27 Februari 2016

Menyoal Pelarangan Belok Kiri Fest

Di Jakarta, barubaru ini heboh soal pelarangan Festival Belok Kiri oleh Pusat Kesenian Jakarta. Alasannya, dikutip dari Tempo.co, kegiatan yang mau digelar 27 Februari sampai 5 maret 2016 ini, belum mengantongi surat ijin. Terkuak saat suratijin diurus, Polda Metro Jaya menunjukkan beberapa surat dari berbagai oganisasi masyarakat yang melarang acara itu digelar.

Sebelumnya, versi Agnes, yang mewakili penyelenggara, surat ijin sudah sempat dimiliki. Hanya saja menurut pihak  PKJ masih perlu mendapatkan surat ijin dari pihak kepolisian. Dari pengurusan selanjutnya inilah baru diketahui ternyata ada surat aduan yang melarang kegiatan yang dimaksud.

Festival Belok Kiri belakangan ini banyak menyedot perhatian di beberapa media sosial, terutama kaum muda. Dari laman Facebooknya, festival ini dibuat untuk mengangkat kesadaran terhadap praktikpraktik Orde Baru berupa pelanggaran HAM, kekerasan negara terhadap masyarakat, ketidak adilan sosial, diskriminasi, dan pembelokkan sejarah.

Aksiaksi pelarangan semacam ini kalau mau dibuat daftarnya bakal panjang. Dan uniknya, selain wacana keagamaan, isuisu yang berkaitan dengan sejarah Tanah Air juga jadi incaran pelarangan. Apalagi, kaitannya dengan peristiwa 65 dan komunisme, di semesta kesadaran bangsa masih dianggap sebagai kosakata yang haram.

Ini menandai betapa negara melalui perangkat hukum dan penegaknya belum mampu menjamin kebebasan  dan hakhak berserikat warganya untuk menyampaikan pendapat. Padahal secara undangundang, hal ihwa semacam itu sudah dijamin. Di sini, dari kasuskasus seperti ini, jadi simptom negara  inkonsisten terhadap aturan mainnya sendiri.

Yang mengkhawatirkan, justru negara di dalam konteks kekuasaannya, memanfaatkan sejumlah badan penegaknya melakukan upayaupaya preventif agar terjamin keamanan dan ketentraman. “Keamanan” dan “ketentraman,” dua kosakata yang sarat perspektif. Mengacu Zlavoj Zizek, dua kata itu jadi point de caption. Istilah ini merujuk bidang ideologis yang artinya tarik menarik di antara dua kepentingan. Bagi negara, “keamanan” dan “ketentraman” digunakan bagi situasi tanpa perlawanan, sedang bagi aktivisme politik tertentu itu bisa berarti keadaan yang menjamin kebebabasaannya.

Begitu pula kasus Belok Kiri Festival, “kiri” jadi diksi yang diperebutkan. “Kiri” di kesadaran bangsa Indonesia tidak sekedar sikap politik yang menandai semangat progresif, namun juga mengandung metafora yang muram. Pengertian yang terbangun  di dalamnya setua sejarah bangsa yang pernah mengalami konflik ideologi.

Sementara “kiri” juga bermakna semangat kebaruan untuk mau melihat dengan jujur seperti apa sejarah itu dibentuk. Di bangsa ini, “kiri” bukan selalu berarti sikap politik revolusioner yang pernah diadopsi PKI, melainkan punya semangat pembaharuan. Suatu sikap yang secara universal sama dengan tujuan dibentuknya negara.

Karena itulah, perlu ada festivalfestival, pertemuanpertemuan, rapatrapat, forumforum, sebagai media semangat pembaharuan digalakkan. Dan, ini yang jadi metonimi sebagai kerjakerja kebudayaan. Namun malang, yang namanya metonimi sering jadi perkara. Bukan karena persetujuan atau ketidaksetujuan, melainkan karena absennya pengetahuan.

Namun, negara nampaknya jadi anti kebudayaan. Begitu juga sikap Pusat Kesenian Jakarta. Rancu kiranya pusat kesenian ikut serta menghalanghalangi kegiatan serupa festival. Padahal kegiatan semacam itu bisa jadi suatu alternatif bagi kesenian yang dirasa agak hiper. Juga, suatu hipokrisi bila itu dilakukan atas dasar kebudayaan.

Kalau boleh gamblang, sikap kebudayaan yang anti kebudayaan nampaknya masih bawabawa “kasus lama.” Ini soal paradigma kebudayaan. Visi kebudayaan, juga kesadaran yang menyertainya. Tidak afdol kiranya jika negara tidak menyediakan gelanggang terbuka agar dialektika kebudayaan berproses. Bukankah dari situ bisa muncul tesistesis baru yang jadi tunas. Suatu yang bisa memberikan pengertian baru tentang sejarah indonesia.

Akhirnya, suatu bangsa tidak akan besar jika masih berkutat dengan aksi laranglarang. Belum bisa menjamin warganya menggunakan hak dasarnya sebagai mahluk berserikat. Juga, naif kiranya masih mengkhawatirkan suatu ide berkembang. Mau pintar bagaimana,  jika seorang anak kecil dilarang naik sepeda. Kapan majunya? Begitulah, negara kerap jadi The Father, orang tua yang penuh bahasa imperatif daripada naratif.

Menyoal Plagiarisme

Saya mulai risau. Soal plagiarisme. Dua hal yang bikin jadijadi. Pertama janganjangan sebagian besar karya tulis saya plagiat. Kedua, bisa jadi di luar sana banyak yang curi tulisan saya. Tapi, yang bikin akut, soal pertama. Apalagi kalau itu dilakukan dengan kesadaran penuh. Gawat.

Tempo hari sudah ada diskusi. Menyoal plagiarisme dan pencuri bahasa. Saya tak tahu apakah dua konsep itu berbeda. Saya tak sempat tanyakan. Atau mungkin itu punya arti yang sama. Kalau iya, jadi itu hanya soal teknis judul saja. Suatu teknik promosi.

Inti diskusi itu yang jadi perkara. Apa itu plagiarisme? Sejauh apa batasannya? Bagaimanakah bentuknya? Seperti apa jenisnya? Siapasiapa pelakunya? Siapa korbannya? Bagaimana plagiarisme dilakukan? Pada tekskah? Simbol; ide; gagasan? Atau niat barangkali?

Kalau mau dipersoalkan lebih jauh bisa berupa, bagaimanakah plagiarisme masuk dalam wacana ilmupengetahuan? Siapa yang berkepentingan di dalamnya? Apakah ini soal wewenang? Soal hak cipta? Sejauh manakah suatu karya disebut memiliki hak cipta? Lantas untuk apa hak cipta itu sebenarnya?

Pasca diskusi itu juga jadi soal. Banyak yang belum jelas betul. Termasuk perkara etik. Kejujuran.

Omongomong soal kejujuran, terutama soal ide, saya agak ragu kalau saya punya wewenang mau sebut itu murni karya saya. Banyak tulisan saya hasil replika atas karya orang lain. Apalagi itu karena didorong oleh gagasan yang saya daur ulang. Kalau sudah begitu, saya berjagajaga dari pelbagai prasangka: saya sematkan nama atau dari mana saya dapat ide yang dibilang. Aman.

Di Indonesia pernah jadi soal dalam sejarah kesusastraan. Misalnya, sebagian karya Chairil Anwar yang dianggap saduran dari beberapa karyakarya Willem Elsschot, Archibald MacLeish, E Du Perron, John Cornford, Hsu Chih-Mo, Conrad Aiken, WH Auden. Beberapa ahli bilang, kalau beberapa karya pelopor angkatan 45 ini hanya berupa peralihan bahasa asing ke bahasa Indonesia. Juga kasus “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” Buya Hamka yang disinyalir mengikuti cerita Musthafa al-Manfaluthi berjudul Magdalaine. Ini pernah ditulis Seno Gumira Ajidarma tahun 2008 yang dimuat di Kompas, Senin, 9 Juni.

Bahkan, sempat juga jadi buah bibir, atau sampai bikin ribut, karya Seno sendiri "Dodolidodolitdodolibret" yang jadi pemenang cerpen terbaik versi Kompas 2011. Walaupun di akhir tulisannya, Seno sudah mewanti cerpennya hanyalah versi ulang sendiri dari ceritacerita agama, namun tetap saja jadi soal, plagiatkah Seno? Cerita yang ditulis Seno sendiri juga ada yang mengaitkan dengan karya Leo Tolstoy karena kemiripan cerita dan plotnya. Lantas kalau sudah begini, apa soal?

Dari soal itu berkembang dua problem subtansial. Pertama tentang keorisinalitasan pengarang. Kedua, soal kematian pengarang. Yang pertama menyoal keagungan pengarang. Yang kedua mau bilang kalau pembaca punya posisi penting dalam menentukan kebesaran pengarang.

Orientasi problem pertama akan krusial jika diajukan kepada pertanyaan seberapa pentingkah sang pengarang dalam problem plagiarisme. Apakah karya yang rusak akan mempengaruhi kredibilitas sang pengarang? Ataukah itu akan jadi lain jika sudah terjadi pemutusan antara sang pengarang dengan karangannya seperti diorientasikan problem yang kedua.

