Minggu, 01 Oktober 2017

Setelah Nainawa

Siang itu, di sekitar rumah penduduk Madinah, tiba-tiba pecah isak tangis seorang perempuan tua. Di sebuah cawan, tanah yang disimpannya berubah menjadi darah. Parasnya beruraikan air mata. Isak pilu tangisnya itu, dan berubahnya tanah yang menjadi darah, menandai suatu ramalan yang pernah ia dengarkan melalui mulut suaminya. Suatu pesan penting seorang Rasul terakhir.

Nun jauh dari rumahnya, pesan itu akhirnya terjadi juga: di siang yang terik itu seorang pemuda telah gugur bersimbah darah.

***

Di suatu malam, Ummu Salamah mendapati suaminya dalam keadaan resah. Sang Nabi disebutnya “berbaring untuk tidur, kemudian bangun kembali dalam keadaan resah, berbaring kembali lalu bangun kembali.” Seperti ada yang tak bisa didamaikan dalam jiwa manusia suci itu. Ada sebongkah tanah dalam genggaman Sang Nabi yang tengah gelisah.

“Apa yang membuatmu gelisah ya Rasul Allah?”

“Baru saja Jibril datang kepadaku…” “Simpanlah tanah ini. Nanti, ketika cucuku Husein terbunuh di Karbala, kau akan melihat tanah ini berubah menjadi darah”.

***

“Oh, zaman.
Alangkah buruk engkau sebagai teman.
Betapa banyak peristiwa sedih telah terjadi.
Pada pagi dan petang hari.
Peristiwa-peristiwa yang menimpa para sahabat
yang menuntut balas terbunuhnya keluarga.
Dan engkau, wahai zaman, tidak puas dengan pengganti
menuntut terus tiada henti.
Sesungguhnya, segala urusan kembali pada Yang Maha Esa.
Semua makhluk hidup menempuh jalan itu juga.”

Dengan suara parau pemuda itu melantunkan syair di malam sebelum ia menjemput kematiannya. Malam-malam itu adalah malam kepiluan.

Malam semakin larut. Rombongan kecil keluarganya terisak-isak berurai kesedihan. Siapa mengira, malam itu adalah malam terakhir orang yang paling mereka cintai.

***

“Akan kupenuhi kantongku dengan emas dan perak
Sebagai ganjaran membunuh raja tanpa mahkota
Seorang yang pernah sembahyang pada dua kiblat
Berasal dari keturunan manusia termulia
Akulah pembunuh orang terbaik, ayah bundanya...”

Pasca 10 muharam, di Kufah, setelah bersyair seseorang menyerahkan kepala pemuda yang sering kali dikecup Sang Nabi itu kepada Ubaidillah bin Ziyad. Bersamaan dengan kepala-kepala keluarga dan sahabatnya, kepala cucu Sang Nabi itu tidak lagi bergerak sama sekali. Tubuhnya ditinggal sendiri di padang Nainawa.

***

Di dalam biara dibersihkannya kepala itu setelah meminta izin untuk dibawa masuk dari rombongan pasukan yang sedang beristirahat di desanya. Diberikannya wewangian setelah membilas bersih kepala pemuda itu. Isak tangisnya tidak pernah kering dari pipinya.

Pendeta Nasrani itu semalaman suntuk memangku kepala yang diketahui sebelumnya adalah anak dari Siti Fatimah binti Muhammad. Didekap erat kepala itu.

Sampai pagi ia menjaga kepala yang disayanginya itu. Setelah dia bermimpi, tak lama di pagi itu pula ia menyatakan diri menjadi pengikut keyakinan kakek dari kepala yang didekapnya sedari malam.

***

Clarissa Pinkola Estes, seorang ahli jiwa dan psikolog pasca trauma menyatakan manusia adalah mahluk berkisah. Kisah, ibarat asupan, dibutuhkan jiwa untuk menandai kesehatannya. Jiwa yang sehat kata Pinkola Estes, ditandai dengan kemauannya mengikat parasnya pada kisah-kisah puncak kemanusiaan.

Jiwa sang manusia dengan begitu selalu mencari jangkarnya, yaitu kisah itu sendiri. Itulah sebabnya, jiwa sang manusia bakal bergeming berhadapan dengan kisah.

Peristiwa Karbala adalah kisah epik tiada duanya. Persitiwa Karbala, adalah kisah yang bertutur melalui puncak-puncak kemanusiaan. Hanya di peristiwa Karbala-lah, semua puncak-puncak nilai kemanusiaan ditemukan.

Dalam tradisi syiah, Karbala adalah kisah yang memugar jiwa kepada paras aslinya. Dengan kata lain, kisah Karbala adalah kisah yang membawa pulang kembali jiwa kepada ideal-ideal ketinggiannya.

Melalui kisah Karbala, jiwa manusia diingatkan kepada tiga nilai utama dirinya.

Sepadan dengan pendakuan, Pinkola Estes, jiwa yang sehat adalah jiwa yang bertanggung jawab, rela bersetia dan rela berkorban.

Tiga nilai utama jiwa seperti yang dibilangkan Pinkola Estes, jika diintisarikan melalui “bahasa ketinggian” adalah cinta. Cinta-lah inti kisah yang berjangkar kepada sang jiwa. Cinta-lah strategi sang jiwa mempertahankan dirinya dari kerusakan.

Erich Fromm menandai ideal cinta adalah perasaan mendalam yang membuat seseorang menjadi peduli (care), bertanggung jawab (responbility), hormat (respect), dan pengetahuan (knowledge). Dalam kisah Karbala, cinta yang mendalam, cinta yang peduli, cinta yang bertanggung jawab, cinta yang saling menghormati, dan cinta kepada ilmu pengetahuan adalah sejumlah nilai yang digemaliterasikan Husein bagi jiwa-jiwa seantero persada.

Itulah sebabnya, Karbala adalah peristiwa bagi semua orang. Kisah untuk semua jiwa. Tiada jiwa yang tidak merindukan kisah seperti yang sudah dilakoni Husein melalui peristiwa Karbala.

Dengan begitu, melalui cinta peristiwa Karbala menjadi “jembatan” ingatan bagi sang jiwa untuk memperbaiki dirinya.

Di setiap 10 Muharam, peristiwa Karbala-lah yang menjadi penanda secara sosial-psikologis antara jiwa-jiwa yang rela berpulang kepada paras aslinya, atau jiwa-jiwa yang bertungkus lumus di “kerendahan”.

Melalui kisah Karbala, sang jiwa diberikan peluang secara sosio-kultural untuk menyatakan diri sebagai “ingatan kolektif” memerangi tindak anomali yang menjadi rintangannya.

Di era kiwari, ketika kisah-kisah kemanusiaan banyak dikalahkan oleh narasi modernisme dalam ingatan sang jiwa, Peristiwa Karbala-lah kisah agung yang berdiri di atas literasi gugatan dan gugahan bagi siapa saja yang menyadarinya.

Kisah Karbala juga dengan begitu adalah kisah politik kemanusiaan. Di setiap 10 Muharam, bagi yang memperingati-duka peristiwa Karbala, adalah momen politis untuk merefleksikan dan menyebarluaskan fragmen-fragmen peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa Karbala. Melalui penelusuran itulah, sang jiwa bakal menangkap nilai keutamaan politik Husein, dan sebaliknya cara-cara licik dari lawan-lawannya.

Pada akhirnya, kisah Karbala adalah kisah kemanusiaan-universal. Kenyataannya, 10 Muharam bukan sekadar penanda atas waktu, juga Karbala bukan sebatas ruang geografis nun jauh dari jiwa orang-orang. Kisah Karbala 10 Muharam, merupakan tugu ingatan dan jiwa, yang memapah-pikul keduanya agar terus berjangkar kepada puncak-puncak kemanusiaan. Semua ingatan adalah Asyura, semua tubuh adalah Karbala.

---

Sebagian kutipan diolah dari pelbagai sumber

Tidak ada komentar: