bunker dan seekor anak kucing

25 Januari 2016 Comments Off

Sore kemarin sepulang dari TB Paradigma, saya menyempatkan singgah di Bunker. Bunker adalah istilah untuk menyebut rumah yang kami sewa sebagai sekretariat. Kalau mau dilihat, rumah yang kami tempati sebenarnya sudah tidak layak huni. Atapnya banyak yang reyot bocorbocor. Temboknya sudah retakretak. Lantainya saja banyak yang terisi pasir. Kalau hujan, jangan bilang, kamu bisa mancing ikan di dalamnya. Kalau bukan ruang tengah yang bertegel, barangkali tak ada yang mau tinggal di sana.

Sejarahnya panjang mengapa kami bisa tergusur sampai ke sana. Itupun sebenarnya kami hanya menumpang. Asli menumpang bung! Karena berdasarkan perjanjian, kami harus angkat kaki dari tempat itu. Hanya saja, pemiliknya masih berbaik hati agar kami menempatinya. Kabarnya, tempat itu akan dia jadikan koskosan, tapi karena masih menunggu waktu yang tepat ia urungkan niatnya.

Yang mesti kamu tahu, selain tempatnya yang di bawah hunian layak. Kata bunker bisa menjelaskan karakter hunian tempat kami. Dulu tempat kami memiliki pandangan yang luas menghadap ke selatan. Sedangkan di sebelah barat ada bekas bangunan yang diruntuhkan. Akibatnya, di sebelah barat juga memiliki pandangan yang luas.

Namun, setahun belakangan tepat di depan pintu, dibangun rumah berlantai tiga. Sedangkan lahan kosong yang ditinggal bangunan runtuh ditumbuhi semaksemak belukar. Akhirnya, karenanya rumah kami jadi tempat yang tersembunyi. Bahkan nyaris tidak kelihatan kalau kamu melewatinya dari sebelah barat. Bagi orangorang yang lewat pasti tidak menyadari kalau di situ ada rumah berdiri.


Itulah sebabnya, tempat itu kami sebut bunker. Selain tempatnya yang tersembunyi dan juga gelap, rumah yang hampir lima tahun kami tempati seperti sudah dijatuhi nuklir. Kami sering berseloroh bahwa tempat ini nyaris punah akibat perang dunia kedua. Untung Nazi tidak sampai mendeteksi tempat ini. Kalau saja radar Nazi sampai kemari, bisa berabe urusannya. Selain langsung diratakan tanpa ampun, kami pasti akan ditangkap akibat banyak mencela Hitler sebagai fasis.

Jadi kalau dibilang sekretariat, nampaknya itu berlebihan. Nyatanya tempat ini mirip rumah kumuh yang tak terurus. Tapi, karena insting bertahan hiduplah kami masih rela tinggal di sini. Apalagi memang tak ada tempat selain di bunker. Beginibegini kami masih tahan hidup a la mustadaafin. Asli bung, ini karena tiada tempat paling memungkinkan selain bunker.

Di situlah kami sering menjalanihidup. Makan, mandi, dan berak. Semuanya di bunker. Bahkan ketika diskusidiskusi mencela pemerintah juga kami lakukan di sini. Kami sudah hampir jadi komunis dengan diskusi anti kapitalismenya. Bahkan kami juga melahap sektesekte pemikiran yang dianggap sesat. Kalau iblis punya mazhab pemikiran, tak tanggungtanggung pasti kami juga membicarakannya. Pokoknya, di bunkerlah kami membentuk pikiran, tapi bukan tubuh. Maklum di bunker kadang paceklik jadi musim yang panjang.

Nah, di tempat macam itulah kemarin saya singgahi kembali. Seperti biasa bunker kosongmelompong. Belakangan, Nazi sudah menangkap satu persatu penghuninya. Yang tinggal hanyalah beberapa teman saja. Mereka ini pandai menyamar dari kejaran intel Nazi. Kadang menyamar jadi mahasiswa, jadi pemuda tanggung, bahkan ada yang menyamar jadi ustadz. Tapi sering kali kami menyamar jadi intel Nazi itu sendiri. Cara ini ampuh untuk menjadikan kami tidak dicurigai kalau datang ke bunker.

Dengan cara itu pula kali ini saya singgah. Dengan menggunakan topi dan berpakian abuabu merah, saya masuk ke dalam bunker. Setelah sebelumnya memarkir motor, saya masuk lewat pintu belakang. Dengan sekali merogoh dibalik pintu, kunci pun terbuka. Ini adalah trik yang saya temukan ketika hidup lama di bunker. Seperti maling saya pun masuk. Seperti yang saya katakan bunker kosong. Langsung saja saya pergi merebahkan tubuh setelah meyakini situasi aman terkendali.

Tak lama saya baringbaring, ternyata masuk seekor kucing kecil. Alamak kucing. Jujur saja saya agak geli terhadap kucing. Apalagi kucing yang ini masih anakanak. Barangkali masih berumur tiga minggu. Saya terka seadanya karena bulubulunya belum banyak yang tumbuh. Kucing ini mengeongngeong ketika melihat saya. Barangkali saya dikira induknya. Saya manusia, cing. Sungguh.

Saya kasihan melihat kucing berbulu orange ini. Dia barangkali ditinggal pergi induknya karena mencari nafkah. Tapi, saya sungkan mengambilnya. Saya betulbetul geli. Pikir saya, kok induknya tega meninggalkannya. Apakah ia hasil hubungan gelap dengan kucingkucing yang banyak berkeliaran di atas seng bunker? Sehingga ditinggal begitu saja. Atau Induknya malu mengakui ia sebagai anaknya? Atau kucing ini yang justru malu punya induk yang gampangan? Entahlah. Tapi, tunggu dulu kucing ini tetap saja melihat saya seperti induknya. Kutu kumpret!

Sembari melihat, kucing ini berjalan pelanpelan menuju saya yang berdiri gagap melihatnya. Gawat, sambil mengeongngeong dia menatap saya dengan iba. Akhirnya tanpa pikir panjang saya langsung beranjak lari akibat dia datang mengejar. Meongmeong..meong..!? Saya dengan geli akhirnya harus berlari menghindar karena takut. Begitu seterusnya saya berlarilari kecil seperti komedi putar.

Peristiwa itu berlangsung sampai lima menit. Di bunker saya seperti Shahrukh Khan yang lari dikejarkejar Kajol, persis kayak di lagulagu India. Tapi sayangnya ini kucing. Apalagi kucing ini sepertinya membutuhkan belaian seseorang. Begitu inginnya ia dibelai. Cuman saya saja yang geli kalau melihat kucing. Bahkan saya punya sejarah kejam tentang kucing.

Dulu saya pernah memukul kucing sampai mencretmencret. Taiknya sampai belepotan di atas lantai. Semenjak itu, kucing yang saya pukuli jarang bermain ke rumah. Waktu itu saya kepalang jengkel akibat tingkahnya yang selalu masuk ke kamar dan kencing sembarangan. Betulbetul ulah yang tak bisa ditolerir. Apalagi bau kencingnya yang amis bukan main. Baunya kayak menandai bahwa kamar saya adalah teritorinya. Tunggu saja pembalasanku kucing, niat saya waktu itu. Dan, suatu siang, ketika saya menemukannya mengendapngendap, langsung saja saya mengambil sapu dan sekali dua kali tebas, pak..pak!! Dua pukulan mendarat di punggungnya. Seketika saja dia mengerang. Plup..plup akhirnya taiknya moncer di saat berlari.

Mengingat itu tak mungkin saya lakukan kepada kucing mungil ini. Apalagi melihat tubuhnya yang kurus kering. Apalagi mukanya yang imutimut lugu begitu. Seandainya saya tidak geli, dengan senang hati saya bakal mengadopsinya. Cepatcepat keesokan harinya akan saya laporkan di RT setempat dan mengambil surat ijin untuk merawatnya. Kalau perlu akan saya buatkan akta kelahiran biar lengkap. Tapi, sungguh saya betulbetul geli.

Akhirnya sebagai jalan tengah, saya mengambil dan menyimpannya ke dalam kamar yang tak terpakai. Di situ dia lebih aman dari siapapun. Bahkan dari saya yang bisa saja gelap mata mencekiknya lantaran selalu dikejarkejar. Sekarang kucing itu masih ada di sana. Saya meninggalkannya tanpa siapapun. Bahkan tanpa makanan. Dia mungkin lapar. Barangkali ada yang ingin memeliharanya. Kalau ingin silahkan hubungi saya secepatnya. Atau datang langsung ke bunker. Kamu tahu kan tempatnya? Oh iya saya lupa, pasti kalian tidak akan melihatnya. Lagian banyak intel Nazi yang berkeliaran di sekitarnya. Jadi hatihati, jangan sampai kamu diciduk. Lebih baik kamu menghubungi saya secepatnya. Di bawah ini gambarnya.

Nb: Kepada kucing yang dulu saya pukuli, saya mohon maaf. Maaf juga baru sempat saya katakan. Maaf ya cing..

Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca bunker dan seekor anak kucing di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel