Tampilkan postingan dengan label Sigmund Freud. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sigmund Freud. Tampilkan semua postingan

03 Oktober 2017

Sosiologi Emosi; Suatu Tilikan Sederhana

Di masa sekarang, emosi begitu gampang diekspresikan melalui pelbagai cara. Salah satu misal paling mutakhir, emosi di era digital sudah lazim diekspresikan melalui beragam emoticon. Dalam interaksi dua arah melalui gawai, dua orang bisa menyampaikan emosinya hanya dengan memilih beragam emoticon yang mewakili dirinya.

Emosi, dengan begitu bukan saja sekadar fenomena kejiwaan. Emosi, juga adalah ekspresi kebudayaan.

Paul Ekman, seorang scholar ilmu jiwa cum antropolog setelah menyelidiki emosi di beberapa negara, menyimpulkan secara global manusia sejatinya memiliki enam paras emosi dasar: kemarahan, kejengkelan, ketakutan, kebahagiaan, kesedihan, dan keterkejutan. Tidak semata-mata manusia adalah animal rationale, manusia juga disebut homini affectio: mahluk emosional.

Itulah sebabnya, Paul Ekman juga menyatakan keenam emosi dasar ini, merupakan formasi emosi yang sudah tertanam secara biologis dalam gen manusia.

Jika enam emosi ini disepadankan dalam dua bahasa jiwa universal, cinta dan benci adalah dua parasnya. Cinta dan kebencian, adalah dua jiwa universal yang dikantungi setiap manusia. Tiada manusia tanpa cinta dan benci, begitu kira-kira kesimpulannya.

Dalam mitologi Yunani kuno, cinta dan benci dinarasikan secara paradoks melalui kisah Apollo dan Eros. Akibat kesombongan Apollo, Eros membuat Dafne, orang yang dicintai Apollo membencinya melalui panah kebencian Eros sang dewa cinta dan benci. Tapi, sebaliknya, Apollo mencintai Dafne setelah ditembakkan panah cinta Eros. Jadilah mereka berkejaran akibat dorongan cinta dan kebencian. Demi cintanya, Apollo menghabiskan hidupnya mengejar Dafne, tapi sebaliknya akibat kebenciannya, di waktu bersamaan Dafne selalu menampik cinta Apollo.

Dalam literasi yang lain, cinta dan kebencian merupakan dua paras bersilangan dalam gejala kejiwaan yang didakukan Sigmund Freud sebagai oedipus complex dan elektra complex. Oedipus complex adalah fenomena kejiwaan dari seorang laki-laki yang mencintai ibunya akibat dorongan kebencian terhadap bapaknya. Sebaliknya, elektra complex, merujuk kepada kecintaan sang perempuan yang menyukai ayahnya lantaran membenci ibunya.

Melalui literasi oedipus complex dan elektra complex, cinta dan kebencian diandaikan sebagai paras jiwa yang mengafirmasi cinta akibat kebencian terhadap seseorang. Sang manusia mencintai dengan cara membenci seseorang, begitu inti pendakuan Sigmund Freud.

Walaupun begitu, Erich Fromm menyatakan cara mencintai melalui membenci seseorang adalah cinta yang naif, bahkan egois. Menurut Fromm cinta seharusnya perasaan mendalam yang membuat seseorang menjadi peduli (care), bertanggung jawab (responbility), hormat (respect), dan pengetahuan (knowledge).

Dalam kehidupan mutakhir, fenomena oedipus complex ataupun elektra complex adalah narasi yang gampang ditemukan melalui jalin kelindan interaksi sehari-hari di semua level masyarakat. Kecintaan dan kebencian bukan lagi tindakan sederhana yang bisa ditemukan hanya dalam hubungan dua orang belaka. Sekarang, kebencian dan kecintaan, juga sudah menjadi ekspresi fenomena sosial-politik masyarakat seperti yang ditampakkan dari kelompok, ormas, golongan yang mengatasnamakan identitas religius-budaya-politik tertentu.

Sekarang, cara masyarakat mencintai tidak bisa dipahami karena rasa cinta itu sendiri. Melainkan secara bersamaan, rasa cinta yang ada hanya implikasi dari kebencian terhadap sesuatu yang mereka tidak sukai.

Syahdan, cinta dan benci, di abad 21, tidak sekadar relasi kasih sayang seperti dalam kisah pengorbanan Romeo dan Juliet, atau kisah cinta suci antara Layla dan Majnun. Cinta dan benci di masa sekarang, ibarat kekuatan alam yang memperbaiki dan merusak sekaligus. Kekuatan sosial yang dikerahkan dengan maksud membangun integrasi dan atau sebaliknya, perpecahan.

***

Melalui kajian sosiologi, emosi adalah variabel kejiwaan yang bersinggungan secara sosiologis sebagai bagian dari konstruksi sosial.

Emosi secara sosial memiliki keterkaitan dengan fungsinya sebagai pembangkit ungkapan kolektif melalui pikiran dan tindakan yang menjadi basis hubungan sosial dalam masyarakat. Secara kolektif, emosi juga menjadi dasar utama yang mendorong terjadinya kesadaran baru untuk melahirkan perubahan di masyarakat.

Emosi yang dilambangkan melalui cinta dan kebencian dengan begitu alih-alih mengalami pasivitas, ia malah dapat direkayasa dan merangsang timbulnya kesadaran kolektif dengan maksud mempertahankan keberlangsungan integritas suatu masyarakat.

Sebaliknya, emosi melalui kesadaran yang sama, juga bisa menjadi kekuatan destruktif menghancurkan tatanan masyarakat.

Melalui momen-momen politis, emosi adalah salah satu elemen yang dianggap penting dalam konteks penggalangan massa. Di era kemerdekaan Indonesia, misalnya, emosi adalah salah satu elemen yang memberikan latar belakang psikologis bagi persatuan yang dibutuhkan rakyat Indonesia untuk menyatakan kemerdekaannya. Tidak bisa dimungkiri, pidato-pidato Bung Karno di masa pra dan pasca kemerdekaan yang cenderung “meledak-ledak” dan bergaya langsung, adalah salah satu strategi retorika Bung Karno “memanfaatkan” emosi rakyat Indonesia agar dapat bersatu menggalang kekuatan melawan penjajahan Belanda.

Emosi dalam konteks di atas dengan begitu merupakan elemen penting bagi rakyat Indonesia untuk menyatukan pelbagai latar belakang sosial dan kebudayaan dengan menyatakan rasa senasib dan  sepenanggungan di bawah jajahan pemerintahan kolonial Belanda.

Melalui pendasaran politik, emosi yang dihimpun melalui pidato-pidato, tulisan-tulisan, simbol-simbol, dan pernyataan-pernyataan yang dilakukan kalangan terdidik saat itu, akhirnya tidak hanya sekadar berhasil mengikat rasa amarah dan dendam belaka menjadi satuan simpul perlawanan, melainkan  juga ditransformasikan menjadi kekuatan kolektif kebangsaaan berupa kesadaran bersama untuk mau bangkit memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Artinya dalam momen-momen politis, emosi adalah salah satu elemen psikologis masyarakat yang bisa dikontruksi secara sosial melalui rekayasa yang dialihwahanakan menjadi kekuatan politik berbasis intelektual. Walaupun demikian, emosi bukan berarti elemen psikis yang serta-merta berdampak positif, melainkan ketika ia didorong oleh kekuatan intelektual di belakangnya.

Melalui konteks lain, emosi juga berfungsi negatif sejauh jika ia dibiarkan telanjang tanpa kerangka rasional yang mendasarinya.

Semenjak negeri ini mengenal aksi yang berjilid-jilid, emosi ibarat percik api yang gampang dipantik untuk membakar ranting yang kering.

Bergolaknya tatanan sosial berkaitan dengan politik identitas, banyak mengerahkan emosi menjadi faktor utama penggalangan kekuatan massa. Tidak bisa ditolak, melalui massifnya penyebaran informasi berbasis sentimen kesukuan dan agama di dunia maya, emosi netizen gampang dihimpun dan dimanfaatkan demi kepentingan pihak tertentu.

Memang, dari yang dapat disaksikan selama ini, dari kekuatan emosi yang mengikat ribuan massa dari aksi yang dimaksud, mampu memobilasi dan mengarahkan banyaknya masa kepada tujuan politik tertentu. Hanya saja, dibandingkan dengan contoh sebelumnya, emosi dalam model ini hanya sebatas kekuatan psikis yang tidak bisa ditransformasikan menjadi kekuatan yang berbasis intelektual. Dengan kata lain, posisi emosi dalam konteks ini hanyalah emosi belaka tanpa ada basis intelektual yang mendorong dan mampu mengubahnya menjadi kesadaran kolektif.

Belakangan, isu tentang kebangkitan PKI bisa menjadi contoh terang mengenai peristiwa yang mendorong lahirnya emosi kolektif yang direkayasa sebagai fenomena bersama. Apalagi, isu komunisme dan PKI sudah menjadi tugu ingatan dalam memori masyarakat selama bertahun-tahun. Hanya melalui sedikit percikan peristiwa, emosi kolektif yang selama ini dibiarkan mengendap dalam memori panjang masyarakat dapat muncul kembali sesuai kepentingan apa yang mendorongnya.

Dari contoh-contoh kasus di atas, emosi ibarat produk kebudayaan yang dapat dibentuk dan dinyatakan berdasarkan situasi apa yang melarbelakanginya. Dia sebagai produk psikis, sangat bergatung dari sistem sosial apa, kebudayaan apa, tingkat ekonomi, sistem pendidikan, dan sistem religi apa sebagai kerangka yang mendasarinya.

Akibat sebagai hasil rekayasa, emosi yang dilambangkan menjadi cinta dan kebencian bisa menjadi pedang bermata dua. Tergantung kekuasaan, cinta dan benci bisa menjadi sebilah sayatan yang melukai batin dan membelah tubuh kolektif masyarakat, atau sebaliknya, menjadi pelindung bagi keutuhan masyarakat.


23 September 2017

Sang Manusia dan Dua Paras Jiwa

LITERASI sufisme menarasikan kesadaran manusia ibarat puncak gunung es menjulang di atas permukaan laut. Yang tampak di permukaan hanyalah keping kesadaran yang menyimpan parasnya di bawah dasar lautan.

Paras tersembunyi di bawah permukaan laut itu, dalam literasi sufisme disebut sebagai jiwa.

Jiwa, secara ontologis dinyatakan sebagai pangkal kaki yang menggerakkan paras kesadaran di permukaan. Itulah sebabnya, banyak pendakuan sufisme menaruh kedudukan fundamental terhadap jiwa. Ketika jiwa itu baik, baik pula paras kesadaran di permukaan. Jika jiwa itu buruk, buruk pula penampakkannya.

Literasi Quranik, mengamsalkan jiwa sebagai wadah mangkuk terbalik. Di dalamnya, terpancar misykat. Misykat, wadah “yang Ilahiat” memancarkan asmanya. Pancaran asmanya disebut  al Qur'an merentang di sepanjang arah ke timur maupun ke barat. Barang siapa mengotori misykatnya, pancaran “yang Ilahiat” bakal putus dan terdistorsi. Sebaliknya, barang siapa menjaga  kebersihan misykatnya, ibarat bening kaca, benderang pula  “yang Ilahiat” memancar ke permukaan.

Paras kesadaran dengan begitu dalam dalil-dalil sufisme bergantung dari situasi kejiwaan. Jiwa-lah induk kesadaran. Tiada kesadaran yang baik tanpa keberadaan jiwa yang baik.

Rumusan serupa dapat ditemui pula dari pemikiran seorang pencetus psikoanalisis, Sigmund Freud. Semenjak membantah dalil-dalil kesadaran Cartesian, Freud sebaliknya memperkenalkan libido manusia yang banyak mengintervensi kesadaran. Bagi Freud, kesadaran bukanlah satu-satunya faktor kunci pemahaman manusia. Libido-lah paling banyak menentukan kesadaran. Bahkan, kesadaran hanyalah citra libido yang bekerja diam-diam di bawahnya.

Libido menurut Sigmund Freud selalu bekerja berdasarkan prinsip kesenangan. Dia adalah pusat jiwa yang menghendaki hasrat segera mesti terpenuhi. Paradoksnya, kesenangan libido tidak serta merta dapat mencukupi kebutuhan dirinya. Dengan kata lain, libido adalah hasrat yang tidak akan pernah terpuaskan sampai kapan pun.

***

DUA kisah jiwa di atas sama-sama dialami manusia.  Jiwa-ilahiat selalu mengajak sang manusia kepada “keterikatan kepada yang suci.” Jiwa-ilahiat bahkan selalu mengajak manusia menemukan paras otentiknya di “ketinggian” puncak-puncak keadaban.

Sebaliknya, jiwa-libidinal merupakan “liang pasak” keinginan manusia agar rela bertungkuslumus di “kerendahan” lembah tak berdasar. Ibarat mulut sumur menelan apa saja tanpa diketahui seberapa dalam lubang yang dimiliki. Menyedot apa saja. Meringkus segalanya. 

Kisah manusia terjebak jiwa-libidinal tak bisa disepadankan dengan kisah yang diliterasikan tradisi sufisme. Sang manusia dalam konsepsi antropologi-filosofis sufisme adalah karakter manusia yang bersetia dengan ideal-ideal “jiwa-ilahiat”. Agama-agama menyebut manusia yang hidup dalam idealitas “jiwa-ilahiat” sebagai para nab-nabi utusan Tuhan.

Sebaliknya, kisah manusia terikat  jiwa-libidinal, adalah orang-orang yang melahirkan tragedi, dan mati sebagai orang yang dikutuk peradaban.

***

FRIEDRICH Nietzsche melalui Beyond God and Evil. Nietzsche mengucapkan suatu isyarat lahirnya tragedi manusia yang ditengarai hasrat yang dikandung diri manusia itu sendiri. Jauh lebih radikal dari dua kisah di atas, Nietzsche bahkan menyatakan manusia adalah mahluk yang menanggung tragedi semenjak asal keberadaan. Mahluk malang tanpa pegangan, kecuali  hasrat dirinya sendiri melahirkan tragedi untuk menguasai suatu segala.

Abad 21 ibarat identifikasi Nietzsche mengenai kondisi kehidupan yang melahirkan tragedi demi tragedi. Sang manusia mengalami banyak kekalahan demi kekalahan di hadapan totalitarianisme “rezim hasrat.” Bahkan manusia di era sekarang --meminjam rumusan Thomas Hobbes ketika berhadapan dengan konteks silam masyarakat Eropa: bellum omnes contra omnia, perang semua melawan semua.

Bellum omnes contra omnia dalam politik menandai kekuasaan adidaya tirani dan totalitarian menindas golongan satu atas golongan lain. Dalam ekonomi, hasrat merusak kemakmuran bersama melalui rezim pasar global. Dalam hukum, hasrat merongrong tatanan keadilan dan kejujuran. Dan dalam kebudayaan, akibat hasrat konsumerisme, manusia menjadi semakin terasing dari dirinya sendiri. Bahkan dalam agama, hasrat bagai sang raja secara imperatif harus diakui sebagai satu-satunya tuan kebenaran.

Dominasi hasrat, akhirnya, membuat sang manusia menjadi mahluk dengan kesadaran temaram. Sang manusia terombang-ambing kehilangan pegangan. Tanpa ada sandaran untuk mencandra kebenaran dan keutamaan. Dikotak-kotakkan diperdaya libido di semua lini kehidupan.

29 Juli 2017

Chester Bennington dan Beberapa Masalah di Sekitar Kita

Bila mereka berkata
Siapa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?
Di langit sejuta bintang
Berkedip, berkedip
Siapa yang peduli kapan waktu seseorang habis?
Bila sesaat itulah kita
Kita lebih cepat, lebih cepat
Sipa yang peduli bila satu dari banyak cahaya redup?*

Dia mati. Kamis, 20 Juli lalu. Tewas di rumah pribadinya, di Palos Verdes Estates Los Angeles. Tak lama setelah itu beritanya viral. Banyak penggemarnya dibuat mendung matanya. Siapa menduga dia mati dengan cara yang tragis: gantung diri.

Kabarnya dia tertekan. Ingatan kelam masa kecilnya menyeruak dalam benak. Tumbuh dan berkembang biak bagai kanker. Trauma itu disebutnya begitu menjijikkan. Banyak laporan menyebut ia depresi. Barangkali ia kalah, atau lelah, karena itu ia bunuh diri. Namun, siapa yang tahu pasti?

Yang pasti Chester Bennington, vokalis Linkin Park itu, satu dari banyak orang yang mati bunuh diri di tengah keadaan mayarakat yang dikepung ketidakacuhan.

Tapi, depresi memang soal kejiwaan. Soal individual. Hanya saja, tidak ada soal sekarang yang bisa dicabut dari konteks sosialnya. Kalau begitu, bagaimana depresi itu bisa terjadi dan kemudian langgeng, tidak semata-mata soal pribadi. Mengingat bentuk kehidupan mutakhir, depresi tidak bisa tidak dicabut dari konteks sehari-hari era kiwari.

Itu artinya, depresi, seperti juga bunuh diri, adalah konsekuensi kehidupan sosial yang diancam sepi dan boyak.

Banyak sebab seseorang atau masyarakat mengalami depresi. Mutakhir, media sosial semakin totaliter jadi sebab asal muasal depresi. Juga sebelumnya adalah kekosongan di antara meregangnya relasi sosial yang disebabkan individualisme dan  syakwasangka. Situasi kultural yang mengakibatkan kekeroposan pemaknaan atas jati diri, juga merupakan biang keladi terjadinya depresi.

“Totalitarianisme” media sosial dapat diasalkan kepada fenomena masyarakat yang sehari-harinya bersinggungan dengan dunia virtual. Media sosial telah menjadi semacam jaringan sistem yang mengintervensi di hampir seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Bahkan, pengalaman atas ruang dan waktu  kehilangan nilai ontologisnya akibat diringsek habis oleh apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai simulakrum.

Dampak nyata simulakrum, selain mengubah kenyataan menjadi pencitraan, juga memberikan dampak negatif berupa terganggunya tatanan sosiopsikis masyarakat. Akibat besarnya kesenjangan antara dunia citraan dengan realitas yang sebenarnya, orang-orang yang terjebak simulakrum akan sulit membedakan antara kenyataan dengan fantasi. Imbas dari itulah seringkali terjadi banyak gangguan mental. Contoh dari semua itu adalah menguatnya individualisme naif yang dinyatakan dengan merebaknya budaya selfie dan narsistik.

Dari sisi lain, kekosongan dalam relasi sosial dibilangkan Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis sebagai peristiwa anomali. Yakni hilangnya peran sumber-sumber nilai untuk memberikan pemaknaan terhadap kelangsungan hubungan antara individu. Di situasi ini, agama, norma-norma, dan juga etika, menjadi mandul mengawal agenda-agenda perubahan masyarakat.

Jalin kelindan beragam nilai kebudayaan, juga melahirkan ekses negatif berupa  hilangnya otonomi atas “aku”.  Manusia di hadapan kebudayaan yang cair, dibuat sulit menentukan jati dirinya. “Aku” otonom ihwal yang sulit dicapai. Itulah sebabnya, krisis eksistensial melanda. “Aku” sebagai basis kendali kehilangan pusat dan keseimbangan di tengah deru “massa-budaya”.

Mengacu kepada Sigmund Freud,  orang-orang yang depresi juga besar pengaruhnya akibat kehilangan objek yang dicintai. Kehilangan cinta juga berarti hilangnya hubungan kebermaknaan di antara dua person. Dengan kata lain, raibnya cinta sama artinya dengan hilangnya “saluran” yang “emansipatif” dan inspiratif.

Itulah sebabnya, pembebasan secara emansipatif, membutuhkan cinta sebagai kekuatan pendorongnya. Kekuatan inspiratifnya. Pembebasan emansipatif tanpa cinta bakal membuat seseorang menjadi tiranik. Sebaliknya cinta tanpa pembebasan justru mengubah manusia menjadi budak.

Hilangnya hubungan kerelaan atas nama cinta juga mengakibatkan kesepian. Lubang yang ditinggalkan kesepian tidak jarang membuat orang akhirnya berduka. Tenggelam dalam dislokasi perasaan yang mengancam jiwanya. Dan kemudian larut di dalamnya.

Barangkali, akibat kedukaan, dan hilangnya perhatian antara sesama membuat orang-orang yang depresi menjadi lebih rentan. Tidak ada tempat untuk berbagi, tiada wadah untuk saling bertukar pengalaman. Terisolasinya masyarakat lantaran individualisme naif, menjadi salah satu sebab mengapa persoalan depresi menjadi masalah yang tidak kalah penting.

Dengan konteks demikian, situasi di atas sama dengan keadaan alienatif yang dialami seorang individu karena keterasingan dari dan terhadap sesamanya. Karena itu situasi ini jauh lebih berbahaya, oleh sebab, selain depresi yang menyebabkan hilangnya kontrol terhadap kesadaran, alienasi yang dialami seseorang juga berakibat keterasingan dari dirinya sendiri melalui dirinya itu sendiri.

Itulah sebabnya mengapa penting membangun relasi kebermaknaan sesama anggota masyarakat. Menghidupkannya dengan cara membangun perhatian dan kesetiaan berbasis nilai kemanusiaan tinimbang ikatan yang dibentuk moral masyarakat kapitalistik era kiwari. Melalui itu, hubungan dialogis dapat terbangun lebih dari sekadar sarana interaksi yang bersifat kebendaan dan instrumentalistik. Lebih jauh daripada itu, agar supaya kebudayaan manusia tidak semata-mata hanya bersifat produktif semata, tetapi juga reflektif-kontemplatif. 

Di sisi lain juga penting melihat hubungan relasional yang memerdekakan individu dari kekuatan di luar dari dirinya berupa institusi masyarakat yang sering kali menjadi rezim totaliter. Dengan kata lain, individu tidak ditotalisasi oleh rezim intitusi untuk menemukan kreatifitas dan kebebasannya yang berbasis keagenan yang dipunyainya, begitu juga sebaliknya, agar masyarakat tidak dikontrol secara sepihak oleh superioritas keagenan individu.

Tegangan dan tekanan yang terlalu besar dari tirani masyarakat, berupa misal intervensi nilai-nilai kolektif terhadap individu, sedikit banyak akan membuat keagenan individu berupa kebebasan dan kreatifitas menjadi sulit berkembang, atau bahkan akan mengalami pemenjaraan. Namun, kemerdekaan individu bukan berarti segalanya di dalam masyarakat. Kemerdekaan individu juga mesti mempertimbangkan tegangannya terhadap sistem nilai yang dikandung di dalam masyarakat itu sendiri agar terbangun alam kehidupan yang seimbang.

Syahdan, depresi tentu dapat dihindari apabila tekanan-tekanan sosial dapat dimerdekakan melalui basis-basis emansipatif dan edukatif yang dimiliki masyarakat itu sendiri. Basis emansipatif dan edukatif berupa misal, komunitas bakat dan minat, kelompok kreatifitas kepemudaan, organisasi kemahasiswaan, sampai lembaga study club, dapat menjadi saluran pembebasan dari sirkulasi sosial-psikis-mental yang seharusnya bekerja dengan baik dalam tubuh masyarakat itu sendiri. 

---

*Petikan dan terjemahan dari lagu One More Light, Linkin Park

---

Telah terbit di Kalaliterasi.com

20 Januari 2017

Rasa Lapar dan Agresivitas Manusia

Tahun 1950, 32 orang menjadi subjek penelitian tentang pengaruh rasa lapar. Eksperimen ini dilakukan selama 6 bulan oleh Keys dan kawan-kawannya. Tujuannya demi melihat kepribadian seseorang ketika rasa lapar menghinggapi. Selama masa pengamatan, ternyata orang-orang yang dibiarkan mengalami rasa lapar banyak mengalami perubahan kepribadian berupa mudah gusar, sukar berbaur, dan tidak bisa berkonsentrasi.(1)

Yang mengejutkan, disebutkan selama mendekati akhir penelitian, perbincangan subjek banyak didominasi oleh makanan dari pada tema pembicaraan lainnya. Bahkan, di dalam mimpi, makanan menjadi bunga-bunga tidur yang paling dominan.

Memang kebutuhan biologis salah satu faktor yang paling banyak mendominasi perilaku manusia. Sama halnya kebutuhan terhadap seks dan lainnya, manusia banyak didorong kebutuhan biologisnya untuk menunjang aktivitasnya.

Kesimpulan sederhana yang bisa ditarik dari eksperimen di atas, manusia begitu gampang mengalami perubahan kepribadian jika dirinya mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhannya. Rasa lapar, misalnya, merupakan sebab utama mengapa orang mudah gusar dan sukar berkonsentrasi.

Bahkan, seluruh isi pembicaraan, sangat banyak dipengaruhi oleh kebutuhan pokok akibat tidak dapat dipenuhi. Seperti yang ditemukan dalam penelitian Keys, orang-orang yang mengalami rasa lapar, isi pembicaraannya banyak dipengaruhi makanan sebagai bahan perbincangannya.

Di arena filsafat, atau lebih tepat psikoanalisis, Sigmund Freud menyatakan semua ungkapan kebudayaan manusia pada hakikatnya merupakan representasi libido. Termasuk bahasa percakapan, merupakan arena libido untuk dapat disalurkan. Dalam bahasa selalu terjadi tegangan antara hukum-hukum, norma, dengan id yang menjadi faktor paling dominan dari kesadaran manusia.

Itu sebabnya, dalam bahasa percakapan, manusia sering kali mengalami keseleo lidah atau salah ucap akibat tarik-menariknya id yang liar dengan kebudayaan yang teratur. Dalam kasus ini, dapat dikatakan melalui bahasa percakapan, libido manusia seringkali menunjukkan dirinya di antara aturan logikal yang mengaturnya.

Yang menarik dari Freud, akibat id yang tidak dapat dibendung dan tidak dapat disalurkan dengan baik, maka dapat melahirkan rasa frustasi atau sikap agresif.  Sebagaimana air mendidih akan meluber kemana-mana jika tidak diberikan katup pengaman ketika mencapai suhu seratus derajat. Id, akibat menganut prinsip kesenangan, menurut Freud tidak serta merta dapat merasakan kepuasaan walaupun sudah menemukan objek hasratnya. Id, selama-lamanya tidak akan pernah terpuaskan.

***

Masa kekinian, hampir semua relasi antara komunitas dan kelompok masyarakat banyak mengalami tegangan akibat praktik interaksi yang timpang. Hubungan normatif yang diikat nilai bersama menjadi renggang disebabkan interaksi sosial bukan lagi diproduksi secara bersama, melainkan produk sempit kelompok-kelompok tertentu.

Praktik interaksi sosial tidak lagi didasarkan kepada fungsi rasionalitas yang mengedepankan solidaritas, melainkan lebih banyak didorong rasa sentimen yang berlebihan. Imbasnya relasi interaksi tidak lagi mencerminkan kecerdasan orang yang bersangkutan, tapi malah sebaliknya, justru menjadi cermin sikap agresif dan mudah gusar.

Frustasi dan agresivitas, belakangan, banyak ditemui dari praktik interaksi yang saling menyakiti. Ibarat kehilangan kendali, suasana patologis ini tidak tanggung-tanggung merusak kesantunan dan kesopanan yang selama ini menjadi modal sosial bersama.

Tidak mungkin dapat sepenuhnya dikatakan benar bahwa agresivitas dan rentannya rasa frustasi belakangan ini akibat rasa lapar yang menghinggapi tubuh masyarakat. Tapi sebagai suatu pembacaan sederhana, “rasa lapar” akibat banyaknya hambatan-hambatan yang tidak dapat dipenuhi, barangkali memang menjadi penyebab utama keagresifan dan kegusaran massal terjadi.

Rasa lapar dalam kategori yang lain memiliki banyak wujud. Dalam kancah politik, agresivitas menyakiti kelompok lain kemungkinan besar imbas rasa lapar terhadap kekuasaan. Kekuasaan dan jabatan seperti mesin hasrat yang tidak habis menciptakan dahaga berkepanjangan. Karena dorongan rasa lapar terhadap kekuasaan, jamak ditemukan dalam tubuh masyarakat, watak orang-orang seperti yang digambarkan Thomas Hobbes: homo homini lupus.

Dalam ranah budaya, agresivitas dan kegusaran imbas dari rasa lapar atas kesenjangan terhadap nilai budaya. Banyak orang-orang bersikap agresif akibat “kelaparan” yang disebabkan budaya konsumerisme. Imajinasi produk-produk yang dikonsumsi melalui simbol dan tanda tidak dapat memberikan efek apa-apa kecuali kerakusan dan sikap agresif membeli apa saja tanpa henti.

Di bidang hukum, fenomena saling lapor merupakan penggambaran rasa “lapar” terhadap keadilan yang tak kunjung datang. Semakin agresifnya hukum dijadikan senjata saling serang, adalah tanda agresivitas bukan saja penyakit psikologis yang semata-mata menyerang aspek psikis. Fakta saling tuduh, saling menyalahkan, saling melapor, merupakan sikap agresif yang memanfaatkan hukum positif sebagai tameng menutupi kesalahan-kesalahan yang diperbuat.

Sementara di tingkat yang lebih sublim, agresivitas yang jamak ditemui berkat terhambatnya dan semakin besarnya tekanan psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Semakin kuatnya tekanan hidup dan tidak dapat terpenuhinya id melalui saluran yang dibolehkan secara sosial, akhirnya ikut melipatgandakan sikap agresif yang tidak dapat dikendalikan.

Bukan saja itu, dalam praktik berbahasa, agresivitas banyak mengemuka dari kata-kata yang mengandung rasa amarah dan sentimen. Praktik berbahasa tidak lagi berjalan sebagaimana fungsi bahasa itu sendiri, yakni sebagai media kesalingpengertian, tapi justru menjadi alat pemecah solidaritas. Bahasa, di kekinian, tidak lebih jauh digunakan hanya untuk menyalurkan hasrat kelaparan atas dendam dan rasa benci.

Dalam praktik berbahasa, hoax, misalnya, adalah akibat dari hilangnya konsentrasi yang disebabkan rasa “lapar”. Kurangnya asupan informasi yang bergizi dan bermanfaat menjadi sebab rasa lapar dapat terjadi. Di sisi lain, merebaknya hoax, menandakan betapa besarnya kebutuhan masyarakat atas informasi yang sehat dan bermanfaat imbas rasa frustasi yang selama ini terjadi.

Hatta, dari fenomena di atas, nampaknya kita perlu melakukan penelitian sederhana, terutama bagi diri sendiri sebagai subjeknya: apakah semua yang kita lakukan merupakan pantulan dari rasa lapar? Jika iya, apa yang membuat kita merasa lapar? Kekuasaankah, nama baik, kekayaan, kemenangan, ketenaran? Seberapa dahagakah saya terhadap itu semua? Jika iya, pasti Anda mudah gusar dan berlaku agresif jika semua itu belum dapat Anda peroleh.

--


(1) Psikologi Komunikasi, Jalaluddin Rakhmat.

--

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

04 Januari 2017

Neurosis dan Praktik Berbahasa


F. Budi Hardiman. 
Penulis buku Seni Memahami. 
Pengajar Filsafat

Setelah membaca sedikit tulisan Menuju Masyarakat Komunikatif-nya F. Budi Hardiman, terbersit dalam benak saya, tanpa dihubungkan kekuatan di luar kesadaran manusia, semua apa yang kita omongkan, ataupun yang sering dituliskan (juga yang sering diperbuat) bisa jadi merupakan hasil dari “sensor diri”. Maksudnya, jangan-jangan hampir semua praktik berbahasa dan tindakan kita merupakan imbas dari penyakit yang tidak kita duga-duga: neurosis.

Pengertian ini memang agak melenceng dari yang dibilangkan F. Budi Hardiman mengenai konsep “sensor”, dan di mana konsep itu diberlakukan. Konsep sensor itu sendiri sebenarnya diambil dari pemikiran Sigmund Freud dalam menerangkan pengalaman mimpi yang dialami pengidap neurosis.

Budi Hardiman menjelaskan, mimpi yang kerap menjadi “dunia pelarian” bagi harapan-harapan yang tidak terealisasi di alam praksis, selalu terbentuk dan terdistorsi oleh mekanisme “sensor” dan “resistensi.” Imbasnya, mimpi tidak akan sepenuhnya dapat terpahami dengan baik akibat dua mekanisme sebelumnya.

Distorsi mimpi akibat sensor diri menghendaki agar “sesuatu” tetap dapat tersimpan tanpa bisa disampaikan. Prinsip sensor ini bekerja dengan mengikutkan “resistensi” sebagai mekanisme lain yang sama-sama hadir saat bahasa itu diutarakan. Sehingga jika dorongan diri begitu kuat ingin menyampaikan sesuatu, justru yang disampaikan hanya berupa kepingan-kepingan bahasa yang samar dan gelap 

Cara yang ditempuh dua mekanisme di atas menggunakan bahasa berupa simbol, metafor, alegori, dlsb., untuk menyembunyikan maksud sebenarnya dari pengalaman mimpi. Dengan kata lain, melalui bahasa simbolik, metafor, dan alegoris, “sensor” dan “resistensi” menjalankan kerja-kerjanya menyembunyikan maksud sebenarnya di balik mimpi yang dialami.


Yang menarik dari konsep ini, seperti yang dituliskan Budi F. Hardiman, sensor dan resistensi merupakan gejala yang dialami tanpa pernah diketahui pelakunya. Ini mirip dengan “kesadaran palsu” Marx yang menandai hilangnya kesadaran kritis akibat tatanan kekuasaan ideologis yang menipu. Hanya saja dalam kasus ini, situasi yang dialami pelaku bukan terjadi akibat kekuatan eksternalitas yang mempengaruhi dan menentukan kesadaran dari luar. Bagi pengidap neurosis, keadaan alienatif terjadi akibat pelaku itu sendiri sebagai penyebab tunggalnya. Budi F. Hardiman menyebut peristiwa ini sebagai “penipuan diri”.

  
Karakter "penipuan diri" dan kesadaran palsu-nya Marx berbeda dilihat dari tingkat ilutif dan halusinatifnya. Penipuan diri jauh lebih mengerikan tinimbang kesadaran palsu. Perbedaan itu akibat sebab musabab dari mana sumber penipuan itu terjadi. Jika kesadaran palsu-nya Marx berasal dari tatanan borjuis yang mengintrodusir pemahaman keliru tentang realitas dari luar kesadaran, maka dalam "penipuan diri," yang menjadi sumber pemahaman keliru tiada lain --seperti yang disebutkan--berasal dari  dalam "kesadaran" itu sendiri. 

Sehingga, metode pembebasan dalam kasus kesadaran palsunya-nya Marx "cukup" dengan merubuhkan tatanan borjuis yang eksis dan bekerja di luar kesadaran. Artinya, itu dapat dimungkinkan karena "agen pembebas" mengalami penjarakan langsung dengan asal-usul penindasannya. Akibat adanya jarak inilah yang membuka ruang lahirnya kesadaran baru untuk keluar dari situasinya yang alienatif. 


Sementara untuk kasus penipuan diri jauh lebih sulit akibat tingkatan ilutifnya. Bagaimana metode pembebasan itu mungkin jika "penipuan diri" justru berasal dari internal kesadarannya? Dengan kata lain, nihilnya jarak di antaranya menyebabkan ilusi itu sendiri menjadi satu-satunya situasi yang dianggap normal.   

Melalu konteks pengertian di atas, apa hubunganya dengan paragraf pembuka sebelumnya? Apakah kita sebenarnya mengidap semacam neurosis sehingga tanpa disadari mengalami “penipuan diri”? Persoalan ini akan jauh lebih menarik jika kita tiba-tiba menyadari ada sebagian (atau hampir semuanya) perkataan dan tindakan kita yang dilakukan tanpa disertai kesadaran di dalamnya. Dengan kalimat yang lain, ada tindakan-tindakan kita yang sebenarnya merupakan imbas sensor dan resistensi diri.

Namun perlu diterangkan di sini sebelumnya pengertian neurosis berdasarkan yang saya temui. Neurosis merupakan penyakit yang mendorong pasien menyembunyikan penipuan dirinya. Artinya, pengidap neurosis memiliki pembawaan secara tidak sadar menyembunyikan “penipuan dirinya” dengan cara memanipulasi bahasa, tindakan, atau ekspresi mimik dan tubuh.


Lantas bagaimanakah gejala neurosis dapat diidentifikasi? Salah satu caranya yakni dengan mengetahui simtomnya, gejala-gejalanya. Menurut Sigmund Freud gejala neurosis muncul tanpa disadari melalui histeria, keseleo lidah, atau tindakan-tindakan spontan. Gejala ini menjadi benderang melalui mekanisme sensor dan resistensi diri yang ingin menyembunyikan sesuatu, tapi justru “meledak” melalui simtom di atas.


Saya agak terburu-buru mengatakan jika hampir semua yang kita lakukan terhadap bahasa dan tindakan akibat gejala neurosis. Apalagi jika konsep neurosis diperluas sampai ke tingkat masyarakat. Neurosis bukan sekadar “penipuan diri” yang dialami per individu, tapi juga secara kolektif, massal. Bagaimana itu mungkin? Pertanyaan ini hanya bisa dipahami jika “sensor” dan “resistensi” bukan saja mekanisme internal yang beroperasi dalam diri manusia, namun juga di dalam masyarakat?

Sebagaimana kesadaran palsu yang diafirmasi Karl Marx dalam masyarakat kapitalistik, “neurosis kolektif” juga dapat disematkan dalam masyarakat komunikatif yang mengalami hambatan-hambatan berbahasa. Hambatan-hambatan yang dimaksud merupakan praktik kekuasaan tertentu melalui pembodohan dan sensor pemerintah terhadap lalu lintas pengetahuan dalam interaksi masyarakat.

Asumsi ini dijelaskan Jurgen Habermas (dalam masyarakat komunikatif-nya F. Budi Hardiman) bahwa makna sensor bukan saja berarti secara simbolik, tapi juga sekaligus harfiah. Artinya, secara kongkrit praktik sensor dapat ditemui terang benderang di sekitar kita.


Saya ambil contoh temuan Benedict Anderson tentang perubahan EYD yang dilakukan pemerintah adalah suatu cara sensor bahasa agar masyarakat dijauhkan dari khazanah pengetahuan yang berkembang di era sebelum masa orde baru. Dengan model ejaan yang “disempurnakan,” pengetahuan-pengetahuan yang diliterasikan melalui praktik berbahasa ejaan lama, akhirnya tidak dapat lagi dikonsumsi. Praktik berbahasa demikian, disebut Anderson sebagai tindakan orde baru untuk menghapus ingatan masyarakat atas sejarahnya sendiri.

Keadaan demikian mengingatkan kita ihwal relasi pengetahuan dan kekuasaannya Foucault ketika kekuasaan mengambil alih kesadaran masyarakat lewat praktik-praktik normalisasinya. Artinya, apa yang selama ini disebut "pengetahuan" sudah lebih dahulu dikontrol dan "dimanipulasi" demi kepentingan tersembunyi kekuasaan.


Praktik berbahasa orde baru itu akhirnya menyisakan dampak traumatis berkepanjangan dan sulit disembuhkan. Mengingat selama 32 tahun lebih praktik-praktik politik bahasa orde baru secara ideologis membangun relasi hegemonik hingga sekarang.


Imbasnya sekarang, gejala neurosis secara kolektif dapat disimak melalui praktik berbahasa masyarakat hari ini. Banyak betebaran simptom yang mengacu kepada “meledaknya” dorongan neurosis berupa bahasa-bahasa histerik dan sentimentalistik. Fenomena ini hanya mengacu kepada dua hal: pertama, terdapatnya hasrat terpendam yang tak mampu dikontrol akibat sensor dan resistensi diri, dan kedua, yakni berlakunya situasi yang pertama di dalam level komunitas dan bernegara.

Tapi sampai di sini leher saya pegal. Cukup sampai di sini dulu.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...