Dua problem di atas hanya soal. Boleh jadi sudah jadi buah bibir. Apalagi wacana. Kalau yang terakhir baik jadi urusan para scholar. Agar jelas. Biar tuntas.

Sudah sering saya dengar kasus plagiarisme. Apalagi kejadiannya di pucukpucuk peradaban; kampus. Ini miris. Plagiarisme jadi lakon intelektual. Saya kira pasalnya bukan soal pengetahuan semata, tapi etika intelektual.

Soal etika intelektual juga soal iklim intelektual. Banyak kasus plagiarisme tumbuh karena tidak ditunjang iklim yang baik. Contoh kecil ada beberapa kawan yang saya tahu melakukan plagiarisme karena hidup di iklim intelektual yang buruk. Saya duga mereka melakukan itu karena tidak ditunjang wawasan literasi yang baik. Akibatnya mental meniru sudah jadi budaya.

Mental meniru saya kira sudah jadi urusan bawaan yang integral dari bangsa pasca kolonial. Banyak ahli menyitir soal mentalitas bangsa bekas jajahan. Hampir semua lini jadi medan tiruan. Semuanya hasil jiplakan. Yang soal kalau tidak ada proses daur ulang di dalamnya. Tidak ada usaha refleksi disertakan. Makanya mandiri itu penting. Mau mengambil apaapa yang dipunyai. Mengolahnya jadi hal yang baru. Dengan usaha sendiri, tenaga sendiri.

Jenis plagiarisme bisa berlapis. Lapis paling ringan ada yang bilang plagiarisme minimalis. Model ini ditampakkan dengan cara mengambil ide, gagasan, atau pikiran melalui pengungkapan bahasa yang lain, bahasa yang berbeda. Ini masih diragukan apakah masuk kategori plagiasi.

Yang kedua, plagiat jenis parsial. Model ini memadukan beberapa sumber dengan penggabungan menjadi bentuk baru. Walaupun ada ada unsur kreatifitas di dalamnya, tapi tetap tidak mengubah konten.

Plagiat berat adalah plagiat yang paling gampang ditemukan. Bahasa, ide, ataupun gagasan tak berubah sama sekali. Plagiator hanya memindahkannya belaka. Tanpa menyebut dari mana sumbernya. Ini model yang sering banyak orang lakukan.

Plagiasi saya kira bisa jauh ditarik di masa mitosmitos. Mitos Prometheus saya kira contoh bagaimana plagiasi atas ide ilmupengetahuan diwartakan. Atas nama ilmupengetahuan, Prometheus dikutuk karena mencuri api pengetahuan dewa tertinggi sebelum membagibagikannya kepada manusia. Akibatnya Prometheus dikutuk seumur hidup. Sanksinya abadi berupa cabikan patukan burung nasar di hati dan jantung bertahuntahun lamanya.

Plagiasi Prometheus adalah aksi pemberontakan. Tindakan yang diarahkan untuk melawan dominasi dewadewa. Pencuriannya dilakukan atas dasar semangat pencerahan kepada umat manusia. Dari kacamata dewadewa, Promotheus adalah pencuri ilmupengetahuan, tapi di mata manusia, dia adalah pahlawan yang memberikan terang cahaya ilmu.

Saya khawatir di balik pelarangan plagiasi, ada dominasi yang ingin kukuh berdiri. Suatu sistem yang butuh pengakuan. Wewenang yang tak ingin bergeser. Jadi ini hanya seolaholah soal orisinalitas, soal sumber, ide, gagasan, yang semuanya dijunjung untuk satu tujuan; kekuasaan.

Tapi, itu hanya dugaan saya saja. Sampai di sini plagiasi, yang berarti menculik itu, semua orang sepakat adalah tindakan yang sewenangwenang. Aktifitas kejahatan yang tidak etis. Kalau saja, ini hanya soal siapa dahulu menemukan apa, siapa yang lebih orisinal, dan dari mana ide gagasan itu ditemukan, saya kira tidak sesederhana itu plagiarisme.

Plagiasi jadi genting kalau memang suatu komunitas sudah melek literasi. Itu mengapa plagiarisme jadi marak, soalnya literasi di sekitar kita belum jadi obrolan. Belum jadi yang penting.


26 Februari 2016

kala bunker harus impor beras

Kali ini mau bilang apa lagi? Musim paceklik datang. Bunker diserang kelaparan. Lumbung beras kosong. Melompong.

Sudah dua hari tandatanda itu tercium. Kantung plastik tempat beras disimpan jauh lebih kresek bunyinya. Kalau tong kosong nyaring bunyinya, bunyi kresekkresek tanda beras menipis.

Seperti Indonesia, bunker kurang tanggap menghadapi keadaan. Tidak ada langkah taktis diambil untuk mengantisipasi. Orangorang dì bunker sibuk urusan masingmasing. Soal perut jadi terbengkalai. Kalau ini situasi perang, tak perlu kongkalikong dengan sekutu, bunker dengan mudah ditaklukkan.

Dua hari belakangan, bunker dikunjungi mantan penghuni lama. Pertama, Andank. Dia sudah anumerta. Sudah pindah medan juang. Dia datang di bunker karena urus keluarganya yang sakit. Di bunker dia menginap dua malam. Urusan perut Andank yang tanggung. Penghuni bunker selamat.

Andank tibatiba harus pulang. Sepupu yang dirujuknya di rumah sakit, di waktu shubuh meninggal dunia. Pagipagi buta dia ditelpon. Dia harus segera ke rumah sakit. Pagi itu juga dia kembali ke Majene. Mengantar sepupunya pulang.

Kami sebenarnya masih rindu. Tapi boleh buat apa? Keadaan mengharuskan Andank segera pulang. Padahal kami lama tak berkoloni bersama. Dulu dia salah satu teman koloni. Hidup susah versi kaum miskin mahasiswa. Punya duit makan bersama. Krisis datang utang bersamasama.

Setelahnya di hari berikutnya, Ilman datang. Dia juga bagian koloni. Sekarang sudah bukan. Dia sudah punya bene. Juga sudah punya anak. Tidak mungkin bertahan hidup di bunker. Pagipagi dia datang. Tak disangkasangka.

Yang bikin senang, dia mentraktir seluruh penghuni bunker sebungkus nasi kuning. Ini kebiasaannya dari dulu kalau punya fulus lebih. Barangkali dia kasihan dengan penghuni bunker. Maklum dia juga pernah mengalami keadaan yang sama. Karena itulah dia menyelamatkan kami semenjak pagi dengan nasi kuning. Untuk sementara aman. Kami kenyang.

Ilman tak lama di bunker. Siangnya dia pulang menjemput istrinya. Kami tenang saja, lagian itu sudah jadi tugasnya. Karena kenyang kami sulit bergerak. Ilman pulang dengan pahala yang besar. Membahagiakan orangorang yang paceklik.

Tak tahu bintang apa yang jatuh. Selama dua hari bunker bisa bertahan. Selalu saja ada yang bisa dikunyah bikin perut penuh.

Cuman malang, perut yang kenyang bikin akal jadi pendek. Kami kurang responsif menangkal musim paceklik. Baru tadi siang kami sadar, lumbung beras ternyata hampa tanpa sebiji pun beras. Celaka tiga belas, kami sedikit panik. Ke mana bunker harus mengimpor beras. Negaranegara yang kami target disinyalir sudah memboikot bunker. Toh kalau ada, negara yang bersangkutan juga paceklik.

Saya tak tahu tadi siang apakah beberapa penghuni bunker sudah makan. Saya dan Ridho keluar lebih awal. Sementara yang lain memilih tinggal seperti cacing di bunker. Malamnya saya langsung ke daerah Tamalanrea mau dengar diskusi soal pemikiran Simone de Beauvoir. Sebelum jam duabelas saya memilih pulang. Di perjalanan pikiran saya melayanglayang ke bunker, pasti saat tiba penanak nasi masih kosong.

Saking paceklik, di FB, Muhajir sudah posting foto penanak nasi dengan buku Nietzsche karangan St Sunardi. Katanya kalau belum terisi beras, besok dia punya tulisan soal penanak nasi yang kosong dan juga Nietzsche dalam satu esai. Logika apa yang mau dia pakai, Nietzsche dan penanak nasi dalam satu tema. Saya tak tahu. Entahlah. Kita tunggu saja apa besok tulisannya nongol di lini masa FB.

Tapi sejak sampai di bunker, Ujhe tibatiba datang. Entah negara mana dia kunjungi. Di tangannya ada sekantung beras. Saya taksir tak cukup satu liter. Yang lain bilang, bisa ditaktisi dengan memperbanyak gorengan untuk menutupi keterbatasan nasi yang masak. Jahir yang sibuk lapakan dengan gesit langsung menanaknya. Kami senang, bisa bertahan satu malam.

Sekarang kami sedang menunggu nasi masak. Ada rapat dadakan sempat terjadi. Agendanya soal impor beras. Bunker harus menggalakkan kerja sama dengan negaranegara tetangga. Ini penting. Juga genting.

Saat kami menunggu nasi, di kepala masingmasing sudah menyusun rute kerja sama. Negara apa saja yang akan kami kunjungi. Besok pagi, agenda pertama di bunker, sebelum lapakan dibuka, semua harus bergerak ke negara kaya beras. Kalau perlu kita perang demi keberlangsungan dapur bunker. Biar bagaimana pun penanak nasi tak boleh kosong. Sangat tidak mungkin nanti kami menanak bukubuku. Kami masih waras, buku itu makanan rohani. Kalau beras makanan biologis.

Tapi, tunggu dulu, kampret!! Omongomong ternyata penanak nasi tidak dalam kondisi on. Jahir lupa menekannya. Puki mak!!!


24 Februari 2016

Subjek Sinis

Kalau percaya terhadap pikiran Marx, di bawah kekuasaan kaum pemodal tersemat ideologi yang menipu. Di balik ideologi, suatu rekayasa dibuat demi meraup kewenangan penuh. Ideologi ditaruh untuk mengelabui. Realitas yang terang jadi abuabu. Orangorang yang hidup di bawahnya tak banyak tahu, kalau mereka bekerja hanya untuk menopang satu kekuasaan tetap bertahan.

Ideologi sudah dirumuskan Marx dengan defenisi yang terang: kesadaran palsu. Dalam kalimat yang lain, ideologi adalah sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang menipu namun tetap melakukannya. Lakilaki tahu kalau rokok berbahaya secara medik, tapi kesadaran atas mode bilang lain. Lakilaki akan macho sembari menghisap rokok. Perempuan muda sadar kalau mau dapat tubuh indah, salah satu caranya lewat operasi plastik. Operasi plastik butuh banyak uang, tapi atas keindahan semuanya rela dilakukan. Ideologi disebut ideologi karena punya selimut kepalsuan. Atas nama mode dan keindahan, rokok dan operasi plastik diakui sebagai cara hidup yang normal.

Marx bilang, ideologi bekerja di dalam masyarakat. Lewat analisisnya masyarakat tersubordinasi atas kepemilikan dibidang ekonomi. Melalui jejaring hubungan produksi, masyarakat diesklusikan sampai ke titik alienatif. Namun, sejauh Marx menempatkan perhatiannya kepada masyarakat, analisisnya mengalami jalan buntu untuk mengeksplisitkan cara bekerja ideologi di tingkat individu. Apalagi soal bagaimanakah ideologi mempengaruhi kesadaran individu dalam waktu relatif lama.

Dititik itulah Zlavoj Zizek mengisi kekosongan analisis Marx. Bahkan memberikan pengertian lebih maju tentang ideologi. Bagi Zizek, yang ilutif dari ideologi bukan dari aspek “kesadaran,” melainkan “tindakan.” Karena itulah seorang lakilaki tetap merokok walaupun tahu dampak rokok terhadap kesehatan. Juga perempuanperempuan yang tetap menyiksa diri dengan program diet ketat, walaupun itu menyakitkan. Ideologi menjadi begitu kokoh akibat bekerja sampai kepada tindakan untuk berbuat, bukan sekedar pengetahuan tentang tindakan. Analisis Zizek ini dimungkinkan mengetahuinya melalui unit analisis yang dia ambil dari teori subjek yang dimiliki Lacan.

Ada tiga bentuk tatanan untuk memasuki pemahaman Lacanaian, yang menyituasikan posisi individu ditingkatan mental dan perilaku. Pertama, tatanan imajiner, kedua simbolik dan ketiga The Real. Di tahapan imajiner, perkembangan kesadaran manusia dilalui dengan cara yang salah. Terutama di tahap ini, sang aku mengalami fase cermin yang memberikan citra distorsi yang bukan aku. Melalui gambaran dalam cermin, sang aku mengira apa yang di dalam cermin adalah pantulan diri yang sebenarnya, padahal itu hanyalah pantulan yang tidak mewakili sang aku. Di tahap inilah, sang aku mengalami pembentukan diri dari aku yang salah.

Disorientasi yang dialami "sang aku" kala fase cermin, juga dialami saat "aku" mengalami fase simbolik. Fase simbolik berupa tatanan bahasa, logika, simbol, sosial maupun budaya merupakan tatanan yang dibentuk atas dasar diferensiasi. “Ibu” hanya bisa dipahami sebagai lawan dari “Ayah,” sementara “Ibu” sebagai tatanan makna yang lain tidak dimungkinkan sejauh itu tidak diperlawankan dari “Ayah.” Tatanan simbolik sama halnya fase cermin, adalah situasi perkembangan yang mengarahkan keterputusan terhadap “aku” yang sejati. Lantas di manakah “aku” yang sejati? Apakah mungkin memiliki “aku” yang murni jika semenjak awal,  kesadaran bermula dari “aku” yang terdistorsi?

Agak sulit mau bilang kalau “aku” sejati sudah dimiliki dari awal, tapi selalu ada keterasingan primordial akibat dari fase cermin. Keterasingan yang primordial ini selalu menyangkal pembingkaian yang diberikan tatanan simbolik sebagai modus dari pengertianpengertian yang diterima. Kecenderungan untuk mengelak inilah yang dimaksud The Real, suatu mekanisme penolakan dalam diri agar tidak takluk atas defenisidefenisi disekitar sang diri. Di celah inilah, The Real selalu melakukan perlawanan terhadap segala upaya pendisiplinan yang diberikan tatanan simbolik.

Namun sayang, kemungkinan melakukan perlawanan tak pernah diajukan di dalam situasi yang disebut nonideologis. Padahal Zizek bilang melalui penolakanpenolakan yang dimiliki The Real-lah suatu perlawanan dimungkinkan. Kaum pekerja bisa melakukan perlawanan hanya dengan keluar dari stigma simbolik yang inklud di dalamnya kekuasaan, dengan cara mencarinya dari kemungkinankemungkinan yang diberikan The Real. Kaum perempuan hanya bisa melawan dominasi tatanan patriarki hanya karena penolakan yang diberikan The Real agar tidak disituasikan ke dalam posisi yang subordinat.

Kemungkinan yang tidak ditemukan itulah yang disebut Zizek sebagai subjek sinisme. Subjek sinis diandaikan sebagai subjek yang berada dalam relasi ideologis yang mengetahui jejaring kekuasaan tengah berlangsung, namun malah terlibat dan ikut dengan wacana yang diberikan oleh kekuasaan.  Boleh dikata dari pengertian inilah pengertian dasar ideologi yang diwacanakan Marx yakni “mengetahui namun tetap dilakukan.” Terangnya, subjek sinis itu orang yang mengetahui realitas yang terdistorsi, tapi tetap berpegang pada situasi yang salah dan tidak menolaknya.

Subjek sinis banyak ditemui diberbagai bidang kehidupan. Di bidang politik, dia bisa disematkan kepada politisi yang tahu betul situasi perpolitikan yang salah, namun tidak menolak untuk memperbaiki, atau malah ikut terlibat di dalamnya. Seorang guru yang tahu kalau di sekolahnya ada penggelapan uang, namun ikut mendiamkan karena tahu uang yang dimaksud sudah terlebih dahulu dinikmatinya. Bisa juga mahasiswa yang punya kesadaran kritis untuk melawan ketidakadilan, namun sering berbuat tidak senonoh terhadap adikadik yuniornya. Atau seorang agamawan yang sadar banyak terjadi kemaksiatan, namun diam saja tanpa pernah mengajukan kritik terhadap kezaliman yang terjadi.

21 Februari 2016

Dari Mana Membangun Kritik Sastra


Sejarah kebudayaan Indonesia, tidak sedikit yang bilang sama halnya sejarah perkembangan sastra. Kebudayaan dan Sastra, di sejarah awal Indonesia bisa saling menyampir. Saling mengisi. Atau bahkan sulit dibedakan. Yang terakhir akibat pandangan yang bilang kalau sastra adalah cermin kebudayaan masyarakat. Sastra tidak berbeda dengan norma atau tradisi yang tumbuh di tengah masyarakat, sehingga kalau mau bilang kebudayaan suatu masyarakat, berarti harus mengikutkan sastra di dalamnya.

Ada juga penolakan bahwa sastra merupakan perkembangan yang khas dari kebudayaan. Sastra menempati posisi yang unggul dari hanya sekedar tatanan nilai anutan masyarakat. Justru sastra memiliki kekebalan dari cemar kebudayaan. Sastra-lah yang membentuk nilainilai. Posisinya melampaui yang manifes.

Karena itulah lahir kritik sastra. Suatu cabang ilmu sastra yang lahir untuk memilah baik buruknya suatu karya sastra. Atau memberikan justifikasi suatu karya dapat disebut sastra atau bukan.

Kritik sastra, di Indonesia disebutsebut tidak berkembang baik seperti di dunia barat. Kritik sastra banyak nian bersentuhan dengan politik. Malah politik lebih dominan daripada sastra itu sendiri. akibatnya, pertumbuhan sastra di Tanah Air tak bisa lepas dari variabel apa dan di mana dia tumbuh.

Tapi perkembangan yang demikian, justru memberikan dampak yang berkepanjangan terhadap perkembangan sastra selanjutnya. Perdebatan antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Sanusi Pane, Manikebu dengan Lekra, dan yang paling dekat dari kita antara Komunitas Salihara dengan Boemi Putra, merupakan titiktitik sejarah yang terus membangun garis pemisah antara pelbagai pandangan sastra yang berkembang.

Sejarah sastra Indonesia pada hakikatnya adalah pertanyaan besar yang selama ini masih relevan diperbincangkan: dari mana datangnya kebudayaan Indonesia? Atau pertanyaan paling prinsipilnya yakni apa sebenarnya kebudayaan Indonesia itu?

Dua pertanyaan besar inilah yang sampai saat ini terus mendasari kritik sastra bahkan sampai membentuk suatu pola pemikiran yang khas dan jamak Namun , bagaimana sebenarnya kritik sastra itu bermula? Dari perkembangannya ada dua bentuk kritik sastra. Kalau mau pakai bahasa sederhana, yang pertama kritik yang menaruh perhatian terhadap isi, dan yang kedua cenderung memberikan perhatian kepada bentuk.

Dua pola ini punya sejarah panjang. Di mulai dari kritik Platon terhadap sumber keilmuan selain filsafat. Bisa dibilang kritik sastra disulutdari perendahan Platon terhadap sastra daripada filsafat. Konteksnya punya variabel macammacam. Variabel pertama diacu dari pandangan Platon tentang Philosofer-King.Platon, melalui  konteks negara Polisnya, memberikan kepercayaan hanya kepada filsuf sebagai kelas ideal. Selain filsuf tak ada profesi yang palig agung. Hanya filsuf-lah yang mampu memimpin, sebab dia punya kualitas ideal sebagai manusia.

Sementara seorang sastrawan, adalah tukang replika. Kata Platon, sastra hanya mengimitasi imitasi. Hanya mengulang apa yang sudah terulang. Tidak sejati. Bentuk yang dicandra sastrawan hanya bayangbayang. Sastrawan hanya mereplikasi replika dari bentukbentuk ideal. Lewat panggung, puisi hanya numpang dibacakan, lewat panggung, teater hanya mengulang. Panggung tidak langsung, dia dunia kedua. Palsu. Begitu kirakira pandangan Platon.

Karena itulah Platon emoh terhadap sastra. Di mata Platon sastra menduduki posisi nomor dua dalam hirarki keilmuannya setelah filsafat. Sebab intinya, sastra hanya bermain pada gaya bahasa, isi kadang kabur akibat bahasa yang mendua. Sastra hanya berusaha rethoris saja.

Tapi, Platon tidak  bisa selamanya jumawa. Aristoteles punya cara pandang lain. Muridnya, melalui rhetorika, membangun kritik. Sastra justru membantu, tidak selamanya yang ideal (universal), jadi titik pusat. Partikularia (kenyataan) mampu juga membawa manusia kepada suatu nilai. Lewat suatu gaya bahasa yang indah, justru kebenaran akan mudah diterima.

Kirakira begitulah awalnya, kritik sastra dimulai. Dua nama besar ini agak susah mau disingkirkan. Juga, perkembangan sastra Indonesia. Agak susah bila tidak dikatakan sejarah sastra sebenarnya sejarah persitegangan.

20 Februari 2016

kala kala jangan kalah

Kala belum jadi. Saya memilih tidur. Ngantuk tibatiba datang menyergap. Maklum pagi tadi saya harus keluar lebih awal. Setelah pulang, akibat kekenyangan membuat mata saya berat.
Kali ini Kala saya tangguhkan sampai malam. Sengaja saya tidur saja, biar malam jauh lebih fit mengerjakannya. Apalagi sampai siang belum ada tulisan yang masuk.

Minggu lalu, pasca kelas menulis PI, sudah ada tulisan yang siap pakai. Cuman baru satu esai. Kala biasa memuat dua esai. Terkadang juga beberapa puisi, itupun kalau memang dua esai tidak mencukupi kolom yang tersedia.

Satu esai, dimuat minimal 500-700 kata. Kadang ada esai yang bisa dimuat lantaran sampai 1000an kata. Implikasinya, satu esai yang lain harus tidak lebih dari 700 kata. Kalau format tulisannya pas, maka tak jadi soal. Kala terbit dengan dua esai seperti biasa.

Kala buletin debutan. Karena masih baru, Kala masih mencari pola. Entah aspek wacananya sampai teknis penerbitannya. Sampai detik ini, Kala sudah terbit empat pekan. Selama ini polanya sudah mulai kelihatan. Pertama, perhatian model tulisan selain esai, juga cerpen. Juga puisi. Kedua, nanti setiap jelang kelas PI dibuka baru Kala siap edar.

Pola kedua terjadi akibat tulisan jarang masuk lebih awal. Padahal setiap pekan redaksi Kala terbuka lebar bagi setiap tulisan kelas menulis PI. Namun, entah sampai saat ini meja redaksi Kala sepi tulisan. Kalau yang ini maklum, Kala bukan buletin prestisius. Juga memang barangkali tak ada yang tertarik mengirimkan tulisan.

Konsep awal Kala adalah media kolektif. Tujuan dasarnya menampung tulisan kelas menulis PI. Jadi secara kolektif tak ada soal dari mana sumber tulisan Kala. Itu bisa diambil dari tulisan kawankawan. Yang jadi problem adalah hampir semua kawankawan banyak menulis jenis tulisan freewriting. Sementara yang dikhususkan merupakan tulisan jenis esai. Atau suatu tulisan yang fokus membahas satu tema dengan menyertakan sudut pandang tertentu.

Jenis freewriting gandrung akhirakhir ini. Temanya bisa macammacam. Gaya maupun bentuk penulisannya juga demikian. Kelebihan jenis tulisan ini bisa mengeksplore banyak hal dari satu tema yang menjadi pintu masuk. Prinsipnya mengalir bagai air. Biarkan ceritamu yang menuntunmu. Karenanya, akan sulit bertahan atas satu ide yang akan digubah. Walaupun bebas, tulisan bukan sama sekali menanggalkan aturan main penulisan. Fleksibel, salah satu kuncinya.

Kala bisa memuat jenis tulisan macam freewriting bila satu esai sudah terpenuhi. Kalau belum akan ditunggu sampai masuk ke meja redaksi. Waktu deadline biasanya sampai jam 10 pagi. Pernah di pekan keempat, esai yang masuk hanya satu judul. Sementara esai yang kedua nanti datang jelang masa injurytime. Karena saat itu malah menyisakan kolom kosong, mau tak mau itu jadi tugas redaksi mengisinya.

Tadi siang ada omongan kalau Kala hanya beredar di kalangan internal. Itu bisa jadi soal atau malah sebaliknya. Kala jadi soal kalau peredarannya belum bisa keluar dari komunitas. Justru jadi serius kalau belum bisa menjadi wacana. Ukuran redaksi, Kala bisa berhasil salah satunya kalau posisi Kala menjadi topik omongan. Sebaliknya tidak jadi masalah, karena Kala bukan apaapa. Makanya bukan soal kalau Kala hanya beredar di seputar kawankawan.

Sampai malam ini masih satu esai yang masuk. Kala butuh dua esai. Kalau besok pagi belum terpenuhi dua esai, sudah jadi tugas redaksi mensiasatinya. Redaksi memang harus punya banyak akal, apalagi misal tulisan yang kurang.

Sekarang saya habis makan. Janji sebelumnya malam ini baru urus Kala. Seperti biasa harus lebih dulu mengedit tulisan. Setelah itu baru sesi urus layout. Terakhir tinggal save kemudian siap naik cetak besok siang.

Tapi, seperti yang saya bilang, sampai saat ini masih satu esai yang layak terbit. Redaksi harus bersabar sampai besok. Kalau memang belum ada, jujur terpaksa redaksi harus pakai jurus ke 977. Kadang di keadaan yang kepepet, jurus itu penting. Sama pentingnya, Kala harus tetap terbit di akhir pekan. Kala jangan Kalah.


19 Februari 2016

yang disenangi atau yang diketahui, atau malah keduaduanya

Kalau sakit kepala begini susah memikirkan apa yang bisa ditulis. Berat pikir soalsoal yang kritis. Padahal niat menulis hari ini harus direalisasi. Dua hari belakangan memang saya tidak menulis apaapa. Terakhir saya sempat menulis soal konsistensi penulis, terutama bagaimana meneruskan kebiasaan menulis.

Beberapa waktu belakangan memang ada naskah tentang cerpen Puthut EA. Sudah hampir dua minggu terbengkalai. Saya heran mengapa belum bisa dituntaskan. Dua kali saya mencobanya, tapi selalu gagal. Dua kali juga, di saat ingin menyelesaikannya justru tulisan lain yang jadi. Kebiasaan ini malah sering dialami. Menulis halhal yang sebelumnya tak diduga.

Saya pikir kalau begitu saya bukan orang yang bisa konsisten mengawal ide menjadi tulisan yang utuh. Kadang memang  suatu ide bisa saya tulis dalam jangka waktu yang lama. Terutama itu kaitannya dengan tulisan yang agak formal. Jadi kalau hari pertama saya mengerjakan bagian pendahuluan, hari itu bisa saya tunda dan menyambungnya di hari lain. Dan, di hari lain, tidak susah kalau tulisan itu saya lanjutkan kembali.

Agak berbeda dengan beberapa tulisan saya yang agak nyantai. Maksudnya tulisan yang punya konten pengalaman seharihari. Belakangan itu bisa saya tuliskan tidak lebih dari tiga jam. Mengalir begitu saja. Tanpa ada yang berat kalau dituliskan. Saya berkeyakinan kalau itu karena yang saya tulis adalah soal yang dekat dari diri saya. Sesuatu yang memang saya ketahui betul. Pengalaman di mana memang saya terlibat di dalamnya.

Belakangan saya ingat, barangkali ini yang dimaksud free writing.  Gaya menulis yang mengalir begitu saja, tanpa mau di skak mat aturanaaturan yang mengikat. Sampai sekarang saya belum paham betul apa itu free writing. Sebagai suatu konsep atau gaya alternatif kepenulisan, saya kira ini patut dibincangkan. Diomongin.

Makanya, saya sadar kenapa tulisan soal cerpen Puthut EA tidak kelarkelar. Mungkin saya belum begitu akrab dengan gaya bercerita Puthut EA, bagaimana dia sering membangun cerita, seperti apa plot yang dipakainya, dan konflik apa yang sering muncul di cerpencerpennya. Atau, memang saya belum begitu menghayati cerpen yang saya sitir. Ini yang mungkin jadi penting: saya harus menghidupkan seluruh indera, membangun suatu kerangka seperti yang ada dalam cerpennya. Seolaholah saya berada di dalamnya. Bahkan terlibat di dalam ceritanya.

Itu juga yang dialami salah satu naskah sebelumnya. Jauh sebelumnya, saya sedang menulis ihwal Luis Borges, pengarang fenomenal dari benua Amerika.  Tulisan prematur ini, bahkan sudah hampir tiga bulan tak diutak atik. Tergeletak begitu saja tanpa pernah berkembang menjadi tulisan yang fixed. Sampai di sini kesimpulannya sama; saya belum menghayati Luis Borges sampai ke karyakaryanya.

Sampai di sini ada prinsip, yang dalilnya dirumuskan menjadi “menulislah apa yang kau ketahui” vs “menulislah apa yang kau senangi.” Yang pertama penerapannya banyak ditemui dalam tulisantulisan yang mengandung nuansa research; biasa digolongkan tulisantulisan nonfiksi. Sementara yang kedua,  biasa ditemui dalam tulisan yang berbau pengalaman. Yang pertama sering ditulis oleh ilmuwan, peneliti, ahliahli profesi, atau kaum teknokrat, sedangkan yang kedua banyak dialami oleh pengarang, sastrawan, budayawan, maupun seniman.

Saya agak ragu kalau ada penggolongan semacam yang saya bikin di atas. Jadi itu tidak usah ditanggapi serius. Penggolongan itu hanya sebatas yang saya tahu. Tidak ada data informasi yang bisa dijadikan ukuran. Apalagi kedua golongan di atas bisa saling menyampir, filosofi gaya pertama bisa diterapkan kepada gaya penulisan kedua, atau sebaliknya.

Namun, kalau mau dipikirpikir, dua filosofi di atas tidak bertolakbelakang. Bisa jadi itu hanya soal tahapan belaka. Janganjangan memang yang satu tak bisa dilakukan kalau prinsip sebelumnya belum terpenuhi. Artinya,  banyak hal yang diketahui, tapi tidak semua disenangi. Begitu juga banyak yang disenangi, tapi belum tentu diketahui. Jadinya kalau mau menulis hal ihwal yang disenangi, pasti itu juga yang diketahui. Sebaliknya, kalau ingin menulis dari yang diketahui, usahakanlah itu juga yang disenangi.

Rasarasanya, itu yang dialami oleh dua naskah saya. Belum terbangun rasa suka dan cukup informasi. Saya harus menyenanginya dulu sebelum diteruskan lagi. Pun kalau ada itu tidak bulat. Masih setengah hati. Ibarat kekasih, saya harus tulus  menyukainya. Kalau sudah begitu pasti saya akan senang dan akan mencari tahu seluruh kaitan tentangnya. Kesimpulan saya ini besar kemungkinan benar. Itu yang saya rasakan.

Prinsip ini sebenarnya saya dapat dari sebuah postcard  di FB. Di waktuyang agak sudah lama. Saya pikir ada benarnya. Banyak hal yang sulit dilakukan lantaran tidak disenangi. Banyak pekerjaan yang tersendat begitu saja akibat terpaksa dilakukan. Bisa juga karena idealideal yang dipancang di atas tiang harapan, tapi malah sebaliknya terbatasi. Di titik ini saya kira orangorang sering merasa berat merealisasikan tujuannya karena terlalu tinggi mengharapkan hasil. Orangorang kadang lupa, proses jauh lebih penting daripada hasil.

Sebab itulah dua naskah tadi saya biarkan saja dulu. Tak apa lama dia mengendap, sembari menunggu saya senang melanjutkannya. Saya kira ini yang memang penting, mengerjakan sesuatu karena senang melakukannya. Bukan desakkan suatu tuntutan. Saya harus akrab dengannya. Akhirnya saya juga mulai mengerti mengapa tesis saya tersendasendat;  dia prematur akibat tidak disertai rasa senang didalamnya. Seperti dua naskah sebelumnya, saya juga harus menyenanginya, sama halnya tulisan saya yang lain.


18 Februari 2016

Kritik atas Frankfurt School


Herbert Marcuse
Salah satu pendiri Mazhab Frankfurt
Dikenal melalui bukunya ”One Dimensional Man”



PERTAMA, kritik hak milik  ekonomi politik Marx yang mengalami pergeseran dari motif kelas menjadi motif psikologi. Pendasaran segregasi kelas yang menjadi acuan marxisme dalam menelusuri motifmotif penguasaan, di tangan pemikirMazhab Frankfurt malah mengalami penurunan ketajaman dalam menganalisis keadaan objektif masyarakat. Apabila Marx melihat asalusul penindasan secara objektif ditemukan dalam pembagian kelas masyarakat, di mana penguasaan alat produksi oleh kaum borjuasi menjadi sumber penghisapan, melalui cara pandang Mazhab Frankfurt malah dikembalikan kepada unsurunsur subjektif berupa dorongandorongan intrinsik manusia. Akibatnya, kritik Marx yang semula ditujukan kepada analisaanalisa idealistik, justru di tangan Mazhab Frankfurt terjadi repetisi atas apa yang telah Marx kritik sebelumnya.

Kedua, dalam kajian Mazhab frankfurt, pendasaran marxisme terhadap kelas buruh tak lagi mendapatkan tekanan seperti yang diharapkan Marx. Telah diketahui sebelumnya, pendakuan Marx bahwa setiap kelas bertindak atas dasar kepentingannya, dan kepentingannya ditentukan oleh situasi objektifnya,  menjadi semacam pintu masuk untuk memahami pertentangan kelas yang terjadi di dalam masyarakat kapitalis. Melalui cara ini berdasarkan kepentingan objektif yang ditentukan oleh kedudukan kelas, menuntut suatu sikap mawas diri demi menjaga eksistensi masingmasing kelas. Karena sikap inilah terjadi pertentangan kelas yang menjadi inti dari gerak masyarakat. Sebab itulah seperti yang ditekankan di dalam Manisfesto Komunis perlunya kesadaran kelas untuk mempertahankan kepentingan kelas buruh yang banyak mengalami tekanan dari kelas di atasnya. Sikap konservatif kelas borjuis yang merupakan konsekuensi dari kedudukan objektifnya di masyarakat, mau tak mau harus berhadapan langsung dengan kelas pekerja yang memiliki semangat progresif dan revoulusioner akibat dari kepentingan kelas yang bertahan di antara keduanya.

Sementara itu, akibat pembacaan yang meluas, serta beragam teoritisi yang terlibat di dalamnya, Mazhab Frankfurt  sulit mendefenitifkan keberpihakannya kepada kelas pekerja seperti dalam pemikiran Marx. Perhatianya yang meluas terhadap musik, budaya, media massa, mode, dan sebagainya yang dinyatakan sebagai industri budaya, mengakibatkan sulitnya mempertahankan pembacaan sekaligus kritik ekopol marxian yang menjadi cara pandang utama dalam tradisi marxis. Akibat lunturnya kepercayaan Mazhab Frankfurt kepada kelas pekerja, di saat yang bersamaan bergerak memasuki segmentasi kelaskelas yang lain semisal kaum radikal terdidik di kampuskampus sebagai agen perubahan.

Ketiga, penyematan label revisionisme yang diberikan pemikir marxis ortodoks, membuat Mazhab Frankurt sulit mendapatkan simpati dari gerakan kiri yang masih percaya terhadap metode pembacaan ekopol Marx. Walaupun dikatakan oleh para tokohnya bahwa usaha yang dikerjakan Mazhab Frankfurt merupakan bagian dari usaha krirtik yang pernah dilakukan Marx terhadap kapitalisme, tetap saja di luar pandangan mereka, mazhab Frankurt dinyatakan sebagai suatu aliran yang keluar dari tradisi pemikiran marxis.

Di sini, perlu dijelaskan sepintas mengenai tiga tradisi atau pendekatan seputar metode pembacaan terhadap Das Capital Marx yang sampai hari ini masih berlangsung, yang dikemukakan oleh Harry Cleaver. Pertama, tradisi ekonomi politik. Pendekatan tradisi ini mesti dipahami  pada konteks International II berlangsung (1889-1916).  Problemnya berkisar pada persoalan determinasi ekonomi dan teks acuannya, tentu saja, adalah Contribution to a Critique of Political Economy, di mana Marx berbicara tentang relasi ekonomi sebagai basis masyarakat yang darinya muncul bangunan suprastruktur yang bersifat legal politis.  Dalam konteks ini terjadi perdebatan antara Edduart Bernstein dengan Rosa Luxemburg tentang apakah krisis ekonomi yang akan menumbangkan kapitalisme itu niscaya atau tidak. Melalui bukunya Evolutionary Socialism, Bernstein mengajukan pendapat bahwa krisis itu tidak niscaya menghancurkan kapitalisme, krisis itu hanya akan memperlambat akumulasi kapital sementara kaum kapitalis akan dapat mengkonsolidasikan diri menghindari krisis ini. Maka itu bagi Bernstein perjuangan yang mesti dilancarkan melawan kaum kapitalis adalah perjuangan ekonomi seraya menggabungkan diri ke dalam parlemen.

Hasil pembacaan Bernstein atas Kapital ini segera dilawan oleh Rosa Luxemburg dalam Reformasi atau Revolusi (1900) dan Akumulasi Kapital (1913). Luxemburg menyatakan bahwa krisis kapitalisme tak terhindarkan justru, berkebalikan dengan Bernstein, karena akumulasi kapital akan memuncak dalam konflik antar negara. Berdasarkan pengertian ini, Luxemburg memberikan solusi yang berbeda, yakni persiapan revolusi dan penolakan atas sekedar reformasi. Keduanya mewakili posisi dasar pembacaan ekonomi politik atas Das Capital yang akan membayangi para penafsir selanjutnya. Penekanan Bernstein pada reformasi gradual melalui jalur intra-parlementer (dan karenanya lebih dekat dengan tendensi sosial-demokrat) akan diteruskan oleh Karl Kautsky, Rudolf Hilderling, Otto Bauer, Fritz Sternberg, sementara ketidakpercayaan Luxemburg pada perjuangan ekonomi-parlementer dan penekanannya pada revolusi atau jalur ekstra-parlementer akan diteruskan oleh Lenin, Anton Pannekoek dan Paul Mattick.

Sementara di luar konteks internasional kedua, terutama disekitar tahun 1940/50an, berkembang tipe pemikiran yang berusaha mensintesakan kritik ekopol Marx dengan teoriteori yang diajukan Keynes. Tradisi pemikiran ini berkembang di dunia Anglo-Amerika, yakni neo-marxis keynesian. Tokoh-tokohnya adalah Michael Kalecki, Joan Robinson, Paul Sweezy dan Paul Baran. Menurut tradisi ini, pendekatan ekopol Marx yang tertuang dalam Das Capital memiliki beberapa kekurangan terhadap situasi perkembangan kapitalisme. Sebab itulah, mereka berusaha mengkombain dengan memasukkan pembacaan Keynesian terhadap analisis ekopol marxis.  Model pembacaan yang demikian akhirnya menjauhkan tradisi ini dengan sendirinya dari kritik Marx yang bersandar pada suatu analisis yang hanya mencomot beberapa analisis Marx.  Dalam perkembangannya, tradisi inilah yang menginisiasi lahirnya gerakan kiri baru (new left movement) Eropa di sekira tahun 6oan.

Yang kedua adalah tradisi filsafat. Cleavert membaginya menjadi dua, yakni tradisi yang dikembangkan oleh Louis Althusser bersama muridmuridnya (Balibar hingga Badiou) dan yang kedua adalah revisionisme yang menjadi bagian di dalamnya yakni, Marxisme Barat (Western Marxism): György Lukács, Antonio Gramsci, Karl Korsch—semuanya menekankan pengaruh Hegel dalam Marx, Marxis Neo-Kantian: Galvano, Delavolpe dan Lucio Colletti, Marxis-Hegelianisme: Alexandre Kojéve dan Jean Hyppolite, Marxis-eksistensialisme: JeanPaul Sartre, Simone de Beauvoir dan Maurice Merleau-Ponty. Marxisme fenomenologis: Tran Duc Thao dan Karel Kosik, Teori Kritis Mazhab Frankfurt: Herbert Marcuse, Theodor Adorno, Max Horkheimer, Walter Benjamin dan Jürgen Habermas.

Oleh Cleaver, pembagian kubu ortodoks dan revisionis ini dijelaskan melalui dua tendensi yang berbeda: sementara Althusser mencoba menghidupkan kembali doktrin diamat (dialectical materialism) melalui pembacaan atas Kapital, Mazhab Frankfurt dan tendensi Marxisme Barat justru mengutamakan peran kebudayaan dalam analisis Marxis. Diamat versus kulturalisme—pertentangan inilah yang menerangkan dasar perbedaan posisi antara Marxis ortodoks dan Marxis revisionis.

Tendensi kulturalisme yang banyak dikembangkan Mazhab Frankfurt disebutkan Cleavert akibat ketokohan Friedrich Polloch. Melalui bukunya Automation, Pollock memperlihatkan adanya kecenderungan akumulasi kapital oleh kapitalisme negara dan negara otoritarian yang menyebabkan perluasan penghisapan kapitalisme di seluruh sendisendi kehidupan masyarakat. Pendektannya yang memperlihatkan perluasan penghisapan kapitalisme dari pabrikpabrik menuju masyarakat yang lebih luas, mengakibatkan adanya indikasi suatu pembacaan masyarakat yang lebih luas dari hanya sekedar penjelasan ekopol marxis. Menurut Cleavert dari sinilah bermula adanya pembacaan kultural yang menjadi pembacaan dominan atas masyarakat di dalam tradisi pemikiran Mazhab Frankfurt.

Tradisi yang ketiga adalah pendekatan politis seperti yang ditokohkan Lenin. Tradisi ini berputar dalam problem perlunya pendekatan secara strategis dan taktis untuk mewadahi perjuangan kaum proletariat.  Seperti yang dituliskannya dalamWhat Is to be Done?, Lenin menganjurkan betapa pentingnya membangun partai payung dengan kemampuan disiplin yang tinggi untuk melakukan perjuangan. Partai garis depan ini, disebutkan Lenin adalah partai yang bertujuan merangkum seluruh gerakangerakan buruh di dunia. Hanya lewat cara inilah Lenin berkeyakinan revolusi dapat dimungkinkan.

Keempat, peralihan penekanan kritik yang diajukan Jurgen Habermas melalui rasionalitas komunikatifnya, memberikan efek yang berbeda dari intuisi marxisme yang semula bersifat radikal dan revolusioner. Pendekatan komunkatif yang diajukan Habermas sebagai jalan keluar persitengangan antara marxisme dan kapitalisme, malah menjadi suatu pendekatan yang mengabaikan unsurunsur di luar dari komunikasi itu sendiri. Pengandaian Habermas bahwa di dalam tindakan komunikasi dengan sendirinya akan menetralkan suatu posisi dan kepentingan, justru tidak bekerja seperti yang diharapkannya di dalam level praktik. Komunikasi yang disebutnya sebagai tindakan praktis, malah justru menguatkan posisi dari awal bagaimana kepentingan kelas borjuis bekerja untuk mendominasi kelas proletariat. Wacanawacana yang dikembangkan kelas borjuis melalui tindakan komunikasi justru kembali melanggengkan kepentingan melalui subordinasi pengetahuan yang dimilikinya.

Kelima, Cakupan dan rentang penelitian yang luas dari orang-orang yang terlibat dalam Mazhab Frankfurt dinilai sebagai perkembangan yang inkonsisten dengan rancangan awal proyek mereka, dan inkonsistensi ini dianggap sebagai kelemahan paling mendasar dari Teori Kritis. Para pendukung Cultural Studies menuduh bahwa terdapat indikasi kesukaan Mazhab Frankfurt pada “budaya tinggi”, walau gagasan Mazhab Frankfurt juga menjadi inspirasi dan dipraktekkan oleh para environmentalis dan teoretisi teknologi dan alam seperti SF Schumacher.

16 Februari 2016

Bunker di Kala Deras Hujan

Kalau hujan tiba, bunker jadi mirip tenda pengungsi. Bocor sanasini. Kami sering khawatir kalau hujan tiba, apalagi disertai angin kencang. Soalnya, atap seng sudah banyak lepas pakunya. Sekali tiup, lubang seketika. Untung itu belum terjadi. Kami masih beruntung. Untuk kesekian kalinya.

Kalau dulu, bunker sering kebanjiran. Maklum, tanah yang ditempati agak rendah dibanding daerah sekitar. Apalagi ketika rumahrumah mulai meninggikan lantainya, praktis air tergenang begitu saja tanpa bisa keluar. Ditambah memang tak ada selokan yang bisa dijadikan saluran air. Kalau sudah begini tunggu saja. Banjir.

Kami sering dibuat kesal kalau tetangga sebelah membuang sampah sembarangan. Jengkel sampai diubunubun ketika sampahnya dibuang begitu saja di teras depan bunker. Soal ini kami sering menegur bahkan sering kali melibatkan emosi, tapi tetap saja, yang namanya mental yang rusak pasti akan lewat begitu saja tanpa perhatian. Kami menduga, hal ini sudah jadi karakter yang sulit diubah. Persis orangorang yang tak tahu malu mengotori lingkungan tanpa rasa bertanggung jawab.

Saya kira di kota ini masih banyak orangorang yang semacam itu. Warga kota yang tak tahu hak dan kewajibannya sebagai masyarakat. Makanya agak susah memang mau berubah secara seksama, kalau masih ada orang yang tak tahu diri dan tak tahu malu. Bagaimana kota mau disebut bersih, semnentara mental warganya masih bersikap primitif. Anti peradaban.

Sekarang bunker lumayan aman. Banjir sudah bukan masalah. Jalan masuk air sudah dibuatkan penghalang. Di pintu depan sudah ada tembok yang menghalangi laju air. Jadi kalau pun masuk tidak akan sampai di ruang tengah, tempat penghuninya beraktifitas.

Satusatunya yang bikin waswas soal seng bocor itu tadi. Kalau hujan tak henti mendera, air yang masuk malah bisa bikin repot. Bukan apanya, karena kami tidur di satusatunya ruangan yang terpakai, kalau air merembes, otomatis tak ada tempat lain untuk pindah. Masalah ini sebenarnya kerap terjadi di dua minggu terakhir. Tepatnya kalau hujan lagi garanggarangnya.

Karena tak mau dikudeta oleh air bocor, solusi satusatunya adalah mentalangi air dengan kotak kue bekas. Di bunker, entah datang dari mana, banyak kotakkotak bekas kue yang tak terpakai. Kalau diingatingat kembali, kotakkotak itu bekas kegiatan yang kerap dilakukan di bunker. Biasanya adaada saja yang datang membawa makanan dengan memakai kotakkotak plastik. Ukurannya macammacam. Ada yang setinggi tiga sentimeter sampai lima sepuluh sentimeter. Belum lagi bekasbekas ricecooker yang rusak. Semuanya dipakai mewadahi air yang jatuh.

Kepada bendabenda itulah keberlangsungan aktivitas kami bergantung. Kalau sudah malam dan jam tidur, dan hujan deras melanda, bendabenda itu jadi benda paling penting. Untuk sementara bisa menunda air yang bisa merembes masuk.

Makanya harapan kami salah satunya jangan sampai hujan berjamjam lamanya. Kami bisa dibuat tidak tidur akibat air yang tak cukup ditampung. Apalagi tak ada yang mau bangun hanya untuk mengecek tampungan kotak jika penuh. Apabila sudah pulas, jangankan bangun untuk membukakan pintu apabila ada yang pulang larut malam, menengok kotak yang penuh air saja ogah.

Bunker punya lima ruangan. Dua ruangan kamar, satu ruangan tamu, satu bagian dapur plus kamar mandi, dan ruangan utama yang kami jadikan pusat aktivitas. Seharihari di bunker hanya menggunakan dua ruangan. Selain kamar mandi, yang terpakai hanya ruang tengah dan dapur. Selebihnya tak terurus. Penghuninya radarada malas mau pakai ruangan yang lain, padahal bisa dibersihkan dan ditempati.

Sekarang hujan belum juga reda. Bunyibunyi air yang menetes jadi irama sahutmenyahut. Kami satu persatu mulai kantuk. Kotakkotak penadah sudah dipasang dari tadi. Posisinya sudah pas. Tak bakalan meleset dari seng di atasnya yang bocor. Ada lebih dari lima titik kebocoran. Hitunghitungannya, kalau sampai pagi hujan belum reda, dengan dua kali tetes tiap detiknya, dan kotak kecil penadah yang tidak terlalu besar, maka dalam waktu kurang lebih lima jam, prediksinya air akan merembes di sekira jam empat atau lima subuh. Dugaan saya, orang yang tidur paling ujung tak jauh dari titik kebocoran, adalah orang yang lebih awal bangun di subuh nanti.

Mudahmudahan prediksi saya tepat. Masalahnya kalau hitunganhitungannya meleset, kejadiannya bisa lebih cepat terjadi. Kasihan orang yang tidur paling ujung. Bisabisa belum lama menutup mata, karpetnya jadi basah. Kalau saya punya tempat yang paling strategis. Selain paling ujung, tempat saya paling jauh dari sumber rembesan air. Di saat begini, saya paling berterimakasih menjadi senior. Di manamana senior punya kemudahan. Yang yunior maklum itu. Apalagi urusan tempat tidur. Hidup senioritas.

Baiklah saya sudahi dulu. Saya mau tidur saja. Senior tidak pernah bersalah..

15 Februari 2016

pentingnya kesadaran berbahasa

Elemen penting hidup itu bahasa. Tanpa bahasa tidak ada kesalingpengertian. Tidak ada makna yang bisa dipertukartangkapkan. Bahasa kalau mau dibilang adalah elemen sosial yang mengikat identitas menjadi satu kesatuan.

Bangsa Indonesia sudah membuktikan itu. Anakanak muda yang sadar bahasa saat itu melihat bahwa perjuangan tidak saja membangun tujuan dan citacita yang sama, tapi harus dimulai dari cara pengungkapan yang sama melalui bahasa. Karena saat itu hampir semua komunikasi dipertemukan oleh bahasa Melayu, maka bahasa itu dipilih sebagai bahasa pemersatu.

Akan sulit membayangkan Bangsa Indonesia bisa merasai kemerdekaan tanpa kesadaran bahasa. Kala itu kalau saja kelompokk elompok daerah masih berpendirian dengan bahasa lokalnya, mustahil kemerdekaan dapat ditempuh. Kemerdekaan akan sulit diucapkan dalam ikatan bahasa yang sama. Karena itulah bahasa bisa dipakai sebagai kait pemersatu. Bahkan sebagai alat perjuangan.

Pekerja bahasa orang yang paling sering pakai bahasa untuk berjuang. Berbeda dari profesi lain, pekerja bahasa punya semacam kesadaran yang mampu menyulap bahasa jadi lain. Sebut saja misalnya Pramoedya Ananta Toer, yang punya kemampuan membangun sejarah Indonesia dari bahasa yang ditulisnya jadi novel.

Tidak sekedar menulis, lewat bahasa, Pramoedya ingin menunjukkan bahwa betapapun perjuangan telah berlalu, di dalam bahasa tak ada kata selesai. Di dalam bahasa tersemat kesadaran yang bisa terus ditarik jauh ke kedepan selama orang masih ingin membaca. Karena itulah muncul frase yang banyak dikutip orang, menulis itu bekerja untuk keabadian.

Harusnya bukan sekedar tulisan yang jadi perhatian. Orang sering salah kaprah ketika menulis berarti sudah berkerja dalam keabadian. Tapi, makna, pesan apa yang ditulis. Pram bukan mau bilang menulislah, perbanyak hurufmu sepanjangpanjangnya, karena itu kau akan abadi! Bukan, sesunguhnya bukan itu, melainkan makna apa yang bisa kau pertahankan di dalam sanubari orangorang. Pesan apa yang bisa membangun kesadaran orangorang. Bukan panjang tulisan yang mudah hilang.

14 Februari 2016

athaya

Ini foto tiga tahun lalu. Yang saya pangku ini ponakan saya. Athaya namanya. Saat gambar ini diambil pas waktu idhul fitri. Saat itu dia masih berumur sekira tiga empat bulan.

Punya ponakan itu sama dengan memiliki anak sendiri. Bedanya belum punya bini saja. Seperti anak sendiri, saya suka mengendongnya. Menciumnya sambil menggodanya agar tertawa. Menciumnya lagi, menggodanya lagi. Menciumnya lagi menggodanya lagi. Membuatnya tertawa. Gemas.

Entah mengapa saya jadi suka dengar bayi tertawa. Padahal seumurumur saya seperti kebal dari bayi. Kadang saya heran, kalau kebanyakan orang suka anak kecil, saya malah menganggapnya biasa saja. Tapi semenjak Athaya lahir, tumbuh dan mulai menggerakkan mulutnya, malah saya mulai berubah. Suka mendengarnya tertawa.

Saat Athaya lahir dia sontak jadi pusat perhatian. Maklum di rumah dia cucu sekaligus ponakan pertama. Sedikitsedikit tak ada yang lepas dari dia. Athaya langsung jadi magnet. Banyak orang berdatangan melihatnya. Memberikannya bingkisan. Mulai dari perlengkapan bayi sampai biskuitbiskuit ringan. Saya ikut senang. Biskuitnya bisa saya makan.

Kehadiran Faeyza Athaya juga langsung mengingatkan saya kala bayi. Diamdiam berusaha mengingat masa lalu saat masih bulanan. Apa yang dilakukan saat tidur. Kalau bangun. Saat pipis tibatiba. Juga saat menangis tanpa sebab. Apakah saya juga begitu. Soalnya waktu cepat berlalu. Momenmomen semacam itu agak susah mengetahuinya.

Makanya selain bertanya ke mamak, saya langsung bukabuka album foto. Cari tahu kala masih jabang bayi. Di situ masih ada beberapa gambar saya masih kecil. Ada satu gambar saat saya telungkup sambil menatap ke arah kamera. Saat duduk sambil memegang bola. Saat berpose seragam TK. Berdiri berseragam SD. Dan juga kala SMP. Sampai di sini tak ada sekalipun foto saya seperti Athaya yang masih seumur minggu. Yang ada hanya saat sekira empat sampai lima bulan.

Rasa ingin tahu saya gagal karena tak punya gambar yang merekam saat masih sebayibayinya. Makanya anakanak sekarang bisa bahagia akibat kemajuan teknologi. Dulu kamera jadi barang langka. Makanya tidak semua momen bisa langsung diabadikan. Sekarang sedikitsedikit jika mau bisa langsung dijepret. Cukup dengan smartphone gambar sudah bisa diambil.

Sekarang umur Thaya, begitu kami memanggilnya, sudah berumur tiga tahun jalan empat. Dia jadi anak yang suka bermain. Lari ke sana kemari. Lompat sana jungkir sini. Kalau saya datang dia suka mengajak main putri duyung. Saya heran dari mana dia lihat. Curiga, saya kira dari film yang sering dia tonton. Kalau sudah begitu kursi sofa berubah jadi markas tempat persembunyian. Saya ikut saja sebagai lumbalumbanya.

Athaya sangat suka bersepeda. Di umurnya yang sekarang dia begitu aktif. Kalau bukan sepeda, dia pergi di bawah meja setrika mengambil tumpukan mainannya. Menghamburnya di lantai dan mulai mengambil mainan yang disukanya. Kalau yang ini masih untung dibanding dia menemukan bulpen atau pensil mencoret seluruh tembok rumah. Mamak biasa hanya geleng gemas ditaruhnya. Kami melihatnya sebagai pertumbuhan kreativitasnya.

Akibatnya, Thaya sudah pandai mewarnai gambargambar. Karena itu, ayah dan bundanya sering menghadiahkannya buku gambar plus pensil warna. Selain untuk mengalihkannya dari tembok yang sudah penuh, dia bisa mulai mengenali bentukbentuk gambar yang bisa diwarnainya. Sekarang kalau dihitunghitung, sudah banyak gambar diwarnainya.

Thaya sekarang juga sudah diikutkan PAUD. Selain sepupunya, Thaya sudah banyak bertemu anakanak seusianya. Bermain dan belajar. Mewarnai dan menggambar. Pergi jam sembilan pulang ketika duhur datang. Dengan tas kecilnya penuh makanan ringan plus buku gambar, Thaya sering pergi diantar ance'nya.

Sudah hampir dua bulan saya tak melihatnya. Saya dengar dari mamak, Thaya sering bertanya tentang dua omnya, saya dan Fajar. Kalau malam begini dia pasti sudah berlari sanasini, bongkar apa saja yang bisa dijadikan mainan. Kadang berlari ke dapur membuka almari mengambil makanan ringannya. Biasanya wafer coklat atau minuman susu kotak. Kalau dia begitu pasti memberikan satu kepada saya, kadang sambil bermain dia duduk sembari mengunyah dengan ceritanya tentang Jarwo dan motor bututnya. Dan, saya senyamsenyum sendiri memakan habis semua makanannya tanpa sadar.

Gila Foto

Seperti sudah saya bilang, di Bunker, kami sering gelar lapakan. Ngopi sambil berdiskusi ringan. Kadang membuka laptop dan menulis. Yang lain membaca sambil malasmalasan.

Ini pagi saya terjaga lebih awal. Biasanya langsung ke belakang, membuka pintu keluar sekedar cari udara. Ternyata ini pagi cerah, tak mendung. Agak lama saya menatap langit. Biru, tak berawan.

Sontak saya pikir; segera buka lapakan. Tapi urung saya lakukan akibat beberapa motor mengambil tempat lapakan. Maklum kali ini bertambah Ilham, dia punya motor gede. Dia parkir saja semalam di situ, tepat lapakan sering digelar.

Dua hari belakangan Makassar diguyur hujan. Praktis Bunker tak buka lapakan. Ridho yang kerap juga lebih awal lapakan urung lakukan. Justru dia memilih bergua di dalam dengan bacaannya. Sedang yang lain pulas lanjut tidur sampai tengah siang.

Toh di hari kedua Makassar dikerubung hujan, lapakan nekat digelar Ridho. Pikirnya tak bakal hujan menyambangi. Langit masih mendung, belum hujan betul. Saya yang melihatnya agak ragu. Saya sanksi, janganjangan bakal diguyur. Makanya saya tak buruburu keluar lapakan. Lihat dan menunggu, pikir saya lebih baik.

Sebenarnya saya ingin sekali lapakan. Dudukduduk sambil lihatlihat buah karsen yang matang. Kalau sebulat merah ditangkap mata, tak banyak omong langsung disambet. Maklum karsen buah kenangan bagi saya. Kala kecil saya sering cari kersen sampai saku baju dikerumuni semut. Kalau itu terjadi, saking banyaknya buah manis itu  pecah begitu saja di saku baju. Sekarang justru itu terulang, cari karsen kala pagi atau sore datang, tapi tanpa saku baju yang dikerubungi semut.

Tak jelas siapa yang menanam pohon karsen di situ. Mungkin secara alami tumbuh begitu saja. Tepat di pintu masuk Bunker. Semenjak saya kembali domisili di Bunker, pohon itu sudah tegak berdiri. Buahbuahnya sudah banyak bermunculan. Belum matang. Tak lama lagi bakal masak, merah.

Makanya kalau sudah merah, itu jadi rebutan. Ada prinsip diamdiam disepakati; kalah mata kalah uang. Siapa cepat dia dapat. Prinsip ini akan jadi kompetitif kalau semua penghuni Bunker punya niat yang sama memanen karsen. Seperti yang sudahsudah, saya sering kalah saing, Ridho jauh lebih tinggi dari saya. Dia punyai tungkai lengan yang panjang. Yang lain malah pake kayu. Saya tak mau kalah memilih langsung memanjat.

Siang ini kami manfaatkan akhir pekan dengan lapakan. Di bawah pohon karsen yang belum matang buahnya. Semenjak yang lain bangun langsung ambil posisi. Ilham langung bergegas membeli penganan, saya titip langsung beberapa bungkus kopi sachet. Ini Sabtu yang betulbetul cerah.

Sudah hampir satu pekan beberapa tulisan saya berhenti di jalan. Niat saya hari ini akan rampung. Kemarin sore dengan tergesagesa saya harus selesaikan satu esai untuk perteman di Be Smart Coffee. Malamnya harus saya presentasekan. Untung dapat rampung sebelum kegiatan. Saya print dan saya copy segera mungkin. Akhirnya beres.

Sekarang tinggal satu esai soal cerpen Puthut EA. Kalau mau dibilang, tinggal empatpuluh persen rampung. Cuman kalau lapakan digelar, perhatian jadi pecahpecah akibat gosipgosip yang berseliweran. Adaada saja yang dibicarakan. Mulai dari kondisi bunker yang kritis, dompet yang kembang kempis, harga buku yang jadi mahalmahal, sampai agendaagenda kerja di bunker. Semuanya dihampar begitu saja sembari lapakan. Punya urus kalau itu hanya sekedar ngocahongoceh.

Belum lama saya menulis, masalah datang lagi. Ini ulah Muhajir dan Ujhe. Entah setan apa yang kangkangi kepala mereka siangsiang. Tibatiba mereka berubah jadi model plus fotografer dadakan. Bergantian saling ambil gambar. Duduk sana duduk sini cari latar yang cocok. Putar sana putar sini seperti orang kesurupan. Begitu sambil ketawaketiwi. Mirip orang gila.

Ini saya sertakan gambarnya. Hajir yang super narsis jadi modelnya, dan Ujhe yang bak fotografer profesional miring sanasini cari angel yang paling pas.

---

Nb: Kalau kalian lihat fotofoto keren dua orang yang belum mandi ini di fb atau bbm, percayalah itu asli editan. Ini bagaimana proses produksinya...

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...