Tampilkan postingan dengan label My Book's. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Book's. Tampilkan semua postingan

21 Maret 2015

Airmatadarah dalam Tekad

Saya sebenarnya tak mengerti betul sastra, apalagi puisi. Puisi, yang kental dengan simbolisme itu seringkali membuat saya bingung. Sebab, dengan material katakatanya yang simbolis juga metafor tak pernah stabil merujuk pada satu pengertian yang pasti. Puisi, dengan gaya penuturan yang demikian, akhirnya hanya menjadi katakata yang pias makna di hadapan saya.

Puisi, dengan katakatanya yang metafor, sepengetahuan saya adalah cara untuk menangkap kenyataan yang tanpa tirai. Dengan kata, puisi ingin merekam apaapa yang murni. Puisi, jika disebut sebagai potret kemurnian, adalah media yang mengungkapkan katakata menjadi baitbait yang gamit.

Tapi justru kata tanpa tirai bisa bikin kenyataan jadi asing. Sastrawan menurut saya adalah orang yang punya semacam kemampuan membuat bahasa jadi lain. Katakata di tangan sastrawan menjadi bahan yang dilucuti dari penggunaan yang sudah umum. Di tangan sastrawan, katakata dibersihkan dari ruang tuturan umum yang sering membuat kata jadi banal. Katakata, di tangan sastrawan, seperti ditasbihkan kembali untuk dipakai seperti pertama kali dipergunakan menjadi kata yang perawan, kata yang binal.

Dengan kemampuan itulah sastrawan jadi orangorang yang punya kekuatan seperti al kheimist, yakni orangorang yang punya kemampuan khusus untuk merubah sampah jadi emas. Melalui kemampuan khusus itulah, katakata yang sudah digunakan di tengah umum, yang kerap dipakai berulangulang hingga rombeng, jadi kata yang murni dan baru.

Sebab itu barangkali, katakata puitis seorang sastrawan bisa membikin sesuatu nampak jernih. Dengannya, kita dihadapan teks jadi orang baru yang lahir kembali. Di dalam filsafat, terutama fenomenologi, kita disebut menjadi seorang pemula.

Dengan menjadi seorang pemulalah kenyataan jadi nampak baru. Dunia jadi bendabenda yang tak ternamai dan transparan sehingga tak ada yang lain selain ketakjuban. Dari ketakjuban itulah lewat kata puitik sisi primordial disentuh.

Lewat katakata puisi, seorang sastrawan punya misi yang subtil, misi yang primordial. Dengan katakata, sisi afeksi setiap kita disepur dan dimurnikan kembali. Ini seperti mirip kata Lenin, yakni sastrawan memiliki tugas mengarsitekturi untuk membangun jiwa.

Kamis kemarin saya diberikan hadiah buku sehimpun puisi. Lengkap dengan tandatangan penulisnya. Buku yang tak sepenuhnya saya mengerti itu diberi judul airmatadarah. Saya tak tahu apa takdir buku itu diberi judul yang menurut saya tragedik. Yang mana airmata jika umum dipahami adalah serangkaian dari tindak kejiwaan yang misterium: sedih, bahagia, rindu, benci, marah, gundah dsb, adalah sisi dunia yang tak tembus. Airmata, dari takdir judul buku ini, adalah frasa misterius yang sulit saya tembus untuk menangkap maksud yang dikandungnya.

Dan di judul itu, darahlah yang jadi sisi paling sulit saya tebak. Dengan satu kata airmatadarah, saya menjadi orang yang nampak asing dihadapan kata itu. Darah, yang biologis dari tubuh kita, justru jadi sesuatu yang lain di judul itu. Darah yang identik dengan warna merah gelap itu, barangkali bisa jadi lambang suatu arti: pengorbanan.

Tapi sudah saya katakan airmatadarah adalah kata puitis yang jadi asing, makanya ia jadi frasa yang tragedik bagi saya. Juga kata itu menurut saya sudah dilucuti jadi suatu yang baru, maka itulah ia memang seperti kata yang baru pertama kali digunakan untuk merujuk kepada suatu pengertian, tetapi apa?

Dan biarlah itu jadi ruang kosong yang tak bertuan. Dengan begitu makna judul airmatadarah bebas untuk diberikan maksud oleh sesiapa pun. Bahkan sang penulis tak punya kuasa untuk membangun jalur rel makna di situ. Makna, ataupun maksud, dengan begitu jadi bebas tak bertuan. Dengan iman seperti ini, sang penulis memang sudah mati seperti didaku Roland Barthes. 

Dari tulisan ini jika saya diberikan pilihan untuk menunjuk satu pusi yang saya senangi, maka saya akan memilih Tekad sebagai puisi pilihan saya. Di puisi itu, seperti ada sebuah pertaruhan tentang sebuah akhir dari masa kini yang jadi titik permulaan. Ini seperti dua orang yang terlibat perjanjian untuk sebuah bukti di masa depan. Ini persis hukum kontradiksi Gramsci, bersamasama sekaligus menentang. Ini seperti dua anak manusia yang membusung dada di mana mereka saling menentang di saat kebersamaan kian mengental, tentang suatu akhir yang disebut masa depan.

Kutunggu wartamu di masa datang

Joloklah bulan
Genggamlah surya
Lukisilah pelangi
Cungkillah gunung

Barulah kau tergolong:
Pemahat masa depan

Di puisi ini, jika ini sebuah tafsir, ada sebuah kabar yang bermakna penantian untuk dapat dibuktikan. Tapi di hamparan waktu yang panjang, ketika suatu ruang pertaruhan di mulai, ada beberapa hal yang mesti dapat diatasi. Bulan, surya, pelangi dan gunung, adalah diksi yang dipilih untuk menunjuk suatu hal yang mesti ditaklukkan, yang sekaligus menunjuk pada bendabenda yang tinggi dan besar. Dan sebelum diksi itu diletakkan, katakata joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, adalah pilihan kata yang menunjuk kepada suatu sikap yang mencerminkan kehendak penaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar itu.

Joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, sebenarnya adalah katakata yang akrab ditelinga kita seharihari. Banyak pekerjaan seharihari yang menggunakan katakata itu untuk mencerminkan usaha dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Dari katakata kerja itu, kita bisa mengerti bahwa dari pekerjaan yang dinamai dengan kata itu, manusia membutuhkan suatu modalitas untuk memulai usahanya. Dan barangkali judul puisi itu; tekad, adalah modalitas yang dimaksudkan itu.

Dari sinilah saya menyenangi puisi ini. Tekad, tanpa menyebut kehendak, adalah unsur awal dari terciptanya sesuatu yang lahir dari cipta manusia. Dengan tekad, manusia merealisasikan dirinya untuk hidup kongkrit. Dengan tekad, jika meminjam Hegel ataupun Marx adalah awal dari perealisasian diri atas kerja.

Tekad, seperti mengajak sesiapa untuk berjudi dengan waktu. Di puisi itu, waktu jadi satusatunya yang tetap, yang tak berubah dari nasib yang dipertaruhkan. Di ujung puisi itu, dengan tekad, dengan usaha yang telah menaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar, barulah seseorang disebut pemahat masa depan. Di sini kata pemahat, adalah cermin yang mengamit makna kerja, suatu tindak yang sama dengan jolok, genggam, lukis dan cungkil. Artinya, jika ini layak disebut tafsir, adalah suatu usaha yang tak pernah selesai. Yakni tindakan terus menerus untuk memahat masa yang akan datang.

Sehimpun airmatadarah adalah buku sekumpulan puisi pertama dari Sulhan Yusuf. Tapi di dalamnya, seratus tiga puisi adalah puisipuisi yang bukan pertama kali ditulisnya. Jika bisa dibilang, dari kumpulan puisi yang sebanyak itu, adalah juga cermin yang memantulkan gejolak kejiwaan yang sedang dihadapi dari peristiwaperistiwa sehariharinya. Saya tak tahu puisi apa yang ditulis pertama kali oleh Sulhan Yusuf yang mencerminkan pergulatan batin yang sangat. Tapi kita berharap puisipuisinya akan terus lahir seiring banyaknya pengalaman hidup yang dilaluinya

Dengan maksud yang tragedik, jika masa yang datang dalam Tekad itu dihadapkan kembali kepada Sulhan Yusuf, maka orang yang seharihari dinisbahkan sebagai mentor oleh saya itu, telah dikutuk untuk dapat terus menulis. Dan kutukan menjadi seorang penulis yang akrab dengan aksara, adalah pekerjaan yang getir sekaligus murung. Melalui dua hal inilah, masa depan diukir dan diabadikan. Namun mudahmudahan, getir dan kemurungan itu hanyalah hal yang nampak di dalam tulisantulisannya.

Syahdan, airmatadarah adalah buku puisi yang layak untuk dimiliki. Setidaknya dengan puisi, lewat buku ini kita diantar untuk menjadi seorang pemula. Orangorang yang kembali menengok dunia keseharian dengan cara yang berbeda.


08 Juni 2013

dari narasi cinta dan kemanusiaan menuju jejak dunia yang retak


Baru-baru ini, tepatnya di pekan pertama bulan juli 2012 ini, saya terlanda kebahagiaan yang amat mendalam. Setidaknya, ada dua momentum strategis dari gerakan literasi sementara mengedar. Pertama, terbitnya buku Narasi Cinta dan Kemanusiaan, yang ditulis oleh Dion Anak Zaman dan diterbitkan oleh Boetta Ilmoe. Lounchingnya telah dilaksanakan tanggal 7 juli 2012, bertempat di gedung Pertiwi, pukul 20.00-23.00 waktu setempat, Butta Toa-Bantaeng.

Terus terang, saya sendiri tidak menyangka akan begitu banyaknya apresiasi dari kehadiran buku itu. Mulai dari begitu banyaknya komentar yang ditujukan kepada buku tersebut, dukungan spiritual dan material saat dilounching yang begitu dahsyat dan banyak, jumlah undangan yang hadir memenuhi gedung, hingga kehadiran Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, yang juga kami tidak duga sebelumnya.

Banyaknya apresiasi dan tingginya rasa antusias, serta sambutan yang meriah atas buku itu, saya menduga karena, pertama, temanya buku itu yang bertutur tentang cinta dan kemanusiaan, sebuah tema yang abadi dalam dimensi kemanusiaan kita. Kedua, karena faktor penulisnya, yang memang selama ini telah mengedar, malang melintang dalam aktivitas berkesenian dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga, sebab digarap tidak dengan motif-motif dan kerja-kerja material, tetapi dengan semangat yang amat spiritual. Keempat, jalur penerbitan yang dipilih secara indie, yang menyebabkan semua yang terlibat dalam proses penerbitannya dapat memaksimalkan kemerdekaannya dalam berkontribusi. Kelima, situasi kelompok-kelompok sosial dan komunitas-komunitas sosial di Butta Toa-Bantaeng, sudah mulai merasakan getaran-getaran dari gerakan literasi.

Kedua, terbitnya buku Jejak Dunia Yang Retak, yang baru-baru ini, dihadiahkan kepada saya oleh para penulisnya. Buku ini adalah kumpulan tulisan dari lima orang anak muda, yang selama ini cukup intens beredar dipusaran komunitas literasi: Paradigma Insitut, Papirus Community, dan Boetta Ilmoe. Kelima penulis itu adalah: Muchniar Az (Niart), Syamsu Alam (Alamyin), Takim Mustakim, Bahrul Amsal dan Asran Lallang Salam. Tiga orang dari penulis tersebut, Muchniar, Alam dan Asran , malah terlibat langsung dalam penggarapan buku Narasi Cinta Dan Kemanusiaan. Muchniar selaku pemberi prolog, Alam selaku desainer sampul dan layout, sedangkan Asran salah seorang editornya.

Penulis-penulis muda tersebut, kalau boleh saya katakan mereka adalah kaum muda potensial dalam kepenulisan, yang selama ini bahu membahu untuk mendorong gerakan literasi di tiga komunitas tersebut. Jujur saya katakan, ada kebahagiaan yang tak terkira dengan kehadiran buku Jejak Dunia Yang Retak ini. Apalagi mereka menyebut saya sebagai salah seorang mentornya, di pengantar buku itu.

Meski buku itu tidak diterbitkan oleh Paradigma, Papirus atau Boetta Ilmoe – karena memang ketiga komunitas ini telah beberapa kali menerbitkan buku secara indie – tetapi spirit dari ketiga komunitas ini cukup memengaruhi. Sehingga, bolehlah saya katakan spiritnya adalah spirit indie, tetapi diterbitkan secara non-indie, digarap secara profesional oleh penerbit Carabaca Yogyakarta.

Saya sendiri termasuk yang mendorong agar diterbitkan mengikuti mainstrem dunia penerbitan, karena memang targetnya dari penerbitan buku itu, sebagai pembuktian bahwa menerbitkan buku banyak jalan yang bisa digunakan. Sehingga, bagi kami yang bergerak dalam dunia gerakan literasi makin kaya akan perspektif dalam mendorong gerakan ini.

Buku Jejak Dunia Yang Retak ini, diberi prolog oleh Eko Prasetyo, seorang penulis buku produktif dari Resist-Yogyakarta, dan dieditori oleh Sabbara, seorang penulis dan peneliti di Litbang Kementrian Agama, yang juga banyak menghiasi pergulatan pemikiran baik di Paradigma, Papirus maupun Boetta Ilmoe. Dan ini yang agak khas, karena diberi epilog oleh Dul Abdul Rahman, seorang penulis, novelis, cerpenis, yang juga memberikan epilog pada buku Narasi Cinta Dan Kemanusiaan.

Bolehlah saya nyatakan bahwa, hadirnya kedua buku tersebut, dalam rentang waktu yang nyaris bersamaan, semakin meyakinkan saya akan getaran literasi yang akan membuahkan gempa literasi. Perspektif kami makin luas, akan strategi gerakan literasi, karena sudah ada bentuk-bentuknya yang terakumulasi dalam model-model gerakan. Yang diperlukan adalah tetap menjaga api literasi tetap membara dan menyala pada setiap pegiat literasi, khususnya yang telah mengedar di tiga komunitas tersebut: Paradigma, Papirus dan Boetta Ilmoe.

Rasanya ingin segera memberi ucapan selamat kepada diri sendiri, atas kebahagiaan yang begitu melimpah ini, karena memang telah terasa getarannya. Tetapi sebelumnya, terlebih dahulu kuucapkan selamat kepada kalian berlima, para penulis muda, buah cerahan pikiranmu dan benih keruhanian hatimu, senantiasa kami tunggu pada barisan para pegiat literasi, di bawah naungan spirit alturuisme, seperti yang telah didedahkan oleh para altruist sebelum kita. Wallahu ‘alam bissawab.

Oleh Sulhan Yusuf
(Pegiat Komunitas dan Gerakan Literasi Makassar)

12 April 2013

Pengantar; Jejak Dunia yang Retak

… Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tetapi tidak gampang untuk diam… kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu pada saat seperti ini, hanya ada mendung atau hujan., atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki…
(Goenawan Mohammad)

Apa yang paling indah dari merangkai pengalaman yang dengannya kita mampu menyublim pelajaran. Suatu perjalanan hidup yang temporal, yang lekang oleh waktu, ruang adalah dimensi yang harus dilewati. Manusia berusaha keluar dari sifat temporalnya menuju ihwal yang mengisyaratkan akan sesuatu hal yang transenden. Dikatakan demikian karena terkadang pada pengalaman; hiruk-pikuk keramaian, sunyi-sepi kesendirian, di mana manusia bisa bermetamorfosa menjadi makhluk “yang lain” dengan aktivitasnya yang hendak mengalami hal-hal yang transenden.

Dahulu, orang Yunani menyebut aktivitas  semacam itu dengan Theoria. Theoria bagi orang-orang Yunani erat kaitannya dengan tema-tema kosmologis. Melakukan theoria, merupakan kegiatan tertinggi manusia, karena berarti mengaktifkan logos, suatu percikan Ilahi yang ada dalam diri manusia. Orang-orang yang melakukan aktivitas theoria kerap dinamakan sebagai filosof.  Sebab, biasanya filosof punya hal yang lain yang tak dimiliki oleh orang kebanyakan, yakni pengalaman akan hal yang sublime.

Kami tidak ingin menyebut diri sebagai filosof dengan pengalaman keseharian, tapi penulis meyakini bahwa setiap pengalaman yang mempunyai kedalaman memiliki sisi filosofis. Pengalaman yang berserakan dihadirkan menjadi sesuatu yang utuh dalam rentetan kata-kata. Kami pula meyakini bahwa tutur perlu untuk dituliskan agar ia tidak terlupakan dan berlalu begitu, agar ia “abadi”, sehingga besar harapan kami bahwa kehadiran buku sederhana ini dapat berkontribusi di setiap ruang dimana ia hadir.

Penulis menyadari bahwa rekam jejak dalam buku ini, mungkin “ada yang retak”. Karena bermula dari ide-ide yang tidak utuh dan sederhana serta berserakan, yang diperoleh dari pertautan penulis dengan habitusnya. Ide dalam buku ini jauh dari kesempurnaan karena ide memang tidak pernah utuh sebab ide yang utuh petanda stagnasi. 
Sebagaimana  judul buku ini: Jejak Dunia yang Retak.
Mengapa dunia Retak ?

Dunia adalah tempat kita hidup, namun dunia tak mesti dipahami sebagai entitas yang taken for granted hasil kreasi Tuhan, tapi dunia juga dapat dipahami sebagai perwujudan pengalaman manusia terhadap apa yang sedang dihadapi. Realisasi daya kreasi manusia terhadap alam yang didiami, dengan membentuk realitas baru yang belum tercipta sebelumnya. Maka dunia di sini bukanlah dunia yang diterima begitu saja, melainkan hasil karsa dari keterlibatan manusia sebagai subjek dengan dunia.

Pada momentum inilah kehendak manusia sebagai subjek memiliki peran, berusaha mengartikulasikan harapan dan cita-citanya untuk dibumikan menjadi hal yang kongkret. Namun pada zaman sekarang, kata Henri Levebre, tak ada ruang yang absen dari politik, dan kita pun tahu kapitalisme dengan peran politisnya banyak mendominasi kehendak umum manusia. Membentuk kesadaran massal berdasarkan agenda-agenda politis dalam rangka memonopoli dunia, yang pada akhirnya manusia kehilangan kehendak dasarnya, tergantikan dengan nalar kapital yang diinternalisasi berdasarkan permainan sistem yang berkelindan melalui hegemonisasi. Maka dari itu, dunia tak lagi milik Tuhan semata, melainkan harus berbagi jatah dengan kapitalisme, “tuhan” era modern.

 Dunia yang retak adalah dunia yang terkonstruk oleh subjek, di mana nilai kemanusiaan telah terkikis. Dunia yang memposisikan manusia layaknya mesin, dengan kata lain manusia tidak lebih dari struktur materi semata. Keretakan dunia dinikmati begitu saja tanpa sebuah jeda untuk interupsi dan melihat kembali, lalu bertanya. Apakah dunia ini sudah berjalan sebagaimana semestinya?. Dunia yang retak mungkin seperti yang disinyalir oleh Anthony Giddens sebagai dunia yang tunggang-langgang; lepas kendali.

Kumpulan tulisan ini, hendak merekam jejak retakan yang dianggap lumrah yang sebenarnya bukan hal yang biasa. Kehadiran buku ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah menemani, memberi serta berbagi pengalaman kepada kami. Kepada kedua Orang tua dan Keluarga. Kepada para mentor; Ahmad Syauwq, Sulhan Yusuf, Hamzah Fansury, Ipal, ustad Zainal (Alm), yang banyak mengajari kami untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kepada Sahabat; Sabara Nuruddin, Alto Makmuralto, Waliyul Hamdi, Muhammad Nur, Syamsuriadi Tambur, Safaruddin, Arman Syarif, Joe Fals, Rahmat Zainal, Idham, Sasli, Andi lambau, Ilman Derajat, Juned, fery Fefrika, Rido, Zainal As’ad, Bahrawi Zakaria, Adhy Manyipi, Ashari Burhan, Sukaina Nainawa, Asranuddin Pattopoi serta teman-teman yang tidak sempat disebutkan satu persatu, pastinya bahwa kehadiran kalian menemani kami berdiskusi, bercanda, menertawakan hidup itu sangat berarti.

Kepada anak-anak LDSI Al-Muntazhar yang sedang menanti, Komunitas Maya Tanah Merah, Komik, Muqaddimah, Madipala FIP UNM, LKIMB UNM, HMI (MPO), Paradigma Group, BEM dan MAPERWA UNM, SMART EM. Terima kasih khusus untuk mas Eko Prasetyo dan Daeng Dul Abdul Rahman atas kesediaanya memberi prolog dan epilog pada buku ini.   

Wassalam,
Makassar, 30 April 2012

19 Juni 2012

Merawat Keberanian Anak Muda[1]

Prolog
Eko Prasetyo[2]



Barangsiapa diam di hadapan kezaliman maka dia menjadi seolah-olah seorang iblis
(Rasulullah SAW)

Hal terbaik yang dapat anda lakukan untuk orang lain bukan sekedar berbagi kekayaan Anda, melainkan membuatnya menyadari kekayaan dirinya (Benjamin Disraeli)

Kita tahu apa yang paling berharga di masa muda. Petualangan dan keberanian. Nyala keberanian itu yang membawa Che Guevara menuju Kuba. Bersama Fidel Castro dilintasi lautan dan belantara hutan untuk sebuah cita-cita yang mungkin agak nekad: kekuasaan yang bersendi keadilan. Dunia sebut perjuangan itu sebagai sosialisme. Sebagian dengan antusias memberinya julukan komunisme. Apapun itu kini Kuba berdiri dengan penuh martabat: angka melek hurufnya paling tinggi, jaminan kesehatan penduduk paling ampuh dan yang terpenting minim hutang luar negeri. Castro tua itu masih menyimpan bara semangat anak muda; diejeknya Obama dan dipujinya Hugo Chavez.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...