Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan

16 Mei 2016

takhayul dan komunisme

Comte menandai masa teologik-metafisik sebagai rentang sejarah manusia yang bergerak oleh kekuatan mitos dan takhayul. Dua kekuatan ini adalah cara manusia bertahan hidup dari semesta alam yang asing. Di masa ini, keyakinan jika manusia menghadapi hambatanhambatan dalam kehidupan, mampu diselesaikan dewadewi seperti yang diyakini dalam mitos. Bagi masyarakat prarasional, mitos dan takhayul dipakai sebagai perangkat pengetahuan untuk menjadi pegangan hidupnya.

Tapi, kesadaran berkembang. Mitos dan takhayul akhirnya digantikan dengan ilmu pengetahuan. August Comte menyebut masa ini zaman keemasan. Ilmu pengetahuan menjadi ratu peradaban. Berbeda dari dua masa sebelumnya, hal ihwal yang belum terjelaskan selama manusia hidup ternyata bisa dipecahkan oleh sains. Akibatnya, kata Comte, di zaman ini segala hal berbau teologis dan metafisis akan dihapus ilmu pengetahuan. Sainslah keyakinan baru masyarakat positivis.

Prediksi Bapak Sosiologi Barat itu bisa benar bisa tidak. Masyarakat memang telah maju oleh kesadaran rasional. Namun, keyakinan terhadap takhayul tidak sepenuhnya bisa hilang begitu saja. Terutama apa yang terjadi akhirakhir ini, soal ketakutan kepada entah apa. Walaupun begitu, siapapun yang mengikuti perkembangan berita akhirakhir ini tahu, beberapa elemen pemerintah khawatir terhadap satu mitos; komunisme.

Komunisme memang dibilangkan Marx dan Engels sebagai hantu yang bergentayangan di langitlangit Eropa kala itu. Di Manifesto Komunis secara eksplisit tujuan Marx dan Engels memakai metafora hantu sebagai penanda terhadap keyakinan baru yang bakal merinsek keyakinan dogmatis masyarakat Eropa. Sebagaimana mahluk halus, keberadaan komunisme akan membuat gentar pendirian masyarakat yang digerakkan filsafat kelas borjuis saat itu. Dan, filsafat kelas borjuis saat itu tiada lain adalah filsafat idealisme Hegel.

Sulit memprediksi apa dasar utama beberapa perangkat negara dan ormas akhirakhir ini getol mengkampanyekan anti komunisme dengan tindakan mutakhir sweeping karya intelektual berbau komunisme. Cuman satu hal yang pasti, mereka khawatiir hantu yang diistilahkan Marx dan Engels bakal seperti kejadian sejarah 65 silam. Padahal alasan ini tidak cukup kuat jika mau melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di tengah masyarakat.

Artinya bisa dibilang ketakutan negara dan beberapa ormas hanyalah ketakutan kepada hantu yang sebenarnya, yakni suatu keberadaan yang tidak memiliki wujud; pikirannya sendiri. Dengan kata lain, marxisme dan komunisme adalah hantu yang diciptakan sendiri di dalam imajinasi pemerintah. Suatu takhayul yang tidak terbukti kebenarannya.

Lantas bagaimana dengan kegandrungan kelompok mahasiswa atupun komunitas yang getol mengunyah pemikiran marxisme dan seluruh yang berbau kiri? Di sinilah letak soal suatu kebudayaan ditakar. Apakah untuk memecahkan soal itu harus menggunakan cara primitif atau cara yang lebih intelektuil. Cara fisik atau cara pikir.

Cara yang pertama, seperti marak di pemberitaan, menyita bukubuku kiri, adalah cara yang digolongkan seperti masa yang disebut Comte sebagai masa teologik-metafisik, yakni tindakan yang digerakkan ketakutan akibat takhayul. Akibat kesadaran takhayul macam demikian, tindakannya tergolong primitif, tidak ada tanda kebudayaan sama sekali. Ini mirip Nazi yang membumihanguskan seluruh karya intelektuil yang berbau Yahudi. Betulbetul fasis.

Seharusnya pemerintah menempuh cara yang lebih akademis, yakni pemikiran dilawan dengan pemikiran. Cara ini adalah caranya kaum intelek, lewat diskursus.

Nampaknya, takhayul belum juga hilang dari ruang kebudayaan masyarakat modern. Parahnya lagi itu terjadi di antara orangorang yang secara sosial hidup di tengahtengah zaman yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Ini ambivalensi yang tentu konyol. Tapi apa boleh dikata, itulah yang terjadi belakangan ini.

08 Maret 2015

madah empatpuluhenam

Nun jauh di atas langit sana, terbuka kitab lauh mahfus, tempat segala informasi tersimpan. Tapi di sini, ada media massa. Pusat segala informasi menyebar.

Ini abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

Ada penelitian dari antropolog Amerika, Edmund Carpenter namanya. Melaluinya, kita bisa tahu sebuah kebudayaan bisa hilang oleh karena alatalat canggih berupa semisal radio ataupun televisi.

Di Sio, suatu daerah Irian di timut jauh, suatu budaya pelanpelan tersapu. Adat yang dijunjung sebagai simbolsimbol kebudayaan hilang. Carpenter menuli s itu dengan cermat: "Ketika kami kembali ke Sio, aku tidak lagi mengenal tempat itu. Beberapa rumah telah dibangun lain. Mereka sekarang berpakaian seperti orang Eropa dan perilaku mereka juga berubah. Mereka bereaksi lain. Sebagian mereka menghilang, berangkat ke pusat pemerintahan. Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka dan berubah menjadi individu yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dan tidak lagi menjadi bagian dunia mereka sebelumnya. Teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka."

Ada keprihatinan dalam ucapan Carpenter, tapi juga sebenarnya adalah ketakutan atas hilangnya yang primordial. Sebelum laporan itu dapat ia tuliskan, beberapa waktu sebelumnya ia datang memperkenalkan alatalat teknologi yang menghubungkan orangorang dengan perubahan di luar. Tape, camera, proyektor beberapa alat yang dibawanya. Dan selama ia tinggalkan tempat itu, dan kemudian datang kembali, maka tahulah ia betapa berubahnya orangorang dengan alat elektronik yang dipunyai.

Keprihatinannya itu ia tulis dengan katakata "tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuannya," dan barangkali ketakutannya ia ungkapkan dalam katakatanya "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka." Dua hal ini memang perlu dikhawatirkan, sebab di luar sana, kebudayaankebudayaan besar telah banyak menghabisi apa yang kita sebut budaya lokal.

Di Sio itu telah terjadi dan Carpenter menulisnya. Tapi di sekitar kita, tak perlu seorang Carpenter untuk mengatakan bahwa semakin hari ada yang semakin alienatif dari identitas kultural kita.

Marx menyebut alienasi melalui titikkoordinatnya pada produkproduk di dalam sistem ekonomi. Manusia terasing dari ciptaannya sendiri sehingga ia menjadi mahluk yang jauh dari ciptaannya. Begitu juga manusia dapat terasing dari lingkungan sosialnya dengan hilangnya solidarity time yang semakin minim. Sehingga dari produk ciptaannya dan juga dari lingkungan hidupnya, manusia jadi mahluk yang tercerabut dari nilai kemanusiaannya.

Tapi, dari kasus Carpenter sebenarnya berbeda. Juga di sekeliling kita. Tak ada yang berjarak dari produkproduk ciptaan manusia. Teknologi sudah seperti inti dalam setiap aktifitas kita. Alatalat canggih begitu sering kita temui dan akrab dengannya. Juga tak ada yang terasing dari lingkungannya, sebab tak ada ruang sedikit pun yang kosong dari bentuk komunikasi. Media komunikasi justru sudah masuk sampai pada ruang yang privativ dan menghubungkan kesendirian dengan keramaian dunia virtual. Artinya, tak ada yang kosong dari produk ciptaan dan komunikasi. Tak ada yang lepas dari teknologi.

Tapi justru disitulah masalahnya. Carpenter sendiri menulisnya dengan nada yang miris "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan," Yang teralienasi bukan sebab terpaut jarak antara manusia dengan ciptaannya, tetapi keakraban yang intim dengannya justru makin menjadikan kita tersingkirkan dari pusat kemanusiaan. Dengan kata yang lain, keterasingan kita sesungguhnya adalah hilangnya identitas kultural tempat kita menemukan diri yang yang sebenarnya.

Teknologi komunikasi memang sumber soal. Dan informasi yang dikandung di dalamnya bisa berarti dua hal: imprealisme dan kebisuan.

Horkheimer menyebut imperialisme dengan industri budaya. Melalui yang ia sebut kapitalisme kebudayaan itu, suatu agenda massal tengah berjalan membangun suatu sistem tunggal. Yang tunggal itu dalam soal selera kebudayaan adalah jenis selera massal yang membuat modal dapat terus berputar. Di era sekarang, selera sudah tentu bukan lagi urusan pribadi yang terlepas dari bagian informasi massal. Di dalam informasi yang diproduksi, bukan cuma selera, cara berpikir pun sudah jadi cetak biru logika pasar. Dan dari sanalah bermula identitas yang lenyap dibalik tayangan yang dipermak media. Seluruhnya adalah cermin dunia barat.

Sebab itulah Herbert Marcuse  menyebutnya one dimensional man, yakni tipe kepribadian yang tunggal atas kesamaan cara pandang dan selera yang dicipta. Maka, dengan cara itu mekanisme penyegaraman bekerja untuk mengadopsi satu identitas yang dominan. Di saat itulah yang lokal hilang tersapu budayabudaya raksasa. Di saat itulah kebisuan budaya sebenarnya terjadi, sebab lidah kebudayaan kita lebih peka segala yang berbau “luar.”

Maka itulah ada yang mesti prihatin. Kebudayaan memang  suatu yang tak selamanya pejal dan tetap. Juga identitas kultural yang dari sana kita bisa menerka asalusul suatu origin. Sebab kita akhirnya bisa menyesal di saat identitas yang origin justru adalah suatu yang sudah semenjak awal tercuri dari lingkungan kita. Seperti orangorang Sio yang yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dari lingkungan kolektivnya. “Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka,” Sebut Antropolog Amerika itu.

Ini memang abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

24 Februari 2015

Madah Tigapuluhenam

Belakangan ini ada yang mencolok di dalam layar kaca; India dan Korea. Di layar kaca kita, India dan Korea akrab melalui drama dan sinetron. Nampaknya ada yang terasa aneh, sebab lebih dulu Malaysia lebih awal kita tonton berjamjam melalui kartun Upin dan Ipin itu. Tapi siapa yang bakal menonton kartun yang kental dialek Malaysia itu selain anakanak. Dan dari ceritacerita itu, saya banyak mendengar anakanak yang tumbuh bersamaan dengan kartun yang diimpor itu, lebih fasih dialek Malaysia dari pada bahasa ibunya.

Adakah yang salah dari itu?

Tapi kita sebenarnya harus waswas. Zaman global seperti sekarang, banyak yang menjebol batas. Hingga terkadang sampai sulit kita bendung. Akhirnya banyak hal yang harus dilindungi dari sesuatu yang berbau "luar." Banyak hal yang mesti dipertahankan, juga budaya.

Saya rasa, dari "yang luar"  itu bukan saja sudah bisa bikin waswas hati kita, tetapi juga makin jadijadi setiap hari. Sebab di ruang paling pribadi, kita sulit mengenal apa yang masih asli bagi kita. Apa yang masih genuine, atau yang disebut sebagai identitas otentik, belakangan ini akhirnya menjadi sesuatu yang penting. Atau bahkan sebenarnya genting. Sebab nampaknya yang asli, akhirakhir ini merupakan sesuatu yang sulit kita defenisikan.

Soekarno, yang getol menjunjung revolusi itu, di waktu Indonesia masih mendorong semangat antikolonialisme, melihat "yang luar" sebagai ancaman serius bagi kepribadian bangsa. Di saat perjuangan belum jauh ditinggalkan di belakang sejarah, budaya Indonesia yang defenitif harus berarti menolak impor produkproduk kebudayaan luar.

Kita pernah mendengar Soekarno berkoar tentang tidak ada lagi yang "bitelbitelans" untuk mengucapkan budaya yang asli negeri sendiri. "Bitelbitelans" waktu itu adalah musuh budaya nasional yang bisa  merangsek masuk dari luar. Musik di zaman Soekarno adalah masamasa emas saat suara John Lenon melintasi batas Inggris. Saat gambar Marelyn Monroe jadi posterposter dibioskopbioskop.

Di zamannya, Soekarno menolak musik yang berbau Barat. Terutama yang lahir dari rahim budaya kapitalisme. Sebab itulah mengapa ia melarang anakanak muda terpengaruh bandband semacam The Beatles. Karena barangkali bapak revolusi itu sadar, kolonialisme juga punya strategi selain perang, yakni melalui genderang telinga yang  gandrung segala bebunyian yang western.

Tapi apa sebenarnya arti "Barat" dan "Timur" sekarang sebenarnya juga adalah ihwal yang mudah retak. Apalagi jika kita ingin menunjuk dengan tepat apa sebenarnya identitas budaya yang asli dan origin. Sebab di zaman sekarang, jika kita menunjuk "Barat," maka di sana tak ada yang sebenarnya betulbetul Barat. Juga "Timur" adalah yang hari ini sepertinya bukan lagi timur.

Identitas memang bukan medan yang pejal. Justru Lacan menyebutnya sebagai sesuatu kesalahan pasca fase cermin, sehingga identitas yang dianggap real adalah sesuatu yang sedari awal sudah rusak. Sebab itulah tak ada yang otentik pada identitas selain merupakan rangkaian panjang untuk mengisi kekosongan. Jika sudah demikian, maka identitas adalah sesuatu yang merupakan hasil interaksi dan aksi. Hasil meminjam dan meneguhkan yang diproses menjadi sesuatu yang ingin kita sebut origin.

Lantas siapakah yang dimaksud Barat di zaman revolusi Soekarno? Atau apa yang betulbetul Barat di zaman itu? Nampaknya tak mudah menangkap jelas batas "Timur" dan "Barat". Tapi, di mata Soekarno, "Barat" adalah orangorang yang datang masuk ingin menguasai segala yang dimiliki bangsa ini.  

Barangkali budaya memang ruang terbuka untuk didialogkan. Tapi kita juga mesti sadar, ada yang hilang jika di layar kaca, apa yang kita tonton adalah canoncanon budaya yang importir. Sementara di balik itu, akhirnya kita juga akan sulit menemukan sejarah identitas diri yang sebenarnya bersamaan dengan tumbuhnya halhal baru yang bukan berasal dari perut kebudayaan kita.

Syahdan, apa yang sebenarnya membuat kita waswas, saya pikir oleh sebab yang origin hari ini sudah banyak dibajak. Tapi jauh dari itu, pertanyaannya masih sama, apa yang sebenarnya origin dari kita?

15 Februari 2015

madah duapuluhenam


Jika ada yang berubah dari zaman ini, barangkali adalah bagaimana cara kita mengkonsumsi. Dahulu saat kita mengkonsumsi, barangbarang tak begitu massif beredar. Produk yang dipampang tak begitu menarik perhatian. Dahulu, barangbarang juga masih santun kita konsumsi. Namun sekarang konsumsi sudah menjadi mode. Sekarang disekitar kita, hampir semua adalah barangbarang yang identik dalam iklan. Sekarang, hampir semua tibatiba kita konsumsi. Dan tak disadari, sekarang kita makin rakus menghabisi diri sendiri.

Kapitalisme memang banyak mengubah kenyataan saat ini. Dahulu Marx menyebut kapitalisme bisa besar sebab modus produksinya. Tapi saat ini justru kapitalisme berubah. Kapitalisme bermethamorfosis. Perubahan itu, sebut saja bagaimana ia membangun imajinasi untuk mengkonsumsi tanpa henti. Perubahan itu sebut saja sebagai modus baru kapitalisme; mode of consumption.

Perubahan dari kapitalisme dari mode of production ke mode of consumption sebenarnya adalah pembilangan Baudrillard. Berbeda dari Marx yang hidup di awal tumbuhnya kapitalisme, yang ditandakan oleh banyaknya buruh yang dihisap. Baudrillard hidup di zaman kita, saat buruh dan barangbarang produksi sama banyaknya. Atau bahkan justru jauh berbeda; barangbarang yang bergelimangan.

Karena itulah zaman ini ramai dengan barangbarang. Kapitalisme semakin massif menciptakan pasar. Kapitalisme semakin canggih menciptakan barangbarang. Kapitalisme banyak mendorong kita untuk mengkonsumsi tanpa berhenti. Karena itulah konsumsi sudah jadi cara kita mengekspresikan diri kita. Dalam kapitalisme, cogito tidak berhenti pada tindak berpikir. Dalam kapitalisme, cogito diteruskan menjadi tindak konsumsi. Aku belanja maka aku ada. 

Zizek menyebut tindak konsumtif itu sebagai budaya yang massal dijumpai. Jika yang banyak berubah dari cara kapitalisme saat ini, barangkali adalah cara kapitalisme yang ampuh untuk menaruh pengaruhnya sebagai bagian yang identik dari tindak kebudayaan kita. Kapitalisme tak segansegan mengadopsi kritikan yang ditujukan kepadanya untuk diolah menjadi senjata ampuh. Cara ampuh itu, dalam mekanisme Zizek, disebutkannya sebagai kapitalisme kultural.

Kapitalisme kultural adalah strategi yang benarbenar jitu memberi kompensasi atas rasa bersalah pasca mengkonsumsi. Konsumsi barangbarang dalam model kapitalisme kultural, akan nampak seperti seorang yang arif dan bijak dalam bertransaksi. Modus transaksi ini menempatkan dimensi sosial sebagai bagian yang inheren dalam tindak tukar menukar. Saya teringat iklan sebuah merk minuman, yang sekali bertransaksi sama halnya sudah membantu sebuah desa dibagian Indonesia timur sana. Ini sudah mirip aturan islam, bahwa di dalam hartamu sebenarnya mengandung hak orangorang kecil.

Sebuah tindak religiuskah itu? Yang pasti, ketika dahulu pusatpusat belanja masih sama sepinya dengan rumah ibadah, tindak konsumsi masih diukur dengan faedahnya sebuah barangbarang. Tapi, ketika barangbarang begitu bergelimang, barangbarang dipakai tiada habisnya. Barangbarang seperti ada yang dikandung di dalamnya. Barangbarang menjadi benda yang mengandung yang gaib, sesuatu yang mistis. Marx menyebutnya; fethisisme komoditas.

Maka memiliki barangbarang yang mengandung unsur gaib sama halnya bertindak atas yang sprituil. Memiliki bendabenda yang diproyeksikan pasar, sama artinya dengan sebuah sikap yang arif. Di sana ada diri yang mengalami sesuatu yang impersonal. Di sana,  di dalam yang impersonal, pengalaman konsumsi adalah pengalaman terhadap sesuatu yang transenden. Dan dari barangbarang konsumtif adalah media yang digunakan untuk mencapai kebahagiaan. Sebab itulah kita tak hentihenti berkonsumsi. Sebab itulah ini sudah mirip agama.

Dalam agama ada konsep syirik. Teologi memandang syirik sebagai keadaan mempersekutukan sang teos. Di dalam syirik, sang teos sama sejajarnya dengan wujud yang lain dalam ibadah. Sebab itu syirik dilarang agama.  Tapi syirik juga punya makna yang berbeda. Barangkali ini arti syirik yang lain. Setidaknya dalam artinya di luar makna doktrin teologi. Syirik yang lain itu jika bendabenda pasar dikonsumsi oleh sebab sesuatu yang fethis, sesuatu yang gaib di dalamnya. Syirik yang lain itu, jika barang yang dimiliki sudah mirip tuhan; suatu entitas yang dipuji dan bahkan dipuja. Ingat, sekali lagi ini adalah model syirik yang lain.

Erich Fromm, menyebut syirik yang lain itu sama halnya jika manusia memberhalakan hasil cipta tangan manusia sendiri. Fromm membilangkannya sebagai apa saja semisal barangbarang, bendabenda ataupun objekobjek yang dipertuhankan. Menurut Fromm, berhalaberhala itu, tak disadari akhirnya menjadi inheren dalam sejarah atau bahkan menjadi cara manusia berbudaya. Malangnya, sebab dia adalah budaya, melaluinyalah kita menemukenali diri sebagai manusia yang beradab, manusia yang otentik. Lewat aktivitas demikianlah kita berarti sebagai manusia yang betulbetul ada. Dan budaya apa yang paling massif di saat ini? Baudrillard menyebutnya budaya konsumsi.

09 Februari 2015

Media Massa dan Kemunculan Generasi Pop Culture

Marthin Luther
Tokoh pencetus Protestanisme dalam ajaran Kristiani


Marthin Luther, di abad 16 terheran-heran dan takjub 95 Tesisnya  menyebar luas. Sebelumnya, pandangan teologinya itu ia tempelkan di pintu gereja kastil di Wittenberg. Keheranannya itu ia ungkapkan kepada Paus melalui suratnya menyatakan betapa cepatnya tulisan-tulisannya menjadi diskusi publik luas. 

“Adalah suatu misteri bagiku” demikian ia menulis, “bagaimana tesisku…tersebar ke banyak tempat. Padahal semuanya khusus ditujukan bagi kalangan kita di sini...” Ketakjuban Luther ini sesungguhnya ungkapan betapa cepatnya perubahan ditimbulkan mesin media cetak.  95 tesis awalnya  ia tujukan hanya untuk kalangan gereja, justru tak disadarinya menyebar pesat hampir di seluruh Eropa. Sontak mulai saat itu, sejarah mencatat, Luther menjadi orang yang menerbitkan pemahaman baru atas keyakinan agama yang dianut Eropa.

Sesungguhnya apa yang terjadi dari cerita singkat di atas, menunjukkan, saat itu penemuan mesin cetak Gutenberg menjadi penanda revolusi informasi pertama selama manusia mengembangkan peradabannya. Penemuan mesin cetak Gutenberg menandakan berubahnya aksebilitas informasi yang secara massif mendorong berlangsungnya tranmisi informasi, pengetahuan, pemikiran dan pendapat dengan cara yang tak pernah dijumpai sebelumnya. Perubahan ini tidak saja menimbulkan perubahan penyebaran informasi yang berskala luas, tetapi juga melahirkan bentuk-bentuk interaksi baru dalam sejarah masyarakat.

Sementara di abad 21, ketakjuban Luther 5 abad lalu, untuk hari ini, nampaknya justru menjadi keresahan bagi kita. Kecanggihan media informasi bukan lagi sebatas arena pertukaran informasi, tetapi malah menciptakan penumpukan informasi. Hal ini demikian menyulitkan  sebab kurang dan cepatnya perjalanan waktu. Asas up to date  sebaran informasi telah mendorong kecepatan sebagai hal penting untuk mentranmisikan informasi ke segala penjuru. 

Dengan begitu, kecepatan waktu menjadi determinan bernilai tidaknya sebuah informasi. Implikasi dari itu adalah betapa banyaknya informasi yang berdatangan dan silih berganti tanpa menyisakan ruang untuk dicerna dengan selektif. Akibatnya, semakin banyak informasi menumpuk dan tak sempat diseleksi dicerna. Tumpukan informasi jadi kian membusuk sebab tidak ada upaya produktif mengelolanya.

Hal inilah yang dianggap oleh  Paul Virilio, seorang pemikir postmordernis, sebagai dromotology informasi, yang merujuk pada hilangnya waktu untuk mengelola informasi. Dromotology juga diandaikan oleh Virilio sebagai situasi bagaimana media informasi dijalankan dengan asas kecepatan dalam menyajikan informasi. Arus cepat informasi, selain memberikan tumpukan informasi, sebagai implikasi lanjutannya adalah, hilangnya daya penangkapan terhadap informasi. Informasi kehilangan kebermaknaan berkat kehilangan waktu refleksi.

Sementara dalam hal lahirnya bentuk-bentuk baru interaksi manusia, kecanggihan media komunikasi mengubah dunia sosial menjadi dunia miskin interaksi. Hal ini diterangkan Baudrillard melalui konsep pembalikan realitas yang dilakukan media informasi. 

Melalui kemajuan media informasi, manusia dibawa oleh realitas semu yang dibilangkan Baudrillard sebagai simulacrum yang mengaburkan batas-batas antara dunia nyata dan yang virtual. Kehadiran internet dan membludaknya pengguna internet adalah penanda bagaimana simulacrum justru telah mengambil fungsi-fungsi kenyataan. Hilangnya basis kenyataan di benak manusia yang beralih kepada simulacrum, akhirnya menarik basis sosial manusia dari yang nyata menuju yang virtual.

Kemunculan Generasi Pop Culture

Generasi budaya pop atau masyarakat pop culture ditandai dengan pergeseran cara berinteraksi terhadap simbol-simbol kebudayaan. Budaya pop selalu merupakan hasil dari industri budaya yang diperankan oleh media informasi dalam mengubah pemaknaan terhadap unsur-unsur kebudayaan. Dalam hal ini, budaya pop adalah hasil massifikasi budaya yang bersifat rendahan dan massal. Dengan artinya yang demikian, budaya pop adalah lawan dari budaya tinggi atau budaya canon (high culture).

Budaya populer seperti dimisalkan Adorno, seorang pemikir mazhab Frankfurt, juga disebut sebagai hasil dari industri budaya. Industri budaya dalam kategori Adorno adalah kebudayaan yang diproduksi atas prinsip-prinsip komoditas dan pasar. Melalui pemetaannya, budaya pop dimasukkannya sebagai budaya yang mempunyai standar kualitas, mutu dan estetika yang rendah.

Dalam kaitannya dengan produksi budaya, budaya populer dikatakannya sebagai hasil karsa dan cipta dari sekelompok elit maupun golongan yang memiliki kepentingan ekonomi. Dengan  diciptakannya produk-produk kebudayaan dengan selera massal, maka dampak kulturalnya adalah lahirnya generasi budaya pop dengan nilai-nilai kebudayaan rendah dan massal.

Perubahan sosial ditimbulkan dari kelahiran generasi budaya pop ini, secara berangsur-angsur menghidupkan nilai-nilai baru yang secara tidak langsung bertentangan dengan budaya canon. Dapat kita ambil contoh dalam hal ini adalah generasi muda yang sudah banyak melupakan nilai adat istiadatnya dibandingkan dengan nilai-nilai baru yang diberikan budaya populer. Demam korean pop belakangan ini adalah salah satu ilustrasi bagaimana budaya pop mengambil alih peran nilai-nilai lokal dalam keyakinan dan bersikap anak-anak muda saat ini. Perubahan nilai-nilai kultural ini juga ditunjukan bukan saja oleh budaya pop, melainkan juga keadaan zaman yang telah menghilangkan batas-batas kutural dengan dampak-dampak globalisasi.

Anak muda yang dimaksudkan di sini adalah seperti yang diungkapkan Talcott Parsons, yakni bukanlah semat-mata kategori biologis, melainkan suatu kategori dari produk sosial yang dibentuk dan dapat berubah sewaktu-waktu. Dalam arti ini, anak muda dapat dikategorikan sebagai klasifikasi kultural yang ditandai dengan perlibatannya di dalam perubahan nilai-nilai yang dihadapinya.  Ini berarti dampak budaya populer juga berarti turut membentuk dan juga dapat mendeskripsikan perubahan-perubahan yang menyertai segmentasi dari anak-anak muda yang terlibat di dalamnya.

Perubahan yang paling dapat diamati di dalamnya seperti yang ditujukan oleh Hebdige, yakni kemunculan identifikasi anak muda yang didasari oleh presentasinya teradap konsumen fesyen, gaya dan berbagai aktivitas waktu senggang yang suka bermain-main. Apa yang ditunjukkan Hebdige sebenarnya adalah kemunculan suatu model kehidupan sosial baru yang keluar dari batas-batas normatif seperti yang ditunjukkan oleh budaya populer. 

Kemunculan model kehidupan populer ini sebenarnya masih dalam kaitannya terhadap seperti apa anak-anak muda yang tumbuh dari industri budaya populer menata dan menciptakan sendiri simbol-simbol kulturalnya yang berbeda dari budaya yang dianut sebagai aturan normatif.

Penciptaan kembali nilai-nilai baru yang sesuai dengan selera anak muda ini dijelaskan oleh Hebdige sebagai brikolase. Konsep ini mengacu kepada penataan kembali dan kontekstualisasi ulang benda-benda untuk mengomunikasikan makna-makna yang bisa diterima oleh kalangan anak muda itu sendiri. Artinya, produk-produk kutural yang selama ini dimaknai sebagai peninggalan budaya dan dikenal sebagai simbol-simbol tradisi masyarakat terdahulu, diubah dan dinyatakan kembali dengan cara yang baru dan trendi. Dalam kasus hijabers misalnya, dapat dikategorikan sebagai elemen anak muda yang mempraktekkan produk-produk kultural dan agama tidak sebatas simbol-simbol tradisi dan religius, melainkan justru diubah menjadi produk yang mengandung nilai trendi dan modis.

Dalam aspek demikianlah budaya populer mengalami reposisi tidak sekedar produk daur ulang kebudayaan, tetapi justru menjadi budaya baru yang tercipta dan dianut oleh anak-anak muda sekarang. Yang malang dari hal itu, penyebaran nilai-nilai baru ini juga didukung oleh industri kebudayaan yang disokong oleh media informasi dan komunikasi. 

Penyebaran ini juga ditandai dengan lahirnya produk-produk budaya populer berupa sinetron, film dan lagu-lagu yang mengangkat tema-tema anak muda sebagai komoditi dalam menciptakan pasar di kalangan anak muda. Karena hal inilah mengapa di sisi lain, secara ideologis budaya populer menciptakan pemaknaan yang bertahan lama mengenai standar selera kebudayaan yang bertentangan dengan budaya canon.

Lahirnya generasi budaya populer, selain merombak tatanan kebudayaan lama, juga menandai terjadinya perubahan segmentasi di dalam formasi masyarakat. Apabila mengacu pada variasi hubungan antara individu, kelompok sampai organisasi seperti yang diutarakan Ritzer, maka perubahan sosial yang ditimbulkan oleh budaya populer akan nampak dari lahirnya komunitas-komunitas yang memiliki ikatan solidaritas berdasarkan selera dan minat terhadap salah satu trend ciptaan pasar. 

Nampak jelas di sini, ikatan kultural berdasarkan nilai, tujuan, prinsip hidup dan cita-cita digeser perkembangannya dengan kehadiran kelompok atau komunitas masyarakat semisal hijabers, K-pop, perkumpulan motor, supporter sepak bola, peminat binatang dsb, yang memiliki pemanfaatan terhadap waktu dan ruang yang berbeda dari anggota masyarakat umumnya.

Dalam arti komunitas yang memiliki pemaknaan berbeda terhadap ruang dan waktu dari masyarakat umumnya, komunitas-komunitas disatukan selera dan minat ini melihat ruang dan waktu dalam arti yang nonideologis. Berbeda dengan golongan masyarakat yang terikat terhadap organisasi-organasisasi perjuangan, komunitas-komunitas ini justru melabrak adanya distingsi ideologis dan nonideologis yang biasanya dibangun oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu terhadap tempat-tempat yang berbau kapital. Hal ini disebabkan karena dalam persoalan nilai dan prinsip hidup, komunitas populer tidak lagi memandang nilai-nilai yang bermuatan ideologis relevan terhadap konteks zaman yang dihadapi.

Geografi Ruang dan Waktu Masyarakat Pop Culture

Mengacu dari Giddens bahwa aktivitas manusia dapat dilihat dari distribusinya terhadap ruang, maka suatu aktivitas sosial dengan sendirinya akan mengikuti bagaimana ruang di terjemahkan berdasarkan pemanfaatannya terhadap kepentingan masyarakat yang berlaku. Begitu pula dengan waktu, geografi waktu ditunjukan oleh Chris Barker sebagai pemetaan terhadap aktivitas masyarakat di dalam ruang berdasarkan lintasan waktu dalam melakukan kegiatannya. Melalui pengertian ini, generasi pop culture  banyak menggunakan waktu dan ruang secara konsumtif demi asas kemanfaatan yang mereka yakini.

Kegiatan yang bersifat konsumtif tidak lepas dari ruang yang terkontruksikan secara kapital oleh modernisme. Sebagaimana ruang dalam pengertian Massey, seorang sosiologi inggris, bukanlah tempat yang kosong dari kontruksi sosial. Ini berarti ruang sosial yang diminati publik, tidak terlepas dari perlibatan pertukaran simbol-simbol kapital dan kultural di dalamnya. Bila pengamatan kita tujukan kepada komunitas-komunitas, atau masyarakat secara umum, secara berangsur-angsur telah ditundukkan oleh ruang dan waktu yang dipopulerkan oleh budaya populer. Akibatnya, aktivitas sosial semisal dimana harus melakukan refresing, makan, mendapatkan hiburan, interaksi, melakukan pertemuan dan hal-hal lainnya tidaklah dimungkinkan tanpa keteribatan tempat-tempat yang berdimensi konsumtif.

Aktivitas sosial yang dilakukan oleh masyarakat yang terpopulerkan sebenarnya tidak lepas dari bagaimana media informasi melalui iklan membajak pemaknaan atas kesan-kesan yang telah dipopulerkan. Iklan dengan cara yang telah dijelaskan oleh Baudrillard, malah memberikan efek yang impresif terhadap penikmatnya sehingga kesan yang ditangkap sering kali tidak sesuai kaidah-kaidah rasional. Dengan cara demikianlah, iklan, melalui media informasi dan komunikasi, menjadi bagian dari unsur yang menciptakan selera populer seperti yang dijelaskan Adorno sebagai industri kebudayaan.

Perlu juga diingat bahwa budaya populer dapat tegak karena adanya yang disebut fantasi populer. Yasraf Amir Piliang menyebutkan fantasi populer diciptakan berdasarkan imajinasi populer yang bekerja dengan cara berpikir populer, wacana komunikasi populer, ritual popuer dan simbo-simbol populer. Melalui empat elementasi inilah budaya populer disebutkan Yasraf menggiring masyarakat kepada ideologi populerisme, yakni sebuah perayaan terhadap citra ketimbang kedalaman makna, bungkus daripada isi, penampilan ketimbang esensi dan popularitas daripada intelektualitas.

Dunia sosial yang telah dikuasi oleh ideologi populisme, selain mengakibatkan budaya konsumtif, juga akan menghasilkan kebudayaan yang tidak otentik. Telah disebutkan sebelumnya bahwa lahirnya generasi budaya pop selain merombak tatanan nilai-nilai yang normatif di masyarakat, juga sadar atau tidak merupakan hasil dari daur industri kebudayaan. Di dalam kebudayaan yang dipengaruhi oleh konsumerisme dan budaya populer, masalah identitas sangatlah penting sebab pada kenyataannya, identitas sampai gaya hidup yang dilakukan sebenarnya adalah hasil dari kontruksi sekelompok orang demi kepentingan ekonomi. Pada titik inilah identitas kebudayaan yang dihayati dan dijalankan bisa menjadi identitas kebudayaan yang semu dan tidak otentik sebab merupakan penemuan dan dibentuk dari luar kekuasaan masyarakat.

Sementara itu budaya yang otentik adalah budaya yang bukan hasil konstruksi dari pihak luar, yang menerapkan standar nilai yang tidak merujuk kepada kebiasan hidup masyarakat tertentu. Kebudayaan yang otentik adalah kebudayaan yang lahir dari pencarian akan akar, asal usul, dan dunia di mana suku, ras, agama dan bangsa menetap. Budaya otentik adalah budaya yang tidak menghambat perkembangan identitas masyarakat di dalamnya, dan juga adalah budaya yang lahir dari lapisan grass root dan tumbuh berkembang bersamaan dengan perkembangan masyarakatnya.

--

Sumber Bacaan
  1. Sosiologi Perubahan Sosial. Piotr Sztompka. Prenada. 2008.
  2. Cultural Studies; Teori dan Praktek. Chris Barker.Bentang. Yogyakarta.2005.
  3. Dunia Yang dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Yasraf Amir Piliang. Matahari. Bandung. 2011.
  4. Lubang Hitam Kebudayaan. Hikmat Budiman. Kanisius. Yogyakarta. 2006.
  5. Lifestyle Ectasy, Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Editor Idi Subandy Ibrahim. Jalasutra. Tanpa tahun.
  6. Masyarakat Konsumsi. Jean Baudrillard. Kreasi Wacana. 2013.
  7. Jurnal Prisma. LP3S.

24 Januari 2015

madah enam

Malam tadi saya tak sempat melakukan rutin; menulis sebuah catatan. Menyisihkan waktu untuk menulis memang ternyata bukan hal yang mudah. Apalagi jika suatu hal yang tak didugaduga datang mengambil waktu yang telah dipersiapkan. Itulah sebabnya mengapa menulis membutuhkan perebutan dari yang dirampas, sebuah kondisi yang tarik menarik. Dengan cara begitu menulis sering saya alami sebagai usaha "yang membebaskan." Yang membebaskan berarti tak ada pagar yang memancang batas. Tak ada yang disebut teritori hasil dominasi. Membebaskan berarti usaha untuk meloncati batas: sebuah peristiwa tanpa penjajahan.

Dengan waktu yang disisihkan itu, usaha saya untuk membebaskan diri dari batas yang sering kali dominan itu mesti ditaklukkan. Entah sesibuk apapun, mesti ada waktu untuk dimerdekakan, untuk menulis. Dan ini adalah usaha yang memang tak mudah. Maka itu usaha ini sama berarti dengan apa yang akhirakhir ini saya sebut melawan diri sendiri. Ini berarti adalah kondisi yang ingin melampui kebiasaankebiasaan. Apa pun itu.

Tetapi apakah menulis yang akhirakhir saya lakukan juga nantinya akan menjadi kebiasaan? Dan juga bukan sebuah peristiwa yang membebaskan? Barangkali di sinilah waktu akhirnya menjadi hal yang penting.

Waktu dalam konteks yang modern memang bukan hal yang berbudaya. Modern dengan sifatnya yang mengandung rasio di dalamnya, sesungguhnya tak berniat untuk mendirikan budaya. Sebab di dalam rasio tak ada pembatinan terhadap sesuatu untuk dimaknai berlamalama. Sementara budaya adalah peristiwa yang membatin, sebuah keadaan yang tak sempat dicandra rasio. Karena itulah mengapa waktu senggang adalah pusat dari berdirinya kebudayaan. Di dalam waktu senggang, yang rasio harus tunduk dari batasbatas, harus menunda superioritasnya.

Waktu senggang sebagai perayaan terhadap yang superior, dimisalkan Josep Pieper sebagai situasi yang primordial. Dalam arti yang antropologis, primordial sama dengan keadaan manusia yang tanpa batasbatas kekurangan; sebuah keadaan yang asali. Di konteks ini, manusia belum mengenal model aktivitas yang ditata berdasarkan hubunganhubungan rasional. Belum ada yang disebut oleh mazhab frankfurt sebagai rasional instrumental. Maka dari itu, hidup saat konteks yang primordial berarti menjalani sesuatu yang asali; sebuah perayaan.

Dan sebuah perayaan sebenarnya adalah keadaan yang tanpa target, tanpa upaya penaklukan dan tanpa bermaksud menguasai apapun. Dengan arti yang demikianlah waktu menjadi peristiwa yang tidak harus dikejarkejar dan ditaklukkan. Dalam arti inilah rutin yang tiap malam saya lakukan ingin saya bangun. Walaupun juga waktu tidak selamanya dapat saya gunakan untuk memberlangsungkan kegiatan saya seperti ini.

Tiga hari belakangan memang saya tak seperti biasanya; tiap malam harus berlamalama di dalam kamar; membaca, menonton dan melakukan halhal yang lain, apalagi menulis seperti ini. Kebiasaan baru saya ini harus direbut dari kewajiban saya turun lapangan untuk mempraktikkan peendekatan penelitian PRA dan RRA. Selama tiga hari saya bermukim jauh di desa pedalaman Gowa dan tulisan ini pun saya cicil sedikit demi sedikit di antara aktifitas saya selama di lapangan.

Sebenarnya tulisan ini hanya mampu saya cicil sebanyak dua paragraf dan baru saya lanjutkan sepulang dari Gowa. Dan akhirnya menjadi semacam ini. Tulisan yang semula terputus dan disambung kembali. Tetapi inilah yang sering saya istilahkan dengan architeksture; kegiatan menyusun dan membangun sebuah ide dengan tulisan. Awalnya disusun dan begitu seterusnya.  Dan ini saya inginkan dalam konteks yang membebaskan, sebuah peristiwa terhadap perayaan.

Saya akhiri dulu tulisan ini.


26 Desember 2014

Di Akhir Desember

Bagaimana kita harus memahami perbedaan? Utamanya jika diperhadapkan dengan akhir Desember. Seperti biasa, menjelang 25 Desember, hanya soal ucapan bisa mengundang perdebatan soal iman. Dengan itu kita perlu kembali mengartikan apa maksud kehidupan beragama. Dan ini tak begitu mudah, sebab agama bagi kita, bagi sebagian orang, adalah urusan yang menyertakan “prasangka”

Prasangka dalam praktik bermasyarakat akhirakhir ini memang tumbuh subur. Persis jamur yang tumbuh di musim penghujan; bermekaran, menelusup masuk tanpa tedeng alingaling. Malangnya, prasangka dengan artinya kecurigaan justru akrab dalam kehidupan kita. Kecurigaan, juga dalam sak wasangka adalah kerukunan yang tanpa moral.

Jauh di ibu kota, Jakarta, sebagai contoh, agama menjadi komoditi pengangkut prasangka. Politik direduksi sampai hanya bermakna “suka tidak suka” dan ini artinya kemunduran; kita kehilangan tatanan yang generatif mengikat atas dasar “pengetahuan normatif” Politik dengan maksud demikian menjadi medan pertautan selera. Ini persis bagaimana konsumen diasosiasikan dengan iklan dari komoditi tertentu. Politik selera, dengan caranya yang memobilisasi, memiliki iklannya yang paling jitu; agama.

Tepat dengan cara demikianlah agama bisa menyulut sekam. Tak bisa dibayangkan, di saat tatanan demokrasi dirajut di sanasini, tepat di pusat demokrasi sana, agama justru murka dengan prasangka yang dikembangbiakkan. Sehingga idaman masyarakat terbuka yang mengedepankan semangat toleran, pikiran terbuka, masyarakat dialogis dan juga modern justru hanya wacana pinggiran.

Yang menjadi paradoks dari keadaan semua itu adalah “kecuriagaan” yang hidup persis di tengahtengah masyarakat informasi yang berbasiskan kemajuan informasi dan teknologi. Di saat gerak peradaban hendak mendaku cara berpikir terbuka, justru agama nampaknya sebaliknya mempertahankan “wawasan padang pasir” yang berbasis kesukuan. Dengan cara demikianlah agama dengan sisi sentimentalismenya menjadi komoditi yang kental dengan kedok fetisisme.

Dan “wawasan padang pasir” juga yang kerap tibatiba menilap toleransi kita. Akhir desember barangkali adalah situasi bagaimana agama kehilangan semangat kasihnya. Saya tidak mengerti jika “ucapan” yang sebenarnya adalah bahasa sosiologis selalu disandingkan persis seperti bahasa teologis. Bukan saja melalui “ucapan” kita menakar bagaimana toleransi diantara kita, justru barangkali agama kita, apa yang kita anut malah masih menyisakan jawaban yang belum tuntas kita pertanyakan.

Saya juga tidak mengerti, hanya karena bertoleransi, iman kita dipersangkakan. Dari agama, pengetahauan kita dibentuk hingga menjadi wawasan tentang ruang sosial dan segalanya. Dari cara ini, pengetahuan kita bersumber dari apa yang kita anut, apa yang kita yakini. Juga mereka, dengan pengetahuan yang berbeda, berasal dari keyakinan yang dianut. Maka wajarlah jika apa yang memotivasi kita dan seperti apa tindakan kita itu bisa berbeda, justru karena sumber kita yang berbeda. Lantas atas dasar apa keyakinan kita dianggap benar, dan selain dari kita dianggap menyelisih?

Maka ini sebenarnya perkara moral, bukan sesiapa benar sesiapa salah. Malah lebih berarti kenapa kita enggan salah. Atau lebih tepatnya kenapa kita tidak ingin menerima perbedaan? Janganjangan, apa yang selama ini dianggap benar adalah keyakinan yang tak kita gugat sebelumnya? Atau barangkali kita adalah orangorang yang kehilangan pegangan, tepat setelah kita mengatakan mereka salah?

Bagaimana kita harus memahami perbedaan, jika kosakata dalam praktik bermasyarakat selalu ditafsirkan melalui monolog agama? Sesungguhnya dalam yang semacam itu adalah pertunjukan yang sunyi tepuk tangan. Kenyataan masyarakat justru membutuhkan banyak riuh, gegap warna yang persis sebuah sirkus; keceriaan. Bukan sejenis aksi teatrikal yang minim suara. Minim dialog.

Justru saya ingin merasakan akhir Desember, persis saat saya tumbuh di tengah keanekaragaman keceriaan. Saat 15 tahun lampau ketika saya memahami ada tuhan yang lain. Ada pemeluk keyakinan yang lain, tetanggatetangga saya, sahabat dan temanteman saya juga orangorang kebanyakan. Saat demikianlah saya bisa memahami betapa di akhir Desember bukan tanpa dialog, justru pasca sebuah ucapan selamat, kita menjadi beriman.[]

24 Desember 2014

Gong Mea

Abad 21 adalah masa yang tak pernah terbayang sebelumnya. Penanda khas dari zaman ini adalah hilangnya batas-batas kultural antar bangsa dalam dimensi budaya, ekonomi maupun politik. Globalisasi adalah peristiwa mutakhir di mana tak ada lagi bangsa yang otonom dari keberadaan bangsa lain. Sudah merupakan “kewajiban” antara bangsa untuk melakukan kesalingterhubungan demi membangun keberlangsungan kehidupan bernegara yang layak.

Tahun 2015 nanti, gaung globalisasi tidak sekedar wacana dari negeri seberang.  Melalui masyarakat ekonomi Asean (AFTA), kita dituntut untuk mengadaptasikan seluruh kemampuan sumber daya potensial untuk menghadapi era keterbukaan pasar global. Ini berarti secara ekonomi, kita harus mampu bersaing dengan pasar dari “negeri seberang” dengan memproduksi dan memanfaatkan "kelebihan” yang kita miliki. Pertanyaannya yakni, seberapa mampukah daya saing sumber daya yang kita miliki untuk “bertarung” di dalam era keterbukaan AFTA?

Modal Kebudayaan

Keresahan yang paling mengkhawatirkan di era pasar bebas adalah hilangnya penanda kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat kita. Keresahan ini sudah diwanti-wanti oleh Ritzer, seorang ahli sosiologi dengan istilah yang ia sebut McDonaldisasi kebudayaan. Keresahan Ritzer merujuk pada fenomena kebudayaan yang secara homogen dikooptasi oleh “rejim kebudayaan pasar”. Miskinnya pemaknaan masyarakat terhadap kearifan lokal adalah salah satu contoh dari kooptasi rejim kebudayaan yang mengartikan nilai kehidupan berdasarkan nilai-nilai asing.

Lantas apa kaitannya dengan AFTA? Pasar bebas sebagai medan pertemuan produk-produk diperjualbelikan, merupakan garda paling depan dalam “mempromosikan” selera bahkan nilai kebudayaan “negeri seberang”.  Produk adalah “duta” paling efisien untuk “mengakali” apa yang mejadi kebutuhan masyarakat kita. Bila hal ini terjadi, tidak tertutup kemungkinan akan berdampak secara kultural yang mengubah selera, praktik dan cara hidup berkebudayaan masyarakat Indonesia.

Bagi Makassar sebagai gerbang  timur perekonomian, mau tidak mau harus mempersiapkan strategi kebudayaan yang memungkinkan terjadinya penguatan nilai-nilai lokal saat menghadapi era pasar bebas. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur edukasi yang kembali mengingatkan masyarakat untuk terus menghidupkan kehidupan berbasiskan kebudayaan. Menyangkut ini apa yang sempat diprakarsai oleh pemerintah kota Makassar melalui film Bombe’ adalah salah satu contoh seperti apa kebudayaan lokal diterjemahkan dalam kemodernan masa kini. Bila hal demikian tidak diantisipasi, maka budaya lokal yang kita miliki akan tersapu bersih oleh bentuk-bentuk kebudayaan baru seiring banyaknya produk luar negeri yang masuk.


02 Juli 2014

Generasi Multitasking

Sebelumnya saya pernah menulis tentang kaum digital natives. Bila dibilangkan kembali, kaum digital natives merujuk pada lapisan generasi yang dibesarkan dan tumbuh oleh kemajuan alat teknologi informasi dan komunikasi canggih. Secara umur, mereka adalah generasi muda yang lahir 90an ke atas yang akrab dibesarkan bersama alam dunia digital. Di alam yang serba terbuka, yakni cairnya arus informasi yang mudah diterima, penggunaan alat komunikasi yang canggih serta produksi waktu yang kerap dihabiskan di depan layar digital, lapisan baru ini sungguh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih suka mengoleksi lagu mp3, mendownload film kesukaan, mengupdate status di dunia maya, membaca berita digital, asik BBMan bersama dan sebahagiannya menghabiskan waktu dengan bermain game secara online dipusat-pusat game center.

Secara sosial, generasi digital natives dalam beberapa sisi menyerupai apa yang dalam novel Douglas Couplan katakan sebagai generasi X. Yakni generasi yang diasuh langsung oleh zaman digital, secara penuh terlibat secara simbiosis dengan kerkaitannya dengan media. Dalam pernyataan yang lain,  dunia simbol yang mereka terima sungguh berbeda dengan generasi terdahulu melalui dunia layar yang akrab mereka saksikan. Lewat layar digital, dunia simbol maupun dunia pemaknaan sudah berbeda jauh dengan referensi yang diterima dari generasi sebelumnya. Dengan demikian secara nilai, terjadi berbagai kontradiksi yang tak bisa disangsikan, sebab dalam pertumbuhannya generasi digital natives secara moral hidup dari zaman yang sedang mengalami transisi besar-besaran menuju format dunia yang sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.

Pertentangan Moral

Zaman sekarang, tempat hidup yang berpusat pada kebudayaan yang ditempa globalisasi, waktu yang dimobilisasi agar efisien dan produktif, serta ruang yang diproduksi berdasarkan kalkulasi kapital, menghasilkan dunia yang ramai oleh tuntutan. Generasi digital natives, lapisan baru dengan segala tuntutan modernitasnya akhirnya muncul dengan kecenderungan tercampur aduknya segala macam aktivitas yang saling bertentangan satu dengan lainnya dalam perilaku mereka.  Secara moral kontradiksi-kontradiksi yang dialami oleh generasi ini disebut sebagai generasi multitasking.

Multitasking dalam wacana komputer merupakan kemampuan sistem operasi yang mampu menangani tugas-tugas komputasi secara simultan atau dalam waktu yang bersamaan. Misalnya saja dalam waktu yang bersamaan anda sedang membuka aplikasi facebook bersamaan dengan program Mp3 yang anda dengarkan dengan menggunakan smartphone anda. Dua aplikasi yang bekerja secara bersamaan inilah yang dinamakan multitasking.

 Lantas apa kaitannya dengan generasi digital natives? Dalam rumusan ini, pelabelan generasi multitasking sesungguhnya merujuk pada pertentangan-pertentangan yang secara normatif dan moral mengacu pada lapisan nilai yang diyakini oleh generasi masa kini. Di mana pertentangan ini begitu transparan nampak dari perilaku yang diperlihatkan dalam biografi sosial mereka.

Generasi multitasking, dalam biografi sosialnya adalah orang-orang yang tidak lagi terbebani dengan imperatif-imperatif  lama yang diacu sebagai panduan sikap sebagaimana generasi yang hidup dengan semangat zaman yang berbeda. Dahulu pada zaman tatanan lama, seorang anak muda bisa saja menolak secara tegas kehidupan hedonistis dengan pemihakan terhadap ideologi tertentu, seorang pejuang ham dengan sendirinya akan mengecam tindak represi dari pemerintahan otoriter, kalau menentang kehidupan kapitalis otomatis bakal menolak dikotik, cafe atau shopping mall. Tegasnya jika pemusatan pada sebuah nilai tertentu, maka dengan sendirinya akan menolak antitesa dari prinsip nilai yang diyakini. Namun dari apa yang kini tengah tumbuh adalah generasi yang berbeda, sehingga formasi nilai yang diyakini adalah paradigma yang bercampur segala hal di mana tak ada pagar pemisah dari nilai keyakinan yang dipercayai.

Secara ideologis, tatanan masyarakat baru ini adalah didasari oleh citra-citra audiovisual yang begitu cair didapatkan dari layar digital yang akrab dalam kehidupan praktis mereka. Sumber tatanan nilai yang diacu tidak lagi berasal dari entah itu ideologi tertentu ataupun keyakinan religius yang berasal dari agama. Sebab sumber legitimasi yang diacu selama ini dalam anggapannya adalah keyakinan yang beku dan dogmatis terhadap keberagaman yang jamak. Maka dari itu, jika ada jenis keyakinan yang demikian, itu berarti adalah bangunan artefak yang tak lagi adaptable dengan konteks zaman tempat kehidupan sosial diselenggarakan.

Maka wajarlah kita saksikan, lapis masyarakat baru yang bisa saja menghendaki kehidupan yang demokratis dengan enggan terlibat dalam praktik-praktik gerakan sosial, berkeinginan memiliki pemerintahan yang bermoral dan beradab tanpa meninggalkan majalah fashion dengan model-model yang sensasional, berkehendak untuk hidup religius dengan menolak corak agama yang fundamental, anak-anak muda yang siangnya memanfaatkan ruang edukasi tetapi malamnya tumpah ruah di mall-mall dan diskotik, serta juga gandrung bicara politik tanpa tak pernah melewatkan acara-acara pencarian bakat. Dalam celotehan Daniel Bell mereka ataupun barangkali kita adalah generasi “straigh by day swinger by night”.

Nampaknya apa yang sedang tumbuh di masa seperti sekarang menjadi sebuah penampakan sosial tersendiri yang mesti disikapi dengan bijaksana. Di mana acuan nilai yang dijaga dalam tradisi, panduan moral yang kerap menyitir teks-teks suci, norma adat yang digali dalam kearifan lokal sedang menghadapi gesture zaman yang berbeda. Tetapi bukankah hidup adalah tidak saja berdamai dengan kontradiksi yang dimiliki era sekarang, di mana gairah hidup generasi sekarang adalah bukan bersumber dari penolakan “terhadap” melainkan juga justru sikap gembira terhadap perbedaan yang disemarakkan. Dengan begitu, generasi sekarang adalah generasi yang menolak sekaligus menerima, barangkali seperti dalam pernyataan Gramsci, pemikir muda dengan otak cemerlang asal itali, zaman sekarang adalah zaman dengan asas “bersama-sama anda sekaligus menentang anda”.


24 Juni 2014

politik identitas

Masalah identitas dalam berkehidupan berbangsa akhirakhir  ini menjadi hal yang problematis. Hal ini semakin rumit ketika ruang sosial menjadi medan terbuka dari segala bentuk intervensi. Semenjak ruang kehidupan dipenuhi dengan keragaman kelompok, maka identitas sebagai modal sosial bisa menjadi nilai yang bermuatan ganda. Dalam hal ini, kaitannya dengan upaya konstruksi sosial, identitas bisa mempersatukan perpecahan kelompok atau sebaliknya, justru membelah persatuan masyarakat, apalagi dalam kaitannya dengan era globalisasi saat ini.

Politik identitas

Bice Maiguasha, seorang doktor ilmu politik, pernah menuliskan bahwa globalisasi sebagai ciri kemajuan memiliki dampak terhadap mengemukanya kelompokkelompok di bawah negara yang massif dalam menunjukkan aspirasi akan hal identitas politik. Hal ini dapat ditandai dengan kemunculan kelompokkelompok yang mengidentikkan diri atas ikatan etnosentris keagamaan, gerakan feminisme maupun masyarakat adat.

Dalam hal pengakuan, kamajemukan identitas yang mengemuka, apalagi frame etnisitas yang majemuk, berdampak terhadap identitas kebangsaan sebagai ikatan kolektiv. Kedaulatan negara yang mengalami kekeroposan di konteks ini mengakibatkan kemunculan kelompokkelompok identitas baru untuk menciptkan ikatan baru yang berbau subjektiv. Fenomena demikian disebabkan negara tak mampu menjamin semisal hak keamanan dan keberlangsungan hidup dalam kehidupan bernegara.

Terhadap kekosongan itulah ruang sosial mengalami banyak intervensi. Keroposnya kedaulatan negara mengakibatkan politik identitas yang menghendaki pengakuan memanfaat ruang publik sebagai mediator untuk mengakses identitasnya. Pada tingkatan yang paling ekstrim, pertemuan berbagai identitas di ruang publik sering kali mengalami persitegangan sehingga kerap kali melibatkan aksi kekerasan.

Politik pengakuan oleh Linklater adalah gejala kemunculan kelompok identitas untuk mendapatkan pengakuan publik. Apalagi dalam aras pengidentifikasian kelompok, ikatan sosial maupun kebudayaan kerap bermain atas dasar logika “penyertaan” dan “penolakkan” Negara misalnya, mengharuskan penerapan model ini. Apalagi dalam pembacaan Linklater, semenjak kemunculannya, negara mengalami keadaan problematis ketika merumuskan identitas apa yang harus diterima maupun yang harus dimasukkan dalam kategori “the other” Dalam logika inilah pengertian warga negara dan bukan warga negara dijabarkan. Hal ini juga diterapkan dalam “internal other” yaitu kelompok minoritas yang hidup di bawah batasbatas negara tetapi dibatasi dalam partisipasi dan identitas politik.

Kekerasan

Nasionalisme sebagai pengorganisasian pikiran dan perilaku, disinyalir adalah pemicu dari adanya “politik kepemilikan” setidaknya itu yang diomongkan oleh Chipkin. Nasionalisme ketika masuk dalam kategori identitas nasional, dalam kerjanya menundukkan kemajemukan identitas yang bernaung di bawah negara. Hal ini krusial apabila penerjemahannya dikontekskan pada negara yang memiliki ragam identitas, Indonesia misalnya.

Dari cara inilah dalam mengatasi kekosongan kontrolnya, negara membangun identitas bersama dengan menyisihkan keragaman identitas. Melalui mekanisme ini pula negara atas ketunggalan identitas mengorganisir dan mengontrol warganya. Dalam konteks praktik kebudayaan dan politik, pembatasan terhadap peranperan sosial kelompok identitas atas negara, menjadi pemicu terjadinya kekerasan. Apalagi kaitannya terhadap politisasi identitas, negara yang kerap menggelontorkan identitas nasional atas nama nasionalisme kerap mengeliminir “the other” untuk menjaga “status kepemilikan”.

Sehingga maraknya aksiaksi kekerasan atas nama identitas akhirakhir ini adalah output dari cara negara dalam memberlakukan kelompokkelompok identitas. Gejala ini juga disitir oleh Amrtya Sen bahwa dijalankannya politik ketunggalan identitas, justru mencadi pemicu kemunculan aksiaksi kekerasan dalam konteks kehidupan bernegara.

Masih menurut Sen, kekerasan yang kerap muncul akibat tidak tersalurkannya mekanisme yang mengakui kemajemukan identitas. Pengkerangkengan keberagaman atas dunia berdasarkan ikatan sempit justru mereduksi kenyataan dari keberagaman. Dan di sinilah masalahnya, cara pandang ini tidak saja di alami oleh negara tetapi juga oleh warganya. Sehingga kenapa negara kerap gagal mengatasi kekerasan, oleh karena penguatan terhadap civil society selama ini kerap jarang dilakukan.

Nampaknya, persoalan identitas ini menjadi isu yang problematis ditenggarai oleh capaian paradigma kutural yang hari ini masih jauh terbelakang oleh masyarakat antara format negara yang mengusung demokrasi sebagai cara menyelenggarakan kekuasaannya. Sedangkan dalam prinsipnya, penyelenggaraan demokrasi, perbedaaan adalah hal yang krusial untuk dipahami sebagai medio dalam menyatakan kepentingan identitas tertentu. Tetapi di sisi lain, paradigma kultural yang terpahami dalam kesadaran masyarakat masih saja menuntut adanya otoritas yang menentukan seperti apa identitas yang harus diterima untuk hidup bersampingan. Masyarakat masih belum mandiri dalam memahami seperti apa identitas yang beragam dihadapi dalam kenyataan sosial yang mereka tinggali. Sehingga negara yang di satu sisi adalah penyulut api tindak kekerasan identitas juga memiliki nilai ganda untuk memberikan asupan dalam rangka penguatan civil society. Maka dari itu adalah tugas berat bagi negara dalam hal penyelenggaraan kekuasaannya disamping ia sendiri sebagai kekuasaan yang menjadi embrio dalam kekerasan identitas yang sering kali dialami.


15 Juni 2014

Politik

Ada asumsi tentang politik, seingat saya dari Herman Broch, bahwa politik berarti merawat komunitas. Ini artinya politik paralel dengan kehidupan kolektif, yang di dalamnya sudah pasti punya misi edukasi, kerja membangun. Juga dalam komunitas sudah tentu mensyaratkan adanya pusat. Kolektivitas berarti "kita" sebagai pusat. Dalam "kita" berarti ada peneguhan terhadap identitas, terhadap simbol, untuk dijadikan garis batas terhadap yang lain.

Namun, dalam masamasa yang penuh dengan eufimisme, politik bisa bermaksud lain. Politik justru berarti mengkerdilkan pihak yang berada di seberang. Kita menjadi emoh terhadap yang lain, sementara identitas kelompok adalah sanjungan yang berdiri atas kesadaran tanpa argumentasi.

Di sinilah politik berubah haluan menjadi mitos. Mitos, seperti kita tahu adalah pengetahuan yang tak punya asal usul, sejenis kesadaran yang tak memiliki basis kenyataan tetapi diyakini dan diteguhkan kebenarannya dari otoritas yang berlangsung. Dan mitos adalah petanda dari ketiadaan rasionalitas yang argumentatif. Maka politik yang didatangkan dari alam yang irasional adalah mitos yang digaungkan dan dipertahankan untuk keberlangsungan orang banyak.

Sehingga wajar sampai akhirnya tampak alami, iklim politik yang kehilangan wibawa. Suasana partisipan yang melanggengkan irasionalitas, sebab tak ada yang bisa dikatakan baik dalam alam yang irasional. Namun akhirnya wajar kita maklumkan, tentang citra yang dikontruksi, kebesaran yang dibentuk, prestasi yang dipaksakan untuk menutupi jumud yang sebenarnya nampak enggan diakui.

Jika sudah demikian "kita" sebagai pusat dari kolektivitas kerap akhirnya dirawat dengan dasar yang temaram. Kesadaran temaram, kata Broch adalah jenis pengetahuan yang instingtif. Atau tipe pengetahuan yang tidak melibatkan sisi historis sebagai bahan baku pertimbangan. Itu artinya politik yang dibangun dengan kesadaran temaram berarti hubungan yang tentatif-temporal. Hubungan yang tidak diukur dari pertimbangan yang matang. Apalagi tidak membawa aspek sejarah di dalamnya. Jadi wajar bila tibatiba saja kita sudah diperhadapkan dengan ikatanikatan yang membingungkan. Oleh karena di sana tak ada keputusan yang masuk akal untuk dipertanggungjawabkan.

Bila politik adalah merawat komunitas, maka di sana ada ruang yang membangun kesadaran, tentu dengan mempertimbangkan etika dalam proses keberlangsungannya. Di sana juga ada keberlangsungan yang terus menerus di antara relasi untuk mencerahkan. Yang juga diharapkan sebenarnya adalah proses politik yang menjunjung nilai etis dan komunikasi yang bisa dipertanggung jawabkan, tidak sekedar informasi yang tanpa diketahui asal usul kehadirannya. Sebab di luar informasi yang bertanggung jawab adalah omongkosong.


17 September 2013

Mayangmayang Kenyataan; Sebuah Anamnesia*

I've got a picture in my head (in my head)
It's me and you , we are in bed (we are in bed)
You'll always be there when I call (when I call)
You'll always be there most of all. (all, all, all)
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like….

---(Hollywood, The Cranberries)

Ada yang paradoks tentang dunia pengalaman manusia. Suatu keadaan yang terjungkal dari porosnya, terjadinya pembalikkan secara massif antara yang semu dengan yang nyata, antara penampakan dan kenyataan, antara yang sejati dan palsu, bahwa realitas era sekarang sesuatu yang sulit dipilah berdasarkan intensitas kedalamannya.

