madah duapuluhlima

13 Februari 2015 Comments Off

Buruh atau kelas yang tertindas itu memang tragis. Tak memiliki apaapa selain tenaga. Tak memiliki apaapa selain otot. Dalam sistem yang terlanjur memuja kapital, tenaga dan otot mereka dikuras dan dihisap. Mereka mengalami suasana yang asing dari mesinmesin, dari barangbarang, juga dari sesama. Suasana alienasi itu memang ajaib mengubah manusia. Kerja yang satusatunya adalah milik buruh, justru jadi kepunyaan tuan pemodal. Dengan upah, tuantuan modal memiliki semacam mukjizat, semacam kelebihan; menyulap buruh jadi alat kekayaan.

Maka itu buruh jadi manusia yang kerdil. Di dalam sistem yang kapitalistik, buruh tak selamanya berarti pribadi yang individual. Di dalam roda industrialisasi, buruh jadi kelas, buruh jadi kaum. Sebab itulah sebuah kaum berarti ada yang massal dibalik sistem  yang kapital. Karena itulah ada yang berbau kolektiv di dalam urat nadi industrialisasi. Di dalamnya, yang massal di hisap dan ditindas. Di dalamnya,  buruh kerdil secara massal menjadi seperti atom di dalam tatanan akbar kapitalisme. Tapi di dalam tatanan yang akbar itu, justru mengandung masalah.

Kapitalisme, yang diriwayatkan tamat oleh Marx itu memang kejam. Semula, buruh adalah kaum pekerja yang dikuasai tuan pemodal di dalam pabrikpabrik. Tapi zaman sekarang struktur berubah, juga pasar, dan kapitalisme tidak sekedar sistem yang tunggal, melainkan jamak menjadi srtruktur kekuasaan yang berlapis dan bersusun. Di dalam sistem yang berubah itulah buruh berubah dari pekerja menjadi profesi yang luas. Dalam arti inilah seorang guru juga seorang buruh, seorang dokter juga berarti proletar, seorang polisi berarti pekerja, seorang pegawai berarti budak. Juga yang lain, di dalam pasar, hampir semuanya menjadi alat kekayaan tuantuan kapital.

Sebuah penghisapankah ini? Sepertinya tak ada yang absen dari logika kapital. Kerja dalam arti kapitalisme sama halnya menjual jasa pada sistem yang berlapislapis. Kerja dengan sistem yang tidak seperti abad industri awal, berarti tidak selamanya bersentuhan langsung dengan mesinmesin pabrik. Kerja, dengan zaman yang baru, adalah bagaimana tenaga ditiap waktunya dihitung hingga akhir bulan. Tenaga diganti dengan keahlian, otot diganti dengan pikiran.

Itulah sebabnya kerja menjadi mekanisme dalam sistem kapital. Tapi Marx sudah jauh hari mewaspadai, di dalam sistem yang kapital, kerja menjadi alienatif. Sehingga kita paham apa arti Marx mencela kapitalisme yang mengkerdilkan manusia.

Kerja, bagi Marx adalah modus eksistensial. Kerja adalah cara manusia mengelola nature menjadi culture. Dari kerjalah manusia mengubah alam yang asing menjadi ruang yang akrab. Marx mengyakini, kerja adalah aspek manusiawi dari manusia. Kerja adalah upaya meneguhkan ekspresi hidup manusia. Dengan begitu, kerja berarti memanusiakan manusia.

Tapi sekali lagi, di dalam cara bereproduksi, kapitalisme memang kejam. Kerja yang manusiawi menjadi yang nonmanusiawi. Buruh yang tak memiliki apaapa menjual jasanya. Dengan menjual tenaganya berarti buruh menjual dirinya. Dengan tangan kosong buruh menggadai kebebasannya. Sebab itulah kerja menjadi tidak manusiawi. Karena itulah kerja menjadi alienatif.

Sulit ditampik bagaimana Marx begitu mencela kapitalisme. Dia mungkin kecewa. Dia mungkin risau. Tapi mungkin juga geram. Itulah barangkali mengapa ia menulis manifesto yang terkenal itu. Mengajak siapapun di bawah sistem tunggal kapitalisme. "Wahai kaum buruh sedunia bersatulah." Dan kita tahu, tulisan yang diawali frase itu, banyak menginpirasi hampir banyak orang.

Buruh hari ini sudah tidak segeram Marx menghardik sistem yang tak matimati itu. Tapi juga bukan lapisan kelas yang gampang dikibuli tuantuan pemodal. Mereka punya taktik melawan kapitalisme. Mereka punya front perjuangan atau bahkan punya partai perjuangan. Mereka bersatu dalam satu keyakinan yang pasti; di manapun, bagi buruh, kapitalisme harus tumbang.

Dengan itu sepertinya buruh yakin atas ramalan Marx. Kapitalisme akan menggali kuburannya sendiri. Sistem kapitalisme akan terjerat pertarungannya sendiri. Marx menyebutnya kontradiksi internal; iman yang pasti akan keruntuhan dengan sendirinya kapitalisme. Tapi itu tak pernah terjadi. Juga keyakinan buruh, kapitalisme tak tumbangtumbang.

Adakah yang salah dengan itu? Adakah yang mesti dibuktikan disitu? Saya pikir ramalan bukan berarti adalah keyakinan yang harus dibuktikan. Justru sebaliknya, karena tidak pernah terbukti, sesuatu itu semakin menjadi keyakinan. Sesuatu utopiakah ini? Rasarasanya saya setengah percaya; karena suatu citacita jadi utopia, maka ia terus diperjuangkan. Juga buruh yang jadi alat kekayaan pemodal itu, semakin dihisap semakin melawan. Ini memang mirip pegas.

Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca madah duapuluhlima di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel