Tampilkan postingan dengan label Pramoedya Ananta Toer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pramoedya Ananta Toer. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2017

Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Albert Camus, et.al.

"Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya." Oktavio Paz 
"Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan." Gabriel Garcia Marques
Saya harus segera menuliskan ini: menulis itu pekerjaan yang begitu melelahkan, bahkan menyulitkan pikiran. Perasaan ini seketika saja muncul dalam benak saya ketika membaca buku Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, buku yang diterbitkan Oktopus dari Yogyakarta. Menulis bukan hal gampang seperti yang pernah dikatakan Pramoedya bahwa jika ingin menulis ya menulis saja. Kalimat ini memang terasa satire keluar dari orang sekaliber Pram. Apalagi sangat gampang bagi Pram mengucapkannya dengan beragam pengalaman semasa hidupnya jika dibandingkan dengan waktu sekarang. Menulis memang di satu sisi bukan bakat yang secara natural  dimiliki oleh kita seperti saat kita pergi di hutan dan kemudian mampu beradaptasi. Atau seperti anak lembu yang seketika mampu berjalan sedetik ketika ia keluar dari perut ibunya. Menulis, ketika membaca beberapa pengalaman dari penulis-penulis dunia yang disampaikan buku ini nampak sebagai pekerjaan orang-orang yang mau dan rela menghabiskan banyak waktunya untuk menghargai gagasan-gagasannya. Sebenarnya pertanyaan pentingnya apa yang indah dari menulis, ketika di waktu yang bersamaan seseorang bakal menjalani waktu yang panjang, pinggang yang encok, mata yang terpapar udara siang malam, debu-debu yang bertebangan, dan kehilangan banyak energi berbulan-bulan?  Apalagi apa yang bisa didapatkan dari pengalaman seseorang yang sebenarnya tak bisa dipertukarkan begitu saja. Pengalaman seseorang adalah peristiwa yang unik dan berbeda. Dia tak bisa dibagi untuk siapapun. Yang bisa dilakukan hanya menyampaikan cerita atas pengalaman itu sendiri. Sebab pengalaman hanya mampu terjadi selama sekali. Mungkin karena itu tidak semua penulis dunia mau menceritakan pengalamannya ketika menulis. Bukan karena itu adalah peristiwa yang tak memiliki sisi sosial, melainkan menurut saya pengalaman setiap penulis yang dikenal dunia memiliki sisi lain yang menyakitkan. Sisi yang mengundang memori yang sudah lama dipendam. Akibatnya, kita hanya mampu menebak-nebak kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hati para penulis-penulis besar selain daripada keinginan mereka untuk bersuara? Barangkali yang indah dari pengalaman menulis penulis dunia adalah –sudah tentu- adalah kesempatan yang kita miliki untuk membaca karya-karya mereka. Banyak ragam kemungkinan yang mungkin akan terjadi dari kepala sang penulis dengan karya yang sudah mereka lahirkan. Berawal dari gagasan sederhana yang mereka miliki, sudah pasti bakal banyak godaan dan hambatan yang bakal mengganggu proses kreatif sampai lahir karya mereka –coba kita bayangkan bagaimana seorang penulis yang harus diusir dari negaranya hanya karena aktifitas menulisnya dan mendapatkan pelbagai jenis siksa psikologis dan sosial. Selama jarak itu masih ada, maka penghargaan terhadap karya-karya mereka patut kita hidupkan dengan cara membacanya, mendiskusikannya, mencatatnya, atau kalau perlu mengkritiknya. Dengan cara itu maka makna kelestarian dari suatu karya tulis menjadi bukan saja tanggung jawab seorang penulis, melainkan juga menjadi tugas bersama para pembacanya. Menulis mungkin saja adalah bagian yang paling intim di hati setiap penulis. Sebagai suatu keadaan spritual. Paulo Coelho bahkan menyebutkan dirinya sempat terperangkap di dalam tulisannya sendiri. The Alchemist akhirnya menyelesaikan bagian akhirnya dengan menuntun penulisnya larut di dalamnya. Kata Coelho, buku itu yang menyelesaikan sendiri bagian akhirnya. Pengalaman semacam ini yang tidak mungkin dibagi kepada setiap orang. Pengalaman yang hanya dimiliki satu orang di jagad raya ini. “Pengalaman manusia yang esensial”, kata Jorge Luis Borges, yakni pengalaman penulis yang memerlukan kesendirian, dan dia dapat mengambil tempat di dalamnya. Itulah sebabnya setiap penyair dan filsuf misalnya, kata Foucault, “tidak terbentuk dengan cara yang sama”. Tapi kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling berharga. Toh jika pengalaman dapat juga dirasakan bagi dua orang yang berbeda dan tidak saling mengenal, cara Betrand Russell mungkin patut dicoba: meniru gaya menulis penulis yang disukai. Walaupun dalam waktu yang lama dia menyebutkan si penulis yang memfoto copy gaya penulis idolanya akan berhadapan dengan dilema ontensitas dirinya. Di titik inilah maka seseorang harus siap mengambil sikap untuk mencari gayanya sendiri. Di titik ini pulalah, toh jika menulis itu indah, maka tidak ada makna apapun yang sama tentang kata indah itu sendiri. Kemungkinan besar, itu semua akibat setiap penulis lahir dari kesendiriannya masing-masing.

01 Agustus 2017

Pramoedya Membakar Sampah




“Perang, kekuasaan, kekayaan, seperti unggun api dalam kegelapan dan orang berterbangan untuk mati tumpas di dalamnya.”

“Sejarah saya sejarah perampasan.”

--Pramoedya Ananta Toer

Sampai masa tuanya, Pramoedya Ananta Toer masih meneruskan kebiasaan membakar sampah di pagi dan sore hari. Bahkan kebiasaan ini sudah dilakoninya semenjak ia kecil. Sudah semenjak jaman pendudukan Jepang.

Di rumahnya di Bojonggede, kebiasaan itu dilakukannya dengan bebas. Maklum, di rumah sebelumnya, di Utan Kayu, Pram kurang leluasa melakukannya akibat khawatir mengganggu tetangga.

Di Utan Kayu, sering kali warga setempat melihatnya berjongkok sambil menatap berlama-lama api yang membakar habis sampah.

“Sebagai tetangga, kebiasaan dia itu selalu membakar sampah dengan bertelanjang dada, dan merokok. Sampah siapa saja selalu dikumpulkan, lalu dibakar. Itu yang saya ingat betul”, ungkap Erry Ryana Hardjapamekas, tetangga Pram saat di Utan Kayu.

Potret Pram ketika sedang membakar sampah pernah saya lihat di majalah dewasa Playboy Indonesia. Potret itu menampilkan tubuh Pram yang kurus dibalut kaus oblong berwarna putih polos. Rambutnya memutih dengan kaca mata yang bertengger di atas hidungnya. Tangan kanannya mengapit sebatang rokok. Kala itu dia berjongkok menggunakan sarung bermotif kotak-kotak.

Kebiasaan Pram ini sebetulnya adalah rutinitas yang dimulainya sejak pagi belum merekah. Sejak pukul dua dini hari Pram bangun. Membaca koran dan memilih-milih berita yang menurutnya layak disimpan. Kliping memang pekerjaan di hampir seumur hidup Pram semenjak bekerja di kantor Domei. Bahkan dari kebiasaannya itu ia memiliki rencana membuat ensiklopedia Indonesia. Pekerjaan yang akhirnya tidak pernah rampung sampai akhir hayatnya.

Sebelumnya, di waktu yang hampir bersamaan, Pram membuat catatan dari koran yang dibacanya. Dengan menggunakan mesin tik, rutinitas itu dilakukannya hingga pagi. Pukul tujuh kemudian ia beristirahat, setelah membaca koran pagi.

Membakar sampah bagi Pram mungkin memang peristiwa yang subtil. Bahkan sublim. Di situ apapun yang dijilati api bakal menguap menjadi asap. Menghilang mengapung di udara. Persis perwatakan dunia yang menggambarkan suatu proses perubahan.

“Untuk meluapkan emosi. Apalagi dia bakar sampah sampai habis tak bersisa. Itu kepuasaan buat dia,” kata Astuti Ananta Toer, putri keempat Pram.

Keakraban dengan api tidak secara kebetulan dekat dengan hidup Pram. Orde baru banyak membakar buku-bukunya. Dan  jika bukunya lolos dari pantauan pemerintah, orang-orang mesti sembunyi-sembunyi membacanya.

Dua bagian Panggil Aku Kartini, dan dua bagian Gadis Pantai adalah beberapa contoh dari karya Pram yang dihanguskan api orde baru.

Dalam hal ini, bagi Pram, api bisa memiliki arti yang jauh lebih kompleks. Ketika naskah-naskahnya dibakar, itu berarti sama halnya melarangnya menggunakan pikiran-pikirannya. Api secara harfiah memiliki daya untuk membuat beda antara terang dengan gelap, tapi justru nyala pijarnya secara kontradiktif membakar habis tanpa sisa segala apa yang disentuhnya.

Nasib Pram ibarat suatu ironi ketika di satu sisi api kekuasaan melumat dirinya, sekaligus di sisi lain mengangkat namanya menjadi pokok dalam benak setiap pembacanya.

Atau sebaliknya, hasil yang malah diraihnya hingga akhir hidupnya ibarat olok-olok bagi buah tangan dan pijar api pikirannya. Karya-karyanya dipuja di luar bangsanya sendiri, tapi tidak sebaliknya. 

Itulah barangkali peristiwa membakar sampah, di masa tua Pram menjadi semacam adegan yang dramatis. Berlama-lama di hadapan lidah api, menatap terang sekaligus menghayati benda-benda yang hilang di dalamnya.

Suatu permenungankah itu? Yakni suatu sikap puncak dari pengalaman hidup yang getir di hadapan nasib yang penuh ironi? Atau mungkin suatu suwung?

Yang pasti seperti yang ia katakan, sudah tak ada lagi hal apapun yang diinginkannya. Tidak ada apa-apa. Sejarah saya sejarah perampasan, katanya ketika di wawancara Playboy.

Begitu juga dendam. Atas perlakuan kekuasaan orde baru terhadapnya, dia hanya mengatakan ibarat latihan olahraga. Mungkin seperti permainan. Kalah ya kalah, menang ya menang. Yang utama apa yang ditemukan dari permainan, tubuh dan jiwa menjadi lebih kokoh. Dendam hanya merusak keduanya

Karena itu untuk apa memelihara dendam. Memelihara api dalam benak, apalagi dalam jiwa.

Api jika berarti bagi Pram mungkin dapat disebut sebagai suatu alat untuk melangkah ke alam baka. Sesuatu yang diartikan secara eskatologis. Seperti sampah, tubuhnya akan hilang ditelan di dalamnya.

Seperti pengakuan sahabatnya yang juga penerjemah Das Capital, Oey Hay Djoen, mengatakan, Pram sempat berpesan kelak ketika ia mangkat, jasadnya minta dibakar dan abunya ditebarkan ke penjuru bumi persada.

Namun seperti yang telah terjadi, jasadnya dikuburkan  di TPU Karet Bivak dengan diiringi banyak orang, terutama kaum muda, yang saat itu melepasnya dengan lagu perjuangan mahasiswa Darah Juang.

27 Februari 2016

Menyoal Plagiarisme

Saya mulai risau. Soal plagiarisme. Dua hal yang bikin jadijadi. Pertama janganjangan sebagian besar karya tulis saya plagiat. Kedua, bisa jadi di luar sana banyak yang curi tulisan saya. Tapi, yang bikin akut, soal pertama. Apalagi kalau itu dilakukan dengan kesadaran penuh. Gawat.

Tempo hari sudah ada diskusi. Menyoal plagiarisme dan pencuri bahasa. Saya tak tahu apakah dua konsep itu berbeda. Saya tak sempat tanyakan. Atau mungkin itu punya arti yang sama. Kalau iya, jadi itu hanya soal teknis judul saja. Suatu teknik promosi.

Inti diskusi itu yang jadi perkara. Apa itu plagiarisme? Sejauh apa batasannya? Bagaimanakah bentuknya? Seperti apa jenisnya? Siapasiapa pelakunya? Siapa korbannya? Bagaimana plagiarisme dilakukan? Pada tekskah? Simbol; ide; gagasan? Atau niat barangkali?

Kalau mau dipersoalkan lebih jauh bisa berupa, bagaimanakah plagiarisme masuk dalam wacana ilmupengetahuan? Siapa yang berkepentingan di dalamnya? Apakah ini soal wewenang? Soal hak cipta? Sejauh manakah suatu karya disebut memiliki hak cipta? Lantas untuk apa hak cipta itu sebenarnya?

Pasca diskusi itu juga jadi soal. Banyak yang belum jelas betul. Termasuk perkara etik. Kejujuran.

Omongomong soal kejujuran, terutama soal ide, saya agak ragu kalau saya punya wewenang mau sebut itu murni karya saya. Banyak tulisan saya hasil replika atas karya orang lain. Apalagi itu karena didorong oleh gagasan yang saya daur ulang. Kalau sudah begitu, saya berjagajaga dari pelbagai prasangka: saya sematkan nama atau dari mana saya dapat ide yang dibilang. Aman.

Di Indonesia pernah jadi soal dalam sejarah kesusastraan. Misalnya, sebagian karya Chairil Anwar yang dianggap saduran dari beberapa karyakarya Willem Elsschot, Archibald MacLeish, E Du Perron, John Cornford, Hsu Chih-Mo, Conrad Aiken, WH Auden. Beberapa ahli bilang, kalau beberapa karya pelopor angkatan 45 ini hanya berupa peralihan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Juga kasus “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” Buya Hamka yang disinyalir mengikuti cerita Musthafa al-Manfaluthi berjudul Magdalaine. Ini pernah ditulis Seno Gumira Ajidarma tahun 2008 yang dimuat di Kompas, Senin, 9 Juni.

Bahkan, sempat juga jadi buah bibir, atau sampai bikin ribut, karya Seno sendiri "Dodolidodolitdodolibret" yang jadi pemenang cerpen terbaik versi Kompas 2011. Walaupun di akhir tulisannya, Seno sudah mewanti cerpennya hanyalah versi ulang sendiri dari ceritacerita agama, namun tetap saja jadi soal, plagiatkah Seno? Cerita yang ditulis Seno sendiri juga ada yang mengaitkan dengan karya Leo Tolstoy karena kemiripan cerita dan plotnya. Lantas kalau sudah begini, apa soal?

Dari soal itu berkembang dua problem subtansial. Pertama tentang keorisinalitasan pengarang. Kedua, soal kematian pengarang. Yang pertama menyoal keagungan pengarang. Yang kedua mau bilang kalau pembaca punya posisi penting dalam menentukan kebesaran pengarang.

Orientasi problem pertama akan krusial jika diajukan kepada pertanyaan seberapa pentingkah sang pengarang dalam problem plagiarisme. Apakah karya yang rusak akan mempengaruhi kredibilitas sang pengarang? Ataukah itu akan jadi lain jika sudah terjadi pemutusan antara sang pengarang dengan karangannya seperti diorientasikan problem yang kedua.

Dua problem di atas hanya soal. Boleh jadi sudah jadi buah bibir. Apalagi wacana. Kalau yang terakhir baik jadi urusan para scholar. Agar jelas. Biar tuntas.

Sudah sering saya dengar kasus plagiarisme. Apalagi kejadiannya di pucukpucuk peradaban; kampus. Ini miris. Plagiarisme jadi lakon intelektual. Saya kira pasalnya bukan soal pengetahuan semata, tapi etika intelektual.

Soal etika intelektual juga soal iklim intelektual. Banyak kasus plagiarisme tumbuh karena tidak ditunjang iklim yang baik. Contoh kecil ada beberapa kawan yang saya tahu melakukan plagiarisme karena hidup di iklim intelektual yang buruk. Saya duga mereka melakukan itu karena tidak ditunjang wawasan literasi yang baik. Akibatnya mental meniru sudah jadi budaya.

Mental meniru saya kira sudah jadi urusan bawaan yang integral dari bangsa pasca kolonial. Banyak ahli menyitir soal mentalitas bangsa bekas jajahan. Hampir semua lini jadi medan tiruan. Semuanya hasil jiplakan. Yang soal kalau tidak ada proses daur ulang di dalamnya. Tidak ada usaha refleksi disertakan. Makanya mandiri itu penting. Mau mengambil apaapa yang dipunyai. Mengolahnya jadi hal yang baru. Dengan usaha sendiri, tenaga sendiri.

Jenis plagiarisme bisa berlapis. Lapis paling ringan ada yang bilang plagiarisme minimalis. Model ini ditampakkan dengan cara mengambil ide, gagasan, atau pikiran melalui pengungkapan bahasa yang lain, bahasa yang berbeda. Ini masih diragukan apakah masuk kategori plagiasi.

Yang kedua, plagiat jenis parsial. Model ini memadukan beberapa sumber dengan penggabungan menjadi bentuk baru. Walaupun ada ada unsur kreatifitas di dalamnya, tapi tetap tidak mengubah konten.

Plagiat berat adalah plagiat yang paling gampang ditemukan. Bahasa, ide, ataupun gagasan tak berubah sama sekali. Plagiator hanya memindahkannya belaka. Tanpa menyebut dari mana sumbernya. Ini model yang sering banyak orang lakukan.

Plagiasi saya kira bisa jauh ditarik di masa mitosmitos. Mitos Prometheus saya kira contoh bagaimana plagiasi atas ide ilmupengetahuan diwartakan. Atas nama ilmupengetahuan, Prometheus dikutuk karena mencuri api pengetahuan dewa tertinggi sebelum membagibagikannya kepada manusia. Akibatnya Prometheus dikutuk seumur hidup. Sanksinya abadi berupa cabikan patukan burung nasar di hati dan jantung bertahuntahun lamanya.

Plagiasi Prometheus adalah aksi pemberontakan. Tindakan yang diarahkan untuk melawan dominasi dewadewa. Pencuriannya dilakukan atas dasar semangat pencerahan kepada umat manusia. Dari kacamata dewadewa, Promotheus adalah pencuri ilmupengetahuan, tapi di mata manusia, dia adalah pahlawan yang memberikan terang cahaya ilmu.

Saya khawatir di balik pelarangan plagiasi, ada dominasi yang ingin kukuh berdiri. Suatu sistem yang butuh pengakuan. Wewenang yang tak ingin bergeser. Jadi ini hanya seolaholah soal orisinalitas, soal sumber, ide, gagasan, yang semuanya dijunjung untuk satu tujuan; kekuasaan.

Tapi, itu hanya dugaan saya saja. Sampai di sini plagiasi, yang berarti menculik itu, semua orang sepakat adalah tindakan yang sewenangwenang. Aktifitas kejahatan yang tidak etis. Kalau saja, ini hanya soal siapa dahulu menemukan apa, siapa yang lebih orisinal, dan dari mana ide gagasan itu ditemukan, saya kira tidak sesederhana itu plagiarisme.

Plagiasi jadi genting kalau memang suatu komunitas sudah melek literasi. Itu mengapa plagiarisme jadi marak, soalnya literasi di sekitar kita belum jadi obrolan. Belum jadi yang penting.


15 Februari 2016

pentingnya kesadaran berbahasa

Elemen penting hidup itu bahasa. Tanpa bahasa tidak ada kesalingpengertian. Tidak ada makna yang bisa dipertukartangkapkan. Bahasa kalau mau dibilang adalah elemen sosial yang mengikat identitas menjadi satu kesatuan.

Bangsa Indonesia sudah membuktikan itu. Anakanak muda yang sadar bahasa saat itu melihat bahwa perjuangan tidak saja membangun tujuan dan citacita yang sama, tapi harus dimulai dari cara pengungkapan yang sama melalui bahasa. Karena saat itu hampir semua komunikasi dipertemukan oleh bahasa Melayu, maka bahasa itu dipilih sebagai bahasa pemersatu.

Akan sulit membayangkan Bangsa Indonesia bisa merasai kemerdekaan tanpa kesadaran bahasa. Kala itu kalau saja kelompokk elompok daerah masih berpendirian dengan bahasa lokalnya, mustahil kemerdekaan dapat ditempuh. Kemerdekaan akan sulit diucapkan dalam ikatan bahasa yang sama. Karena itulah bahasa bisa dipakai sebagai kait pemersatu. Bahkan sebagai alat perjuangan.

Pekerja bahasa orang yang paling sering pakai bahasa untuk berjuang. Berbeda dari profesi lain, pekerja bahasa punya semacam kesadaran yang mampu menyulap bahasa jadi lain. Sebut saja misalnya Pramoedya Ananta Toer, yang punya kemampuan membangun sejarah Indonesia dari bahasa yang ditulisnya jadi novel.

Tidak sekedar menulis, lewat bahasa, Pramoedya ingin menunjukkan bahwa betapapun perjuangan telah berlalu, di dalam bahasa tak ada kata selesai. Di dalam bahasa tersemat kesadaran yang bisa terus ditarik jauh ke kedepan selama orang masih ingin membaca. Karena itulah muncul frase yang banyak dikutip orang, menulis itu bekerja untuk keabadian.

Harusnya bukan sekedar tulisan yang jadi perhatian. Orang sering salah kaprah ketika menulis berarti sudah berkerja dalam keabadian. Tapi, makna, pesan apa yang ditulis. Pram bukan mau bilang menulislah, perbanyak hurufmu sepanjangpanjangnya, karena itu kau akan abadi! Bukan, sesunguhnya bukan itu, melainkan makna apa yang bisa kau pertahankan di dalam sanubari orangorang. Pesan apa yang bisa membangun kesadaran orangorang. Bukan panjang tulisan yang mudah hilang.

07 Maret 2015

madah empatpuluhlima

"Saya belajar dari Maxim Gorki yang betulbetul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semuanya berubah dan bergerak" Pramoedya Ananta Toer.

Semenjak rumahnya kedatangan orangorang asing. Syahdan, semua berubah menjadi berbeda: dunia dipandang sebagai tempat di mana niat mesti diperjuangkan. Pelagia Vlassov menjadi perempuan yang berubah. Ia menjadi seorang ibu yang tegar hadapi dunia yang karutmarut.

Semangatnya membuncah penuh getar untuk bertindak. Perempuan yang awalnya jadi korban kekerasan rumah tangga akhirnya tahu, bahwa perempuan tidak dinubuatkan untuk mengembik.

Dunia yang dilihatnya hanyalah keadaan yang sudah terlembakan berabadabad lamanya, dengan kekerasan, kemiskinan, kerja rodi, mabukmabukkan, sontak berubah. Di balik matanya yang biru: dunia memang tak seharusnya menjadi kalap.

Keadaan itu berubah semenjak anaknya, yang aktivis buruh, menjadikan rumahnya tempat pertemuan tersembunyi. Anaknya, Pavel, memang seorang aktivis buruh. Bersama temantemannya, dirumah sudut perkampungan di atas sebuah tanggul, perbincangan Pavel bersama temantemannya menyadarkan Pelagia Vlassov tentang arti sebenarnya keadaan yang mereka alami.

Saat itu memang Rusia adalah negeri yang sedang menyambut awal abad dua puluh. Sebagaima Eropa, industrialisasi gencar. Sulingsuling pabrik ditiap paginya sudah bunyi membangunkan kaum buruh untuk bekerja. Asapasap mengepul membungbung. Di bawahnya, kaum pekerja harus bangun dengan tuntutan kerja atas tenaga yang mereka miliki.

Dengan cara itulah Pelagia hidup. Wanita empat puluh tahunan dengan tubuh yang sedikit bungkuk harus bekerja dengan suaminya yang berperangai kasar sebagai montir di sebuah pabrik. Juga anaknya Pavel yang pendiam.

Begitulah Maxim Gorki dalam novelnya, Ibunda, membangun sebuah sketsa cerita. Suatu kehidupan seorang Ibu dan anaknya yang sadar untuk memotong rantai nasib yang tak melar berabadabad. Di ceritanya itu, Gorki, melalui Pelagia, ingin membilangkan bahwa seorang ibu yang memiliki satu bilik di dalam rumah, juga bisa turut mengambil sikap perjuangan atas keadaan yang timpang.

Sebab itulah barangkali Pram terkagumkagum. Gorki nampak mengguncang tiang pancang suatu rumah, dan membuatnya berubah dan bergetar.

"Rumah" dalam kalimat Pram bisa berarti banyak hal. Tapi, sebagai suatu tempat di mana kesadaran dan tubuh dipertautkan, rumah adalah ruang tempat semuanya mesti sejenak rehat. Di sana, di rumah, kita berhenti untuk bertindak, sebab fungsi rumah adalah tempat tenaga dan pikiran dipupuk. Rumah, adalah ruang yang dibangun untuk menyediakan tempat aman dan rasa tentram ditemukan. Di rumah, semuanya akhirnya jadi normal.

Tapi kata Pram, Gorki datang untuk mengguncangkannya. Tiangtiangnya tiba untuk digetarkan agar semua berubah dan nampak berbeda. Rumah, dalam arti stage yang sudah selalu kokoh bagi landasan pandangan dan keyakinan kita, akhirnya barangkali memang mesti dipugar. Sebab, yang kokoh biasanya akan kehilangan sesuatu yang bisa membuat orang bisa peka. Yang kokoh, kadangkadang memang tak selamanya sudah sempurna.

Maka itulah suatu guncangan bisa membuat semuanya berubah. Dalam Ibunda, Pelagia mengalami itu dari pertemuan anaknya Pavel dengan temantemannya. Di saat ia menjamu tamutamu anaknya, terbukalah pintu rumah jiwanya. Ia banyak mendengar kata asing dan pemikiran asing yang nampak baru dan membingungkan.

21 Februari 2015

madah tigapuluhdua

Undian itu dilakukan dengan sut. Lingsang dan pasukannya mendapat kehormatan jadi ujung barisan yang akan memasuki Kutaraja dari selatan. Di belakangnya akan menyusul pasukan Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca…

Begitulah prosesi awal perang dikisahkan dalam Arok Dedes. Membaca fragmen cerita itu, kita akan segera tahu, tentang sebuah peristiwa jatuhnya kekuasaan seorang raja sekitar 1220 masehi. Saat itu, di Nusantara, dikisahkan Pramoedya Ananta Toer, Tunggul Ametung akhirnya mati bersimbah darah. Dan dalam lakon rajaraja, bersimbah darah berarti cara heroik untuk mati.

Tapi, di luar itu sebenarnya ada peristiwa yang lebih heroik. Jauh di luar jangkauan raja Tunggul Ametung, sebuah skenario kekuasaan sesungguhnya telah disusun rapi jauh hari tanpa sisa adegan yang kosong. Melalui tangan Buto Ijo, Arok, melalui peran yang panjang akhirnya menjelma kekuatan yang menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung.

Dan dari serangan itu, sejarah akhirnya mencatat, di saat itulah kudeta pertama terjadi di Nusantara.

Jika ada kekuasaan yang diceritakan tanpa menyisihkan intrik, barangkali Pramlah orangnya. Dalam Arok Dedes, sebuah naskah yang ia tulis di pulau Buru, barangkali ingin menjangkau ruang kesadaran banyak orang, bahwa kekuasaan sebenarnya dibangun bukan dengan cara yang langgeng dan sepi muslihat. Kekuasaan justru di tangan Pram, dikisahkannya adalah poros yang mudah keropos oleh intrik.

Melalui kisah Arok Dedes, Pram barangkali ingin membuka suatu tafsiran baru di sekitar kekuasaan. Bahwa, kekuasaan sesungguhnya adalah sesuatu yang tak stabil dan mudah retak. Di sini ada yang nampaknya sama sekali menyelisih dari adat kebiasaan. Apalagi dominasi cara memandang kekuasaan yang selalu ditautkan dengan hal ihwal berbau teos. Kekuasaan, seperti yang ditampilkan Pram dalam lakon Arok Dedes, adalah kekuasaan berwajah politik, bukan yang mitologik dan teologik. Artinya, kekuasaan itu mudah dihimpun juga diguyah selama intrik diberlangsungkan.

