gambar

29 Maret 2016 Comments Off

Suatu gambar, saya kira, bisa menjadi semacam lorong waktu. Dari situ tercipta jembatan ingatan yang tibatiba berakhir pada sebuah daratan peristiwa. Makanya, ketika sampai, daratan yang telah lama jadi silam, juga sekaligus berubah asing. Berbeda.

Itulah sebabnya, mengapa kenangan menjadi peristiwa yang menghentak. Dari suatu gambar, kembali bergerak adegan demi adegan, kejadian demi kejadian, barangkali juga perasaan demi perasaan, yang membuat suatu jarak nampak tegas membelah masa lalu dan masa kini.

Kadang karena itu suatu tujuan bisa jadi tegang; sudah sampai di manakah sekarang? Biasanya, jika suatu tujuan jadi genting akibat masa kini yang melenceng, "aku" sebagai pusat, yang selama ini jadi sandaran segala hal, harus disoal kembali.

Soal itu pada akhirnya barangkali berbunyi; siapakah aku ini, di antara kerumunan orangorang? Siapakah aku sekarang, yang bergerak dari pengalaman dan kenangan? Siapakah aku ini, yang kadang lupa bahwa hidup berarti bukan sekedar apa tapi mengapa? Siapakah aku ini, yang berdiri di atas debu dan di bawah semesta galaksi?

Saya rasa memang hidup harus membuka segala jeda. Di situ, seringkali yang esensil bukan sekedar titik yang dikepung keramaian. Yang esensil, kadang karenanya adalah seinci celah untuk diintip dengan kesunyian. Yang esensil, kerap memang jadi inti yang asing dari hiruk pikuk, maka karenanya butuh sepengalaman tersendiri. Butuh aku yang polos, tanpa apaapa.

"Aku" yang polos itulah barangkali sering muncul saat suatu gambar dilihat bukan sekedar jutaan warna. Melainkan dari aku yang polos, gambar bisa berubah lain. Dia jadi ujud yang bicara. Mungkin, karena memang demikian, orangorang sering dibuat sedih jika melihat sebuah peristiwa direkam.

Suatu gambar barangkali hanya merekam yang tampak di depan. Toh jika suatu dimensi di ruang belakang berhasil ditangkap, gambar selalu menaruh fokus apa yang tampak paling di depan. Artinya, gambar hanyalah gambar. Dia tidak mewakili berbagai macam dimensi yang direkamnya. Dia hanya replika.

Namun, nilai unggul gambar apa yang tampak justru menjadi jangkar. Itulah sebelumnya dia seperti lorong waktu, mengangkut seluruh kekinian ke masa lalu. Dan, dengan "aku" yang polos itulah kita bisa bilang: memang aku bukan apaapa.

Karena itulah sejarah kadang pedih, sebab jika hari ini telah beragam kejadian tercipta, tapi dulu memang "aku" yang polos harus sadar bahwa waktu silam merekam "aku" yang memang bukan siapasiapa. Di situ, yang asal memang jadi sesuatu yang penting. Bahkan, tanpa itu, "aku" di masa depan akan mudah rusak.

Akibatnya, memang harus sering melihat kembali, yang asal, suatu titik tempat bermula. Kadang memang masa depan mampu membuat "aku" bertumpuk atribut; masa depan membuat orang bergairah mengejar citacita; masa depan malah mimpi untuk orangorang mengumpulkan segalanya; masa depan kekuatan yang menyulap orangorang jadi sesuatu, tapi yang asal, sejarah "aku" yang polos bermula, sekali sapu mampu membuat orangorang menjadi bukan apaapa.

Lalu, apa artinya masa depan? Entahlah. Mungkin yang salah karena "aku" sering memendam syahwat keabadian. Lalu, atas nama masa depan, suatu saluran dibangun demi berjalannya syahwat, untuk keabadian. Namun, di manakah keabadian itu bertempat? Mungkinkah memang dia ada, walaupun karenanya orangorang bisa berubah tibatiba?

Konon, karenanya gambar diciptakan untuk merekam sesuatu menjadi abadi. Tapi, mungkinkah orang lupa, bahwa suatu gambar yang terbatas itu mampu meringkus keabadian pada suatu bentuk? Malah, karena dia tak mampu, gambar sekaligus jadi media sesuatu yang terbatas untuk merekam yang tak terbatas. Di sini, gambar memang lorong waktu, dia jadi jembatan kepada dunia yang tak mengenal batas.


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca gambar di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel