01 November 2017

Literasi Sampai Hati!

Tidak ada percakapan seperti belakangan ini yang getol dibicarakan selain dari pada literasi. Sulit dipastikan siapa yang memulainya menjadi percakapan publik sekaligus untuk menandai semenjak kapan literasi menjadi omongan banyak kelompok masyarakat. Namun, selain elit sastrawan dan ilmuwan yang selama ini secara terbatas menyokong pembicaraan ini melalui kelompok-kelompok kecil terbatas, literasi itu sendiri sudah semakin luas dibicarakan di hampir semua level masyarakat selama kurang lebih tiga tahun belakangan ini.

Tak bisa dimungkiri, belakangan literasi juga masuk menjadi isu utama bagi kalangan mahasiswa. Walaupun agak fatal dan terlambat, literasi memang mau tidak mau harus didorong ibarat gerbong tua agar mampu berjalan cepat dan berdampak efektif terhadap berubahnya paras pengetahuan kita.

Disebut agak fatal menurut pengalaman eike, akibat literasi diberlakukan sebagai tema baru dan bukan senyawa yang mudah menyatu dengan dunia akademik kemahasiswaan. Padahal, literasi sebagai suatu tradisi keilmuan adalah pekerjaan yang inheren dalam dunia perguruan tinggi. Dengan kata lain, dua kemampuan dasar dari literasi, yakni kemampuan mengolah informasi bacaan dan mengolah tulisan, adalah pekerjaan utama dalam dunia pendidikan tinggi.

Riset, seminar, workshop, diskusi, pembukuan, penerbitan, dan pengabdian adalah kerja ekslusif yang hanya ditemukan dalam dunia pendidikan tinggi yang kesemuanya ditopang oleh literasi sebagai modal utamanya. Disebut ekslusif karena bukan dalam dunia lain-lah kerja-kerja diskursif itu ditemukan. Itu artinya, sebenarnya literasi adalah pemahaman dan kebiasaan yang khas dari pendidikan perguruan tinggi.

Dikatakan agak terlambat karena seharusnya mahasiswa-lah garda paling depan yang menyuarakan literasi sebagai pekerjaan pokok pendidikan. Mahasiswa jika dilihat dari profesinya, adalah kelas masyarakat yang paling mungkin menunjang literasi untuk dikampanyekan. Selain disebabkan literasi yang sebenarnya adalah pekerjaan utamanya, juga hampir  keseluruhan waktu mahasiswa itu sendiri melibatkan literasi untuk menunjang kerja-kerja ilmiahnya.

Beberapa hari lalu, eike diundang suatu organisasi kemahasiswaan untuk membicarakan peran literasi dalam membangun gerakan mahasiswa. Menurut eike agak naif dan sekaligus ambisius jika melihat keterkaitan tema dengan realitas faktual tradisi keilmuan mahasiswa hari ini. Kenapa disebut naif, karena alasan di atas tadi, bahwa masih mengandaikan literasi sebagai bukan bagian dari pengalaman menjadi mahasiswa. Dalam konteks ini, literasi hanya dianggap sebagai penunjang, ibarat serabut akar yang bukan akar tunggal.

Artinya, literasi hanya dipahami secara teknis-metodelogis, bukan tradisi hidup yang membentuk pengalaman kultural perguruan tinggi.

Padahal, yang diharap literasi harus menjadi sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Analoginya sepenting oksigen yang mau tidak mau menjadi kebutuhan biologis tubuh agar dapat bertahan hidup.

Eike mengatakan cenderung ambisius karena tidak sebelumnya melihat prasyarat-prasyarat materialnya untuk dikatakan literasi sebagai salah satu faktor dalam menentukan maju tidaknya suatu gerakan kultural kemahasiswaan. Sudah sejauh apakah sarana dan prasarana yang selama ini menunjang agar literasi menjadi kebiasaan bagi mahasiswa. Sudah tersediakah buku-buku, hasil riset, hasil diskusi, video-video inovasi, film dokumenter, makalah, jurna-jurnal, dlsb., yang memudahkan mahasiswa ketika membutuhkan data-data berkaitan dengan tugas-tugas akademiknya?

Dalam kesempatan itu, eike katakan saja, bahwa literasi adalah gerakan mahasiswa itu sendiri. Dia tidak bisa dipahami sebagai hanya penunjang yang bergerak di luar dari pengalaman gerakan mahasiswa, melainkan inti atau substansi yang melekat atau bahkan, ya itu tadi, gerakan itu sendiri.

Itu berarti, literasi dalam skema gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan berbasis kultural. Dia mesti bergerak dari bawah dan hidup dari bawah. Dia mesti lahir dari rahim kehidupan sehari-hari mahasiswa itu sendiri.

Itulah sebabnya, eike kurang lebih dari tiga tahun lalu berusaha sebisa mungkin mengkampanyekan literasi sebagai isu kolektif untuk siapa pun agar mau memahami betapa pentingnya membaca dan menulis.

Namun, bukan saja itu membaca dan menulis hanyalah lapis kesekian dari literasi, lapis setelahnya adalah bagaimana menghubungkan dan mengontekstualisasikan beragam pengetahuan dari lapis sebelumnya bagi kehidupan kongkrit masyarakat. Membaca dan menulis, dengan kata lain bukan aktifitas mandiri tanpa sangkutpautnya terhadap nasib ril masyarakat, melainkan merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk ikut membangun masyarakat.

Berkaitan dengan pilihan literasi sebagai tema utama bagi eike selama ini, juga merupakan kritik kultural atas tradisi gerakan kemahasiswaan yang diidentikkan dengan model gerakan ekstraparlementariat. Malangnya, model gerakan ini mempersempit dirinya hanya sebatas jalan raya sebagai ruang pengajuan kritiknya. Sementara jalan raya, kita tahu adalah tempat paling ribut saat ini. Di situ tidak mungkin mendengarkan suara kebenaran. Bising.

Model gerakan jalan raya, sejauh eike ketahui sebenarnya bukan medan asyik untuk mengajukan kritik. Logika tindakan demonstrasi, dari pengalaman eike memang bukan untuk dijadikan sebagai sarana kritik, tapi dia memiliki harapan yang jauh lebih besar dari pemahaman sebagian mahasiswa saat ini, yakni untuk mengubah kebijakan publik.

Itulah sebabnya, barang siapa ingin menggelar aksi demonstrasi mesti memiliki kekuatan yang lumayan dan jauh lebih besar dari yang diketahui selama ini. Kita Harus memiliki gagasan yang kokoh, napas dan semangat yang panjang, strategi dan pengalaman yang sudah teruji, serta jaringan yang kuat dan menyentuh seluruh lini kepentingan, dan bukan saja jumlah massa yang besar.

Juga nampaknya ada yang salah dari paradigma gerakan mahasiswa saat ini. Aksi demonstrasi pada titik tertentu sudah dianggap satu-satunya cara dan tujuan dari kritik. Mayoritas mahasiswa agaknya lupa, demonstrasi hanyalah alat, dan demonstrasi adalah implikasi dari gerakan kultural yang menjadi sumber dan basis gerakannya.

Gerakan kultural itulah yang menurut eike adalah literasi. Melalui literasi, intropeksi panjang dilakukan, juga sekaligus suatu cara menyusun kembali kekuatan intelektual yang belakangan terabaikan. Artinya, literasi menjadi sarana inkubasi seluruh modal simbolik, kultural, kapital, dan struktural dari apa yang dipunyai gerakan mahasiswa untuk diperbarui dan diremajakan.

Harus diakui model gerakan ini cenderung reformis, atau bahkan agak evolusionis. Literasi memang bukan tipe gerakan massa rakyat yang revolusioner. Makanya dia agak kurang disukai bagi mahasiswa yang menyenangi tindakan-tindakan serba praktis dan cepat. Tapi apa boleh buat, untuk kebutuhan jangka panjang kita butuh tulisan yang revolusioner, bacaan dari buku-buku yang revolusioner, dan juga kesabaran yang jauh lebih revolusioner dari apa yang dirasakan selama ini. Ini memang perubahan pola, dari aksi menuju literasi.

Memang, ini gerakan literasi sampai hati!