Juga bahwa politik sebenarnya adalah bagaimana kekuataan harus disusun dan dirombak. Yakni kekuatan bilamana ingin berhasil, selama disusun dan dirombak harus bermain pada semua lingkaran kelompok. Dan dalam lakon politik suatu rencana harus menyeimbangkan kekuatan di antara beragam kepentingan di sekitar kekuasaan.

Dengan cara itulah Arok memainkan perencanaannya. Seorang pemuda pelajar yang berhasil menghimpun kawula dan elit terdidik, serta kekuatan militer untuk menggerakkan sebuah perlawan terhadap Tunggul Ametung.

Barangkali, Pram juga ingin bermaksud bahwa politik sebenarnya adalah keadaan yang tanpa pusat. Sebab kekuatan sebenaranya bisa muncul dari mana saja selagi sebuah keadaan terlampau sesak oleh himpitan kekuasaan. Dan yang dibutuhkan sebenarnya adalah inisiatif yang cemerlang dalam bertindak dan membaca situasi yang serba mungkin.

Bila itu yang dimaksudkan, inisiatif sebenarnya adalah peran yang timbul tanpa lepas dari situasi yang kongkrit. Dalam arti ini, sebuah inisiatif lahir dari seorang subjek politik.

Slavoj Zizek, seorang filsuf abad 21, menyebut subjek politik adalah seseorang yang berperan radikal yang menerka keadaan dari segala ketermungkinan yang ada. Suatu yang disebut Zizek adalah “peran istimewa,” yakni suatu kemampuan dalam mengubah yang serba mungkin menjadi kekuatan yang menggerakkan. 

Dan Arok adalah orang yang melihat itu, menyusun dan memprediksi kekuatan mana yang kosong dan dapat ia manfaatkan menjadi kekuatannya. Ia seperti Sang Pangeran yang ditulis Machiavelli, orang yang menunggu dan bersikap di antara virtue dan fortuna.

Lakon kisah yang ditulis Pram ini, juga sebenarnya adalah bagaimana ia menjadi suara yang dibungkam di tengahtengah kekuasaan. Di pulau Buru, sebuah naskah sastra politik ditulis dengan kesadaran yang kental terhadap prosesi keberlangsungan sebuah kekuasaan saat itu. 

14 Juli 2014

rumah

Every writer has an address. Setiap penulis harus memiliki alamat. Ungkapan ini saya temukan ketika membaca Catatan Pinggir, Isaac Bahevhis Singger yang mengatakannya di sana. Atau ungkapan lain; seorang penulis pasti memiliki “rumah”.

Di sana Isaac menyatakan, penulis, atau orang yang akrab dengan dunia pemikiran, pastinya memiliki suatu latar belakang, suatu lingkungan pemikiran.  Dan “rumah” kata yang ia pilih. “Rumah” biar bagaimana pun adalah penanda sebuah lingkungan. Sebuah habitus.

“Rumah” adalah pengandaian dunia ideide, suatu ekosistem yang membangun gagasangagasan dengan konsisten. Suatu proses dialektis yang panjang. Di dalamnya bergerak lintasanlintasan pemikiran. Budaya dialog tumbuh berkembang.  Kritisisme jadi pengalaman bersama, hingga akhirnya menggempal suatu khas; identitas.

Seorang penulis memiliki “rumah”, seorang penulis memiliki identitas. Namun, bagaimana cara identitas, sebuah “rumah” terbangun? Isaac membaca sejarah Indonesia ketika tumbuh diparuh abad dua puluh. Rentang sejarah dengan gagasan besar, ramai dengan tokohtokoh besar, dan tentu peristiwa besar. Di sanalah bangsa menjadi sebuah pengalaman akbar, suatu “rumah” sejarah.

Dari pengalaman sejarah itu sebuah kebudayaan digerakkan. Sebuah visi tegak demi arah baru bangsa yang baru saja terwujud. Di pengalaman sejarah itu juga banyak perselisihan orangorang seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Taufik Ismail, dll., hingga perselisihan di antara mazhab kebudayaan Lekra dan Manifes Kebudayaan. Penggalanpenggalan inilah yang sedikit banyak membentuk frame dasar sebuah “rumah” Indonesia.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...