madah enambelas

03 Februari 2015 Comments Off

Bagi negerinegeri bekas jajahan, atau yang disebut Spivak negeri pascakolonial, memiliki penyakit yang tak bisa tanggal begitu saja pasca merdeka. Tapi juga sebaliknya, sudah dianggap mujarab untuk menerabas keterbelakangan; developmentalisme.

Developmentalisme, atau yang sering dieja pembangunanisme, bagi negeri seperti Indonesia, barangkali sudah seperti mantra untuk berubah. Dengan susun rancang berkala, ada harap yang tak ingin selalu tiarap.

Tapi pembangunanisme tidak saja sekedar menjadi jalur kemajuan kala itu, ia lambat laun malah justru jadi tulah. Sebab pembangunanisme sama artinya dengan sebuah rejim yang telah memimpin dengan tiranis. Sebagai tulah, pembangunanisme, kata yang juga seperti mantra kemajuan itu, dianggap sebagai sumber segala petaka yang tak sudahsudah.

Tapi itu setelah kita tahu maksud tersembunyi dari pembangunanisme. Dulu, saat negeri masih hijau, dedaunan meranggas musim, orangorang mendayuh becak, pembangunanisme adalah sebuah langkah yang taktis. Negeri yang masih luas tanahnya kala itu, menjadi bagian dari strategi kemajuan. Taktis berarti negeri ini perlu cara yang cepat mengejar ketertinggalan. Negeri ini harus lepas dari pengertian sebagai negara dunia ketiga.

Maka dimulailah perubahan besarbesaran. Negeri yang semula teduh jadi bising. Tempattempat yang asing jadi ramai. Daerahdaerah yang terpencil pelanpelan didatangi, disulap jadi hunian baru. Dengan aktivitas bangun negeri, kala itu pembangunan adalah salah satu cara yang ampuh untuk ditempuh.

Kala itu seperti ada yang memimpin impian agar tidak ingin diejek bangsa lain. Orde yang tak kenal kadaluarsa saat itu memang menjadi panglima pembangunan. Dan tujuannya nampak jelas dari rencana yang kala itu sudah memang disiapkan; repelita. Dengan pembangunan macam itulah negeri ini hendak dibangun, bertahap dan bertahap.

Tapi apa daya, semuanya lancung. Justru harapan yang ditambat lamatlamat meleset. Di sinilah tulah itu bermula. Ideide yang semula adalah bagian dari teori perubahan malah bermetamorphosis menjadi ideologi. Akhirnya yang dibangun boleh saja maju, tapi  ada tempat yang tanpa didugaduga jadi tak steril; kekuasaan. Maka mulailah yang telah jadi ideologi itu dicobakan sebagai semacam liturgi, yakni perayaan terhadap kekayaan.

Karena itulah pembangunanisme malah nampak menjadi tirani yang tanpa hati. Disebutkan oleh M. Dawam Raharjo, pembangunanisme malah banyak menyedot kekuasaan untuk menjadi tempat jalan masuknya kepentingan kapital. Dan memanglah demikian, sebab, jauhjauh hari, pembangunanisme adalah proyek negaranegara maju dalam rangka membangun pengaruh bagi negaranegara yang ingin berkembang.

Hingga akhirnya malang untuk kita, semenjak orde yang hampir abadi itu berkuasa, pembangunanisme diterapkan kesegala hal, juga terutama ekonomi dan sosial.

Apa daya rejim yang tiranis akhirnya mentok juga. Pembangunan tak disangkasangka menilap banyak rupiah, utangutang bertumpuk, harga pangan jatuh dan ekonomi mandek. Hingga akhirnya badai krisis datang. Negara tibatiba guyah. Rakyat mengamuk. Dan yang tirani akhirnya tumbang.

Namun adakah yang berubah? Sepertinya tidak semua. Yang ada adalah pemerintahan yang meneruskan noktah sejarah kelam. Pembangunanisme diganti dengan statistik kemiskinan yang dianggap berkurang tiap tahun. Harapan diganti demokrasi. Justru kemudian pembangunanisme malah berwujud negeri yang berubah haluan; negeri paling demokratis.

Tapi itu negeri yang dulu dan yang sekarang. Negeri yang dulu pernah "go to hell with your aids" jadi bagian di atas podium. Dan sekarang sepertinya ada yang rasarasanya masih sama, negeri ini tidak lagi "go to hell," malah "come on join with my country."


Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca madah enambelas di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel