Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

04 Oktober 2018

Kesyahidan Imam Husain dan Epik Karbala

“In a time of deceit, telling the truth is a revolutionary act. Di saat kebohongan, menyatakan kebenaran adalah sebuah tindakan revolusioner.”

Imam Husain lebih dari sebuah nama. Ia adalah sebuah pemahaman. Sebuah Perspektif.

Sebagai sebuah pemahaman, Imam Husain adalah pandangan dunia yang membetot pikiran mengenai dua sisi kontradiktif yang tidak mungkin ditengahi: kebenaran dan kebatilan.

Sebagai sebuah perspektif, pribadi Imam Husain menjadi simbol keberpihakan bagaimana suatu pandangan dunia mau tidak mau harus rela menanggung risikonya. Hatta, kematian sekalipun.

Tapi di Karbala kematiannya bukanlah risiko. Di padang itu, kesyahidannya adalah puncak tertinggi dari moralitas adihulung yang dimiliki seorang pribadi.

Dengan kata lain, epik kesyahidan Imam Husain di Karbala menjadi satu-satunya ultimate goal dari sekian pilihan yang diambilnya.

Dari sisi teori bunuh diri, kematian Imam Husain bukan kategori kematian yang dibilangkan Emile Durkheim, seorang scholar sosiologi, sebagai akibat dari melemah atau kuatnya struktur sosial yang menjadi penyebabnya. Atau  lebih-lebih disebabkan hilangnya kendali norma masyarakat yang membuatnya patah semangat.

Kematian Imam Husain adalah pilihan sadar yang melampaui syarat-syarat material masyarakat saat itu. Satu jenis kematian yang dalam pengertian Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis Jerman sebagai sterben, yakni kematian yang dijemput dan direncanakan.

Karena sifatnya direncanakan, kematian sterben berbeda dari kematian off-liven. Dalam pemaknaan Heidegger, kematian off-liven adalah kematian alami benda-benda dan binatang disebabkan datang begitu saja tanpa ada persiapan apa-apa untuk menjemputnya. Kematian yang tidak bermakna.

Sementara kematian Imam Husain adalah kematian dengan makna agung.  Ia  tidak dikondisikan keadaan. Karena itulah ia membuat gaung panjang yang memengaruhi jalannya sejarah.
Itulah sebabnya, kematian Imam Husain disebut syahid. Pilihan yang tumbuh dari jiwa yang merdeka atas suatu gagasan.

Di Karbala gagasan itu sepadan dengan kata-kata George Orwell yang saya kutip di atas tadi: In a time of deceit, telling the truth is a revolutionary act. Di saat kebohongan, menyatakan kebenaran adalah sebuah tindakan revolusioner.

Namun, bagaimana mungkin di Karbala hanyalah kisah yang menunjukkan sebuah pernyataan. Kisah 10 Muharram adalah epik sejarah yang merekam seorang pribadi yang  bukan saja menyatakan kebenaran, tapi juga sekaligus bertindak benar melalui jiwa sekaligus tubuhnya.

Karena itulah dalam tradisi pemikiran Syiah, kisah 10 Muharram menjadi inspirasi abadi untuk menyuarakan kebenaran bukan saja melalui pernyataan tapi juga tindakan.

Sebagaimana sebuah epik, dalam kisah Asyura banyak rupa kejiwaan yang merefleksikan pribadi manusia. Ibarat sebuah “pertunjukkan” melalui 10 Muharram banyak peran kemanusiaan yang ikut terlibat dan berkelindan di antara dua bentang sisi berlawanan yakni kebenaran dan kebatilan.

Melalui sejarah Karbala, walaupun sama-sama berlabel Islam, pribadi Imam Husain dan Yazid bin Muawiyah adalah dua paras ekstrim yang membentang saling menegasi. Dua-duanya sama-sama menjadi wakil gagasan, nilai, dan esensi agama yang berlainan. Imam Husain sebagai pewaris ajaran Rasulullah, dan Yazid sebagai tokoh antagonis dispotik yang memelintir ajaran Muhammad.

Dari sisi ini, pelakonan antara Imam Husain dan Yazid bin Muawiyah seperti analisis Dr. Ali Syariati, scholar sosiologi Islam yang disebutnya agama vs “agama”. 

Agama pertama yang diperjuangkan Imam Husain adalah karakteristik agama seperti yang dinubuatkan Rasulullah dengan nilai-nilai utama berupa egalitarianisme, emansipatif, dan humanis.
Sedangkan agama dalam tanda kutip seperti yang diperankan Yazid bin Muawiyah adalah sisi sebaliknya berupa agama yang menjadi sektarian, nonkoperatif, dan dispotik.

Di sekitar ketokohan Imam Husain untuk menyebut beberapa di antaranya ada sahabat-sahabat semisal Anas bin Harits Kahili, Habib bin Muzhahhar, Muslim bin Awsaja, Hani bin Urwah, Abdullah bin Baqthar Himyari, John bin Huwai yang mencerminkan sifat kerelaan dan kesetiaan terhadap pribadi Imam Husain sebagai simbol kebenaran.

Selain sanak famili, para sahabat Imam Husain menjadi contoh keberpihakan dengan menujukkan diri sebagai pribadi yang rela berkorban demi tegaknya prinsip amal ma’ruf nahi mungkar walaupun nyawa sebagai taruhannya.

Sementara di sisi seberang yang diwakili Yazid bin Muawiyah terdiri dari sosok-sosok yang dibelenggu tipu muslihat dan ego kekuasaan untuk meraih keuntungan sekaligus simpati masyarakat dengan mempermainkan agama sebagai jualannya.
Di antaranya adalah orang-orang semisal Ubaidillah bin Ziyad, Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Syimr bin Dzil Jausyan yang memeragakan lakon antagonis mengedepankan sifat tamak, serakah, dan bebal yang memanfaatkan jaringan kekuasaan demi menyudahi perjuangan Imam Husain.

Dari semua lakon yang terjadi, peristiwa Asyura adalah kisah epik tiada duanya. Ia adalah kisah yang bertutur melalui puncak-puncak nilai kemanusiaan. Hanya di peristiwa Karbala-lah, semua ketinggian nilai kemanusiaan ditemukan, tapi juga sebaliknya secara bersamaan menunjukan peran yang mencerminkan nilai antikemanusiaan.

Kiwari, ketika kisah-kisah kemanusiaan banyak dikalahkan oleh narasi modernisme dalam ingatan kolektif masyarakat, peristiwa Karbala-lah kisah agung yang berdiri di atas pengisahan gugatan dan gugahan bagi siapa saja yang menyadarinya. Sebuah kisah yang mampu didudukkan sebagai gagasan trasnformatif untuk merevitalisasi cara masyarakat beragama agar tidak terjebak ke dalam simbolisme agama dan politik atas nama agama.

Pada akhirnya, kisah Karbala adalah kisah kemanusiaan-universal. Kenyataannya, 10 Muharam bukan sekadar penanda atas waktu suatu peristiwa epik. Melainkan merupakan penanda ingatan dan jiwa, yang menjadi suluh keduanya agar terus berjangkar kepada puncak-puncak kemanusiaan demi menegakan spirit Islam yang diajarkan Rasulullah.

Semua ingatan adalah Asyura, semua tubuh adalah Karbala.

---

Tayang sebelumnya di Geotimes.co.id

20 Mei 2017

Agama atau "Agama"?

Ketika Ali Syariati mengomentari pengertian agama yang dinyatakan Emile Durkheim sebagai semangat kebangsaan dan kolektif masyarakat yang ditransformasikan ke dalam simbol-simbol, ritus, dan tradisi keagamaan, sosiolog abad 20 ini juga menunjukkan dua kategori agama yang sering tampil dalam sejarah masyarakat. Bahkan menurut Ali Syariati, di antaranya, dua kategori agama ini sering mengalami pertentangan dan perlawanan. Dengan kata lain, pertentangan yang sering dihadapi agama bukanlah entitas di luar dirinya sendiri, melainkan antara agama melawan agama.

Sebagai seorang sosiolog, Ali Syariati meradikalkan pembagian agama berdasarkan fungsi kritik dan transformatifnya di dalam masyarakat. Artinya, sejauh fungsi normatif agama tidak memberikan kontribusi dan mendorong perubahan sosial, maka agama itu menjadi paham yang dekaden dan disfungsional.

Selain itu, fungsi kritik dan transformatif dari agama, secara teoritik akan memberikan perbedaan fondasional terhadap paham-paham yang berbeda yang pernah ada dalam masyarakat, yang juga memiliki kepentingan yang sama sebagai semesta makna yang mengatur kehidupan kolektif masyarakat.

Kategori ini dirumuskan Ali Syariati berdasarkan pengalaman sejarah dan sosiologis saat pertama kali Islam datang di tanah Arab. Situasi kesejarahan ini, bertolak dari kehidupan Muhammad sebagai agen sadar yang mengubah nilai dan motif-motif individual masyarakat Arab menjadi gerakan kolektif dalam konteks transformasi sosial.

Islam yang pertama kali dibawa Muhammad merupakan agama yang mengandung fungsi kritik dan transformatif sekaligus. Dua fungsi ini secara evaluatif bekerja sebagaimana ideologi menilai dan memutuskan apa yang benar dan seharusnya dilakukan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan tujuan diciptakannya kehidupan bersama.

Islam awal Muhammad, berdasarkan fungsi kritiknya banyak mengguyah sendi-sendi masyarakat yang tidak adil akibat spirit egaliterianismenya. Ketidakadilan, penyembahan berhala, barbarianisme, diktatur kesukuan, dan dehumanisasi adalah perhatian utama Islam awal Muhammad yang ditransformasikan secara radikal untuk menciptakan kehidupan yang jauh lebih beradab.

Islam awal Muhammad, akibat sifatnya yang demikian, secara konfrontatif berhadapan dengan tradisi dan adat kebiasaan yang telah lama menjadi sistem paradigma dan tindakan masyarakat Arab.

Paradigma Arab jahiliah yang saat itu berciri feodal, "kapitalistik", dan arogan, mau tidak mau diradikalkan dengan ajaran kemanusiaan yang dikandung Islam awal. Konfrontasi ini tidak sekadar konsekuen terhadap perubahan paradigma lama masyarakat Arab, tapi juga mengubah aspek praktis dari cara hidup masyarakat jahiliah Arab saat itu.

Kritik yang dinyatakan dalam Islam awal Muhammad, dengan kata lain bukan saja alih-alih merevolusi secara elementer alam berpikir masyarakat Arab, namun juga mengubah tatanan kepentingan kehidupan sosio-politik-ekonomi saat itu.

Itulah sebabnya, mengapa perlawanan dari pemuka suku-suku saat itu tidak terlalu memusingkan apa dan bagaimana ajaran Islam awal yang dibawa Muhammad, konsep ketuhanan macam apa yang dikemukakan saat itu, dan bagaimana tata cara menjalankan agama yang dibawa, melainkan mereka lebih khawatir terhadap dampak praktis Islam yang mengguncang otoritas politik kesukuan dan kepentingan ekonomi yang saat itu dijadikan sebagai sumber-sumber prestise dan pendapatan.

Islam awal Muhammad ini dalam matriks agama Ali Syariati disebut sebagai agama revolusioner. Agama revolusioner, secara sosiologis dinyatakan Ali Syariati sebagai agama pembebasan yang secara organik mendorong penganutnya untuk berpikir dan bergerak maju mengubah pengalaman kolektif yang sebelumnya dekaden menjadi "modern".

Sementara di sisi lain, keterangan agama melawan agama, mesti dipahami melalui konteks sejarah masyarakat yang secara politis dikuasai oleh agama yang hipokrit.

Agama yang hipokrit bukan sekadar konseptualisasi teoritik Ali Syariati belaka. Dengan kata lain, pemilahan tipologi agama hipokrit Ali Syariati dikemukakan atas pengalaman sejarah masyarakat yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang agama legitimasi.

Itu artinya apa yang disebut Ali Syariati sebagai agama legitimasi, memang benar-benar ada dan beroperasi di dalam sejarah masyarakat selama ini.

Sejauh ceramah-ceramahnya, tidak ada defenisi pasti dari apa yang diandaikan Ali Syariati sebagai agama legitimasi. Yang masih samar-samar adalah agama legitimasi sering disinonimkan Syariati dengan keyakinan-keyakinan syirik. Bahkan disebutnya keyakinan inilah yang kerap menggunakan jubah agama demi mengkampanyekan agenda terselubungngnya.

Namun, apabila merujuk kembali dari indikator fungsi kritik dan transformatif dari agama di atas, maka dengan sendirinya akan memberikan pengertian baru atau berbeda tentang agama legitimasi itu. Maksudnya, sejauh agama tidak membawa perubahan apa-apa terhadap kesejahteraan masyarakat, maka itulah yang dimaksudkan Syariati sebagai agama legitimasi.

Bahkan, Syariati menyatakan, berdasarkan cara kerjanya, agama legitimasi sering memanipulasi ajaran agama untuk melanggengkan status quo kekuasaan yang berlaku.

Maka dari itu, berdasarkan tidak adanya fungsi kritis dan transformatif, agama legitimasi justru bertujuan membuat keadaan semakin alienatif dan regresif.

Agama legitimasi, jika dikembalikan kepada fungsinya, adalah agama yang secara paradigmatik mempertahankan dogma dan ajaran-ajaran lama demi memperalat umat dalam kaitannya dengan kepentingan tokoh-tokohnya.

Agama jenis kedua ini secara ontologis bukan entitas yang terpisah dari agama itu sendiri. Melainkan berada dalam agama, dan dikandung di dalamnya. Hal ini sesuai yang dikatakan Syariati, bahwa agama legitimasi kadang dijalankan dengan cara sembunyi-sembunyi dalam agama itu sendiri. Dalam sejarah Islam awal, agama legitimasi identik dengan pengikut nabi yang digolongkan al Quran sebagai golongan munafik.

Agama legitimasi dengan begitu adalah agama yang mendomplengi agama itu sendiri demi tujuan-tujuan individual, dan sekaligus berlawanan dengan misi subtansi agama itu sendiri.

Artinya, jika Islam awal Muhammad mempunyai misi pembebasan masyarakat dari tradisi dan kebudayaan yang alienatif, maka Islam legitimasi adalah agama yang memanfaatkan keadaan alienatif masyarakat demi mempertahankan kepentingan dan keuntungannya di dalam tatanan kepentingan masyarakat.

Sebagai teori sosial, matriks tentang dua wajah agama ini dinyatakan Ali Syariati saling kontradiktif dan senantiasa mengalami tegangan. Bahkan, di dalam kenyataan sejarah, dua agama ini –seperti yang sudah disebutkan di atas—sering berlawanan dan saling merebut posisi, kepentingan, dan manfaat di masyarakat.

Bukan saja itu, dua wajah agama ini, tidak bergerak dan beroperasi dengan sendirinya. Sebagaimana Islam awal dibawa dan digerakkan Muhammad sebagai agen perubahannya, maka agama legitimasi juga memiliki “nabi-nabinya” yang secara konfrontatif menggunakan agama Muhammad demi melegalkan tujuan dan hasrat individualnya.

09 Desember 2016

Menggeledah Motif-Motif Berpikir Masyarakat Sibernetik

Berpikir, harkat manusia. Itulah sebab, berpikir menandai keunikan manusia. Tiada yang menyerupainya.

Itulah juga, manusia diyakini mahluk bermartabat. Berpikir membuat harkat tegak. Bekerja meneruskan ide-idenya, manusia bermartabat.

Tiada zaman seperti sekarang menempatkan harkat manusia serendah-rendahnya: era sibernetik. Selain kemajuan pencapaian kebudayaan manusia, secara paradoks, zaman sibernetik, diam-diam mensituasikan cara berpikir manusia menjadi lebih dramatik.

Bagaimana itu mungkin? Pertama, era sibernetik menengarai dan menopang perubahan konfigurasi interaksi manusia. Kedua, mutakhir, era sibernetik mau tidak mau membuat jalinan komunikasi semakin kompleks dan sulit diantisipasi.

Ketiga, imbasnya, motivasi berpikir ikut berubah seiring pertukaran informasi dari beragam budaya dan kebiasaan. Keempat, peralihan dunia nyata secara virtual, mengubah antara “yang nyata” dan “yang semu” tak dapat lagi dibedakan secara esensil.

Akhirnya, belum pernah ada kekacauan begitu massif seperti sekarang. Ketika teknologi informasi bergerak mengambil alih “otonomi” manusia. Kekacauan ini, sekaligus membuat cara pandang baru apakah kebebasan manusia dimungkinkan di tengah kepungan teknologi informasi.

Martabat manusia semakin kritis akibat syaraf sensorik dan motorik menjadi lumpuh. Kelumpuhan ini bersamaan “mesin-mesin” canggih melucuti medan kerja manusia di banyak bidang.

Misalnya, dari era mesin uap, hingga kiwari, teknologi komputasi mesin-mesin robotik,  pelan-pelan mengubah kemampuan gerak otak dan otot manusia menjadi tidak berfaedah. Otot dan otak, tak mampu berkembang alamiah sebagaimana alam menyediakannya.

Atas asumsi ini, satu dua pernyataan kritis bisa diajukan: bagaimanakah kemampuan berpikir manusia di era sibernetik? Apakah cara berpikir di era sibernetik masih mewakili motif-motif manusiawi ketika kemudahan segala informasi dimungkinkan? Lantas, bagaimanakah kebebasan di era sibernetik, terutama dalam dunia virtual, dengan asumsi tiada kebebasan tanpa otonomi manusia?

***

Perkembangan informasi seharusnya turut meningkatkan kemampuan analisis masyarakat. Secara kebudayaan, di samping kemajuan kemampuan literatif, semakin banyak mencerna informasi dengan sendirinya mengembangkan cara berpikir masyarakat menjadi terbuka. Kalaupun itu tidak dimungkinkan, perlu diimbangi proses edukasi bertahap seiring semakin majunya cara masyarakat mendapatkan informasi.

Tapi secara kontradiktif, informasi yang dikonsumsi tanpa melibatkan pertimbangan-pertimbangan kritis, di era keterbukaan cyberspace tidak sedikit pun memberikan ruang kontemplatif di dalamnya. Semakin banyaknya lintasan informasi, mengakibatkan ambivalensi manusia yang tidak mampu menemukan relasi makna terhadapnya.

Sisi lain, ketidakmampuan menelaah kompleksitas informasi, malah menghadirkan keinginan menggebu-gebu menjadi agen perubahan. Caranya, menyebar informasi nonkebenaran sebagai wacana keyakinan mayoritas. Jika sudah demikian, hasrat berbagi informasi, diyakini paralel bagian dari tanggung jawab sosial.

Itu imbas sifat keterbukaan dunia virtual, mengakibatkan orang-orang menjadi subjek sekaligus objek informasi. Sebagai subjek, orang-orang mampu mereproduksi kepentingannya melalui sebaran informasi. Sebagai objek, informasi yang banyak beredar membuat masyarakat kehilangan prinsip-prinsip otonominya.

Jean Baudrillard menyatakan keberlimpahan arus informasi yang mendikte masyarakat ke tingkat ekstrim bisa sampai mengalami implosif. Implosif, mengandaikan sifat ledakan yang mengarah ke dalam suatu pusat. Berbeda dari eksplosif, arah ledakan ke dalam, bukan merusak apa saja di luarnya, melainkan masuk merusak tatanan pusat yang terbentuk sebelumnya.

Berdasarkan analisis Baudrillard, tekanan arus informasi, tidak mampu diantisipasi dan dikelola, akan berdampak kritis terhadap kesadaran.  Menumpuknya informasi berdampak ledakan implosif di dalam kesadaran. Kepungan informasi dan minimnya kemampuan mendaur ulang informasi, sebab utama ledakan implosif terjadi.

Di tahap ini, kesadaran bukan lagi entitas utuh yang mampu  membangun reflektifitas terhadap informasi. Juga, kesadaran kehilangan daya pikirnya, sehingga secara psikis, diambil alih sisi emosional yang guyah. Hilangnya terang kesadaran, meluasnya emosionalitas sampai menyasar aspek-aspek kognitif, bagi kemampuan berpikir, berdampak hilangnya otonomi kesadaran itu sendiri.


Proses deotonomisasi kesadaran akibat kepungan informasi, otomatis menggiring masyarakat kepada cara berpikir dangkal, semu. Baudrillard mendenotasikan ini sebagai kesadaran yang dibentuk dan diambil alih simulakrum, kesadaran yang bergerak atas makna artifisial dunia maya.

Pengertian simulakrum, yang dibentuk cyberspace, adalah duplikasi kenyataan dunia virtual atas permainan canggih simbol-simbol. Simulakrum, dengan kata lain, dunia fana virtual yang mengambil alih kenyataan dunia ril.

Kaitan kemampuan berpikir masyarakat sibernetik, duplikasi simbol-simbol dan kecanggihan logika algoritma, membuat manusia terdehumanisasi. Kemampuan berpikir manusia menjadi lemah. Kerja-kerja analitik, eksplanatif, deskripsi, kritis, akhirnya hanyalah pengandaian saat menggunakan mesin-mesin cyber canggih dan mutakhir. Toh jika ada, kemampuan berpikir mandiri, sudah diwakili mesin canggih berkat kemampuan artifisial inteligennya.

Syahdan, berkat dahsyatnya centang perenang beragam informasi, berpikir bukan lagi usaha primer manusia. Alasannya sungguh sederhana: tiada yang bisa dipikirkan lagi. Semuanya telah tersedia di dalam jaringan informasi sibernetik.

***

Berpikir sepanjang kerja manusiawi, tidak bisa dielakkan usaha yang netral. Sejauh berdasarkan hukum-hukum logis-objektif, berpikir akan mewakili fungsi-fungsi rasionalnya. Dengan kerja demikian, berpikir dikatakan media manusia mengafirmasi kebenaran.

Namun di era sibernetik, masyarakat bukan kesatuan konvensional. Era masyarakat terbuka, beragam informasi membuat masyarakat mudah mengkonfigurasikan diri melalui isi dan jenis informasi. Masyarakat tidak permanen berhubungan lagi atas suku, ras, agama, atau bahkan kekuatan-kekuatan pemersatu seperti diyakini selama ini.

Akibat beragam jenis informasi, keutuhan masyarakat ditentukan sejauh tingkat pemahaman dan penarikan kesimpulan kebenaran suatu informasi. Juga, perbedaan informasi, ikut menentukan karakter keberagaman dan selera masing-masing kelompok masyarakat.

Itulah sebabnya, informasi di era sibernetik tidak sekadar kabar yang memenuhi ruang publik masyarakat. Melainkan menjadi wacana yang terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Bahkan, sebagai kekuatan sosial baru, arus besar informasi sehari-hari, bisa menjadi kekuatan konsensus atau sebaliknya, mampu memicu pembelahan masyarakat.

Contoh paling terang kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Media informasi masif digunakan golongan tertentu memicu integritas secara spontanik. Walaupun informasi memintasi lini masa tanpa ada keakuratan dan kebenaran, yang juga tidak melibatkan fungsi kontrol, akhirnya menjadi sarana pemersatu kepentingan berbeda.

Sebaliknya, informasi yang sama menjadi kekuatan pemecah tanpa disertai konfirmasi kritis terhadap wacana yang berkembang.

Dari kasus di atas, setidaknya ada tiga pembacaan kritis bisa diajukan. Pertama, berita-berita tersebar masif melalui dunia maya, mampu mengkonsolidasikan beragam kepentingan berbeda melalui justifikasi-justifikasi teologis. Akibatnya, perbedaan selama ini menganga atas dasar pilihan politik, ekonomi, kebudayaan, maupun gender, menjadi lebur di bawah seruan-seruan bernada sentimen agama.

Ini mengindikasikan, perkembangan berita atau informasi (baca: kebenaran), tidak dikelola hanya berdasarkan cara kerja berpikir objektif atas fakta verifikatif belaka. Di kasus Ahok, anehnya, penarikan kesimpulan sudah didahului justifikasi-justifikasi motif kepentingan tertentu. Selain itu, sentimen agama, justru menjadi anasir kepentingan yang mengaburkan kecemerlangan berpikir.

Kedua, atas dasar kebutuhan integritas, justifikasi teologis melucuti aktivitas berpikir sebagai jalur kekuasaan. Memanfaatkan rasa sentimentalisme sempit, berpikir dalam arena kekuasaan dilakukan demi tujuan politis. Jelas sekali, berpikir rasional senantiasa mengedepankan dimensi etik, sebaliknya justru dikendalikan kekuatan politik agama di bawah rejim kekuatan massa. 

Ketiga, berpikir dalam tatanan relasi benar-salah, merupakan dorongan tersembunyi imperatif moral tertentu. Pengajuan yang dibilangkan Nietzsche, setiap pengetahuan didasarkan motif tertentu, merupakan sarana memahami bahwa tidak semua aktivitas berpikir murni didorong hasrat rasional.

Bagi Nietzsche, semua usaha rasional manusia mencari kebenaran tidak serta merta berkat dorongan kebenaran semata. Lebih sublim dari itu, dorongan berpikir manusia ternyata digerakkan motif moral: keengganan dikatakan salah.

Artinya, ini bukan soal apakah benar adalah benar, salah adalah salah. Tapi, keinginan untuk menjadi absolut. Tanpa cacat. Hasrat terpendam manusia mau menjadi kebenaran mutlak itu sendiri.

Keinginan menjadi absolut inilah yang menjadi motif utama manusia berpikir. Kebenaran yang “letaknya” di luar kesadaran manusia hanyalah faktor kedua. Imbasnya, secara moral, dorongan absolutisme ini menolak  segala cacat kesalahan yang sebenarnya bagian sifatnya manusiawi.

Jika diamati, sebagai analogi, mengapa orang reaksioner dan konservatif, misalnya, sulit mendialogkan kebenaran? Jawabannya bukan dalam kaitan kesadaran benar-salah, bukan dalam makna mencari kebenaran, tapi mereka enggan dikatakan salah. Ini bukan urusan rasional semata. Kata Nietzsche, itu persoalan “ingin-tidak ingin.” Moral .

Dalam konteks demikian, berpikir bukan serta merta usaha rasional melibatkan hukum-hukum logis semata. Berpikir tidak sekadar mencari terang antara persilangan kebenaran (truth) dan opini (doxa). Sejauh ditempatkan dalam hubungan-hubungan ril masyarakat, berpikir menjadi pekerjaan yang berpihak pada motivasi tertentu. 

Itu artinya, di era keterbukaan informasi, berpikir tidak sekadar usaha fitrawi manusia demi mencapai kebenaran, tapi juga sebagai konsekuensi langsung dari motif-motif tersembunyi  yang menjadi dasar terdalamnya.

***

Melalui ilmu psikologi, motif (latin: movere) dimengerti sebagai penggerak atau kekuatan pendorong organisme. Bahkan motif, tidak saja kekuatan inheren dalam suatu organisme. Bagi manusia, di dalam masyarakat, motif sering dipengaruhi faktor dari luar dirinya.

Dua jenis motif secara umum dalam ilmu psikologi: Pertama, motif fisiologis. Dorongan ini berkaitan dengan cara manusia mempertahankan eksistensi biologisnya. Tubuh biologis manusia senantiasa mendorong untuk makan, minum, dorongan seksual, ataupun dorongan untuk menghirup udara segar. 

Tubuh manusia mau tidak mau secara alami mencari keperluan menutupi “cela” kekosongan dirinya. Dorongan fisiologis bersifat internal dan mendesak berkat tubuh membutuhkan energi. Karena itulah motif ini juga disebut motif primer, atau motif dasar manusia.

Kedua motif sosial. Motif ini terjadi akibat interaksi di masyarakat. Artinya, motif sosial ditentukan dari seperti apa hubungan-hubungan di dalam masyarakat itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan tulisan ini, motif sosial dibagi menjadi empat.

Pertama, motif kekuasaan. Kekuasaan sejauh melibatkan kesadaran dalam hubungan masyarakat, tidak akan menghasilkan ekses negatif. Misalnya, kesadaran hubungan seorang hamba terhadap Tuhan yang Mahasegala. 

Namun,dalam relasi masyarakat, dua kekuatan sering mengalami kekuasaan secara hirarkis. Dan, akibat bersifat hirarkis, kekuasaan meniscayakan suatu hubungan dominatif.  Di saat demikianlah, kaitannya dengan berpikir, tidak semua pengetahuan murni tanpa tercemari kekuasaan.

Kedua, motif dominasi. Keadaan dominatif, melibatkan kekuasaan di dalamnya. Dominasi seseorang seringkali berarti akibat pengaruh kewenangan. Kewenangan berbasis kekuasaan, secara imperatif menyingkirkan peluang-peluang yang disinyalir dapat mengubah kekuatan dominatif sebelumnya.

Motif dominasi acapkali berlangsung  ketika dua kepentingan menjalin interaksi. Bahkan, motif dominatif sering terjadi akibat kekuatan minoritas yang ditekan dan dilemahkan.

Tujuan akhir situasi dominatif tidak serta sekadar menekan pihak minoritas. Keadaan mendominasi acap terjadi untuk mengintrodusir nilai-nilai tertentu. Kadang juga, selain memaksakan tujuan tertentu, yakni menghendaki suasana menjadi stabil, status quo.

Ketiga, motif agresi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresi, perasaan marah atau tindakan kasar akibat kegagalan atau kekecewaan dari tujuan. Secara antropologik, agresi berarti perbuatan bermusuhan berupa penyerangan fisik ataupun psikis terhadap pihak lain.

Motif agresi benderang jika ada pihak menyerang pihak lain akibat kegagalan atau perasaan kecewa saat kalah bersaing.  Agresi muncul imbas terhambatnya tujuan yang diharapkan.

Motif agresi terjadi ketika sikap rendah diri begitu kuat mengikat pelaku. Pelaku agresi, dari skala luas, ikur berlaku dalam relasi bangsa-bangsa. Banyak bangsa bertindak agresif bukan karena memiliki kekuatan. Dari aspek psikososial, bangsa agresor tiada lain bangsa yang rendah diri.

Apabila meneropong relasi agresor dan korban agresi, motif agresi malah menjadi cara menutupi kekerdilan diri pelaku. Itulah sebabnya, dalam politik, misalnya, agresi marak terjadi. Bahkan agresi dianggap strategi politik. Itu berarti, banyak pihak yang kalah bersaing.

Keempat, motif ekshibisi (pamer). Motif ini sinonim narsisme. Yakni harapan tindakan diri menjadi pusat perhatian. Dengan menonjol-nonjolkan diri, motif ekshibisi dalam arti tertentu, usaha seseorang untuk mendapatkan pencitraan khalayak umum.

Pepatah “tong kosong, nyaring bunyinya” dalam arti lain, pencitraan tanpa mengikutkan prestasi. Sering kali mengedepankan eksistensi diri walaupun tidak memiliki makna apa-apa.

Dunia virtual, dunia narsisme. Banyak bersuara tanpa melibatkan makna. Banyak menonjolkan diri tanpa pernah berprestasi.

***

Hakikat berpikir sebenarnya peristiwa cerlang, anugerah manusia. Tanpa berpikir, manusia jauh dari kesejatian: kebenaran.

Sudah dikatakan sebelumnya, aktivitas berpikir tidak bisa keluar dari hubungan ril masyarakat. Itulah mengapa, berpikir bukan lagi sekadar pemuas fitrah rasa ingin tahu. Kiwari, berpikir sudah menjadi pelayan langsung kepentingan tertentu.

Jika meminjam analisis Frankfurt Schooll tentang relasi rasio instrumental dan tujuan-tujuan ekonomisnya, berpikir di era sibernetik, terutama dalam dunia virtual, menjadi aktivitas motif-motif tersembunyi memanfaatkan arus perkembangan informasi dan komunikasi.

Era virtual, mengedepankan pencitraan dari pada isi, adalah kemajuan yang dikepung hiperrealitas di mana-mana. Pendapat ini tidak berlebihan, dikatakan hampir setiap waktu, realitas ril dicetak dan dibentuk di dalam screen smartphone.  Berdasarkan cara kerja dunia virtual, dunia ril mengalami defisit pemaknaan dibanding simulakra dunia maya.

Seperti dijelaskan sebelumnya, simulakra (simulakrum), yang dibilangkan Jean Baudrillard, dunia simbolik yang membalikkan kenyataan melalui pencitraan dunia maya. Simulakrum memiliki kemampuan memalsukan kenyataan dengan membuat kenyataan baru. Melaui permainan penandaan, dunia baru yang diciptakan simukakrum jauh lebih kompleks dan bersifat imajinatif.

Kemampuan simulakrum, juga mampu mengambil alih kenyataan dalam kesadaran. Simulakrum berupa dunia tiruan, mengintodusir imajinasi simbolik dunia virtual dalam kesadaran. Melalui cara pembalikkan kesadaran memahami dunia virtual, simulakrum mengambil alih realitas.

Diambil alihnya realitas ril menjadi realitas virtual tidak sendirinya menghalangi motif-motif  manusia untuk terus eksis. Malah motif-motif manusia mengalami peralihan dengan cara kerja yang lebih berbahaya ketika berada dalam dunia virtual.

Melalui konteks berpikir adalah representasi motif-motif tersembunyi, eksistensi “diri” dalam dunia virtual mampu menjadi diri yang lain. Diri virtual, berbeda dari diri dunia ril. Diri dunia ril, eksistensi yang diikat hukum realitas. Eksistensi nyata dalam realitas material-sosiologis.

Diri virtual merupakan representasi diri ril berupa profil akun dunia virtual. Diri virtual bukan saja representasi diri ril, namun mampu mengubah sejumlah data diri berdasarkan motif tertentu. Berbeda, diri virtual dibentuk oleh sejumlah bit sebagai satuan “atomiknya”. Dengan sejumlah bit inilah diri virtual “hidup” dalam dunia virtual.

Artinya, peralihan diri ril menjadi diri virtual hanyalah perubahan modus eksistensi. Bahkan, peralihan ini mampu mengkalilipatduakan diri virtual menjadi entitas tak terbatas.

Seperti yang dibilangkan Turkle dalam Hikmat Budiman (Kekuasaan dan Kebebasan dalam Cyberspace), identitas dalam jaringan cyberspace telah menghancurkan identitas sebagai kesatuan tunggal yang terikat fisik biologis. Identitas diri virtual dunia maya, entitas multifaset, protean, karena seseorang mampu berganti identitas sesuka hati.

Hukum-hukum hampir luput dari diri virtual. Akibatnya, kebebasan diri dunia virtual, membuatnya mampu berbuat apa saja. Selama itu dilakukan di balik citra simbolik, tindakan diri virtual menjadi identitas yang sulit diantisipasi pertanggungjawabannya.

Para hacker, sebagai contoh, salah satu figur yang digerakkan motif  tertentu, terkadang memiliki agenda terselubung merusak sistem ketahanan suatu base informasi. Tanpa identitas terikat tubuh biologis, para hacker memperantai motifnya melalui diri virtual.

Media sosial, contoh mutakhir betapa motif-motif agresi, misalnya, begitu gampang bekerja di balik identitas maya. Tindakan kekerasan simbolik begitu gampang terjadi dengan menyudutkan pihak lain. Melalui meme, quote, maupun video, sarana yang kerap dipakai dalam menyalurkan hasrat agresi.

Memanfaatkan kemudahan dunia virtual, motif agresi mudah memakan korban akibat sifatnya yang gampang dilipatduakan. Di permukaan, motif agresi hanya bisa dikenali dari isi pesan yang banyak menggunakan simbol-simbol pelecehan dan diskriminatif.

Yang paling eskalatif, cara berpikir masyarakat diselubungi motif politik secara diam-diam. Melalui berita-berita bernada rasis dan sentimentil, misalnya, cara berpikir objektif menjadi sulit bekerja. Malangnya, ini begitu masif terjadi. Akibatnya, sulit membedakan kebenaran atas rasionalitas, atau hanya sentimentalisme berupa doxa.

Dalam konteks ini, informasi yang beredar hanya menyampaikan “separuh” realitas dari apa yang sebenarnya terjadi. Kebenaran yang diselingi motif politik hanyalah kebenaran yang sudah dipermak berdasarkan kepentingan itu sendiri. 

Motif politik dapat diidentifikasi sejauh berkaitan dengan kekuasaan. Kasus Ahok misalnya, sangat mudah menggeledah motif politik dari cara berpikir yang diwakilkan dari sebaran informasi selama ini.

Dunia virtual juga mampu menggandakan kekuasaan. Kekuasaan dunia virtual ditandai berapa banyak netizen menduplikasi informasi. Semakin luas peredaran satu informasi, luas pula daya jangkau kekuasaan itu sendiri.

Di waktu bersamaan, kekuasaan dalam dunia virtual, seperti narasi Hikmat Budiman (Kekuasaan dan Kebebasan dalam Cyberspace) juga menciptakan ruangnya sendiri dan menetapkan segmentasi, hirarki, dan keterbukaan. Tidak saja itu, kekuasaan dalam dunia virtual, kontradiktif, menciptakan pula kekuasaan tandingan atas kekuasaan lainnya.

Keterbukaan dunia virtual bukan saja menghilangkan sentralisasi dan hirarki, juga menciptakan keadaan dalam terminologi Foucault sebagai teknologi kekuasaan. Teknologi kekuasaan, arti lain, masifnya kekuasaan yang menyebar tanpa batas dan tingkatan berkat dukungan teknologi.

Anehnya, pergerakan kekuasan ini tidak dikontrol berdasarkan prinsip satu pusat. Memanfaatkan sifat eskalatif dunia virtual, kekuasaan dalam dunia virtual bahkan lebih mirip realitas chaotik.

Realitas chaotik dengan sendirinya menyediakan medan tanpa nalar, tanpa keberaturan, tanpa tatanan. Mirip lintasan serba cepat dan ultrakompleks, sulit menegakkan cara berpikir objektif di dalamnya. Saat demikianlah, motif dominatif gampang bekerja. Tanpa ada rambu-rambu, suatu kepentingan dominasi justru mudah bersikap hegemonik.

Motif lain yang bekerja massif di balik diri virtual, adalah motif eksibisi atau narsisme. Realitas virtual tanpa batas menjadi medan narsisme begitu jamak ditemukan. Bahkan kiwari, bagi ilmuwan sosial, narsisme sudah menjadi epidemi modern. Hakikat narsisme merupakan cara seseorang menutupi rasa rendah diri dengan kebesaran semu. Di balik simbol kebesaran-kebesaran nisbi, diri virtual hanya menemukan kekosongan melalui narsisme.

Sigmund Freud menyatakan hakikat narsisme sejatinya merupakan sarana pemuasan libido. Imbas hambatan perkembangan jiwa, narsisme akan berujung kepada sifat megalomaniak.

Dari aspek moral, kebebasan manusia, tidak dimungkinkan sejauh kesadaran manusia banyak diintimidasi kepungan informasi. Eksistensi diri virtual hanyalah subjek kondisional  yang nisbi. Jika melalui identitas maya, kebebasan itu dikatakan kemampuan melewati batas-batas virtual, maka itu sesungguhnya hanyalah kebebasan semu oleh akibat hidup di dalam dunia maya.

Akhirnya, era sibernetik hanya menyisakan kemungkinan kecil berpikir secara bebas dan otonom. Di balik berkembangnya “otak” canggih mesin-mesin informasi komunikasi, dan luasnya jagad informasi, kesadaran manusia mengalami penyusutan. Ini imbas kesadaran di balik informasi dunia virtual, tidak mampu melakukan refleksi kritis demi membangun pemahaman yang memadai.

Kebebasan dengan kata lain, dalam dunia virtual, hanyalah pengandaian semu akibat nisbinya otonomi kesadaran. Kesadaran yang berarti mampu mengalami dan mengelola informasi, mengandaikan kehendak bebas memilih di antara beragam pilihan di dalamnya.

Dan yang patut dikhawatirkan, cara berpikir masyarakat sibernetik senantiasa terancam motif-motif tersembunyi yang merangsek kemandirian berpikir manusia. Berpikir dalam situasi yang terancam, dengan mudah kehilangan fungsi rasionalnya. Imbasnya, kesadaran hanya menjadi medan yang diambil alih segi emosionalitas.

Dari semua itu, kita tidak ingin masyarakat yang dilimpahi beragam informasi, hanya mampu menduplikasi pengetahun tanpa bisa mereproduksinya kembali. Akibat ledakan implosif  yang membuat kesadaran yang tercerabut bahkan hancur berkeping-keping. Ujung dari semua itu, manuasia hanya menjadi objek kosong tanpa makna dari beragam informasi.

Sehingga patut disayangkan, di balik motif berpikir masyarakat sibernetik, orang-orang mencari dan mengelola informasi tanpa melibatkan dasar kebutuhan di dalamnya. Ini semua akibat hilangnya relasi kebermaknaan dari beragam komoditi informasi yang beredar. 

11 Maret 2015

madah limapuluh


ADA kisah tentang Pak Hamid yang  risau. Atau sebenarnya ia takut. Sebelumnya datang kabar nun jauh dari Papua. Anak bungsunya bakal menikah. Dari tempatnya yang jauh dari anaknya tinggal, tidak terbersit bahagia di mukanya. Yang ada justru tanda suatu soal berat. Anaknya akan menikahi perempuan berbeda agama. Usut punya usut, dari pengalaman anaknya yang lain, setiap pasca menikah dengan pasangan beda iman, anaknya pindah keyakinan.

Sebab itulah air mukanya jadi murung. Kabar yang ia terima seperti air jebol merusak apa saja. Anaknya yang dibesarkannya bertahun-tahun kini jadi orang yang bikin hatinya gulana. Membikin hatinya runyam.

Bagi sebahagian orang agama adalah pilihan. Tapi bagi Pak Hamid, yang namanya agama tidak mesti diganggu gugat. Ia setua tradisi turun temurun. Itulah sebab, agama jadi soal penting. Bertahun-tahun anaknya dididik sesuai agama tradisi, walaupun memang istrinya seorang muallaf. Tapi malang, justru di saat akan membangun rumah tangga, anaknya bakal berpindah keyakinan.

Tapi apa yang sesungguhnya dikhawatirkan Pak Hamid, sebuah label agamakah? Atau suatu yang lain. Sesuatu semisal, kebenaran yang hakiki.

Di negeri ini, suatu label sering kali memakan korban. Apalagi label yang telah mapan dalam memori kolektif masyarakat. Dalam sejarah Indonesia, label abadi yang terus dipugar dan melekat kuat tak pernah keluar dari dua hal: agama dan komunisme.

Dengan dua label itulah, sejarah Indonesia dinarasikan sesuai tafsir kekuasaan. Hingga akhirnya, label itu menjadi artefak mengakar kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Label dianggap penting oleh sebab suatu pengertian dapat dirujuk. Kasus Indonesia, label dipakai untuk kepentingan identifikasi. Dengan begitu suatu golongan dapat dengan mudah dikelompokkan berdasarkan kesamaan dan cirinya. Jika sudah demikian, suatu rencana akan lebih mudah diatur dan dikerjakan.

Tapi suatu identifikasi juga terkadang jadi sumber pelecehan. Dan dari sanalah datang korban. Sebab pelabelan dengan maksud membangun batas seringkali mempertautkan hal ihwal subtil: hasrat untuk benar.

Nietzsche, filsuf akhir abad 19 menyebut perkara hasrat yang timbul semacam itu sebenarnya adalah soal moral. Yakni kebenaran yang selalu jadi tujuan moral orang-orang.

Artinya, jika ada yang selalu menggebu-gebu menunjuk kebenaran melalui telunjuknya, maka itu berarti bukan soal kebenaran, tetapi justru posisi moralnya, kedudukannya.

Dari sanalah Nietzsche menyebut itu sebagai hasrat berkuasa. Yakni keinginan untuk mengambil posisi yang layak dan tak tergugat. Dari Nietzsche, soal-soal kebenaran tak selamanya jadi perkara yang murni demi kebenaran. Tapi di baliknya motif, ada maksud inheren dari wacana kekuasaan.
Ini berarti kebenaran atau hal ihwal yang berputar di sekitarnya adalah sesuatu yang politis. Apalagi menyangkut pengakuan. Dalam politik pengakuan itu penting, sebab dari situlah sumber kekuasaan. Tanpa pengakuan kekuasaan tak dapat stabil berdiri.

Barangkali karena label itu penting. Barangkali memang label itu harus ada. Pak Hamid resah, karena soal label itu penting. Apalagi ini soal agama, soal iman.

Agama memang bisa mendatangkan kasak-kusuk. Di mana kita pernah kisruh hanya soal suatu identitas perlu atau tidak dicantumkan. Di negeri ini, di saat awal pemerintahan Jokowi memimpin, masalah tentang pencantuman label agama dalam kartu identitas jadi perbincangan nasional. Soalnya suatu label identitas selama ini jadi sumber diskriminasi. Dengan suatu label, suatu golongan dapat bersuara lantang dan suatu golongan harus tiarap bersembunyi.

Di negeri ini, memang soal label jadi perkara sensitif. Label seperti sebelumnya dinyatakan adalah soal pengakuan. Tapi terkadang pengakuan atas posisi, jabatan, kekuasaan secara bersamaan malah sering menundukkan yang lain. Mungkin, dengan itulah negara ingin menghapus label identitas. Biar bagaimana pun suatu label tak selamanya mampu mewakili keanekaragaman di baliknya.

Ini berarti secara tidak langsung negara ingin menghapus cara berpikir dominatif. Dengan kata lain, keyakinan mayoritas  tidak mesti menundukkan keyakinan minoritas.

Namun ini sebenarnya kisah Pak Hamid yang risau mempersoalkan keyakinan putranya. Sebab dia tahu, suatu label tidak dengan mudah dapat berganti begitu saja. Agama putranya berarti pula agaama dirinya yang sudah lama menjadi label turun temurun. Walaupun akhirnya, rasa gundahnya tak bisa serta merta menghindar dari suatu kenyataan. Dengan kata lain yang namanya agama, tidak selamanya berkedudukan sebagai agama pemberian generasi sebelumnya.

Apa boleh buat raut muka Pak Hamid adalah jawabannya. Putranya telah memilih.

madah empatpuluhsembilan

Ketika akal menemukan dirinya bangkit, dunia tampak terang. Yang semula samar dan terselubung dibalik tirai mitos, jadi transparan. Dunia akhirnya terkuak dengan pengetahuan yang menjadi jembatan. Kant, di era renaisans menyebutnya pencerahan.

Tapi dengan semangat pencerahan, Kant juga membangun kritik terhadap nalar pencerahan yang superior. Kritisismenya akhirnya menyingkap cacat inheren dalam akal. Ternyata akal, yang begitu superior membuka terang, tak selamanya jadi bohlam yang sempurna. Akal yang selalu ingin menjelaskan lengkap fenomena, ternyata juga retak. Yang ditangkap hanyalah lapisan fenomena yang tampak dengan cahayanya yang redup. Akal ternyata tak mampu menangkap noumenadas ding an sich, inti kenyataan yang sesungguhnya.

Sebab itulah Kant tak percaya suatu yang metafisis seperti subtansi bendabenda. Akal tak bisa menjangkau itu. Akal justru adalah jembatan atas keyakinan Kant yang agonistik itu. Tiada yang metafisis dibalik daya akal. Yang murni dalam metafisika ternyata adalah sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibuktikan. Lewat etika transedental Kant, metafisika untuk kali kedua dibungkam.

Tapi itu Kant. Dengan agnotismenya. Dengan kecurigaan akal murninya.

Yang berbeda datang dari filsuf Iran kontemporer, Murthada Muthahhari. Dalam ceramahnya yang dibukukan dengan nama Mas'aleye Syenokh, Kant dikritik. Dan dalam  kritikannya itu, bukan saja Kant, seluruh pandangan yang skeptik terhadap kemungkinan epistemologi dikritiknya.

Muthahhari sebenarnya tidak tepat jika disebut filsuf per se. Sebab tidak seperti filsuf umumnya yang memang menyelisih dari otoritas teks agama. Itulah mengapa dalam ceramahnya itu ia memulai perbincangannya dengan soalsoal epistemologi dari al quran. Di sinilah beda itu tampak.

Dan beda itu sebenarnya memang adalah sesuatu yang disengaja Muthahhari. Soal epistemologinya adalah suatu rancang bangun yang ia susun untuk membuktikan rapuhnya pemikiran asing.

Dalam skema itu, "asing" adalah berarti produk pikiran yang mencerminkan semangat sekuler. Ini berarti maksud Muthahhari merupakan ungkapan yang merujuk pada tempat yang jauh di sana, yakni suatu masa di mana sekularisasi adalah semangat yang massal disambut suka cita. "Asing" adalah penanda suatu produk pikiran yang tumbuh saat yang sakral disingkirkan. Dengan kata lain, pemikiran yang tidak tumbuh dengan semangat yang mengafirmasi theos. Dengan Itulah, kritisisme Muthahhari berarti punya maksud tak ringan: membuktikan kokohnya pemikiran islam.

Dan dari cara pandang yang quranik, Muthahhari menyebut epistemologi yang dibincangkannya adalah epistemologi islam. Lalu dari ceramah mas'aleye syenokh, suatu pandangan khas islam dibentangkannya. Islam sebagai suatu cara pandang, akhirnya jadi suatu paradigma.

Sebenarnya, ceramah yang ia sampaikan di tahun 1970 itu adalah ceramah yang juga politis. Ceramah yang juga punya arti emansipasi. Sebab dalam ceramah tentang pengetahuan yang dibincang saat itu, punya maksud membangun kesadaran politis.

Karena itulah ceramahceramahnya dilarang. Rezim saat itu melihat Murthahhari sebagai ancaman politik, sebab di tahuntahun yang genting saat itu, suatu perkumpulan dianggap subversif. Saat itu, Iran memang mengalami gejolak politik, dan Murthada salah satu orang yang memicunya.

Di masamasa yang genting itu, sebenarnya Muthahhari tidak sendiri. Ceramahceramahnya adalah bagian dari skenario besar yang kala itu dirancang: revolusi. Dan dari sebagian yang lain, yang diisi oleh tokoh muda Iran, juga punya andil: Ali Syariati.

Lewat mereka berdualah di tahuntahun itu, di bawah suatu rejim yang menggeliat dengan kekuasaan yang tanpa batas, pembangunan paradigma revolusi disusun. Seluruhnya dibincang dengan tafsir politik agar punya makna yang kongkrit. Islam dengan lidah dua orang itu akhirnya jadi ajaran yang tidak sematamata metafisis, tetapi menjadi lebih runcing, menjadi lebih kritis.

10 Maret 2015

madah empatpuluhdelapan

Konon dari waktu senggang muncul kebudayaan. Konon dari inti kesunyian menerbitkan wahyu bagi para nabi. Juga konon, kerja, di zaman sekarang adalah penanda kemanusiaan yang ambruk.

Kerja sebenarnya adalah suatu yang luhur. Bila Hegel membilangkannya sebagai proses idealisasi ruh yang bergerak tanpa pamrih dalam tubuh, Marx, orang yang mencelanya itu, meyakininya sebagai modus eksistensi ril manusia. Hegel dan juga Marx melihat kerja sebagai bentuk to becoming: cara manusia berada.

Tapi cara to becoming, bagaimana kerja di zaman ini sudah jadi sesuatu yang ambruk. Orang dipaksa untuk bekerja. Itulah mengapa dari yang terpaksa menimbulkan alienasi Sebab kebebasan tercerabut persis seperti baut yang membuat suatu perangkat jadi hancur. Kebebasan yang jadi tanda keutuhan, dalam sistem kerja yang dipaksa itulah yang jadi soal.

Akhirnya manusia, dengan kerja yang terpaksa jadi dekaden. Manusia, justru bukan menjadi mahluk yang luhur, melainkan hancur dalam sistem yang di cela sejarah: kapitalisme. Di dalamnya, yang sebelumnya luhur jadi lebur dan menguap jadi kapital yang berlipat ganda. Manusia menjadi asing dalam kerja. Industri jadi sistem kukuh yang untung.

Joseph Pieper melihat kerja yang sudah tak.luhur itu seperti sistem agama. Menurutnya, di alam modern, terutama kaum urban yang didorong untuk dapat terus bekerja, kerja per se telah dikultuskan. "Kerja sudah seperti doa" sebutnya. Artinya, kerja begitu dimutlakkan dalam zaman yang didorong oleh sistem yang penuh daya saing.

Dan di dunia itu, kerja sudah identik dengan cara yang teknis. Akhirnya kerja jadi kehilangan keluhuran. Kerja menjadi kehilangan sakralitasnya sebagai pemenuhan eksistensi jiwa manusia. Sebab kerja berarti usaha yang rutin, otomatis dan mekanis, maka kerja kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang ditandai dengan cengkrama dan waktu kolektif.

Itulah mengapa krisis eksistensi terjadi. Kerja jadi penjara eksistensi. Kerja jadi rutin yang mencuri kesadaran manusia.

Kehilangan yang luhur akibat kerja yang rutin dan yang sesak di jantung krisis eksistensi, bagi Pieper bisa ditampik dengan cara menghidupkan waktu senggang.

Di Yunani purba, waktu senggang ditandai dengan suatu yang luhur: theorea. Theorea yang dari sana terma teori dilahirkan, sebenarnya adalah suatu sikap "melihat" dan "memandang" suatu yang tetap dalam cosmos. 

Cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.

Sebab itulah berpikir berarti mencari ketetapan yang sama dengan ketetapan alam. Aristoteles menyebutnya dengan kaidah kesesuaian partikular akal manusia dengan alam universitas cosmos. Singkatnya, berpikir selalu adalah usaha untuk menyeleraskan yang ada dalam nous dengan cosmos.

Habermas melihat aktivitas theorea itu dalam peradaban Yunani dengan sendirinya bermaksud praxis. 

Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam praktiknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.

Pieper menyebut itu sebagai keadaan yang kontemplatif. Di dalam keadaan itu manusia kembali dapat keluar dari penjara rutin untuk bersentuhan denga totalitas realitas. Di saat itulah, bagi Pieper terbentuk suatu relasi yang fundamental antara manusia dengan kenyataan yang melingkupinya. Di sinilah waktu yang total berarti pembebasan.

Waktu senggang yang dimerdekakan dengan nuansa yang kontemplatif, adalah cara Socrates mengajak masyarakat Athena dengan maksud menjaga nous agar terus hidup. Sebab ia tahu, nous yang mati adalah kesiasian yang mubasir. Waktu yang bernuansa liberatif dan diisi dengan pemenuhan edukatif inilah yang menjadi asal sekolah.

Sekolah awalnya suatu tindak kemerdekaan dengan memproduksi waktu menjadi produktif. Sekolah adalah peluang untuk mencandra cosmos dengan berpikir yang kontemplatif. Dari sini, sekolah adalah medan nalar untuk beroperasi dengan baik. Dan dari aktivitas inilah peradaban muncul.

Tapi seperti juga kerja yang merenggut kebebasan, sekolah di zaman sekarang bisa jadi adalah tempat kebebasan dibantai. Di sana, juga barangkali tempat kekuasaan bereksperimen dengan kebijakankebijakannya. Sekolah akhirnya laboratorium  tempat kepatuhan dicipta dan mangut jadi rutin. Akhirnya sekolah seperti kata suatu buku, adalah candu masyarakat.

Di sini bukan saja agama jadi candu, melainkan juga sekolah. Akhirnya di saat sekarang ada dua hal yang jadi ambruk; kerja dan sekolah. Kerja sebagai rutin yang mencuri kebebasan dan sekolah yang mencuri pendidikan.

Tapi, anehnya yang dicuri itu malah tak jadi soal genting. Barangkali memang ini karena sekolah kita dulu sudah dari awal mencuri pengetahuan kita. Jadi tak ada yang dianggap masalah apalagi hilang.

06 Maret 2015

madah empatpuluhempat

Dari yang ditayangkan, tentang Gus Dur, Lukman Hakim, mengungkapkan bahwa hal pertama yang diingatnya saat dilantik menjadi menteri agama adalah guyon presiden RI ke 4 yang sering "ngelantur" itu. Di Mata Najwa edisi 4 Maret, Lukman Hakim menceritakan kembali guyon Gus Dur. Dalam guyon itu, Gus Dur menyampaikan bahwa Departemen Agama sebenarnya sama halnya dengan pasar. Semua lengkap tersedia, banyak orang lalu lalang termasuk transaksi pertukaran jual beli, kecuali satu hal yang tidak ada. "Apa Gus?" Tanya Menteri Agama menyelidik. "Agama" Ungkap Gus Dur.

Bukankah itu juga sebenarnya Satir. Suatu yang paradoks dengan maksud menyinggung.

Dari guyon itu, ada maksud yang bisa kita tangkap: intitusi agama tak selamanya sudah agamamis, bahkan lenyap. Di guyon itu, humor menjadi visualisasi membangun imajinasi. Dan Gus Dur lewat guyonnya tentang "yang hilang di departemen agama adalah agama" telah membangun sebuah pesan imajinatif: ada yang mesti di perbaiki di intitusi keagamaan itu.

Dari sini kita patut menyebut Gus Dur sebagai tokoh besar. Tapi sesungguhnya ia besar bukan karena guyonnya. Di Mata Najwa, yang akbar dari Gus Dur di beri tajuk "Belajar Dari Gus Dur." Yang besar dari Gus Dur adalah sikap terbuka dan toleransinya. Di Mata Najwa edisi 4 Maret itu kita diajak belajar yang akbar dari Gus Dus itu.

Barangkali memang itulah yang kita butuhkan untuk membangun hidup yang selaras, yakni menyatakan sikap penghargaan atas yang berbeda. Gus Dur besar sebab ia bisa melihat hal yang abai dari sikap kita yang kurang sreg jika tak sama. Toleransi sebagai sebuah sikap, bukanlah membiarkan sesuatu bisa terjadi dengan melepaskan keikutsertaan, melainkan sikap yang menerima dengan ikut terlibat di dalam lingkungan yang memang sudah berbeda.

Dengan kata lain suatu sikap koeksistensi. Sebab itulah Gus Dur dijuluki bapak pluralisme.
Pluralisme memang kata dengan konsep yang justru juga perlu dijaga. Di negeri ini, pluralisme adalah konsep yang galibnya jadi haram untuk dikonsumsi atau apalagi dijadikan akidah. Bagi sebahagian orang, konsep itu sama halnya dengan pengakuan atas kebenaran yang jamak, sebab kebenaran semula hanya satu. Dan sebab itulah mesti dijaga agar tak mendua.

Di sini ada yang sepertinya luput: pluralisme sebenarnya adalah terma yang mengakui kejamakan, bukan sekaligus adanya penyamaan kebenaran. Yakni realitas yang plural dan tak mungkin sama, adalah keadaan yang sui generis. Sebab justru pengakuan terhadap perbedaan, berarti di saat yang sama memang ada yang tak mungkin dapat disepadankan atau disamakan. Di saat inilah pluralisme sungguh berbeda dengan sinkretisme.

Sebabnyalah banyak yang mungkin salah menduga, bahwa pluralisme sebenaranya bukanlah terma yang punya misi penyatuan memaknai kebenaran. Justru, pluralisme jika disebut sebagai misi, sebenarnya adalah cara melihat kebenaran, entah itu agama, ras, etnis maupun budaya. Pluralisme lebih pantas jika disebut pengakuan sosiologis dibandingkan akidah sebagai kosa kata penghubung perbedaan.

Rasarasanya konsep inilah yang sebenarnya penting dibangun. Sebab di luar sana, betapa sesaknya pandanganpandangan tertentu yang memilin perbedaan menjadi satu jenis dan bentuk. Mungkin hidup dengan cara yang teologik mesti ditinjau kembali di era yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Karena dunia dengan kemajuannya memang banyak berubah, dan di saat demikianlah bagaimana cara pandang terhadap sesuatu harus terus direnovasi dan diperbaharui.

Dalam hal ini Soroush pemikir Iran memiliki ca ra pandang tentang kebenaran: dari banyaknya kebenarankebenaran yang terserak, mustahil mereka bertentangan. Dan cara Gus Dur mengatasi pertentangan yang kerap dihadapi adalah melalui guyon.

Guyon biar bagaimanapun tak selalu berarti tanpa keseriusan. Juga tak selamanya tanpa maksud yang lugas.

Gus Dur pasti punya banyak cara menyampaikan maksud pembicaraan dengan cara normal dan bijak. Sebagai seorang pemikir, akalnya bisa runut membangun pembicaraan yang pantas. Tapi ia memilih humor. Ia memilih guyon. Bentuk komunikasi yang sebenarnya adalah model sederhana dalam membuka apa yang sudah terlanjur serius.

Sebab itulah dengan guyon, di negeri sendiri, yang seriusserius tapi tak diurus mesti digetarkan. Barangkali ini sikap akbar Gus Dur yang lain. Cara bersikap di antara keadaan yang purapura serius tapi kurus dari kebenaran. Dan Gus Dur tahu cara membongkarnya; humor.

05 Maret 2015

madah empatpuluhtiga

"Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak memerlukan itu, karena dia lah yang menunjukkan apa yang diakui benar dan harus berlaku." Paul Natorp

1970. Suatu malam di Tehran Iran, Husayniah Irsyad. Dua malam berturutturut, tempat aktifitas  intelektual keagamaan yang didirikan Khomeini itu akan membincang tema yang ganjil. Anakanak muda Iran saat itu sepertinya tak bakal menyangka, Ali Syariati, mentor yang ingin mereka dengarkan ceramahnya akan membincang tema unik: agama versus "agama."

Di kuliah itu, Ali Syariati mengajukan tesis di balik sejarah, sesungguhnya agama selama ini bukan berjuang melawan keyakinan nontheis, yakni pemahaman terhadap noneksistensinya Tuhan. Agama dari waktu ke waktu selalu melawan "agama" itu sendiri. Dengan kata lain, tokoh revolusi Iran itu ingin mengatakan: sepanjang sejarah, agama monotheis, yakni keyakinan yang percaya satu tuhan, selalu berhadaphadapan dengan agama yang percaya banyak tuhan.

Dalam ceramahnya itu , Ali Syariati membuktikan bahwa sepanjang sejarah perkembangan manusia, kehidupan masyarakat selalu menyertakan pemahaman tentang Tuhan yang tak mungkin kosong. Sejarah mula manusia, dari kelompok yang sederhana sampai peradaban yang kompleks, selalu diisi oleh keyakinankeyakinan religius dan spiritual. 

Dengan kata lain, atheisme adalah konsep yang tak pernah ditemukan dalam sejarah. Sebab sepanjang sejarah peradaban, atheisme sebagai keyakinan kolektif tak pernah ada dalam kehidupan purba manusia.

Dengan maksud itu artinya Ali Syariati ingin mengatakan agama sebenarnya adalah nilai esensial yang inheren dalam diri manusia. Di mana, keyakinan terhadap satu kekuatan yang mengatasi seluruh alam adalah keniscayaan yang tak bisa ditampik kesadaran manusia. Di titik itulah, apa yang disebut agama multitheis, dari Ali Syariati adalah agama yang menyimpang dari nilainilai esensialitas manusia.

Tapi adakah ia seorang penganjur fundamentalisme di sini? Yakni orang yang membangun iman tunggal untuk menerjang agamaagama yang lain? Sebab dalam tesisnya itu, bisa saja penganut tuhan yang mono, menangkap maksud sentimentalisme keyakinan monotheis Ali Syariati terhadap keyakinankeyakinan di luar lingkup imannya.

Atau dalam bahasanya itu, agama versus  agama sebenarnya adalah maksud yang ia tujukan kepada penganut monotheisme itu sendiri. Dengan katakatanya yang konon disenangi anakanak muda di masanya itu, agama dalam tanda kutip, bukanlah merujuk pada agama yang lain, melainkan agama monotheis itu sendiri.

Di sinilah Ali Syariati tak sekedar penganjur fanatisme, tetapi fanatisme yang dibangunnya adalah fanatisme yang kritis terhadap iman yang selalu dipugar dan dikontruksi terus menerus tanpa henti. Iman yang tiada mengenal batas pertumbuhan dan titik final. Iman yang virtualitasnya terus menjadi. Yakni iman dengan jalan suluk yang menghindari katup penutup sebagai tanda keterpenuhan. "Tiada akhir dalam tuhan" sebutnya jika tuhan adalah tujuan segala sesuatu.

Sebab itulah agama dalam tanda kutip ia artikan sebagai agama yang beku dan kaku dalam sejarah perkembangan manusia. Agama yang kaku itu, menariknya adalah keyakinan yang selalu melegitimasi keadaan status quo. Agama yang beku disebutnya agama yang kufr, yakni agama yang mendehumanisasi manusia dengan legitimasi teksteks untuk membiarkan konteks yang statis dan jumud.

Sebab itulah ia memiliki arti yang lain tentang kafir. Kufr, disebutkannya dalam tradisi keagamaan Islam bukanlah berarti arti dari nonagama, sebab sejak semula tak ada yang berarti nonagama. Kufr yang berarti menutup atau menanam adalah keadaan yang menutup diri dari kebenaran. Di dalam arti ini, kufr berarti tertutupnya pintupintu kebenaran dari iman. "Di dalam hati manusia" ungkapnya,  "kebenaran itu ada, tetapi karena alasanalasan tertentu, kebenaran tertutup oleh tirai kebodohan."

Kufr yang juga dalam bentuk jamak kafir, memiliki arti yang tidak sematamata lawan dari tauhid. Sebab dari yang dibilangkan Asghar Ali Engineer,  terma kafir dalam teks primer Islam, pertama kali diturunkan berkenaan dengan orangorang yang lalim dan zalim dalam memperlakukan manusia.  Kaitannya dengan kekuasaan, makna tersirat kafir sesungguhnya menghardik orangorang beriman yang menggunakan kekuasaannya untuk menipu dan berbuat semenamena terhadap bawahannya.

Yang kafir inilah disebut Ali Syariati sebagai agama dalam sejarah yang ambivalen terhadap agama yang sesungguhnya. Dan agama yang sesungguhnya bagi Syariati adalah agama yang dikatakannya revolusioner. Dalam ceramahnya itu,  agama yang revolusioner disebutnya sebagai agama yang memiliki "kemampuan untuk mengkritik kehidupan dalam seluruh aspek materil, spiritual dan sosialnya." Di sini, kemampuan itu punya maksud yang persis disebutnya seperti nabinabi: memberikan misi dan menghancurkan tatanan status quo.

Nampaknya agama yang revolusioner sudah pasti bukan agama yang disebut Marx sebagai candu masyarakat. Justru, agama yang melenakan semacam candulah yang dirasarasai harus dienyahkan. Agama yang demikianlah agama dalam tanda kutip, agama legitimasi, agama yang kufur.

Agama yang revolusioner saya rasa adalah agama yang punya keyakinan untuk membangun masyarakat yang bisa hidup adil dan sejahtera. Agama yang melihat kenyataan yang timpang harus tumbang dari perlakuan korup institusinya. Dan sudah jelas bukan agama yang kini tampak besar akibat layar kaca dengan atributatribut formalnya. Sebab agama yang kufur kata Syariati punya dua bentuk: tampak dan sembunyisembunyi.

Akhirnya yang sembunyisembunyi inilah yang sebenarnya berbahaya. Sebab agama tanda kutip juga disebut Syariati sebagai agama yang menyediakan tuhantuhan yang lain. Di dalam teologi dan sejarah, tuhan yang banyak sudah gamblang diungkap nabinabi sebagai berhalaberhala yang dipuja. Sementara yang tersembunyi, juga banyak tuhantuhan yang lain, yang diamdiam justru kita puji. Di mana di luar kita tundukkan, tetapi di dalam betapa akbarnya kita pertuhankan.

Syahdan, sesungguhnya bukan juga dalam sejarah agama yang monotheis selalu melawan agama yang punya banyak tuhan itu. Tetapi juga mungkin kita.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...