Archive for Maret 2019

Mengapa Aku Begitu Pandai: Solilokui Seorang Nietzsche

17 Maret 2019 Comments Off

Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai
Penulis: Friedrich Nietzsche
Penerjemah: Noor Cholis
Penerbit: Circa
Edisi: Pertama,  Januari 2019
Tebal: xiv+124 halaman
ISBN: 978-602-52645-3-5






Belum lama ini aku berdiri di jembatan itu
di malam berwarna cokelat.
Dari kejauhan terdengar sebuah lagu:
Setetes emas, ia mengembang
Memenuhi permukaan yang bergetar.
Gondola, cahaya, musik—
mabuk ia berenang ke kemurungan …
jiwaku, instrumen berdawai,
dijamah tangan tak kasatmata
menyanyi untuk dirinya sendiri menjawab lagu gondola,
dan bergetar karena kebahagiaan berkelap-kelip.

—Adakah yang mendengarkan?  

:dalam Ecce Homo


Kepandaian Nietzsche dikatakan Setyo Wibowo, seorang pakar Nitzsche, bukanlah hal mudah. Ia menyebut kepandaian Nietzsche berkorelasi dengan rasa kasihannya kepada orang-orang.

Nietzsche khawatir jika ada orang mengetahui kepandaiannya berarti betapa sengsaranya orang itu. Orang yang memahami pemikiran Nietzche berarti selevel dengan dirinya. Berarti mengalami betapa getirnya pengalaman hidup Nietzsche yang berat dan kelam.

Bagi Nietzsche pemikirannya bukan untuk diketahui. Biarlah ia sendiri yang paham tentang gagasannya, dirinya sendiri. Dengan begitu cukup ia yang menanggung sengsara.

Tapi, jika ada orang yang berani masuk lebih jauh ke dalam pemikirannya, dan berusaha memahami sepenuhnya, maka betapa kasihannya orang itu. Kata Nietzsche, ia –orang itu—sama beratnya dengan dirinya. Sama pedihnya dengan Nietzsche.

Bukankah setiap pemikiran dituliskan demi diketahui khalayak? Bukankah setiap gagasan si pemikir memiliki maksud mencerahkan pembacanya? Lalu dalam kasus Nietzsche untuk apa pikiran-pikirannya ia tulis? Bukankah setidak-tidaknya itu berarti ada sesuatu yang ia ingin sampaikan? Ada pesan yang ingin ia ungkapkan?

Paradoks memang.

Lama saya mengetahui penjelasan Setyo Wibowo di atas. Nietzsche bukanlah filsuf biasa. Ia filsuf cum sastrawan. Ia pemikir dan perasa sekaligus. Dari kacamata ini, saya pelan-pelan mengerti, membaca pemikiran Nietszche berarti sekaligus memahami dirinya. Ikut –jika memungkinkan—setidaknya sebagian perjalanan hidupnya. Itu berarti ikut menjiwai apa-apa yang ia alami selama hidupnya.

Itulah sebabnya, pendekatan untuk memahami Nietzsche agak berbeda dengan pemikir lainnya. Jika pemikir lainnya cukup kita mengetahui aspek biografis dengan cara membacanya, dengan Nietzche tidak cukup hanya itu. Kita –setidaknya bagi saya—dituntut untuk ikut menyelami dunia pengalaman-perasaan dirinya. Sejenis praktik hermeunetik.

Dari situlah kita akhirnya berisiko seperti dikatakan Setyo Wibowo di atas. Harus rela merasakan bagaimana beratnya pengalaman hidup Nietzsche. Pemikiran yang mendarahdaging dengan aspek-aspek perasaannya, atau perasaan yang beruratakar dengan pikirannya. Mengerti pemikirannya juga mesti merasakan pergulatan batinnya.

Menurut saya dengan cara itulah kita bisa menyerap inti sari gagasan Nietzsche yang rumit dan berlapis-lapis itu.

Nietzsche adalah filsuf dengan kehidupan yang terputus-putus. Melalui buku Gaya Filsafat Nietzsche, Romo Setyo Wibowo menyebutnya keterputusan-keterputusan relasi. Pengalaman hidup ini ditandai dengan cara hidup Nietzsche yang nomaden. Ia hidup selayaknya seorang pengembara, dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah bermukim lama.

Kata Romo Setyo dalam buku yang sama, keterputusan yang paling fundamental dialami Nietzche adalah perpisahannya dengan iman kristiani. Keterputusan ini kontan membuatnya terpisah dari tradisi kristiani yang dirawat oleh keluarga besarnya.

Kedua, dia putus dengan tempatnya mengabdikan diri sebagai dosen; Universitas. Sebagai seorang filolog ia ditolak lantaran terlalu filosofis dalam menerapkan pendekatan filologis. Terputusnya dari universitas sekaligus menjauhkannya dari komunitas intelektual pada waktu itu.

Ketiga, lantaran kesehatannya yang memburuk, membuat Nistzsche terputus dari kehidupan normal. Ia mesti menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari orang sehat. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya menghirup udara, ia mesti mencari tempat yang cocok bagi dirinya.

Keempat, konsekuensi dari cara hidupnya yang nomaden, secara afeksi membuatnya jauh dari lingkungan pergaulan. Pola hidup yang nomaden membuat ia tak mampu memiliki relasi pertemanan yang bertahan lama. Lebih dari itu, bahkan untuk membina keluarga pun sulit karena cara hidup yang demikian tak menentu.

Berkat cara hidupnya ini Nietzsche menjadi filsuf soliter. Ia menjadi pribadi unik yang ditempa kesendirian. Bahkan sebelum masuk masa kegilaannya, ia sudah didera penyakit yang pelan-pelan menggerogoti tubuhnya dari dalam.

Dahsyatnya, dan inilah yang membuatnya sebagai pribadi unggul. Dalam keadaan sakit itulah ia justru produktif secara pemikiran dan intuitif. Banyak melahirkan karya-karya monumental melalui penghayatannya secara kontemplatif.

Mengapa Aku Begitu Pandai adalah sebuah solikokui yang demikian panjang dari Nietzsche untuk Nietzsche. Dia bertanya kemudian dijawabnya dengan cara sendiri dan dari pikirannya yang demikian origin. Ibarat cermin, Nietzsche dengan cara ini sedang menguji seberapa mungkinkah ia mampu menemukan ”jawaban-jawaban” dari dirinya sendiri.

”Bagaimana mencukupi kebutuhan makan dirimu sendiri untuk mencapai puncak kekuatanmu, mencapai virtŭ dalam gaya Renaisans, kebajikan bebas moralin?” (hal.22)

Virtu adalah keutamaan yang diandaikan Nietzsche sebagai ciri khas manusia. Namun, walaupun begitu ia mesti ditemukan di dalam pencarian yang kadang demikian sulit. Kadang manusia terjebak ke dalam pragmatisme dengan mengidefixkan pakem-pakem nilai agar kehidupan menjadi lebih praktis dan mudah.

Ideologi, agama, moral, filsafat, sains,  politik, dan pakem-pakem semacamnya adalah idefix yang ditolak Nietzsche karena terlalu mengkerdilkan kehidupan. Virtu harusnya selaras dengan esensi kehidupan yang sebenarnya chaos. Bukan berhenti di dalam nilai-nilai yang diidealisasi dan melihat dunia dalam keadaan harmoni dan tetap.

Dunia adalah suatu kemenjadian tanpa ujung. Manusia harus menggunakan virtunya agar dapat ikut menjadi. Berkata “ya” kepada dunia yang terus bergerak.

Dengan kata lain, di dalam dunia yang bergerak, “kedisinian” adalah satu-satunya kenyataan yang menopang diri. Esok dan masa lalu hanyalah idealisasi yang tidak memiliki dasar eksistensi sama sekali. Manusia mesti mencitai nasibnya sendiri. Di sini dan sekarang.

”Rumusanku bagi kebesaran dalam seseorang manusia adalah amor fati: bahwa orang tidak menginginkan menjadi selain seperti saat ini, bukan di masa depan, bukan di masa lalu, bukan dalam seluruh kekekalan. Bukan hanya menanggung apa yang terjadi karena keharusan, apalagi membuyarkannya—semua idealisme adalah ketidakbenaran di hadapan keharusan—melainkan untuk mencintainya…”(hal.48)

Akhir kata, membaca teks-teks Nietzsche ibarat berhadapan dengan sebuah labirin. Banyak kelolakan dan jalan buntu yang sulit ditaklukkan. Itulah sebabnya, dengan nada khas selfishnya, ia mengatakan “Mengapa Aku Begitu Pandai?”


Kampanye dan Menjadi Pemilih Otentik

15 Maret 2019 Comments Off

Pemilu kiwari sudah jauh berbeda dari model pemilu tiga dekade lalu. Terutama di masa-masa kampanye. Sekarang hampir semua cara dapat dilakukan sejauh itu tidak merugikan banyak pihak dan melanggar aturan. Mulai dari bagi-bagi kalender hingga sembako, mulai dari kartu nama sampai baliho, bahkan ada yang sampai membuat buku demi menaikkan popularitas. Alam demokrasi yang demikian terbuka dan semangat pemilih yang ingin berlaku demokratis ikut menunjang semua itu dapat terlaksana.

Berbeda di masa Orba yang mengontrol saluran media, abad sekarang media informasi menjadi salah satu saluran untuk memperkenalkan visi dan misi serta program para calon. Banyak manfaat menggunakan media sosial sebagai saluran kampanye. Salah satunya adalah biaya yang lebih sedikit dari cara konvensional.

Tidak bisa dimungkiri, cara kampanye memobilisasi masyarakat dalam suatu lapangan sudah ketinggalan zaman dari pada daya jangkau media sosial. Pemasangan baliho-baliho di sudut-sudut jalan, selain mengganggu keindahan kota, juga malah sering mencemari lingkungan menggunakan pohon-pohon sebagai tempatnya. Dari sisi efektifitas, kampanye gaya lama ini kalah praktis dari kehadiran media sosial.

Keunggulan media sosial, selain bisa berinteraksi langsung, dengan sendirinya dapat memangkas jarak geografis dan psikologis calon pemilih. Dibanding medium lain, melalui media sosial, calon pemilih dapat sebelumnya bertukar informasi dengan para elit sebelum menjatuhkan pilihannya di hari pemilihan kelak.

Bisa dibilang masa demokrasi sudah memasuki fase demokrasi digital. Perubahan sosial di bidang teknologi informasi menjadi sebabnya. Tapi, tidak serta merta berdampak positif. Kampanye melalui media sosial juga dapat memberikan efek buruk bagi calon pemilih. Salah satunya adalah jebakan fake news (hoaks) dan pencitraan berlebihan (simulakra).

Sisi negatif

Kampanye adalah kegiatan mempromosikan ide, program, dan rencana kerja dalam konteks politik. Sejatinya kampanye tidak jauh berbeda dari praktik periklanan. Artinya, kampanye ibarat iklan produk yang mesti dinyatakan gamblang dan terbuka agar laku dikonsumsi. Promosi yang baik adalah iklan yang menerangkan keunggulan dan kekurangan produknya. Biar bagaimana pun, konsumen adalah raja. Begitu pendakuan ahli marketing.

Namun, kadang kalanya kampanye menjadi iklan yang buruk. Tidak fokus kepada produk sendiri sambil mengabarkan kejelekan produk lain. Ini adalah cara licik dengan mempromosikan kelemahan produk lain. Dalam politik ini disebut black campaign. Berbeda dari negatif campaign, black campaign bukan mengiklankan sisi kritis dari pihak lawan, melainkan menjual informasi palsu kepada khalayak.

Malangnya, media sosial adalah lahan subur berkembang biaknya black campaign. Black campaign dalam hal ini setara sebagai hoaks. Bahkan ia adalah hoaks itu sendiri.

Oleh karena itu kita mesti bijak menggunakan media sosial, mengingat betapa maraknya kegiatan black campaign di dalamnya. Bahkan, akibat sifatnya yang terbuka dan bebas, kegiatan kampanye bisa langsung dilakukan oleh pengikut-pengikut calon tertentu tanpa melibatkan tokoh politik bersangkutan. Artinya, kegiatan kampanye, lantaran setiap orang bebas menggunakan media sosial, lebih leluasa menjadi agen kampanye elit tertentu.

Itulah sebabnya, banyak ditemukan pengguna medsos menjadi kaki-kaki bebas elit tertentu yang suka rela memenuhi linimasa dunia maya. Tidak jarang grup-grup WA juga dipenuhi kampanye gratisan ini.

Patut kita waspadai jika saluran-saluran komunikasi semacam di atas dipenuhi black campaign dari pada berbagi informasi bermanfaat. Sulitnya mengontrol daya penyebaran informasi melalui media sosial, adalah salah satu tantangan bagi kita yang mengharapkan kegiatan berdemokrasi bersih dan mencerahkan.

Otentisitas

Salah satu masalah menjelang hari pemilihan nanti adalah masalah otentisitas pemilih. Yang dimaksud pemilih otentik adalah warga negara yang memilih atas dasar pilihan pribadi dan sudah dipertimbangkan baik buruknya secara matang-matang. Dengan kata lain pemilih otentik adalah orang yang sadar betul pilihannya adalah hasil ijtimak pribadinya. Bukan lahir dari paksaan atau iming-iming materi dari pihak mana pun.

Gempuran hoaks adalah kerikil pengganggu bagi pemilih yang mengedepankan otentisitasnya. Bukan tidak mungkin, massif dan diam-diamnya black campaign atau hoaks menyusup di saluran media sosial akan memengaruhi pendirian calon pemilih. Di waktu-waktu tertentu hoaks dapat membelokkan fakta, black campaign dapat menipu calon pemilih.