Tak bisa akhirnya kita sanksi, dari apa yang kita alami, dunia tindakan kita adalah dunia yang berada pada tepian batasbatas antara yang imagi dan keyataaan. Sehingga dampak daripadanya terlampau sulit untuk kita bedakan dan candrai. Oleh sebab begitu besarnya determinasi kemajuan dunia tekhnologi informasi, yang begitu besar pengaruhnya pada sikapsikap yang akan kita jalani. Di mana era digital tengah melanda dan mengambil alih kenyataan kita yang sebenarnya.

Oleh media massa, dengan seluruh muatan fungsinya, akhirnya menempatkan dunia pada kenyataan yang dikehendakinya. Bahwa kenyataan adalah apa yang dapat dilipat, ditekuk, dan dimapatkan. Sehingga dunia kehilangan ukuran yang sebenarnya, seperti ruang, waktu, kedalaman dan keluasan akhirnya harus mangut pada logika era digital. Yang mana seluruh ukuran mengalami perubahan secara intens, ketika yang “di sana” bisa berarti yang “di sini”, yang “lampau” bisa dimaknai sebagai “kekinian”, yang “permukaan” akhirnya  bermakna “kedalaman” dan yang “tersembunyi” pada kenyataannya diterima sebagai “Kenyataan”.

Media massa memang bukanlah sekedar medio penyampai realitas, atau apa yang kita sebutkan sebagai pesan, makna, pun juga informasi dan berita. Oleh sebab dia juga tak bisa kita katakan sebagai jendela kenyataan, karena media juga dalam makna ideologisnya adalah institusi yang tak sekedar menyembunyikan kenyataan, melainkan jauh daripadanya menciptakan realitas baru. Sehingga dalam sifatnya yang demikian, media massa adalah perpanjangan tangan dari sebuah sistem yang jauh melampaui, keterjalinan yang turut memproduksi kenyataan dalam sebuah konstruksi kepentingan.

Lalu bagaimanakah yang dimaksudkan dari apa yang disebut sebagai konstruksi kepentingan? Sebuah tatanan yang mapan, yang mampu mencipta dan mendaur kenyataan? Sehingga realitas dapat dibentuk berdasarkan apa yang menjadi ukuran mesin hasrat? Lantas apa yang dibilangkan sebagai mesin hasrat? Sistem struktur yang mengambil alih proses penciptaan budaya dari yang adihulung menjadi budaya yang rendahan? Dimana maknamakna kemudian terlucuti dari ihwal yang sakral, yang ideal, menjadi sesuatu yang banal, dangkal dan tak bermakna.

***
This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like, Like, Like.

Kenyataan sekarang adalah dunia yang merupakan hasil olahan produksi mesin kapital. Keterjalinan darinya kita anggapkan sebagai momok yang begitu ideologis. Dalam analisa Marxian situasi ideologis ini adalah peralihan dari kesadaran menuju keterselubungan di dalam dunia. Sehingga seakanakan kesadaran yang sering kita terima sebagai kebenaran hanyalah bentuk ilutif dari situasi yang demikian. Lebih daripadanya kita mengimani kebenaran yang kita sadari adalah murni sebagai episteme, yakni kebenaran sejati. Namun sebenarnya dari apa yang kita prediksikan sebagai segenggam kebenaran tak lebih daripada sebuah doxa, ihwal segala yang tak murni, bukan yang sejati; sesuatu yang menipu.

Doxa, atau segala yang bukan sejati, hakiki, bukan saja sejumput istilah perlawanan dari episteme (penegetahuan hakiki) melainkan gejala yang menjangkiti tampakan kebudayaan kita. Oleh media massa, dengan totalitas daya hegemoniknya, juga turut bertanggung jawab dalam membangun realitas kebudayaan dewasa ini. Daya virtual yang super canggih, oleh media massa tengah bekerja merangsek kehidupan kita dengan membangun citra, kesan dan imagi dari yang diproduksinya. Maka daripadanya dunia nyata dan maya adalah dua peririsan yang tak bertepi.

Kebudayaan populer (produser barang, film, musik, fashion, media, tontonan, seni) sebagai residu atau budaya dangkal, sesungguhnya adalah produk orisinal yang didasari olen imagi yang diproduksi oleh mesin hasrat kapital. Kapitalisme kebudayaan (industrialisasi, konsumerisme)  atau suguhan citra yang nampak dari budaya populer, sesungguhnya adalah mode kebudayaan yang mengekstase di atas citra permukaan. Yang mana turut mensituasikan adanya pemujaan terhadap bungkusan daripada isi. Sehingga kita kehilangan pesona kedalaman dibandingkan dari pada perayaan terhadap permukaan.

Tetapi apakah sesuatu yang harus kita tampik, tentang pemujaan terhadap iconicon populer? Terhadap kesan yang terbangun di dalam dunia layar? Oleh sebab disana ada pembebasan hasrat yang terpendam melalui saluransaluran semisal mencintai iconicon K POP? Apakah memuja alatalat canggih semisal I Pad adalah bentuk dari kemunduran kebudayaan? Walaupun sesungguhnya disana ada kiblat yang bergengsi, tentang kehidupan yang glamour dan hingar binggar.

Sesungguhnya adalah situasi yang begitu malang. Hidup diantara batasbatas yang tak jelas antara kehakikian dan kesemuan, oleh karena modernisme adalah kiblat yang dibaliknya membawa pesan kolonialisme. Dimana dari modernisme, semuanya kerap kali berubahubah begitu pesat dan gesit atas nama kemajuan dan kepopuleran. Dimana tak ada yang tetap, dan budaya populer memanglah pemujaan terhadap kegilaan yang akut. Adalah budaya populer merupakan  budaya Skizofrenia dari yang diistilahkan oleh Deluze, yakni situasi kehampaan dari kedalaman makna dari hancur dan kesimpang siuran sistem penandaan. Sehingga kita lebih bersedih hati menyaksikan icon pop kita mengalami gosip yang tak benar muasalnya, dibandingkan dengan hilangnya lokalitas dan keotentikan budaya di tengahtengah kita.

Dan akhirnya adalah masyarakat konsumtif sebagai tatanan dari situasi yang diproduksi oleh konstruksi kepentingan (kapitalisme, Industrialisasi, konsumerisme) untuk dasar akumulatif. Bukan saja akumulasi modal sebagai alas gerak kapitalisme, melainkan juga makna turut diakumulatifkan sebagai cara memproduksi hasrat konsumtif. Kita telah sampai pada masa kegilaan, kata Guattari, sebuah konstruk kehidupan yang timpang, bukan saja masyarakat kapitalis, melainkan juga kehidupan kebudayaan yang simpang siur. Maka, daripadanya kenyataan budaya akhirnya terselubungi dengan cangkang keras fantasi citra imaginer.

Pop Culture; Peluang atau Beban?

Sesungguhnya realitas kebudayaan yang kita hadapi sekarang adalah diskursus yang panjang, tak dan belum sampai pada batasbatasnya yang paling jauh. Sehingga membuka peluang bagi kita untuk dibincang dan dipersoalkan. Sebab kebudayaan adalah entitas yang harus kita maknai sebagai ihwal yang fluid, pembicaraan yang cair serta terbuka. Atau dengan kata lain ada cela yang bisa kita intipkan darinya untuk kita masuki. Sehingga standar antara yang adihulung dan yang dangkal bisa kita batasi dalam batasbatasnya yang moralistis.

Budaya populer sebagai fenomena kebudayaan yang dilahirkan dari industri kebudayaan massal, adalah fenomenon yang memiliki kepentingan ideologi pasar. Cara bekerja dari budaya populer itu sendiri mensyaratkan keabaian kritisisme untuk budaya yang diterima secara massal. Oleh karena budaya populer selalu beroperasi melalui cara berpikir populer, yakni budaya yang dipengaruhi oleh film, musik, tontonan dan seni hiburan sehingga mematikan fungsifungsi asas kebutuhan dibandingkan dengan nalar gengsi.

Betapa di era kemajuan seperti sekarang ini, budaya populer adalah new religion yang tentu memiliki ritual untuk membudidayakan dan memurnikan ajarannya. Selama ia menjadi stimulus dari gejala semisal shopping mall, life style, cara hidup glamour sampai hingar bingar diskotik, maka ia menjadi agama baru yang merebak pesat di dewasa ini. Maka telisik mendalam perlu kita lakukan untuk membersihkan gejala kebudayaan yang berimplikasi kepada hilangnya budaya lokal yang bersifat adihulung.

Namun dari semua itu, pada kenyataannya jika budaya populer adalah hasil dari transpalansi kebudayaan pada masyarakat terjajah, apakah tiadakah konsep dan praktik kebudayaan tandingan sebagai counter hegemony dalam mendeteritorialisasikan kebudayaan budaya populer itu sendiri. Setidaknya pada stadium yang paling minimal, perlu ada usaha kesadaran yang intens dan demokratisasi gerakan kebudayaan yang perlu dipancangkan sebagai usaha emansipasi dan pembebasan untuk keluar dari massifisitas budaya populer sebagai bentuk selubung kolonialisasi baru. Sehingga fantasifantasi kebudayaan massal yang hanya berupa mayangmayang kenyataan bisa ditiadakan. Setidaknya seperti dengan cara penggal lagu diatas, bahwa ini dan di sini bukanlah Hollywood![]

…This is not Hollywood,
Like I understood.
This is not Hollywood, Like !, Like !, Like…!

---

Disampaikan pada Intermediate Training BEM FIP UNM, 13-15 September 2013.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...