Tampilkan postingan dengan label Nietzsche. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nietzsche. Tampilkan semua postingan

23 September 2017

Sang Manusia dan Dua Paras Jiwa

LITERASI sufisme menarasikan kesadaran manusia ibarat puncak gunung es menjulang di atas permukaan laut. Yang tampak di permukaan hanyalah keping kesadaran yang menyimpan parasnya di bawah dasar lautan.

Paras tersembunyi di bawah permukaan laut itu, dalam literasi sufisme disebut sebagai jiwa.

Jiwa, secara ontologis dinyatakan sebagai pangkal kaki yang menggerakkan paras kesadaran di permukaan. Itulah sebabnya, banyak pendakuan sufisme menaruh kedudukan fundamental terhadap jiwa. Ketika jiwa itu baik, baik pula paras kesadaran di permukaan. Jika jiwa itu buruk, buruk pula penampakkannya.

Literasi Quranik, mengamsalkan jiwa sebagai wadah mangkuk terbalik. Di dalamnya, terpancar misykat. Misykat, wadah “yang Ilahiat” memancarkan asmanya. Pancaran asmanya disebut  al Qur'an merentang di sepanjang arah ke timur maupun ke barat. Barang siapa mengotori misykatnya, pancaran “yang Ilahiat” bakal putus dan terdistorsi. Sebaliknya, barang siapa menjaga  kebersihan misykatnya, ibarat bening kaca, benderang pula  “yang Ilahiat” memancar ke permukaan.

Paras kesadaran dengan begitu dalam dalil-dalil sufisme bergantung dari situasi kejiwaan. Jiwa-lah induk kesadaran. Tiada kesadaran yang baik tanpa keberadaan jiwa yang baik.

Rumusan serupa dapat ditemui pula dari pemikiran seorang pencetus psikoanalisis, Sigmund Freud. Semenjak membantah dalil-dalil kesadaran Cartesian, Freud sebaliknya memperkenalkan libido manusia yang banyak mengintervensi kesadaran. Bagi Freud, kesadaran bukanlah satu-satunya faktor kunci pemahaman manusia. Libido-lah paling banyak menentukan kesadaran. Bahkan, kesadaran hanyalah citra libido yang bekerja diam-diam di bawahnya.

Libido menurut Sigmund Freud selalu bekerja berdasarkan prinsip kesenangan. Dia adalah pusat jiwa yang menghendaki hasrat segera mesti terpenuhi. Paradoksnya, kesenangan libido tidak serta merta dapat mencukupi kebutuhan dirinya. Dengan kata lain, libido adalah hasrat yang tidak akan pernah terpuaskan sampai kapan pun.

***

DUA kisah jiwa di atas sama-sama dialami manusia.  Jiwa-ilahiat selalu mengajak sang manusia kepada “keterikatan kepada yang suci.” Jiwa-ilahiat bahkan selalu mengajak manusia menemukan paras otentiknya di “ketinggian” puncak-puncak keadaban.

Sebaliknya, jiwa-libidinal merupakan “liang pasak” keinginan manusia agar rela bertungkuslumus di “kerendahan” lembah tak berdasar. Ibarat mulut sumur menelan apa saja tanpa diketahui seberapa dalam lubang yang dimiliki. Menyedot apa saja. Meringkus segalanya. 

Kisah manusia terjebak jiwa-libidinal tak bisa disepadankan dengan kisah yang diliterasikan tradisi sufisme. Sang manusia dalam konsepsi antropologi-filosofis sufisme adalah karakter manusia yang bersetia dengan ideal-ideal “jiwa-ilahiat”. Agama-agama menyebut manusia yang hidup dalam idealitas “jiwa-ilahiat” sebagai para nab-nabi utusan Tuhan.

Sebaliknya, kisah manusia terikat  jiwa-libidinal, adalah orang-orang yang melahirkan tragedi, dan mati sebagai orang yang dikutuk peradaban.

***

FRIEDRICH Nietzsche melalui Beyond God and Evil. Nietzsche mengucapkan suatu isyarat lahirnya tragedi manusia yang ditengarai hasrat yang dikandung diri manusia itu sendiri. Jauh lebih radikal dari dua kisah di atas, Nietzsche bahkan menyatakan manusia adalah mahluk yang menanggung tragedi semenjak asal keberadaan. Mahluk malang tanpa pegangan, kecuali  hasrat dirinya sendiri melahirkan tragedi untuk menguasai suatu segala.

Abad 21 ibarat identifikasi Nietzsche mengenai kondisi kehidupan yang melahirkan tragedi demi tragedi. Sang manusia mengalami banyak kekalahan demi kekalahan di hadapan totalitarianisme “rezim hasrat.” Bahkan manusia di era sekarang --meminjam rumusan Thomas Hobbes ketika berhadapan dengan konteks silam masyarakat Eropa: bellum omnes contra omnia, perang semua melawan semua.

Bellum omnes contra omnia dalam politik menandai kekuasaan adidaya tirani dan totalitarian menindas golongan satu atas golongan lain. Dalam ekonomi, hasrat merusak kemakmuran bersama melalui rezim pasar global. Dalam hukum, hasrat merongrong tatanan keadilan dan kejujuran. Dan dalam kebudayaan, akibat hasrat konsumerisme, manusia menjadi semakin terasing dari dirinya sendiri. Bahkan dalam agama, hasrat bagai sang raja secara imperatif harus diakui sebagai satu-satunya tuan kebenaran.

Dominasi hasrat, akhirnya, membuat sang manusia menjadi mahluk dengan kesadaran temaram. Sang manusia terombang-ambing kehilangan pegangan. Tanpa ada sandaran untuk mencandra kebenaran dan keutamaan. Dikotak-kotakkan diperdaya libido di semua lini kehidupan.

20 Februari 2015

madah tigapuluhsatu

Ludwig Nietzsche barangkali tak pernah menyangka, anaknya, yang ia persiapkan untuk menjadi seorang pendeta, suatu hari nanti akan mencipta kekalutan. Anaknya suatu hari nanti dengan niat yang mengebugebu, bersuara; tuhan telah mati. Sontak seluruh Eropa tersentak, seseorang telah membunuh tuhan. Seseorang telah membuat kalut orang beriman. Tuhan telah mati.

Dalam suatu metaforanya: "kemanakah tuhan?" Ia berteriak, "kubilang kepada kalian kita sudah membunuhnya. Kamu dan saya. Semua kita adalah pembunuhnya."

Nietzsche orang yang membenci moralitas budak itu, tentu tahu apa konsekuensi perkataannya. Tuhan yang telah mati berarti sama halnya menghapus iman yang mapan tanpa cacat. Tuhan yang dibunuh sama halnya membuat lubang besar dijantung keyakinan religius. Membunuh tuhan berarti meninggalkan segalanya dalam keburaman. Tak ada yang terang yang ditinggal Nietzsche selain kecacatan. Bahkan tak ada yang jelas; sebuah nihilisme.

Dan dari lubang yang ditinggalkannya itu, ia sadar, bahwa tuhan bukan segalanya.

Tuhan, yang diyakini, telah benarbenar tiada. Nietzsche ingin sebuah jalan tanpa tuhan, tanpa halhal transendental. Sebuah jalan yang tak ramai sesak oleh sabdasabda dan juga doadoa. Nietzsche ingin jalan yang milik manusia. Sebuah sikap non homo religious.

Dengannya Nietzsche ingin melabuh pada dunia yang bersih dari iman yang hipokrit. Suatu iman yang meneguhkan nilainilai kudus di suatu mimbar, tetapi membuat risau kemanusiaan atas nasib yang abai. Kepadanyalah segala iman dibunuh. Hidup sebenarnya adalah ziarah panjang yang tanpa hujung, tanpa pagar iman yang kudus.

Kepada yang ilahi ia menulis: "kita telah menonggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang..dan tak ada daratan lagi!"

Sebuah sikap atheismekah ini? Nampaknya ini yang sulit. Sebab Nietzsche menolak sebuah kategori yang serta merta ditautkan pada segala. Juga pada kebenaran. Apalagi suatu keimanan.

Kategori berarti di dalamnya mengandung suatu nilai. Berarti di sana sudah ada ukuran yang siap di letakkan. Dan menilai artinya membangun ukuranukuran. Namun, suatu ukuran bisa cacat ketika itu sudah selalu benar dan menyalahkan yang lain. Dengan kecatatan demikian, atas hak apa seseorang punya wewenang dalam menilai yang lain.

Sebab itulah Nietzsche mencurigai klaimklaim kebenaran; kebudayaan, tradisi, sains, moral atau bahkan agama. Bukankah sebenarnya kebenaran hanyalah dasar yang dibangun atas dasar perspektif? Kebenaran tiada lain hanyalah sudut pandang yang lahir dari situasi yang berbeda. Bahkan soal iman dan keyakinan.

Maka itu Nietzsche menginginkan iman yang lain. Iman yang telah dipugar dari bangunan keagamaan yang tak pernah gamang. Da sagen, sikap yang optimis ditengah ketiadaan nilainilai. Suatu arung tanpa ilahi. Bentang jalan panjang yang kepunyaan manusia sendiri.

Di sanalah manusia menerka hidup yang tak pernah lengkap atas titik akhir. Berjalan dengan lurus di dalam arus yang tak pernah diam. Bukan hidup yang terperangkap oleh nilainilai yang membuat diri semakin asing. Sebab adakalanya hidup sudah selalu fix oleh penafsir yang memancang batas. Maka di situlah sebuah kehendak sebuah arung dihujam, tepat pada iman hidup yang sudah selalu final.

Bukankah “Kita sudah membakar jembatan di belakang..dan tak ada daratan lagi"

16 Februari 2015

madah duapuluhtujuh

Suatu kota bisa jadi ruang yang begitu bising, tetapi barangkali justru asing. 

Kota, sudah jadi bagian dari sebuah skema kemajuan. Sejak suatu tempat tersentuh perencanaan pembangunan, maka di saat yang bersamaan di sana ada maksud untuk membangun keramaian. Tapi keramaian suatu kota, justru bukan dalam arti soliditas yang kolektif, melainkan justru adalah penanda betapa keterasingan adalah suatu hal yang kronik.

Suatu kota memang membikin asing. Suatu kota memang tak hendak untuk membangun suatu hidup yang hening.

Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah menyitir suatu hal yang subtil; keheningan dan kesepian. Kota menurut Heidegger adalah tempat yang tak mampu mencandra keheningan. Justru di desa, tempat di mana langit menjadi ruang yang bersih dari polusi, dan tanah yang lapang dengan ilalang, adalah dunia tempat keheningan akrab ditemui.

Keheningan disebutnya adalah kekuatan asli yang khas dari manusia. Sesuatu yang tak pernah mengisolasi diri manusia. Dengan keheningan, filsuf bertubuh gempal itu menyebut keheningan adalah media yang mampu memproyeksikan eksistensi. Keheningan adalah ruang yang beririsan dengan hakikat segala sesuatu. Suatu wesen, suatu inti.

Sebab itulah, Heidegger katakan orangorang kota sering heran terhadap orangorang petani, ibuibu pekebun, anakanak penggembala, yang hidup betah dengan lama jauh dari suara gemuruh kota. Oleh karena, di sana, di lerenglereng gunung, pinggir pesisir, di tengahtengah sabana padi yang kemuning, keheningan datang dan akrab membentuk sebuah identitas; masyarakat yang arif.

Barangkali inilah yang ingin dicapai para filsuf atau sufi. Suatu sikap yang tanpa pretensi dalam menjalani suatu nasib. Suatu mental yang disebut Nietzsche sebagai kearifan yang tak sombong terhadap alam kenyataan. Yakni tindak hidup aktif tanpa ingin memanipulasi alam kenyataan yang dihadapi. Suatu sikap yang hanif terhadap alam yang akbar.

Orangorang kota sepertinya tak sanggup untuk melakoni hidup tanpa pretensi. Sebab, hidup di dalam kota serba terencana, serba sistematis. Suatu hidup yang dibentuk oleh rasio yang instrumentalistik. Dari rasio instrumentalistik kenyataan diatur dan diprediksi atas efektifitas, efisiensi dan ketepatan. Maka itulah suatu kenyataan sudah harus fix dalam perencanaan yang matang. Sebagai suatu rencana yang matang, hidup akan menjadi arena yang saklek atas ketatnya rel yang telah ditarik lurus.

Sosiolog Prancis Emhile Durkheim melihat yang saklek itu sebagai penanda kota. Ia menyebutkan berawal dari bergesernya ikatan kultural menjadi normatif, solidaritas juga berubah. Ikatan solidaritas menjadi renggang oleh terciptanya spesialisasi yang menghancurkan gotong royong. Yang kolektif tibatiba dihancurkan atas solidaritas organis. Sehingga komunitas yang dipersatukan oleh ikatan komunal bersama, menjadi tatanan yang diatur atas individualitas. Akibatnya, pribadi desa dihapus menjelma pribadipribadi yang otonom.

Dari itu ada dua hal dalam kota; rasionalitas dan individualitas. Perencanaan dan pembagian kerja. Dari itulah kota tampak cekatan dalam merencanakan sebuah skenario. Di dalam suatu skenario tentu ada rasio yang istrumental mengefektifkan suatu rencana. Juga suatu rencana agar dapat efisien, maka suatu pembagian kerja mesti dilakukan. Dengannya, akhirnya kota menjadi tempat agenda pasar diberlangsungkan, kekuasaan diselenggarakan, dan kebudayaan dipertaruhkan.

Memang kota adalah manifestasi sebuah agenda dijalankan. Pusatpusat didirikan; kantorkantor, sekolah, rumah sakit, rumahrumah mewah, malmal, pusat hiburan, kebugaran, rukoruko, diskotik, pabrikpabrik dsb. Tapi di balik berdirinya temboktembok pusat, di sana juga menyisihkan dan membangun yang lain; kenangan dan keasingan.

Sebab itulah saya selalu senang sekaligus miris mendengar "ujung aspal pondok gede", lagu Iwan Fals itu. Dalam lagu itu ia bicara tentang perubahan, ia bicara tentang suatu rencana pembangunan, suatu keserakahan kota yang menyisihkan "wajah murung pribumi" dan "suara langkah hewan bernyanyi."

Dalam lagu itu ada yang dihidupkan sekaligus hilang begitu saja. Saya menjadi orang yang tibatiba sadar masa lalu, sadar terhadap kenangan masa kecil. Suatu saat ketika saya bermain di tanah lapang dan halaman masjid yang berdiri tak jauh dari rumah. Suatu sudut ruang atas kenangan yang sudah menjadi samarsamar sekarang. Suatu kenangan yang lamat dalam waktu dan hilang dalam ruang. Karena itulah sesuatu tempat bisa menjadi asing dari suatu kenangan.

Iwan Fals pandai sekali menuliskan momen semacam itu; tanah yang dulu tempat pepohonan tumbuh, pondok rumah yang berdiri hingga senja berganti malam, ruang mesjid tempat bermain, akhirnya menjadikan tanah tempat kenangan dibentuk, digilas "sebuah rencana dari serakahnya kota."

Sebab itulah kota menjadi tempat yang ramai dan bising. Sebab itulah orangorang kota sekaligus kesepian dan juga sebenarnya asing.


08 Februari 2015

madah duapuluh

Layla dan Majnun
Kisah cinta legendaris karangan Nizami


CINTA, seperti di waktu sekarang, zaman yang sudah tercemar sanasini, tidak seperti Layla dan Majnun melihatnya; sesuatu yang menggelora, sesuatu yang hendak digambarkan bahasa tetapi seperti tak sempat diucapkan dalam kosa kata yang hanif. Juga tidak seperti bagaimana ahli suluk menggambarkan cinta sebagai jalan tanpa pamrih dan absennya ego untuk menuju yang baka. Justru cinta, untuk seperti sekarang kalau tidak ditafsirkan dalam hasrat, malah menjadi hal yang justru mengerikan; pembunuhan.

Peradaban seperti yang dibilang Sigmund Freud, Psikoanalisis Austria, ibarat kekang kendali kuda yang diikat kusir. Peradaban di mata Freud tak sekalipun memberikan peluang di luar rasio dapat eksis. Tak ada lini kehidupan lolos dari rasionalitas. Manusia ditundukkan atas inisiasi rasio yang  menjadi cara kerja peradaban. Nietzsche menyebutnya, zaman yang dikerdilkan. Kebudayaan yang memuja formalisme seperti yang diinginkan manusia sebagai animal rationale. Kebudayaan yang disebutnya bermental budak ini, adalah kebudayaan yang lemah dan tak berpengharapan.

Di dalam situasi demikianlah, cinta begitu  tragis ditampakkan akhirakhir ini. Cinta seperti yang disaksikan, justru menjadi bukti bahwa kematian sesungguhnya nampak tak bisa jauh dari sisi cinta yang misterium.

Dalam sejarah Yunani purba, riwayat cinta yang misterium memang mengikutsertakan kematian seperti yang ditampakkan Socrates. Cinta dalam alam pikiran Yunani, diperlihatkan Socrates sebagai bagian yang inheren dalam apa yang disebut filsafat.  “Aku bukanlah orang yang sepenuhnya bijaksana, “ ucapnya suatu waktu, “tetapi aku lebih mencintai kebijaksanaan.” Cinta, di mata orang  paling bijaksana di Yunani itu, adalah seperti dua hujung titik yang mengguratkan garis; sebuah lintasan proses. Bahkan cinta yang dia lihat sebagai sikap yang “lemah” dihadapan “kuasa kebenaran yang misterium” adalah sikap hidup yang tak berkesudahan.

Tetapi akhirnya ia harus mati dari sistem yang menganut suara terbanyak sebagai hukum. Socrates dinyatakan mengganggu tatanan teos dengan memperkenalkan tuhan baru. Juga yang paling dihindari adalah ia menyesatkan jiwa anakanak muda. Maka di suatu penjara di kota Athena, ia menenggak racun cemara. Namun jauh hari ia memang sudah siap “orang yang mengikuti jalan filsafat dengan cara yang benar sesungguhnya telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi maut dan menjalani kematian.”

Tetapi bagaimana kita harus menangkap sesuatu yang sublim dari cinta yang berakhir tragis? Belakangan ini, cinta, yang diklaim univesal itu, malah nampak menjadi timbunan purba manusia yang merusak dan destruktif. Cinta malah ditafsirkan bersamaan dengan egosentrisme yang kronik. Hingga akhirnya, cinta yang akut harus menilap nyawa dari yang seharusnya cinta hidupi.

Nampaknya apa yang disebut Freud sebagai insting kematian tak selamanya mampu dikontrol. Peradaban yang semula adalah mekanisme pendisiplinan terhadapa hasrat bawaan manusia, harus risau terhadap cinta; perasaan halus yang lolos disadap peradaban. 

Cinta, perasaan yang sulit diberikan ruang yang defenitif itu, sepertinya adalah saluran dari insting kematian yang diamdiam bekerja. Pelanpelan mengambil peran yang merusak dan mengguyah segalanya. Cinta dengan wajahnya yang lebih mirip insting kematian itulah yang banyak menggusur pengharapan dan pengorbanan. Cinta yang demikian itulah yang banyak menerkam korban dan bukan pengorbanan. Cinta yang demikian itulah cinta yang beriringan dengan kematian. 

Cinta dan kematian memang dua hal yang berbeda, tetapi betapa mudahnya dua hal itu ditemukan dalam tragedi manusia yang kronik.



Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa pembunuhan dilahirkan dalam cinta destuktif, hingga akhirnya menilap gampang nyawa. Tetapi memang itulah yang tersebar di mediamedia tentang betapa seringnya sepasang manusia harus saling memunggungi hingga berakhir pembunuhan. Walaupun tidak seperti bagaimana Romeo dan Juliet melihat cinta sebagai ujung jalan abadi. Dari apa yang saya saksikan di mediamedia, cinta sungguh jauh dari kisahkisah semisal Socrates maupun Layla dan Majnun. Di mediamedia, cinta mengambil paksa nyawa sepertinya adalah cinta yang tragis, cinta yang miskin sekaligus angkuh.


24 Juni 2014

Manusia

Kuasakah engkau menciptakan tuhan? ...maka diamlah wahai segala tuhan! Tapi, yang pasti engkau dapat menciptakan superman. .

Memang manusia mahluk yang tak lengkap. Di balik sejarah, yang tak lengkap itu berusaha dipikirkan, untuk kemudian dirumuskan pada satu pengertian yang umum dan ajeg. Sejarah memang wadah yang bisa kita dalami, di sana manusia selalu disusun dalam pengertian yang esensial; mahluk yang rasional, mahluk sprituil, mahluk kerja dsb. Tentang manusia, dalam sejarah, apa yang telah dirumuskan untuk menambal yang kurang itu memang hanya menyisahkan tekateki, lubang yang tak pernah tertutupi.

Manusia bisa saja menciptakan segala hal. Dengan demikian manusia meneguhkan eksistensinya. Eksistensi yang tak utuh itu dalam sistem politik, kebebasan individu dan kolektif dijabarkan, bagaimana kekuasaan harus diterjemahkan untuk kebahagiaan banyak orang. Untuk itu, juga mekanisme ekonomi dirancang, ikhtiar untuk membuat sistem yang egaliter. Demikian budaya dan hukum turut diciptakan dalam rangka memenuhi kekosongan yang menganga itu. Tetapi apa yang akhirnya didapati, hasil yang kerap kali gagal memenuhi kekosongan: krisis eksistensi.

Sepertinya, usaha inilah, yang dalam sejarah manusia dikritik Nietzsche: keinginan untuk menutupi lubang yang tak pernah dijawab sejarah. Tapi di mana ada usaha untuk membangun yang universal, selalu di situ bersembunyi ego penaklukan. Dan pada titik inilah Nietzsche menggerutu, bahwa manusia bukanlah realitas yang mudah ditetapkan begitu saja.

Di masa dulu, di Yunani, Aristoteles pernah memberikan terang tentang manusia. "Manusia adalah hewan tak berbulu berkaki dua" Begitu ia menyebutnya. Kemudian tak lama datang Diogenes, pelopor filsafat sinisme, menunjukan cela dalam defenisi Aristoteles. Sembari mendemonstrasikan manusia menurut Aristoteles, Diogenes menunjukkan ayam yang sudah dicabuti bulunya sebagai maksud dari Aristoteles. "Inilah manusia menurut Aristoteles," seru Diogenes. 

Dalam peristiwa ini barangkali ada yang tak sepenuhnya bisa dipahami Aristoteles, yakni dalam cara untuk merumuskan ketetapan yang aksiomatis biasanya selalu gagal dalam meraba sesuatu yang kerap berubah. Dan ini yang juga sudah diwantiwanti oleh Ibnu Sina, untuk membangun defenisi yang utuh adalah pekerjaan yang sulit bagi seorang logikus.

Upaya yang hendak dirumuskan tentang mahluk yang bernama manusia, barangkali adalah mekanisme yang lahir dari sifat lemah dan inferior. Yang mana sesungguhnya itu dilakukan untuk menutupi kekurangan yang di miliki. Tapi sekonyongkonyong usaha ditegakkan justru adalah indikasi dari kekosongan yang semakin menganga lebar. Barangkali ini yang dimaksudkan Feurbach, filsuf yang getol menyerang agama, sesungguhnya adalah manusia yang gagal menetapkan "kesempurnaan" untuk dirinya, sehingga "yang kuat", "yang bahagia", "yang ideal" adalah sifat dasar manusia untuk menciptakan alienasinya sendiri.

Untuk itulah, dari alienasinya, lubang yang tak pernah tuntas dalam sejarah, manusia berkeinginan untuk mengenal tuhan. Tapi apakah tuhan adalah jenis superioritas yang mudah dicapai? Sekiranya iya, Firaunlah manusia pertama yang berhasil menggenggam "superior" sebagai sifat dasarnya, memproklamirkan bahwa ialah tuhan yang punya kuasa terhadap segala hal. Bisa saja Firaun, raja yang digugat Musa itu berhasil, namun sejarah sudah punya jawabannya: tuhan bukanlah kekuasaan yang bisa diperlakukan seenak hati.

Disinilah bahayanya, orangorang yang miskin kualitas eksistensi, dengan agama, dengan atas nama yang ilahiat berkeinginan merubah jalannya banyak hal, termasuk penyelenggaraan pemerintahan dunia. Bukankah tuhan tak mampu dicipta dalam iman yang miskin, dalam diri yang rapuh? Maka berbahayanya jika orangorang yang berkhidmat dalam organisasi, tak kuasa dalam mencipta tuhan justru menjadikan "yang lain" harus takluk atas nama pemurnian.

Kitalah yang barangkali telah membunuh tuhan? Dalam ungkapan Nietzche, disana ada kenyataan yang sulit kita sanggah, bahwa tuhan adalah entitas yang seringkali kita bunuh berulangulang. Di zaman ini, ditengah krisis eksistensi, eskalasi fundamentalisme yang turut mencampakkannya, atas pemurnian. Dan memang pemurnian terkadang mengenyahkan jalan tengah, sebab jalan tengah itu berarti kompromi, artinya ada unsur yang sudah terkontaminasi, ada ruang yang telah tercemari.


Dan di belahan dunia lain, kematian nampaknya semakin karib bersampingan, semakin akrab. Justru disaat pemurnian adalah cara praktis untuk menuntut perbaikan, kematian menjadi tumbal dari keyakinan yang rapuh. Disana peluru adalah hakim yang berlagak adil, dan pucuk senjata adalah antitesa dari kehidupan yang beragam. Tetapi manusia yang tak utuh harus percaya satu hal, "yang ideal", "yang ilahiat" bukanlah lahir dalam alam yang murni, ia lahir di sini, di tengah kehidupan yang guyah sendisendinya, untuk tahu bahwa manusia punya harap, seperti harapan yang sebenarnya tak ada, tapi karena banyak yang membuka jalan ke sana, maka ia layak kita tempuh. Bahwa di sini, dalam kehidupan yang jamak, manusia hanyalah mahluk yang selalu beriktiar utuh.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...