Tampilkan postingan dengan label catatan dari kelas literasi PI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan dari kelas literasi PI. Tampilkan semua postingan

22 April 2017

Ruang Kudus di KLPI Makassar

Kami tersentak kaget dengan penuturan Muhary Wahyu Nurba yang tidak dibayangkan sebelumnya, tentang kita kejamakan yang kehilangan banyak ruang kontemplatif di era kiwari. “Kita” saat ia berbicara dengan suaranya yang berat itu bukan saja ditujukan kepada peserta KLPI yang sudah menjadi rutin itu. Melainkan juga kepada masyarakat yang dikepung gaya hidup modern. Ya, orang-orang yang gila kerja, gila berbelanja, gila uang, gila jabatan, gila media sosial, gila politik, gila agama, dan entah gila apa lagi (Anda bisa menambahkan sesuka hati Anda di sini).

Sebenarnya, apa yang disampaikan Muhary hanya mengulang apa yang sudah banyak disitir scholar ilmu-ilmu sosial. Namun, melalui konteks pembicaraannya dalam kaitannya dengan sastra, terutama puisi, membuatnya memiliki konotasi yang baru, setidaknya menurut kami.

“Kita tidak akan lagi melahirkan Jalaluddin Rumi,” Ucap Muhary dalam kaitannya dengan hilangnya ruang permenungan kala ingin melahirkan syair-syair yang bernas. Kita tidak akan pernah lagi akan menemukan karya-karya sepuitis Rendra, dan sederet nama penyair yang disebut Muhary, yang samar-samar dalam ingatan kami. Tepat di bagian inilah kami kaget.

Kami mengira di pertemuan itu, penyair cum fotografer ini akan banyak mengajukan pemahaman dasar penulisan puisi, atau paling tidak pendasaran teoritik puisi sebagai karya sastra, atau sejarah puisi, atau mungkin juga bagaimana teknik menulis puisi bagi seorang penyair. Namun, seperti yang kami katakan, dugaan kami meleset. Muhary berbicara jauh lebih dalam dari dugaan kami. Sesuatu yang kami sendiri alami, dan tidak dibayangkan sebelumnya. Ruang kontemplatif yang banyak dilupakan orang-orang masa sekarang.

Era modern era yang massif menampakkan segalanya ke permukaan. Budaya pamer menjadi tren. Apa yang dikonsumsi dipamerkan. Apa yang dipakai dipamerkan. Apa yang dimakan dipamerkan. Apa yang dibeli dipamerkan. Apa yang difoto dipamerkan. Bahkan hal yang seharusnya lebih bernilai jika menjadi rahasia, ibadah pribadi misalnya, dipamerkan. Melalui media sosial, semua itu akhirnya menjadi tontonan. Artifisial belaka.

Budaya pamer ini akhirnya membuat dunia pengalaman manusia menjadi super sibuk. Bising dan ramai dengan permukaan: gambar-gambar, pencitraan. Akhirnya yang “permukaan” menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi tradisi.

Akibat sering pamer dan lebih mementingkan “pencitraan”, “kedalaman” akhirnya diabaikan, atau terlupakan. Mungkin hilang dengan sendirinya. Terkait kepenulisan puisi, “kedalaman”, “kesunyian” menjadi musykil dialami. Sekarang, hampir semuanya dipenuhi keramaian. Bahkan di tempat paling privat pun kita masih terhubung dengan “dunia luar”. Apalagi kalau bukan melalui gadget. Sedikit-sedikit berbunyi, entah dari siapa, atau grup apa lagi yang lagi ramai.

Dan, malangnya, massifnya ruang sepi yang diinvasi jaringan internet melalui gawai, menandai juga semakin keponya kita untuk tidak kuat menahan godaan untuk tidak tidak memerhatikannya.  Sedikit-sedikit tangan kita tidak kuat menahan godaan hasrat untuk mengintip info atau apa lagi yang masuk di gawai. Toh kalau bisa menahan, sampai kapan kita bisa menolaknya? Paling lama mungkin dua menit (ini tergantung pengalaman Anda).

Kami kira ruang permenungan bukan dibutuhkan bagi penyair saja, tapi bagi setiap kita yang semakin ke sini makin “kalap”. Ruang permenungan memang penting bagi seorang penyair ketika merefleksikan dirinya dan segala soal manusia ketika melahirkan syair-syairnya. Namun, tidak kalah penting juga bagi siapa saja yang masih ingin menjaga kewarasannya di era “gila” ini.

Kami pribadi harus mengakui, semakin kasifnya waktu yang mampu kami “gunakan” di antara kesibukan sehari-hari. Sementara kalau mau menyelami “kedalaman”, waktu juga menjadi bagian penting selain penghayatan atas ruang kita yang sekarang jadi super sesak.

Di pertemuan itu, sesaat Muhary tiba, dengan logat khas  Makassarnya mengeluhkan suasana kota yang semakin sesak dengan keramaian. Di perjalanan ketika menuju tempat kegiatan, butuh waktu yang panjang dan lama yang tidak sesuai dengan lamanya waktu berdasarkan jarak sebenarnya. Ketika hanya untuk sampai ke lokasi diskusi, Muhary mengatakan butuh berjibaku denga padatnya kendaraan yang mengakibatkan kemacetan.

Penghayatan atas waktu akibat keramaian dan kecepatan yang menjadi ciri sekaligus momok zaman ini mengakibatkan masyarakat menjadi apa yang dikatakan Muhary dipertemuan itu sebagai damned people. Sadis, Bung!

Merosotnya ruang kontemplatif, atau dalam istilah Muhary sebagai waktu kudus, berimplikasi kepada kesadaran manusia yang tidak terhubung dengan “kenyataan yang sebenarnya”. Orang yang baru saja ikut bermain peran dalam film Silariang ini mencotohkannya dengan tindakan seseorang terhadap buku. “Kita banyak membaca buku, tapi jarang yang mengunyahnya”. Ini mirip-mirip konsep kesadaran Edmund Husserl atau Heidegger, misalnya, yang membilangkannya sebagai hubungan intensionalitas yang menghayati fenomena tanpa mengalami sekat terhadapnya.

Kami teringat dengan peribahasa Bugis, taro ada, taro gau. Simpan kata, simpan perbuatan. Manusia Bugis, melalui peribahasa itu, jika mengucapkan sesuatu dalam ikrar, maka pantang untuk tidak dilakukan. Orang-orang bilang, konsisten. Apa yang diucapkan itu pula yang akan dilakukan, atau sebaliknya, yang dilakukan sudah pasti realisasi dari ikrar yang sudah diucapkan. Dalam konteks contoh buku Muhary tadi, bisa dibilang, kita ini tanpa disadari tidak betul-betul “mengalami” bahasa.

Itulah poin besarnya, pengalaman atas bahasa. Kami kira itu yang menjadi hikmat dalam diskusi kami sore itu. Penyair atau orang yang berkeinginan menemukan syairnya yang dahsyat mesti “mengalami” bahasa yang diliterasikannya. “Ibaratnya hati kita yang kita taruh dalam tulisan kita”, ucap Muhary sambil menggerakkan tangannya dari dada ke buku puisi Airmatadarah karangan Sulhan Yusuf, owner Paradigma Intitute tempat kami bernaung.

Kami kira ini sindiran halus dari Muhary: banyak orang-orang menulis syairnya, namun semuanya itu berjarak dari dirinya. Dengan kata lain, apa yang disyairkannya, bukan lahir dari pengalamannya, dari hatinya. Itulah sebabnya, kata Muhary syair macam demikian tidak dalam, tidak menggugah batin dan kesadaran pendengarnya.

Inilah barangkali kalimat yang kami harus renung-renungkan dalam-dalam: pengalaman atas bahasa. Yang dalam kaitannya dengan ruang kudus tadi adalah usaha kita untuk mengalaminya melalui penghayatan dalam waktu dan ruang. Hanya melalui itu bahasa yang diliterasikan menjadi luar biasa. Bagi penyair, sajak-sajaknya besar kemungkinan sudah pasti menggugah sekaligus menggugat!

Di sore itu, kami memang dibuat kaget. Syair hanya permukaan bahasa, di balik itu ada proses kreatif penyair yang begitu banyak pengalaman fundamental yang dari situ lahir kata-kata yang arkaik, sekaligus dalam. Muhary memang tidak sedang berbicara di dimensi “permukaan”, sore itu terma “ruang kudus” begitu menghentak kesadaran kami yang selama ini beria-ria di hal-hal permukaan.

Begitulah pertemuan Minggu sore kemarin (April, 09, 2017), sekaligus menandai pertemuan ke-8 Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar yang sudah berjalan selama hampir dua tahun tanpa henti. Sampai waktu magrib tiba, dan setelah kelas bubar, “ruang kudus” bergiang-giang di kepala kami.

---

Terbit juga di Kalaliterasi.com

15 Februari 2017

Merumuskan 8 Jalan Literasi KLPI 2017

Setidaknya ada tiga alasan utama mengapa KLPI di tahun 2017 mengalami perubahan format kelas. Pertama, jika mengembalikan kepada sistem keterlibatan anggota KLPI selama ini, tidak ada aturan mengikat sama sekali yang membuat kawan-kawan harus wajib mengikuti KLPI. Kebebasan ini awalnya memang menjadi kebiasaan yang sedari awal diberlakukan dalam kelas. Semenjak KLPI dimulai dari Agustus 2015 lalu, hingga KLPI jilid dua yang mulai bergerak awal Januari 2016, tidak ada aturan-aturan wajib yang berhak mengikat siapa pun agar dapat ikut di dalam kelas menulis ini. Jadi bisa dibilang KLPI hanya digerakkan atas kebebasan mandiri. Itu artinya, kesadaran kawan-kawan sendirilah yang mendorong kawan-kawan terlibat selama ini di KLPI.

Tapi, jika ada yang disebut aturan, maka hanya ada satu aturan wajib yang harus ditaati di KLPI, dan ini abadi. Yakni setiap kawan-kawan yang ingin terlibat di KLPI, wajib membawa satu karya tulis pribadi agar dapat ikut serta di setiap pertemuan yang diadakan di setiap hari Minggu. Kadang banyak kawan-kawan yang baru pertama kali ingin bergabung menanyakan jenis tulisan seperti apa yang diterima sebagai syarat utamanya. Untuk soal yang kerap ditujukan kepada “pengurus” KLPI ini, maka jawabannya tidak ada batasan genre tulisan apa yang harus dibawa ke dalam kelas. Selama itu merupakan karya tulis, yang genrenya terbentang dari fiksi ataupun nonfiksi, maka itu sah-sah saja bagi kawan-kawan.

Imbas tidak ada aturan wajib yang mengikat keterlibatan kawan-kawan bergabung selama KLPI berlangsung, maka menjelang akhir tahun 2016 intensitas kawan-kawan mulai melempem. Salah satu indikator dari problem ini adalah beberawa kawan-kawan yang datang di kelas dengan tangan kosong. Tanpa membawa tulisan. Kedua, banyak di antara kawan-kawan yang mulai jarang mengikuti kegiatan kelas akibat memiliki kesibukkan di tempat yang lain.

Dua problem ini sebenarnya merupakan cermin memudarnya penghayatan dan totalitas keterlibatan kawan-kawan terhadap “aturan main” dan keberlangsungan kelas selama ini. Kehadiran dengan tidak membawa tulisan berarti dengan sendirinya telah mengabaikan syarat wajib yang selama ini diterapkan. Berkurangnya totalitas berarti juga berkurangnya keterarahan visi kawan-kawan terhadap kelas yang selama ini dirintis bersama-sama.

Tidak perlu diperpanjang apa sisi negatif dan dampak lanjutan bagi KLPI dari dua problem di atas. Sudah banyak catatan kelas sebelumnya yang mengulas hal itu.

Kedua, format baru bagi KLPI di tahun 2017 didorong akibat perlunya generasi lanjutan demi memperbaharui suasana dan keberlangsunga KLPI ke depannya. Alasan di balik ini tidak jauh berbeda dari beragam organisasi-organisasi yang sering kali melakukan perkaderan. Selain menambah kuantitas kawan-kawan yang akan meminati literasi sebagai kebutuhannya, juga menambah kualitas pengetahuan seiring semakin berkembangnya wacana literasi di permukaan.

Hubungan dengan alasan yang ke dua, maka alasan yang ketiga mengapa perlu ada format baru bagi KLPI, yakni jika ibarat literasi adalah agama, maka siapa pun yang meyakininya perlu mendakwahkannya. Itu sebabnya perlu ada keterlibatan sebanyak-banyaknya terhadap “agama literasi” ini. Sebagaimana dorongan ideologis mana pun, literasi harus menjadi “hantu” yang menggentayangi kesadaran siapa pun.

Itulah tiga alasan yang harus dikemukakan mengapa perlu ada perubahan format dan penyelenggaraan KLPI di tahun 2017 ini. Atas dasar ini, setelah menjalani beberapa perbincangan dan pendiskusian di hari Minggu kemarin, akhirnya diputuskan beberapa butir pokok yang harus dikerjakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Pertama, berbeda dari format sebelumnya, pertemuan KLPI jilid 3 kelak hanya akan dilaksanakan selama dua pekan sekali. Pertimbanganya, di minggu pertama, bagi kawan-kawan yang hendak menuliskan karya tulisnya dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menyiapkan seluruh persiapan menulisnya mulai dari ide, sudut pandang, referensi, pendiskusian gagasan, dlsb agar dapat di tuliskan di minggu kedua.

Perubahan jadwal pertemuan ini sekaligus meredam intensitas pertemuan yang selama ini dirasa mendesak. Pertemuan sekali seminggu sudah tidak adaptabel dengan rotasi waktu yang dialami kawan-kawan akibat bertambahnya agenda lain kawan-kawan di luar KLPI.

Kedua, tempat kegiatan akan dilangsungkan di pelbagai tempat di Makassar yang dirasa sesuai dengan kesepakatan kawan-kawan. Artinya, jika selama ini pertemuan KLPI hanya dilakukan di sekretariat KLPI di Pabbentengan, maka ke depannya akan ada perubahan suasana akibat tempat pelaksanaannya yang akan berganti seiring waktu pelaksanaannya.

Ketiga, di KLPI jilid 3 hanya akan diselenggarakan selama 6 bulan belaka. Perubahan targetan ini imbas persedian “oksigen” kawan-kawan yang terbatas selama pertemuan satu tahun seperti yang telah direncakan sebelumnya. Sisi positif perubahan durasi ini akan memudahkan kawan-kawan mengevaluasi baik kemajuan maupun mundurnya targetan-targetan KLPI selama satu semester kelak.

Keempat, pokok yang paling mencolok dari format baru ini yaitu dirumuskannya delapan jalan bagi kawan-kawan untuk menempuh hidup literasi dengan “keringat dan air mata” selama di KLPI ke depannya. Delapan jalan ini kemudian diturunkan menjadi delapan materi yang akan diturunkan selama empat bulan berturut-turut dari enam bulan yang ditargetkan.

Delapan jalan yang dimaksud itu adalah: Pertama, kuliah umum Apa, Mengapa dan Apa Pentingnya Literasi bagi Kehidupan Saat Ini? Kedua, 10 Dosa Penulis Pemula. Ketiga, Klasifikasi dan Genre Tulisan. Keempat, Cara dan Pengorganisasian Ide ke Dalam Tulisan. Kelima, Teknik Kepenulisan Esai. Keenam, Teknik Kepenulisan Opini. Ketujuh, Teknik Kepenulisan Cerpen. Kedelapan, Teknik Kepenulisan Puisi.

Di samping delapan jalan wajib penempuh suluk literasi di KLPI selama enam bulan, akan ada jalan tarikat yang menjadi materi-materi khusus agar dapat menggenapi capaian makam kepenulisan siapa pun yang menempuhnya. Sebagaimana jalan tarikat di manapun, ini hanya dapat ditempuh bagi siapa pun yang serius dan ikhlas menjalani suluk literasi selama ber-KLPI.

Terakhir, delapan jalan suluk literasi akan diprogramkan selama empat bulan pertama dengan mengundang guru-guru yang telah melanglang bumi persada literasi berdasarkan spesialisasi dan tema yang sudah ditentukan. Dua bulan terakhir akan diisi dengan praktik menulis itu sendiri dengan tetap melibatkan kawan-kawan yang telah dahulu ikut di KLPI selama ini.

Hatta, mari bersyukur KLPI sudah sampai di sini. Sehormat-hormatnya bagi siapa pun yang sudah menyediakan nafasnya bagi keberlangsungan KLPI selama ini. 


20 Februari 2016

kala kala jangan kalah

Kala belum jadi. Saya memilih tidur. Ngantuk tibatiba datang menyergap. Maklum pagi tadi saya harus keluar lebih awal. Setelah pulang, akibat kekenyangan membuat mata saya berat.
Kali ini Kala saya tangguhkan sampai malam. Sengaja saya tidur saja, biar malam jauh lebih fit mengerjakannya. Apalagi sampai siang belum ada tulisan yang masuk.

Minggu lalu, pasca kelas menulis PI, sudah ada tulisan yang siap pakai. Cuman baru satu esai. Kala biasa memuat dua esai. Terkadang juga beberapa puisi, itupun kalau memang dua esai tidak mencukupi kolom yang tersedia.

Satu esai, dimuat minimal 500-700 kata. Kadang ada esai yang bisa dimuat lantaran sampai 1000an kata. Implikasinya, satu esai yang lain harus tidak lebih dari 700 kata. Kalau format tulisannya pas, maka tak jadi soal. Kala terbit dengan dua esai seperti biasa.

Kala buletin debutan. Karena masih baru, Kala masih mencari pola. Entah aspek wacananya sampai teknis penerbitannya. Sampai detik ini, Kala sudah terbit empat pekan. Selama ini polanya sudah mulai kelihatan. Pertama, perhatian model tulisan selain esai, juga cerpen. Juga puisi. Kedua, nanti setiap jelang kelas PI dibuka baru Kala siap edar.

Pola kedua terjadi akibat tulisan jarang masuk lebih awal. Padahal setiap pekan redaksi Kala terbuka lebar bagi setiap tulisan kelas menulis PI. Namun, entah sampai saat ini meja redaksi Kala sepi tulisan. Kalau yang ini maklum, Kala bukan buletin prestisius. Juga memang barangkali tak ada yang tertarik mengirimkan tulisan.

Konsep awal Kala adalah media kolektif. Tujuan dasarnya menampung tulisan kelas menulis PI. Jadi secara kolektif tak ada soal dari mana sumber tulisan Kala. Itu bisa diambil dari tulisan kawankawan. Yang jadi problem adalah hampir semua kawankawan banyak menulis jenis tulisan freewriting. Sementara yang dikhususkan merupakan tulisan jenis esai. Atau suatu tulisan yang fokus membahas satu tema dengan menyertakan sudut pandang tertentu.

Jenis freewriting gandrung akhirakhir ini. Temanya bisa macammacam. Gaya maupun bentuk penulisannya juga demikian. Kelebihan jenis tulisan ini bisa mengeksplore banyak hal dari satu tema yang menjadi pintu masuk. Prinsipnya mengalir bagai air. Biarkan ceritamu yang menuntunmu. Karenanya, akan sulit bertahan atas satu ide yang akan digubah. Walaupun bebas, tulisan bukan sama sekali menanggalkan aturan main penulisan. Fleksibel, salah satu kuncinya.

Kala bisa memuat jenis tulisan macam freewriting bila satu esai sudah terpenuhi. Kalau belum akan ditunggu sampai masuk ke meja redaksi. Waktu deadline biasanya sampai jam 10 pagi. Pernah di pekan keempat, esai yang masuk hanya satu judul. Sementara esai yang kedua nanti datang jelang masa injurytime. Karena saat itu malah menyisakan kolom kosong, mau tak mau itu jadi tugas redaksi mengisinya.

Tadi siang ada omongan kalau Kala hanya beredar di kalangan internal. Itu bisa jadi soal atau malah sebaliknya. Kala jadi soal kalau peredarannya belum bisa keluar dari komunitas. Justru jadi serius kalau belum bisa menjadi wacana. Ukuran redaksi, Kala bisa berhasil salah satunya kalau posisi Kala menjadi topik omongan. Sebaliknya tidak jadi masalah, karena Kala bukan apaapa. Makanya bukan soal kalau Kala hanya beredar di seputar kawankawan.

Sampai malam ini masih satu esai yang masuk. Kala butuh dua esai. Kalau besok pagi belum terpenuhi dua esai, sudah jadi tugas redaksi mensiasatinya. Redaksi memang harus punya banyak akal, apalagi misal tulisan yang kurang.

Sekarang saya habis makan. Janji sebelumnya malam ini baru urus Kala. Seperti biasa harus lebih dulu mengedit tulisan. Setelah itu baru sesi urus layout. Terakhir tinggal save kemudian siap naik cetak besok siang.

Tapi, seperti yang saya bilang, sampai saat ini masih satu esai yang layak terbit. Redaksi harus bersabar sampai besok. Kalau memang belum ada, jujur terpaksa redaksi harus pakai jurus ke 977. Kadang di keadaan yang kepepet, jurus itu penting. Sama pentingnya, Kala harus tetap terbit di akhir pekan. Kala jangan Kalah.


08 Februari 2016

memikirkan kembali yang dasariah

Kelas menulis PI ramai. Seperti biasa. Cuman kali ini tempatnya berbeda. Sekarang di Unhas. Di tepi danau, di pelataran sebuah gedung.

Awalnya agak bingung. Kawankawan repot. Mencari tempat pertemuan. Sebabnya sejak awal hanya disebut danau Unhas.

Tapi yang sms langsung tahu. Di gedung IPTEK tempatnya.

Ini kelas ketiga. Sebahagian sudah dari awal berkumpul. Beberapa malah datang  dari sekretariat di dalam kampus. Mereka anakanak fakultas tehnik. Mereka peserta baru. Yang lain mukamuka lama.

Agak lama kami menunggu yang lain. Maklum ini pertama kalinya di Unhas. Sebelumnya di sekretariat PI. Yang belum tahu, sekretariat PI sebenarnya TB Paradigma Ilmu. Di Alauddin, Pabbentengang.

Di Unhas lumayan bagus. Pemandangannya indah. Sebab di pinggir danau. Cuman agak bising suarasuara yang lain. Banyak kelompok mahasiswa yang juga di situ. Rapat organisasi barangkali, mereka banyak. Syalnya birubiru. Saya duga mereka anak palang merah. Entahlah.

Kelas berjalan alot. Hampir semua membawa tulisan. Hanya saya yang tidak. Sanksinya jelas, bagi yang tidak, minggu depan dua tulisan harus disetor. Saya siap. Lagian saya punya banyak stok tulisan. Jadi minggu depan aman.

Tulisan kawankawan ratarata bagus. Saya pikir semuanya tahu itu. Cuman ada beberapa koreksi yang perlu. Pertama kesalahan ejaan. Ini lumrah. Saya kadang sering. Kawankawan malah lebih sering. Jadi banyak yang salah. Akhirnya mesti diperbaiki.

Kedua hampir sama dengan yang pertama. Kesalahan ketikan. Ini juga lumrah. Ada beberapa tulisan yang salah saya dapati. Akhirnya diperbaiki. Mudahmudahan tidak terulang kembali. Ini masalah dasar. Yang paling elementer.

Kalau dilihat masih banyak yang bingung. Terutama masalah ejaan yang disempurnakan. Ada satu dua peserta yang sulit membedakan bahasa lisan dan tulisan. Dua hal itu sebenarnya berbeda. Bahasa lisan lebih lugas. Bahkan bisa blakblakan. Bahasa tulisan lebih tersirat. Makanya perlu kesabaran.

Itu yang sering banyak lupa. Kesabaran. Menulis berarti mau bersabar. Menahan ego. Mengendapkan emosi. Kadang banyak yang lupa. Emosi jangan sampai bermain. Itu bahaya. Tulisan malah jadi ambisius. Tidak objektif. Justru subjektif.

Makanya perlu mau pelanpelan. Tulisan tak ada yang langsung jadi. Di balik karya tulis ada sabar yang berlipatlipat. Itu rahasianya. Setidaknya menurut saya. Kata lain setiap satu tulisan berarti sepuluh kesabaran. Dua tulisan duapuluh kesabaran. Tiga tulisan tigapuluh kesabaran. Seterusnya begitu.

Bayangkan tulisan yang sabar. Hasilnya pasti jernih. Karena ditunjang dengan berkalikali koreksi. Berkalikali pembacaan ulang. Ini artinya ada evaluasi. Ada editing. Mulai dari kesalahan ketik sampai kesalahan argumen. Kalau sudah begitu insyaallah. Tulisan itu bernas.

Ketiga, argumentasi. Ada tulisan yang saya pikir kurang argumentatif. Ini kadang karena tatanan pikir yang rusak. Argumentasi yang baik pikiran yang lurus. Logis. Rasional. Paragraf yang baik paragraf yang lurus. Runut. Ini karena tatanan pikir beres.

Keempat soal sudut pandang. Ini salah satu yang menentukan. Semua bisa menulis kasus bom jalan Thamrin. Tapi jarang yang punya ceruk landai. Maksudnya ruang kosong yang luput. Carilah itu. Ruang kosong yang banyak orang abaikan. Itulah banyak ulasan tentang sepatu polisi. Pakaian polisi yang mahal. Ledakan bom sudah biasa. Life style  polisi di lapangan yang jarang. Itu sudut pandang. Dari mana matamu melihat.

Tapi yang membuat tersentak K Niart. Dia guru saya. Diamdiam dia tidak tahu. Dulu dia sering mengoreksi tulisan saya. Itu dulu. Bahkan sampai sekarang. Di forum dia mengoreksi beberapa tulisan. Dia banyak ulas soal aturan menulis. Terutama yang elementer; penggunaan imbuhan dan awalan.

Dia bilang dia pending mengirim tulisan di media. Dia ingin kembali ke dasar. Itu yang membuat saya tersentak. Yang lain tak menyangka, di situ ada yang kritis. Bahwa perlu evaluasi. Mari menengok kembali. Yang dasar, yang kadang lupa.

Saya tak tahu apa maksud dasar di situ. Dia tak jelaskan panjang. Tapi saya duga, itu penting. Itu genting. Terutama bagi penulis yang lama belajar. Kadang perlu diingatkan. Bahwa menulis sebenarnya menengok terus ke dasar. Melihat kembali dari mana kau berniat. Untuk apa menulis. Dengan apa menulis. Katakata apa yang kau pakai. Ini yang dasar barangkali. Menurut saya dari yang dibilangnya.

Saya kadang jumawa. Itu salah. Itu tidak layak.  Yang dasariah dari itu tak ada penulis yang sempurna. Yang ada penulis yang selalu mencoret kembali katakatanya. Kalimatkalimatnya. Tulisantulisannya. Sewajibnya memperbaiki yang salah. Bukan menguatkan yang baik. Itu dua yang berbeda.

Memperbaiki yang salah berarti mau belajar. Menguatkan yang baik berarti cepat puas. Memperbaiki yang salah berarti mengakui belum sempurna. Menguatkan yang baik belum tentu sempurna. Itulah saya merasa harus memperbaiki yang salah. Jumawa berarti menganggap sudah baik. Seharusnya mengakui yang salah itu yang etis.

Kembali ke dasariah artinya mengingat. Yang kurang. Yang awal. Yang pertama. Tulisan yang pertama pasti jelek. Pasti kacau balau.  Jadi ibarat cermin. Lewat cermin diperhadapkan kembali kepada kesalahan. Agar kita tahu yang mana yang kurang. Yang mana yang salah. Agar ada proses. Ini yang penting.

Yang dasar bukan berarti berbalik kebelakang. Itu berbeda.  Dasariah jauh lebih dari itu. Ini soal kedalaman. Melihat kembali ke bawah. Ibarat sumur. Seberapa dalam lubang yang digali. Seberapa banyak air yang  ditampung. Semakin dalam semakin banyak daya tampung air. Yang dasar artinya melihat ke lubang yang kita bikin. Sudahkah banyak air di sana.

Yang dasar juga masalah etis. Untuk apa menulis. Untuk siapa menulis. Ini pertanyaan yang harus pas jawabannya. Sebab banyak tulisan yang dibentuk karena tujuannya. Yang jadi soal kalau tulisan jadi heroik. Itu berarti karena ingin dipuja. Bisa juga tulisan jadi romantik. Yang ini karena masa lalu. Tujuan itu penting bagi nasib tulisan. Karena itu katakata bisa dipilih. Tidak mungkin memilih kata berat untuk pikiran yang ringan. Intinya lihat konteks.

Banyak yang bisa ditulis dari kelas menulis PI. Tapi saya justru menulis hal yang dibilang K Niart. Bagi saya sikap yang dia ambil adalah sikap pembelajar. Ini yang harus dicontoh. Terutama saya.

Kemudian ada yang lain. Soal bentuk cerpen dan esai. Saya sempat berdiskusi dengan Ecce. Panggilan Andi Reski JN. Saya tak tahu apa itu JN. Bukan itu yang penting. Yang penting obrolan saya. Di situ kami kembali mempersoalkan apa batasan esai dan cerpen. Bagaimanakah kalau ada esai tapi memuat unsur cerpen? Misalkan tulisan saya Malaikat Bukubuku. Saat saya anggap esai. Tapi ketika dibaca, K Niart justru bilang ini bisa juga disebut cerpen. Saya dan Ecce jadi bingung. Ini perlu dibahas kembali. Menurut saya penting.

Juga ada tanggapan dari Jusnawati. Hubungannya kritik saya terhadap cerpen Muhajir. Dia tidak sepakat kalau saya bilang penting arti sebuah nama. Apalagi dalam cerpen. Bagi dia tanpa nama karakter tokoh bisa dengan sendirinya terungkapkan. Jadi Jusna memilih menulis cerpennya dengan kata Aku sebagai tokohnya. Tanpa nama. Hanya Aku saja.

Itu juga bisa disoalkan lagi. Bagaimanakah penting suatu nama dalam cerpen. Apalagi dalam karya sastra. Apakah bisa tanpa nama. Ataukah nama ihwal yang krusial. Tanpa itu tokoh jadi anonim. Entahlah. Ini juga penting. Harus segera dibahas.

Terakhir tentang Kala. Saya mengimbau kepada semua. Kala butuh kontributor tulisan. Awalnya diniatkan menampung tulisan kawankawan. Di satu sisi saya merasa penting kawan memang berniat menulis untuk Kala. Saya punya semangat besar kepada Kala. Walaupun itu selembar kertas sederhana. Besokbesok ini bisa jadi penting. Kalau konsisten. Disiplin.


Sampai hampir magrib diskusi alot.  Kami bertukar pendapat. Saling bertanya. Kemudian dijawab, menjawab. Sore tinggal sebentar. Kami akhiri segera. Kelas literasi ramai. Seperti biasa. Bergegas pulang. Yang beda, minggu depan tempatnya di UNM. Di pelataran gedung Phinisi. Di pinggir jalan A.P Pettarani. 


06 Februari 2016

redaktur dadakan

Sudah tiga pekan terakhir saya memiliki semacam rutinitas yang sulit dihindari. Semenjak kelas literasi sesi kedua PI dibuka, saya mau tak mau harus berjibaku dengan Kala. Kala harus terbit di tiap pekan. Dia buletin sederhana yang digagas kelas literasi PI. Ada semacam keharusan moral agar Kala terus terbit. Maklum ini buletin baru yang kami rintis.

Karena manajemen buletin yang terhitung baru, maka tak ada semacam tim kerja yang dipunyai Kala. Praktis karena saya menjadi ketua kelas, saya pula yang berkewajiban mengurusinya.

Makanya tampilan Kala tidak seperti buletin umumnya. Kala hanya selembar kertas yang dilipat menjadi dua bagian secara horizontal. Karena itu Kala bisa dibilang selebaran. Itupun dikerja dalam format word. Tapi karena ingin dibilang keren, kami menyebutnya buletin.

Format sederhana Kala hanya mampu menampung dua tulisan dengan batasan 500 sampai 700 kata. Itupun kadang ada tulisan yang sampai 1000an kata. Kalau sudah begini, saya harus bekerja ekstra agar kertas kwarto yang dipakai bisa menampung semua tulisan yang bakal terbit.

Kadang kalau masih ada ruang kosong, saya akan menyelipkan beberapa puisi agar tidak siasia. Ini bisa dilakukan kalau memang tulisan yang masuk tidak menyetor tulisan yang panjangpanjang. Ya kalau panjang, sudah pasti hanya dua tulisan saja yang bakal saya masukkan. Selebihnya barangkali hanya bagian kotak kecil sebagai semacam iklan yang diisi pengunguman redaktur.

Seperti yang saya bilang Kala tidak punya tim kerja. Toh kalau ada itu hanya berlaku bagi kelas literasi. Jadinya setiap minggu saya harus mencari minimal dua tulisan agar Kala bisa terbit. Sumber tulisan tidak jauhjauh, semuanya dari karya kawankawan peserta kelas literasi PI.

Dulu saya sempat bekerja di salah satu harian surat kabar di Makassar. Sebagai wartawan saya pasti melihat langsung bagaimana redaktur bekerja di hadapan meja kerjanya. Bagaimana redaktur mengedit tiga sampai empat tulisan selama semalam. Apalagi redaktur yang dapat jatah mengedit kolom opini. Dia harus pandaipandai memilih tulisan dan jeli melihat perkembangan kejadiankejadian yang sedang berlangsung.

Ketika saya mendapat piket kerja, saya juga terkadang mendapat tugas mengedit beritaberita yang bakal naik cetak. Jadi sebelum file berita dikirim ke percetakan, saya ditugaskan untuk memeriksa kembali apapun jenis kesalahan dari penulisan. Mulai dari kesalahan ketik, istilah, huruf sampai tanda komanya, semuanya harus diedit sebelum naik cetak.

Sekarang ketika Kala sudah memasuki pekan keempat, pekerjaan itu rasarasanya saya alami kembali. Maklum Kala secara defenitif belum memiliki redaktur, apalagi editor. Sehingga dua pekerjaan itu harus saya lakukan di tiap akhir pekannya.

Maka jadilah saya redaktur karbitan, orang yang mengelola tulisan kawankawan sekaligus mengedit sedikitsedikit tulisan yang dianggap “menyimpang.” Selama mengerjakan tugas ini saya merasa bak sedang mengelolah semacam majalah mingguan yang super tenar. Mingguan yang setiap orang menunggu dibaca.

Tapi nyatanya ini hanya Kala, selebaran yang sungguh sangat sederhana. Buletin yang barangkali dibaca hanya sekitar duapuluh orang. Namun, dari yang saya alami, ini pekerjaan besar. Setidaknya bagi saya yang ingin meningkatkan kualitas teknik menulis. Karena itu dengan senang hati tiap akhir pekan saya bisa belajar dari beragam jenis tulisan yang saya baca.

Karena belum memiliki tim redaksi yang mapan, Kala untuk sementara tidak memasang target wacana apa yang bakal jadi topik tiap minggunya. Saya sempat ditanya, apakah tiap minggu Kala bakal mengangkat satu topik tertentu? Saya bilang, itu target yang terlalu tinggi untuk buletin semacam kala. Saat ini kala hanya punya satu tujuan, menerbitkan tulisan kawankawan peserta literasi PI.

Pertanyaan kawan itu,  lebih disebabkan oleh banyak faktor. Setidaknya ada satu faktor yang paling menentukan, yakni sampai saat ini belum ada yang mau mengirimkan tulisannya hanya untuk diterbitkan Kala. Redaksi Kala bukan seperti redaksi mediamedia besar yang menerima ratusan tulisan dari pembacanya sehingga dengan gampang menentukan topik apa yang bakal diterbitkan. Apalagi Kala tidak menerima tulisan dari pihak luar.

Makanya, tiap akhir pekan saya harus mencari tulisan siapa lagi yang bakal dipakai Kala. Seringkali pula saya harus membuka beberapa blog kawankawan mengintip beberapa tulisannya. Kalau cocok, baru kemudian saya hubungi meminta tulisannya. Karena itulah, di satu sisi keberlangusungan Kala sangat ditentukan sejauh apa kawankawan sering menulis. Di situlah nyawanya.

Saat saya mengedit tulisan kawankawan, saya seperti dijarkan menulis. Saya termasuk orang yang minim membaca, makanya ketika menerima tulisan kawankawan saya bisa membaca sekaligus diajak melihat seberapa jauh tehnik menulis saya.

Dalam mengeditori tulisan yang masuk setidaknya ada empat hal yang saya jadikan aturan main. Pertama koherensi. Aturan ini saya pakai untuk memindai seberapa kuat hubungan asumsi dari kalimat yang dipakai penulis. Entah itu dari kalimat per kalimat, maupun paragraf per paragraf.

Kedua, saya harus melihat struktur kalimat. Pada bagian ini, saya terkadang banyak berhatihati karena berhubungan ini langsung dengan gaya menulis seseorang. Sangat tidak mungkin saya mengubah jenis kalimat seperti gaya menulis yang ditunjukkan Nietzsche yang metafor dan simbolis. Juga bagi gaya tulisan sastrawi yang belakangan banyak digandrungi.

Yang ketiga, saya harus jeli melihat seberapa tepat penggunaan istilahistilah. Terkadang di bagian ini saya sering menemukan pengguanaan istilah yang bukan semestinya. Juga terkadang ada penulis yang lupa memiringkan istilah jika itu berbahasa asing. Kalau yang ini akan sangat mudah ditemukan sepanjang saya terus membaca.

Terakhir adalah kesalahan pengetikan atau ejaan. Bagi penulis pemula bagian ini akan sering tak sengaja dilakukan. Bahkan saya juga sering melakukannya, terutama kesalahan ketik. Makanya di sesi ini saya harus banyak menghapal katakata baku. Misalnya kata silahkan mestinya ditulis silakan sebagai bentuk bakunya. Di bagian ini tidak seperti level yang pertama, kemampuan matalah yang dipakai. Jeli melihat ejaan yang menyimpang.

Saya terkadang harus merasa sebagai musuh penulis. Perasaan ini kebalikan dari keyakinan saya, penulis pasti punya musuh; editor. Menjadi editor dan penulis dua hal yang saya rasa punya tanggung jawab yang berbeda walaupun tujuannya sama. Namun ketika mengedit tulisan kawanakawan saya harus tegategaan ketika sampai menghilangkan beberapa paragraf yang tidak relevan. Ini kerap kalau pengertian yang dimaksud sudah dibahas di kalimat atau paragraf sebelumnya. Atau memang keterbatasan ruang yang dimiliki.

Kalau sudah begitu ada rasa bersalah memotong beberapa bagian tulisan. Saya seperti dokter amputasi ketika melakukan itu. Membuang bagian tubuh yang membusuk dan akan berbahaya bagi tubuh. Apalagi ini tulisan buah pikiran si penulis. Yang saya anggap anakanak ruhani, yang tak bisa diperlakukan semenamena.

Tapi apa daya kalau misalnya anak yang lahir justru kembar siam, saya mau tak mau membedahnya agar dapat selamat. Walaupun saya bukan dokter, saya merasa harus melakukan itu.

