madah duapuluh

08 Februari 2015 Comments Off

Layla dan Majnun
Kisah cinta legendaris karangan Nizami


CINTA, seperti di waktu sekarang, zaman yang sudah tercemar sanasini, tidak seperti Layla dan Majnun melihatnya; sesuatu yang menggelora, sesuatu yang hendak digambarkan bahasa tetapi seperti tak sempat diucapkan dalam kosa kata yang hanif. Juga tidak seperti bagaimana ahli suluk menggambarkan cinta sebagai jalan tanpa pamrih dan absennya ego untuk menuju yang baka. Justru cinta, untuk seperti sekarang kalau tidak ditafsirkan dalam hasrat, malah menjadi hal yang justru mengerikan; pembunuhan.

Peradaban seperti yang dibilang Sigmund Freud, Psikoanalisis Austria, ibarat kekang kendali kuda yang diikat kusir. Peradaban di mata Freud tak sekalipun memberikan peluang di luar rasio dapat eksis. Tak ada lini kehidupan lolos dari rasionalitas. Manusia ditundukkan atas inisiasi rasio yang  menjadi cara kerja peradaban. Nietzsche menyebutnya, zaman yang dikerdilkan. Kebudayaan yang memuja formalisme seperti yang diinginkan manusia sebagai animal rationale. Kebudayaan yang disebutnya bermental budak ini, adalah kebudayaan yang lemah dan tak berpengharapan.

Di dalam situasi demikianlah, cinta begitu  tragis ditampakkan akhirakhir ini. Cinta seperti yang disaksikan, justru menjadi bukti bahwa kematian sesungguhnya nampak tak bisa jauh dari sisi cinta yang misterium.

Dalam sejarah Yunani purba, riwayat cinta yang misterium memang mengikutsertakan kematian seperti yang ditampakkan Socrates. Cinta dalam alam pikiran Yunani, diperlihatkan Socrates sebagai bagian yang inheren dalam apa yang disebut filsafat.  “Aku bukanlah orang yang sepenuhnya bijaksana, “ ucapnya suatu waktu, “tetapi aku lebih mencintai kebijaksanaan.” Cinta, di mata orang  paling bijaksana di Yunani itu, adalah seperti dua hujung titik yang mengguratkan garis; sebuah lintasan proses. Bahkan cinta yang dia lihat sebagai sikap yang “lemah” dihadapan “kuasa kebenaran yang misterium” adalah sikap hidup yang tak berkesudahan.

Tetapi akhirnya ia harus mati dari sistem yang menganut suara terbanyak sebagai hukum. Socrates dinyatakan mengganggu tatanan teos dengan memperkenalkan tuhan baru. Juga yang paling dihindari adalah ia menyesatkan jiwa anakanak muda. Maka di suatu penjara di kota Athena, ia menenggak racun cemara. Namun jauh hari ia memang sudah siap “orang yang mengikuti jalan filsafat dengan cara yang benar sesungguhnya telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi maut dan menjalani kematian.”

Tetapi bagaimana kita harus menangkap sesuatu yang sublim dari cinta yang berakhir tragis? Belakangan ini, cinta, yang diklaim univesal itu, malah nampak menjadi timbunan purba manusia yang merusak dan destruktif. Cinta malah ditafsirkan bersamaan dengan egosentrisme yang kronik. Hingga akhirnya, cinta yang akut harus menilap nyawa dari yang seharusnya cinta hidupi.

Nampaknya apa yang disebut Freud sebagai insting kematian tak selamanya mampu dikontrol. Peradaban yang semula adalah mekanisme pendisiplinan terhadapa hasrat bawaan manusia, harus risau terhadap cinta; perasaan halus yang lolos disadap peradaban. 

Cinta, perasaan yang sulit diberikan ruang yang defenitif itu, sepertinya adalah saluran dari insting kematian yang diamdiam bekerja. Pelanpelan mengambil peran yang merusak dan mengguyah segalanya. Cinta dengan wajahnya yang lebih mirip insting kematian itulah yang banyak menggusur pengharapan dan pengorbanan. Cinta yang demikian itulah yang banyak menerkam korban dan bukan pengorbanan. Cinta yang demikian itulah cinta yang beriringan dengan kematian. 

Cinta dan kematian memang dua hal yang berbeda, tetapi betapa mudahnya dua hal itu ditemukan dalam tragedi manusia yang kronik.



Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa pembunuhan dilahirkan dalam cinta destuktif, hingga akhirnya menilap gampang nyawa. Tetapi memang itulah yang tersebar di mediamedia tentang betapa seringnya sepasang manusia harus saling memunggungi hingga berakhir pembunuhan. Walaupun tidak seperti bagaimana Romeo dan Juliet melihat cinta sebagai ujung jalan abadi. Dari apa yang saya saksikan di mediamedia, cinta sungguh jauh dari kisahkisah semisal Socrates maupun Layla dan Majnun. Di mediamedia, cinta mengambil paksa nyawa sepertinya adalah cinta yang tragis, cinta yang miskin sekaligus angkuh.


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca madah duapuluh di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel