mempuasakan tulisan

05 Juni 2016 Comments Off

Di bulan Ramadan nanti, sesiapa pun umat muslim harus menjaga hati, lisan, dan perbuatannya. Ini adalah tuntutan agama. Puasa, ritual yang digelar penuh selama sebulan itu memang bermaksud sebagai momen penyucian.

Dari situ manusia diharapkan mengambil suatu kesadaran baru, bahwa yang namanya jiwa perlu dibebaskan dari seluruh sampah yang menghambat perkembangannya. Tuhan tahu, mahluk kecil bernama manusia itu butuh surga kecil, butuh jedah, suatu masa waktu segala niat dan sikap harus dibersihkan ulang dan dilipatgandakan  rewardnya. Dan puasa adalah medianya.

Puasa jika itu cara agar manusia hatihati, juga harus bekerja dari cara manusia berkomunikasi. Apalagi di masa sekarang tak semua informasi yang dikonsumsi adalah bahan obrolan yang bersih. Kadang akibat motifmotif tertentu suatu informasi malah hanya berisi rasa sentimen dan kecurigaan berlebihan terhadap sesuatu, juga tidak sedikit dari informasi yang lahir dengan cara itu tak lebih dari kebohongan belaka.

Ditinjau dari massifnya informasi yang beredar, bisa dibilang informasi yang berisi kebohongan malah jauh lebih banyak dikonsumsi orangorang dari pada informasi yang benar. Di sini bukan malah amal jariah yang terjadi, justru dosa jariah.

Makanya, bagi seorang yang sering menyebarkan informasi lewat tulisan punya sedikit tantangan lebih besar dibanding orangorang. Seorang penulis di kasus ini, selain tubuh dan jiwanya yang harus berpuasa, juga harus lebih berhatihati dalam menyatakan pikirannya. Bagi seorang penulis, tulisannya harus sedikit diperhatikan. Adakah tulisannya bukan issu semata? bukan gonjangganjing belaka? Atau kebohongan itu sendiri? Syahdan apapun informasinya seorang penulis juga harus meramadhankan buah pikir karya tulisnya. Tulisannya juga harus berpuasa.

Lalu bagaimanakah tulisan yang berpuasa itu? Pertama, caranya tentu harus dimulai dari bacaan yang harus seselektif mungkin. Yang pertama ini lumayan susahsusah gampang, soalnya tidak semua bacaan itu bersih dari kontenkonten vulgar. Apalagi bacaan  terutama sastra, tidak sedikit prosaprosa mutakhir malah mengeksplore tema seksualitas sebagai pabrik wacananya. Bahkan di dalamnya kadang digambarkan suatu peristiwa yang “anehaneh” soal persetubuhan dua mahluk biologis.

Walaupun itu bisa dimaknai sebagai metafora, namun tetap saja bacaan demikian selalu mengambil reka peristiwa yang melibatkan tubuh manusia sebagai medium pemaknaannya. Di titik ini kadang dua lapis pemaknaan berlaku sekaligus: makna harfiah dan metaforis. Jika kesadaran itu bersifat transfiguratif, maka itu malah akan membuat sang pengimajinasi bisa “liar” menggambarkan peristiwa yang dimaksud. Dari pada itu terjadi, maka lebih baik bacaan demikian harus ditunda sementara. Puasa bukan saja soal tubuh dan sikap, tapi juga imajinasi.

Kedua soal motif. Seorang penulis bisa melahirkan beragam motif di balik proses kreatif  tulisannya. Kadang waham kebesaran adalah motif yang kuat yang sering kali mendorong seorang penulis menuliskan karyanya. Motif ini juga kerap hadir bersamaan dengan motif kepahlawanan.

Dua motif ini walaupun agak berbeda tapi memiliki tujuan yang sama, yakni dari tulisan yang dibuatnya bisa mendatangkan citra kebesaran. Dari kacamata sufistik, motif ini disebut bisa mendatangkan riya’. Tentu tulisan yang riya’ adalah tulisan yang tak berharga apaapa selain makna kesombongan itu sendiri. Di saat puasa dengan tulisan macam demikian tentu akan mengurangi pahala dari ibadah yang sedang dijalankan. Makanya, karena itu, berhatilahhatilah membangun motif dibalik tulisan Anda. Niatkanlah hanya untuk ibadah semata.

Informasi yang baik adalah kabar yang menyertakan fakta. Dengan kata lain apa yang disampaikan merupakan apa yang terjadi itu sendiri. Itulah sebabnya kebenaran begitu krusial dalam konteks pekerja informasi. Bahkan kebenaran adalah sentral yang harus ada dalam setiap pengetahuan yang ingin disampaikan.

Bagi seorang sastrawan, yang kadang menulis dengan bentukbentuk kebenaran yang disamarkan barangkali bisa berkelit soal informasi yang ditulisnya. Seorang sastrawan memang punya semacam kekuasaan dalam memberlakukan informasi agar terkesan ambigu.

Tapi, bagi orangorang semisal wartawan, atau orangorang yang sering menyampaikan kebenaran lewat artikel, kebenaran adalah kebenaran. Tak peduli informasi apa yang sampaikannya selain itu memang pengetahuan yang berbasis kenyataan atau akal sehat. Yang terakhir ini malah penting dalam konteks kiwari di mana banyak informasi hoax yang kerap beredar. Dengan kata lain, tulisan yang diramadankan adalah karya yang ditulis atas asas kejujuran.

Terakhir adalah soal tujuan karya itu ditulis. Apabila dunia maya jadi medan penilaian, maka kadang banyak ditemukan informasiinformasi yang bertujuan untuk membangun sentimentalisme kelompok dengan menyulut nuansa emosi pembacanya. 

Tulisan semacam ini seringkali ditemukan dari situssitus berbasis keagamaan dan kesukuan yang menghujani pembacanya dengan informasiinformasi yang tidak bertanggung jawab. Padahal jika suatu karya berita ditulis berdasarkan kaidah jurnalisme, maka hampir sebagian besar informasi yang disebut ini adalah berita yang tidak memiliki sumber yang valid.

Pertama informasi ini sudah mengandung kebohongan, kedua akibat tidak didasarkan informan yang jelas maka tentu informasi yang berkaitan adalah informasi yang tidak absah. Jika tujuan berita ini hanya untuk membangun fanatisme, jelas beritaberita yang tidak ditunjang dengan kaidahkaidah yang benar adalah informasi yang siasia selain daripada emosi itu sendiri. Maka bisa dibilang tujuan semacam ini adalah tujuan yang kontraproduktif. Tulisan semacam ini sudah pasti harus dihentikan.

Mudahmudahan tulisan ini bukan termasuk ke dalam golongan yang sudah disebutkan sebelumnya. Jika seperti itu kejadiannya, maka Anda hanya membaca kesombongan dan kesiasiaan belaka. Tak lebih tak kurang.


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca mempuasakan tulisan di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel