Tampilkan postingan dengan label Yang lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yang lain. Tampilkan semua postingan

29 September 2016

Filsafat Indomie Mi Goreng

Seharusnya siapa pun Anda berterima kasihlah kepada makanan satu ini: Mi Goreng Indomie Instan. Makanan paling instan di jaman serba instan.

Ini bukan iklan. Tapi sekadar memfilsafati makanan sejuta umat ini. Makudnya, dari makanan remeh temeh ini, apakah ada sesuatu yang substantif tinimbang sekadar merasai gurihnya minyak sayur dan bumbunya yang asinasin sedap itu.

Ya. Kita ingin mencari keugaharian dari makanan seharihari ini. Sesuatu yang utama. Yang falsafati.

Lantas, bagaimana caranya menemukan keutamaan dari makanan yang paling banyak dicecap mahasiswa ini. Mari dibahas satu dua tiga hal.

Pertama dari cara dibuatnya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengandung kontradiksi? Jika belum, coba Anda membuatnya. Kadang melalui praktik, beberapa hal akhirnya nampak terang.

Jika sudah, dapatkah Anda menemukannya? Ya, tepat sekali. Mi goreng ini hanya namanya saja mi goreng, sebab saat Anda membuatnya ternyata dengan cara direbus. Bukankah itu kontradiksi? Sesuatu yang bertentangan dari caranya diciptakan? Bukankah lebih baik disebut saja mi rebus?

Kadang memang sesuatu nampak utama jika dalam prosesnya penuh pertentangan. Termasuk mi goreng ini, mengajarkan kepada kita terkadang hidup penuh pertentangan. Bukankah dari proses yang demikian kontradiktif itu, justru mengandung keugaharian?

Bukankah sesuatu akan nampak terang jika di dalamnya diperlukan pertentangan. Baik akan nampak baik jika ada keburukan. Terang hanya bisa dimengerti jika ada kegelapan. Begitu juga Anda menjadi jelek karena saya tampak gagah?

Jangan kecewa! Contoh di atas hanya mau menjelaskan dari mi goreng ini kita bisa belajar bahwa hidup itu penuh perbedaan. Tampak kontradiksi, tapi menyimpan keugaharian.

Kedua, dari komposisinya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengajarkan perlunya hidup seimbang. Bagaimana itu mungkin? Begini, jika anda penikmat mi goreng, maka Anda akan cepat memahaminya.

Ketika Anda selesai merebusnya, apa yang Anda lakukan? "Menyampur bumbubumbunya". Benar sekali. Tanpa penyampuran bumbubumbunya, Anda tidak akan menemukan kenikmatan rasanya. Hanya dari cara itulah Anda menemukan rasa nikmat. Hanya dengan keseimbangan bumbubumbunya.

Pelajaran yang kedua, ternyata mi goreng ini tersirat ajaran yang dahsyat. Yakni, dalam hidup ini dibutuhkan keseimbangan. Coba Anda bayangkan jika tidak ada keseimbangan dalam hidup Anda? Yakin dan percaya, hidup Anda bakal hancur lebur.

Kemudian, dari keseimbangan itu, tidak mungkin terjadi tanpa ada keterlibatan macammacam unsur. Mi goreng ini mengajarkan bahwa dengan minyak bumbu, bubuk cabe, dan kecap manis, kenikmatan dapat dimungkinkan.

Begitu pula hidup ini, tanpa pencampuran berbagai macam unsur, kelak hidup menjadi nisbi. Keugaharian hanya bisa jika ada berbagai macam perbedaan yang berjalan seimbang. Melalui cara itulah ideal kehidupan dibuat.

Bahkan, mi goreng ini mengafirmasi Platon --filsuf Yunani purba, yakni kebahagiaan dapat diraih jika "kepala", "dada", dan "di bawah dada" berjalan berseiringan tanpa melewati batasbatasnya. Kebahagiaan adalah bekerjanya sesuatu berdasarkan ciri khasnya masingmasing. Begitu kirakira maksud Platon.

Ketiga, yakni walaupun disebut mi goreng instan, tetap saja ada proses tahapan saat Anda menyajikannya. Pertama, Anda harus membuka bungkusannya, kedua, merebus air, dan terakhir Anda menyajikannya dengan menyampur pelbagai bumbubumbunya. Setelah itu Anda bakal kenyang.

Artinya, tiada yang terjadi dengan cara begitu saja. Semuanya mesti berproses. Bahkan jika Anda ingin cantik seperti Dian Sastro.

Jangan dikira, kecantikan Dian Sastro terjadi begitu saja. Dia cantik karena berproses. Tapi, tunggu dulu, kecantikan yang saya maksud bukan sekadar tampilan fisik belaka. Dian Satro cantik karena dia bisa dikatakan bertalenta. Dia punya karakter. Dan karakter itu datang dari "dalam kepalanya".

Ya, benar sekali. Itulah yang kerap dibilang inner beauty. Kecantikan yang lahir dari "dalam diri". Dan, semua itu butuh proses.

Dian Sastro punya kecerdasan inner beauty karena dia belajar. Banyak mendalami ilmuilmu saat mahasiswa. Mau melahap banyak bukubuku. Dan mau bersabar mendalami apa passionnya.

Bagaimanakah dengan Anda? Hidup sekarang memang banyak yang instan Bung. Tapi, bukan berarti membuat Anda menjadi serba instan pula. Ikuti proses, jalani dengan tekun apa yang menjadi tujuan Anda. Biarkan yang lain serba instan. Sesungguhnya mereka tak dapat apaapa.

Keempat, mie goreng yang Anda makan itu mengajarkan kebohongan. Maksudnya? Begini, jika Anda jeli memerhatikan bungkusan mi goreng Anda, maka apa yang terpampang di bungkusan dengan apa yang Anda sajikan bagai langit dan bumi.

Jika diperhatikan, di bungkusan mi goreng Anda tergambar sajian nikmat lengkap beserta telur setengah matang, dua biji udang rebus, seiris tomat segar, butiran kacang polong, dan sedikit acar beserta irisan bawang merah. Namun itu tidak terjadi saat Anda menyajikannya di rumah. Apa artinya? Itu yang saya maksud kebohongan.

Begitulah, dari mi goreng itu, Anda diajarkan jangan cepat percaya apa yang sedang tampak di hadapan Anda. Apa yang sedang Anda lihat, dengar, dan rasakan. Melainkan kadang apa yang Anda sedang saksikan justru berbeda jauh dari yang sebenarnya terjadi.

Sering Anda menyaksikan begitu nyamannya keindahan sebuah kota, tapi bisa jadi sesungguhnya itu hanya tiupan belaka. Justru di balik itu tersembunyi keadaan yang sebenarnya, pemukiman kumuh, misalnya.

Kadang Anda percaya statistik minat baca yang rendah, padahal yang terjadi tidak demikian. Justru yang Anda baca, punya maksud membuat Anda percaya, bahwa memang minat baca suatu masyarakat betulbetul rendah, padahal jauh panggang dari pada api. Sesungguhnya itu juga belum tentu benar.

Seperti itulah, mi goreng yang sudah berharga duaribu lima ratus ini, secara tersirat menyatakan apa yang tampak belum tentu mewakili apa yang sesungguhnya terjadi.

Terakhir, apa keugaharian yang paling dahsyat dari semua ini? Kesederhanaan. Ya, kesederhanaan. Mi goreng ini mengajarkan walaupun Anda bisa melahap segalanya, punya banyak duit, seorang jutawan, jika Anda memilih makanan ini, maka sebenarnya Anda memilih cara menikmati makanan dengan sederhana.

Tapi, di kondisi lain, jika Anda memilihnya sebagai makanan utama, maka itu bisa jadi tandatanda kehidupan ekonomi Anda sedang dilanda krisis? Baiklah saya kadung lapar. Percayalah.


28 Agustus 2016

Flow di Era Socmed

Buku ini baru saja saya membelinya. Belum cukup dua tiga halaman membacanya, saya merasa buku ini cocok untuk sesiapa saja yang ingin belajar menulis. Rekomended buat penulis pemula. 

Di bab pertama, sudah ada kalimat dari Jalaluddin Rakhmat, seorang scholar ilmu komunikasi, yang mengatakan tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Maksudnya tiada lain, menulis --sebagai media komunikasi, juga bermanfaat sebagai sejenis terapi melatih diri agar tertib berbahasa.

Menulis tanpa bermaksud menyampaikan dan membentuk pengertian, dimaksudkan agar orang mampu menulis dengan suasana yang riang. Menulis dengan model seperti ini berbeda dengan suasana menulis yang dibatasi deadline, atau demi tugas profesional akademik, yang kadang menuntut intensi konsentrasi yang tinggi. Akibatnya, dengan tekanan sedemikian rupa, membuat orang gagal menyalurkan idenya ketika menulis.

Menulis dengan riang, saya menduga adalah suasana menulis tanpa tekanan. Dalam keadaan gembira. Atau dengan kata lain, keadaan menulis tanpa ramburambu, tiada aturan sama sekali.

Pengalaman demikian sering saya lakukan, menulis ala kadarnya, tanpa tujuan. Pengalaman ini sering saya bandingkan kala menjadi wartawan, di saat menulis karena diburu deadline penulisan berita. Menulis karena tekanan deadline waktu seperti ada beban berat di pundak setiap harinya.

Menulis dengan riang, atau dengan istilah Hernowo adalah menulis
 flow (mengalir) saya kira bukan penemuan tanpa berbasis pengalaman. Seperti penuturan si penulis sendiri, menulis mengalir adalah hasil riset pribadi yang telah dijalani selama bertahuntahun. Artinya, apa yang dimaksud menulis flow bukan sekadar pepesan kosong belaka.

Satu hal penting yang dituliskan dalam buku ini adalah dengan melatih menulis dengan cara flow, seperti yang ditulis Hernowo sendiri, kita dengan sendirinya akan melatih juga kemampuan berbicara dengan teratur. Suatu kemampuan yang belakangan ini hanya dimiliki sedikit orang.

Syahdan, buku ini begitu bermanfaat bagi siapa saja, bukan saja orangorang yang telah terbiasa dengan aktifitas tulis menulis, melainkan orangorang yang ingin berikrar menjadi penulis.


05 Maret 2016

Tere Liye dan Kesadaran Sejarah

Mendadak novelis kondang, Tere Liye, jadi sorotan. Statusnya di lini masa FB biangnya. Status yang tidak lebih dari tiga paragraf itu dianggap buta sejarah. Pasalnya dia menamsil, selain pejuang agamawan, tidak ada pejuang semisal pemikir komunis, sosialis, HAM, maupun liberal yang pernah berjibaku membela tanah pertiwi. “Coba cari,” kalau ada katanya.

Selanjutnya, Tere Liye bilang, jangan mau terpesona dengan pemikiran dari luar, seakanakan tak ada sejarah dan kearifan dalam negeri yang bisa diambil hikmahnya.

Sikap Tere Liye ini bisa disebut sebagai orang yang naif melihat sejarah Indonesia. Kalau mau jujur, banyak namanama pejuang pra dan pasca kemerdekaan yang berhaluan sosialis atau bahkan komunis. Di mulai dari Syarikat Islam, Partai Komunis Indonesia, sampai Founding Father, contoh yang paling terang.

Yang paling lucu adalah kalau dibilang tak ada “kearifan dalam” yang bisa digali untuk dijadikan pelajaran. Di sini, agaknya Tere Liye terjebak dengan cara pikir dualisme antara “dalam” dan “luar.” Kebudayaan Indonesia, dalam analisis tertentu malah bilang kalau Indonesia adalah “inkubator” yang berisi beragam persentuhan pemikiran dan kebudayaan.  Hasilnya adalah sintesa baru dalam perwujudan yang membentuk ciri khas tertentu. Artinya, Indonesia adalah tempat “yang dalam” dan “yang luar” bertemu  dan saling melengkapi. Jadi, bicara yang khas dari Indonesia, ruparupanya hanyalah hasil perpaduan antara kebudayaan “luar” dan “dalam”.

Tere Liye,  saya kira adalah prototype anak negeri yang ditilap politisasi kesadaran sejarah. Pengalaman sejarah Indonesia, sampai detik ini adalah sejarah dominan. Yakni, sejarah yang ditulis dengan tinta kepentingan kekuasaan. Sejarah yang ditulis sebagai “cerita sejarah,” bukan “peristiwa sejarah.” Layaknya fiksi, di dalam “cerita sejarah” plot atas kesadaran tertentu dapat dibuat sekehendak pihak tertentu. Beda dengan “peristiwa sejarah” plot hanya sampiran, bahkan di nomor duakan, sebab bahan utamanya adalah kejadiankejadian yang berbasis fakta.Akhirnya, saya kira, jangan lupakan sejarah!!

14 Desember 2015

Kawan Lama

Bertemu kawan lama itu seperti peristiwa yang anti sejarah. Apalagi tak banyak kenangan yang tersimpan. Tapi, ketika kita duduk bersama dan membincang hal yang tak dipikirkan sebelumnya, kita dipaksa untuk ditawan kenangan yang tibatiba muncul bagai matahari dan tenggelam sebelum sinarnya hilang di balik punggung lautan.

Kawan lama ketika bertemu begitu saja, akan sulit untuk mengambil satu topik yang menyenangkan untuk dibicarakan. Apalagi ingin mendahului pertanyaan seperti dilakukan kepada kekasih. Terpaksa yang dibicarakan adalah masamasa ketika pernah bersama, saat sepulang sekolah berpanaspanas ria jalan kaki menuju rumah. Atau saat di tiap sore menghampar di tanah lapang bermain sepak bola sampai magrib tiba.

Tapi yang paling mengejutkan adalah cerita tentang orangorang di masa lalu, yang tak tahu lagi bagaimana ukuran badannya sekarang, seperti apa bentuk mukanya, sudah seperti apa pekerjaannya sekarang, menjadi orang asing yang kita tanyakan. Di saat itu, tibatiba masa lalu jadi begitu singkat. Dan orangorang yang pernah ada di masa lalu sudah menjadi orangorang kebanyakan; yang terlupakan.

Walaupun begitu, saya merasa sedih jika orangorang terdekat mereka sudah mati. Di saat itulah betapa jauhnya saya dari kehidupan masa kecil, mendengar banyak hal yang sudah larut jadi silam. Orangorang yang pernah kita temui, mereka tumbuh tua, dan kemudian sudah mati. Anehnya, mereka adalah orangorang yang dulu hampir tiap siang sering kita lihat, dan sekarang mereka jadi bagian alam tak terbatas.

Yang menjadi lucu adalah ketika cerita kawan lama itu sampai pada bagian bahwa ia sudah beristri dan juga sudah cerai. Seperti menonton sebuah film yang kadangkadang tanpa emosi, ia juga bercerita ia bisa bercerai karena hanya masalah suka tidak suka kepada mertuanya. Akan jadi masalah bagi saya jika itu menimpa kehidupan saya. Mendengarnya, dunia menjadi bola yang bergerak seratus kali lebih cepat dari sebelumnya. Apalagi ia  meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Ketika ia bercerita, saya merasa betapa gampangnya orangorang semacam itu bertindak nekad. Mengambil sikap atas suka tidak suka. Apalagi sekarang ia sudah tidak memiliki pekerjaan tetap.

Ia juga bercerita tentang kakaknya yang kebetulan teman saya di waktu sekolah menengah pertama. Kehidupannya jauh lebih baik dibanding kabar terakhir saat mendengarnya. Tapi itupun jadi lelucon karena ia juga bernasib sama seperti adiknya itu. Ia sudah bercerai dua kali, dan sekarang ia sudah beristri untuk ketiga kalinya. Mendengar itu, dunia betulbetul bergerak cepat.

Namun saya merasa, memang perlu mendengar ceritacerita yang tak biasa ketika saya susah bertemu kembali kawankawan seperti dia. Dulu kami menghabiskan waktu sampai tengah malam dengan mengotori udara kampung kami. Berlagak menjadi penyiar profesional padahal itu hanya kedok untuk mencari perempuan untuk dipacari. Di masamasa itu, memang kampung kami penuh dengan radio liar, dan juga otomatis banyak penyiarpenyiar yang sok gagah.

Pekerjaan itu tidak bertahan lama, sebab fm kami kalah saing dengan radio yang tidak terlalu jauh dari menara kami berdiri. Harihari itu saatsaat ketika saya harus meninggalkan kampung untuk melanjutkan pendidikan jauh di kota. Di saat itulah say a terputus total dengan tak pernah sekalipun mendengar kabar dari mereka.

Bertemu kawan lama tidak seperti sahabat lama. Tapi mereka juga pernah menjadi bagian dari episode yang tak kita dugaduga. Juga duduk untuk mendengar ceritacerita yang kita tak tahu harus diakhiri seperi apa. Namun, tiada salahnya jika apa yang pernah mereka ceritakan juga jadi hal yang pelanpelan membangkitkan kembali ingatan yang sulit untuk tidak disebut kenangan. Di situ, bertemu kawan lama memang suatu peristiwa yang anti sejarah.


27 September 2015

Sabtu Pagi dengan Eka Kurniawan

Eka Kurniawan lagilagi membuat saya berdecak kagum. Sabtu pagi tanpa sengaja, saya menemukan cerpennya: Jimat Sero.  Kesengajaan yang menyenangkan. Seperti biasa, membaca cerita pria ini membuat kita harus bersabar dengan ending yang tak didugaduga, sementara di saat yang bersamaan kita tak tahu alur apa yang bakal terjadi.  Membaca cerpennya seperti mengetahui ada misteri yang menunggu di ujung cerita  tanpa diketahui seperti apa misteri yang di maksud. 


Jimat Sero 
by Eka Kurniawan, Suara Merdeka, 24 Januari 2010
Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.
Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.
Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.
“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”
Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:
“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”
Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”
Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.
Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.
Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”
Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”
Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”
Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”
“Jimat?”
“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”
***
JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.
Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.
Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.
Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.
Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.
Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.
Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.
“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”
Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”
***
SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.
Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.
Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.
Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.
Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.
Tak ada apa-apa.
Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.
Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.
“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”
Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.
Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.
***
AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.
Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.
“Itu untuk mulut najismu,” kataku.
Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.
Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.
Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:
“Maumu apa?”
Aku meludahi mukanya.
Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.
Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.
Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.
Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.
“Ampun, ampun,” katanya.
Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.
Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.
Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.
Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.
Kemudian segalanya selesai.
Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.
Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.
***
KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.
Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)
“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.

20 Mei 2015

Membaca Eka Kurniawan



Perempuan Patah Hati yang Kembali
Menemukan Cinta Melalui Mimp
i


NAMA Eka Kurniawan kali pertama saya temukan melalui salah satu blog di dunia maya. Bisa dibilang, dari blog itu pertama kali saya mengenal sastrawan yang berkacamata ini. Dari blog itu juga saya bisa tahu ternyata Eka Kurniawan seorang satrawan yang sedang naik daun.  

Saya melihat dari blog yang sama, salah satu bukunya; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Saat itu, disertai tulisan yang mengulas karyanya ini, blog itu berhasil membuat saya penasaran untuk membaca karya-karyanya.

Sebenarnya, nama Eka Kurniawan tak begitu saya ketahui. Selain saya bukan pembaca karangan sastra yang baik, saya juga tidak banyak bersentuhan dengan perkembangan diskursus sastra. Tapi melalui blog yang saya baca, akhirnya saya bisa mengetahui bahwa Eka ternyata punya situs pribadi. Dari website itulah saya berusaha berkenalan dengan Eka melalui tulisan-tulisannya.

Perkenalan saya yang berkesan terhadap Eka sejatinya melalui buku kumcernya. Tentu buku yang diposting di dalam blog yang saya katakan tadi; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Melalui buku itulah saya bersentuhan langsung dengan kepengarangan Eka. Dan dari kumpulan ceritanya di buku itu, saya merasa harus memiliki buku-bukunya yang lain.

Maka mulailah saya mencari tahu buku-buku karangan Eka. Ternyata sebelum Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, sudah ada beberapa buku diterbitkan Eka. Dari situ mulailah saya mengoleksi karangan-karangannya, dimulai dari Cantik Itu Luka hingga novel terakhirnya; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan juga buku kumcernya yang lain; Corat-Coret di Toilet

Akhirnya mulai saat itu, ada dua sumber saya untuk membaca tulisan-tulisan Eka; Journalnya dan karangan-karangan kumcer dan novelnya.

Bisa dibilang saya terlambat mengetahui sastrawan ini, tapi dengan membaca hampir semua terbitannya; dimulai dari Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi dst., saya seperti kecanduan terhadap tulisan-tulisannya, terutama cerpen dan novelnya, sebab cerita-cerita yang disuguhkannya adalah suatu teks yang menolak sempurna, dalam arti suatu cerita yang dibangunnya tak selamanya ingin mengafirmasi suatu dunia yang bersih dari cacat. Melalui kesan inilah saya selalu senang membaca karangan sastranya.

Kesan semacam itu saya rasakan di saat pertama kali membaca novel pertamanya; Cantik Itu Luka. Novel yang hampir 500 halaman itu tak sekalipun menampilkan suatu figur yang sempurna. Begitu juga dari penceritaan latar belakang tokoh-tokoh utamanya, dari orang semisal Ayu Dewi, Sudancho maupun lainnya, merupakan simbol bagaimana suatu nasib manusia begitu jauh dari kesan lengkap dan ideal. Nampaknya penggambaran figur-figur dalam Cantik Itu Luka memang dikesankan Eka bermain antara dua ekstrim baik dan buruk, di mana suatu saat ada tokoh yang begitu dipuja tetapi di lain waktu dengan masa yang berganti, suatu tokoh bisa menjadi figur yang berkarakter cacat.

Dan novel terakhir Eka yang saya baca adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Di novel itu ada Ajo Kawir, yang bisa dibilang tokoh utama yang melaluinya Eka berbicara bagaimana suatu  tatanan moral (perhatikan dua polisi dalam cerita itu) didekati melalui penyakit impoten. Dari penyakit impoten, Eka ingin membuka selubung kesadaran kita bahwa suatu penyakit tak selamanya “penyakit.” Dengan cara lain, melalui penyakit yang di derita Ajo Kawir, manusia dengan segala persoalannya dan kekurangannya merupakan mahluk yang punya dua bibir; bibir yang selalu berbicara kebaikan dan bibir yang mengambil kebaikan melalui cacat yang dialami. Dengan ungkapan lain, Eka ingin berbicara dengan tanpa menghimbau dan berkhotbah, melainkan dari aspek yang paling manusiawi, ia ingin berangkat dari cacat untuk memahami apa yang bisa diambil dari peristiwa itu.

Kesan yang sama adalah juga unsur yang tak hilang dari dua novelnya yang lain; Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Di sana selalu ada penggambaran watak dan sifat manusia yang tak utuh. Bahkan manusia adalah mahluk yang  selalu berada pada dua peririsan baik dan buruk. Yakni mahluk yang mengalami beragam peristiwa yang ideal dan sial. Dengan gagasan semacam itulah, saya melihat karakter tokoh-tokohnya selalu digambarkan sebagai manusia yang tak utuh, yang tak ideal. 

Dengan cara inilah saya kira, Eka ingin merepresentasikan dunia manusia yang sebenar-benarnya. Dan itu sangat terasa dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, seperti misalnya Eka berbicara tentang seks sekaligus laku sufi dari Ajo Kawir. Dua kontras yang diramunya dalam ironi dan parodi.

Di luar dari itu, Eka adalah penulis yang taat. Persentuhan saya dengan Journalnya, ketaatan itu dipertahankannya dengan menulis peristiwa-peristiwa yang dialaminya setiap hari. Dari perspektif ini saya bisa mengatakan bahwa Eka punya dua medan menulis; Journal yang berisikan refleksi dan pandangan-pandangannya seputar sastra serta karya ceritannya, baik kumcer maupun novelnya.

Untuk hal ini, bisa saya katakan, ada dua Eka sebenarnya; Eka sebagai penulis Journal di websitenya dan Eka sebagai sastrawan yang melahirkan karya-karyanya yang monumental.  Dan dikatakan di Journalnya, Eka akan berpuasa untuk melakukan aktivitas yang kedua. Dari Journalnya ia juga berkata akan menjadi pembaca yang baik, dibandingkan penulis, seperti yang ia kutip dari Borges; membaca lebih intelek dari menulis.

Dari Journalnya, saya terkesan dengan daya jelajah Eka terhadap sastra. Eka seperti sudah berkeliling dunia dengan berkunjung pada  sudut-sudut terpencil, bisa dibilang melalui Journalnya, peta sastra dunia dibentangkan seluas-luasnya. Banyak sastrawan yang ia sebut di sana adalah bukti bagaimana dunia sastra begitu digelutinya. Dan ini yang membuat ia bisa dibilang sebagai tempat referensi dunia sastra.  

Melalui Journalnya, saya bisa banyak menimba wawasan seputar sastra di sana. Maka, seperti yang diharapkann Seno Gumira, perkembangan sastra Tanah Air salah satunya sangat bergantung dari pria ini. Maka saya kira Eka Kurniawan punya kutukan; membangun takdir sastra Tanah Air.

20 April 2015

Malaikat Buku-Buku


Lukisan Jibril (Arab)/Gabriel (Inggris) dari Abad 12

FILSUF muslim menyebutkan segala yang ada memiliki malaikatnya masingmasing. Misalnya, untuk urusan wahyu ada malaikat Jibril, urusan rezeki ada malaikat Mikail, untuk soal nasib ada Mungkar dan Nakir. Di Islam, sepuluh malaikat dan tugastugasnya wajib diketahui, walaupun disebutkan oleh beberapa literatur bahwa jumlah malaikat sebanyak bintangbintang di langit.

Jika demikian, saya berandaiandai ada juga malaikat buku. Namanya adalah malaikat Al Alim. Tugas utamanya adalah menjaga bukubuku agar dapat terawat dengan baik. Tujuannya agar bukubuku tak punah hingga akhir zaman. Selain itu, tugasnya adalah mencatat seluruh nama dan jenis buku yang ada di muka bumi. Seharihari, tugas lainnya adalah mengatur peredaran bukubuku di dunia. 

Tugas malaikat buku tak kalah berat dari malaikat Mikail yang mengatur setiap rezeki seluruh mahluk di setiap sudut mayapada. Berbeda dari itu, malaikat Al Alim mengatur dan mencatat siapasiapa yang menggunakan buku setiap detiknya. Di saat demikianlah ia harus terus mengawasi peredaran dan penggunaan buku di tiap tangan manusia.

Karena ia malaikat buku, ia sering kali mengunjungi tempat bukubuku disimpan. Dan tempat yang paling pertama ia kunj
ungi sejak ayam berkokok di awal pagi adalah rakrak buku. Di situ, dijelaskan dari tutur lisan ahliahli makrifat, ia akan mencatat bukubuku apa saja yang sudah dibaca, yang akan, dan yang belum dibaca. Untuk buku yang sudah dibaca, konon akan dicantumkannya satu bintang di buku catatannya yang bernama Al Kitabul Al Akbar. Bila belum, maka akan dibiarkannya kosong. Begitu  seterusnya dari amanah yang menjadi tugasnya.

Tempat yang paling disenangi malaikat Al Alim selain tokotoko buku adalah perpustakaan. Di sanalah waktu terbanyak ia habiskan. Sebab, di tempat inilah banyak bukubuku tersimpan dan beredar sehingga ia harus segera mencatatnya. Dari kitabkitab kuna malaikat Al Alim punya kolom khusus untuk bukubuku perpustakaan. Terutama untuk kolom bukubuku yang tak pernah sehari pun keluar beredar. Untuk bukubuku ini ia berikan tanda khusus. Dalam kitab itu disebutkan tanda itu berupa tanda seru. Konon tanda seru ini akan ia perlihatkan kepada Tuhan pemilik bukubuku, bahwa betapa malasnya umat manusia membacanya.

Di perpustakaan, selain mencatat peredaran buku, ia juga mencatat orangorang yang berada di dalam perpustakaan berdasarkan aktivitasnya terhadap buku. Secara umum aktivitas orang di perpustakaan ia bagi menjadi tiga golongan. Pertama, orangorang yang duduk tenang membaca buku. Kedua adalah golongan yang menggunakan perpustakaan hanya untuk dudukduduk bersenda gurau, dan yang ketiga adalah mereka yang meminjam dan datang untuk mengembalikan buku. Dari tiga kelompok ini, golongan ke dua adalah  jenis manusia yang dibenci malaikat  Al Alim.

Selain di perpustakaan, ada tempat lain yang sering dikunjungi malaikat buku. Tempat itu adalah rumahrumah yang memiliki perpustakaan pribadi. Di rumah yang memiliki rakrak buku itu, disebutkan dalam hadishadis agama terdahulu bahwa di tempat itulah Al Alim senang berlamalama, sebab ia sangat suka dengan bebauan rumahrumah yang menyimpan bukubuku. 

Bahkan dari salah satu kitab yang mengulas malaikat Al Alim beserta kemuliaannya, diselasela kunjungannya di rumahrumah demikian, ia sering kali membuka bukubuku yang ia senangi untuk dibaca. Dalam suatu riwayat, jika sang pemilik buku tibatiba tidak sengaja akan memergokinya, malaikat buku dengan sekejap cahaya akan segera mengubah wujudnya menjadi capung atau kupukupu.

Dari seluruh tugas Al Alim dengan bukubuku, tugas terberatnya adalah menjaga agar ilmu dapat terus abadi di muka bumi. Sebab itulah malaikat buku sangat mencintai orangorang yang berilmu, apalagi orangorang yang sangat menghargai buku. Pasalnya, malaikat yang sangat disenangi Jibril ini, melihat korelasi ilmu ditentukan dari sikap perlakuan orang terhadap buku. 

Menurut sahibul riwayat, dari seluruh manusia yang dikutuk Al Alim adalah orangorang yang tak menghargai ilmu. Dan orangorang seperti itu, dari pertama diciptakannya manusia, malaikat buku sudah tahu bahwa orang yang demikian adalah orang yang tak mencintai buku. Itulah mengapa di akhir dunia nanti, Al Alim akan banyak melaporkan orangorang dengan jenis ini.

Tetapi ada suatu riwayat lain yang mengulas tentang orangorang yang dihinakan oleh Malaikat Al Alim. Disebutkan di sana adalah orangorang munafikun yang berilmu dan memiliki buku berjubel tapi tak pernah dirawatnya dan dibacanya. Juga orangorang yang senang membuang bukubuku apalagi membakarnya. Apalagi jika ada pemerintahan tertentu yang menggunakan kekuasaannya untuk melarang peredaran bukubuku bagi masyarakat. Kepada merekalah malaikat Al Alim akan langsung mencatatnya di kitab al akbarnya dengan label: terhina.

Syahdan, disebutkan oleh riwayat itu pula, malaikat buku seringkali dapat ditemui bagi orangorang yang membawa buku ke manamanapun ia pergi. Di situ ditulis, syarat utamanya hanyalah satu: cintailah buku. Dengan begitu, kita dapat menjumpainya jika beruntung. Sudahkah anda bertemu dengannya?

31 Desember 2014

Memugar Waktu; Tetiba Januari

Tulisan ini diniatkan sebagai penanda atas peralihan. Niat yang lain sebagai semacam menciptakan jembatan bagi dua tepi masa; jembatan selalu berarti menyambungkan, menghubungkan dua  bebukit yang dipisah jarak yang landai, di sini dan di sana; sekarang dan esok, membangun hubungan. Atau tulisan ini saya maksudkan semisal taut jangkar, yang ditambat di bawah lambung kapal agar kemudi tak guyah.

Di luar,  letus api berkembang …juga mendung.

Di jalanjalan raya gempita menyambut  tahun yang baru sudah mulai hiruk dan juga ribut. Tahun yang baru sudah siap disongsong, tetapi apa yang baru? Maka saya lebih suka menyebutnya peralihan, bukan baru. Sebab yang namanya baru berarti meninggalkan yang lama, juga tahun. Di luar keramaian jamak membunuh kesan yang dibangun berharihari yang lalu, berbulanbulan yang lalu hingga tahun yang sebentar lagi dikemas dalam kelampauan, dan pada akhirnya membunuhnya. Dan apa yang tersisa dari tahun yang kita namai baru.


Sebab itulah saya menyebutnya peralihan; seperti jembatan atau jangkar yang tak ingin guyah. Peralihan membutuhkan ketetapan, kesamaan dari keadaan yang sebenarnya sama. Di sinilah arti dari menyambungkan apa yang tak digapai dari daratan  di belakang. Ini persis kembara yang melihat waktu sebagai yang utuh, yang tak putus, di depan hanyalah daratan yang sama. Maka dari itulah kita membutuhkan jembatan untuk mengingat atau perlu jika sekalikali kita ingin kembali, maka itu dapat dimungkinkan. Melihat apa yang tertinggal dan tak sempat kita jadikan bekal.

Di gedunggedung yang ramai, berkumpul dalam waktu yang ditetak…

Sebagai penanda atau juga jembatan, tulisan ini saya artikan sebagai perayaan terhadap waktu senggang.  Ketika di luar, di keramaian, waktu senggang diartikan sebagai pemujaan terhadap yang banal, diekspresikan melalui tonton kapital yang berpindah tangan dengan seketika, saya lebih memilih menulis hal yang sahaja; membangun-sekali lagi jembatan. 

Tetiba hujan pecah, entah dengan ritme yang masih saja sama…yang ada bunyi yang titik

Merayakan yang baru sudah menjadi karakter. Untuk tahun yang baru, barangkali di sana ada yang harus ditebak dalam keburaman, sesuatu yang tak bisa begitu saja dikenali. Barangkali karena inilah yang baru, yang dengan sendirinya melahirkan sentimen yang mengharu biru. Banyak cara yang ditunjukkan untuk itu, dimulai dari doa dan perayaan. Dengan itu, yang baru, yang sebentar lagi menjadi harihari sebenarnya tidak berbeda disambut.

Tetapi tulisan saya bukan ingin menjadi tanda bagi yang baru. Justru ingin merujuk pada peristiwa yang dikandung mitos. Dalam mitos ada yang tak selamanya mampu diukur, tak mampu dijangkau pertimbangan rasional, tetapi “menerangkan”  bagi penganutnya. Waktu dalam mitos adalah ihwal yang bulat penuh, total dan menyeluruh, sehingga bukan garis linear yang menandakan adanya keterputusan. Di dalam mitos, waktu sesungguhnya bukanlah entitas yang dapat dipilah, yang dapat dipecahpecah, melainkan totalitas keseluruhan masa.

Lantas dari manakah yang baru itu datang? inilah soalnya, sebab waktu di jaman sekarang adalah masa yang ditekuk rasio. Yang di sana waktu akhirnya pecah dikepingkepangkan, menjadi bagianbagian dari rangkaian yang sesungguhnya satu. Dari sinilah waktu akhirnya dipandang sebagai garis yang putusputus; masa yang perlu kita bagi menjadi baru dan lama. Dan inilah arti modern; waktu harus dirayakan kepergiannya, sementara dalam kebaruan ada masa yang tak jelas seluruh.

Tidak seperti perayaan yang menandai pada tahun yang baru yang sesungguhnya adalah hari yang sebenarnya masih sulit ditekuk. Dalam mitos walaupun ditandai sebagai pengetahuan yang menyelisih dari rasio, saya lebih menyukainya karena terangnya adalah sesuatu yang bukan rasio, melainkan mental. Kehadiran waktu adalah entitas yang seluruh bukan garisgaris yang dipilah; disinilah waktu berarti penghayatan akan keseluruhan tentang masa dan seluruhnya.

Karena inilah kebaruan tak selamanya baik, sebab tak menyertakan mental daripada rasio. Dalam mitoslah saya membayangkan orangorang yang beralih dari peristiwa satu ke peristiwa yang lain dengan gelora yang bertarung pada nasib didaratan seberang, sebab sesungguhnya orangorang ini tahu tak ada perang yang kedua kalinya. Yang namanya perang hanya sekali, selamanya. Dalam waktu yang dihayati, yang baru dan lama sesungguhnya ilusif, menipu dan juga berbohong.

Maka dari itu, tulisan ini menjadi rangkai yang menjembatani sebuah sikap atas peristiwa yang tak banyak berubah. Hari esok yang juga masih saja sama, sebuah peralihan masa, tentang bukit seberang yang landai dari pijak sini.


Di sana, di pusatpusat keramaian talutalu kembang api menyulap mendung…
Letus hingga berjauhjauh, sungguh tak ada sauh yang jadi teduh
Tetiba ramai dalam gagap yang sepertinya tegap, walau jua kalap
Di luar yang jamak, jalanjalan yang padat jadi ruang yang pekat
Tetiba hujan ditingkap dalam kurung gemerlap yang angkuh, juga ringkih


09 Juni 2014

dialog imajiner bersama Machiavelli

Suatu ketika di malam awal Juni saatsaat lembayung makin padat. Juni yang mengawali kemarau Juni yang biasanya panas, saya berusaha membangun imajinasi. Tentang sebuah perbincangan dengan seorang realis, orang yang pernah hidup sekitar akhir abad pertengahan. Seorang dari Florence Itali; Niccolo Machiavelli.

Saya membayangkan malam awal Juni itu dua bulan setelah hari kelahirannya, duduk bersama orang yang kerap dikutuk berkat gagasannya yang tanpa moral itu. Di mana saya dengannya bertemu di saatsaat karirnya sebagai penasihat politik mendekati anti klimaks. Pada pinggiran selatan kota Florence saya dengannya bersua. Ketika Itali sedang dalam invasi Spanyol.

Saya: Kenapa anda tampak murung? Apakah ini karena Itali sedang dalam masa-masa kritis?

Niccolo: (Sambil tersenyum) Saya memang murung? Lebih mudah bagi saya kematian seorang ayah daripada kehilangan warisan..Mari anak muda..(sambil memberikan segelas anggur) bagaimana anda bisa sampai kesini? Ini masa kritis..

Saya: terima kasih (sambil mengambil anggur darinya), ini memang masa kritis, tetapi bertemu dengan anda saat seperti ini adalah hal yang mengagumkan.

Niccolo: Apakah anda bercanda? Lantas apa yang membuatmu kemari?

Saya: Diri anda. (Dia tampak terkejut, raut mukanya sungguh jauh dari ekspresi pikirannya yang konon berbahaya, saat itu dia kelihatan gagah) Diri andalah tujuan saya..

Niccolo: Saya berharap kau mengerti maksud tujuanmu berbicara denganku. Saat seperti ini semua orang menjadi bodoh saat mengutarakan pikirannya.

Saya: Maksud anda?

Niccolo: Coba kau bayangkan, untuk sejenak, diantara orangorang itu, adakah yang tampak jujur berucap? (Niccolo menunjuk dengan pandangan matanya) Hampir semuanya tampak berbohong..

Saya: Ada apa dengan mereka. Maksudmu mereka ini adalah orang yang sedang berbohong?

Niccolo: Tidak ada yang salah dengan orangorang ini. Kecuali mereka tahu maksud pembicaraan mereka.

Saya: Sebenarnya ada apa dengan mereka? Barangkali saya telah melewatkan sesuatu?

Niccolo: Sudah saya katakan tadi, ini masa kritis, masa yang guyah. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dibicarakan. Bukan dengan hanya bicara tentang masalah intim mereka, pujapuji mereka terhadap gereja, anakanak, ladangladang..

Saya: Lantas apa yang layak saat seperti sekarang menurutmu?

Niccolo: Manusia yang baik adalah warga yang membincang keutamaankeutamaan ibu pertiwinya, bukan sebaliknya.

Saya: Maksud anda negeri ini? Itali maksud anda?

Niccolo: Artinya kau pahami maksudku. Negara ini sedang di ambang kehancuran. Mereka lebih sudi selain dari apa yang mereka wariskan.

Saya: Bisakah anda menerangkan maksudmu? Jujur, saya tidak paham..

Niccolo: Kematian, saat orang mati, saat mereka ditinggal pergi, mereka berpurapura murung, berputus harapan dengan rasa sakit yang amat. Lantas sebenarnya pikiran mereka tidak demikian. Justru akan kembali seperti biasanya, memikirkan dengan apa hidup harus berjalan. Memikirkan apa isi perut mereka.

29 Agustus 2013

Madah: Mayangmayang Cerita yang Tertunda

Madah oh madah.. Mungkinkah sesuatu itu berasal dari alam yang sebenarnya tiada?

Banyak kisah bermula dari sana, dari apa yang kita sebut legenda ataupun mitos, bahkan Agama sekalipun; awal mula semesta alam adalah sabda. Diyakini bahwa dari sana bermulanya segala sesuatu. Setidaknya harus ada penjelasan yang menetapkan sebab dari awal segala sesuatu. Dimana ketika sebab mulai merunut kejadiankejadian, barangkali pada peritiwa itulah kita mengenal situasi yang menyertakan waktu. Dan di sanalah alaf ruang berima serta waktu dalam membentuk sejarah.

Seperti dirimu, awal mulanya adalah penggalpengal kata. Yang dalam runutannya ada rentang yang mesti kau lewati. Diantara yang silih datang dan pergi. Diantara perulangan putaran waktu, ketika peristiwa kerap kali menjadi suatu yang penting. 

Dan memang sejarah adalah gores panjang yang merunut kejadian dengan toreh pesanpesan pada pinggiran untuk memberikan asumsi dari apa yang bisa kita terima. Engkau kerap muncul diantara peristiwa dari yang datang dan pergi. 

Di tengahtengah itulah engkau muncul untuk kunamai. Engkau ada ditengah titianmangsa yang kerap berlalu begitu saja. Tanpa embelembel, tanpa ada niat, kunamai engkau Madah. Engkau keluar begitu saja. Sebuah nama yang belakangan saya tahu artinya bermakna “pesan”.

Semenjak kemunculanmu, ada kehendak untuk menyempurnakanmu dalam cerita yang kubentuk lengkap menyerupai pahatan patung yang sudah jadi. Setidaknya semenjak kehadiranmu, engkau diniatkan untuk tak berumur panjang. 

Dalam satsra, ceritera yang demikian dikenal dengan akronim cerpen. Sebuah cerita yang tak terbilang untuk panjangpanjang, sebab engkau memang diniatkan demikian. Namun barangkali sebuah ceritera kadangkala menghendaki yang lain, selagi engkau tak pupus dalam ide seorang penulis. Engkau dalam kepalaku menuntut untuk menyusun gugus ceritera. Dan di sinilah masalahnya, engkau menjadi tokoh yang ingin hidup panjang dalam ruang pikiranku. 

Sehingga terbesitlah ide itu. Ide yang mayangmayang tersimpan dalam kehendakku untuk mejadikanmu sebuah cerita yang panjang, sebuah novel. Maka mulailah kutetapkan settingan kehidupan untukmu. Tetapi merunut kejadiankeajadian jauh lebih sulit jika hendak dikalimatisasikan dalam bentuk yang hendak paripurna. Sebab mengkalimatisasi  sebuah peristiwa yang panjang sama halnya memasuki sebuah dunia yang begitu menghendaki konstruksi yang kuat. 

Dan juga menulis  sebuah novel sama halnya membangun dunia yang sungguh berbeda, oleh karena ia berurusan dengan sesuatu yang khayali; imagi. Dan yang khayal adalah seperti benda yang begitu halus, cair dan tak padat; sesuatu yang tak terikat bentuk yang pasti; sesuatu yang kesannya berubahubah.

Tahukah engkau Madah, tentang konstruksi yang berdiri di atas pasir?

Sastra adalah semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona. Setidaknya itu kalimat pengertian yang saya pahami tentang sastra. 

16 Juni 2013

Surat dari Nietzsche; Kebutuhan untuk Percaya

Di siang itu,  kala hujan lebat, jalanjalan basah tergenangi air, kehidupan kita,  seperti ungkapan Jerman: lebenswelt tengah berjalan tanpa penghujung. Dunia yang kita hayati dengan cita dan harap. Kehidupan manusia yang jatuh bangun di tengah harapan yang kembang kempis. Maknamakna yang ditata berdasarkan persentuhan manusia terhadap penghujung sejarah yang panjang; penghidupan yang naik turun, riuh rendah nasib yang diperjuangkan, ketika insting bertahan hidup kerap kali mendapatkan ujiannya pada harapan yang tipis. Maka di siang itu sebuah peristiwa terjadi.

Di tengahtengah itu, pada penghujan yang enggan berhenti, saya membayangkan sejulur tangan menulis dengan penanya, untuk zaman kita. Untuk ia kirimkan tepat di tengah jantung peradaban kehidupan kita. Sebuah surat yang datang dari penghujung abad 19 dengan maknanya yang privatif. Pesan yang begitu pribadi, ia memiliki kesan yang tertutup. Ketika segalanya tengah terbuka lebar, ketika perihal yang mempribadi terbuka untuk orang banyak, dan terjadinya erosi pemaknaan dan pembalikkan nilai di manamana. Sebuah surat bisa menjadi sesuatu yang mitis. Dari seorang yang senang memanggil dirinya sebagai seorang tabib, seorang filsuf pencuriga; Nietzsche.

Secarik surat dari pengalaman sakit dan pencarian akan obat. Yang mana hidup adalah pengalaman untuk mentransfigurasikan sesuatu. Mengenai seni memberi bentukbentuk pada pengalaman manusia.

Dan pengalaman hidup manusia yang kita hidupi adalah hidup yang sakit. Di mana ada kepongahan yang hendak menundukkan. Tentang telos yang dikehendaki untuk masuk pada rumusan yang ajeg. Tentang ini, reality adalah konsep dalam batas yang kita padatkan. Oleh ilmu, sains, ideology, agama, seni dan kepercayaan yang dilabeli ismeisme lainnya, di mana sejatinya ada instingtif yang mengendap untuk menutupi kelemahan kita sebagai manusia. Yang mana tampak dengan bahasa, kepercayaan yang begitu ambisius sehingga jangan sampai hanyalah berupa simtom, berupa gejala, berupa yang bukan inti itu sendiri. Di mana seluruhnya adalah perayaan terhadap penampakan, perayaan terhadap permukaan.

Ia menulis dalam Beyond the Good and Evil, 270,  sebuah paradox kedalaman. Akan sesuatu yang dilakukan. Tentang sesuatu yang di alami;

‘…Penderitaan yang dahsyat meninggratkan manusia sekaligus mengisolasi dirinya. Di satu sisi pengalaman berhadapan dengan jurang rasa sakit, membuat orang lebih tajam. Namun disisi lain ia menjadi berbeda dari sesamanya. Ia menjadi lain. Rasa bangga intelektual diamdiam seorang penderita mengharuskan si penderita untuk memakai berbagai macam samaran untuk melindungi dirinya dari tangantangan yang  tak tahu diri dan  tak senonoh juga  untuk melindungi dirinya dari orangorang yang tak sederajat dengan dirinya dalam hal penderitaan. Pengalaman ini begitu dahsyat dan berat, sehingga membuat sang penderita menggunakan berbagai bentuk topeng untuk  menyamarkannya. Dan penyamaran sekali lagi berfungsi ganda, untuk membuatnya tak dikenali oleh sembarangan orang, sekaligus untuk menyuarakan secara lebih keras apa yang memang tidak bisa disuarakan secara lain kecuali lewat topeng, lewat permukaan, lewat penyamaran….’

Ia berkeyakinan, di saat penuhnya kalangan terdidik, orangorang yang berkisar dalam lingkaran kebenaran atau orangorang yang telah menjadi lain dari yang awam, sesungguhnya adalah si penderita yang telah menjadi lain, penderita yang sesungguhnya bermain pada permukaan. Di mana permukaan adalah satusatunya yang ada, ketika dibalik topeng tiadalah sesuatu. Maka kebenaran adalah suatu yang tiada. Sehingga  tiada yang tinggal dari ilmu, melainkan hanyalah permukaan belaka. Tiada makna yang hendak untuk disampaikan. Tak ada tataran meta yang ada, segalanya hilang. Yang ada adalah metaphor diantara kedalaman dan permukaan. Hidup hanyalah topeng untuk membentengi kelemahan.

Dan keadaanya memang demikian adanya. Kita bisa saja mengyakini sesuatu yang memberikan kita pegangan. Namun di mata pencuriga, keyakinan hanyalah bayang yang kita bentuk, tatanan yang kita kehendaki berdasarkan mekanisme diri untuk keluar dari mental yang sakit. Sebab zaman hanyalah kematian akan inti, ketika apa yang kita kenal sebagai zaman kemajuan tak lain hanyalah meningratkan sekaligus mengisolasi diri sendiri.

Dalam kata pengantarnya;

‘..Untuk mengakhiri semoga yang esensial tidak terlupakan dari jurang semacam itu, dari kelelahan seperti itu, seperti  halnya  dengan rasa capek kecurigaan yang begitu besar. Kita dilahirkan kembali sekali lagi. Dengan kulit baru yang lebih peka, lebih licik dengan citacita akan kegembiraan yang lebih halus, lidah yang lebih peka atas apa saja yang baik. Indera yang lebih gembira dengan kepolosan rasa gembira yang kedua yang lebih berbahaya karena sekaligus lebih naïf dan seratus kali lebih halus daripada sebelumnya. Oh betapa tampak menjijikkan, tidak senonoh, hambar dan menjemukkan bagi kalian, kenikmatan sebagaimana dimaksud biasanya dimaksud pemuja kenikmatan yaitu orangorang berpendidikan kita, orangorang kaya kita dan para  pemimpin pemerintah kita.

Sekarang kita menonton dengan pandangan mengejek nakal, riuh rendah pasar dimana para orang terdidik, para warga Negara membiarkan diri mereka diperkosa oleh seni, buku, musik yang maunya memberikan kenikmatan spiritual lewat daya minuman berakhohol. Betapa lengking teatrikal nafsu derita memecahkan gendang telinga kita. Betapa segala pemberontakan romantis, segala campur aduk indera yang diapresiasi oleh para orang  terdidik itu dengan seluruh aspirasi mereka kepada yang tak bisa diusapkan, ke ekstase, ke yang hiper rumit, betapa itu semua menjadi asing untuk cita rasa kita.

Tidak. Kita orangorang  yang sembuh yang berbeda, kita pun masih  akan  membutuhkan sebuah seni, seni yang sama sekali lain..’

Segalanya adalah cacat yang menganga. Apa yang dinisbatkan sebagai kenyataan oleh kepercayaan adalah dunia yang retak. Bahkan segalanya adalah sesuatu yang chaotic terserak dan berpencar. Sehingga dengan kepongahan manusia berusaha untuk menundukkannya pada batas ilmu maupun kepercayaan mereka, namun dalam kenyataannya diwaktu yang sama, ketika hidup manusia telah meninggalkan zaman yang primordial, pada saat yang sama justeru lebih menjijikkan dari masa sebelumnya. Tidak senonoh,  menjemukkan dan hambar. Sesuatu kenikmatan  yang seakanakan sudah fixed dan final. Dalam bahasanya, kita adalah orang yang terperangkap dalam alkohol yang memabukkan. Dan kita terasing. Dan seringkali tak sopan dihadapan realitas.

Dalam tulisannya yang lain ia mengendaki adanya sosok misteri yang tampil bukan untuk dikenali dengan pasti. Sesuatu yang kedatangannya dalam bentuk samar dibalik topeng yang diperlihatkan. Sang Diogenes yang dahsyat,  saya merindukan dewa topeng, saya membutuhkan dewa yang pandai menari katanya.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...