Pesta demokrasi bukan saja merayakan kehadiran pemimpin baru, namun juga merayakan kemerdekaan pemilih sebagai warga negara yang mandiri menentukan pilihannya. Akan sangat disayangkan jika pemilih kelak memilih calon pemimpinnya hanya karena alasan-alasan klise berupa kedekatan emosional, daerah, atau bahkan agama. Ketiga-tiganya memang penting, tapi di alam demokrasi, setiap pilihan mesti ditunjang dengan pertimbangan informasi yang verifikatif dan terjamin. Tanpa itu, setiap informasi yang diterima dari calon pemimpin di masa kampanye hanya akan menjadi pencitraan dan hoaks belaka.


--

Telah terbit di harian Radar Makassar, Jumat, 15 Maret 2019

Kekerasan Seksual dalam Bayang-Bayang Era 4.0: Refleksi melalui Perempuan di Titik Nol Nawal el Saadawi

Comments Off


Judul : Perempuan Di Titik Nol

Penulis: Nawal El Saadawi

Penerjemah: Amir Sutaarga

Penerbit:Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Edisi: Pertama,  Juni 2010

Tebal: xiv+156 halaman

ISBN: 978-979-461-040-4





PEREMPUAN di Titik Nol adalah pernyataan yang muram sekaligus melecehkan. Dia menunjuk kepada pengertian nihilnya nilai perempuan di mata dunia patriarki, atau malah apa pun dilakukannya tidak mendapatkan pengakuan layak. Setiap pencapaian kaum perempuan tidak membuatnya mendapatkan bobot berisi. Apa pun itu ia diwakilkan dari angka nol. Secara matematis berapa pun nilai yang dikalikan kepadanya tidak akan mengubah jumlah maupun hasilnya.

Nilai matematis ini berlaku pula di ranah yang lain. Dia ditundukkan secara kultural, didomestifikasi secara sosial, dan direndahkan secara ekonomi. Bahkan dalam beberapa pandangan agama, perempuan hanyalah makhluk leceh derivat laki-laki.

Firdaus adalah sosok yang mewakili betapa perempuan di hampir setiap inci keberadaannya menjadi objek kekuasaan kaum laki-laki. Dengan gamblang, Nawal el Saadawi menceritakannya dengan cara biografis perjalanan hidup seorang Firdaus dari masa ke masa. Bagaimana ia hidup menjadi makhluk yang hampir diabaikan dan hanya sekadar pelengkap bagi kebutuhan biologis laki-laki.

Plot Perempuan di Titik Nol terbilang tidak rumit. Ia berkisah tentang Firdaus, seorang tahanan perempuan bekas pembunuh yang menceritakan latar belakang kehidupannya kepada seorang psikiater. Uniknya kisah kehidupan yang ia ceritakan tidak lama sebelum ketetapan hukuman mati yang tinggal beberapa hari akan ia alami. Belakangan diketahui, Firdaus dengan ketetapan jiwa yang bulat tidak sekalipun bergeming terhadap eksekusi yang akan diberlakukan kepadanya.

Tidak seindah namanya

Tidak seperti arti namanya, hidup Firdaus jauh dari pernak pernik surga. Kasat namanya bukan menjadi doa bagi dirinya.

Firdaus dilahirkan di dalam keluarga miskin Mesir. Bapaknya seorang petani buta huruf, tapi sekaligus muslim taat. Di keluarganya, Firdaus diberlakukan laiknya babu. Ketika bapaknya pergi beribadah, Firdaus harus berjalan jauh mengambil air dengan kendi di atas kepala ditopang leher mungilnya. Ketika bapaknya berkumpul mendengarkan khotbah, Firdaus mesti pergi di ladang memberikan makan ternak-ternaknya.

Firdaus bukanlah anak satu-satunya. Ia memiliki banyak saudara—tidak disebutkan berapa jumlahnya. Yang menarik dari keluarganya adalah kebiasaan patriarkat Arab jahiliah yang masih berlaku dalam keluarga Firdaus.

Ayah Firdaus memiliki sikap berbeda berkaitan dengan, misalnya, kematian anak-anaknya. Jika anak perempuannya mangkat, tidak ada perbedaan sama sekali ketika masih hidup atau tidak. Tanpa merasa kehilangan, di waktu makan, ia akan mengambil jatah makanan anak perempuannya yang sudah lebih dahulu meninggal.

Perbedaan mencolok ketika ada anak lelakinya yang meninggal. Ayah Firdaus akan melampiaskan kekesalannya dengan cara memukul istrinya dan tidak lama ia pergi makan dan kemudian tertidur. 

Secara psikis dan kebudayaan, perbedaan sikap ayah Firdaus ketika kehilangan anak-anaknya adalah ciri-ciri masyarakat patriarkat. Anak perempuan—seperti zaman Arab jahiliah—adalah simbol dekadensi. Keluarga yang memiliki anak perempuan tidak layak diberikan penghargaan sosial. Sementara anak laki-laki adalah simbol kekuatan, simbol maskulinitas yang menandai jalur regenerasi biologis maupun sosial.

Kelak kita bisa melihat, kebiasaan patriarkat dalam kelurga Firdaus juga menjadi sistem kebudayaan masyarakatnya. Secara dialektis, kedua sisi ini saling memengaruhi—struktur masyarakat memengaruhi struktur keluarga, begitu sebaliknya.

Singkatnya, Firdaus kecil besar di tengah keluarga muslim konservatif yang mendudukkan perempuan sebagai makhluk pekerja tanpa ada hak-hak selain dari mengikuti adat kebiasaan keluarga dan masyarakatnya.

Tidak lama setelah Firdaus disunat—kebiasaan khas masyarakat muslim konservatif—di tengah ladang penuh tanaman jagung, kali pertamanya ia mendapatkan perlakuan senonoh. Walaupun Nawal menulisnya dengan cara metafor, tetap saja itu menunjuk kepada makna yang sulit diterima:

”Muhammadain biasanya mencubit saya dari bawah dan mengikuti saya ke sebuah teratak kecil yang terbuat dari batang-batang pohon jagung. Ia menyuruh saya tiduran di atas tumpukan jerami, dan mengangkat galabeya saya. Kami bermain-main menjadi ”pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.” Dari bagian tertentu tubuh saya, di bagian mana saya tidak tahu dengan pasti, timbul suatu perasaan nikmat luar biasa.” (hal.19)

Dengan gaya semacam ini, Nawal secara tidak langsung memperlihatkan rentannya perempuan mendapatkan perlakuan pelecehan walaupun berada di lingkungan terdekatnya. Firdaus yang di bagian ini masih kanak-kanak, bukan jaminan tidak akan menjadi sasaran perlakuan demikian. Justru di waktu inilah, seringkali kepolosan anak-anak dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab ketika melakukan kekerasan—Mohammadain diceritakan teman bermain Firdaus.

Kekerasan seksual macam ini karena dilakukan kepada anak-anak sangat berisiko kepada perkembangan kejiwaannya. Anak-anak akan mengalami gangguan traumatik, depresi, disasosiasi, hilang kepercayaan dirinya, dan surut dari perolehan prestasi. Ia berubah menjadi anak yang pemurung dan hancur masa depannya. Suatu hal yang nanti akan juga dialami Firdaus di masa dewasanya.

Perlakuan sama tapi memperlihatkan relasi yang lebih timpang ditunjukkan juga dari paman firdaus. Kekejaman atas kepolosan Firdaus yang dilakukan pamannya memanfaatkan dua modalitas kekuasaan yang secara sekaligus menjadi sebab Firdaus tidak dapat melawan.

Pertama, paman Firdaus adalah seorang terdidik. Ia seorang mahasiswa yang mengambil jurusan agama di Universitas Al Azhar. Kedua, dari segi umur, paman Firdaus jauh di atas usianya yang saat itu memasuki masa remaja.

Modalitas pengetahuan yang dimiliki paman Firdaus dengan sendirinya mengukuhkannya sebagai sosok yang superior dibanding Firdaus, yang saat itu disekolahkan setara SMP. Diceritakan tindak kekerasan seksual pamannya seringkali dilakukan ketika ia membaca buku.

Sembari melakukan aktivitas membaca tangannya bergerayangan bebas di tubuh Firdaus. Coba saksikan bagaimana Nawal menceritakannya:

Galabeya saya acapkali menggelosor sehingga paha saya terbuka, tetapi tidak saya perhatikan, sampai pada suatu saat saya melihat tangan paman saya pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya dapat merasakan tangan itu menjelajahi kaki saya sampai paha dengan gerakan yang gemetaran dan sangat berhat-hati. Setiap kali terdengar suara langkah kaki orang di pintu rumah kami, tangannya akan segera ditarik kembali.” (hal.20)

Tidak ada yang ditutup-tutupi dari cara Nawal mengisahkannya. Walaupun terkesan sangat terbuka, dari narasi ini Nawal justru menunjukkan bagaimana reka kejadian ketika kekerasan seksual dilakukan oleh pihak paling dekat, dan dalam keadaan sembunyi-sembunyi.

Walaupun ini dasarnya fiktif, tapi tidak tertutup kemungkinan adegan di atas banyak terjadi di ruang domestik masyarakat.

Apabila pengamatan sedikit lebih jeli, narasi di atas menempatkan Firdaus sebagai objek kekerasan yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Tubuhnya—yang sebenarnya adalah milik mutlaknya—menjadi sasaran kekerasan karena dua sebab.

Pertama karena ia dipandang sebagai objek dari relasi kekuasaan yang mendudukkan perempuan sebagai makhluk pasif dan dipasifkan. Ini dapat ditelusuri dari posisi Firdaus di dalam struktur kekuasaan keluarganya. Sebagai keponakan, ia hanyalah anak yang ditundukkan untuk melayani sang paman, orang tempat ia menaruh hormatnya.

Kedua, dari sisi pengetahuan, paman Firdaus memiliki kekuasaan untuk melakukan apa saja. Relasi pengetahuan ini pula yang membuat Firdaus tidak mampu berbuat apa-apa. Nampak dalam narasi, bahkan sembari membaca buku, Firdaus mendapatkan pelecehan dengan cara yang tidak diduga-duga.

Nawal, dalam adegan ini kontras menyandingkan tindakan intelektual berupa membaca buku dengan aktivitas pelecehan seksual. Adegan yang demikian ambivalen membuat pembaca menemukan kesan bahwa seterdidik-didiknya kaum laki-laki, tetap saja ada potensi berbuat senonoh. Ilmu pengetahuan tidak selamanya mewakili sisi etis manusia.

Perkawinan paksa dan kekerasan dalam rumah tangga

Kekerasan yang dialami Firdaus tidak behenti sampai di situ. Diceritakan semakin ia dewasa Firdaus dipandang menjadi beban keluarga pamannya. Untuk mengatasi itu atas usulan istri pamannya, Firdaus dikawinkan dengan seorang syekh yang belum lama menduda.

Pertimbangan ini diambil setidaknya dengan dua hal: pertama seperti disebutkan, eksistensi Firdaus ikut membebani kas keluarga pamannya, sehingga dengan jalan dikawinkan maka dengan sendirinya akan meringankan keadaan ekonomi keluarga bersangkutan.

Kedua, dengan dasar kebutuhan biologis, sang syekh yang kebetulan adalah paman dari istri paman Firdaus, membutuhkan seorang pendamping menggantikan istrinya yang belum lama wafat.

Keberadaan Firdaus di sisi syekh setidaknya dipandang sebagai cara menyelamatkan masa depan Firdaus dengan jaminan biaya sekolah otomatis akan ditanggung suami barunya.

Sebagaimana perkawinan paksa, kehidupan rumah tangga Firdaus tidaklah terjamin walaupun bersuamikan seorang pemuka agama. Dari kisah ini kekerasan seksual berupa kawin paksa sekaligus pernikahan di bawah umur sangat rentan menempatkan Firdaus di dalam posisi yang sulit.

Setidaknya dari yang diceritakan Nawal, Firdaus mengalami kekerasan seksual dari tiga domain sekaligus. Yang pertama adalah Firdaus sebagai seorang istri. Dalam konteks masyarakat patriarki yang kuat, perempuan dalam kehidupan rumah tangga sering diposisikan subordinat dari kehendak suami. Dalam wilayah domestiknya, istri adalah kaum lemah yang hanya beraktivitas tidak jauh dari tiga titik koordinat: kasur, dapur, dan sumur.

Kedua, walaupun tersirat, posisi suami Firdaus sebagai seorang syekh mengindikasikan perlakuan diskriminatif berupa tindakan kekerasan kepada Firdaus disinyalir berasal dari pemahaman agama konservatif yang dianut suaminya.

Tidak jarang, akibat pemahaman agama yang misoginis serta tidak berwawasan gender, perempuan hanya dinilai tidak lebih sebagai objek syariat sang suami. Dengan kata lain, dalam kasus Firdaus, ia menjadi korban dari cara memahami agama yang salah.

Untuk yang ketiga, sama halnya dengan posisi Firdaus dengan pamannya, karena rentang usia yang jauh dengan suaminya, Firdaus menjadi bulan-bulanan kekerasan hanya karena otoritas umur suaminya. Di sini sang suami bukan saja berperan sebagai pasangan Firdaus yang sudah pasti memiliki hak atas Firdaus, tapi bisa saja ia mengambil sebagai posisi orang tua dengan maksud memiliki kewenangan penuh untuk melegitimasi tindakannya.  

Sepanjang jalan cerita Perempuan di Titik Nol, banyak kekerasan seksual yang dialami Firdaus.[1] Yang paling mencolok dari sebab kekerasan terjadi karena konteks kebudayaan masyarakat yang tidak adil menempatkan posisi perempuan dalam lingkungan sosialnya.

Selain itu, lingkungan keluarga yang menganut pahaman agama konservatif turut mengukuhkan ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Perlu juga digaribawahi, terutama ketika Firdaus memilih untuk menjadi pelacur, dari sini kemudian ditemukan banyaknya profesi mulia di mata masyarakat malah ikut melanggengkan pandangan patriarkat dengan cara menyewa jasa perempuan panggilan.

Firdaus di sekitar kita

Sekarang mari kita mengumpulkan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di sekitar kita. Di bagian ini setidaknya ada tiga peristiwa yang patut diberikan perhatian khusus: pertama, kasus perkosaan yang menimpa Agni (nama samaran), seorang mahasiswi FISIP UGM di saat ia menjalani KKN di Pulau Seram, Maluku.[2] Kasus ini dinyatakan damai setelah melewati proses yang berbelit-belit.[3]

Kedua yaitu kasus pelecehan seksual yang menimpa Rizki Amelia seorang mantan staf di Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan oleh atasannya yang juga orang penting di tempat kerjanya.[4] Dan yang ketiga adalah kasus pelecehan seksual yang terjadi di Mataram: Baiq Nuril, seorang guru SMA yang menjadi korban dari perlakuan cabul kepala sekolah tempatnya bekerja. Kasus ini berakhir menggelisahkan karena Baiq Nuril selaku korban justru dijerat hukuman penjara lantaran melanggar undang-undang ITE.[5]

Apabila mendalami kasus-kasus di atas—yang hanya berupa puncak gunung es—perempuan senantiasa lebih awal distigmakan lemah dalam posisi sosialnya. Apalagi para penyintas di atas senantiasa berada pada posisi yang paling dirugikan dalam relasi kekuasaan.

Kasus yang menimpa Agni misalnya, karena ia berposisi sebagai mahasiswa yang menjadi kelas paling bawah dalam hirarki kekuasaan birokrasi kampus, belakangan mendapatkan perlakuan tidak adil dari petinggi kampusnya yang seharusnya membelanya sebagai korban. Dari laporan pemberitaan, demi menjaga nama baik kampus, pihak internal kampus nampak setengah-setengah mengusut kasus yang menimpa mahasiswanya ini. Sampai akhirnya kasus ini berakhir ”damai” setelah pihak kampus melakukan ”pendekatan” dengan korban.

Untuk kasus Rizki Amelia, setelah melihat kronologis kejadiannya, pelaku eksploitasi seksual yang dalam hal ini bernama Syafri Adnan Baharuddin, senantiasa memanfaatkan situasi kerja dalam melakukan modus kejahatannya. Pelaku dengan sengaja memanfaatkan otoritasnya sebagai atasan untuk mengintimidasi korban. Penyalahgunaan wewenang ini akhirnya membuat korban tidak mampu berbuat apa-apa karena terkait relasi kerja dan pendapatan ekonomi yang bergantung dari otoritas pelaku itu sendiri.

Posisi sosial yang tidak setara ini juga menjadi peluang berlakunya kekerasan Baiq Nuril. Di dalam lingkungan kerjanya sendiri, tempat yang semestinya menjadi arena profesionalitas, disalahgunakan pelaku yang dalam hal ini adalah kepala sekolah tempat Baiq Nuril mengajar.

Sebagaimana pandangan kebudayaan dominan, perempuan sebagai makhluk kelas dua juga berlaku dalam lingkungan kerja. Inilah sebabnya mengapa masih banyak ditemukan kasus pelecehan seksual terhadap perempuan terjadi dalam lingkungan kerja.[6]

Menurut catatan Komnas Perempuan kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun semakin bertambah. Di tahun 2017 saja Komnas Perempuan berhasil mencatat sebanyak 348.446 kasus dibanding dua tahun sebelumnya (2016 sebanyak 259.150 kasus dan 2015 sebanyak 321. 752 kasus). Perlu dicatat perubahan angka ini bukan berarti semakin meningkatnya kasus kekerasan seksual terjadi, melainkan semakin banyaknya para penyintas yang berani melaporkan kekerasan seksualnya yang menimpanya. Dengan kata lain, angka-angka ini hanyalah fenomena yang berhasil masuk pendataan dibanding kejahatan yang terjadi di lapangan yang sebenarnya.

Berdasarkan Catatan Tahunan 2018, dari 13.384 data yang masuk ke Komnas Perempuan dari 237 lembaga mitra pengada layanan, 71% kekerasan terhadap perempuan terjadi di ranah privat, dan 31%-nya berupa kekerasan seksual. Sementara itu, dari 26% kekerasan yang terjadi di ranah publik/komunitas, sebanyak 76% berbentuk kekerasan seksual.[7]

Catatan ini demikian kontras dari para penyintas yakni Agni, Rizki, dan Baiq Nuril, yang mengalami kekerasan seksual di ranah publik. Ini menandai bahwa betapa pun ada kecenderungan para penyintas yang sudah berani bersuara, namun belum cukup untuk menjadi deteksi betapa banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di ranah privat. Catatan ini juga mengarahkan kepada betapa pentingnya perbaikan di lingkungan privat untuk menjamin eksistensi perempuan dari tindak kekerasan seksual.

Akhirnya, meninjau kembali bagaimana figur Firdaus yang dari lingkungan keluarganya sudah mengalami kekerasan seksual, memberikan catatan bahwa sering kali para pelaku tindakan kekerasan seksual bisa datang dari lingkungan paling dekat dari korban. Banyak kasus memberikan gambaran bahwa tindakan demikian banyak dialami dan dilakukan oleh keluarga sendiri.

Untuk cerita yang ditulis Nawal, karena tidak mendapatkan penanganan yang tepat, Firdaus malah menceburkan diri ke dalam dunia hitam. Ini juga yang sebenarnya mesti diperhatikan, seringkali banyak penanganan kasus tidak berpihak kepada si korban—liha kasus Agni—sehingga seringkali para penyintas karena dipaksa menerima jalur damai dengan pertimbangan menjaga asas kekeluargaan dan norma masyarakat, tidak sama sekali mendapatkan perlakuan adil.

Lalu apa hubungannya dengan Era 4.0?

Setelah beberapa pembahasan, pertanyaan yang sudah dari awal ditunjukkan dari judul di atas adalah, apa hubungan kekerasan seksual dengan era 4.0? Bagaimanakah nasib perempuan di masa revolusi ke empat seperti sekarang ini? Apakah ada hubungan langsung antara perubahan-perubahan dalam bidang teknologi industri dengan keberadaan kaum perempuan? Apakah ada jaminan kemajuan zaman kiwari membuat perempuan mendapatkan posisi setara dengan laki-laki? Apakah dengan memasuki era 4.0 membuat tindak kekerasan seksual dapat dicegah atau diminimalisir? Pertanyaan-pertanyan sejenis akan demikian panjang jika tidak segera dijawab satu persatu.

Era 4.0 adalah era kecepatan dan percepatan global. Meminjam istilah Yasraf Amir Piliang, kecepatan dan percepatan global telah menjadi paradigma sosial, politik, ekonomi, budaya, dan kehidupan kontemporer. Dengan kemajuan teknologi informasi dan komputasi, era 4.0 juga menandai terjadinya migrasi besar-besaran dari budaya visual menuju budaya virtual yang mengikuti digitalisasi di semua lini kehidupan sebagai bagian pembuka dari era ini. Artificial intelligence,  big  data,  robotik,  internet,  mobil  tanpa  pengendara,  drone,  pencetakan  3-D, nanoteknologi, bioteknologi, ilmu material, penyimpanan energi  serta  komputasi  kuantum adalah fenomena kian akrab yang menjadi ciri era 4.0.[8]

Akhirnya, dengan adanya pengintergrasian operasi berskala besar yang terkoneksi melalui jaringan internet super cepat akan membuat segalanya menjadi lebih efisien dan efektif. Dunia seperti pendakuan Yasraf Amir Piliang, dunia akan semakin kecil. Sebuah dunia yang dilipat.

Dalam berbagai istilah ciri-ciri era 4.0 dapat dipadankan dengan konsep sosiologis yang diprakarsai beberapa kritikus ideologi. Ontologi citra (Martin Heidegger), pemampatan ruang-waktu (David Harvey), imagologi (Jean Baudrillard), cyberspace (Wertheim), McDonaldisasi dunia (George Ritzer), dunia tunggang langgang (Antony Giddens) dan Dromologi (Paul Virilio). [9] Semua perspektif ini memiliki substansi yang nyaris sama, yakni menunjuk kepada tiga pengertian utama:

Pertama adalah dunia kiwari sedang mengalami penyempitan dan pemadatan dari segi ruang dan waktu. Pandangan ini mendudukkan asumsinya kepada kehadiran media informasi digital yang menjadi sebab utama terjadinya perubahan batas-batas secara material, kultural, dan imajinal dari era sebelumnya. Perubahan ini juga kemudian ikut mengubah pola pikir dan pola perilaku masyarakat yang mengadaptasikan modus dan motifnya berdasarkan logika kecepatan. Dunia bagaikan juggernaut (kucing besar) adalah metafora Giddens dalam menggambarkan fenomena ini.

Kedua, pengaruh media internet berbasis layar secara ontologis mengubah pemahaman masyarakat mengenai realitas real. Realitas di era sekarang bukan sekadar kehadiran fisik-material yang berada dalam dimensi ruang dan waktu secara konkrit, melainkan berubah dan diwakili di dalam dunia maya. Dalam dunia virtual ini, realitas diri dan realitas lainnya beralih eksistensi dari dimensi ontologis material menjadi realitas yang berbasis virtual.[10]

Ketiga, kehadiran dunia virtual menyebabkan kehadiran tatanan dunia baru. Jika sebelumnya masyarakat real dikatakan sebagai penduduk yang menghuni suatu kawasan tertentu, maka dalam dunia virtual terbentuk komunitas masyarakat baru yang tidak terikat lagi secara teritori. Meminjam istilah George Ritzer, masyarakat dengan ciri yang kehilangan batas teritori dan kulturalnya disebut sebagai global vilage/desa global.

Disinyalir dari tiga kecenderungan ini bakal mendatangkan masalah yang jauh lebih kompleks dari era sebelumnya: kapitalisme lanjutan, globalisasi, konsumerisme, krisis lingkungan, perdagangan manusia, ekonomi virtual, simulakrum, neo-spiritualisme, dekonstruksionisme, politik identitas, super mall, LGBTQ, kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan, dlsb.

Terkait kekerasan seksual yang banyak dialami perempuan, di era 4.0 tidaklah banyak berubah. Pada kasus Baiq Nuril yang sempat diulas, justru dipidanakan kembali dengan UU ITE yang sarat dengan dimensi teknologi yang menjadi ciri 4.0. Ia yang semula memanfaatkan alat teknologi komunikasi merekam dan menjadikan percakapan mesum atasannya sebagai alat bukti digital tidak sama sekali mendapatkan penguatan untuk mendapatkan keadilan. Atas dasar pencemaran nama baik, tindakan yang diambil Baiq Nuril memanfaatkan kemajuan teknologi informasi menjadi bumerang bagi dirinya.

Hal yang sama dialami Rizki Amalia. Melalui fitur capture gawai, Walaupun ia telah menyimpan hasil percakapan berisi intimidasi seksual bekas atasannya tidak sama sekali dapat menolong dirinya untuk mendapatkan keadilan. Atasannya dengan menggunakan UU ITE memperkarakan kembali Rizki Amalia dengan dalih pencemaran nama baik.  

Dua fenomena hukum di atas menjadi kontradiksi dengan semangat era 4.0 yang mempermudah kerja manusia. Seharusnya dengan banyaknya fitur-fitur canggih alat teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu korban kekerasan seksual menguatkan kedudukannya di mata hukum, mampu memberikan peluang penyintas agar lebih dekat merasakan keadilan sebagai hasil akhirnya.

Di sisi lain, kecepatan arus informasi yang juga memberikan kemudahan seseorang mengakses dunia virtual secara langsung maupun tidak menyebabkan peluang terjadinya kekerasan seksual akan semakin meningkat. Banyak contoh dari pemberitaan media massa yang menyebutkan bahwa kekerasan seksual banyak terjadi karena penetrasi media sosial.





[1] Firdaus sepanjang cerita setidaknya mengalami 8 bentuk kekerasan seksual dari 15 bentuk kekerasan seksual yang 
ditetapkan Komnas Perempuan: 1. Perkosaan, 2. Intimidasi seksual, 3. Pelecehan seksual, 4. Eksploitasi seksual, 5. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, 6. Prostitusi paksa, 7. Perbudakan seksual, 8. Pemaksaan perkawinan
[2] Pertama kali kasus ini mencuat setelah Balairung Press mengeluarkan laporan investigasinya berjudul ”Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan” tertanggal 5 November 2018. http://www.balairungpress.com/2018/11/nalar-pincang-ugm-atas-kasus-perkosaan/
[3] Lihat laporan Tirto.id dalam ”Kasus Agni Berakhir "Damai": Cermin Buram Kasus Pelecehan di Kampus”. https://tirto.id/kasus-agni-berakhir-damai-cermin-buram-kasus-pelecehan-di-kampus-dfTp
[4] Lihat laporan Tirto.id daam ”Terduga Pelaku Pelecehan Seksual BPJS-TK Lapor ke Polisi Hari Ini”. https://tirto.id/terduga-pelaku-pelecehan-seksual-bpjs-tk-lapor-ke-polisi-hari-ini-ddue
[5] Lihat infografik perjalanan kasus Baiq Nuril dalam Kompas ” INFOGRAFIK: Perjalanan Baiq Nuril, Korban Pelecehan yang Divonis Penjara”: https://nasional.kompas.com/read/2018/11/23/18191791/infografik-perjalanan-baiq-nuril-korban-pelecehan-yang-divonis-penjara
[6] Sesuai definisi Komnas Perempuan, pengalaman Rizki dan Baiq Nuril termasuk sebagai kasus eksploitasi seksual: ”kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, tipu daya, rangkaian kebohongan, nama atau identitas atau martabat palsu, atau penyalahgunaan kepercayaan, agar seseorang melakukan hubungan seksual dengannya atau orang lain dan/atau perbuatan yang memanfaatkan tubuh orang tersebut yang terkait hasrat seksual, dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain.” Sayangnya seperti 14 jenis kekerasan seksual lainnya, jenis kekerasan ini belum diatur dalam KUHP, dan masih sebatas draft dalam RUU P-KS yang belum disahkan DPR Pusat
[7] Lihat laporan Komnas Perempuan dalam Mengapa Penghapusan Kekerasan Seksual Diperlukan. https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-mengapa-ruu-penghapusan-kekerasan-seksual-diperlukan
[8] Raymond R Tjandrawinata, Industri 4.0: revolusi industri abad ini dan pengaruhnya pada bidang kesehatan dan bioteknologi. https://www.researchgate.net/publication/293695551_Industri_40_revolusi_industri_abad_ini_dan_pengaruhnya_pada_bidang_kesehatan_dan_bioteknologi
[9] Amir Piliang. Y, Sebuah Dunia yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan Edisi 3, Mizan, 2011, hlm.49
[10] Contohnya ditemukan dari kegiatan jual beli yang mengubah makna pasar melalui e-commerce atau pasar virtual melalui platform semisal bukalapak, shopee, lazada, dll.


Don Quixote, Buku, Imajinasi, dan Cinta

05 Maret 2019 Comments Off



Judul : Petualangan Don Quixote
Penulis: Miguel de Cervantes
Penerjemah: Muajib
Penerbit: Immortal Publisher
Edisi: Pertama,  Agustus 2017
Tebal: 124 Halaman
ISBN: 978-602-6657-62-4



SIAPA tidak mengenal Don Quixote de La Mancha, tokoh ciptaan Miguel de Cervantes sastrawan Spanyol dalam novelnya yang terkenal: Petualangan Don Quixote. Figur lugu nan kocak yang mengemban misi pembebasan orang-orang tertindas karena berkhayal dirinya seorang ksatria. 

Dengan baju zirah perang abad pertengahan, ia berkelana menggunakan kuda kurus yang ia beri nama Rozinante. Bersama pembantunya yang berhasil ia yakinkan, mengikuti kemana kudanya melangkah, mereka mengembara layaknya ksatria dari satu titik entah ke titik entah lainnya.

Don Quixote awalnya bernama Alonzo Quinjano. Ia berkhayal sebagai seorang ksatria karena gila membaca dan terbius cerita petualangan ksatria pengembara. Berkat bacaannya itu ia seketika mengubah identitasnya dari seorang peladang menjadi seorang ksatria. Dimulai dari situlah Don Quixote hidup dalam imajinasi hasil bacaannya, dan memulai petualangan liarnya.

Di dunia nyata, hubungan imajinasi dengan buku-buku seperti Don Quixote juga dialami Mark David Chapman dan John Warnock Hinkley, Jr. Bahkan lebih berbahaya lagi. Berkat buku karangan J.D Salinger, The Cather in the Rye, terobsesi tokoh utama, keduanya melakukan pembunuhan.

19 April 1995 Gedung Federal Oklahoma Amerika Serikat hancur akibat ledakan truk berisi bom amoniak. Gedung itu diledakkan penganut nazisme di Amerika Serikat. Uniknya, peledakkan itu berdasarkan jalan cerita buku The Turner Diaries karya William L. Pierce. Dalam kasus ini, ternyata “bacaan wajib” pengikut nazisme itu  menjadi panduan teknis aksi peledakkan yang dimaksud.

Hubungan buku dengan imajinasi yang mengubah perilaku pembacanya juga terjadi di Jepang. Buku Issac Assimov trilogi Foundation menginspirasi sejumah orang membentuk Sekte Kiamat. Pengikut sekte ini melihat dunia nyata seperti Galaktic Empire, dunia dalam buku itu yang karut marut dipimpin pemerintahan busuk. Karena mandeg, korup, dan represif, para pemerintah di dunia ini mesti dienyahkan. Dengan buku ini sekte kiamat menggunakan aksi terorisme dan teror bom sebagai strategi “dakwahnya”.

Itu sisi negatif bagaimana buku menginspirasi dan mengisi alam imajinasi pembacanya. Buku memiliki dampak besar bagi hidup manusia. Ia jendela dunia yang memperpanjang indera dan benak manusia. 

Berkat buku si pembaca memiliki daya jangkau demikian luas. Keterbatasan indera teratasi daya jelajah pikiran seiring membaca teks. Teks menjadi konteks dalam benak –menjelma imajinasi. Tubuh pembaca semula disekat batas-batas fisik, bertransformasi melalui imajinasi yang bebas bergerak berkat hasil bacaannya.

Bagus Takwin, seorang psikolog, mendakukan dalam bukunya Psikologi Naratif Membaca Manusia Sebagai Kisah, buku adalah medium manusia untuk memenuhi beragam kebutuhan. Buku, melalui bahasa, mampu memperkaya cakrawala pembacanya. Dia menjadi sumber pengetahuan yang mengajak pembaca memasuki dunia ilmu yang tak terpemanai.

Bagus Takwin juga menambahkan kelebihan buku adalah potensinya menjalin keintiman dengan pembacanya. Dikatakan membaca buku merupakan kegiatan personal yang aktif karena pembaca secara mental mengizinkan dirinya memasuki dunia bacaan. 

Keintiman pembaca terhadap buku juga melibatkan tubuh dan juga perasaan. Inilah yang membuat setiap pembaca buku menemukan kepuasaan di tingkat kognitif, motorik, dan afeksi sekaligus.

Dalam cerita dan kasus di atas adalah contoh bagaimana keintiman atas buku-buku melahirkan imajinasi yang mengubah perilaku melalui tubuh dan perasaan. Terlepas dari sisi negatifnya, buku dalam peristiwa di atas menjadi “otak” perubahan yang membangkitkan inspirasi, imajinasi, dan tindakan.

Kiwari, setelah dibabarkan melalui beragam riset, Indonesia seolah-olah berlari mengejar ketertinggalan tingkat literasinya dari bangsa lain. 

Di SulSel sendiri sampai di pelosok, ibarat cendawan di musim hujan, bermunculan komunitas, perpustakaan desa, kelompok diskusi, lapakan buku, arisan buku, dan toko buku demi ikut menggalakkan gerakan literasi. Semua itu menandai terjadi keintiman terhadap buku-buku.

Tapi, sejauh ini jarang terdengar bermunculan Don Quixote-Don Quixote baru, yang terbius bacaan berimajinasi sebagai ksatria literasi. Bahkan, tidak juga muncul sekte-sekte baru demi menyebarkan agama literasi dengan teror buku. Atau orang seperti Mark David Chapman yang marah dan membunuh orang karena malas membaca buku. Semua itu mungkin belum cinta buku. Bukankah keintiman membutuhkan cinta?  


Telah tayang di Geotimes

Spiritualitas Politik, Politik Spiritualitas

04 Maret 2019 Comments Off



Niccolò Machiavelli. 
Dikenal sebagai Bapak Politik Modern yang bertujuan memisahkan 
agama dengan urusan kenegaraan. 
Gambar dilukis Santi di Tito, Opere di Niccolò Machiavelli, before 1782

Indonesia adalah negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Walaupun demikian, bukan berarti Indonesia adalah negara agama. Tapi, bukan juga Indonesia adalah negara sekuler. Indonesia adalah negara yang khas. Ia lebih pantas disebut negara beragama.

Jumlah penduduk muslim di Indonesia sebanyak 222 juta jauh lebih besar dari Pakistan dan India yang hanya mencapai 195 juta dan 183. Jumlah penduduk muslim  yang besar ini adalah modal utama. 

Barangsiapa ingin mendapatkan legitimasi publik melalui agama pasti tahu mayoritas muslim adalah potensi. Tinggal bagaimana mengubah jumah menjadi kekuatan. Maka di situlah peran politik. Ia menjadi perangkat ilmunya. Menggiring agama keluar dari ruang privatnya.

Belakangan, dideterminasi politik, Islam menjadi agama yang paling sering melalukan show force di ruang publik. Orang-orang yang mengatasnamakan dirinya muslim seperti dibangunkan dari tidur panjangnya. Secara serempak agama dan politik kawin mawin di ruang publik. 

Tiba-tiba segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam mesti dibela dari kacamata politik. Umat Islam sudah lama menjadi korban. Begitu keyakinan umumnya.

Spiritualitas Politik

Umumnya spiritualitas diidentikan dengan agama. Pemahaman ini mendakukan bahwa nilai keruhanian agama itulah spiritualitas. Pengertian lain mengartikannya sebagai makna-makna di balik ritual agama. Ada juga yang mendefinisikan spiritualitas agama sebagai jantungnya agama yang membuat penganutnya memiliki arti lebih sebagai manusia.

Terlepas dari pergertian itu, agama tanpa spiritualitas hanyalah simbol-simbol belaka. Shalat tanpa spiritualitas hanya gerakan tanpa makna. Puasa tanpa spiritualitas hanya menahan dahaga tanpa arti. Bahkan haji tanpa spiritualitas hanya aktivitas rekreasi belaka. 

Betapa fundamennya spiritualitas agama bagi manusia sampai-sampai Teilhard de Chardin, seorang filsuf Prancis, menyebut “Kita bukanlah makhluk manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang menjalani pengalaman manusia.”

Belakangan bukan saja agama, politik juga mengandung nilai spiritualitas. Seperti agama, spiritualitas politik ditandai dari betapa bersemangatnya orang-orang mengejar kekuasaan. 

Kekuasaan dalam spiritualitas politik adalah magnet. Itulah sebabnya, tanpa spiritualitas politik, agenda-agenda politik menjadi kehilangan artinya. Mulai dari kampanye hingga diskusi warung kopi, menampakkan betapa spiritualitas politik begitu kuat menarik perhatian masyarakat. Yang paling terang bahkan ditemukan di dunia maya. Di sanalah para pelaku spiritualitas politik getol melakukan praktik-praktik agama politiknya.

Spiritualitas politik karena sudah seperti spiritualitas agama, alih-alih membuat orang tenggelam dalam kenikmatan spiritualitasnya, melainkan mengubah penganutnya sebagai manusia yang hiperaktif. Jika sebelumnya ia hanyalah orang biasa-biasa saja, setelah mencerap spiritualitas politik, ia berubah menjadi orang yang ikhlas mengkampanyekan calon pemimpinnya. 

Tidak jarang malah, lantaran takwanya kepada dunia politik, banyak cara dilakukan agar semua orang beriman laiknya dirinya.

Sangat gampang menemukan orang yang memiliki kedalaman spiritualitas politik. Pertama, imannya yang kuat terhadap politik elektoral. Hal ini dapat ditandai dari bagaimana ia mengatur hidupnya: tiada seinci pun yang ada dalam perilakunya terlepas dari lambaran politik. Kedua, baik di dunia nyata maupun dunia maya, ia akrab dengan atribut-atribut yang berhubungan dengan figur politiknya. 

Ketiga dan keempat, dapat dilihat dari akhlak politik dan lingkungan pergaulannya. Berturut-turut ia mudah gusar jika figur politiknya mendapatkan kritikan, dan selalu mengandalkan kekuatan massa yang ia atasnamakan umat.

Politik Spiritualitas

Tidak bisa dimungkiri fenomena umat Islam yang belakangan getol melakukan show force di ruang publik adalah orang-orang yang memiliki kedalaman spiritualitas politik. Tidak ada sejarah sebelumnya di mana ruang publik beralih fungsi menjadi ruang keagamaan yang dimonopoli oleh satu keyakinan. 

Tidak juga dalam dunia maya, belum ada referensi satu pun yang menunjukkan tingginya tensi politik di dalamnya. Itu semua tiada lain karena betapa dalamnya kecintaan warga kepada politik. Betapa politik sudah menjadi agama.

Sebaliknya, di saat bersamaan agama berubah menjadi politik. Jika agama politik menandai tingginya tingkat sipritualitas di dalamnya, sementara dalam agama yang berubah menjadi politik malah memperlihatkan menurunnya tingkat spritualitas. Peralihan ini ditengarai dari hilangnya semangat cinta damai antara sesama, dan juga saling menjaga sikap untuk tidak saling menyakiti.

Pupusnya nilai kebaikan dalam agama mesti dialamatkan kepada naiknya spiritualitas politik tadi. Orang-orang hanya karena berbeda pilihan politik malah memutuskan hubungan silaturahmi. Seketika kerukunan yang berasal dari kasih sayang ajaran agama kalah kuat dengan saling hujat dari ajaran politik. Singkatnya, karena hanya mengagung-agungkan politik, orang-orang malah melupakan esensi ajaran agamanya: ahlak.

Ahlak adalah buah spiritualitas agama. Sementara buah spiritualitas politik adalah perpecahan. Sulit rasanya memadukan agama dengan politik tanpa terjebak di dalam perpecahan. Kuncinya satu: Beragamalah dengan cara agama, berpolitiklah dengan cara politik. Jangan dibalik-balik.


Terbit di Tribun Timur 2 Maret 2019

Podcast: Babanuroom Channel