Kupang, Bulukumba hanyalah nama asing .

Didorong motif kedaerahan itulah, saya memutuskan berhak mengoleksi buku kumcer pertama Alfian ini. Barangkali saja, sedikit banyak ada tradisi mayarakat Bulukumba diceritakan dalam kumcer ini.

Akan menarik bagaimana melihat hubungan penulis dalam melihat daerahnya sendiri melalui karya sastra. Terlebih lagi, bagi saya, kebudayaan masyarakat Bulukumba merupakan dunia khas dengan adat lokalitasnya. Dua hal ini, yakni sastra dan lokalitas, akan lebih menarik jika dipertautkan.

Walaupun mesti diakui, dua buku sebelumnya, Semangkuk Lidah dan Dapur Ajaib, adalah dua karangan awal Alfian, namun tetap saja, Bertarung Dalam Sarung-lah yang lebih menarik perhatian saya. Faedahnya bagi saya, langsung tidak langsung melalui sastra dapat membuka sudut baru mengenai Bulukumba (dan atau Sulawesi Selatan) dari segi-segi fiksi yang ditawarkan buku ini.

Sampai saya menulis ulasan ini, belum semua kumcer BDS saya tuntaskan. Awalnya saya hanya melihat-lihat judul-judul yang terpampang melalui daftar isi. Sembari dengan bebas berusaha menerka-nerka bagaimana jalan ceritanya kelak. Nama penulisnya menjadi taruhannya di sini, mengingat ada beberapa catatan penghargaan penulisan yang diraih pemuda asli Bulukumba ini.

Akhirnya saya hanya sampai menuntaskan 6 karangan pertama dan 1 judul yang saya pilih secara acak.  Berturut dimulai dari karangan bertitel Ustaz To Balo, Nenek Menerawang dan Ibu Memburu, Jangan Keluar Rumah Saat Magrib, Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa Kecil, Bukan Sayid, Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata, dan pilihan acak tadi: Mayat yang Menceritakan Kematiannya (dan dua cerita lain yang saya baca kemudian).

Sampai di sini mafhum akan segera dipahami. Ulasan ini tidak akan keluar dari konteks cerita yang sudah saya baca di atas. Artinya, jika disebut resensi, catatan ini bukanlah ulasan lengkap mengenai keseluruhan isi buku ini. Biarlah tugas itu diambil alih peresensi-peresensi lainnya. Toh ini hanya dilatarbelakangi kesukaan menulis apa saja yang bisa saya tulis tentang buku-buku yang saya baca—walaupun tidak semua buku, tentunya.

Mungkin ada pengaruh ekspektasi awal saya mengenai buku ini. Sebab, saat membaca cerita Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata, seketika rasa bosan menghinggapi. Sontak pengalaman membaca saya tidak berkesan seperti saat membaca karangan-karangan pengarang lainnya.

Cerita Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata dituliskan Alfian melalui dua kisah yang terpisah tapi masih dalam satu cerita. Ketika dibelah cerpen ini menceritakan Rungka, seorang anak hasil hubungan gelap ibunya, yang ingin menggali dan mengambil kembali tubuh ibunya dari kuburan.

Diceritakan semenjak kepergian ibunya, Rungka  menjadi bulan-bulanan Puto, ayahnya. Hampir semua pertengahan cerpen ini diisi ”dialog” Rungka dengan Ibunya, yang diceritakan hanyalah tanya jawab tanpa saling terhubung lantaran perbedaan dunia antara keduanya. Rungka sering datang ke makam ibunya, dan di saat-saat itulah ia sering ”bercakap-cakap” dengan ibunya melalui sebilah bambu yang ditancapkan di tanah kuburannya.

Kisah kedua, Alfian mengisahkan latar belakang kelahiran Rungka. Ibu Rungka diceritakan berkeputusan bersetubuh berkali-kali dengan Tamrin, saudara Puto secara diam-diam. Tindak gila ini bermaksud agar Ibu Rungka dapat mempersembahkan seorang anak dari hubungannya dengan Puto. Puto dikisahkan mandul, dan Ibu Rungka ingin memiliki momongan dengan atas nama Puto tapi dengan mengambil benih dari Tamrin saudaranya.

Cerita Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata terlalu betele-tele dari segi dialog, dan terkesan tidak alami seakan-akan betul-betul terjadi—ini yang membuat saya sebagai pembaca merasa bosan. Dari segi ini, saya bertanya-tanya apakah ada seorang anak yang bakal menggali kuburan ibunya setelah merasa tidak bahagia hidup bersama ayahnya? Perbuatan tidak lazim ini, apa pun alasannya belum ada presedennya dalam kehidupan nyata.

Cerita ini ditutup dengan ending yang aneh untuk tidak mengatakan biasa-biasa saja apalagi jelek. Ukurannya dapat dilihat dari Rungka yang begitu saja menginggalkan mayat ibunya ketika ia mendengar suara Puto dari jauh yang memaki-maki entah untuk siapa. Jika menimbang-nimbang dimensi psikis Rungka yang diceritakan sangat ingin membawa pulang ibunya setelah menggali kembali kuburnya, seharusnya apa pun yang terjadi ia tidak begitu saja meninggalkan mayat ibunya. Dalam cerita ia malah mengabaikan perasaan cintanya kepada ibunya sendiri.

Keanehan kedua ditunjukkan dari perlakuan Puto atas mayat Ibu Rungka yang ditinggal lari begitu saja oleh anaknya. Puto tiba-tiba malah menendang  mayat Ibu Rungka, dan dinyatakan telah membunuh Tamrin. Dari sisi ini, saya merasa janggal apa dasar utama perlakuan Puto atas pembunuhan Tamrin (di sini saya tahu Alfian ingin menggiring imajinasi pembaca bahwa tindakan kasar Puto karena mengetahui hubungan gelap Tamrin bersama Istrinya) dan sikap kasarnya kepada mayat istrinya, mengingat disepanjang cerita ia bukanlah figur utamanya. Apa hubungannya dari jalan cerita yang berkisah tentang harapan Rungka untuk menemui mayat ibunya dengan sikap Puto yang kasar itu, yang malah menjadi bagian ending ceritanya.

Yang juga mengganjal dari cerita ini adalah tidak dinarasikannya sebab kematian Ibu Rungka. Ia dari awal sudah diceritakan meninggal tapi tidak sama sekali ada petunjuk mengapa ia mati. Kekosongan sebab ini malangnya bukan menjadi jalan cerita yang saya yakini akan lebih menarik untuk dikisahkan oleh karena pembaca dari awal sudah disuguhi tokoh yang terlebih dahulu mati. Alfian justru bercerita mengenai dialog-dialog antara Rungka dan Ibunya, serta Ibu Rungka dan Tamrin—yang dalam dialog ini justru masih menggantung tentang apa alasan Ibu Rungka enggan bertobat, sesuatu yang dikehendaki mati-matian oleh Tamrin dengan cara mendesaknya?

Satu hal yang juga tidak prinsipil mesti dinarasikan secara langsung adalah adegan seksual Ibu Rungka dan Tamrin. Bahkan di bagian mereka bersetubuh terkesan diceritakan vulgar dan merendahkan perempuan. Alfian mungkin lupa, cerita dengan menyebut langsung suatu detail peristiwa bakal mengurangi efek imajinatif pembacanya. Justru, saat Alfian menceritakan adegan persetubuhan Ibu Rungka bersama Tamrin dengan spesifik tertentu, alih-alih membuatnya menarik, malah sebaliknya, cenderung mesum setingkat dengan cerita-cerita seksual di situs-situs cerita seks orang dewasa.

Hal lain lagi yang mesti diperhatikan dari cerita ini adalah hubungan judul dengan isi dalamnya. Sepanjang saya membaca kembali cerpen ini, saya malah tidak menemukan isyarat satu pun mengapa Ibu Rungka enggan bertobat, padahal disebutkan dalam judulnya, bertobat tak seperti mengedipkan mata. Lantas jika sebuat cerpen seringkali menerangkan motif-motif para tokoh ceritanya, malah di cerita ini tidak ada sama sekali satu pun motif yang menjelaskan seperti yang menjadi judul cerpen ini.

Sebagaimana Faisal Oddang, Alfian juga nampak memiliki obsesi memanfaatkan kekayaan budaya sebagai elemen penting dalam setiap ceritanya. Beberapa nampak terasa semisal dalam cerita Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa kecil. Dalam cerita ini tradisi nyanyian pengantar tidur anak yang sering dilakukan ibu-ibu Bugis- Makassar menjadi salah satu adegan dalam cerita yang diangkat. Dengan kata lain, elemen lokalitas dalam cerita ini bukan sekadar embel-embel yang menjadi ornamen dalam cerita.

Berbeda misalnya dari beberapa cerita yang saya baca di atas, unsur lokalitas malah hanya diberlakukan sebagai tempelan belaka, alih-alih menjadi kekuatan ceritanya. Hal ini dapat dibuktikan dari cara Alfian menyusupkan warna lokalitas hanya dari segi penggunaan diksi belaka. Dengan kata lain, jika diksi lokal itu diubah dengan bahasa Indonesia atau dihilangkan tidak akan mempengaruhi jalan isi cerita bersangkutan. Berbeda misalnya,  jika unsur lokalitas itu dinarasikan menjadi bagian atau inti cerita, maka jika ia dihilangkan maka akan dengan sendirinya mengubah dan atau merusak isi cerita itu sendiri.

Dalam hal ini jika nuansa lokalitas menjadi jualan Alfian, menurut saya itu belum sepenuhnya disanggupi. Walalupun akan kita temukan juga dimensi lokalitas di satu dua ceritanya, semisal Bertarung Dalam Sarung yang memang tradisi sigajang laleng lipa’ menjadi tulang utama ceritanya.

Hal yang sama juga ditemui dalam cerita Bissu Muda. Malah bisa dikatakan cerita ini lumayan berhasil mengangkat tradisi sebagai bagian penting narasinya. Dengan kata lain tradisi yang mewakili unsur lokalitas dalam cerita ini hadir sebagai unsur intristik yang menjadi batang tubuh ceritanya.

Hal menarik dari Bissu Muda adalah konflik yang terjadi di dalamnya. Dalam hal ini tegangan itu diwakili dari konflik Suhdi sebagai bissu muda yang mesti mengemban amanah nilai-nilai bissu dengan dorongan perasaannya yang menyukai seorang pria yang sebenarnya adalah pantangan bagi seorang bissu. Dari sisi ini timbul pertanyaan, bagaimanakah adat tradisi mendudukkan unsur intristik manusia berupa hasrat seksualiatasnya yang sebenarnya manusiawi? Apakah ia mesti dikorbankan demi tegaknya kemapanan adat atau sebaliknya?

Seperti pada umumnya karangan yang mengedepankan nuansa lokalitas, hanya ada dua pilihan ketika ia diangkat dalam karya sastra: mengafirmasinya atau justru menolaknya dengan cara melayangkan kritik terhadapanya. Unsur lokalitas, baik adat istiadat, kearifan lokal, dan tradisi, biar bagaimanapun adalah seperangkat ajaran yang bakal berhadap-hadapan dengan kehidupan modern yang cenderung melihat tradisi sebagai dunia lama yang mesti ditanggalkan di kehidupan kini dan  masa depan.

Kalau melihat beberapa pertimbangan di atas, cerpen Bertarung Dalam Sarung adalah cerita yang sedikit banyak berhasil memberlakukan tradisi sebagai sesuatu yang layak dikritik. Dengan kata lain, cerita ini telah menjadi medium wacana  dalam mendudukkan tradisi di hadapan kaca mata orang-orang modern melihat masa lalu.

Inti cerita Bertarung Dalam Sarung adalah adegan pertarungan dua orang lelaki Bugis yang berusaha mempertahankan harga dirinya melalui tradisi sigajang laleng lipa’. Tindakan ini didorong kisah percintaan antara Cenning  dengan dua lelaki Bugis bernama Tarung dan Bombang. Kisah yang juga mengangkat tradisi perjodohan ini berakhir dengan kematian dua lelaki Bugis.

Yang unik, gaya penuturan kisah ini diutarakan melalui sudut pandang tokohnya yang berupa selembar sarung Bugis. Sepanjang kisahnya, penceritaan sarung banyak mengutarakan keluh kesahnya terhadap pilihan orang tua Cenning menjodohkan anaknya. Malangnya pilihan itu harus diputuskan melalui adat sigajang laleng lipa’ untuk memutuskan siapa yang layak mendapatkan anaknya. Dari perspektif ini, Alfian secara tidak langsung mengajukan kritik terhadap tradisi yang dinilai tidak beradab ini.

Dengan kata lain, keluhan tokoh sarung mempertanyakan cara Ibu Cenning menggunakan sigajang laleng lipa’ demi memutuskan suatu keputusan, adalah juga mewakili perspektif yang lebih manusiawi ketika menghadapi persoalan yang sama. Akhir cerita ketika dua lelaki Bugis yang tewas saling tikam adalah kesimpulan bagaimana tradisi macam demikian hanya menyisakan kekalahan bagi semua pihak. Dalam hal ini Cenning tidak dapat menikahi pemuda pilihannya, begitu pula Ibu Cenning tidak dapat mengawinkan anaknya dengan pemuda dikehendakinya, lantaran keduanya sama-sama tewas mempertahankan harga diri.

Tradisi demikian ibarat kata pepatah menang jadi arang kalah jadi abu. Begitulah intinya.

Kumcer Alfian Dippahatang ditulis dalam jarak tahun yang tidak berjauhan (2017-2018) dengan tema tidak jauh dari kebudayaan Sulawesi Selatan, yang karenanya memiliki sisi negatif berupa minimnya ruang refleksi atas tema besar yang sering diangkatnya—yang belakangan jadi tren bagi penulis-penulis yang memiliki latar kebudayaan unik (satu hal penting jika ingin dilirik oleh dunia luar/internasional).

Walaupun demikian, sebagian besar cerpen yang mendapatkan penghargaan dalam kumcer ini,  minimal sudah bisa menjadi salah satu alasan mengapa buku ini layak dibaca. Meskipun itu bukan jaminan kumcer ini mendatangkan kepuasan bagi pembacanya.

***

Tayang sebelumnya di Kalaliterasi.com


25 Juni 2019

Nelayan Itu (Tidak) Berhenti Melaut


Judul Buku: Nelayan Itu Berhenti Melaut
Penulis: Safar Banggai
Editor: Alfin Rizal
Penerbit: Pojok Cerpen
Tahun Terbit: 2019
Cetakan ke: Pertama  
ISBN: 9786025350337

DUA cerpen awal kumcer ini saya baca di sebuah warkop ketika hari jelang sore. Setelah membelinya, saya memilih rehat dari kerumunan kendaraan yang menggila di atas bara aspal. Makassar, jelang sore adalah kota sibuk. Di jalan raya, seolah-olah semua sedang diburu sesuatu mendesak yang seketika sesak.

Saya tidak bisa menahan tidak sesegera mungkin membaca buku karangan Safar Banggai. Kiprah kepenulisannya sedikit banyak sering saya lihat melalui layar Fb. Safar orang Luwuk Banggai. Ia kini mengabdikan dirinya di dunia kepenulisan Yogyakarta. Di sana Safar menghibahkan dirinya sepenuh-penuhnya untuk dunia literasi.

Sebagian masyarakat Banggai, daerah asal Safar, banyak hidup di atas lautan. Hidup sebagai nelayan dan mati sebagai nelayan pula. Sebagian besar mereka sudah turun temurun hidup bersama laut.

Semua tema dalam kumcer Safar ini mengambil latar masyarakat pesisir—peristilahan yang kurang tepat mengingat masyarakat Banggai lebih banyak tinggal di atas air lautan. Satu tema yang unik mengingat sependek pengetahuan saya, tema masyarakat laut masih jarang dinarasikan melalui sastra. Apalagi, mengingat ini adalah Banggai, suatu daerah yang seringkali luput dari perhatian masyarakat daratan.

Nelayan Itu Berhenti Melaut sudah dari awal menanam rasa penasaran. Bagaimana mungkin nelayan yang berhubungan secara organik dengan lautan berhenti melaut? Apa sebab utama, nelayan, salah satu ”profesi” tertua di Nusantara memunggungi semesta tempatnya mencari kehidupan?    

Berbekal rasa penasaran saya mulai membaca cerpen pertama yang kebetulan bertitel sama dengan kumcer ini. Rasa kopi khas warkop langganan menambah sensasi imajinatif menangkap dunia fiksi ciptaan Safar melalui gaya kalimat padat dan langsung.

Nelayan Itu Berhenti Melaut adalah cerita dengan tokoh nahas. Seorang pemuda yatim piatu bernama Atam. Ia berhenti melaut lantaran cintanya ditolak. Siti, perempuan dambaan Atam, ogah menjadi tambatan jangkar cinta Atam.

Siti lebih menyukai pria tampan sekaligus berasal dari kota.

Cinta Atam cinta buta sekaligus pincang. Atam buta mencintai Siti, gadis berpendidikan tinggi dari keluarga terpandang di Kampung Nelayan. Atam hanya pemuda nelayan miskin yang lebih sering pulang tanpa ikan tangkapan.

Cinta Atam disebut pincang karena tak membantunya mampu memangkas jarak stratifikasi sosial yang jauh di antara keduanya.

Cintanya kepada Siti seperti orang laut Banggai melihat daratan. Jauh sekaligus asing.

Tapi walaupun begitu, kisah Atam tidak berhenti seketika. Cinta Atam cintanya orang-orang lautan. Keras dan pantang mundur. Seolah-olah mengafirmasi prinsip masyarakat nelayan: masalah di lautan jangan dibawa sampai ke daratan. Begitu juga sebaliknya. Selama ia belum menuntaskan cintanya di daratan, selama itu pula ia enggan menghirup aroma laut. 

Nasib sial lain Atam juga dialami dalam kisah Mengubur Kenangan. Setelah ia ditolak Siti kali kedua ia dipecundangi anak Pak Haji. Anak Pak Haji dalam Mengubur Kenangan bahkan diceritakan enggan melihat Atam. Ia bakal tertawa melihat ompong dua gigi di wajah Atam.

Kisah kehilangan dua gigi Atam diceritakan Safar melalui mitos khas masyarakat nelayan. Sering dipercayai, ketika seseorang bermimpi dua giginya tanggal, menandai akan ada orang terdekat segera mangkat.

Di kisah Mengubur Kenangan, melalui Atam, Safar seolah-olah sedang melawan irasionalitas mitos. Atam dikisahkan mencabut sendiri giginya setelah terbangun dari mimpinya. Ia ogah mimpi serupa bakal terulang. Itu artinya tidak ada bakal mati hanya karena urusan dua gigi tanggal dalam mimpi.

Persamaan kisah cinta Atam dalam dua cerita di atas—Nelayan Itu Berhenti Melaut dan Mengubur Kenangan—adalah cinta yang dilatarbelakangi perbedaan status sosial. Baik Siti maupun Anak Pak Haji bukanlah cinta yang dilatarbelakangi nuansa lautan tanpa batas dan embel-embel, melainkan sudah disapu budaya kota: harta dan kedudukan sosial.

Cerita Dua Perempuan Untuk Satu Lelaki tersirat mengutarakan problem sering dialami kaum perempuan nelayan. Ada anekdot barang siapa menjadi pelaut kemungkinan memiliki lebih satu istri dari pulau berbeda. Jika tidak, masih ada risiko lain. Selain ditinggal pergi kerja ke luar negeri, istri-istri nelayan harus siap apabila sang suami ditelan kedalaman laut lepas.

Efek dari kehilangan suami bisa berbuntut panjang terutama bagi kebutuhan tubuh. Begitulah pengalaman si Aku dalam kisah ini. Yang menarik ia tidak sendiri. Sahabat dekat si Aku mengalami nasib serupa. Suatu hari si Aku tidak tega melihat sahabatnya kebelet berhubungan badan. Sesama perempuan, ia paham perasaan sahabatnya.  Itulah sebabnya setelah mendapatkan persetujuan, demi sahabatnya, ia rela berbagi tubuh suaminya.

Eksplorasi tubuh juga ditemui dalam Perempuan Yang Membuang Jala—hal yang sama dalam Makan Mayat Manusia, cerpen kedua. Di kisah ini tubuh perempuan digambarkan anomali. 10 tahun tubuh Dewi, tokoh kisah ini, tidak mampu melahirkan keturunan. Kontras dengan kemampuan tubuh Atam, suami Dewi, yang perkasa di atas ranjang.

Tubuh Dewi dalam hal ini adalah korban. Sebagai perempuan ia jadi objek seksual Atam. Sebagai istri, tubuhnya enggan beregenasi. Mandul.

Puncak anomali tubuh perempuan, dikisahkan Safar, setelah tubuh Dewi mencerna ramuan sanro atas inisiatif suaminya. Tubuh Dewi menunjukkan gejala tak biasa. Tak dikira, Dewi mengandung dan melahirkan ikan ketambak.

Seperti dapat ditemui dalam masyarakat perairan sungai—di Sulawesi selatan, percaya tidak percaya ada perempuan yang melahirkan buaya—Safar mengingatkan kepada pembaca mengenai kejadian-kejadian aneh yang kerap ditemui pada masyarakat pinggiran sungai.

Cerpen terakhir buku ini menuturkan kesenjangan antara tradisi masyarakat laut dengan kebudayaan di luarnya—yang juga ditemukan dalam Leppa. Hubungan ini ditunjukkan dari sosok peneliti dengan masyarakat laut. Sang peneliti asing mewakilkan kemajuan peradaban yang menatap asing asal usul masyarakat lautan. Sayangnya kesenjangan itu membuat masyarakat lautan sebagai objek ilmu pengetahuan dengan kesimpulan penelitian yang aneh: asal usul masyarakat laut adalah ikan-ikan.

Kesimpulan aneh ini membalikkan prasangka yang selama ini disematkan kepada peradaban modern. Ternyata orang berpendidikan juga masih diliputi takhayul. Mana ada asal-usul suatu masyarakat berasal dari ikan-ikan?  

Pada akhirnya 12 cerpen ini nyatanya adalah hasil tangkapan penulis dari masyarakat nelayan tempat ia sendiri berasal. Nyatanya nelayan itu tidak berhenti melaut.  

18 Juni 2019

Eka Tak Ada Mati


Judul: Cinta Tak Ada Mati
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Kedua, 2018
Tebal: 153 halaman
ISBN: 978-602-03-8635-5

PAMUNGKAS Cinta Tak Ada Mati adalah Cinta Tak Ada Mati. Cerpen ketiga sekaligus judul keseluruhan 13 cerpen Eka ini.

Kisah CTAM bercerita tentang kesetiaan seorang lelaki kepada perempuan yang dicintainya bertahun-tahun lamanya.  Mardio, nama lelaki itu, rela menghabiskan usianya hanya karena cintanya kepada Melatie, perempuan yang dicintainya sejak dari masa kanak-kanak. Hingga ia berusia tua, dan juga Melatie yang lebih memilih seorang dokter dan hidup damai dengan cucu-cucunya yang lucu-lucu, tidak membuat cinta Mardio kadaluwarsa. Cinta Mardio bahkan dalam ukuran tertentu sudah menyerupai cinta Platonik.

Kisah CTAM merupakan cerpen terpanjang dalam kumcer ini. CTAM juga ditutup dengan ending yang memukau sekaligus di luar imajinasi pembaca—terutama saya.

Satu hal yang membuat cerita ini menjadi menarik adalah penceritaan kisah yang mampu mengulur endingnya hingga di waktu yang paling tidak diduga. Dalam hal ini Eka alih-alih menyudahi ceritanya di bagian ketika Melatie diketahui meninggal dan membuat Mardio berhenti mencintainya, melainkan Eka masih meneruskan dan memperdalam penceritaannya dengan membuka kemungkinan-kemungkinan alur baru dan endingnya.

Dalam hal ini walaupun kisah CTAM hanya berpusat kepada ide mengenai jalan kisah Mardio yang mati-matian mencintai Melatie, nyatanya Eka tidak kehabisan “gagasan tambahan” dalam mengembangkan ceritanya. Dengan kata lain, jika saja Eka tidak bersetia pada gagasan utama cerita ini, mungkin saja cerita ini bakal berkembang menjadi novelet atau bahkan, novel.

Nampak sekali bagaimana Eka bukan sekadar menggunakan judul ”cinta tak ada mati” sebagai penandaan atas cinta Mardio yang tidak lekang walaupun Melatie sendiri sudah terlebih dahulu mati.

Cinta tak ada mati dengan kata lain, juga sebagai metafora bagaimana yang namanya cinta sejati memiliki konsekuensi melampaui tubuh kekasihnya. Ia merupakan sekelumit prinsip yang bahkan tidak jelas batas akhirnya.

Bahkan, cinta sejati kalau dapat dikatakan buta, adalah kekuatan yang memiliki kemampuan menghilangkan batas-batas dan embel-embel.

Salah satu isyarat bagaimana cinta itu menjadi rumit untuk tidak dikatakan buta, dialami Mardio khusus pada ending cerita ini. Jawaban atas ini dimaksudkan Eka ketika Mardio ”mencari” sisa-sisa cintanya pada tubuh mantan suami Melatie. Mardio rela bergumul dengan tubuh pria demi merasakan cinta Melatie.

”’Paling tidak izinkanlah aku memperoleh yang tersisa dari perempuan itu.’ Air matanya bercucuran deras, dan di tengah kesedihan penuh nostalgia ia mencium bibir si dokter, mencari jejak-jejak Melatie di sana, melepaskan yang tertahan sepanjang enam puluh tahun.” (hal.59)

Dalam kehidupan nyata apakah ada orang seperti Mardio yang dengan setia tergila-gila memendam hasrat cinta dan cita-cita kepada satu perempuan? Hingga umur memakan tubuhnya sampai ringkih?

Secara tersirat, CTAM mendudukkan perempuan sebagai figur penting dalam relasinya dengan tokoh utama ceritanya. Satu hal yang juga sama-sama berlaku dalam Kutukan Dapur, cerita pembuka dari kumcer yang dicetak ulang ini.

Dalam Kutukan Dapur bahkan memuat sisi kekuasaan perempuan walaupun ia mesti bekerja dari wilayah yang tidak pernah diduga banyak orang: dapur.

Kutukan Dapur adalah cerita yang mendialogkan dua perempuan dari dua generasi yang jauh. Tokoh kisah ini bisa dikatakan diisi oleh dua perempuan sekaligus, yakni Maharani dan Diah Ayu.

Maharani adalah sosok perempuan modern dengan segala keterbatasannya jika berada di dalam dapur. Ia selama bertahun-tahun hanya mampu membuat anak, menyiapkan sarapan pagi, makan siang, dan malam. Namun, hal itu tidak membuatnya dapat mahir memanfaatkan bahan-bahan dapur demi menghasilkan makanan yang berkesan di lidah.

Itulah sebabnya di awal cerita ini, Maharani dikisahkan sudah berada di perpustakaan untuk mencari resep-resep masakan, yang tanpa ia sadari dalam pencariannya itu terseret dalam khazanah sejarah yang menceritakan seorang sosok perempuan di masa lalu, yang melalukan pemberontakan kepada orang-orang Belanda dari belakang sepetak dapur.

Namanya Diah Ayu, yang dalam pencarian Maharani adalah perempuan pemasak yang dipekerjakan tuan Belandanya, yang ulung memanfaatkan bumbu-bumbu masakan. Ia bahkan mampu meracik makanan dengan menyamarkan racun di dalamnya. Suatu hal yang ia lakukan secara serempak setelah ia mengajarkan pembantu-pembantu juru masak suatu resep rahasia yang mampu membunuh orang.

Hingga terjadilah kejadian yang aneh. Di hari Kamis ditemukan banyak orang Belanda mati tanpa diketahui sebab musababnya.

Dalam cerita, kematian misterius itu sudah direncanakan dari dapur-dapur juru masak pribumi melalui makanan yang diajarkan Diah Ayu.

Catatan sejarah ini, akhirnya memberikan kesadaran baru bagi Maharani. Ia menyadari perlawanan perempuan jika mendapatkan perlakuan tidak adil, dapat dibangun dari dapur sekalipun.

Sadar tidak sadar, Kutukan Dapur dan nantinya bakal pula ditemui dalam cerita Lesung Pipit, menjadi pembanding bagi kepenulisan Eka yang tidak sedikit yang menuduhnya penulis misoginis. Suatu hal yang ditemui dari Cantik itu Luka,  ataupun Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Alhasil Kutukan Dapur dan Lesung Pipit adalah dua cerita yang mengusung semangat perlawanan perempuan kepada tirani budaya patriarki. Uniknya, ketimbang memanfaatkan embel-embel atau penandaan modernisme, Eka malah memulainya dari wilayah dan hal yang sering dianggap musuh feminisme: dapur dan keperawanan.  

Dapur dan Keperawanan dalam dua cerita Eka ini dengan kata lain bukan seperti imajinasi feminisme Barat yang kerap dijadikan biang keladi dari kemunduran kaum perempuan, justru dalam ceritanya, dua penandaan perempuan ini diradikalisasi sedemikian rupa yang menjadi modus dari perlawanan perempuan.

Kelihaian Eka dalam menghidupkan suasana psikis tokoh ceritanya ditemukan dalam cerita berjudul Surau.

Inti cerita Surau sebenarnya berisi pergolakan iman si Aku ketika berhadapan dengan Surau, tempat ibadah yang jarang dikunjunginya. Dalam perjalanan pulang, si Aku tak dinyana mesti berteduh di teras Surau yang tidak jauh dari rumahnya lantaran terjebak hujan.

Di sinilah bermula ”percakapan” si Aku dengan hatinya. Ia dilema apakah harus salat atau tidak mengingat kebetulan tak ada yang bisa diperbuatnya selain menunggu hujan reda.

Surau adalah cerpen Eka tanpa dialog. Ibarat pantomim, si Aku adalah satu-satunya pusat perhatian pembaca dalam rangka apa yang bakal terjadi di akhir cerita nanti.

Surau dalam artian tertentu malah bernada ”main-main” karena memperagakan ilustrasi iman yang dinamis bergerak di antara ketaatan terhadap agama dengan rasa enggan mentaatinya.

Dalam CTAM, menurut saya ada dua cerita yang sulit dipisahkan dari orde baru, satu hal yang sudah tampak dari awal-awal kepenulisan Eka. Dua cerpen ini, secara olok-olok menjadikan orba sebagai permainan penceritaan Eka. Dua cerpen itu adalah Mata Gelap dan Pengakoean Seorang Pemadat Indis.

Dalam Mata Gelap, tanpa mesti disebutkan, jelas terasa bagaimana Eka mengambil orba sebagai basis ceritanya. Barang siapa yang membacanya bakal mudah menangkap tanda-tandanya dari semisal kata-kata ”si Jin Berkepala Tujuh”, “skandal politik”, “sejuta orang dibunuh dalam huru-hara politik”, “bukti-bukti otentik”, “mati tanpa kuburan”, dlsb.

Walaupun tafsirnya bisa kemana-mana, tapi jelas dari jalan ceritanya, kisah ini nyaris menceritakan secara gamblang perilaku orba ketika berhadapan dengan sejarah kelam peristiwa 65.

Sementara melalui Pengakoean Seorang Pemadat Indis, gaya penulisan yang menggunakan ejaan Soewandi ketimbang menggunakan ejaan resmi negara, diduga bukan semata-mata seolah ditulis langsung oleh si penutur kisah cerita ini. Berdasarkan analisis Benedict Anderson, bisa jadi mengapa Eka menggunakan gaya penulisan demikian—yang diubah dari versi terbitan pertamanya—merupakan politik bahasa Eka terhadap warisan orba.

Sudah diketahui, normalisasi ejaan oleh orba yang mengganti ejaan Soewandi menjadi EYD, adalah politik bahasa orba demi menyingkirkan warganya dari khazanah literatur orde lama. Secara khusus, tujuan itu dimaksudkan agar anak-anak bangsa ogah membaca buku-buku sejarah masa lalu selain versi bikinan sejarah orba yang ditulis dengan ejaan berbeda.   

Satu hal yang berkesan dari kumcer Eka ini adalah cerita Jimat Sero. Cerita yang mengangkat praktik klenik di kehidupan modern. Cerita ini pertama kali saya baca via online dalam salah satu situs yang mengoleksi cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan Kompas. Membacanya dalam versi bukunya membuat sensasi yang berbeda mengingat ketika pertama kali membaca cerita ini via dumay, terbersit dalam hati saat itu untuk mencari versi cetaknya—yang saat itu sulit ditemukan.

Michel Foucault melalui pembacaannya terhadap sejarah peradaban Barat, menemukan seksualitas dan kegilaan adalah wacana yang kuat kaitannya dengan episteme. Episteme adalah pengetahuan khas yang melatarbelakangi praktik berpengetahuan dan kebudayaan masyarakat suatu zaman. Menurut Foucault episteme setiap zaman berbeda-beda tergantung seberapa dominan kekuasaan berperan di dalamnya. Bahkan bagi Foucault episteme adalah produk kekuasaan itu sendiri.

Dalam CTAM, tema kegilaan dan seksualitas diracik Eka melalui judul Tak Ada Yang Gila di Kota Ini. Ibarat merefleksikan pendakuan Foucault mengenai seksualitas dan kegilaan, dalam Tak Ada Yang Gila di Kota ini menceritakan bagaimana kegilaan dan seksualitas tidak lepas dari kontrol kekuasaan. Demi menjaga normalisasi masyarakat, orang-orang gila dan seksualitas menjadi korban pendisiplinan kekuasaan.

Dengan kata lain, kegilaan dan seksualitas, seperti pendakuan Foucault adalah wacana yang senantiasa dibicarakan melalui normatifitas pengetahuan kekuasaan. Itu artinya apa yang pantas dan layak disebut kegilaan dan seksualitas hanyalah sejauh dari apa yang ditafsirkan kekuasaan.  

Dikisahkan dari Tak Ada Yang Gila di Kota Ini setiap orang gila diberlakukan seperti binatang liar dan tidak layak mendapatkan perhatian. Di masa-masa tertentu, mereka dicari, dikejar, dan ditangkap dan kemudian dibuang jauh ke dalam hutan. Perlakuan ini dilakukan demi menjaga ”kebersihan” dan ”kesalehan” kota dari praktik perzinahan yang menjadikan orang-orang gila sebagai sasarannya.

Paradoksnya, di kota itu, jauh dari amatan warganya, seksualitas justru dipraktekkan secara diam-diam nirip pertunjukkan bawah tanah seperti pertunjukkan duel antara dua gladiator. Uniknya pertunjukan seksualitas itu menggunakan orang gila sebagai ”aktrisnya”.

Pertunjukkan seksualitas dengan memanfaatkan orang gila ini justru adalah sarana kritik dalam cerita Eka ini. Siapa yang sebenarnya lantas dikatakan gila? Orang-orang gila yang dibuang dan dikucilkan atau orang-orang yang terlibat dalam pertunjukkan gila itu sebenarnya? 

Cinta Tak Ada Mati walaupun bukan merupakan kumcer terbaru Eka dan merupakan cetakan ulang, menandakan karya-karyanya selalu ditunggu para pembacanya. Dengan ilustrasi sampul depan dari tangan dingin seniman sekaliber Eko Nugroho semakin mempertebal efek imajinatif dari kumcer Eka kali ini.

Syahdan Cinta Tak Ada Mati semakin membuktikan posisi Eka di jagad kesusastraan Tanah Air sebagai pengarang nomor wahid saat ini. Memang Eka Tak Ada Mati.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...