Tampilkan postingan dengan label Albert Camus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Albert Camus. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2017

Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Albert Camus, et.al.

"Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya." Oktavio Paz 
"Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan." Gabriel Garcia Marques
Saya harus segera menuliskan ini: menulis itu pekerjaan yang begitu melelahkan, bahkan menyulitkan pikiran. Perasaan ini seketika saja muncul dalam benak saya ketika membaca buku Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, buku yang diterbitkan Oktopus dari Yogyakarta. Menulis bukan hal gampang seperti yang pernah dikatakan Pramoedya bahwa jika ingin menulis ya menulis saja. Kalimat ini memang terasa satire keluar dari orang sekaliber Pram. Apalagi sangat gampang bagi Pram mengucapkannya dengan beragam pengalaman semasa hidupnya jika dibandingkan dengan waktu sekarang. Menulis memang di satu sisi bukan bakat yang secara natural  dimiliki oleh kita seperti saat kita pergi di hutan dan kemudian mampu beradaptasi. Atau seperti anak lembu yang seketika mampu berjalan sedetik ketika ia keluar dari perut ibunya. Menulis, ketika membaca beberapa pengalaman dari penulis-penulis dunia yang disampaikan buku ini nampak sebagai pekerjaan orang-orang yang mau dan rela menghabiskan banyak waktunya untuk menghargai gagasan-gagasannya. Sebenarnya pertanyaan pentingnya apa yang indah dari menulis, ketika di waktu yang bersamaan seseorang bakal menjalani waktu yang panjang, pinggang yang encok, mata yang terpapar udara siang malam, debu-debu yang bertebangan, dan kehilangan banyak energi berbulan-bulan?  Apalagi apa yang bisa didapatkan dari pengalaman seseorang yang sebenarnya tak bisa dipertukarkan begitu saja. Pengalaman seseorang adalah peristiwa yang unik dan berbeda. Dia tak bisa dibagi untuk siapapun. Yang bisa dilakukan hanya menyampaikan cerita atas pengalaman itu sendiri. Sebab pengalaman hanya mampu terjadi selama sekali. Mungkin karena itu tidak semua penulis dunia mau menceritakan pengalamannya ketika menulis. Bukan karena itu adalah peristiwa yang tak memiliki sisi sosial, melainkan menurut saya pengalaman setiap penulis yang dikenal dunia memiliki sisi lain yang menyakitkan. Sisi yang mengundang memori yang sudah lama dipendam. Akibatnya, kita hanya mampu menebak-nebak kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hati para penulis-penulis besar selain daripada keinginan mereka untuk bersuara? Barangkali yang indah dari pengalaman menulis penulis dunia adalah –sudah tentu- adalah kesempatan yang kita miliki untuk membaca karya-karya mereka. Banyak ragam kemungkinan yang mungkin akan terjadi dari kepala sang penulis dengan karya yang sudah mereka lahirkan. Berawal dari gagasan sederhana yang mereka miliki, sudah pasti bakal banyak godaan dan hambatan yang bakal mengganggu proses kreatif sampai lahir karya mereka –coba kita bayangkan bagaimana seorang penulis yang harus diusir dari negaranya hanya karena aktifitas menulisnya dan mendapatkan pelbagai jenis siksa psikologis dan sosial. Selama jarak itu masih ada, maka penghargaan terhadap karya-karya mereka patut kita hidupkan dengan cara membacanya, mendiskusikannya, mencatatnya, atau kalau perlu mengkritiknya. Dengan cara itu maka makna kelestarian dari suatu karya tulis menjadi bukan saja tanggung jawab seorang penulis, melainkan juga menjadi tugas bersama para pembacanya. Menulis mungkin saja adalah bagian yang paling intim di hati setiap penulis. Sebagai suatu keadaan spritual. Paulo Coelho bahkan menyebutkan dirinya sempat terperangkap di dalam tulisannya sendiri. The Alchemist akhirnya menyelesaikan bagian akhirnya dengan menuntun penulisnya larut di dalamnya. Kata Coelho, buku itu yang menyelesaikan sendiri bagian akhirnya. Pengalaman semacam ini yang tidak mungkin dibagi kepada setiap orang. Pengalaman yang hanya dimiliki satu orang di jagad raya ini. “Pengalaman manusia yang esensial”, kata Jorge Luis Borges, yakni pengalaman penulis yang memerlukan kesendirian, dan dia dapat mengambil tempat di dalamnya. Itulah sebabnya setiap penyair dan filsuf misalnya, kata Foucault, “tidak terbentuk dengan cara yang sama”. Tapi kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling berharga. Toh jika pengalaman dapat juga dirasakan bagi dua orang yang berbeda dan tidak saling mengenal, cara Betrand Russell mungkin patut dicoba: meniru gaya menulis penulis yang disukai. Walaupun dalam waktu yang lama dia menyebutkan si penulis yang memfoto copy gaya penulis idolanya akan berhadapan dengan dilema ontensitas dirinya. Di titik inilah maka seseorang harus siap mengambil sikap untuk mencari gayanya sendiri. Di titik ini pulalah, toh jika menulis itu indah, maka tidak ada makna apapun yang sama tentang kata indah itu sendiri. Kemungkinan besar, itu semua akibat setiap penulis lahir dari kesendiriannya masing-masing.

12 Oktober 2013

Antara Jurnalisme dan Filsafat

Konon sikap jurnalis dan filsuf cenderung berbeda terutama memperlakukan kebenaran.

Di tangan  jurnalis kebenaran menjadi pesan informatif. Bagi filsuf kebenaran diberlakukan lebih reflektif. Jurnalis sigap terhadap kenyataan, sementara seorang filsuf justru tenang di hadapan kenyataan.

Seorang jurnalis, menjadikan dunia faktual sebagai titik tolak pena dan kertasnya. Sementara bagi seorang filsuf, dunia faktual tidak lebih penting dibanding dunia abstrak-teoritik sebagai dunia kerjanya.

Dengan kata lain, kesigapan wartawan menjadikan kenyataan luar (fakta) sebagai sumber berita. Sedangkan dunia dalam (makna) merupakan medan “kabar” bagi pikiran reflektif seorang filsuf.

Tetapi apa sesungguhnya hubungan di antara keduanya? Apa sebenarnya sumbangsih keduanya terhadap kehidupan manusia di saat seperti ini?

Sikap filsuf dan seorang jurnalis boleh jadi berbeda menghadapi kebenaran. Namun ada kenyataan yang tidak bisa disanksikan: keduanya didorong hasrat yang sama untuk mengungkap kebenaran.

Dengan kata lain, keduanya sama-sama bekerja dalam perkara yang sama. Seorang filsuf sudah tentu mendedah dan mendaur kebenaran, maka seorang jurnalis, seperti kata Bill Kovach, seorang veteran jurnalis Amerika Serikat, bertugas melayani kepentingan publik dengan melaporkan kebenaran.

Imbas tuntutan yang berbeda, sangat sedikit nama-nama, taruhlah seorang filsuf atau sebaliknya, seorang jurnalis, yang bergerak di antara irisan dunia filsafat dan jurnalisme.

Filsafat kadang menilai realitas sebagai medan kompleks di balik kenyataan yang sederhana. Atau sebaliknya, di balik kenyataan sederhana tersembunyi fenomena kompleks.

Sedangkan di mata seorang  jurnalis, entah berupa kenyataan sederhana atau kompleks, jika itu adalah kebenaran, keduanya mau tidak mau mesti dikabarkan.

Barangkali hanya Jean Paul Sartre atau Albert Camus, yang berani mengabdi di dalam dunia yang berbeda itu.

Keduanya di masa pasca Perang Dunia ke-2, kerap menulis di media massa Perancis. Sartre maupun Camus memperagakan praktik jurnalisme sebagai medium manyatakan gagasan filosofisnya. Atau, Hannah Arendt melaporkan hasil reportasenya menyangkut kekejaman Nazi melalui wawancaranya terhadap Adolf Eichmann, sekitar 1960-an. Selebihnya tak banyak nama filsuf yang mau melibatkan diri pada kegiatan jurnalisme, atau sebaliknya.

Tetapi apakah keduanya tak bisa didamaikan di mana keduanya justru bisa saling memberikan arti satu sama lain? Mengingat praktik jurnalisme sudah dicontohkan Plato dari 2500 tahun yang lalu?
Karangan Platon, Dialog¸ sadar tidak sadar adalah hasil reportase. Ia merekam detik-detik terakhir Socrates menjelang kematian. Dari reportase Platon itu, yang mewakili suara Socrates, dunia bisa paham tentang risiko kebenaran: kematian.

Selain kematian, apa sesungguhnya risiko jurnalisme dan filsafat yang lain? Apa maksud kejujuran bagi keduanya. Apa pesan bisa kita peroleh dari kematian seorang Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, misalnya, setelah nyawanya direnggut orang-orang tidak dikenal? Apakah kita harus bersedih hati dari kematian seorang jurnalis ataukah seorang filsuf? Ketika kebenaran pada akhirnya tak pernah sampai kepada khalayak?




JURNALISME dunia yang memperjuangkan kebenaran adalah dunia yang mengedepankan akurasi atas fakta-fakta temuan. Sebuah informasi harus bernilai objektif seperti terjadi di lapangan. Demikan karena jurnalisme mengharamkan interest pribadi. Opini adalah barang haram yang merusak nilai sebuah informasi. Maka dari itu seorang jurnalis harus mengerti tentang batas antara kepentingan pribadi dengan objektifitas suatu temuan lapangan.

Sementara filsafat tidak berhenti sampai batas dunia faktual kegiatan jurnalistik. Sang filsuf tidak ingin begitu saja menerima kenyataan apa adanya seperti di mata seorang jurnalis. Pekerjaan filsuf justru masuk di balik penampakan fenomena.

Artinya, seorang filsuf akan menimbang fenomena dari sudut pandang tertentu. Ia bekerja berdasarkan kategori-kategori logis yang bisa saja berbeda dari fenomena di hadapannya. Dari pengertian inilah barangkali Marx berangkat: tugas seorang filsuf bukan sekedar menangkap kenyataan, melainkan turut mengubahnya.




AWALNYA melalui tulisan ini saya ingin menulis sesuatu berkaitan dengan media massa. Tentang posisi media massa di keberbagaian kepentingan politik dan pasar. Namun, apalah dikata, terkadang sulit mengapresiasi ide-ide ke dalam lembaran bahasa yang layak. Apalagi, belakangan muncul kekhawatiran terhadap kekuatan kata. Kata-kata di era deru deras revolusi komunikasi, malah acapkali sulit dipertanggungjawabkan.

Maka saya akhiri saja tulisan ini walaupun nawaitu tulisan ini belum dapat terealisasi.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...