Archive for Oktober 2019

Si Pengintip yang Genit dan Perkasa

30 Oktober 2019 Comments Off

Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis
Inninawa (2007)

SAYA kira cukup mudah bagi kita menunjukkan keperkasaan. Apalagi jika anda seorang polisi, maka jauh lebih gampang lagi. Cukup memajang residivis kambuhan dengan tulang kering berlubang karena lahar panas. Setelah ditangkap diintai berhari-hari menggunakan mobil kijang tanpa nomor plat, segeralah ambil gambar. Di foto itu, bakal kelihatan siapa jagoan dan siapa bajingannya.

Panorama ini lumayan intimidatif. Terutama bagi penjahat yang masih berkeliaran bebas. Coba bayangkan sebelum didiamkan di dalam sel, mesti foto bersama polisi-polisi berotot plus berambut gondrong. Saya yakin, si bajingan yang jadi bulan-bulanan nanti ini lumayan makan hati. Kecut nian perasaannya.
Sudah dihadiahi pelor panas, dijadikan objek selfie-selfie pula.
Entah semenjak kapan ada kebiasaan ini. Tapi begitulah ketika selfie jadi tren. Di tangan polisi-polisi berpenampilan preman, residivis kambuhan yang tidak punya daya apa-apa lagi ini jadi mainan sesaat. Di hadapan kamera smartphone ia jadi objek kekuasaan.

Bahkan, di ujung kamera itu untuk membenarkan kerah baju saja ia tak berdaya. Apalagi membereskan sedikit muka bonyok pasca digasak bogem polisi.
Sial betul.
Saya kira ini suatu keadaan unik ketika kejahatan diolah menjadi ajang keperkasaan.
Muhiddin M. Dahlan, lewat esai di Fajar bertarikh 16 Oktober 2019 lalu, kurang lebih menyitir kelakuan ”perkasa” Achmad Fadil Muzakki Syah, anggota DPR fraksi Nasdem, saat pelantikan. Anggota dewan ini, di hari pertamanya bertugas, bukan main, membawa dan berfoto bersama tiga istrinya sekaligus.
Esai Gus Muh menarik. Fragmen Lora Fadil menampilkan tiga istrinya mencerminkan tema besar disebutnya ”dunia ranjang”. Dunia ini kurang lebih merupakan hasil panjang kebudayaan di mana Bugis menjadi salah satu pemasoknya.
Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis ditulis Muhlis Hadrawi terbitan Inninawa pada 2007, disebut di esainya itu, banyak memberikan perspektif adab dan ritus bersenggama dalam ”dunia ranjang” itu.
Menurut Gus Muh inti buku persenggamaan ini berusaha mendudukkan seks sebagai bagian integral ibadah.
”Apa yang Anda bayangkan? Ya, seks bagian yang inheren dengan dunia peribadatan. Seks itu sesuatu yang suci (berwudu). Ia memiliki dimensi spiritualitas. Melakukannya dengan cara yang benar sejatinya mengagungkan proses penciptaan.”
Di buku Assikalaibineng, sepenuturan Gus Muh, menjelaskan prosesi persetubuhan antara lai (lelaki) dan bineng  (perempuan) dengan tahap-tahap yang mencerminkan betapa persenggamaan mesti dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang.

Satu tilikan penting bisa diambil dari buku yang diurai Gus Muh di esainya berjudul Bugis dan Ranjang Indonesia itu. Keperkasaan atau kekuasaan lelaki yang lahir dari kualitas maskulin mesti disterilkan dari praktik kekerasaan. Seks betapa pun sering dipandang kegiatan profan belaka, mau tidak mau mesti dimaknai sebagai kegiatan yang setara (cinta).

Itu artinya, keperkasaan lelaki kerap muncul dalam praktik seks mesti lenyap, bukan malah sebaliknya.
Lalu, bagaimanakah melihat praktik ”kekuasaan” dalam foto Lora Fadil bersama ketiga istrinya? Keperkasaan jenis ini tidak berdiri di kaki-kaki kejahatan. Malah bisa jadi ia ditopang oleh semangat patriarkat yang mengakar kuat di benak lelaki macam Lora Fadil.
Anda bisa sepakat, Lora Fadil adalah tipikal lelaki berprestasi. Ia berhasil ”mengumpulkan” tiga perempuan di bawah satu atap rumah. Malah, ”di atas ranjang,” prestasinya lebih dahsyat lagi.
Prestasi ini persis seperti harapan ”ahli” poligami yang jadi pembicara di forum-forum berjenis ”ayo poligami” itu.
Di ranah politik, prestasinya ya itu tadi, lolos menduduki ”kursi kekuasaan” sebagai wakil rakyat.
Itu artinya, saat Lora Fadil menginjak lantai di Gedung Senayan dengan memboyong ketiga istrinya yang notabene adalah simbol kekuasaan di negeri ini, ia sedang menunjukkan satu jenis keperkasaan maskulin sekaligus.
Dengan kata lain, ia sedang mengembangkan ”ekor merak” keperkasaan menapaki dan menaklukkan dua ranjang sekali kibasan: kekuasaan politik dan seksualitas.
Dua ranjang ini dapat saling mengandaikan. Keperkasaan Lora Fadil mengandaikan barang siapa bisa ”menundukkan” tiga hati perempuan, berarti ia bisa ”merangkul” purnaragam kepentingaan politik. Atau sebaliknya, barang siapa mampu ”menegosiasikan” kekuasaan, itu sama artinya bisa memperistri banyak perempuan.
Tapi, sudahlah. Seperti Gus Muh dalam esainya, saya tidak ingin memperpanjang suasana jadi keruh.
Kiwari, keperkasaan sehari-sehari jadi ajang tanding. Bangsa Indonesia setelah mengalami 32  tahun mati suri mengalami perubahan mendasar atas nama demokrasi. Kekuasaan yang selama ini berpusat dan dikontrol oleh rezim Soeharto, terpecah-pecah, terpencar-pencar, dan terbagi-bagi, kepada siapa saja. Jika politik di masa sebelumnya hanyalah mainan elit ”di atas”, sekarang malah ia jadi konsumsi massal.
Di saat bersamaan, globalisasi abad 21 membuat dunia ibarat kawah mendidih. Kendati ada ekspresi untuk menghentikan laju zaman dengan membangun dinding perbatasan, semua itu tidak menghentikan umat manusia pecah ruah saling bercampur akibat deru deras informasi.
Itu artinya, ketika luberan informasi jadi kian merembes, setiap orang jadi kehilangan garis tepi kebudayaan, politik, dan agama.
Di kawah informasi yang mendidih itu tidak ada lagi Indonesia, Polandia, Spanyol, Amerika, Prancis dlsb.  Dengan kata lain, masyarakat global menjadi era yang sulit dielakkan.
Esai Eka Kurniawan di Jawa Pos 12 Oktober 2019 lalu cukup menarik menangkap perilaku manusia ”saling mengintip” berkat pergeseran zaman yang kian terbuka. Perilaku ”saling intip” kian banyak ditemukan melalui aktifitas maya. Kita hari demi hari makin bebas genit mengintip linimasa satu sama lain; status, hoaks, kisah, petuah, omelan, cibiran, iklan, percakapan, dan segala apa pun.
Uniknya, di kegiatan macam itu, tidak sedikit dari kita sebelum diintip tangkas memasang keperkasaan melalui layar smartphone. Tidak jauh berbeda seperti foto polisi preman itu, hanya saja tanpa muka bonyok si residivis.

Makassar Melawan Pembajakan Buku

27 Oktober 2019 Comments Off


BAJAK, di KBBI diartikan sebagai ”ambil alih secara paksa, disertai ancaman”. Definisi ini dibubuhi konteks lanjutan berupa ”(tentang pesawat dan sebagainya)”. Contoh ini mengingatkan saya kepada ”Air Force One” (1997), film aksi dibintangi Horrison Ford, orang yang juga sering kita saksikan memerankan Indiana Jones, seorang ahli arkeologi pemburu benda-benda kuno.
Tak perlu panjang lebar, ”Air Force One” lumayan fenomenal. Film ini berkisah tentang pembajakan pesawat kepresidenan AS oleh segerombolan teroris. Di film ini Horrison Ford berperan sebagai orang nomor satu Amerika, sekaligus menjadi pahlawan penyelamat pembajakan pesawat. Di film ini, ia berjuang sendirian. Berjibaku melumpuhkan satu per satu pembajak secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Terkesan hiperbola memang, seorang presiden sebatang diri melawan gerombolan teroris bersenjata lengkap di dalam pesawat. Tapi, begitulah Hollywood.
”Air Force One” seringkali ditayang ulang di layar kaca. Sekaligus jadi salah satu film berkesan di benak saya.
Barangkali, semenjak film ini tayang, banyak film bertema pembajakan dibuat Hollywood. Tidak main-main, beberapa film bahkan berani mengambil Gedung Putih–titik paling ketat penjagaannya di AS–sebagai  tempat paling sering dibajak–pendekatan yang belum mampu diadaptasikan sineas tanah air.
Terlepas dari itu, perlu dicermati mengapa konteks kata ”bajak” KBBI mengambil contoh peristiwa ambil alih paksa pesawat, bukan yang lain. Mengapa bukan kapal laut, kereta api, atau bahkan sebuah bus?
Mungkin memang, peristiwa fiksi semacam ”Air Force One” sering kali ditemui di dunia nyata. Di negara-negara dengan penerbangan padat berskala internasional, pembajakan pesawat sering terjadi. Terakhir memori dunia mengacu peristiwa 9/11 kejadian pengeboman gedung kembar WTC yang diliputi pro dan kontra itu.
Itulah sebab, konteks seringkali jadi latar belakang arti suatu kata. Dengan kata lain, suatu peristiwa sekaligus berfungsi membuat kata jadi terang.
Tapi, walaupun begitu, definisi paten dan demikian normatif, jadi tidak efektif. Terutama bagi kasus-kasus di luar kerangka definisi baku.
Pembajakan, kata kerja dari ”bajak”, dan ”pembajak” sebagai pelaku, hanya disebutkan diikuti konteks dalam dunia penerbangan. Tiada faktor lain yang membuka peluang konteks lain dapat muncul. Di KBBI, konteks lain itu justru ditulis hanya sebatas ”(…dan sebagainya)”.
Saya kira inilah soalnya. Di Yogyakarta pembajakan tidak terjadi dalam dunia penerbangan. Malah, ia terjadi dalam semesta suci ilmu pengetahuan. Dalam dunia berisi para pekerja buku berupa penulis, editor, proof readerlay outer, desainer,  percetakan, sampai pedagang buku. Suatu konteks yang tidak dicontohkan dalam KBBI saat ini.

Sekarang, menurut pengakuan Muhidin M. Dahlan dalam bincang-bincang Makassar Melawan Pembajakan Buku di Kopisentris (16/10), sudah sejak setahun lalu pekerja buku di Yogyakarta bergerak melawan mafia-mafia pembajak buku. Di Shopping Center, pusat penjualan buku di Yogyakarta, hampir semuanya menjajakan, dalam istilah Gus Muh, buku-buku repro.
”Bahkan, sebelum buku cetakan ori beredar, lebih dulu buku bajakannya terpampang di etalase-etalase toko buku di Shopping.”
Pendakuan Gus Muh, sapaan akrab Muhidin M. Dahlan ini mencengangkan. Terutama bagi yang pertama kali mendengarnya. Apalagi tambah Gus Muh, penerbit macam Basabasi sampai menarik ribuan bukunya dari toko-toko buku di Pasar Shopping.
”Pembajak itu menghadang di tahap akhir. Mereka memotong mata rantai proses percetakan buku.”
Gus Muh memberikan gambaran ada 15 tahap sebuah buku bisa sampai dinikmati pembaca. Dimulai dari proses kreatif penulis sampai di percetakan, semuanya menjalani proses panjang memakan waktu dan tenaga tidak sedikit.
Semua proses itu bahkan bisa disebut proses yang ”berdarah-darah.”
Saya kira, metafor yang ”berdarah-darah” ini tidak sekadar kiasan.  Ia memang harfiah. Pekerja buku bahkan bisa sampai diserang penyakit lantaran bekerja rodi mengawal satu naskah buku betul-betul sempurna sampai bisa dinikmati pembaca.
Lalu apa soal dari pembajakan buku, sebenarnya? Bukankah buku bajakan jadi solusi bagi mahasiswa berkantong kere, misalnya? Bukankah buku bajakan jadi medium percepatan dialektika pengetahuan, tinimbang buku asli yang masih lama naik cetak? Bukankah buku bajakan jadi alternatif sebaran ilmu pengetahuan jadi jauh lebih luas? Bukankah semua itu merupakan dalil melawan sistem distribusi ilmu pengetahuan yang semakin hari tidak berpihak kepada pembaca kelas bawah?
Buku bajakan bukan soal ”murah-atau tidak”, bukan soal memperluas akses buku-buku, bukan juga mengenai percepatan sebaran ilmu pengetahuan. Apalagi soal alasan melawan sistem yang tidak memihak. Malah, dalih semua ini secara kontradiktif membunuh sendiri argumentasinya.
Bagaimana mungkin buku dapat lebih murah jika di pasaran buku repro malah merusak konsensus pasar. Mereka murah karena tidak sama sekali mengeluarkan royalti bagi pekerja buku yang berjibaku menset seluruh tetek bengek mulai dari ide penulis sampai biaya produksi percetakan. Bagaimana mungkin dikatakan percepatan ilmu pengetahuan jika perputaran buku penerbit berhenti di gudang-gudang hanya karena buku-buku repro merampas tempat di etalase toko-toko buku?
Bagaimana bisa ini disebut melawan sistem distribusi bisnis perbukuan mahal, sedangkan di belakang tindakan pembajakan itu sendiri bersembunyi taipan-taipan buku repro. Di Yogya, taipan buku bajakan disebut Gus Muh sudah sampai bisa berkali-kali umrah dari keuntungan membajak buku-buku.
Ada satu alasan dikemukakan Gus Muh, yang saya kira, jauh lebih sederhana dari sejumlah alasan mengapa pembajakan buku mesti dihentikan: hak cipta.
Para pembajak buku kasadnya adalah para pencuri. Masih lebih lunak pengertian bajak diberikan KBBI. Di KBBI disebutkan pembajakan jika ada unsur terang-terangan disertai pemaksaan. Pembajak mengapa demikian jahat karena menggunakan pemaksaan, perampasan, bahkan menyertakan kekerasan sebagai cara mengambil alih.
Tapi, pembajak buku bukan saja jahat, malah itu tindakan bejat sekaligus bangsat. Pembajakan dilakukan tanpa sepengetahuan pihak penulis dan penerbit. Bahkan ia dilakukan tanpa ada unsur paksaan.
Berbeda dari sebelumnya, pembajakan buku-buku di Yogya sudah dilakukan terang-terangan dan massal. Ia tidak lagi dilakukan dan diedarkan sembunyi-sembunyi. Kini kebejatan itu bahkan dibenarkan oleh pembeli buku repro dengan dalih yang sudah dikemukakan di atas.
Di sisi lain, pembajakan buku sudah memanfaatkan kemajuan teknologi percetakan. Soesilo Toer di forum yang sama mengemukakan ada hubungan mengapa pembajakan begitu massif. Ia mengatakan jika saja mesin-mesin percetakan tidak seperti sekarang, pembajakan buku juga akan memiliki jalan cerita berbeda.
Di Makassar, temuan-temuan sederhana mengenai pemanfaatan mesin percetakan mengindikasikan sudah ada perencanaan sebagaimana  pembajakan di Yogya. Berdasarkan amatan sederhana selama ini, besarnya pangsa pasar buku repro di Makassar jadi sebab utama mengapa sudah ada pihak yang ingin mengadaptasikan percetakan repro di Makassar.
Jalan cerita ini dimulai dari kampus sebagai arena buku repro dipasarkan. Kampus secara tidak langsung menjadi medium pembajakan menjadi langgeng. Ada satu dua kasus bagi mahasiswa-mahasiswa Makassar yang menyeberang ke Yogyakarta demi menempuh pendidikan lanjutan, menjadi ”agen-agen” penyalur buku repro ke beberapa toko-toko buku di Makassar.
Dari proses di atas-lah ide mengenai  ”memiliki mesin cetak sendiri” timbul di benak sebagian mahasiswa Makassar.
Tapi, terlepas dari itu, perkataan Soesilo Toer masih bisa ditepis selama tidak ada keinginan pasar yang lebih menyukai buku repro. Artinya, selama edukasi berkelanjutan mengenai pemberhentian pembajakan, terutama bagi percetakan liar, terus digalakkan, dapat menghentikan laju produksi buku-buku bajakan.
Dengan kata lain, mesin hanyalah mesin jika tidak ada peluang niat jahat pelaku pembajakan.
Di Yogya, dalam suatu obrolan bersama Gus Muh di Paradigma Ilmu, perlawanan atas pembajakan buku sudah sampai ke pihak kepolisian. 12 penerbit yang tergabung dalam Konsorsium Penerbit Yogya, berdasarkan perkataan Gus Muh ikut menggandeng  15 pengacara untuk memperkuat gerakan perlawanan pembajakan buku.
Ketika melihat alur perjalana buku-buku repro, kedudukan Makassar menjadi kota ”penadah” dari hulunya yakni di Yoyakarta. Itu artinya, berbeda dari Yogyakarta, bagi Makassar, sasaran perlawanan terhadap buku repro ditujukan kepada pihak pembaca, perpustakaan komunitas, kampus, toko buku, dan pihak lain yang berposisi di sisi hilir penikmat buku repro.
Soesilo Toer, yang datang ikut mendukung deklarasi Makassar melawan pembajakan buku, bahkan memberikan pernyataan keras. Di forum yang diinisiasi Toko Buku Intuisi bekerja sama dengan Dialektika Warung Buku dan Paradigma Grup, defenisi pembajakan dengan sekali pukul ia katakan sebagai benalu.
”Pembajak buku itu benalu. Ia hidup dari tenaga dan pikiran orang lain.”
--Telah tayang di Kalaliterasi, 18 Oktober 2019

Laptop si Fulan

26 Oktober 2019 Comments Off


FULAN antusias menatap layar laptop. Matanya lekat. Jemarinya kikuk bergerak dari satu tombol ke tombol lainnya. Seolah-olah ada beban berat di setiap buku-buku jarinya. Tidak lama sebaris kalimat terpampang. Seketika ia hapus kalimat itu. Kemudian, ia kembali menulis kalimat lain. Tapi, untuk kedua kalinya ia hapus kembali. Bagai mesin karat, jemarinya tiba-tiba berhenti begitu saja.

Seperti jemarinya, pikirannya ikut berhenti. Seketika, layar putih kembali kosong. Ia seperti sedang berhadapan dengan tembok tebal....

Ini kali pertama Fulan menggunakan laptop. Benda paling berpengaruh abad ini membuatnya nampak asing. Pengalaman ini tidak pernah ia alami sebelumnya.

Di kampung halaman, ia akrab dengan layang-layang, sebidang kebun, sawah, persada luas, dan sepak bola. Jika masuk waktu salat, ia bergegas meninggalkan sungai tempatnya bermain.

"Di sekolah kalau diberi tugas hanya pakai buku tulis. Tidak pakai laptop. Baru kali ini menggunakan laptop." Demikian ia mendaku.

Fulan adalah tipikal anak pelosok. Di desa kelahirannya, nun jauh di pedalaman Sulawesi, teknologi hanyalah berupa kotak-kotak yang ia lihat seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci.

Di masjid teknologi itu berupa amplifier dan toa masjid. Di rumah tetangga ia hanya melihat teknologi berupa parabola yang sudah lama tidak berguna. Ketika ia di toko kelontong kalkulator adalah benda canggih yang mewakili kemajuan desanya.

Belakangan orang-orang menenteng benda baru berlayar kecil dan trendi. Mereka sering tepekur berlama-lama menghadap layar kaca yang mungil itu.

Anak-anak seusianya kerap ditemukan duduk di atas deker-deker lorong. Bergerombol tapi seolah-seolah terpacak tembok pemisah. Tepekur menatap layar dengan seksama.

Untuk benda terakhir ini dimulai ketika para sopir mobil datang membawa alat komunikasi baru yang belakangan menggantikan mesin berlayar hitam putih.

Pertama-tama benda itu dipakai terbatas. Para orang tua hanya menggunakannya bertukar kabar dengan sanak famili nun jauh di kota. Sesekali jika ada keperluan ke kota, alat itu dipakai memesan tumpangan mobil. Bagi pedagang, benda itu dipakai memesan barang. Jika ada pesanan yang salah seketika benda itu menjadi solusinya. Dan, tentu benda itu dilakai para sopir mobil yang sehari-hari keluar masuk desa-kota, orang yang paling sering terpapar inovasi teknologi.

Pelan-pelan benda itu kian jamak dipakai. Hampir semua orang membelinya. Bahkan lama kelamaan ia jadi semakin canggih. Kini benda itu dibekali kemampuan internet. Dunia seketika tidak lagi sesederhana kehidupan desa. Informasi cepat bergerak mengubah kenyataan sehari-hari.

Ibu-ibu muda penjaga toko-toko kelontong di pasar lebih sering menatap layar mungil dari pada sekadar ngobrol sesama pedagang di sebelahnya. Anak-anak muda kala senggang habis waktunya berselancar menonton video-video hiburan, bersosial media, dan bermain game. Anak-anak gadis berasyik masyuk mengambil dan menyimpan gambar selfie. Kecuali orang-orang tua, para ibu-ibu dan suami-suami, masih setia berkebun dan menjemur gabah-gabah di pinggir-pinggir jalan.

Tapi, tetap saja sejak perusahan komunikasi masuk di desa Fulan mendirikan tiang-tiang kerangka di puncak-puncak bukit. Benda itu jadi demikian intim sekalipun hanya dipakai sebagai hiburan maya belaka.

Begitulah, selain motor dan mobil, teknologi android mengubah kebiasan hidup desa Fulan. Tidak terasa kehidupan organik desa berganti layaknya kehidupan kota.

Walaupun perubahan itu kian terasa. Tetap saja di sekolah teknologi adalah sesuatu yang demikan jauh di mata Fulan. Guru-gurunya sekarang memang senang menenteng laptop ketika di sekolah. Tapi, tetap saja ia belum tahu apa kegunaan praktis benda itu.

Dulu, kali pertama ia saksikan laptop di sekolah, tidak sekali pun ia melihat gurunya menggunakannya. Di atas meja, benda itu tergeletak begitu saja. Bersebelahan dengan vas bunga. Seringkali bodycovernya yang mengkilap tertutupi debu bekas kapur.

Di kelasnya, kapur dan papan tulis--selain buku gurunya--adalah benda yang paling mencerminkan dunia ilmu pengetahuan. Laptop, di mata gurunya terlebih di mata Fulan, dalam pengalaman ini entah untuk semesta apa.

Hingga akhirnya Fulan beranjak meninggalkan desanya. Ia pergi ke kota menuntut ilmu. Suatu fenomena khas bagi masyarakat pedesaan karena tidak lama lagi, orang seperti Fulan bakal memiliki kebiasan baru. Itu semua akan dimulai dari berubahnya sudut pandang, pemahaman, dan pengetahuan baru. Fulan, seperti warga desa umumnya yang bergerak ke kota, akan menjadi pribadi baru.

Tapi, itu bukannya tanpa risiko. Pendidikan yang ditempuhnya mengandung soal pelik. Di titik tertentu, Fulan akan mulai melihat desanya dengan cara berbeda. Desa bakal ia lihat sebagai suatu hal yang pelan-pelan jadi titik kecil. Desa akan jadi semesta asing. Desa akan mulai ia tinggalkan.

Sebelum itu semua terjadi, Fulan mau tidak mau mesti akrab dengan satu benda yang demikian gandrung dipakai di hampir setiap pekerjaan di kota: laptop.

Laptop, bagi masyarakat kota jadi benda penting. Sepenting parang bagi pekebun, atau cangkul bagi petani. Bagi dua pekerjaan ini, parang dan cangkul seperti di desa Fulan adalah alat yang bisa dipakai hampir di semua keperluan.

Kini, belum lama menjadi mahasiswa, Fulan disuguhi tugas dari kampusnya. Ini berarti Fulan mesti menggunakan laptop. Di kota, terutama institusi pendidikannya, hampir semua aktifitas akademik mesti menggunakan perangkat ini.

Di sinilah soalnya, pengalaman belajar Fulan selama di desa melihat laptop hanya sekadar benda yang akrab dengan gurunya. Kini, benda itu mesti ia pakai. Mesti menjadi bagian langsung pengalaman belajarnya.

Fulan yang dari pelosok, dan teman-temannya yang berasal dari kota, bukanlah generasi yang setara. Infrastruktur pendidikan di kota jauh lebih maju dari desa. Di kota, anak-anak seusia Fulan sejak awal sudah diperkenalkan laptop. Di kelas-kelas, mereka bisa belajar sejarah dari video-video, menyatakan pikiran menggunakan slide presentasi, mengutip pernyataan dari buku elektronik, dan membuat tugas dengan aplikasi khusus.

Singkatnya, anak-anak di kota lebih kreatif dibanding anak-anak desa. Kemampuan operasional atau skill mereka bagai langit dan bumi. Kini, jika mereka masuk ke jenjang perguruan tinggi, keterampilan dan pemahaman mereka bakal menjadi modal pengembangan dalam proses belajar mengajar.

Itulah sebab, sekarang Fulan kelimpungan di hadapan benda bernama laptop. Ia menjadi demikian berjarak. Teknologi untuk kasus Fulan, justru tidak mampu mengefesienkan pekerjaannya. Fulan belum punya bekal apa-apa untuk menggunakan laptop. Ia malah lebih akrab dengan androidnya

Sepupunya yang lebih dulu mengenyam pendidikan di kota dari tadi setengah mendikte mengajarkan bagaimana cara menulis di microsoft words. Fulan bingung dengan beragam menu di atas bar. Ia belum tahu apa kegunaan semua itu.

"Tekan 'control A'". Perintah sepupu Fulan.

Fulan gagap mencari tombol dimaksud.

"Sudah? Baru 'Control C'... Setelah itu 'Control V'".

Fulan terperangah. Seketika layar laptopnya penuh tulisan. Ia senang. Itu artinya ia tidak perlu lagi berpikir panjang.

Merebut Aku Otentik a la Soren Aabye Kierkegaard

11 Oktober 2019 Comments Off

Judul: Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis: Thomas Hidya Tjaya
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi: Ketiga, April 2018
Tebal: XVII+ 178 halaman
ISBN: 978-602-424-850-5

Orang-orang berpikir bahwa dunia ini membutuhkan republik, dan mereka berpikir bahwa yang dibutuhkan adalah tatanan sosial baru, dan agama baru—tetapi tak seorang pun pernah berpikir bahwa apa yang sekarang dibutuhkan oleh dunia, membingungkan tapi sebenarnya juga sudah banyak diketahui, adalah seorang Socrates.

Anti-Climacus,
The Sickness Unto Deatth, Appendix 223

SEANDAINYA Kierkergaard hidup di masa sekarang, ia bakal getol bersuara mengingatkan publik. Seluruh kritik filsafatnya menemukan momentumnya saat ini.

Di ranah individu, manusia kehilangan orientasi didera krisis eksistensi. Di ranah sosial, masyarakat menjadi kerumunan. Kerumunan melenyapkan kepribadian individu yang khas, dinamis dan bebas. 

Di ranah etika, manusia lebih mengutamakan hasrat kenikmatan daripada anjuran moral universal. Di panggung budaya, hasrat mengorientasikan masyarakat ke dalam jebakan konsumerisme. Bahkan di ranah agama, religiusitas terjebak ke dalam formalisme kerumunan dan ritualisme belaka.

Kierkegaard merupakan filsuf eksistensialis. Proyek filosofisnya bertolak dari eksistensi manusia sebagai dasar pemikirannya. Bagi Kierkegaard, filsafat mesti menjadi panduan bagi tindakan manusia. Filsafat bukan argumentasi abstrak yang diidealisasi hingga tidak sama sekali mampu menyelesaikan fenomena konkret manusia. Sesungguhnya, filsafat di mata Kierkegaard adalah jalan tengah yang mendamaikan pilihan-pilihan hidup yang demikian sulit dielakkan.

Dengan kata lain, filsafat bukan bekerja di ranah ”apa itu” (what is that?), melainkan ”bagaimana itu” (what I do?) (hal.63).

Itulah sebab, filsafat Kierkegaard dapat dikatakan filsafat manusia. Tiada filsafat yang bertolak dari manusia, begitu kurang lebih dakuan filsafat Kierkegaard.

Filsafat manusia Kierkeegard nampak terang jika dilihat dari kritiknya terhadap filsafat Hegel. Setidaknya ada tiga wilayah kritik filsuf Denmark ini terhadap Hegel.

Pertama, di mata Kierkegaard Hegel terlampau jauh mendudukkan manusia ke dalam idealisasi pergerakan ruh (sejarah). Bagi Hegel hakikat kenyataan adalah dialektika, dan seluruh kehidupan manusia berpijak atas hukum ini. Manusia dalam pemikiran Hegel senantiasa menemukan ketegangan-ketegangan antara pikiran dan kenyataan. Dialektika antara das sein (realitas pikiran) dan das solen (realitas faktual), dengan kata lain adalah rumus paten segala fenomena dunia.

Walaupun demikian, dialektika Hegel bakal dijembatani pemikiran baru berupa sintesis dari pertentangan sebelumnya. Das sein berupa kedamaian dunia (tesis) dan konfrontasinya dengan perang dunia (antitesis) akan ditengahi kenyataan baru berupa kedamaian abadi (sintesis). Kedudukan manusia dalam kasus ini di mata Hegel adalah bagian perubahan yang disebutnya sejarah ruh.

Dalam arti lain, bagi Hegel, seluruh pertentangan dunia fenomenal merupakan dialektika ruh dalam mengidealisasikan (men-sejarah-kan) dirinya menjadi ruh absolut (ruh sadar diri).

Di titik inilah Kierkegaard meletakkan kritiknya kepada filsafat sejarah Hegel. Bagi Kierkegaard, manusia dalam wilayah sejarah ruh Hegel terlampau teridealisasi menjadi semata-mata abstrak. Kedudukan  manusia seperti ini mengandung kontradiksi sebab manusia di kehidupan sehari-hari berkembang berdasarkan kebutuhan-kebutuhan konkret.

Sejarah manusia bukan manifestasi pergerakan ruh yang bergerak menuju satu telos (sintesis) sembari meleburkan pertentangan-pertentangannya (tesis-antitesis). Sejarah manusia adalah emosi, kegelisahan, kerisauan, kemarahan, cinta, dan benci yang secara personal jauh dari idealisasi ruh absolut seperti pendakuan Hegel.

Dari wilayah ini pula Kierkegaard menyatakan pertentangan manusia tidak dapat sepenuhnya lenyap setelah dikonsitusikan ke dalam sintesa baru. Jika Hegel memandang roh obsolut (sintesis) sebagai tujuan akhir pergerakan sejarah, dan itu bakal mendamaikan seluruh konflik dunia fenomenal (tesis-antitesis), bagi Kierkegaard kemelut pertentangan yang dialami manusia akan tetap eksis.

Dengan kata lain, sepanjang sejarah, manusia tidak sepenuhnya bisa keluar dari pertentangan-pertentangan eksistensial dirinya (hal.53).

Kedua, filsafat Hegel adalah filsafat yang ambisius menempatkan dirinya sebagai satuan sistem tunggal. Dalam arti ini, Hegel ingin mengatasi segalanya melalui sistem ilsafatnya. Ruh absolut yang dikatakan Hegel sebagai tujuan segala pertentangan-pertentangan bakal mendamaikan kenyataan ke dalam eksistensi tunggal yang maha menutupi.

Kritik Kierkegaard terhadap pemikiran Hegel ini ia nyatakan sebagai comical lantaran Hegel terlampau jauh meninggalkan kenyataan konkret manusia. Bagi Kierkegaard, pengalaman manusia tidak dapat diletakkan begitu saja ke dalam satuan sistem gagasan. Atau dengan kata lain, dari tilikan filsafat Hegel yang universalis, pengalaman unik dan khas manusia tidak serta merta dapat digeneralkan ke dalam satuan sistem begitu saja. Pengalaman khas manusia hanya bisa dipahami dari pergulatan hidupnya sendiri. Itu artinya manusia tidak begitu saja mampu diterangkan apalagi dipahami dari kaca mata seperti yang dinyatakan Hegel.

Pemikiran Hegel dinyatakan Kierkegaard mengabaikan termporalitas manusia yang hidup dalam ruang dan waktu. Sistem filsafat Hegel dalam hal ini bakal menghilangkan dinamika konkret kehidupan manusia. Dengan kata lain, sistem filsafat Hegel, tidak sama sekali menempatkan manusia sebagai eksistensi penting sebagai tilikan refleksinya.

Ketiga, fungsi filsafat Hegel dinyatakan Kierkegaard tidak sama sekali berfaedah bagi keputusan-keputusan praktis eksistensial manusia. Filsafat Hegel terlampau spekulatif dan abstrak sehingga tidak relevan menjadi pegangan hidup.

Jika mengajukan pertanyaan ini kepada Hegel ”apa hubungan dialektika sejarah ruh terhadap keputusan Si A memilih pasangan hidup?”, maka nampak sulit menemukan hubungannya. Bagi Kierkegaard, filsafat mesti memproblematisir masalah-masalah manusia, bukan ihwal yang jauh dari kebutuhan praktis manusia.

Dengan kata lain, di mata Kierkergaard spekulasi rasional filsafat Hegel tidak memadai untuk memahami pergulatan eksistensial manusia dalam kehidupan sehari-hari (hal. 65).

Tiga kritik Kierkegaard terhadap filsafat Hegel ini sedikit banyak memperlihatkan kecenderungan orientasi eksitensialisme Kierkegaard. Tesis Kierkegaard atas pemikiran Hegel merupakan turning point yang meletakkan kecenderungan semangat idealisme kepada soal-soal pergulatan konkret manusia. Di mata Kierkegaard, pergulatan eksistensi manusia jauh lebih menantang  diajukan ke dalam refleksi filosofis. Ini akan nampak jelas jika sejarah hidup Kierkegaard ikut jadi pertimbangan mengapa filsafatnya berorientasi eksistensialis.




ALAM pemikiran Kierkegaard tidak bertolak dari titik hampa. Kenyataannya, pemikirannya merupakan refleksi atas situasi yang ia hadapi. Di masa Kierkegaard hidup ada dua keadaan sosial yang menjadi tujuan kritiknya. Pertama adalah crowd, kerumunan (publik). Dan, yang kedua adalah formalisme agama.

Proposal utama filsafat Kierkegaard adalah perjuangan manusia menemukan akar kepribadiannya. Dengan kata lain, dorongan agar manusia bertindak otentik. Otentisitas karena itu merupakan refleksi penting dalam filsafat Kierkegaard.

Kierkegaard menyatakan otentisitas atau keaslian diri mesti bertolak dari subjektivitas. Subjektivitas bagi Kierkegaard hanya berarti jika itu ditopang keyakinan atas kebenaran. Uniknya kebenaran bagi Kierkegaard bukan pernyataan objektif, universal, dan diandaikan ”di luar” atas keselarasan ”pikiran” dan ”objek pikiran”, melainkan sebagai sesuatu yang berhubungan langung dengan dirinya.

Itu artinya kebenaran  adalah hubungan subjektif manusia dengan kebenaran yang ia yakini. Kebenaran dalam hal ini tidak dapat diandaikan dari apa hakikat kebenaran itu sendiri, melainkan seberapa dekat dan taat manusia kepada kebenaran yang dipegangnya. 

Singkatnya, kebenaran bukan dilihat dari sisi kepentingan objeknya, tapi dari sudut bermanfaat tidakkah bagi penganutnya (hal.68).

Itulah sebab, otentisitas dan kepalsuan dalam kerumunan adalah dua wilayah yang tidak dapat didamaikan. Bagi Kierkegaard, otentisitas merupakan pergulatan manusia dengan kebenaran yang dianutnya. Otentisitas hanya bisa diraih melalui usaha manusia menemukan pusat subjektivitas atas keyakinan yang ia pegang.

Bagi Kierkegaard kebenanaran tidak dapat diandaikan ”di luar” manusia, dan tidak ditemukan di permukaan kerumunan, melainkan ”di dalam” kedalaman diri manusia selama ia berusaha bergulat mencarinya.

Masih menurut Kierkegaard, kerumunan, satuan wahana yang menghilangkan subjektivitas manusia. Di dalam kerumunan subjek kehilangan peluang mengemukakan kesadarannya.

Manusia yang tenggelam dalam kerumunan mengalami transformasi dari pribadinya yang unik, khas, bebas, dan rasional menjadi pribadi massa yang monoton, imperatif, dan irasional.

Dari sudut pandang ini, kerumunan mensubordinasi individu sampai ke tingkat nihilistik. Melalui keadaan ini otentisitas individu menjadi tidak mungkin. Otentisitas individu di dalam kerumunan, dengan kata lain, menjadi subordinat hanya sekadar objek kekuasaan.

Kerumunan juga diandaikan Kierkegaard tidak hanya sebagai kelompok atau satuan massa, tapi juga diidentikkan sebagai cara pandang dan sistem nilai mayoritas. Cara pandang ini seringkali menjadi ukuran kebaikan, kebenaran, kesopanan dan kepantasan walaupun tidak sama sekali menyediakan ruang reflektif bagi individu.

Dalam arti ini, subjektifitas manusia hanya merupakan dorongan-dorongan imperatif kelompok yang sama sekali berbeda dari kesadaran individu itu sendiri.

Menurut Kierkegaard, individu yang hidup dalam imperatif kelompok akan menjadi pribadi inotentik. Pribadi inotentik adalah pribadi palsu yang tercerabut dari akar kesadarannya. Atau dengan kata lain, pribadi yang tidak sama sekali memiliki kekuatan reflektif mengenai eksistensinya.

Menariknya, dalam kehidupan Kierkegaard, kerumunan atau publik mendiami wilayah yang sama dengan kehidupan religius masyarakatnya. Artinya, kehidupan umat beragama di masa Kierkegard hidup menggunakan cara pandang yang sama dalam kerumunan. 

Orang beragama disebut religius hanya karena mengikuti ritual mayoritas umat beragama. Dengan bahasa lain, otentisitas yang diinginkan Kierkergaad tidak ditemukan dari cara orang menghayati agamanya. Orang banyak malah terjebak ke dalam ritualisme formal dan pelabelan-pelabelan kelompok bergama.

Masyarakat kehilangan gairah dan kedalaman dalam beragama diibaratkan Kierkegaard seperti orang yang menaiki perahu di atas lumpur. Tidak ada lagi kekuatan yang mampu mendorongnya maju ke tempat-tempat yang dimungkinkan.

”Pernahkah Anda melihat sebuah perahu yang terjebak dalam lumpur? Perahu itu hampir tidak mungkin berlayar lagi karena tidak bisa didayung lagi…Dayung pun tidak dapat mencapai dasar sungai sehingga tidak ada tumpuan untuk menggerakkan perahu. Demikianlah seluruh generasi terjebak di pinggiran akal-budi yang berlumpur…” (hal.77).

Itulah sebab, agama bagi Kierkegaard adalah pengalaman personal individu. Ia pengalaman pribadi yang demikian subjektif. Pengalaman agama bukan sekadar iman hasil konseptualisasi kelompok. Ia mesti merupakan penghayatan yang didorong gelora dan semangat dari kekuatan subjektivitas manusia.

Dengan kata lain, kemampuan publik tempat individu mensubordinatkan dirinya bagi Kierkegaard, tidak bakal cukup membangun pengertian tentang Tuhan. Tuhan bukanlah pengertian dari cara pandang kerumunan. Apalagi hanya sekadar mengandalkan common sense. Tuhan hanya bisa dihayati melalui refleksi subjektif penganutnya. Antara penganut agama dengan Tuhannya sendiri.




EKSISTENSI manusia senantiasa berkembang sesuai cara pandang melihat kenyataan. Seringkali paradigma manusia tidak sesuai dengan kenyataan. Harapan, keinginan, pemikiran, dan cita-cita, yang tidak sesuai kenyataan ini seringkali membuat manusia gamang dan gelisah.

Kegelisahan semakin dalam apabila manusia diperhadapkan kepada berbagai macam pilihan hidup yang masih relatif dan tidak pasti. Itulah sebab, di balik kegelisahan, manusia dituntut memiliki dasar kuat keyakinan otentik agar tidak diombang ambing gelombang samudera kehidupan.

Kierkegaard mengembangkan tiga wilayah eksistensi (spheres of existense) yang menandai perkembangan eksistensi manusia (stages on life’s way). Masing-masing wilayah eksistensi ini  menjadi ziarah manusia di dalam menemukan otentisitasnya.

Pertama, level eksistensi estetis (the aesthetic). Di wilayah ini orientasi kehidupan manusia terpaku kepada sensas-sensasi kesenangan dari objek-objek di sekitarnya. Eksistensi manusia hanya bergerak di level suka tidak suka, senang tidak senang, dan puas tidak puas. Kierkegaard menyatakan keadaan perilaku manusia pada wilayah ini tidak merujuk kepada apa yang baik (good)dan apa yang jahat (evil), melainkan hanya mengedepankan sensasi (aisthesis) perasaan (hal.88).

Wilayah kedua adalah eksistensi etik (the ethical). Model eksistensi ini bertumpu di atas anjuran-anjuran moral. Orang di level ini bertindak atas larangan tertentu yang menganjurkannya apakah boleh atau tidak boleh, pantas tidak pantas, dan layak tidak layak. Di level ini tindakan seseorang tidak lagi diperantai sensasi untuk segera dilakukan, melainkan melalui tahap refleksi akal budi. 

Melalui perantara akal budi inilah tindakan seseorang memasuki pilihan-pilihan yang mengikutkan komitmen dan tanggung jawab di dalamnya.

Eksistensi religius (the religious) merupakan puncak kedua wilayah sebelumnya. Di wilayah ini tanpa mensubordinatkan dua wilayah sebelumnya, eksistensi diri bergerak naik ke level tindakan religius.

Dalam wilayah eksistensi religius, Tuhan menjadi satu-satunya orientasi hidup. Pertimbangan baik dan jahat seperti di level etik tidak lagi memadai menjadi dasar utama bertindak. Tindakan dalam wilayah ini meletakkan orientasi pribadi di atas kedekatan dengan Tuhan. Dengan kata lain, eksistensi diri yang bergerak atas dorongan pribadi, di wilayah religius berubah menjadi ketaatan total kepada tujuan Tuhan.




KEMAMPUAN Thomas Hidya Tjaya menyatakan pemikiran Kierkegaard ke dalam bahasa yang lugas dan mudah dicerna patut dihargai. Buku ini walaupun tidak sepenuhnya memberikan cakupan luas atas pemikiran Kierkegaard, setidaknya sudah lebih dari cukup untuk mengantar pembaca ke dalam ”pergulatan” pemikiran Kierkegaard yang demikian khas.

Eksistensialisme Kierkegaard yang tidak sepenuhnya ateis seperti pemikir eksistensialis lainnya sedikit banyak cocok dengan tujuan berpikir masyarakat kita yang sulit melepaskan pengaruh Tuhan ke dalam seluruh aktivitas masyarakat. Artinya, jika pembaca khawatir menjadi ateis pasca mendalami pemikiran eksistensialis Barat, saya kira Kierkegaard adalah pengecualian. Tidak seperti Jean Paul Sartre, misalnya, Tuhan bahkan entitas penting di dalam eksistensialisme Kierkergaard.

Singkat cerita, buku ini masih relevan dengan suasana kebangsaan belakangan dan masa akan datang. Terlebih lagi buku ini menganjurkan satu adagium yang nyaris terlupakan bagi kehidupan politik, budaya, dan agama: be your self!   

Judul            : Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis         : Thomas Hidya Tjaya
Penerbit        : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi             : Ketiga, April 2018
Tebal            : XVII+ 178 halaman
ISBN             : 978-602-424-850-5


Podcast: Babanuroom Channel