Baiklah, intinya saya sedang menyukai pekerjaan baru ini; mencari dan mengedit tulisan. Jadi jika ada yang mau menggantikan posisi saya biarkanlah saya menikmatinya dulu sembari Kala sudah bisa bertahan. Saya senang mengerjakannya, hitunghitung saya belajar di tiap akhir pekan.

Terakhir pekerjaan ini bisa dibilang dapat dipakai sebagai gagahgagahan. Kalau suatu saat ada yang bertanya apa pekerjaan saya, dengan bangga akan langsung dijawab redaktur. Redaktur mana? Kala, jawab saya. Urusan setan dia mau cari tahu apa itu Kala. Apalagi kalau mengganggap media harian. Pokoknya Kala. Sekaligus alternatif agar tidak menyebut mahasiswa. Mahasiswa itu bukan pekerjaan Bung. Apalagi meyakininya sebagai profesi. Saya capek mengisi biodata kalau menyebut pekerjaan  mahasiswa. Sekalikali bolehlah, redaktur mingguan Kala. 


02 Februari 2016

kala

Ini Kala. Buletin yang baru terbit dua pekan. Sebenarnya agak berani menyebutnya buletin karena tampakannya sederhana. Saya lebih ingin menyebutnya selebaran. Sebab memang dasarnya Kala hanya lipatan dari selembar kertas. Hanya format tulisannya saja yang terbagi dua secara horizontal.

Kala mengingatkan saya kepada selebaranselebaran kertas di masa perjuangan dulu. Kepada makna itulah saya ingin Kala diartikan. Selebaran yang punya maksud membangun perspektif kemerdekaan. Yang bertujuan menyebarkan informasi kepada sesama pejuang.

Agaknya itu terlalu berlebihan. Walaupun hari ini masa telah berganti rupa. Tidak ada lagi letusan peluru. Bedil yang diacungacung. Meriam yang mengoyak rubuh. Bambu runcing yang melubangi tubuh. Hari ini masa yang berbeda. Orangorang lebih ingin mengangkat gawainya daripada ikut berperang.

Tapi saya kira orangorang yang merintis Kala berbeda. Mereka punya sudut pandang lain. Peperangan boleh berakhir, tapi pertempuran masih saja tetap terasa. Itulah mengapa perlu alat perjuangan. Bukan bedil, tapi media tulis.

Dari situ Kala lahir. Agar suarasuara tidak bergerak di tempat. Sejak kelas literasi bergulir, baru kali ini media tulis mirip pamflet ini coba dihadirkan. Karena itulah baru dua kali Kala terbit. Tapi semangat kami besar, bukan dua, tapi seribu edisi. Begitulah semangat kadang menggebugebu.

Kala diniatkan juga bisa menampung tulisan kawan peserta kelas literasi Paradigma institue. Menurut kami, penting membuat wadah bagi kawankawan peserta agar lebih giat menulis. Kalau dianggap layak berdasarkan standar Kala, tak ada salahnya dimuat. Sekaligus ini ajang belajar bagi tulisan yang ingin dilempar ke publik yang lebih luas.

Kala dikelola manual. Tidak ada alat cetak khusus. Yang dipakai hanya mesin print seadanya. Itupun tintanya malah sering mampet dan berwarna merah. Jadi bukan kesengajaan kalau tintanya berwarna merah. Ini tidak ada sangkutpautnya dengan organ komunis manapun. Begitu juga dengan tanda bintang sebelum kata Kala, itu hanya aksesoris. Toh kalau disebut punya hubungan dengan organ kayak komunis, itupun beberapa anggotanya yang pernah nimbrung di organ kiri.

Diterbitan perdana Kala diisi dua tulisan. Pertama dari Sulhan Yusuf, judulnya Bersua Seno Gumira Ajidharma. Kedua tulisan saya sendiri di bawah tajuk Menulis itu Dua Hal. Kemarin terbitan kedua, Muchniart Azsebagai penulis dengan cerpennya Rinduku dan Bulir-Bulir Padi. Muhajir Ajir dengan esainya: Menggeledah Ruang, Mengintip Kekuasaan.

Diterbitan kedua, Putri Reski Ananda menyumbangkan beberapa syair dari blognya. Laila Majnun dan Pengikut Cinta, dua puisi yang ia iyakan untuk dipakai kali ini. Selebihnya bisa dibaca langsung. Entah kalian bisa mendapatkannya dari mana. Yang kami ingin, Kala bisa digandakan siapa pun. Hitunghitung ongkos produksi yang terbatas.


01 Februari 2016

suasana kelas baru

Sudah dua pekan kelas literasi dipadati peserta. Bilik belakang yang sering ditempati, demi membuat nyaman peserta juga sudah ditata ulang. Ruangan yang semula hanya mengambil satu pojok belakang toko buku akhirnya dibuat lebar. Namun tetap saja karena peserta yang membludak, ruangan belajar yang sering dipakai jadi tidak cukup. Di pertemuan terakhir kemarin, bahkan yunda Mauliah Mulkin sudah menambahkan satu kipas angin besar di atas meja untuk membuat sirkulasi udara berjalan lancar.

Ruang kerja kanda Sulhan Yusuf  memang di enam bulan terakhir berubah jadi padat. Semenjak kelas literasi dibuka, kami sering menggunakan ruang kerjanya sebagai kelas pertemuan. Awalnya tak ada bayangan bahwa kelas akan penuh sesak, walaupun kelas sebelumnya juga sering banyak dihadiri peserta. Tapi, seperti yang saya bilang, kelas yang kedua pesertanya membludak. Akhirnya membuat tempat selama ini dipakai jadi tidak muat.

Akibatnya saya kemarin susah mengambil gambar dari berbagai sisi. Setiap sudut sudah diduduki peserta. Bahkan sampai melebar ke tengah ruangan. Makanya agak risih kalau saya mondarmandir bergerak ketika mengambil gambar. Padahal, sesi jepratjepret sudah jadi kebijakan tak tertulis untuk mengabadikan setiap momen yang terjadi. Apalagi ada sebagian kawankawan yang senang groupy kalau difoto. Mereka bisa langsung ambil gaya kalau kamera nongol.

Beberapa pertemuan belakangan ada niat keluar kandang. Mengingat kemarinkemarin yunda Muchniart Az sempat unjuk rasa. Maklum selain Putri Reski Ananda, ibu dari Za ini salah satu peserta yang jauh tinggal di pinggiran kota. Saya biasa bangga memiliki panutan seperti kak Niart, jauhjauh naik motor sambil membawa Za ikut kelas literasi.

Karena itu setelah dipikir kembali dan melihat perkembangan situasi kelas ada keinginan untuk berimprovisasi. Ujhe Eljaelani juga sempat menjelaskan kepada saya tentang pentingnya suasana kelas yang berbeda. Kata anak pendidikan ini, biar peserta tidak jenuh dan merasa ada suasana belajar yang baru setting kelas harus berubah. Masukkan Ujhe menurut saya patut dipertimbangkan.

Saya juga butuh masukkan, terutama kepada guruguru muda kayak Andi Reski JNItto Danury, dan guru di Papua sana Ikhsan Nugraha, bagaimana selayaknya membangun kelas yang nyaman dan tidak bete? Apakah perlu mengubah set interior kelas atau sekaligus pindah mencari ruangan kelas baru? Yang pertama agak susah karena kelas selama ini sudah dua kali diset ulang. Apalagi mustahil mau membongkar bukubuku kanda Sulhan yang lumayan banyaknya itu? Jadi pilihan yang paling mungkin yang kedua: kita perlu kelas baru.

Sesungguhnya saya dilema, sebab kalau kita pindah atau berimprovisasi untuk kelas baru, akan susah mempertemukan jadwal kelas parenting yang diampu kak Uli. Ada beberapa temanteman yang tergabung di kelas parenting, juga terlibat di kelas literasi. Kalau misalnya pindah, maka akan membuat sebagian temanteman bermigrasi sanasini. Nantinya malah bikin repot.
Semalam ada tawaran kalau bisa kelas literasi minggu depan diadakan di beberapa tempat. Kak Niart kepingin di danau Unhas. Ada yang ingin di Fort Rotterdam. Ada juga diadakan saja di Multimedia depan Unismuh. Bahkan ada yang bilang di benteng Somba Opu saja. Kalau yang terakhir diusulkan Heri Sitakka. Kita bisa maklum kenapa dia bilang begitu.

Pikiran saya bagaimana nasib Boufakar Sisenimangila yang sering menggunakan petepete. Belakangan ini saja dia harus jalan kaki dari Pettarani sampai masuk ke Alauddin. Masa dia harus repot lagi mengambil jalur petepete yang berbeda. Nanti dia bisa tersesat seperti kemarinkemarin.

Juga ada Ali, anak Mamuju yang tinggal di asrama itu. Sejak dia ikut kegiatan yang sering dilaksanakan di bunker, saya sering kali lihat keponakan dari Syafinuddin Al Mandari ini berjalan kaki. Kalau minggu depan bakal pindah suasana kelas, saya tak tahu dengan cara apa dia bisa ikut. Kalau masih jalan kaki, maka Ali harus lebih awal bergerak sebelum jam tiga. Kirakira jam satu siang dia sudah harus keluar berjalan kaki menyesuaikan dengan jam kelas literasi.

Dulu ada Alik Nino'Trismegistirs yang sering membantu Ali. Tapi sekarang kabarnya Khalik juga tidak punya kendaraan. Belakangan ini justru dia harus menunggu jemputan Aii Avicenna kalau mau ke manamana. Kasihan karena motornya dipakai adiknya.

Omongomong kendaraan bermotor, saya tidak ragu kalau kelas dipindahkan di mana saja. Sebab misal Muhajir AjirMuhammad Asrul Al-FatihTenry Nur AmrianiJusnawati As'SyifaSiti Zahra IndahM Yunasri RiDhohJahirNizar Fahrezi tak bakalan keberatan bila sekalipun kelas di pindahkan ke planet Pluto. Asalkan salah satunya dapat mengikutkan Sandra Ramli sebagai parnert di jalan.

Intinya saya butuh masukkan dari siapapun. Kelas kita kelas bersama. Di mana tempat yang paling cocok menurut kalian. Sekalian mari doakan Syahrul Al Farabi dan Aam Ahmad Arham salah satu peserta yang sedang sakit. Agar mereka dapat berkumpul kembali. Juga kepala sekolah kita kanda Asran Salam. Kelas sekarang butuh masukkanmasukkan dari beliau.

Nah, sekarang apakah ada sendal kalian di bawah ini? Dulu di depan pintu toko buku tidak sebanyak ini. Sebentar lagi sudah mirip mesjid. Sendalnya juga butuh diatur, juga motormotor yang bertumpuk.

Nb: Adiyat Rizki dan Akmal Qabusy AL Ghazali, bagaimana masih mau ikut kan? Oh iya bagi kalian peserta baru, saya minta pertemanannya dong? Bisa kan?

31 Januari 2016

sketsa dasar akhir pekan di kelas literasi

Saya pernah bilang menulis bagi saya lebih sama dengan melukis. Ini sketsa kasar (dasar) lukisan saya di waktu kelas literasi Paradigma Institute sore tadi: 

Syafinuddin Al Mandari
Ilmu, hal yang tak diketahui malaikat
Manusia akan jauh membuat tercengang malaikat karena ilmunya
Ilmu pengetahuan yang dikembangkan akan meninggikan dengan sendirinya derajat seseorang
Peradabanperadaban manusia yang hancur karena ilmu yang stagnan. Semua peradaban yang maju karena ilmu yang maju
Teknologi pertanian organik. Di kota yang memiliki lahan sempit dapat dimanfaatkan dengan baik kalau ditopang dengan ilmu pertanian yang baik.
Pemulung yang cerdas mengelolah pasti akan jauh lebih besar penghasilannya dibandingkan pegawai kantoran.
Di Jakarta sudah menjadi sengketa antara pemda DKI dengan Bekasi akibat TPA yang over pemakaian. Ada teknologi yang dapat membuat sampah tidak terlalu busuk
Bubuk pupuk dan pupuk cair
Kalau semua sektor disentuh dengan ilmu yang bagus pasti akan menghasilkan karya yang luar biasa. Buktibukti yang memperlihatkan kemajuan di berbagai bidang itulah yang disebut literasi
Literasi berarti pencerahan. Membuat sesuatu lebih terang
kewajiban konstitusional negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ranah yang luas. Sekolah hanya salah satu bagian di dalamnya. Katakata pencerahan dan literasi berarti sama. Literasi mengeluarkan orangorang dari kebutaan yang paling awal yakni buta huruf sampai buta pengertian
Literasi pekerjaan jangka panjang. Walaupun hanya lewat manuskripmanuskrip sederhana yang dilakukan selama ini
Kalau konsisten mengawal kelas literasi bisa jadi besok akan menjadi sekolah sosial yang menyebar diberbagai sektor
Lilin literasi sama halnya meledakkan bom peradaban. 
Tugas pejuang literasi, mencerahkan, mampu menguatkan cara pandang orang dengan cara berpikir yang benar
Model bentuknya. Salah satunya Memperbanyak perkumpulan (komunitas). Untuk membangun pergerakan demi perubahan.
Evaluasi
Farid Gaban, Syafinuddin, setiap pencerita sesungguhnya adalah penulis. Kedua jangan dulu diedit, biarkan pengetahuan kita disalurkan mengalir begitu saja. Anggaplah setiap ucapan itulah yang ditulis. Selanjutnya diendapkan dan kemudian disinambungkan melalui proses evaluasi
Farid Gaban: biasakan dialog, bercerita, data, memaknai data, memunculkan sudut pandang, edit. Seorang yang ingin menulis wajib membaca tulisan orang lain. Begitu bukan pembaca maka tak akan menjadi penulis.

Akhir pekan di kelas literasi

Hari ini saya punya janji untuk mengikuti kelas literasi. Mau tidak mau saya harus ikut, soalnya sudah diingatkan oleh kanda Bahrul Amsal melalui lini masa FB. Apalagi beberapa hari sebelumnya saya sudah janjian dengan Aii Avicenna, kawan saya yang juga kebelet ingin ikut. Maka, siang ini saya bersiapsiap lebih awal, sembari menunggu jemputan Aii.

Kelas literasi sebenarnya sudah lama saya ketahui dari kabar yang diceritakan kanda Bahrul. Beberapa foto kegiatannya juga sering kali nongol di FB. Melihat kegiatankegiatan mereka, saya merasa harus ikut. Namun, waktu itu kepalang kelas sudah berjalan, makanya saya agak malu bergabung. Sampai belakangan ini saya dikabari kelas literasi angkatan kedua akan dibuka. Sontak saya senang bukan main. Ini kesempatan emas, saya harus ikut.

Sekarang saya sudah di TB Paradigma, tempat kelas literasi di selenggarakan. Hari ini pertemuan kedua. Banyak yang datang. Minggu kemarin kelas perdananya. Saat itu bagaikan mimpi, saya bisa berkumpul dengan orangorang yang memiliki minat yang sama. Apalagi pertemuan itu diawali dengan kuliah umum kanda Sulhan Yusuf. Beliau dengan santai omong banyak seputar gerakan literasi. Maqammaqam literasi, dan kecenderungankecenderungan orang terhadap dunia literasi. Saya tidak perlu menulisnya di sini, reportase kanda Bahrul sudah sempat membahasnya minggu lalu.

Hampir jam empat saya tiba dilokasi. Di dalam kelas ternyata sudah banyak orang. Termasuk kanda Bahrul yang datang lebih awal. Menurut info yang ditulisnya, hari ini kelas akan diisi diskusi santai bersama kanda Syafinuddin al Mandari. Katanya beliau sedang bertandang di Makassar, maka tak afdol kalau tidak mengundang beliau nimbrung di kelas.

Sambil menunggu kanda Syafi datang, begitu panggilan akrab yang saya dengar dari kawankawan, kelas dibuka dengan perkenalan singkat antara peserta. Setelah dibuka Kanda Bahrul, maka kami saling bertegur sapa mengenalkan diri. Ternyata ada duapuluh orang yang datang. Tidak semua nama saya kenal selain sebagian yang sudah saya ketahui sebelumnya. Setelah saling memperkenalkan diri, dan penjelasan Kanda Bahrul tentang mekanisme kelas yang selama ini dijalani, maka kelas dialihkan untuk mendengarkan persentase tulisan yang dibawa kawankawan. Kali ini saya sudah menyiapkan tulisan saya. Judulnya Mummy dan Ruang Anak yang Hilang.

Salah satu tulisan yang menarik ditulis Ishak Boufakar. Dia menulis tentang ilmu komuniskasi. Ulasannya menarik saat dia menjelaskan tulisannya. Juga Itto, yang sering membuat puisi tanpa judul. Memang Itto punya masalah ketika menulis puisi, ia sering membiarkannya tanpa judul. Kemudian Ali, peserta yang paling siap di antara kami. Ketika datang dia sudah menyiapkan map khusus untuk tulisantulisannya. Dia juga membawa puisi yang katanya dia tulis saatsaat galau.

Banyak hal yang diungkapkan kanda Syafi ketika ia membuka diskusi. Awalnya saya kaget dengan bahan diskusi yang menyinggungnyinggung soal pemanfaatan lahan yang minim di kota. Katanya suatu saat orangorang dengan pendekatan yang tepat dapat mengembangkan ilmu pertanian untuk memanfaatkan ketersediaan pekarangan yang minim. Sampaisampai beliau mengatakan pertanian akan jauh lebih maju dengan ilmu pertanian organik yang belakangan ini sedang marak. Jujur dipikiran saya apa kaitannya literasi dengan ilmu pertanian. Tapi saya dengarkan saja dulu ulasannya.

Saya semakin bingung ketika pembicaraannya menyinggung soal sampah. Katanya, jika seorang pemulung memiliki pengetahuan yang memadai, sampah justru dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Maka, pemda DKI Jakarta tak akan bingung masalah TPA yang dipermasalahkan oleh warga Bekasi. Contoh itu diambil Kanda Syafi kalau kita mampu mengelola sampah dengan baik. Dengan ilmu yang benar, kata Kanda Syafi, sampah bisa diolah jadi pupuk bubuk dan cair yang jauh lebih baik dari pupuk urea.

Sampai di sini saya semakin bingung dengan omongan beliau. Bukankah informasi Kanda Bahrul bahwa beliau diundang karena pengalamannya di dunia literasi? Kok omongannya tentang pertanian dan sampah? Hubungannya dengan literasi di mana? Sampai akhirnya beliau bilang bahwa literasi itu sebenarnya pencerahan. Ketika sektorsektor dibidang kehidupan dikelola ilmu yang baik dan tepat guna, maka area yang masih gelap akhirnya menemukan perspektif baru yang bisa dimajukan. Itulah literasi, semangat untuk memajukan lini kehidupan dengan ilmu pengetahuan.

Sampai di sini saya kaget. Ternyata literasi memiliki makna yang begitu dalam. Tidak seperti pemahaman hanya sekitar baca tulis. Pantasan kanda Syafi sempat membahas ilmu pengetahuan dan peradaban di awal diskusi. Ternyata kuncinya di situ, setiap sektor yang diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan, yang mencerahkan masyarakat dengan inovasiinovasi, itulah literasi. Usaha mencerdaskan bangsa, seperti amanat konstitusi kata kanda Syafi.

Pantas juga dari awal beliau menyinggung peradabanperadaban yang stagnan akibat mandegnya ilmu. Barang siapa berhenti mengembangkan ilmu pengetahuan, dengan sendirinya suatu peradaban akan tertinggal dan runtuh. Katanya ilmulahyang meninggikan derajat umat manusia. Hanya melalui ilmulah kemajuan peradaban bernilai tinggi dari peradaban sebelumnya.

Karena itulah gerakan literasi memiliki jangka yang panjang. Visi dan misinya harus menyentuh seluruh sektor kehidupan demi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Maka kanda Syafi menghimbau jangan meremehkan kelas yang kami jalani ini. Karena ini adalah salah satu cara untuk membangun gerakan literasi, walaupun denga cara mengumpulkan manuskrip setiap minggunya. Dengan cara berkumpul dalam komunitas, membangun semangat dan konsistensi.

Kanda Syafi juga menyinggung tugastugas pejuang literasi. Menurutnya yang utama dari gerakan literasi adalah membuat orang sadar dengan pandangannya. Bahkan memperkuat pandangan seseorang dengan jalan berpikir yang benar. Inilah esensi pencerahan. Esensi literasi yang sesungguhnya. Sehingga orang yang bergerak dan sadar dengan literasi bisa menjadi lilin yang menerangi di mana pun berada. Dengan begitu akan tercipta apa yang beliau sebut ledakan bom peradaban.

Terakhir kanda Syafi bilang, mudahmudah komunitas semacam ini bisa menjadi sekolah sosial yang berefek kepada banyak orang. Kalau konsisten, maka tidak tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Asalkan kita mau terus menggalakkan gerakan literasi. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, melalui tulisantulisan yang cemerlang. Agar tercipta perubahan di segala sektor kehidupan.

Berikut fotofoto yang diambil kanda Bahrul di saat beliau beraksi. Tak lupa pula beberapa kawankawan yang ikut bertanya seputar kiatkiat menulis. Bagaimana agar menulis dapat dimulai? Seperti apa tahapantahapan menulis? Bagaimana cara memancing ide menulis? Semuanya dijawab apik oleh Kanda Syafi. Kalau kamu masih penasaran, ikut saja kelas di minggu depannya. Dijamin menyenangkan loh?

30 Januari 2016

undangan kelas literasi

Selamat malam. Besok pertemuan kedua kelas literasi Paradigma Institute. Kali ini kita akan kedatangan seorang yang sedikit banyak dibesarkan dan membesarkan Paradigma Institute sampai sekarang. Alhamdulillah kanda Syafi bersedia datang membagi pengalaman dan ilmunya besok sore sekira pukul 15.00. Beliau sampai hari ini masih bergiat dengan tradisi literasi dan pengembangan keilmuan bagi anakanak muda. Bahkan itu dilakukannya ketika masih menjadi mahasiswa.

Tadi siang saya mendapat bocoran dari kanda Sulhan Yusuf bahwa beliau sedang bertandang di Makassar. Samarsamar bahwa kanda Syafi didapuk menjadi narasumber di salah satu hotel siang tadi. Alhasil atas desakan kanda Sulhan, beliau harus bisa mengisi di kelas literasi besok.

Terakhir kali kanda Syafi bertandang di Makassar sekira akhir 2015. Saat itu selain mendampingi kanda Judilherri Justam, beliau juga menjadi pembicara saat melaunching buku yang diinisiasinya; "Anak Tentara Melawan Orba", otobiografi yang ditulisnya. Bersama Alto Makmuraltoyang menjadi pembicara, kegiatan itu sukses dengan banyaknya mahasiswamahasiswa yang berdatangan. Apalagi saat itu dua nama besar; Kanda Qasim Mathar dan Alwy Rachman, juga menjadi daya tariknya. Hingga sore, akhirnya kegiatan itu berakhir.

Setelah saya menelepon, respon positif langsung diberikan kanda Syafi. Dengan senang hati beliau akan menyempatkan bertandang diParadigma Ilmu Toko Buku besok. Tak lama saya berbicara dengan beliau, sebab dari belakang sepertinya dia masih duduk jadi narasumber. Lamatlamat suara pembicara di sebelahnya sampai kedengaran. Dengan sigap saya langsung saja nyatakan niat agar kawankawan dapat bertemu tukar pikiran dengan beliau. Setelah belia iyakan, sayapun pamit.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...