Tampilkan postingan dengan label madah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label madah. Tampilkan semua postingan

29 Juli 2017

madah lima puluh tujuh

Yang hilang belakangan ini saya kira adalah keagenan yang dimiliki setiap orang. Keagenan saya kira penting. Di situ “aku-diri” mengaktual. Dengan kata lain, keagenan adalah sifat otonom “aku-diri” untuk bebas menentukan pilihan-pilihannya. Namun, rasa-rasanya menjadi agen yang sadar diri di waktu ketika menguatnya tekanan kelompok menjadi agak riskan akibat tidak adanya penghargaan terhadap individu. Orang-orang akan  merasa kurang enak  jika tidak mengikuti pilihan-pilihan kelompok yang sering kali mengeliminasi hak-hak pribadinya.  Ya, kebanyakan dari kita masih khawatir jika merasa berbeda. Takut jika memilih jalan yang berlainan dari kebanyakan. Barangkali ini akibat telah lama kemerdekaan individu disingkirkan dari pemahaman kita. Kita lebih sering diingatkan tentang kebaikan kelompok, keutamaan bersama, dan juga kemuliaan kelompok, tinimbang keberadaan individu. Bahkan, telah lama hidup kita dibentuk oleh kokohnya sistem. Kuatnya otoritas, dan  ajegnya kebersamaan. Sehingga yang terjadi adalah jika ada kecenderungan-kecenderungan yang berbeda bermunculan maka akan mati sebelum berkembang. Seakan-akan diri kita tidak memiliki arti sejauh menjadi diri pribadi. Kita hanya disebut bermakna jika diri kita diartikan sebagai bagian dari kawanan. Tubuh diri kita mesti menjadi bagian tubuh kawanan. Tubuh masyarakat. Mentalitas kawanan saya kira merupakan watak pribadi yang menjadi ciri umum kita. Kebanyakan kita bagai kawanan anjing-anjing yang hanya mengikuti insting alam untuk hidup berkelompok. Di luar dari itu, jika kita seorang diri, kita malah merasa terasing, merasa bukan apa-apa. Tanpa daya. Makanya, eksesnya terhadap kehidupan kita, hampir semua yang kita miliki adalah ciri khas kelompok; selera, minat, hobi, cara berpikir, atau bahkan hidup kita sendiri. rasa-rasanya kita belum bisa menjadi pribadi yang otonom. “Aku-diri” yang berani memilih cara sendiri, pilihan sendiri. Bukankan kita ini dilahirkan sendiri-sendiri. itu artinya hidup kita punya jalan dan caranya sendiri. Otak kita tumbuh sendiri, di kepala kita sendiri. makanya, seharusnya keunikan diri kita juga harus dihargai. Kemerdekaan individu. Dengan begitu tanggung jawab menjadi jelas artinya. Secara etis segala konsekuensi moral mau tidak mau menjadi tanggungan kita sendiri. Bukan tanggungan kelompok. Menjadi aneh rasanya, jika kita mau disebut individu yang bertanggung jawab tetapi sebelumnya kita tidak diberikan ruang untu memilih sendiri. Bagaimana mungkin seseorang harus dimintai tanggung jawabnya jika dia tidak memiliki kebebasan? Maka itu semuanya harus dimulai dari diri pribadi. Seorang yang sadar diri. Dari situlah keagenan muncul. Yakni rasa keharusan untuk bertindak. Mau melakukan sesuatu dengan kemerdekaannya. Dan mau bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.

01 Februari 2017

madah lima puluh enam

Yang menarik dari seorang Nietzsche adalah pandangannya tentang kebenaran. Di mata Nietzsche, paras kebenaran tidak lebih dari atas kekuasaan moral tertentu. Artinya, genetika kebenaran di mana pun itu dilahirkan bukan semata-mata berasal dari rahim epistemologi manusia, melainkan sudah dikukuhkan oleh pandangan moral tertentu. Dalam konteks ini, kebenaran tidak diverifikasi dari benar atau salahnya suatu proposisi, tapi etis (boleh) tidakkah pernyataan itu diberlakukan.

Bahkan lebih subtil dari itu, Nietzsche bukan sekadar memproblemkan hakikat kebenaran itu sendiri, namun mengapa kebenaran itu dinyatakan sebagai kebenaran? Apa dasar terdalam di balik benar salahnya suatu proposisi? Apa yang mendasari kebenaran itu mesti ditegakkan?

Di balik ungkapan proposisi yang mengandung kebenaran, pada hakikatnya hanyalah dorongan atas absolutisme. Deskripsi ini dinyatakan Nietzsche akibat dari sifat dasar manusia untuk merasakan keutuhan, suatu kebutuhan untuk “percaya” atas sesuatu yang mutlak.

Yang naif dari itu, jika “yang mutlak” itu mendapat tantangan dari luar dirinya, maka akan bekerja dengan sendirinya suatu mekanisme untuk membela diri dengan cara mengecam dan menyingkirkan yang lain. Bahkan sampai melenyapkan.

Itu artinya, jika ada yang mati-matian mempertahankan suatu kebenaran tanpa memerhatikan asas-asas yang menyertainya, pada konteks ini hanyalah suatu usaha agar tampak absolut. Absolutisme, di mana pun itu pasti dan selamanya akan mempertahankan dirinya. Karena itu, kesalahan tidak dapat diterima. Karena itu juga agar kebenaran enggan dikatakan salah.

Perasaan atas “yang mutlak” inilah yang banyak memecah kohesi sosial belakangan ini. Kebenaran bukan bahasa universal yang menembus sekat-sekat pemikiran dan kebiasaan. Bahkan, sebaliknya, setiap segmentasi dan stratifikasi kelas masyarakat memiliki nalar negasi dengan memproduksi kebenarannya masing-masing.

Itulah sebabnya, tidak ada kode sosial yang bisa sertamerta adaptabel dengan purnaragam paras masyarakat. Agama, yang dalam kaca mata Durkheim sebagai kunci pengikat masyarakat, kehilangan fungsinya dan lebih tampak sebagai faktor pemisah. Akibatnya, masyarakat tersegregasi oleh agama itu sendiri. Dan bahkan agama kehilangan nalar universalnya.

Yang tampak lebih berbahaya, perasaan atas “yang mutlak” ikut dibesarkan dengan semangat religiusitas keagamaan. Bahkan sumber kemutlakan yang didasarkan atas teks-teks, dimodifikasi, dan dicomot dari konteks historis, demi menunjang otoritas kekuasaan tertentu.

Belakangan agama lebih tampak seperti legitimator dari keadaan yang timpang. Meminjam analisis Marx, agama menjadi kekuatan yang mengekalkan “pembodohan”, bahkan memalsukan pertentangan yang sesungguhnya sedang terjadi. Di saat demikianlah agama berfungsi ibarat metamphetamine yang memberikan efek ilusif berupa rasa percaya diri yang berlebihan, dan agresifitas yang meningkat.

Di dalam situasi yang ilusif itulah, kecanduan yang berlebihan atas perasaan “yang mutlak”, agama menjadi alat mengaburkan relasi-relasi problematis, misalnya, berupa perseteruan dinasti politik, peperangan geo-politik, perebutan sumber-sumber daya ekonomi, pembodohan dan pengerusan tradisi kebudayaan, peperangan atas batas-batas teritori, perebutan otoritas suku dan klan, perebutan supremasi etnik, penggusuran, dlsb.

Persoalan di atas akan terus diabaikan dengan sengaja ataupun tidak akibat perangkat membaca fenomena yang dibatasi dengan cara membaca yang esensialis. Sementara fenomena dan relasi problematis yang mengemuka saat ini merupakan peristiwa historik yang mesti ditelisik lebih jauh.

Krisis epistemologi juga merupakan faktor penting yang minim mengapa keadaan sekarang begitu tampak menjemukkan. Untuk mempresentasekan, misalnya, kebenaran, senantiasa dilalui dengan cara agresif dan massal. Dua cara ini menjadi penanda bahwa tiada diskursus yang menopang kebenaran sebagai produk yang lahir dari toleransi atas keberagaman dan dialog. Bahkan hilangnya dua modal ini, kebenaran selalu tampil dengan cara yang brutalistik dan histerik.

05 Februari 2016

madah limapuluhlima

Ada suatu ramalan, bahwa dunia di masa sekarang adalah tempat yang sudah uzur. Dunia yang tua. Dunia yang sebentar lagi bakal hancur. 

Dunia yang tua, ditandai dengan hubungan manusia yang penuh dusta. Ikatan sosial yang hipokrit. Welas asih yang pamrih. Kebaikan yang bersyarat. Kemanusiaan yang ditopang dengan semangat ekspansif untuk membangun kekuasaan. Dunia yang tua, diramalkan sebagai akhir dari dunia.

Itulah mengapa di balik justifikasi demikian, dunia akhirakhir ini banyak didera derita. Agama yang nubuatnya untuk kasih sayang malah sering kali merobekrobek tubuh. Teknologi justru membuat manusia menjadi robot yang kadang melupakan esensi kemanusiaan. Kebudayaan manusia akhirnya mejadi suatu sikap barbar. Ramalan yang dinabalkan Hobbes, homo homini lupus menjadi dorongan moral di dalam relasi antara sesama. Hidup seakanakan hanya suatu keramian tanpa perhatian. Yang ada adalah rakus yang mengaungngaung.

Saya belakangan ini malah ikut menjadi orangorang yang abai. Yang menjadi bagian tanpa perlu diucapkan, bahwa diamnya seseorang malah akan dianggap menjadi bagian dari suatu skema yang dominan. 

Kita yang secara pendidikan, ekonomi, maupun budaya, yang tergolong mapan dari kelas yang ditindas, sepertinya menjadi orangorang yang dihardik dalam hadis: barang siapa yang diam ketika menyaksikan penindasan, maka dia terhitung di dalamnya sebagai ikut melakukan. Hadis yang saya tak hafal penuh redaksinya ini, saya tahu pernah diucapkan Ali Bin Abi Thalib. Orang yang disebut rasul Allah sebagai orang yang menjadi gerbang ilmunya.

Secara etis, suatu sikap acuh bagi kita sering dibilangkan sebagai reaksi yang normal. Banyak hal yang membuat itu lumrah: pengemis yang sering kita lihat di bawah perempatan, penggusuran di sebelah kompleks tempat kita tinggal, terkulainya seorang perempuan yang terlibat kecelakaan, kawan yang sulit mencari nafkah, ibu hamil yang tidak kebagian kursi, dsb. adalah wajar begitu saja karena betapa akrabnya kita dengan keadaan semacam itu. Keakraban dan betapa seringnya fenomena semacam itu yang disaksikan membuat kesadaran dan kepekaan kita menjadi tumpul berlahanlahan.

Atau sepertinya kesadaran kita masih jatuh ke dalam keyakinan yang fatalis, yang mengandaikan bahwa seluruh jalinkelindan kehidupan ini adalah kejadian yang tanpa sebab. Suatu peristiwa yang terjadi begitu saja. Atau bahkan suatu keadaan yang memang telah diatur sebelumnya. 

Yang terakhir ini memang mengakui suatu alasan yang jelas sebagai musabab di balik keberlangsungan peristiwa yang dialami, namun dengan sendirinya, keyakinan semacam ini malah memberikan penekanan bahwa seluruh yang terjadi malah sudah demikian adanya.

Di saat itulah sikap acuh menjadi sebab dari bagian keadaan yang terjadi. Bahkan sebahagiannya sudah merasa berbuat baik dengan angkat bicara atas peristiwa yang dihadapi.  Diamdiam bangunan moral kita hanya ditopang atas tindakan verbal tanpa mau lebih jauh menjadi tindakan langsung. Banyak orang yang akhirnya asal omong merasa yakin telah berbuat baik. Asal komentar telah merasa benar.

Saya pernah membaca bahwa ada perbedaan mendasar antara shalihun dengan muslihun. Orang saleh, orang yang disebut bertakwa, orang yang dekat dengan tuhan, sudah pasti banyak. Mereka sering kali kita temui, bahkan sering kali mengajak agar orang banyakbanyak mengingat agamanya. 

Tapi mereka yang mau bertindak baik itu sangat jarang. Justru mereka yang ingin mengubah keadaan sulit kita temukan. Mereka ini bukan sekadar saleh, tapi orangorang yang mengajak untuk melakukan perubahan. Merekalah orangorang muslihun. Orangorang yang melakukan perbaikan. Akibatnya mereka sering dibenci, sering dicibir karena mengganggu kemapanan. Sementara orang yang saleh malah banyak mendapat simpati, bahkan disukai oleh banyak orang. Sebab mereka sering kali cari aman. Senangnya diam tanpa mau berbuat apaapa.

Itulah sebabnya ada firman Allah; “dan tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan kota dengan kezaliman sedangkan penduduknya muslihun (melakukan perbaikan)” Ayat ini tidak memakai saleh, tapi muslihun. Orangorang yang berbuat kebaikan. Sebagaimana Muhammad adalah orang yang saleh (baik) sebelum diangkat menjadi nabi, dan menjadi muslihun (pelaku kebaikan) di saat ditunjuk menjadi pilihan Allah.  Karena itulah Muhammad dibenci akibat bertindak sebagai pelaku kebaikan, sebab tindakannya banyak mengubah tatanan yang terlanjur korup.

24 November 2015

madah limapuluhempat

Kejadian itu tidak lebih dari sepuluh menit. Tapi luka yang belum sembuh betul, dipaksa dikenang untuk waktu yang tak tentu ujung.

Belum silam kejadian Charlie Hebdo, Jumat, 13 November, Paris jadi gempar. Dua orang mengacung senjata ke manamana. Masyarakat dibuat kalut. Dan akhirnya korban berjatuhan.

Yang unik, peristiwa yang terjadi dua ratus meter dari bekas kantor Charlie Hebdo itu, adalah agama jadi motor. Dua orang yang berpakaian hitamhitam itu menyosor tanpa ampun. Mereka berteriak, mereka menyatakan sikap: “apa yang kalian lakukan kepada rakyat Suriah, sekarang kalian akan membayarnya.” Sebuah balas dendamkah ini? Yang pasti, di peristiwa itu, banyak pihak yang dibuat bertanyatanya.

Di hari itu, nampaknya Paris jadi horor. Enam lokasi jadi titik yang menyulut luka. Akhir pekan yang dilalui dengan pesta harus berakhir kecam. Pertanyaan semakin mendesak. Politikkah ini?

Akhirakhir ini teroris jadi kata yang politis. Sebab terma yang mulai akrab di tahun 2000an itu, selalu dibaca dengan cara yang tidak adil. Atau kata itu jadi kata yang didominasi oleh tindak baca yang terlanjur timpang. Sebab nun jauh dari Paris ada negeri yang bertahuntahun digedorgedor bom tiada henti. Dari sana, negeri yang poranda, tak pernah lahir kata teror untuk merujuk kepada perilaku bangsabangsa yang jadi momok. Politikkah ini?

Di Palestine, atau negerinegeri yang berkecamuk perang, kata teror adalah kata yang sudah sedari awal dibentuk. Media nampaknya banyak bertanggung jawab tentang ini. Terorisme sebagai suatu kata predikat, secara timpang hanya dilekatkan kepada embelembel agama. Ketika agama menjadi motivasi melakukan kekerasan, maka itu disebut teror. Tapi ketika zionis israel menyobek tubuhtubuh orangorang palestine, misalnya, itu disebut perjuangan hak asasi.

Kejadiann di Paris bisa menjadi satu penanda penting bagaiman politik lua negeri negaranegara Eropa bekerja. Apalagi berkenaan dengan dunia Islam. Dengan kejadian di Paris, Islam menjadi kedok untuk pemerintah Perancis  mengambil sikap terhadap terorisme yang terjadi di Timur Tengah. Dengan dalih penyerangan yang konon dilakukan oleh militan agama, Perancis punya klaim untuk menyerang organisasi ISIS yang berada di Suriah.

Yang aneh adalah bagaimana simpati yang terbangun pasca kejadian. Banyak orangorang yang menaruh simpati kepada korban Paris, tapi hal yang sama tidak dilakukan kepada masyarakat yang seharihari rasa amannya dilucuti dengan mercunmercun peluru. Di Palestin, atau bahkan di Suriah, justru hanya dipandang sebelah mata tanpa terkecuali.

Rasarasanya, dari cara merasai yang berbeda inilah, kita dituntut untuk bisa menyikapi dua konteks dengan cara yang lebih adil.

Dan rasa adillah, yang barangkali hilang dari kita selama ini, apalagi pemberitaanpemberitaan yang lalulalang tidak jelas ujugujugnya. Keadilan menilai harus kita miliki ketika kita berada di antara perang antar bangsabangsa seperti saat ini.

Di Paris, beberapa titik jadi luluh lantah. Sedang di negerinegeri yang juga hal yang sama terjadi, seluruh titik bukan lagi manikmanik yang indah untuk dipercakapkan. Mereka seringkali jadi titik hitam yang tak terpindai oleh penilaian kita.

08 Mei 2015

madah limapuluhtiga

Namun aku tak bisa menghakimi situasiku sendiri; aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menantang keabadian dan karena itu aku tak mengerti apaapa. Aku tak kehilangan apaapa: meski banyak hal seharusnya kurindukan, seperti rasa manzanilla atau waktu yang kuhabiskan berenang di sungai kecil di dekat Cadis saat musim panas tiba- sayangnya kematian telah mengeruhkan segalanya.

Seperti itulah Sartre menulis bait dalam cerita pendeknya, The Wall. Cerita pendek yang diterbitkan di 1933. Ungkapan itu  adalah ungkapan Ibbieta, salah satu tokoh yang genting menghadapi waktu ekseskusi kematiannya. Ibbieta tak sendiri, ia bersama dua tokoh lainnya yang mengalami hal yang sama untuk ditembak mati; Juan dan Tom. Diceritakan di sana, baik Ibietta, Juan dan Tom adalah tahanan yang tanpa melalui peradilan harus menerima keputusan eksekusi mati. Kesalahannya masingmasing adalah menyembunyikan tokoh pemberontak, terlibat gerakan subversif  dan merupakan bagian keluarga dari seorang pengagum anarki.

Melalui tiga tokoh ini, nampaknya Sartre berusaha menyampir pandangan eksistensialisnya dalam kaitannya dengan kematian. Di cerpen yang lumayan panjang itu, dari sikap tokohtokohnya, saya bisa menangkap suatu sikap eksistensial bagaimana manusia tengah menghadapi batasanbatasan keberadaannya. Suatu sikap yang menyadari bahwa kebebasan secara eksistensial berhadapan langsung dengan keadaan yang tak dapat dilampauinya. Pertama, Sartre mengangkat metafora tahanan sebagai keadaan yang melingkupi eksistensi, dengan tembok sebagai perbatasan antara kebebasan dan keterpenjaraan. Dan yang ke dua adalah kematian itu sendiri.

Kematian, biar bagaimanapun adalah kepastian yang tak bisa disisihkan dalam belantara nasib manusia. Ia bisa saja terselip dalam suatu momen hidup yang tak disangkasangka. Datang diantara beragam pengalaman yang rupamacam dan dengan suatu kekuatan purba memutus semua mata rantai tepat di tengahtengah ketidaktahuan kita. Kemudian pergi membawa keberadaan kita dan hanya menyisakan tubuh yang tertinggal waktu. Sebab itulah kematian adalah ihwal yang misterium. Fenomena yang tak memiliki riwayat identitas. Datang dan kemudian tetiba pergi. Kematian memanglah kematian.
   
Tapi bagaimanakah jika ujung dari keberadaan kita sudah merupakan terang yang benderang. Di mana suatu pagi yang belum biru seluruh adalah akhir dengan harus melalui cara letusan pelor panas. Begitulah nasib tiga tokoh yang diungkap Sartre dalam ceritanya; ditembak mati. Takdir yang harus diputuskan tanpa pengadilan. Kematian yang harus di lalui di suatu pagi.  Sementara sebelumnya tersisa satu malam sebagai waktu yang tersisa jelang eksekusi.

Dan di dalam masa penantian itu, waktu adalah medium eksistensi untuk dihayati tiap momennya. Di sanalah kesadaran terhadap waktu nampak di dalam penghayatan, menjadikannya bagian yang dikontruksi kembali untuk diselami. Di situasi itu, barangkali manusia menjadi mahluk yang berbeda, menjadi mahluk yang mewaktu.

Seperti itulah yang dialami oleh Ibbieta dalam menunggu kematiannya. Di malam menjelang kematiannya, dengan segenap kesadarannya, waktu dikonstruksinya menjadi totalitas yang menegasi liniearitas spasial. Waktu dimasukinya dengan aliran kesadaran penuh yang dibentangnya dengan seluruh totalitasnya. Dalam keadaan ini ada dua hal yang menjadi ciri eksistensi manusia; kecemasan dan ketakutan. Tetapi hanya kecemasanlah yang mengindikasikan esensialitas manusia sebagai penanda kebebasannya.

Mengacu dalam pemikiran Heidegger tentang kecemasan, adalah keadaan paling dasar dari perasaan yang tak memiliki kejelasan atas objeknya. “Objek rasa cemas bukanlah mengada di dunia ini. Karena itu rasa cemas pada hakikatnya tidak memiliki isi persoalan”  ungkapnya. Melalui ciri ini, kecemasan merupakan perasaan yang berbeda dari ketakutan yang menjadi bagian dari keseharian. Ketakutan selalu mengandaikan kepastian yang tampak benderang sebagai konsekusensi atas tindakan, sementara kecemasan adalah peristiwa yang tak mampu memproyeksi keadaan apa yang dihadapi; suatu keadaan di hadapan ketidakpastian yang tak terjelaskan; suatu misterium tanpa dasar. Sebab itulah kematian yang di hadapi, walaupun sudah merupakan suatu peristiwa yang akan di hadapi, tetap merupakan ihwal yang tak memiliki isi. Dan “sesuatu yang tak memiliki isi” itulah yang dihadapi Ibbieta.

Begitu juga yang dialami oleh Tom; suatu kesadaran yang dimunculkan semenjak ia merenungi waktu sebagai selaput tipis yang akan membawanya pada kematian. Nampaknya di dalam cerpen ini, watak yang paling menunjukan bagaimana kesadaran eksitensial di narasikan Sartre adalah pada tokoh ini; seorang aktivis yang terlibat dengan gerakan pemberontakan. Di masa penantian di dalam penjara, pasca perbincangannya dengan Ibieta menyangkut kematian, melalui kecemasannya ia mengajukan pertanyaan; benarkah bahwa semua hal dalam hidup ini akan berakhir?

Di cerita itu tak ada jawaban untuk pertanyaan yang diajukan Tom. Sepertinya hal itu dibiarkan menganga tanpa dialog dari Ibbietta yang bisa saja dijawabnya. Dialog itu mengibaratkan suatu perbincangan yang siasia, tanpa arti, sebab barangkali “akhir” bukanlah pokok yang menjadi soal utamanya.  Dari filsafat Sartre kita bisa tahu, “akhir” sama saja sebagai suatu batas yang secara paradoksal menganggap “permulaan” sebagai titik muasal manusia.

Karena itulah dalam cerita itu, Sartre mengawali setting cerita dengan ketiga tokoh yang begitu saja dilempar ke dalam ruangan besar sebagai penjara bagi mereka. Melalui narasi semacam itu, manusia ingin digambarkan oleh sahabat Albert Camus   ini sebagai mahluk yang “terlempar” begitu saja ke dunia tanpa niat sebagai dasarnya.  Ada dengan “terlempar” begitu saja, tanpa asalusul, tanpa riwayat. Semacam kehadiran yang tidak didasari oleh basis metafisika seperti agamaagama dengan menyebutkan asal muasal dari suatu peristiwa dua manusia asal yakni Adam maupun Hawa.

Tidak seperti agamaagama yang menyertakan asalasul sebagai riwayat kehadiran dalam sejarah, Sartre mengandaikan dengan demikian tak ada alasan untuk mengkhawatirkan  suatu akhir, termasuk kematian. Sebab “kematian menyingkirkan semua makna dari kehidupan” sebutnya. Maka itulah eksistensilah yang harus menjadi pusat mengada manusia,  bukan kematian itu sendiri.

28 April 2015

madah limapuluhdua


Tak saya duga sebelumnya, di Soho, pusat perbelanjaan di tengah London yang terkenal itu, ada dua tempat yang secara historis mengingatkan kita pada komunisme. Di pusat perbelanjaan itu, yang banyak menjual produk merekmerek terkenal dunia, terdapat sebuah gedung yang pernah ditinggali Marx semasa di Inggris. Juga sebuah restoran Cina yang menggantung perkataan pimpinan revolusi negeri Tiongkok, Mao, di depan pintu masuknya sebagai semboyan barangkali, "barang siapa tak kuat memakan cabe, maka dia bukanlah seorang yang revolusioner". Ini suatu yang unik, juga sesuatu yang sesungguhnya kontras.

Soho di kota London, dari masa lalu adalah tempat dengan sejarah yang panjang. Tapi ringkasnya, di sana dulunya adalah tempat tinggal kaum pekerja. Di Inggris ketika revolusi industri pecah dan bergaung besar, saya kira tempat itu adalah tempat yang tak berpenanda kemakmuran. Seperti tempat kumuh umumnya, Soho pastinya adalah tempat yang tak terawat, tempat yang kotor dan tak terurus.

Di tempat itulah Marx tinggal selama di Inggris. Melarat dan kemudian mati. Dan di situlah kontrasnya, di mana Soho yang dulunya adalah tempat kumuh kelas pekerja, kelas yang dibela komunisme, kini adalah tempat pusat perbelanjaan yang glamour,  tempat di mana kiblat suatu gaya hidup kelas atas.

Di tempat yang glamour itu, nampaknya kehidupan tak pernah berhenti. Seperti tempat hiburan lainnya, di Soho, orangorang datang dan berkumpul untuk menghimpun sekaligus melepas hasrat untuk mengkonsumsi. Mengisi bangunanbangunan tinggi dan pulang dengan hati yang tak sungsang.

Saya tak pernah ke Soho, tapi dari fotofoto yang saya lihat melalui jejaring internet, saya bisa tahu bagaimana suatu ruang yang muram dapat dengan cepat berubah total menjadi tempat yang tak pernah berhenti menyedot kapital.

Mungkin penjelasan tentang ihwal itu adalah bagaimana betapa kuatnya pertukaran modal dapat menjadi sumbu suatu perubahan. Ruang biar bagaimanapun, seperti yang dibilangkan Levebre adalah keberadaan yang termuati kepentingan di dalamnya. Ruang biar bagaimanapun, di saat kapital begitu gesit berputar, adalah media yang sungguhsungguh dahsyat menggerakkan urbanisasi.

Ruang, di dalam pandangan Levebre sebenarnya adalah realitas yang sesungguhnya tak suci dari perbuatan manusia. Ini artinya ruang adalah realitas yang diproduksi manusia secara sosial. Di dalam pengertian ini, ruang berarti realitas yang secara kontinyu terbentuk atas dasar modalitas yang terus menerus dipertukarkan.Di saat itulah ruang akhirnya menjadi entitas yang sarat kepentingan. Di saat itulah ruang terus diproduksi berdasarkan imajinasi yang menyertainya.

Sebab itulah Levebre menyebutnya ruang yang telah dipolitisasi. Dalam istilah sosiolog Prancis itu, ruang yang telah diberlakukan demikian disebutnya sebagai ruang abstrak. Sebagaimana di dalam konteks masyarakat kapitalisme lanjutan, ruang abstrak disituasikan menjadi pengetahuan yang berciri ideologis sehingga mengaburkan kondisi alienatif yang terjadi pada level praktik. Di sanalah ruang akhirnya disituasikan dalam alam imaji sebelum menjadi peta kognisi bagi ruang kongkrit.

Barangkali itulah yang terjadi di sana. Di soho ruang yang berwajah muram, tempat kumuh kelas pekerja tinggal, berubah menjadi ruang pusat kapital berputar. Juga, di Soho, urbanisasi begitu gencar mengubah pusat menjadi betulbetul "pusat". Dan di Soho, pusat itu adalah kiblat suatu gaya glamour ditegakkan.

Syahdan, apa yang terjadi di Soho juga menjadi tren pembangunan di manamana. Terutama di dunia berkembang yang pesat membangun sentralsentral perubahan dengan menyulap daerahdaerah menjadi ramai. Di mana dengan satu rumus yakni keramaian yang bisa menjalankan roda pertukaran sehingga kapital terus diakumulasi. Melalui cara itu maka infrastruktur dibangun, jalanjalan diperbaiki, gedunggedung ditambah dan simsalabim suatu tempat menjadi ruang yang dikapitalkan.

11 Maret 2015

madah limapuluh


ADA kisah tentang Pak Hamid yang  risau. Atau sebenarnya ia takut. Sebelumnya datang kabar nun jauh dari Papua. Anak bungsunya bakal menikah. Dari tempatnya yang jauh dari anaknya tinggal, tidak terbersit bahagia di mukanya. Yang ada justru tanda suatu soal berat. Anaknya akan menikahi perempuan berbeda agama. Usut punya usut, dari pengalaman anaknya yang lain, setiap pasca menikah dengan pasangan beda iman, anaknya pindah keyakinan.

Sebab itulah air mukanya jadi murung. Kabar yang ia terima seperti air jebol merusak apa saja. Anaknya yang dibesarkannya bertahun-tahun kini jadi orang yang bikin hatinya gulana. Membikin hatinya runyam.

Bagi sebahagian orang agama adalah pilihan. Tapi bagi Pak Hamid, yang namanya agama tidak mesti diganggu gugat. Ia setua tradisi turun temurun. Itulah sebab, agama jadi soal penting. Bertahun-tahun anaknya dididik sesuai agama tradisi, walaupun memang istrinya seorang muallaf. Tapi malang, justru di saat akan membangun rumah tangga, anaknya bakal berpindah keyakinan.

Tapi apa yang sesungguhnya dikhawatirkan Pak Hamid, sebuah label agamakah? Atau suatu yang lain. Sesuatu semisal, kebenaran yang hakiki.

Di negeri ini, suatu label sering kali memakan korban. Apalagi label yang telah mapan dalam memori kolektif masyarakat. Dalam sejarah Indonesia, label abadi yang terus dipugar dan melekat kuat tak pernah keluar dari dua hal: agama dan komunisme.

Dengan dua label itulah, sejarah Indonesia dinarasikan sesuai tafsir kekuasaan. Hingga akhirnya, label itu menjadi artefak mengakar kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Label dianggap penting oleh sebab suatu pengertian dapat dirujuk. Kasus Indonesia, label dipakai untuk kepentingan identifikasi. Dengan begitu suatu golongan dapat dengan mudah dikelompokkan berdasarkan kesamaan dan cirinya. Jika sudah demikian, suatu rencana akan lebih mudah diatur dan dikerjakan.

Tapi suatu identifikasi juga terkadang jadi sumber pelecehan. Dan dari sanalah datang korban. Sebab pelabelan dengan maksud membangun batas seringkali mempertautkan hal ihwal subtil: hasrat untuk benar.

Nietzsche, filsuf akhir abad 19 menyebut perkara hasrat yang timbul semacam itu sebenarnya adalah soal moral. Yakni kebenaran yang selalu jadi tujuan moral orang-orang.

Artinya, jika ada yang selalu menggebu-gebu menunjuk kebenaran melalui telunjuknya, maka itu berarti bukan soal kebenaran, tetapi justru posisi moralnya, kedudukannya.

Dari sanalah Nietzsche menyebut itu sebagai hasrat berkuasa. Yakni keinginan untuk mengambil posisi yang layak dan tak tergugat. Dari Nietzsche, soal-soal kebenaran tak selamanya jadi perkara yang murni demi kebenaran. Tapi di baliknya motif, ada maksud inheren dari wacana kekuasaan.
Ini berarti kebenaran atau hal ihwal yang berputar di sekitarnya adalah sesuatu yang politis. Apalagi menyangkut pengakuan. Dalam politik pengakuan itu penting, sebab dari situlah sumber kekuasaan. Tanpa pengakuan kekuasaan tak dapat stabil berdiri.

Barangkali karena label itu penting. Barangkali memang label itu harus ada. Pak Hamid resah, karena soal label itu penting. Apalagi ini soal agama, soal iman.

Agama memang bisa mendatangkan kasak-kusuk. Di mana kita pernah kisruh hanya soal suatu identitas perlu atau tidak dicantumkan. Di negeri ini, di saat awal pemerintahan Jokowi memimpin, masalah tentang pencantuman label agama dalam kartu identitas jadi perbincangan nasional. Soalnya suatu label identitas selama ini jadi sumber diskriminasi. Dengan suatu label, suatu golongan dapat bersuara lantang dan suatu golongan harus tiarap bersembunyi.

Di negeri ini, memang soal label jadi perkara sensitif. Label seperti sebelumnya dinyatakan adalah soal pengakuan. Tapi terkadang pengakuan atas posisi, jabatan, kekuasaan secara bersamaan malah sering menundukkan yang lain. Mungkin, dengan itulah negara ingin menghapus label identitas. Biar bagaimana pun suatu label tak selamanya mampu mewakili keanekaragaman di baliknya.

Ini berarti secara tidak langsung negara ingin menghapus cara berpikir dominatif. Dengan kata lain, keyakinan mayoritas  tidak mesti menundukkan keyakinan minoritas.

Namun ini sebenarnya kisah Pak Hamid yang risau mempersoalkan keyakinan putranya. Sebab dia tahu, suatu label tidak dengan mudah dapat berganti begitu saja. Agama putranya berarti pula agaama dirinya yang sudah lama menjadi label turun temurun. Walaupun akhirnya, rasa gundahnya tak bisa serta merta menghindar dari suatu kenyataan. Dengan kata lain yang namanya agama, tidak selamanya berkedudukan sebagai agama pemberian generasi sebelumnya.

Apa boleh buat raut muka Pak Hamid adalah jawabannya. Putranya telah memilih.

madah empatpuluhsembilan

Ketika akal menemukan dirinya bangkit, dunia tampak terang. Yang semula samar dan terselubung dibalik tirai mitos, jadi transparan. Dunia akhirnya terkuak dengan pengetahuan yang menjadi jembatan. Kant, di era renaisans menyebutnya pencerahan.

Tapi dengan semangat pencerahan, Kant juga membangun kritik terhadap nalar pencerahan yang superior. Kritisismenya akhirnya menyingkap cacat inheren dalam akal. Ternyata akal, yang begitu superior membuka terang, tak selamanya jadi bohlam yang sempurna. Akal yang selalu ingin menjelaskan lengkap fenomena, ternyata juga retak. Yang ditangkap hanyalah lapisan fenomena yang tampak dengan cahayanya yang redup. Akal ternyata tak mampu menangkap noumenadas ding an sich, inti kenyataan yang sesungguhnya.

Sebab itulah Kant tak percaya suatu yang metafisis seperti subtansi bendabenda. Akal tak bisa menjangkau itu. Akal justru adalah jembatan atas keyakinan Kant yang agonistik itu. Tiada yang metafisis dibalik daya akal. Yang murni dalam metafisika ternyata adalah sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibuktikan. Lewat etika transedental Kant, metafisika untuk kali kedua dibungkam.

Tapi itu Kant. Dengan agnotismenya. Dengan kecurigaan akal murninya.

Yang berbeda datang dari filsuf Iran kontemporer, Murthada Muthahhari. Dalam ceramahnya yang dibukukan dengan nama Mas'aleye Syenokh, Kant dikritik. Dan dalam  kritikannya itu, bukan saja Kant, seluruh pandangan yang skeptik terhadap kemungkinan epistemologi dikritiknya.

Muthahhari sebenarnya tidak tepat jika disebut filsuf per se. Sebab tidak seperti filsuf umumnya yang memang menyelisih dari otoritas teks agama. Itulah mengapa dalam ceramahnya itu ia memulai perbincangannya dengan soalsoal epistemologi dari al quran. Di sinilah beda itu tampak.

Dan beda itu sebenarnya memang adalah sesuatu yang disengaja Muthahhari. Soal epistemologinya adalah suatu rancang bangun yang ia susun untuk membuktikan rapuhnya pemikiran asing.

Dalam skema itu, "asing" adalah berarti produk pikiran yang mencerminkan semangat sekuler. Ini berarti maksud Muthahhari merupakan ungkapan yang merujuk pada tempat yang jauh di sana, yakni suatu masa di mana sekularisasi adalah semangat yang massal disambut suka cita. "Asing" adalah penanda suatu produk pikiran yang tumbuh saat yang sakral disingkirkan. Dengan kata lain, pemikiran yang tidak tumbuh dengan semangat yang mengafirmasi theos. Dengan Itulah, kritisisme Muthahhari berarti punya maksud tak ringan: membuktikan kokohnya pemikiran islam.

Dan dari cara pandang yang quranik, Muthahhari menyebut epistemologi yang dibincangkannya adalah epistemologi islam. Lalu dari ceramah mas'aleye syenokh, suatu pandangan khas islam dibentangkannya. Islam sebagai suatu cara pandang, akhirnya jadi suatu paradigma.

Sebenarnya, ceramah yang ia sampaikan di tahun 1970 itu adalah ceramah yang juga politis. Ceramah yang juga punya arti emansipasi. Sebab dalam ceramah tentang pengetahuan yang dibincang saat itu, punya maksud membangun kesadaran politis.

Karena itulah ceramahceramahnya dilarang. Rezim saat itu melihat Murthahhari sebagai ancaman politik, sebab di tahuntahun yang genting saat itu, suatu perkumpulan dianggap subversif. Saat itu, Iran memang mengalami gejolak politik, dan Murthada salah satu orang yang memicunya.

Di masamasa yang genting itu, sebenarnya Muthahhari tidak sendiri. Ceramahceramahnya adalah bagian dari skenario besar yang kala itu dirancang: revolusi. Dan dari sebagian yang lain, yang diisi oleh tokoh muda Iran, juga punya andil: Ali Syariati.

Lewat mereka berdualah di tahuntahun itu, di bawah suatu rejim yang menggeliat dengan kekuasaan yang tanpa batas, pembangunan paradigma revolusi disusun. Seluruhnya dibincang dengan tafsir politik agar punya makna yang kongkrit. Islam dengan lidah dua orang itu akhirnya jadi ajaran yang tidak sematamata metafisis, tetapi menjadi lebih runcing, menjadi lebih kritis.

10 Maret 2015

madah empatpuluhdelapan

Konon dari waktu senggang muncul kebudayaan. Konon dari inti kesunyian menerbitkan wahyu bagi para nabi. Juga konon, kerja, di zaman sekarang adalah penanda kemanusiaan yang ambruk.

Kerja sebenarnya adalah suatu yang luhur. Bila Hegel membilangkannya sebagai proses idealisasi ruh yang bergerak tanpa pamrih dalam tubuh, Marx, orang yang mencelanya itu, meyakininya sebagai modus eksistensi ril manusia. Hegel dan juga Marx melihat kerja sebagai bentuk to becoming: cara manusia berada.

Tapi cara to becoming, bagaimana kerja di zaman ini sudah jadi sesuatu yang ambruk. Orang dipaksa untuk bekerja. Itulah mengapa dari yang terpaksa menimbulkan alienasi Sebab kebebasan tercerabut persis seperti baut yang membuat suatu perangkat jadi hancur. Kebebasan yang jadi tanda keutuhan, dalam sistem kerja yang dipaksa itulah yang jadi soal.

Akhirnya manusia, dengan kerja yang terpaksa jadi dekaden. Manusia, justru bukan menjadi mahluk yang luhur, melainkan hancur dalam sistem yang di cela sejarah: kapitalisme. Di dalamnya, yang sebelumnya luhur jadi lebur dan menguap jadi kapital yang berlipat ganda. Manusia menjadi asing dalam kerja. Industri jadi sistem kukuh yang untung.

Joseph Pieper melihat kerja yang sudah tak.luhur itu seperti sistem agama. Menurutnya, di alam modern, terutama kaum urban yang didorong untuk dapat terus bekerja, kerja per se telah dikultuskan. "Kerja sudah seperti doa" sebutnya. Artinya, kerja begitu dimutlakkan dalam zaman yang didorong oleh sistem yang penuh daya saing.

Dan di dunia itu, kerja sudah identik dengan cara yang teknis. Akhirnya kerja jadi kehilangan keluhuran. Kerja menjadi kehilangan sakralitasnya sebagai pemenuhan eksistensi jiwa manusia. Sebab kerja berarti usaha yang rutin, otomatis dan mekanis, maka kerja kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang ditandai dengan cengkrama dan waktu kolektif.

Itulah mengapa krisis eksistensi terjadi. Kerja jadi penjara eksistensi. Kerja jadi rutin yang mencuri kesadaran manusia.

Kehilangan yang luhur akibat kerja yang rutin dan yang sesak di jantung krisis eksistensi, bagi Pieper bisa ditampik dengan cara menghidupkan waktu senggang.

Di Yunani purba, waktu senggang ditandai dengan suatu yang luhur: theorea. Theorea yang dari sana terma teori dilahirkan, sebenarnya adalah suatu sikap "melihat" dan "memandang" suatu yang tetap dalam cosmos. 

Cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.

Sebab itulah berpikir berarti mencari ketetapan yang sama dengan ketetapan alam. Aristoteles menyebutnya dengan kaidah kesesuaian partikular akal manusia dengan alam universitas cosmos. Singkatnya, berpikir selalu adalah usaha untuk menyeleraskan yang ada dalam nous dengan cosmos.

Habermas melihat aktivitas theorea itu dalam peradaban Yunani dengan sendirinya bermaksud praxis. 

Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam praktiknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.

Pieper menyebut itu sebagai keadaan yang kontemplatif. Di dalam keadaan itu manusia kembali dapat keluar dari penjara rutin untuk bersentuhan denga totalitas realitas. Di saat itulah, bagi Pieper terbentuk suatu relasi yang fundamental antara manusia dengan kenyataan yang melingkupinya. Di sinilah waktu yang total berarti pembebasan.

Waktu senggang yang dimerdekakan dengan nuansa yang kontemplatif, adalah cara Socrates mengajak masyarakat Athena dengan maksud menjaga nous agar terus hidup. Sebab ia tahu, nous yang mati adalah kesiasian yang mubasir. Waktu yang bernuansa liberatif dan diisi dengan pemenuhan edukatif inilah yang menjadi asal sekolah.

Sekolah awalnya suatu tindak kemerdekaan dengan memproduksi waktu menjadi produktif. Sekolah adalah peluang untuk mencandra cosmos dengan berpikir yang kontemplatif. Dari sini, sekolah adalah medan nalar untuk beroperasi dengan baik. Dan dari aktivitas inilah peradaban muncul.

Tapi seperti juga kerja yang merenggut kebebasan, sekolah di zaman sekarang bisa jadi adalah tempat kebebasan dibantai. Di sana, juga barangkali tempat kekuasaan bereksperimen dengan kebijakankebijakannya. Sekolah akhirnya laboratorium  tempat kepatuhan dicipta dan mangut jadi rutin. Akhirnya sekolah seperti kata suatu buku, adalah candu masyarakat.

Di sini bukan saja agama jadi candu, melainkan juga sekolah. Akhirnya di saat sekarang ada dua hal yang jadi ambruk; kerja dan sekolah. Kerja sebagai rutin yang mencuri kebebasan dan sekolah yang mencuri pendidikan.

Tapi, anehnya yang dicuri itu malah tak jadi soal genting. Barangkali memang ini karena sekolah kita dulu sudah dari awal mencuri pengetahuan kita. Jadi tak ada yang dianggap masalah apalagi hilang.

09 Maret 2015

madah empatpuluhtujuh

Hari ini hari kepunyaan perempuan. 8 Maret, dengan serentak, perempuan tetiba ditempatkan pada suatu titik yang agung. International womens day memang punya gema seruan yang lantang.

Perempuan dalam 8 Maret adalah suara emansipatif untuk merebut posisi yang sewajarnya dalam sejarah. Hari ini pasti banyak yang kembali menengok jenis kelamin yang berabadabad disingkirkan dari pentas cosmos. Hari ini, entah itu pria juga wanita, bersuara dalam satu intonasi yang kuat: hidup perempuan.

Yang sewajarnya dalam sejarah bagi perempuan, sebenaranya adalah deret peristiwa kelam yang tak pernah stabil untuk kukuh pada relasi yang sejajar.

Di mulai dalam sejarah pengetahuan, perempuan sudah selalu dipandang sebagai mahluk yang tak lengkap. Di Yunani purba, filsuffilsuf yang galibnya adalah kaum lakilaki sudah mengukuhkan pandangan semacam itu. Perempuan seperti mahluk yang keluar dari lintasan cosmos yang semestinya. Itulah mengapa, perempuan dianggap pelengkap dari susunan hirarki tatanan alam yang maskulin.

Dalam agama, yang kelam bagi perempuan sudah jadi titik yang tak bisa digugat. Titik itu sudah merupakan kepastian yang semakin mapan dilegitimasi oleh teks. Bahkan semenjak awal penciptaan, perempuan adalah sumber tulah. Bahkan kehidupan manusia adalah ulah perempuan yang menyebabkan penderitaan jadi tak berkesudahan.

Tapi sejarah adalah putaran waktu yang tak pernah stagnan. Sejarah adalah kompeksitas waktu dan ruang yang saling mengisi. Di dalamnya peristiwa terbentuk. Di dalamnya selalu ada yang kumulatif. Dari keterbelakangan perempuan, waktu dipelajari dan ruang dijinakkan. Yang asing dikenali. Perempuan yang terbelakang akhirnya sadar bahwa dunia yang dihuni adalah tempat bersama untuk diisi.

Ini berarti domestifikasi yang dialami perempuan mulai digugat. Rumah yang dipandang domestik ditarik secara sosiologis dan politik untuk dijabarkan menjadi yang publik. Apa yang biasanya tersembunyi dibalik pintupintu rumah akhirnya diperbincangkan. Penindasan perempuan yang dirasakan bukan lagi harus diendapkan dalam kuburan jiwa, tapi harus diangkat ketitik terang perdebatan.

Situasi itu sebenarnya awalnya didorong dari industrialisasi yang begitu besar merombak tatanan masyarakat feodal. Kehadiran tatanan yang menarik pekerjapekerja untuk keluar rumah, akhirnya menempatkan perempuan pada tempat domestik.

A Vindication of the Right of Woman, merekam suasana itu dengan terkurungnya perempuan borjuis di dalam rumah tanpa pekerjaan. Di abad 18, perempuan kelas menengah yang sudah menikah dengan para profesional dan pengusaha yang kaya, merasakan betul bagaimana aturan "perumahan," jadi sebab keterbelakangan perempuan.

Artinya, kekayaan yang dimiliki perempuanperempuan kelas menengah justru berdampak negatif terhadap keadaan yang mereka alami. Itulah sebabnya kekayaan yang melimpah, membuat perempuan borjuis abad 18, diibaratkan "penganggur yang tak produktif." Mary Wollstonecraft menggambaran itu dengan analog burung cantik yang dikurung dalam sangkar.

Tapi, yang dalam sangkar, menurut Wollstonecfraft harus keluar dari situasi yang memenjarakan. Di waktu itu, Rosseau punya karya Emile tentang pendidikan. Di dalamnya betapa perempuan ditundukkan oleh opresi nalar yang hanya dimiliki lakilaki. Bagi Rosseau, lakilaki yang rasional adalah tepat untuk perempuan yang emosional. Dan perempuan yang emosional dalam pendidikan harus dididik dengan kepatuhan, kesabaran, kelenturan dan ketulusan.

Itulah mengapa Wollstonescraft bersuara: perempuan juga harus terdidik dengan semangat yang sama dengan lakilaki. Yakni dengan merayakan nalar. Perempuan bukanlah mahluk determinis yang disekap emosi, tapi juga mahluk yang punya daya pikir untuk maju. Wollstonecraft menyebut itu dengan agen nalar yang memiliki tujuan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa tekanan superioritas intelektual lakilaki.

Melalui itulah, perempuan di abadaabad itu keluar dari domestifikasi dan melalui pendidikan mendorong katup tungku yang menekan eksistensi perempuan. Akhirnya perempuan keluar berpolitik menuntut hakhak publiknya. Bersuara atas opresi yang dialami. Organorgan pun terbentuk. Dan mereka berjuang.

08 Maret 2015

madah empatpuluhenam

Nun jauh di atas langit sana, terbuka kitab lauh mahfus, tempat segala informasi tersimpan. Tapi di sini, ada media massa. Pusat segala informasi menyebar.

Ini abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

Ada penelitian dari antropolog Amerika, Edmund Carpenter namanya. Melaluinya, kita bisa tahu sebuah kebudayaan bisa hilang oleh karena alatalat canggih berupa semisal radio ataupun televisi.

Di Sio, suatu daerah Irian di timut jauh, suatu budaya pelanpelan tersapu. Adat yang dijunjung sebagai simbolsimbol kebudayaan hilang. Carpenter menuli s itu dengan cermat: "Ketika kami kembali ke Sio, aku tidak lagi mengenal tempat itu. Beberapa rumah telah dibangun lain. Mereka sekarang berpakaian seperti orang Eropa dan perilaku mereka juga berubah. Mereka bereaksi lain. Sebagian mereka menghilang, berangkat ke pusat pemerintahan. Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka dan berubah menjadi individu yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dan tidak lagi menjadi bagian dunia mereka sebelumnya. Teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka."

Ada keprihatinan dalam ucapan Carpenter, tapi juga sebenarnya adalah ketakutan atas hilangnya yang primordial. Sebelum laporan itu dapat ia tuliskan, beberapa waktu sebelumnya ia datang memperkenalkan alatalat teknologi yang menghubungkan orangorang dengan perubahan di luar. Tape, camera, proyektor beberapa alat yang dibawanya. Dan selama ia tinggalkan tempat itu, dan kemudian datang kembali, maka tahulah ia betapa berubahnya orangorang dengan alat elektronik yang dipunyai.

Keprihatinannya itu ia tulis dengan katakata "tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuannya," dan barangkali ketakutannya ia ungkapkan dalam katakatanya "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka." Dua hal ini memang perlu dikhawatirkan, sebab di luar sana, kebudayaankebudayaan besar telah banyak menghabisi apa yang kita sebut budaya lokal.

Di Sio itu telah terjadi dan Carpenter menulisnya. Tapi di sekitar kita, tak perlu seorang Carpenter untuk mengatakan bahwa semakin hari ada yang semakin alienatif dari identitas kultural kita.

Marx menyebut alienasi melalui titikkoordinatnya pada produkproduk di dalam sistem ekonomi. Manusia terasing dari ciptaannya sendiri sehingga ia menjadi mahluk yang jauh dari ciptaannya. Begitu juga manusia dapat terasing dari lingkungan sosialnya dengan hilangnya solidarity time yang semakin minim. Sehingga dari produk ciptaannya dan juga dari lingkungan hidupnya, manusia jadi mahluk yang tercerabut dari nilai kemanusiaannya.

Tapi, dari kasus Carpenter sebenarnya berbeda. Juga di sekeliling kita. Tak ada yang berjarak dari produkproduk ciptaan manusia. Teknologi sudah seperti inti dalam setiap aktifitas kita. Alatalat canggih begitu sering kita temui dan akrab dengannya. Juga tak ada yang terasing dari lingkungannya, sebab tak ada ruang sedikit pun yang kosong dari bentuk komunikasi. Media komunikasi justru sudah masuk sampai pada ruang yang privativ dan menghubungkan kesendirian dengan keramaian dunia virtual. Artinya, tak ada yang kosong dari produk ciptaan dan komunikasi. Tak ada yang lepas dari teknologi.

Tapi justru disitulah masalahnya. Carpenter sendiri menulisnya dengan nada yang miris "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan," Yang teralienasi bukan sebab terpaut jarak antara manusia dengan ciptaannya, tetapi keakraban yang intim dengannya justru makin menjadikan kita tersingkirkan dari pusat kemanusiaan. Dengan kata yang lain, keterasingan kita sesungguhnya adalah hilangnya identitas kultural tempat kita menemukan diri yang yang sebenarnya.

Teknologi komunikasi memang sumber soal. Dan informasi yang dikandung di dalamnya bisa berarti dua hal: imprealisme dan kebisuan.

Horkheimer menyebut imperialisme dengan industri budaya. Melalui yang ia sebut kapitalisme kebudayaan itu, suatu agenda massal tengah berjalan membangun suatu sistem tunggal. Yang tunggal itu dalam soal selera kebudayaan adalah jenis selera massal yang membuat modal dapat terus berputar. Di era sekarang, selera sudah tentu bukan lagi urusan pribadi yang terlepas dari bagian informasi massal. Di dalam informasi yang diproduksi, bukan cuma selera, cara berpikir pun sudah jadi cetak biru logika pasar. Dan dari sanalah bermula identitas yang lenyap dibalik tayangan yang dipermak media. Seluruhnya adalah cermin dunia barat.

Sebab itulah Herbert Marcuse  menyebutnya one dimensional man, yakni tipe kepribadian yang tunggal atas kesamaan cara pandang dan selera yang dicipta. Maka, dengan cara itu mekanisme penyegaraman bekerja untuk mengadopsi satu identitas yang dominan. Di saat itulah yang lokal hilang tersapu budayabudaya raksasa. Di saat itulah kebisuan budaya sebenarnya terjadi, sebab lidah kebudayaan kita lebih peka segala yang berbau “luar.”

Maka itulah ada yang mesti prihatin. Kebudayaan memang  suatu yang tak selamanya pejal dan tetap. Juga identitas kultural yang dari sana kita bisa menerka asalusul suatu origin. Sebab kita akhirnya bisa menyesal di saat identitas yang origin justru adalah suatu yang sudah semenjak awal tercuri dari lingkungan kita. Seperti orangorang Sio yang yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dari lingkungan kolektivnya. “Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka,” Sebut Antropolog Amerika itu.

Ini memang abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

07 Maret 2015

madah empatpuluhlima

"Saya belajar dari Maxim Gorki yang betulbetul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semuanya berubah dan bergerak" Pramoedya Ananta Toer.

Semenjak rumahnya kedatangan orangorang asing. Syahdan, semua berubah menjadi berbeda: dunia dipandang sebagai tempat di mana niat mesti diperjuangkan. Pelagia Vlassov menjadi perempuan yang berubah. Ia menjadi seorang ibu yang tegar hadapi dunia yang karutmarut.

Semangatnya membuncah penuh getar untuk bertindak. Perempuan yang awalnya jadi korban kekerasan rumah tangga akhirnya tahu, bahwa perempuan tidak dinubuatkan untuk mengembik.

Dunia yang dilihatnya hanyalah keadaan yang sudah terlembakan berabadabad lamanya, dengan kekerasan, kemiskinan, kerja rodi, mabukmabukkan, sontak berubah. Di balik matanya yang biru: dunia memang tak seharusnya menjadi kalap.

Keadaan itu berubah semenjak anaknya, yang aktivis buruh, menjadikan rumahnya tempat pertemuan tersembunyi. Anaknya, Pavel, memang seorang aktivis buruh. Bersama temantemannya, dirumah sudut perkampungan di atas sebuah tanggul, perbincangan Pavel bersama temantemannya menyadarkan Pelagia Vlassov tentang arti sebenarnya keadaan yang mereka alami.

Saat itu memang Rusia adalah negeri yang sedang menyambut awal abad dua puluh. Sebagaima Eropa, industrialisasi gencar. Sulingsuling pabrik ditiap paginya sudah bunyi membangunkan kaum buruh untuk bekerja. Asapasap mengepul membungbung. Di bawahnya, kaum pekerja harus bangun dengan tuntutan kerja atas tenaga yang mereka miliki.

Dengan cara itulah Pelagia hidup. Wanita empat puluh tahunan dengan tubuh yang sedikit bungkuk harus bekerja dengan suaminya yang berperangai kasar sebagai montir di sebuah pabrik. Juga anaknya Pavel yang pendiam.

Begitulah Maxim Gorki dalam novelnya, Ibunda, membangun sebuah sketsa cerita. Suatu kehidupan seorang Ibu dan anaknya yang sadar untuk memotong rantai nasib yang tak melar berabadabad. Di ceritanya itu, Gorki, melalui Pelagia, ingin membilangkan bahwa seorang ibu yang memiliki satu bilik di dalam rumah, juga bisa turut mengambil sikap perjuangan atas keadaan yang timpang.

Sebab itulah barangkali Pram terkagumkagum. Gorki nampak mengguncang tiang pancang suatu rumah, dan membuatnya berubah dan bergetar.

"Rumah" dalam kalimat Pram bisa berarti banyak hal. Tapi, sebagai suatu tempat di mana kesadaran dan tubuh dipertautkan, rumah adalah ruang tempat semuanya mesti sejenak rehat. Di sana, di rumah, kita berhenti untuk bertindak, sebab fungsi rumah adalah tempat tenaga dan pikiran dipupuk. Rumah, adalah ruang yang dibangun untuk menyediakan tempat aman dan rasa tentram ditemukan. Di rumah, semuanya akhirnya jadi normal.

Tapi kata Pram, Gorki datang untuk mengguncangkannya. Tiangtiangnya tiba untuk digetarkan agar semua berubah dan nampak berbeda. Rumah, dalam arti stage yang sudah selalu kokoh bagi landasan pandangan dan keyakinan kita, akhirnya barangkali memang mesti dipugar. Sebab, yang kokoh biasanya akan kehilangan sesuatu yang bisa membuat orang bisa peka. Yang kokoh, kadangkadang memang tak selamanya sudah sempurna.

Maka itulah suatu guncangan bisa membuat semuanya berubah. Dalam Ibunda, Pelagia mengalami itu dari pertemuan anaknya Pavel dengan temantemannya. Di saat ia menjamu tamutamu anaknya, terbukalah pintu rumah jiwanya. Ia banyak mendengar kata asing dan pemikiran asing yang nampak baru dan membingungkan.

06 Maret 2015

madah empatpuluhempat

Dari yang ditayangkan, tentang Gus Dur, Lukman Hakim, mengungkapkan bahwa hal pertama yang diingatnya saat dilantik menjadi menteri agama adalah guyon presiden RI ke 4 yang sering "ngelantur" itu. Di Mata Najwa edisi 4 Maret, Lukman Hakim menceritakan kembali guyon Gus Dur. Dalam guyon itu, Gus Dur menyampaikan bahwa Departemen Agama sebenarnya sama halnya dengan pasar. Semua lengkap tersedia, banyak orang lalu lalang termasuk transaksi pertukaran jual beli, kecuali satu hal yang tidak ada. "Apa Gus?" Tanya Menteri Agama menyelidik. "Agama" Ungkap Gus Dur.

Bukankah itu juga sebenarnya Satir. Suatu yang paradoks dengan maksud menyinggung.

Dari guyon itu, ada maksud yang bisa kita tangkap: intitusi agama tak selamanya sudah agamamis, bahkan lenyap. Di guyon itu, humor menjadi visualisasi membangun imajinasi. Dan Gus Dur lewat guyonnya tentang "yang hilang di departemen agama adalah agama" telah membangun sebuah pesan imajinatif: ada yang mesti di perbaiki di intitusi keagamaan itu.

Dari sini kita patut menyebut Gus Dur sebagai tokoh besar. Tapi sesungguhnya ia besar bukan karena guyonnya. Di Mata Najwa, yang akbar dari Gus Dur di beri tajuk "Belajar Dari Gus Dur." Yang besar dari Gus Dur adalah sikap terbuka dan toleransinya. Di Mata Najwa edisi 4 Maret itu kita diajak belajar yang akbar dari Gus Dus itu.

Barangkali memang itulah yang kita butuhkan untuk membangun hidup yang selaras, yakni menyatakan sikap penghargaan atas yang berbeda. Gus Dur besar sebab ia bisa melihat hal yang abai dari sikap kita yang kurang sreg jika tak sama. Toleransi sebagai sebuah sikap, bukanlah membiarkan sesuatu bisa terjadi dengan melepaskan keikutsertaan, melainkan sikap yang menerima dengan ikut terlibat di dalam lingkungan yang memang sudah berbeda.

Dengan kata lain suatu sikap koeksistensi. Sebab itulah Gus Dur dijuluki bapak pluralisme.
Pluralisme memang kata dengan konsep yang justru juga perlu dijaga. Di negeri ini, pluralisme adalah konsep yang galibnya jadi haram untuk dikonsumsi atau apalagi dijadikan akidah. Bagi sebahagian orang, konsep itu sama halnya dengan pengakuan atas kebenaran yang jamak, sebab kebenaran semula hanya satu. Dan sebab itulah mesti dijaga agar tak mendua.

Di sini ada yang sepertinya luput: pluralisme sebenarnya adalah terma yang mengakui kejamakan, bukan sekaligus adanya penyamaan kebenaran. Yakni realitas yang plural dan tak mungkin sama, adalah keadaan yang sui generis. Sebab justru pengakuan terhadap perbedaan, berarti di saat yang sama memang ada yang tak mungkin dapat disepadankan atau disamakan. Di saat inilah pluralisme sungguh berbeda dengan sinkretisme.

Sebabnyalah banyak yang mungkin salah menduga, bahwa pluralisme sebenaranya bukanlah terma yang punya misi penyatuan memaknai kebenaran. Justru, pluralisme jika disebut sebagai misi, sebenarnya adalah cara melihat kebenaran, entah itu agama, ras, etnis maupun budaya. Pluralisme lebih pantas jika disebut pengakuan sosiologis dibandingkan akidah sebagai kosa kata penghubung perbedaan.

Rasarasanya konsep inilah yang sebenarnya penting dibangun. Sebab di luar sana, betapa sesaknya pandanganpandangan tertentu yang memilin perbedaan menjadi satu jenis dan bentuk. Mungkin hidup dengan cara yang teologik mesti ditinjau kembali di era yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Karena dunia dengan kemajuannya memang banyak berubah, dan di saat demikianlah bagaimana cara pandang terhadap sesuatu harus terus direnovasi dan diperbaharui.

Dalam hal ini Soroush pemikir Iran memiliki ca ra pandang tentang kebenaran: dari banyaknya kebenarankebenaran yang terserak, mustahil mereka bertentangan. Dan cara Gus Dur mengatasi pertentangan yang kerap dihadapi adalah melalui guyon.

Guyon biar bagaimanapun tak selalu berarti tanpa keseriusan. Juga tak selamanya tanpa maksud yang lugas.

Gus Dur pasti punya banyak cara menyampaikan maksud pembicaraan dengan cara normal dan bijak. Sebagai seorang pemikir, akalnya bisa runut membangun pembicaraan yang pantas. Tapi ia memilih humor. Ia memilih guyon. Bentuk komunikasi yang sebenarnya adalah model sederhana dalam membuka apa yang sudah terlanjur serius.

Sebab itulah dengan guyon, di negeri sendiri, yang seriusserius tapi tak diurus mesti digetarkan. Barangkali ini sikap akbar Gus Dur yang lain. Cara bersikap di antara keadaan yang purapura serius tapi kurus dari kebenaran. Dan Gus Dur tahu cara membongkarnya; humor.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...