30 Maret 2016

pembatas buku

Pembatas buku memang tanda suatu batas. Dia membelah satu pagina dari pagina yang lain. Membaginya jadi dua. Membuat suatu teritori antara yang "yang telah diketahui" dan "yang belum diketahui". Juga, karena itu dia sekaligus tanda keterbatasan. Dia membelah dua dimensi, dua dunia jadi tegas; rasa ingin tahu dan pengetahuan.

Tepat di antara titik itulah, pembatas buku yang seringkali punya ukuran mini itu, akhirnya jadi pengingat, bahwa manusia pada dasarnya makhluk yang harus sadar batas. Yakni, dengan kata lain, pembatas buku, entah dengan tampilan yang sering kali lucu, malah bisa berarti hal yang serius.

Itulah sebabnya, pembatas buku barangkali penting. Dia bukan sekedar penyambung ingatan terakhir ketika manusia punya ikhtiar terus menerus mengeja aksara. Tapi, secara pelanpelan dia menanamkan suatu sikap sabar, suatu nilai yang mengintrodusir manusia agar tahu apa arti suatu waktu. Yakni, di situ suatu proses kadang perlu, bahwa suatu rasa tabah atas waktu adalah jalan kecil yang mesti dilewati.

Maka dari itu siapa menyangka, pembatas buku memang semacam jangkar bagi kapal yang sedang berlabuh panjang. Dia jadi besi tua yang sering kali dilempar ke dasar samudera dalam, menjadi tungkai penghubung antara lelautan yang dalam dengan perut kapal yang terapungapung di atasnya. Siapa sangka, pembatas buku akhirnya begitu penting, kapal rasa ingin tahu dan samudera ilmu pengetahuan, akhirnya menjadi tegas batasnya.

Dulu, ikhtiar pencarian ilmu pengetahuan ditulis di atas perkamenperkamen; kulitkulit domba atau sapi yang dijadikan kertas. Atau di atas papirus yang diambil dari alangalang air yang banyak tumbuh di Eropa Selatan atau Afrika Utara. Di atasnya seluruh penemuan atas ilmu pengetahuan dicatat, disimpan, dan dirawat. Batas di situ berarti batas perkamen itu sendiri. Kala suatu tulisan habis dicatat akibat perkamen yang juga terbatas ruangnya, maka dengan sendirinya batas juga berlaku di situ.

Barangkali lewat itu muncul batasan ilmu pengetahuan, bahwa ilmu (yang ditulis) seluas apa yang ada (ukuran ruang perkamen). Jadi, ilmu hanya mungkin ketika dirinya diungkapkan di atas medan yang tersedia. Ilmu, hanya tersampaikan sejauh dia menempati ruang sebagai wadahnya. Akibatnya, ilmu paralel dengan apa yang ada. Belakangan yang "ada" ini berkembang menjadi dari "dunia yang teramati", "dunia yang dipikirkan", sampai "dunia yang terimajinalkan", suatu "alam" yang maha luas. Suatu dunia yang tak kenal batas.

Tapi akibatnya, manusia sering kali salah, ilmu bukan apa yang ada di  suatu "alam" tak terpemanai, ilmu hanyalah hasil tangkapan dari "ada" yang maha tak mengenal batas itu. Ilmu, kata orangorang Yunani adalah hasil dari "legein"; suatu aktifitas mengikat sesuatu, mengumpulkan sesuatu. Belakangan, dari kata itulah logos diambil.

29 Maret 2016

gambar

Suatu gambar, saya kira, bisa menjadi semacam lorong waktu. Dari situ tercipta jembatan ingatan yang tibatiba berakhir pada sebuah daratan peristiwa. Makanya, ketika sampai, daratan yang telah lama jadi silam, juga sekaligus berubah asing. Berbeda.

Itulah sebabnya, mengapa kenangan menjadi peristiwa yang menghentak. Dari suatu gambar, kembali bergerak adegan demi adegan, kejadian demi kejadian, barangkali juga perasaan demi perasaan, yang membuat suatu jarak nampak tegas membelah masa lalu dan masa kini.

Kadang karena itu suatu tujuan bisa jadi tegang; sudah sampai di manakah sekarang? Biasanya, jika suatu tujuan jadi genting akibat masa kini yang melenceng, "aku" sebagai pusat, yang selama ini jadi sandaran segala hal, harus disoal kembali.

Soal itu pada akhirnya barangkali berbunyi; siapakah aku ini, di antara kerumunan orangorang? Siapakah aku sekarang, yang bergerak dari pengalaman dan kenangan? Siapakah aku ini, yang kadang lupa bahwa hidup berarti bukan sekedar apa tapi mengapa? Siapakah aku ini, yang berdiri di atas debu dan di bawah semesta galaksi?

Saya rasa memang hidup harus membuka segala jeda. Di situ, seringkali yang esensil bukan sekedar titik yang dikepung keramaian. Yang esensil, kadang karenanya adalah seinci celah untuk diintip dengan kesunyian. Yang esensil, kerap memang jadi inti yang asing dari hiruk pikuk, maka karenanya butuh sepengalaman tersendiri. Butuh aku yang polos, tanpa apaapa.

"Aku" yang polos itulah barangkali sering muncul saat suatu gambar dilihat bukan sekedar jutaan warna. Melainkan dari aku yang polos, gambar bisa berubah lain. Dia jadi ujud yang bicara. Mungkin, karena memang demikian, orangorang sering dibuat sedih jika melihat sebuah peristiwa direkam.

Suatu gambar barangkali hanya merekam yang tampak di depan. Toh jika suatu dimensi di ruang belakang berhasil ditangkap, gambar selalu menaruh fokus apa yang tampak paling di depan. Artinya, gambar hanyalah gambar. Dia tidak mewakili berbagai macam dimensi yang direkamnya. Dia hanya replika.

24 Maret 2016

Satu Dua Tiga Soal Freedom Writers

Freedom Writers
Film bertema pendidikan dibintangi Hillary Swank


Pendidikan jika dibilang cara orangorang bersuara, barangkali juga adalah cara orangorang menyatakan sikap. Itulah yang dibuat Erin Gruwell (Hillary Swank), dia menemukan suatu cara agar pendidikan bukan sekadar demi tujuan normatif belaka. Pendidikan barangkali, bagi Gruwell adalah celah bagi orangorang memperbaiki suatu soal.

Semua itu bermula ketika Gruwell mendaftarkan diri mengajar di Woodrow Wilson High School di suatu sudut New Port Beach, Amerika Serikat. Suatu kawasan yang mengalami pembelahan kelompok rasial. Daerah rentan akibat konflik laten yang bertahan sejak nlama dalam ikatanikatan sosial kebudayaan warga kotanya. Bahkan suatu hirarki terbangun di dalamnya, memotong secara vertikal kelas masyarakat secara bertingkat.  Di New Port Beach, akibat kebijakan integrasi antar ras, tidak sendirinya menghapus  konflik rasial yang semenjak lama tak terselesaikan.

Sebab itulah, pesimisme ditunjukkan Kepala Departemen Woodrow Wilson High School, Margareth Campbell (Imelda Staunton) saat Erin Gruwell menyatakan idealisme seorang guru kala memperlihatkan program mengajarnya. Pesimisme itu datang dari pengalaman suatu daerah ketika melihat muridmurid sekolah yang terlibat konflik antara kelompok tak patut diharapkan. “Sebagian baru keluar dari penjara anakanak. Satu dua orang mungkin pakai alat di mata kaki untuk awasi keberadaannya. Kita harus merevisi rencana pelajaranmu, jika kau lihat nilai mereka dalam pembendaharaan kata, sebagian buku ini “Homer’s the Odyssey” akan terlalu sulit untuk mereka..” bilang Kepala Departemen. Tapi, Gruwell punya semangat, punya niat,  dia bilang, “aku ingat saat menonton kerusuhan LA di tv, saat itu aku sedang ingin ambil sekolah hukum dan berpikir saat kau sedang membela seorang anak dipengadilan, perang sudah kalah. Kurasa pertempuran sebenarnya harus terjadi di sini, dalam kelas.”

Kisah Erin Gruwell adalah kisah orang yang punya visi. Kisah perjuangan seorang guru yang melihat soal pendidikan tak sekadar perkara ilmu pengetahuan.  Suatu maksud bahwa peran guru harus ditempatkan secara nyata ke dalam ikatan sosial lebih dari hubungan di dalam kelas. Kisah Erin Gruwell adalah kisah seorang yang punya perhatian. Barangkali karena itulah kisah seorang Gruwell, perempuan guru itu di angkat ke layar film.

Freedom Writers, begitu judul film yang saya saksikan itu menyinggung banyak perkara. Melalui “penuturan mata”  Eva (Aprill Lee Hernandez) –salah satu murid Gruwell keturunan Hispanik, film itu dibuka melihat suatu setting sosial kultural kehidupan perkotaan yang guyah akibat kriminalitas khas Amerika selama bertahuntahun: konflik antar ras. Bahkan semenjak awal, film ini sudah mengambil sudut pandang korban rasialis yakni Eva itu sendiri sebagai “mata khalayak” untuk memahami persoalan.

Eva –seperti juga temanteman seangkatannya, adalah perwakilan generasi yang masuk ke dalam warisan konflik turuntemurun akibat struktur sosial yang timpang. Eva berusaha memperlihatkan bahwa di dalam ikatanikatan yang guyah itu, perebutan identitas adalah hal yang musykil ditampik. Identitas adalah ihwal yang harus diperjuangkan. Dalam “mata kultural” Eva, identitas bukan sekadar penanda suatu kelompok belaka, melainkan suatu cara orangorang menyatakan sikapnya di antara struktur sosial yang tidak adil. Di baliknya, ada pandangan suatu kelompok yang mau diangkat kepermukaan, ada suatu cara ras melihat dunia, juga ada suatu nasib yang mau diperbaiki.

Akibatnya, konflik berdimensi rasialis itu tidak saja bertahan di dalam kehidupan antara kelompok, tapi juga masuk merembesi sampai di dalam kelas tempat Eva bersekolah.

Rembesan konflik itulah yang akhirnya menjadi imanen di dalam kelas tempat Gruwell mengabdi. Di saat hari pertamanya mengajar, Gruwell tak menyangka bahwa anakanak didiknya merupakan bagian dari konflik yang jauh lebih besar terjadi di balik temboktembok sekolah. Kelas, begitu juga anak didiknya, bukanlah seperti yang dibayangkan Gruwell. Ekspektasinya adalah imajinasi yang terbangun dari struktur masyarakat yang normatif normal. Cakrawala kulturalnya adalah horison pemikiran yang repetitif dari kelas masyarakat menengah atas, yang tak pernah menemukan secara “padat” situasi masyarakat marginal perkotaan yang tersekatsekat oleh warna kulit. Akibatnya, Gruwell seperti tipology masyarakat menengah perkotaan, kaget dengan situasi kelas yang dihadapinya.

Namun, Gruwell bertindak lebih dari tindakan kultural rekanrekan kerjanya. Saat dia menyadari bahwa situasi kelas yang diampunya adalah cerminan pembelahan yang terjadi dari kehidupan masyarakat, dia mengambil sikap. Melalui pendekatan belajar yang diterapkannya sendiri, dia berhasil masuk memahami keadaan kelas yang terfragmentasi secara kultural. Saya kira, di sinilah ketokohan ditunjukkan Gruwell sebagai bukan sekedar guru normatif belaka, melainkan mau membuka diri memahami persoalan yang dihadapi muridmuridnya.

Saat itulah, Gruwell mengalami semacam pembalikan cara pandang. Terutama saat dia diperhadapkan kepada suatu momen krusial di halaman sekolahnya (menit 39, detik 20), di situ barangkali Gruwell membatin,  pendidikan harus mampu mengambil peran lebih dari sekedar tuntutan kurikulum. Tindakannya pasca kejadian ini merupakan ambivalensi dari sikap kolektif rekanrekan kerjanya yang memandang secara sinis keberadaan muridmurid masyarakat kelas dua. Sikap antipati akibat perbedaan warna kulit, seperti dinyatakan rekan kerjanya, juga mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan di sekolah itu.

Kurikulum atau pendekatan pendidikan yang diterapkan Woodrow Wilson High School, seperti yang dirasakan Gruwell sendiri adalah jenis pendekatan liberal-konservatif yang mengandaikan perbedaan anak didik berdasarkan latar belakang sosialnya. Bahkan, semenjak awal, kelas yang diamanahkan kepada Gruwell adalah kelas “buangan” yang diperuntukkan bagi anakanak masyarakat nomor dua. Pemilahan secara sengaja ini, bukan saja membelah lingkungan muridnya berdasarkan warna kulit, juga menerapkan perlakuan diskriminatif melalui anggaran dan fasilitas yang diberikan sekolah. Akibat kebijakan yang diskriminatif itu, Gruwell harus bertindak mandiri menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Akhirnya di sinilah nampak persoalan usang itu: sistem vs tindakan aktor. Yang menyaksikan Freedom Writers pasti menyadari selain isu rasialisme, problem pendidikan juga benderang ditampakkan adegan demi adegan dalam film ini. Bahkan kalau mau dibilang, isu utama film ini adalah masalah pendidikan. Film ini         mengetengahkan situasi sistem pendidikan dalam menemukan soal hingga mengambil tindakan solutif atasnya . Sistem pendidikan yang kaku dan kurang tanggap situasi akibatnya tidak mampu menaksir persoalanpersoalan krusial yang dihadapi muridmuridnya. Sistem penyelenggaraan dan struktur birokrasi yang gemuk, akhirnya harus mengakui tindakan cekatan dan terbuka terhadap situasi yang dilakukan Gruwell merupakan kritik internal bagaimana pendidikan itu seharusnya diselenggarakan.

Alternatifalternatif yang diajukan Gruwell sebagai pendekatan belajar mengajarnya berjalan bersamaan dengan pelajaran yang diampunya; Bahasa Inggris. Melalui pendekatan literasi yang dipakainya, Gruwell yang awalnya dipandang sebelah mata muridmuridnya mulai menyadari perannya. Cara pertama yang dipakai Gruwell adalah dengan memberikan sejumlah buku jurnal agar muridmuridnya dapat bercerita segala macam masalah yang dituliskan di dalamnya. Melalui buku jurnal muridnya, Gruwell jauh lebih terang memahami situasi batin dari masalah yang dialami muridnya selama bertahuntahun. Selain itu, dia juga menghadiahkan sejumlah buku bacaan berlatarbelakang peristiwa Holocaust kepada muridmuridnya dengan harapan mereka tahu bahwa soal yang dihadapi adalah bukan sekedar masalah rasial antar geng, melainkan suatu masalah kemanusiaan. Dan yang tak pernah dilakukan guru sebelumnya, dia mengajak muridmuridnya pergi mengunjungi museum korbankorban Holocaust di suatu akhir pekan. Bahkan mereka diajak makan malam bersama beberapa korban pembantaian Yahudi yang diundang di suatu restoran. Dan, puncaknya adalah mereka bersedia didatangi oleh orang yang pernah menampung Anne Frank –korban kekerasan Nazi, yang sebelumnya mereka undang dengan cara mengirim surat langsung kepadanya.

Sistem penyelenggaraan pendidikan yang kaku memang sering jadi masalah pendidikan itu sendiri. Tapi, suatu metode yang berbasiskan situasi kongkrit dan dari situ diputuskan model apa yang layak dipakai, adalah cara efektif yang bisa mengubah suatu problem. Melalui konteks inilah pendekatan “baca-tulis” yang dipakai Gruwell bisa disebut terobosan. Pendekatan literasi yang dipakainya, tak disangka menjadi alternatif yang ampuh  memotong jarak persoalan antara murid dan guru. Melalui jalan literasi, Gruwell menemukan cara bersuara muridmuridnya dari tekanan “suara mayoritas” yang mengaburkan “suarasuara minoritas” masyarakat nomor dua. Lewat kisahkisah yang ditulis muridnya, “suarasuara” masyarakat marginal perkotaan dapat terekspose ke permukaan. Melalui tulisan muridmuridnyalah, penampakan cakrawala bathin anakanak kelas masyarakat bawah begitu gamblang diketahui.

Berbasiskan permasalahan itulah semenjak awal tokoh yang diperankan pemenang dua piala Academy Award ini merumuskan tujuan pendekatannya. Pendekatan yang diterapkannya akhirnya mampu memutuskan batasbatas kebudayaan yang selama ini dialami muridmuridnya. Bahkan konsep kelas yang dipersepsikan sebagai ruang belajar turut berubah seiring hadirnya kedekataan kekeluargaan di antara muridmuridnya. Dari pengakuan salah satu muridnya, kelas bukan lagi sebagai sekatsekat yang membuatnya tersingkirkan dari ruang publik, melainkan berubah menjadi rumah tempat dia menemukan keluarga. Dari pendekatan yang dipakainya, Gruwell akhirnya mampu meretas problem kultural yang laten terjadi di sekolahnya.

Di film ini juga memberikan sisi lain sosok Gruwell. Gruwell bukan tanpa halangan ketika ia menjalankan programprogram pendidikannya, selain sikap antagonis yang ditunjukkan pimpinan dan rekanrekan kerjanya, Gruwell juga mendapat penolakkan dari suaminya sendiri, Scot Casey (Patrick Demsey). Di sinilah saya kira, tesistesis soal keluarga demokratis masyarakat maju dipertanyakan. Suami Gruwell, yang dinyatakan sebagai calon arsitek, merupakan suami masyarakat perkotaan yang memposisikan diri sebagai pemimpin keluarga. Sebagai pemimpin keluarga, suami Gruwell digerakkan oleh nalar patriarkat yang turut bertahan di dalam bentuk masyarakat demokratis. Walaupun situasi kebudayaan Amerika yang telah maju, tetapi itu tidak dengan sendirinya menghilangkan sisasisa tradisi patriarki di masyarakat modern.

Relasi gender inilah yang tampak ketika adeganadegan Gruwell pulang dari sekolah. Awalnya, ia tak menyadari bahwa keseriusannya mengurusi muridmuridnya membuat suaminya merasa “tak dilayani”. Apalagi ketika Gruwell bergerak jauh dengan mengambil tambahan pekerjaan untuk mendukung programprogram belajar mengajarnya. Akibat minimnya waktu bersama yang dialami keduanya, suami Gruwell mulai merasakan dampak serius dari kekurangan perhatian dari isterinya. Relasi gender yang mempertautkan kemerdekaan perempuan dalam mengambil peran dan antara kebutuhan psikis maupun biologis dengan seorang suami, akhirnya mengharuskan hububungan rumah tangga mereka putus di tengah jalan.

Dari sudut problematis ini, persoalan relasi gender nampaknya juga ditampakkan walaupun hanya menjadi cerita sekunder dari kisah yang sebenarnya terjadi.  Urusan rumah tangga Gruwell bersama suaminya, Scot Casey, menjadi problem turunan akibat persoalan pendidikan yang dihadapi Gruwell di sekolahnya. Di sini secara implisit hubungan secara kausasi antara situasi makro (pendidikan) diperlihatkan secara diamdiam mampu merasuk mempengaruhi relasirelasi privat ditingkatan mikro (keluarga). Artinya, situasi yang dihadapi Gruwell menjadi lebih berat karena tidak ditopang dengan hubungan keluarga (suami-istri) yang bisa menjadi modal bersama dalam memecahkan permasalahan yang terjadi.

Akhirnya, film ini ditutup dengan suasana happy ending setelah Gruwell melakukan sejumlah usaha ke beberapa pimpinan sekolah hingga distriknya. Tujuannya untuk mengajukan langkahlangkah lanjutan agar kelas yang dibinanya masih diampunya di tahun mendatang. Walaupun semenjak di tengah jalan usahanya sering gagal akibat aturanaturan baku birokrasi, jalan berliku yang dialaminya tak dinyana mendatangkan sinyalemen positif. Di akhir cerita, sembari menunggu kedatangan guru inspiratifnya, muridmurid Gruwell berkumpul di suatu tempat hanya untuk mendengarkan kabar terakhir perjuangan kelas mereka. Akhirnya, setelah dirundingkan bersama pihak pimpinan, maka diputuskan Gruwell bakal melanjutkan kelasnya sampai ketingkat senior. Informasi itu datang menghapus kerisauan muridmuridnya yang harapharap cemas menunggu informasi yang bakal menentukan masa depan mereka beberapa tahun ke depan.

***

Kalau mau diajukan kritik, ada beberapa poin yang bisa ditunjukkan dari film berdurasi dua jam ini. Pertama, inisiatif Gruwell mencerminkan semangat individualisme masyarakat modern yang ditampakkan dari usaha Gruwell menghadapi persoalannya. Inisiatifinisiatif perempuan guru ini tidak mampu membentuk kolektifisme kerja demi menanggulangi persoalan pendidikan di sekolahnya. Bahkan tidak ada usaha bersama ditunjukkan kepada pihak sekolah dengan membangun “keresahan” yang mengakar di antara sesama profesinya. Guru, jabatan profesional yang diembannya, belum mampu ditransformasi menjadi semacam kritik lebih jauh kepada rekan sesamanya. Usaha ini seharusnya mampu dibuatnya dengan memanfaat sejumlah media yang banyak meliput aksiaksi sosial saat melakukan sejumlah usaha pencarian dana. Melalui pendekatan ini, Gruwell bisa mendorong kesadaran rekanrekan kerjannya untuk mengubah cara pandang rasialis yang masih kuat mengakar di sekolahnya.

Kedua, apabila kita melihat representasi kekuasaan dalam jejaring institusi pendidikan yang ditunjukkan Freedom Writers, maka akan ganjil jika melihat seorang kulit hitam yang menjadi salah satu pemimpin di dalamnya. Film jika disebut sebagai citra kebudayaan, maka Freedom Writers memperlihatkan “kebungkaman” pimpinan distrik yang masih terbatasi dengan sejarah rasial kulit hitam.  Ada dua lapis soal yang membuat pimpinan distrik sekolah Gruwell sulit memberikan semacam bantuan. Pertama adalah kewenangan yang bakal melanggar otonomisasi manajemen sekolah yang dimiliki  jika dia berindak jauh menggunakan jabatannya. Di sini nampak jelas persoalan birokrasi yang berbelit tak mampu responsif mengambil sikap. Kedua, sang pimpinan distrik belum bebas sepenuhnya dari tatanan kultural masyarakat Amerika yang berpandangan rasialis.  Akibatnya, dia sebagai orang kulit hitam hanya menjadi “juru dengar” tanpa bisa berbuat apaapa karena menanggung beban sejarah yang dibuat orang kulit putih.

Dua hal inilah yangmenghambat kenapa Gruwell sulit mendapat dukungan dari pihak pengambil kebijakan. Padahal, melalui mediasi yang ada, Gruwell dapat bertindak jauh jika semenjak awal dia bisa meyakinkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekedar masalah di dalam kelas semata, melainkan menyangkut kebijakankebijakan distrik setempat dalam dunia pendidikan.

Ketiga, pendekatan literasi di dalam film ini hanyalah sampiran atas problem yang dialami. Walaupun di akhir film, mereka mampu membuat satu buku kumpulan kisahkisah berbau diskriminatif, tetap saja gerakan literasi ini hanya sebatas media penyaluran perasaan subjektif tanpa mengubah keadaan objektif di masyarakat. Seharusnya, gerakan literasi harus menjadi pilihan utama dalam pendekatan kurikulum yang dipakai di setiap jenjang pendidikan. Sehingga bisa jadi model yang diajukan Gruwell bukan sekedar pendekatan yang hanya diterapkan di dalam kelas, melainkan menjadi gerakan kultural yang dilakukan di setiap lapisan masyarakat.

Walaupun begitu, melalui pendekatan literasi, pendidikan diharapkanbukan sekedar upaya yang memajukan tatanan kognitif anak didik belaka, melainkan melibatkan seluruh totalitas kesadaran ketika berhadapan dengan suatu tindak baca tulis, melebihi upaya verbal yang selama ini dipakai dalam pendekatan pendidikan.


22 Maret 2016

Sinisme Sang Filsuf

Akhirnya cara menjawabnya harus dimulai dari seorang nama tua: Platon. Platon, yang filsuf itu punya pandangan tentang Philosopher-King. Tatanan masyarakat baginya harus diatur oleh seorang filsuf. Manusia yang punya kualitas kontemplatif. Seorang filsuf diandaikan sebagai kepala masyarakat. Sang filsuf dengan begitu, dengan kualitas kebaikannya jadi kelas ideal bagi Platon.

Boleh jadi,  jika mau sedikit kritis, semesta pemikiran Platon, terutama pemosisian sang filsuf sebagai puncak teratas hirarki sosial, berangkat dari semacam sinisme. Bagaimana pun idealnya sang filsuf, profesi yang lainnya selalu secara hirarkis di bawah posisi sang filsuf. Pertama, konsekuensinya, semesta pandangan Platon masih melihat tatanan terdiri dari kelaskelas. Akibatnya, hanya sang filsuflah sebagai manusia yang mampu menjamin kebenaran, kebebasan, keindahan, dan kejujuran, sedang yang lain hanya bagian yang subordinat.

Dari konteks negara kota (Polis), yang mengikuti tatanan tiga tingkatan, kaki-badan-kepala, sang filsuflah yang ideal sebagai kepala negara. Akibatnya, politik dianggap sebagai pekerjaan yang derivatif. Bahkan kalau mau bincang politik, seseorang harus mengambil optik filsafat. Artinya dengan terang optik akal budi, sang filsuflah yang punya tugas mengurusi kehidupan politik. Bagi Platon seorang negarawan haruslah seorang filsuf. Begitu kirakira maunya.

Akibat dari itu muncul pembelahan. Sang filsuf berbeda dengan orang biasa adalah orang yang punya tugastugas penting kenegaraan (das sein). Sebaliknya, orang biasa hanya mengurusi soalsoal cetek kehidupan seharihari (das sollen). Sang filsuf tugasnya lebih utama bersentuhan dengan akal budi, tatanan abstrak yang menuntut konsentrasi tingkat tinggi. Melalui itu negara diatur dan diberlangsungkan. Sedangkan orangorang biasa hanya mengikuti hasil refleksi sang filsuf.

Sinisme kedua, Platon punya kelompok elit intelektual. Yang ini dikenal sebagai Hekademia (akademia), kelompok intelektual yang hidup terpisah dengan polis, masyarakat umum.  Ini yang dibilang Hanna Arendt, perempuan pemikir politik abad 20,  sebagai sikap elitis. Sikap ini dinyatakannya sebagai cara kaum terdidik untuk mengungkapkan kebebasan elitis yang hanya dipunyai khusus selain dari masyarakat umum.

Kebebasan ini paralel dengan waktu luang yang tidak dimiliki masyarakat umum terutama kaum budak. Waktu luang yang dipunyai ini, secara epistemik memberikan syarat material dan pemikiran kepada kaum terdidik untuk asyik tenggelam dalam percobaanpercobaan pemikiran kontemplatif. Implikasinya, secara politik, kaum terdidik jauh dari kecenderungan banyak orang yang hidup secara berbeda. Itulah sebabnya, kecenderungan politik kaum terdidik lebih mengutamakan kebebasan sebagai sarana akal budi untuk berpikir, dibandingkan tuntutan material lainnya yang memang bukan bagian dari kehidupannya seharihari.

Karena itu kaum terdidik selalu memuja kebebasan sebagai tujuan sikap politiknya. Pun kalau mereka terlibat dengan suatu perjuangan politik, itu hanyalah anasir dari tuntutan kebebasan yang dikehendaki. Akibatnya, sikap politik kaum terdidik seperti ini adalah sekaligus sikap elitis atas hirarki yang menempatkan kaum terdidik sebagai kelas tertentu. Mengacu sejarah perubahan dunia, hampir semua perjuangan politik dengan nama demokrasi adalah hasil dari tuntutan kebebasan kaum terididik.

Sang filsuf atau kaum terdidik dengan previlage tertentu dengan begitu adalah kelas yang lahir dari pemisahan sejak awal yang ditunjukkan Platon dengan Hekademianya. Posisi akademia yang berjarak dengan tatanan Polis, bukan sekedar kesenjangan secara demografis, melainkan juga menggambarkan betapa jauhnya “hal ihwal kaum terdidik” dengan “tetek bengek masyarakat umum”.  Pemilahan ini akhirnya menjadi skema tatanan sejarah masyarakat yang membagi masyarakat atas “kepemilikan ilmu”,  yang sudah dimulai Platon.

Imbas dari berjaraknya dunia intelektual dengan aktifitas seharihari masyarakat, juga mengakibatkan perubahan objekobjek ilmu yang bergerak dari “partikularitas” peristiwa seharihari menjadi “universalitas” hal ihwal keilmuan. Ilmu akhirnya tidak tertuju pada ikatanikatan sosial masyarakat dengan kebutuhankebutuhan mendasarnya, melainkan sibuk menyoal hububunganhubungan proposisi demi tuntutan ilmu itu sendiri.

Sinisme sang filsuf juga tampak dari antagonisme filsafat atas sastra. Sikap ini dimulai Platon dengan memandang sastra sebagai bidang ilmu yang hanya menjiplak kenyataan. Sastra dibilangnya tak mampu menjadi perangkat manusia menangkap kenyataan “yang ideal”.  Sastra dengan model yang lebih banyak dibentuk lewat gaya bahasa, dianggap hanya “bermainmain” tanpa bisa memberikan kebenaran yang bersifat ideal. Anggapan ini didaku Platon karena melihat sastra hanya sibuk berkutat pada soal bentuk, bukan “isi” seperti yang disebut Platon hanya bisa ditemukan dalam filsafat.

Universalisme filosofis yang jadi horison pikiran Platon, dengan sendirinya menolak bentukbentuk partikularitas yang diajukan dari gaya berfilsafat Aristoteles. Bahasa akhirnya, melalui gaya Platon, harus memikul beban makna yang universal untuk menyebut “ideal type” yang dibilangnya hanya dimungkinkan melalui filsafat. Sastra yang sering kali menangkap halhal partikular, bukanlah objek filsafat itu sendiri. Akibatnya, universalisme yang diharapkan Platon, sebenarnya adalah pelecehan terhadap kenyataan yang bisa saja terjadi dengan beragam kemungkinan dari kejadiankejadian seharihari yang partikular.

Yang terakhir adalah soal konsep form yang terkenal itu. Platon, membagi dua dunia. Dalam imajinasi pemikirannya dia meyakini suatu dunia baqa yang tak tersentuh sejarah. Suatu tatananan yang tak berubah dan bergerak.  Di sana jiwa bebas mengenali bentukbentuk ideal. Platon menyebutnya archetype, yakni bentukbentuk ideal dari sesuatu yang tampak di dunia. Dunia archetype adalah dunia yang sebenarnya, karena di sanalah “sesuatu yang ideal” bersemayam. Di sanalah yang esensil. Platon menyebut dunia itu Alam Idea, dunia sebelum tubuh tercipta.

Melalui konteks itulah Platon menyebut dunia tubuh adalah bayangbayang. Bukan yang esensil akibat mudah berubah, kumpulan yang mudah hancur. Tubuh dia bilang adalah kuburan Jiwa. Tubuh, adalah sebab jiwa tak mampu mengenal kembali yang ideal pasca dia turun kedalam kubangan serat daging. Akibatnya, tubuh harus ditinggalkan, jiwa harus lurus mengacu ke dalam yang universal esensil, dunia asali nun jauh “di atas” sana.

Monisme Platonian ini diamdiam akhirnya menyimpan sikap sinis terhadap dunia tubuh. Dunia seharihari, akhirnya menjadi tatanan yang tak layak dirundung soal. Sebab yang terkandung di dalamnya hanyalah sementara belaka, hanya bayangbayang semata. Hirarki dua dunia ini berimplikasi hanya menempatkan alam archetype  sebagai satusatunya realitas yang layak diperjuangkan.

Syahdan, sinisme sang filsuf ibarat sikap keras Platon atas filsafat sebagai satusatunya jalan mendedah dunia. Dan, saya kira, sikap semacam itu adalah bentuk lain dari totalitarianisme epistem yang mengklaim bahwa filsafatlah satusatunya ibu pengetahuan. Filsafat karena menjadi satusatunya rahim ilmu bermula, maka dialah yang punya semacam wewenang menentukan jalan sejarah pengetahuan. Sampai kiwari,  hanya filsafatlah yang disebut jalan kebahagiaan, jalan kebijaksanaan, atau bahkan jalan keselamatan. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menolak filsafat?

20 Maret 2016

Soal Puisi

Puisi saya kira memang perkara intuisi. Orangorang bilang soal rasa. Makanya tidak semua bisa bikin puisi. Karena itu puisi juga menjadi pekerjaan elitis. Soal ini, hanya disebabkan puisi punya cara lain kala menggunakan bahasa.

Pernah ada soal, apakah bahasa dalam puisi menjadi objek keindahan atau media keindahan. Yang pertama berarti di dalam puisi sudah mengandung keindahan, dan yang terakhir bahwa bahasa dalam puisi hanya mengantar orang kepada keindahan.

Kalau dicanggihcanggihkan, problem pertama dianut perspektif lirisme-ekspresivisme, sementara yang lain diacu oleh perspektif realisme. Problem ini juga semakin ribet akibat unsur politik begitu dominan menentukan perkembangan sastra.

Ini sempat terjadi di kisaran era 60-an, kala sastra mencatutcatit dimensi ideologis suatu pemikiran. Di era itu, sastra, termasuk puisi menjadi medan perseteruan kubukubu sastrawan dan pemikir intelektual. Akibatnya, perkembangan sastra terbelah jadi dua perspektif; humanisme universal dan sastra politik sebagai panglima. Pertama ditemui kubu Manifesto Kebudayaan (Manikebu), yang kedua adalah pandangan orangorang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Pernah juga ada trend di lingkungan sastrawan soal puisi gelap. Terutama juga seperti dalam aliran seni rupa; abstraksionisme. Saya kira, tulisan  Martin Suryajaya di website Indoprogress menulis jauh lebih lengkap ihwal abstraksionisme sebagai mazhab seni rupa, juga puisi.

Puisi gelap, seperti yang diidamkan beberapa penyair adalah pendirian keindahan kala makna sulit dipahami. Makna yang tersembunyi jauh di balik bahasa adalah keindahan itu sendiri. Begitu juga bahasa yang sulit dimengerti dianggap sepadan dengan keindahan sebagai nilai estetisnya.

Kecenderungan ini nampak benderang kalau ditemui pada puisi jenis lirisme. Bahasa tiada lain adalah perasaan itu sendiri. Prinsip ini, jiwa penyair belum nampak ketika belum berbahasa. Akibatnya, bahasa yang dipakai dalam puisi adalah jiwa yang tampak. Bahasa, bagi puisi lirisme hanya sematamata cermin perasaan penyair. Suatu pengganti perasaan yang tak tampak dalam jiwa.

Saya tak tahu apakah soal itu yang benar. Sebab, puisi juga bisa jadi mirip pamflet. Bahasa di puisi macam itu sarat muatan ideologis. Bahasa, bukan lagi sebagai media ekspresi jiwa, melainkan suara anjuran perubahan. Bahkan, puisi dalam koridor ini harus mampu menempatkan diri di dalam suatu jejaring sosial politik suatu masyarakat.  Puisi harus masuk meninggalkan “angkasa abstrak” yang sulit dipahami, menjadi bahasa yang dimengerti banyak orang.

Akhirnya, ini hanya soal pilihan. Saya kira satu hal yang samasama diperjuangkan dalam puisi; kebebasan. Entah dia mau menggunakan bahasa langit, ataupun bahasa suara orangorang kebanyakan. Puisi adalah puisi. Dia memang perkara intuisi, yang bergerak masuk keluar antara kenyataan yang diadapinya.


18 Maret 2016

Hannah Arendt dan Obrolan yang Tersisa

Muhajir mengungkap banyak hal soal pemikiran Hannah Arendt. Pertama, dia bilang, yang subtil dari Hannah Arendt adalah pemikiran politiknya. Pemikiran politik Hannah Arendt dibilang antitesa dari konsep politik kontemporer. Secara tidak langsung itu juga memberikan makna baru tentang politik. Soalnya, bilang Muhajir, politik di mata Arendt adalah "tindakan".

Antitesa politik Hannah Arendt, bilang Muhajir harus dimulai dari bagaimana Arendt melihat manusia. Manusia harus dilihat sebagai "siapa dia", bukan "apa dia". Hajir, begitu sering dipanggil, bilang pembedaan ini penting sebagai jalan masuk dalam memahami konsep politik Arendt.

"Siapa dia" sebagai suatu horison pengertian dengan sendirinya akan memberikan arti kekhasan atas manusia yang memang berbeda. Defenisi macam ini dengan sendirinya menempatkan perbedaan sebagai entitas yang tak tertolak. Manusia bukan "apa dia" yang mengaburkan pengertian manusia sebagai mahluk unik. Universalisme-esensialis yang jadi "common sense" bahwa manusia adalah mahluk rasional, ditolak karena menundukkan manusia sebagai entitas yang seragam.

Politik, daku Hajir harus dimulai dari pandangan atas manusia sebagai "siapa dia", karena hanya itulah jalan memahami politik. Politik, kalau mau dibilang, berarti berusaha memahami manusia yang berlainan, yang berbeda. Politik bukan apaapa selain afirmasi atas keberagaman.

Makanya, atas Arendt, Hajir menyebut dua antinomi; politik dan antipolitik. Upaya distingtif ini, disebut untuk menakar apa itu politik sesungguhnya. Dari titik tolak "perbedaan dan keberagaman" politik diartikan usaha manusia mengelola kehidupannya tanpa sikap diskrimintatif dan intimidatif. Politik sejauh Hajir sebut adalah medan tak ada "perintah dan yang memerintah". Narasinya yang lain, politik merupakan ruang terbuka bagi semua mengajukan kesetaraannya.

Sementara antipolitik ungkap Hajir, Arendt mengajukan dua kecenderungan yang mesti diwaspadai; tirani dan totalitarianisme. Dua wajah kekuasaan ini diwantiwanti Hajir dengan mengajukan ciriciri negara yang represif, monolit, dan menyukai penyeragaman. Sejauh ini, antipolitik dibilangkan sebagai usaha kekuasaan yang menghendaki penyamaan melalui penyeragaman cara pandang juga pemikiran.

***

Tidak banyak yang terlibat. Awalnya hanya lima orang. Bincangbincang, sesuai rencana dimulai pukul empat. Saya tiba sekitar pukul empat lebih. Agak telat. Kedatangan saya bersama Muhajir yang kali ini jadi penyerta. Juga, Pabe, yang ikut dari awal di Bunker.

Tapi, orang paling pertama di lokasi adalah Jusna. Dia sudah memesan kopi dari awal. Barangkali sudah sedari tadi tiba. Dia bilang sekira duapuluh menit lalu sampai. Itu disebut tepat waktu. Disiplin.

Akhirnya kami mengambil lokasi yang pas buat diskusi. Saya memilih di bagian depan warkop; dua meja setinggi lutut. Di situ kami duduk sembari ngobrolngobrol ringan. Tak lama Hajra datang.

Saya agak ragu banyak bakal datang. Langit mendung. Gelap dibubungan jauh. Namun itu bukan soal. Berapapun datang, diskusi harus tetap berlangsung.

Agak lama kami menunggu kedatangan kawankawan lain. Tibatiba Kanda Sulhan Yusuf menelpon. Dia sampaikan kalau tidak bisa datang, dia sedang menulis. Saya maklum. Apalagi, prinsipnya, diskusi ini hanya obrol santai. Bagi saya, jangan sampai merepotkan guru kolektif kami jauhjauh menyetel motornya hanya mau datang mendengar obrolan yang tidak pentingpenting amat. Maqamnya sudah jauh melampaui obrolan kami. Yang kayak begini, wacana yang sudah dilumatnya bepuluh tahun lalu.

Tapi, bagi kami itu sebentuk apresiasi, dukungan. Walaupun tidak bisa datang dia sempatkan menelpon. Yang lain tak ada kabar. Entah kemana.

Di atas, langit belum berubah; hitam. Seperti ada yang menumpahkan tinta hitam di situ. Lama berselang pelanpelan berubah kelabu. Biarpun begitu, tetap saja, kami masih berlima. Akhirnya diskusi dimulai. Saya membuka "forum". Hajir menarik napas, rokoknya dihisap dalamdalam, dia akhirnya berbicara.

***

Ada soal dari Hajrah; apa itu politik dari kaca mata Arendt? Hajir bilang, politik di mata Arendt berkebalikan dengan arti politik konvensional. Politik menurut Arendt, ucap Hajir diinspirasikan dari Polis Yunani Antik. Di situ, ada pemilahan tentang ruang; "yang privat" (oikos) dan "yang publik" (polis). Mengacu Arendt, politik hanya dimungkinkan di ruang publik.


"Yang publik" atau ruang publik, disebutkan mengacu kepada Polis Yunani Antik. Saat itu, di Polis, masyarakat digerakkan atas situasi yang setara. Polis, merupakan medan yang memberikan kebebasan diekspresikan. Akibatnya, tak ada semacam "kekuasaan" yang berhak menguasai perbedaan. Polis adalah ruang bersama. Polis merupakan tempat pemikiran bebas dikampanyekan.

Sedangkan, "yang privat" daku Hajir adalah tempat hirarki bermula. Karena bersifat privat, segala yang ada hanya dimiliki oleh satu orang. Privat dengan arti yang demikian bermakna penguasaan atas seseorang tanpa ada keterlibatan yang lain. Dengan sendirinya, privatisasi akhirnya menolak kolektivisme. Makanya, kata Hajir, privatisasi harus ditolak.

Pemilahan ini digambarkan Arendt sebagaimana yang tampak pada tatanan masyarakat Yunani antik. Oikos merujuk kepada lingkungan sosial rumah tangga yang di dalamnya bekerja atas logika tuan-budak. Manusia di oikos, bergerak atas kesadaran dan perilaku kepentingan pribadi atau keluarga. Sehingga di dalamnya, rumah tangga menjadi medan subordinasi dan eksploitatif terjadi.

Polis, tatanan yang mengharuskan adanya ikatan kerja sama antara sesama warga akhirnya adalah tatanan yang ideal. Asumsi ini didasarkan hanya di Polislah kepentingan bersama diperjuangkan. Di dalam polis, semua orang setara. Di polislah ikatanikatan privat seperti dalam rumah tangga ditanggalkan. Akibatnya, hanya di polis, politik itu dimungkinkan.

Dengan sendirinya, politik artinya ruang publik. Politik berarti terlibat di antara keseragaman. Soal ini, Hajir sebelumnya membagi tiga istilah kunci: kerja (labour), karya (work), dan tindakan (action). Kerja dan karya, di pemikiran Arendt, disebut bukan aktivitas politik. Sebabnya dua hal itu hanya suatu usaha soliter. Kerja maupun karya, hanya menyiratkan suatu sikap menyendiri mirip filsuf. Arendt, menampik sikap moralis dari kerja dan karya yang berdimensi individual. Bagi perempuan kekasih Heidegger ini, politik berarti tindakan.

Tindakan adalah sikap di ruang publik. Lain urusannya kerja dan karya yang ditemui di "ruang privat". Hanya "tindakanlah" perilaku manusia yang disebut politik. Ruang publik, tempattempat umum yang sering kita temui, yang difasilitasi negara, adalah tempat tindakan berlangsung.

Kalau bisa diringkas, politik berarti perilaku manusia menghadapi ruang sosial yang jamak. Perilaku, dalam cakrawala berpikir Arendt adalah tindakan yang mengandaikan kehadiran "yang lain", suatu sikap terbuka yang bebas dari penjarapenjara totalitarianisme dan tiaranis. Politik, sebut Arendt, adalah kebebasan itu sendiri.

***

Magrib datang dengan mendung yang masih bergerak lelet. Udara berubah dingin bersamaan tiangtiang lampu jalan menyala terang, kekuningan. Lenggang jalan berubah ramai. Kudakuda besi membelah puluhan sesak mobil. Suarasuara klakson memekik satu dua kali. Sekali menyapu udara, suara azan mendayudayu. Orangorang, hirau tak hirau, tak urus surau masjid penuh. Dan, kenyataannya memang begitu. Mesjid mungkin terisi setengah, dan negara, atau apalah namanya, punya banya soal.

Barangkali, di situlah medan pikiran Hannah Arendt seharusnya dibentang. Negara, institusi yang banyak masalah itu harus diteropong dengan mata kecut seorang Arendt. Dari mata perempuan pemikir politik abada 20 ini, kita bisa tahu, negara memang banyak soal.

Belakangan, atau juga separuh umur bangsa ini penuh dengan sejarah penyingkiran. Kiwari, itu banyak terjadi. Politik malah diselenggarakan sebagai "institusi privat". Akibatnya, negara menjadi wadah diskriminatif. Selain kasuskasus kebebasan beragama, penyingkiran kaum papa akibat perampasan tanah, barubaru ini pelarangan berupa festival dan pemutaran film menyeruak di lini masa dunia maya. Tanpa melupakan kasuskasus yang tidak disebutkan, negara dalam hal ini persis seperti yang dibilang Arendt; tiranis dan totaliter.

Horison pemikiran politik yang diajukan Arendt setidaknya suatu alternatif buat bangsa yang banyak "membunuh" aktivisme warganya yang membutuhkan ruang untuk bertindak. Indonesia masa kini adalah negara dengan penyelenggaraan politik yang masih bergerak atas sentimensentimen agama atau kepentingan ekonomi. Di situ, selama politik diartikan sebagai laku saling jegal dan penyingkiran kelompok, maka Indonesia dengan sendirinya mematikan "denyut" perkembangannya sendiri.

Saya kira, di suasana itulah pemikiran politik Hannah Arendt menemukan konteksnya. Di saat itulah kita butuh yang otentik, suatu politik yang lebih manusiawi.


12 Maret 2016

Pojok Bunker

Dua gambar di bawah menunjuk dua hal; harapan dan kenyataan. Di sebelah kiri harapan, yang lainnya kenyataan.

Begitulah, dua hari belakangan penghuni bunker sibuk. Semua berjibaku, bekerja. Hari pertama, semaksemak dibabat. Rerumputan liar dipotong. Juga,tanaman liar lainnya dicabut. Digerakkan harapan.

Hari kedua, sisa sepojok halaman belakang. Sore kemarin ramairamai kerja bakti. Mengaduk, mengangkat, membuang sampah. Hampir dua jam sampah tak habishabis. Keringat cucur. Sore jelang. Lama kemudian sampah pupus. Digerakkan kenyataan.

Begitulah, dua frame antara harapan dan kenyataan berkelindaan di benak. Bergerak dan berubah jadi otot yang tegang. Juga, tubuh yang basah. Akhirnya, yang tersisa tinggal halaman tak terpakai, ruang sekira 3×5 meter, dinding bata kecoklatan, dan ide yang harus bekerja.

Dulu tempat ini nyaris tak terurus. Dibiarkan begitu saja. Tak berguna. Jika dimanfaatkan, faedahnya hanya satu: tempat sampah. Bertahuntahun itu terjadi. Segala musim datang, juga tikus, juga berbagai serangga liar.

Lama tempat ini ditinggal berbarengan tumbuhnya tanaman entah. Hari ke hari merambati tembok yang dibiarkan berdiri tanpa atap. Menjalar sanasini dengan serabut akar halus menembusi celahcelah tembok. Di situ, juga tumbuh lelumutan, hijau. Sampah, yang ditinggal pergi, jadi lahan subur kembang biak cacing.

Tapi, tempat ini sempat punya fungsi lain. Akibat tak ada atap bergantung, di bawahnya jadi tempat jemuran. Di sini sinar matahari mulus turun. Tak ada penghalang sekalipun. Angin, yang kerap menyisir atapatap dengan bunyinya, juga bebas keluar masuk. Jemuran, apapun itu, tak bakal lama tetiba kering segera.

Pernah juga, dibuat semacam balebale di situ. Sekira dua tahun kemarin. Rencananya jadi tempat alternatif akibat hawa panas bunker. Jadi tempat diskusi.

Saya tak tahu siapa pernah berjibaku membangunnya. Saat itu, saya sempat lama meninggalkan bunker. Ketika datang, sudah berdiri empat tiang beratap spanduk bekas.

Jadi, struktur tiang dibuat dari kayu balok. Lantainya juga kayu yang disusun. Kemudian dua tiang lain disandarkan di atas bubungan atap. Di atasnya, dihampar spanduk bekas. Yang terakhir mudah didapat, tapi balok tiang berkualitas bagus itu saya tak tahu siapa membawanya.

Cuman, kebiasaan berkumpul di bawahnya tak sempat lama. Biasanya di situ ditempati ngopi, berdiskusi, sesekali ketawaketiwi. Balebale berbentuk kotak itu bisa muat empat sampai lima orang. Lamalama, satusatu pergi. Balebale akhirnya ditinggalkan.

Kejadian itu bersamaan musim penghujan. Kala air deras menyapu, tak ada mau duduk di bawahnya. Karpet yang jadi pengalas ikut basah. Orang akhirnya ogah mau berdiskusi di situ. Basah. Becek.

Bila malam jelang, tempat ini beralih jadi lahan parkir. Akibat tempatnya tertutup, motormotor aman ditaruh di situ. Jika dihitung, tempat ini muat menampung sampai sepuluh motor. Itu jika diparkir kayak model rapat pusatpusat belanjaan.

Sekarang tempat ini kosong menganga. Kalau mau dibilang agak lumayan bersih. Rambatan tetumbuhan di temboktembok juga sudah tercabut. Satusatunya yang masih tertinggal di sana hanyalah ide yang mau dibuat jadi kenyataan.


09 Maret 2016

internasional women's day

Bukan siapasiapa selain perempuan, hanya perempuan, yang bisa bikin maju kaumnya. Kiwari, perempuan harus maju di depan dengan sikap percaya diri, dengan keberaniannya. Perempuan bisa jadi apa saja; guru, direktur perusahaan, pebalap, ilmuwan, supir angkutan, penyair dsb.

Sejarah sudah banyak sebut contoh soal perempuanperempuan hebat. Mulai dari ujung Sumatera hingga ujung timur Indonesia. Dari masa lalu sampai hari ini. Di situ banyak sosok, juga pokok.

Perempuanperempuan yang berjuang di masa lalu bukan saja bergerak atas nama kaumnya, tapi karena rasa keadilan. Mereka punya kesadaran bahwa semua punya hak diperlakukan sama. Perempuan, sama halnya lakilaki adalah bagian dari umat yang sama, karena itu tidak bisa dibedakabedakan.

Makanya pokok itu yang penting, bahwa perempuan juga sama dengan lakilaki. Tidak ada perbedaan mencolok antara perempuan dengan lakilaki selain struktur anatomisnya. Perempuan dan lakilaki hanya beda biologis, selebihnya sama saja.

Yang malang, kadang masih banyak orangorang menempatkan perempuan sebagai kaum nomor dua. Mendeskripsikan perempuan sebagai manusia yang tidak sempurna, yang semuanya berasal dari perbedaan biologis. Akibatnya, di dalam tatanan sosial, perempuan jadi bulanbulanan objek penindasan.

06 Maret 2016

Bertanya itu Bukan Tabu


Henry A. Giroux 
Kritikus budaya dan Amerika . Salah satu teoritikus pendiri pedagogi kritis di Amerika Serikat 
Giroux terkenal karena karya perintisnya dalam pedagogi publik, studi budaya, studi pemuda, pendidikan tinggi, studi media  dan teori kritis. 
Pada 2002 Routledge menyebut Giroux sebagai salah satu dari lima puluh pemikir pendidikan terkemuka di zaman modern.

BUKU filsafat tertua di dunia berupa dialog. Buku karangan Platon, misalnya. Politeia/The Republic, buku yang mengulas filsafat politik, menggunakan dialog sebagai strategi literernya.

Sesungguhnya di dalam dialog ada dua elemen penting yang dikandung: pertanyaan dan jawaban.  Dua elemen ini bukan sekedar metode, melainkan esensi filsafat itu sendiri.

Melalui dua hal itu ilmu pengetahuan berkembang. Bahkan pertanyaan jauh lebih penting dari jawaban. Akhirnya dengan pertanyaan, sejarah maju meninggalkan kabut kejumudan.

Karib filsuf Levinas, Jacques Rolland, menyatakan, bertanya adalah suatu proses berpikir. Ketika seseorang bertanya, maka di situ ada proses berpikir. Di peristiwa itu, ada soalsoal yang bakal dipecahkan. Ada pemahamanpemahaman yang digugat. Dan, kemudian akal bekerja.

Zaman berkembang, dan malang dunia hari ini adalah masa yang banyak menyingkirkan pertanyaan. Orangorang berbondong duduk di hadapan guru untuk menemukan jawaban. Anakanak muda sulit lepas dari gawainya berselancar dengan sekali klik. Bila di layar kaca, ketika sebuah forum pendidikan ada pertanyaan, maka sesungguhnya pertanyaan itu juga sudah dipesan sebelumnya.

Jamaknya fenomena itu bukanlah simptom alami. Tradisi menelan jawaban adalah gejala yang sudah lama dialami dari model belajar selama ini. Bahkan, ilmu di dalam tradisi pendidikan kita selalu diandaikan sebagai paket yang sudah fix. Ilmu bukan terdiri dari pernyataanpernyataan terbuka yang patut digubris dengan deretan pertanyaanpertanyaan kritis. Perlakuan ilmu yang demikian, sama halnya dengan iman yang harus diterima dalam doktrin agamaagama.

Kebudayaan menelan jawaban paralel dengan merebaknya budaya bisu. Kritisisme justru dianggap anomali. Apalagi bangsa ini secara kultural masih terus dibayangbayangi oleh suatu paradigma yang sudah dibangun di dalam rezim yang hegemonik. Selama tiga dekade, di dalam rezim yang hegemonik itu, imajinasi dan kreativitas berpikir adakalanya bisa diartikan sebagai modus untuk membangkang.

Di mata pendidik a la rezim hegemonik, orangorang semacam itu akan dianggap sebagai anak yang tidak patuh. Ini persis seperti desain peristiwa penciptaan Adam. Di sana, ada sang penanya yang menggugat. Sang Iblis dengan rasa ingin tahunya memiliki hasrat menguak tujuan penciptaan Adam. Pasca kejadian itu Iblis di anggap menyimpang, dan akhirnya disingkirkan.

Malangnya, proses edukasi selalu mengambil inspirasi dari peristiwaperistiwa agama semacam itu. Agama memang baik, tapi nampaknya ilmu selalu disinonimkan sebagaimana doktrin dalam agama. Ilmu selalu dibangun atas dasar relasi struktural yang hirarkis. Dan ketika suatu hirarki terbangun, maka sesungguhnya di situ telah berlaku kekuasaan.

Relasi struktural semacam itu dinyatakan Henry A. Giroux sebagai derivasi persepsi tradisional konservatif  yang memandang tatanan hirarki adalah suatu yang tebangun alamiah. Giroux mempercakapkan relasi itu digunakan dalam struktur pengetahuan antara pendidik dan peserta didik. Pendidik sebagai posisi pada lapisan atas, sementara peserta didik harus rela dilapis bawah. Di dua lapis itulah pengetahuan diturunkan tanpa terbangun momentum dialog, sehingga pengetahuan diselenggarakan tanpa melalui momenmomen kritis.

Henry A. Giroux adalah pemikir pendidikan kritis yang mengandaikan bahwa penyelenggaraan pendidikan sudah diberlangsungkan dengan logika pasar. Kapitalisme tidak saja bergerak melalui matra ekonomi, melainkan menyusup melalui pendidikan dengan mengubah polapola kebudayaan di dalamnya. Atas dasar hukum efisiensi, pendidikan hanya ditimbang berdasarkan kekuatan modal . Giroux mendaku pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan hukumhukum pasar, akan mereduksi hakikat pendidikan itu sendiri.

Hilangnya kemampuan bertanya akhirnya hanya merepetisi/mengulang pengetahuan yang ditransformasikan. Ini artinya pengetahuan hanya akan menjadi pernyataanpernyataan anti perubahan. Malah pengetahuan yang tidak disertai pertanyaanpertanyaan kritis justru akan melegitimasi status quo. Maka jangan heran untuk mengucapkan kemajuan dalam pengajuanpengajuan pembangunan kebudayaan, orangorang susah melek karena tidak diawali dengan tindak kritisisme pertanyaan.

Sikap kritis untuk bertanya didaku Bambang Sugiharto sudah dimiliki semenjak kanakkanak. Namun, guru besar ilmu filsafat di Universitas Parahyangan Bandung itu bilang, ketika anakanak sudah mulai masuk ke dalam institusi pendidikan, rasa ingin tahu sang anak justru menjadi tumpul oleh sistem pendidikan yang tidak humanis. Pendidikan yang tidak humanis disebutnya adalah model pendidikan yang membunuh rasa ingin tahu menjadi manutmanut.

Malu bertanya sesat di jalan, begitu pepatah sering diucapkan. Sebenarnya frasa itu mau menerangkan bahwa keberanian adalah kualitas jiwa untuk bertanya. Barangsiapa tidak berani bertanya, tunggu saja akan menemukan jalan buntu. Di situ betapa pentingnya keberanian sebagai elemen dasar dari ilmu pengetahuan. Keberanian bertanya berarti ada keinginan mencari tahu lebih jauh sebagai fitrah dasar manusia.

Hilangnya budaya tanya anehnya berbarengan dengan betapa massifnya perkembangan informasi. Bahkan hampir di setiap saat, secara otomotatis mesin telepon pintar dipenuhi notifikasi tentang informasi yang terus berkembang. Bisa dibilang hampir semua informasi berada dalam satu genggaman. Tapi itu semua justru tidak mengikutkan suatu kultur bertanya untuk mempertanyakan kebenaran dari suatu informasi secara kritis.

Hasrat untuk mencari kebenaran tidak saja perlu bagi filsafat seperti yang dinyatakan Alain Badiou, filsuf kontemporer Perancis. Tapi itu penting bagi kita yang dikepung berjuta informasi. Betapa banyaknya informasi datang tanpa refleksi. Dan betapa sedikitnya informasi yang kita terima menjadi pengetahuan. Sebab tanpa budaya tanya, informasi yang dicerap hanya berupa pernyataanpernyataan tidak berbobot. Sampai di sini, apapun informasi yang datang pada Anda, sempatkanlah untuk bertanya. Sesungguhnya bertanya itu bukan tabu.

05 Maret 2016

Tere Liye dan Kesadaran Sejarah

Mendadak novelis kondang, Tere Liye, jadi sorotan. Statusnya di lini masa FB biangnya. Status yang tidak lebih dari tiga paragraf itu dianggap buta sejarah. Pasalnya dia menamsil, selain pejuang agamawan, tidak ada pejuang semisal pemikir komunis, sosialis, HAM, maupun liberal yang pernah berjibaku membela tanah pertiwi. “Coba cari,” kalau ada katanya.

Selanjutnya, Tere Liye bilang, jangan mau terpesona dengan pemikiran dari luar, seakanakan tak ada sejarah dan kearifan dalam negeri yang bisa diambil hikmahnya.

Sikap Tere Liye ini bisa disebut sebagai orang yang naif melihat sejarah Indonesia. Kalau mau jujur, banyak namanama pejuang pra dan pasca kemerdekaan yang berhaluan sosialis atau bahkan komunis. Di mulai dari Syarikat Islam, Partai Komunis Indonesia, sampai Founding Father, contoh yang paling terang.

Yang paling lucu adalah kalau dibilang tak ada “kearifan dalam” yang bisa digali untuk dijadikan pelajaran. Di sini, agaknya Tere Liye terjebak dengan cara pikir dualisme antara “dalam” dan “luar.” Kebudayaan Indonesia, dalam analisis tertentu malah bilang kalau Indonesia adalah “inkubator” yang berisi beragam persentuhan pemikiran dan kebudayaan.  Hasilnya adalah sintesa baru dalam perwujudan yang membentuk ciri khas tertentu. Artinya, Indonesia adalah tempat “yang dalam” dan “yang luar” bertemu  dan saling melengkapi. Jadi, bicara yang khas dari Indonesia, ruparupanya hanyalah hasil perpaduan antara kebudayaan “luar” dan “dalam”.

Tere Liye,  saya kira adalah prototype anak negeri yang ditilap politisasi kesadaran sejarah. Pengalaman sejarah Indonesia, sampai detik ini adalah sejarah dominan. Yakni, sejarah yang ditulis dengan tinta kepentingan kekuasaan. Sejarah yang ditulis sebagai “cerita sejarah,” bukan “peristiwa sejarah.” Layaknya fiksi, di dalam “cerita sejarah” plot atas kesadaran tertentu dapat dibuat sekehendak pihak tertentu. Beda dengan “peristiwa sejarah” plot hanya sampiran, bahkan di nomor duakan, sebab bahan utamanya adalah kejadiankejadian yang berbasis fakta.Akhirnya, saya kira, jangan lupakan sejarah!!

04 Maret 2016

sepatu

Saya agak kurang yakin kapan punya perhatian lebih terhadap sepatu. Kalau diingat itu sudah lama. Sejak sekolah dasar saya kira. Di kelas sekira 5 atau 6, sepatu sudah saya anggap penting.

Sepatu kala itu jadi bagian penampilan. Saya kira walaupun mau jelang umur belasan, sudah ada kesadaran semacam itu. Karenanya, sepatu seperti bendabenda lain harus bisa menunjang penampilan. Sepatu kala itu harus bagus. Kalau perlu bermerek.

Kala itu ada Bata, merek sepatu yang sering saya dengar. Starmoon, Newera, Carvill, Kasogi, dan Speec, beberapa merek yang lain. Di televisi juga sering saya lihat merek macammacam. Terutama jelang musim sekolah. Kala itu biasanya sehabis bulan ramadhan. Iklan sepatu banyak diputar.

Yang saya ingat, sebelumnya ada jenis sepatu yang tidak bermerek. Bentuknya lebih mirip sepatu kungfu. Di film kungfu Jacky Chan, sepatu kayak itulah yang sering dipakainya. Kalau menontonya saya sering mengingatnya. Sepatu itu ringan. Tidak rumit dipakai. Fleksibel, cuman agak licin.

Sepatu macam begini yang gandrung. Banyak kala itu memakainya. Caranya dipakai dengan kos dilipat pendek. Kalau kaosnya panjang, sering kali dilipat. Karena sering cara itu, kaos yang dipakai punya lekuk tumit baru yang terbentuk.

Sepatu itu itu tidak muncul di televisi. Iklan pun tidak. Cuman aneh kenapa banyak dipakai. Juga disenangi. Mungkin karena ringan. Dan berwarna hitam.

Yang terakhir itulah jadi pertimbangannya. Sekolah melarang pakai sepatu macammacam. Apalagi warnawarni. Harus hitam. Bukan yang lain. Selain itu, memang sepatu ini murah.

Kalau di toko sepatu, yang model ini justru tidak mejeng di etalase. Sepatu ini cuman ada di pasar. Biasa berjejer diikat karet gelang. Di susun menumpuk. Di selasela jualan macammacam. Kadang bersebelahan dengan ikanikan yang dijual. Karena itu gampang ditemukan. Kalau mau, tinggal cari di sekitar penjual ikan.

Sejarah sepatu ini entah dari mana. Misterius. Tibatiba banyak yang memakainya. Kala itu saya kira dari Cina. Soalnya mirip yang saya lihat di televisi. Yang memakai pertama kali juga entah.

Tapi, sepatu itu juga yang saya pakai. Ukurannya tidak besar. Nomor enam kalau diingat. Seperti juga lainnya, saya suka memakainya. Memang ringan. Juga hitam tentunya.

Bahan sepatu ini agak lunak. Kayak mirip kain terigu. Tapi lumayan tebal. Kalau hujan, atau basah, sepatu ini mudah kering. Bawahannya juga sederhana. Terbuat dari karet keras. Licin.

Sekolah masa itu punya bangsal. Ukurannya lumayan lebar. Dua lapangan bulutangkis jadi perbandingannya. Agak besar memang. Bangsal, lantainya dari semen yang dipoles isi baterai. Di atasnya atap seng jadi katupnya. Teduh.

Di situlah saya sering bermain. Macammacam. Kadang sepak bola. Gala asin. Sering juga kasti. Beberapa kali hanya berlari. Cuman kalau berlari, sepatu itu harus dilepas. Sudah saya bilang, licin.

Namun, kadang sepatu itu dipakai juga berlari. Jadi ini sebenarnya jenis mainan yang agak aneh. Pertamatama kami berlari sekencangnya. Beramairamai. Biasa berkelompok. Setelah lari beberapa meter, dengan sepatu yang licin, kami perosotan. Meluncur sejauhjauhnya. Siapa terjauh dia jawaranya. Di bangsal itulah kami berlari. Di lantai yang juga licin.

Karena berbahan kain, sepatu itu mudah sobek. Biasa sobekannya karena tekanan di ujung kaki. Makanya tidak jauh di ujung sepatu. Kadang malah tepat antara pertemuan alas dan jahitannya. Walaupun agak susah dijahit, kadang cara yang dipakai direkatkan handyplas menutupinya. Setelah itu disemir biar hitam. Beres.

Lumayan lama saya pakai sepatu macam itu. Sobek juga berulangulang. Akhirnya rusak jua. Di buang.

Sepatu yang baru saya tak ingat merek apa. Kali ini membeli bukan di pasar; toko Bata. Nama toko ini saya kira banyak yang tahu. Sampai sekarang mereknya masih ada. Di toko merek itulah saya dapat sepatu baru. Tetap hitam.

Sepatu itu lumayan awet, sampai SMP. Hingga jelang dua SMP sepatu itu masih saya pakai. Saat SMA, sepatu saya lebih mirip pantofel. Juga warna hitam.

Sekarang, di televisi banyak iklan sepatu. Orangorang juga senang pakai sepatu. Mereknya macammacam. Klasemennya juga beragam. Dari olahraga sampai resmi. Sepatu gunung sampai kantoran. Warna hitam sampai kuning terang. Ruparupa.

Iklan agaknya seperti teksteks kitab agama. Di dalamnya ada iman. Rasanya sulit mau mengelak. Sudah jadi doktrin. Bahkan ideologi. Karena itu satu level dengan agama. Taat.

Sepatu, saya kira, akibat dari iklan berubah fungsi. Tidak sekedar alas kaki. Sepatu jadi branding orangorang berpenampilan. Sepatu, di mata banyak orang harus mampu mendongkrak penampilan. Sepatu jadi life style.

Makanya, saya heran kalau ada sepatu sampai harga jutaan. Barangkali itu akibat hukum ekonomi. Harga jadi mahal seiring permintaan. Pasar tercipta karena ada penawaran dan jual beli. Yang aneh, biar mahal bagaimana, beberapa merek tetap laku terjual.

Kiwari, anakanak muda senang bersepatu. Banyak merek dipakai. Bahkan cara memfungsikannya anehaneh. Sepatu gunung dipakai seharihari; sepatu olahraga dipakai masuk kantor; sepatu pantofel jadi simbol parlente. Bahkan sepatu boot, yang konon untuk prajurit juga dipakai. Yang terakhir mudahmudahan bukan karena militerisme.

Akhirnya, sepatu, sekarang bukanlah sepatu belaka. Dia jadi mode; gaya hidup.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...