Sakit

04 Maret 2018 Comments Off


SAKIT. Baik Socrates maupun Platon, mendudukkan pengetahuan sebagai suatu proses. Bahkan, melalui bahasa metafora, Socrates menyinonimkan pengetahuan sebagai kelahiran seorang bayi. Pendapat ini ia sandarkan kepada keyakinan bahwa setiap manusia "sudah" memiliki pengetahuan berupa "sesuatu" yang ia kandung sendiri.

Melalui proses kelahiranlah, pengertian ini dimaksudkan Socrates bahwa pengetahuan itu tidak lahir dari proses selain dari pada "rahim" kita sendiri. Dengan kata lain, pengetahuan adalah "bayi-bayi" alami kandungan diri sendiri, bukan "bayi kloning" dari perut orang lain.

Socrates menyebut itu dengan istilah "maieutike".

Itulah sebabnya, Socrates menyebutkan pekerjaannya sebagai seorang filsuf ibarat seorang bidan. Dia hanya membantu orang-orang melahirkan sendiri pengetahuannya.

Sampai di sini eike berpikir, jika pengetahuan ibarat kelahiran seorang bayi, maka di situ ada rasa sakit yang menyertai. "Kesakitan" dengan kata lain adalah konsekuensi tak terhindarkan dari kelahiran itu sendiri.

Itu artinya, pengandaian berpengetahuan, atau dengan kata lain, berpikir, meniscayakan rasa sakit yang menjadi satu kesatuan di dalamnya.

Dari sisi ini, berpengetahuan melalui berpikir mendalam mau tidak mau memiliki risiko. Kesakitannya tiada lain adalah hasil dari kegiatan berpikir. Semakin berpikir semakin "sakit" ia. Atau sebaliknya, semakin sakit semakin dalam ia berpikir.

Tentu di sini kesakitan yang dimaksud bukanlah rasa perih yang diartikulasikan melalui pengertian medik. Melainkan kesakitan yang dilihat dari pengertian epistemik.

Rasa sakit epistemik berbeda dari rasa sakit medik yang berciri fisik dan biologis. Kesakitan epistemik jenis rasa sakit yang lebih "eksistensial". Jenis kesakitan yang melanda akal sekaligus jiwa manusia.

Bahkan, sebelum pengetahuan itu lahir, ada proses yang jauh lebih krusial lagi dan juga mengandung rasa sakit yang khas, yakni ketika pengetahuan itu menjalani masa-masa "pembatinan". Masa-masa ini adalah waktu yang paling menentukan. Ibarat bayi yang kelak akan lahir, "janin" pengetahuan pertama kali mesti "dikandung" dalam beberapa waktu. Di masa inilah, "embrio" pengetahuan mengakibatkan jenis kesakitan yang spesifik. Rasa sakit yang khas.

Rasa khas dari kesakitan hasil pembatinan inilah yang kerap mengubah kebiasaan-kebiasaan lama menjadi kebiasaan-baru. Di titik ini, pikiran banyak mengalami persesuaian dengan pengetahuan yang belum akrab dengannya. Pikiran banyak mengalami perubahan drastis hingga mengubah "caranya" beraktifitas.

Di sini-lah "pertentangan-pertentangan" muncul akibat formula-formula pengetahuan baru yang "tidak biasa". Di sinilah, rasa sakit, kepedihan, dan keperihan menjadi satu. Suatu masa yang berisiko: gugur atau tumbuh berkembang.

Dari sini, akhirnya mafhum, pengetahuan itu berakar alami dengan diri manusia. Kaki-kakinya berserabut sampai di dalam kesadaran yang paling dalam. Dia dikandung dan dilahirkan sendiri. Dari perut masing-masing.

Pengetahuan, dengan kata lain, adalah "embrio" yang sudah ada sebelumnya dimiliki masing-masing setiap orang. Dan, itu juga berarti setiap orang mesti menanggung rasa sakit jika ingin melahirkannya.

Sampai di sini mengertilah eike lebih jauh, Imam al Ghazali, sang Hujjatul Islam, yang sempat sakit keras selang beberapa lama, mesti menanggung beratnya guncangan jiwa akibat peralihan pengetahuan sebelum sampai ke medan tasawuf. Rasa sakit yang hampir membawanya ke mulut sang maut. Tapi, dia menemukan obatnya sekaligus melahirkan karya dahsyat yang sampai hari ini dibaca oleh setiap pengagum pemikirannya.

Di Eropa, Rene Descartes, barangkali adalah figur yang hampir sama dengan al Ghazali. Dia pun mengalami rasa sakit sampai harus menolak dirinya sebagai sesuatu pribadi. Tapi, dari rasa sakitnya, melalui kandungan "rahimnya," suatu zaman baru lahir di Eropa dan ikut membentuk tatanan dunia modern.

Tapi, baik Descartes maupun Imam al Ghazali, barangkali belum sampai menyerupai rasa sakit yang dirasakan Muhammad, sang nabi terakhir. Beliau, sebagai sang rasul, memiliki jenis pengetahuan yang spesifik dan khas. Bahkan pengetahuannya "ditemukan" melalui aktifitas "berpikir" yang sama sekali lain. Bahkan konsep berpikir tidak cukup untuk menjelaskan proses pencapaian epistemik (pengetahuan) yang dialaminya.

Dalam sejarah, narasi itu diliterasikan melalui penceritaan di suatu gua. Bukit-bukit tinggi tidak jauh dari Mekkah. Dan, "iqra" adalah "pengetahuan pertama" yang menjadi "pintu masuk" bagi aktifitas kenabian Rasululullah.

Di sini, suatu masa dimulai. Dan, Rasulullah menanggung dua jenis kesakitan sekaligus. Secara fisik dia menanggung sakitnya dikucilkan dari keluarga dan masyarakatnya. Serta, dari sisi kejiwaan suatu "sakit" yang hanya identik dirasakan oleh dirinya seorang (dikisahkan, Rasulullah sampai mengalami sakit fisik berupa badan yang menggigil berkeringat pasca "diturunkannya" wahyu pertama kalinya).

Melalui ini suatu pemahaman terbit. Sementara akhirnya dari risiko yang dibawanya, suatu agama "lahir" dan menginspirasi terbentuknya tatanan dunia yang teologis dan humanis

Menurut eike, ditilik dari sudut ini, sejarah hidup Rasulullah adalah sejarah bagaimana seorang manusia yang berhasil menduduki pengetahuan tertinggi dengan menanggung dan melampaui rasa sakit yang inheren di dalamnya. Sejarah tentang betapa "sakitnya" Rasulullah "membawa" apa yang "dikandungnya". Rasa "sakit" yang sungguh dahsyat dan tidak akan pernah dialami satu manusia sekalipun.

Tapi, begitulah. Tiada pengetahuan tanpa kesakitan. Bahkan, itulah jalannya.

Syahdan, di era kiwari, untuk memulai suatu pemahaman, orang-orang nyaris tidak ingin mengambil risiko berpengetahuan. Mereka khawatir menanggung kesakitan dan kepedihan, sekaligus mencari cara untuk menghindarinya dengan mencari "paket-paket" pengetahuan yang sudah fix. Orang-orang macam begini, enggan merawat bayi pengetahuannya. Bahkan, ogah mengandung dan melahirkannya.

Dengan kata lain, pengetahuan di masa sekarang hanyalah hasil fabrikasi "kekuatan-kekuatan" eksternal di luar rahim manusia. Manusia hanya menjadi pengkloning pengetahuan tanpa mengetahui proses dan ikut terlibat di dalamnya. Hanya mau menerima "kotak instan" yang sudah dikemas dan distandarnisasi.

Lalu, jika demikian, siapa lagi saat ini yang dengan rela mau memikul sakitnya berpengetahuan? Proses luar biasa yang menghujam pikiran dan jiwa, bahkan berisiko maut.

Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca Sakit di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel