18 September 2017

Selamat Jalan, Tuan Presiden, Gabriel García Márquez

Kemengan terbesar dalam hidupku adalah bila semua orang melupakanku.

Barangkali ironi, barangkali juga adalah paradoks. Dua pengertian inilah yang menjadi semacam benang merah yang menghubungkan empat cerita Gabriel García Márquez dari Selamat Jalan, Tuan Presiden, kumcer yang diambil dari Strange Pilgrims. Manusia sesungguhnya adalah mahluk yang menanggung ironi, dan juga belenggu kesepian. Di suatu waktu ia bisa menjadi seseorang yang di tiap waktunya disorot lampu panggung, tapi ketika dia susut, tak ada satu pun mulut dan mata yang menyanjungnya. Kesepian, dengan demikian adalah saat-saat kritis ketika semua mata mulai luntur dan menghilang dari tubuh Anda, pergi tanpa sisa dengan suara yang bisu meninggalkan kita di suatu keadaan yang tiba-tiba menjadi asing. Kumcer ini dibuka dengan kisah seorang bekas presiden yang dipapar kesepian pasca digulingkan dari kekuasaannya. Dia presiden yang telah melewati dua perang dingin. Presiden yang memimpin suatu negeri dengan cara yang tidak disenangi warganya. Tapi, kesepiannya bukan kesepian yang biasa akibat pengasingan yang dia alami sendiri. Jauh dari negerinya, di suatu negara yang sangat berbeda dari kampung halamannya, dan juga tak ada satupun yang mengenalnya. Di suatu sudut taman daerah yang dikelilingi danau, perubahan sangat cepat berlalu, di bawah pepohonan berdaun kuning, sambil melihat angsa-angsa berdebu, waktu bukan saja telah banyak mengubah dirinya, melainkan juga dunianya. Kekuasaan memang ada masanya, ada batasnya. Namun, jika suatu hasrat keabadian tiba-tiba dimentalkan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari hanya kekuasaan yang berada di atas singgasana, maka sebesar apapun kekuasaan itu akan jatuh juga. Apalagi jika itu terjadi bagi seseorang yang sudah berusia renta. Sang presiden sudah berumur tujuh puluh tiga tahun, masa-masa tua yang juga digerogoti penyakit yang awalnya membuat bingung semua dokter yang telah banyak memeriksanya. Mereka mencari di hatinya, di dalam ginjal, pankreasnya, prostatnya, di mana pun tak ada penyakit. Sampai akhirnya penyakit itu dikatakan mengendap ditemukan di bagian tubuh yang ditunjuk dokter dengan jari telunjuknya: kepala. Semuanya memang dimulai dari dan dalam benak. Scholar psikologi bahkan mendefenisikan diri kita sebagai apa yang kita pikirkan. Ini semacam sugesti yang bisa membuat Anda akan menjadi super hero jika Anda memang berpikiran demikian. Atau seorang miliarder yang akhirnya secara tidak sadar akan menuntun Anda bekerja layaknya seorang miliarder mengumpulkan pundi-pundi kekayaan di tiap harinya. Itulah kekuatan sugesti, atau dengan kata lain suatu pikiran. Sugesti memang memiliki dampak yang tidak ringan jika Anda selalu mendengung-dengungkan tujuan hidup Anda di setiap saat dalam kepala Anda. Dengan sendirinya kekuatan sugesti akan mengubah cara Anda menjalani hidup sehari-hari, dimulai dari ketika Anda membuka mata sampai Anda menutupnya kembali di malam hari. Tapi, pikiran yang terlalu diidealkan akan menjadi semacam kangker yang menggerogoti pikiran Anda juga. Menjadi penyakit mematikan yang bahkan Anda tak tahu keberadaannya. Sang bekas presiden hanya pasrah dengan penyakit yang berimpikasi ke mana-mana di tubuhnya yang tidak lagi muda. Kita pernah menyaksikan bekas presiden di sebuah negeri yang mati walaupun dikerumuni alat-alat pernapasan yang serba canggih. Pengobatan yang serba mahal. Dan alat-alat yang sangat jarang disaksikan di puskesmas-puskesmas kampung Anda. Dia mati dengan meninggalkan bekas kekuasaannya yang dipimpinnya hampir seperdua abad. Dan dua juta penduduk yang sebagian di antaranya menyimpan dendam kesumat agar ia tidak saja mati secara normal, melainkan di gantung di sebuah lapangan terbuka yang disaksikan banyak orang akibat dosa-dosa sosial dan kemanusiaannya. Presiden semacam itulah yang kuat dugaan menjadi persamaan dengan bekas presiden ini. Tapi kehidupan masih bersetia dengannya. Dengan caranya yang unik segala pantangan yang dikemukakan dokternya, dilanggar dengan perasaan yang ringan seperti kapas untuk menghadapi kematian. Tapi, umurnya panjang. Bahkan di masa pengasingannya dia bertemu sepasang suami istri yang mengundangnya makan malam. Ngobrol panjang lebar jika ia datang berkunjung ke rumah teman barunya yang diketahuinya adalah petugas ambulance di rumah sakit tempattnya sering kali berobat. Tidak di negerinya, di bawah atap rumah teman barunya, sepasang  suami istri itu seperti penduduk di tempat negerinya pernah berkuasa. Suka-tidak suka memang bisa di mana saja, termasuk apa yang dirasakan istri dari sang suami yang sebaliknya menyukai sang bekas presiden. Di masa mudanya, ia pernah terlibat menjadi bagian dari sejumlah pemuda yang mendukung sang presiden menduduki tahta kepemimpinannya. Sembari dia menunjukkan selembar foto yang menunjukkan dirinya bersama sang bekas presiden di sebuah tempat di masa-masa sang bekas presiden berkampanye. “Mengejutkan” dia berbisik. “Aku selalu mengatakan, sebuah masa lebih cepat dalam sebuah foto daripada dalam kehidupan yang sebenarnya.” Begitulah perubahan itu hanyalah suatu alamat yang berlaku dalam selembar kertas. Sang presiden kembali memakan banyak daging, meminum kopi bercangkir-cangkir, dan menenggak minuman keras yang disesuaikan takarannya. Di umurnya yang tidak lagi muda, memasuki masa 75 tahun, sembari kembali merokok, takdir kematiannya hanyalah ketakutan yang sudah dia tanggalkan seiring ujung kehidupan yang sulit diprediksi. “Tuhanku…tidak ada yang bisa membunuh lelaki itu” ucap sang suami ketika melepas pergi sang Presiden. Sekalipun akhirnya, sang presiden menyatakan diri berniat kembali ke negerinya untuk memimpin sebuah gerakan reformasi. Hasrat kekuasaan memang tidak akan kemana, termasuk pada sang bekas presiden tua.

---

Pernahkah Anda terkesima kepada seorang perempuan dalam suatu perjalanan di atas angkasa. Ketika cukup waktu yang banyak yang bisa Anda manfaatkan untuk bertegur sapa, membicarakan tujuan perjalanan Anda, berbicara makan apa Anda sebelumnya, apa pekerjaan Anda, buku apa yang sudah Anda baca di hari ini, shampoo apa  yang Anda gunakan saat mandi di siang yang terik seperti hari ini, dan segala perbincangan remeh temeh yang membuat Anda akan merasa menjalani hari yang amat beruntung. Atau sebaliknya, Anda yang bertanya kepadanya: mau kemana kamu setelah ini, apa yang ada dalam isi kopernya; sudahkah kamu menikmati secangkir kopi sebelum menjalani penerbangan yang lumayan akan memakan banyak waktu ini; atau menyatakan bahwa lipstik yang kamu pakai cukup membuat kedipan mataku sanggup bertahan lebih dari lima detik; atau caramu memegang rambutmu yang kemudian kamu kibaskan tiba-tiba ke belakang membuatku mengerti mengapa perempuan sangat suka memanjangkan rambutnya. Tapi semua itu hanya kejadian dalam kepala Anda. Sang gadis cantik seperti langit-langit yang sulit dijangkau. Sekalipun Anda menaiki puncak gunung tertinggi. Jarak Anda hanya bersebelahan dengannya di saat Anda pun duduk di kabin yang sama karena memilih secara tiba-tiba nomor tempat duduk yang akan Anda tempati. Lagi-lagi ini ironi. Apalagi jika perempuan cantik itu hanya tidur selama perjalanan. Dan yang Anda lakukan hanya melihatnya melalui ketakjuban yang mendasari pandangan Anda. Anda dan dia dibekuk jarak yang dekat, tapi dipisahkan tanpa perbincangan apapun. Satu-satunya perbincangan hanya terjadi dalam kepala Anda, dan suara itulah yang Anda ajak berdialog. Anda bisa saja membangunkannya. Atau sengaja menyuruh pramugari di belakang pesawat agar dapat menyodorkan minuman dingin supaya dengan cara itu dia bisa terbangun. Mungkin juga Anda akan berharap terjadi guncangan ringan. Pesawat tiba-tiba saja masuk ke dalam gumpalan asap awan yang tebal, dan akibat sedikit guncangan yang mirip duduk di atas punggung banteng liar, dia mulai membuka mata dan menanyakan apa yang sedang terjadi kepada Anda. Dari situlah Anda menyadari bahwa di situasi itulah kemenangan Anda. Itu adalah momen peting. Sayang untuk dilewatkan. Itu adalah waktu yang tepat untuk membuka percakapan. Dan, akhirnya Anda akan menanyakan namanya, dan tidak lama kemudian Anda berdua sudah saling bertukar nomor telepon. Benar-benar pertemuan yang tak diduga-duga. Di negeri yang jauh bertemu seorang gadis dengan keistimewaan gadis-gadis tropis dengan warna kulit kuning langsat. Kulit yang hanya mengenal dua musim. Dan rambut hitam khas perempuan Asia. Sungguh, tapi itu adalah suatu ironi. Anda begitu dekat dengannya sampai-sampai hidung Anda dapat menangkap bau parfumnnya yang bercampur keringat. Menciptakan bau khas yang dapat mengundang seekor harimau jantan mempertahankan betinanya agar dapat melahirkan keturunan-keturunannya. Dan, semua itu hanyalah kejadian yang hanya Anda sendiri rasakan. Ketika Anda hanya mampu melihatnya dari dekat, begitu dekat. Betapa eksotisnya seorang perempuan yang tak dapat Anda jangkau, tapi Anda seperti akan mengatakan langsung di hadapannya bahwa Anda cukup tertarik kepadanya, si cantik yang tertidur di atas pesawat.

---

Waktu dan tempat salah menempatkan Maria de la Luz Cervantes. Atau Maria-lah sendiri yang malang. Dia terjebak salju yang tebal. Tepatnya mobil yang ia sewa menuju Barcelona yang dipakainya mogok di tengah perjalanan di saat salju turun dengan lebat. Selama satu jam ia mencari tumpangan. Di saat itulah kemalangannya bermula. Ia diangkut oleh sebuah bis yang berisi banyak perempuan dari segala usia. Dengan maksud mencari telepon untuk menghubungi suaminya, tanpa sepengetahuan Maria, akibat tertidur bis yang ditumpanginya membawanya pada sebuah bangunan yang mirip biara dengan tembok-tembok pagar yang tinggi di tengah hutan. Mereka pun turun, perempuan-perempuan yang dilihat Maria tidur selama perjalanan seperti anak-anak domba yang diperintah berjalan begitu saja. Tanpa suara sekali pun mereka mengikuti instruksi dari perempuan yang mirip seorang wasit lengkap dengan peluitnya. Mereka nampak tidak normal. Setiba di halaman bangunan yang cukup luas, ia berlari menuju sebuah gedung yang ia sangka mempunyai telepon. Tapi di sinilah ironiya; dirinya di sangka bagian dari perempuan-perempuan yang mengalami gangguan mental. Maria menemukan kejadian yang tidak pernah dia sangka sebelumnya; dia di bawa ke suatu tempat berupa tempat semacam rumah sakit jiwa. Lengkap dengan penjaga-penjaga bermuka tidak ramah dan dokter-dokter yang hanya terlihat di waktu-waktu tertentu. Maria hanya membutuhkan telepon untuk mengabarkan kepada suaminya, bahwa ia tidak akan sampai ke rumah seperti yang ia sudah janjikan kepada suaminya sebelumnya. Sebenarnya itulah yang sebenarnya akan terjadi. Namun, sekali lagi dia berada pada situasi yang serba salah. Malangnya, dan ini memang kemalangan Maria, di dalam rumah sakit jiwa itu tidak ada yang berhak memutuskan siapa sebenarnya yang waras selain suatu otoritas medis tertentu. Situasi inilah yang disinggung Michel Foucault tentang rezim medis tertentu. Kewarasan seseorang dipandang dari segi otoritas yang mengendalikannya. Seperti di abad-abad 16 di Eropa, bagaimana penyakit dikendalikan dari atas kekuasaan dengan menganggap siapa pun tidak layak berbicara atas dirinya selain dari otoritas itu sendiri. Termasuk kegilaan, adalah suatu kondisi yang tidak layak dinilai oleh diri sendiri. Segala upaya yang menjelaskan dirinya sendiri bahwa ia tidak gila akan dianggap sebagai kegilaan itu sendiri. Dapatkah Anda percaya omongan seseorang yang dinyatakan gila oleh medis bahwa dirinya tidak gila? Tentu akan sulit kita memercayai perkataan orang yang kita anggap gila. Apalagi jika ia membicarakan suatu pembicaraan yang tidak kita ketahui sebelumnya. Kita akan menganggap itu adalah hasil dari pikirannya yang kacau, atau imajinasi gila yang tak pernah terbukti sekalipun dalam kenyataan. Termasuk keinginan meminjam telepon. Siapa yang akan memercayai Maria, seorang perempuan yang turun bersama barisan perempuan-perempuan bergangguan mental dan tiba-tiba berlari ingin meminjam sebuah telepon. Orang gila mana yang memiliki teman di dunia lain yang ingin diajaknya berbicara melalui saluran telepon di saat musim begitu dingin. Kemalangan itu tetap berlanjut dari hari ke hari. Setiap hari menjadi semakin berat dengan menjalani model pegobatan yang dialami orang bergangguan mental. Makanan-makanan yang buruk, serat bentakan-bentakan ibu-ibu penjaga. Hari demi hari hingga dengan cara tertentu tanpa disadari Maria telah berada dalam sebuah ruangan kosong tanpa seorang pun dengan sebuah  telepon yang berbunyi. Dengan keberaniannya, entah dari mana, ia masih mengingat nomor rumahnya. Dia pun menelepon. Suaminya mengangkatnya, dan akibat kecurigaan yang tidak beralasan –selama Maria tidak pulang ke rumah, suaminya menyangka Maria pergi bersama mantan pacarnya dan meninggalkannya sendirian—dia merasa dipermainkan, dan menutup telepon secara tiba-tiba. Tapi suatu waktu entah dengan cara bagaimana suami Maria, yang seorang magi kabaret, datang ke rumah sakit biara tempat Maria mendekam secara paksa. Dan ketika melihat Maria yang bermuka lecet akibat menjatuhkan dirinya dengan melompat dari lubang jendela, hanya menganggap sang istri benar-benar gila. Di sinilah kemalangan itu yang sebenarnya, untuk tidak mengatakannya sebagai ironi, saat orang terdekat yang kita cintai juga tidak mampu membawa kita keluar dari lubang jarum penderitaan. “Aku bahkan tidak tahu berapa hari aku di sini, atau berapa bulan, atau tahun, yang aku tahu hanyalah setiap hari selalu lebh buruk dari yang terakhir,” dia mengeluh dengan seluruh jiwanya. “Aku tidak berpikir bahwa aku akan selamat.” “Semuanya sudah berakhir sekarang,” dia mengatakan sambil mengusap-usap bekas luka di wajahnya dengan ujung jarinya. “Aku akan datang setiap hari Sabtu. Lebih sering dari itu, jika direktur mengizinkanku. Kamu akan lihat, semuanya akan baik kembali.” Dia menatap Saturno (suaminya). Saturno mencoba menggunakan pesonanya. Dia mengatakan pada Maria tentang ramalan dokter. “itu berarti,” dia menyimpulkan, “Bahwa kamu masih memerlukan beberapa hari lagi untuk menyembuhkan penyakitmu secara total.” Maria mengerti tentang kebenaran itu. “Demi Tuhan, sayang,” dia memohon. “Jangan katakan padaku bahwa kamu juga mengira aku gila!” Begitulah titik yang sulit dipercaya. Tak ada seorang pun yang dapat menolong Maria de la Luz Cervantes. Bahkan, orang yang dia sangka dapat mengeluarkannya dari tempat terkutuk yang dipenuhi orang-orang gila. Tidak sekali pun suaminya sendiri.

---


Cahaya itu seperti air. Toto dan Joel berhasil mengubah cahaya seperti air laut yang maha luas. Kemampuan yang mereka miliki ibarat sang alchemis yang dapat mengubah setiap logam menjadi sebongkah emas murni. Di tiap malam rabu, ketika kedua orangtua keluar menikmati malam-malam pertunjukkan film, kedua anak berprestasi ini mengubah isi rumah mereka ibarat samudera yang di isi titik-titik pulau yang mengapung. Cahaya ibarat air. Karena itulah di malam “pengembaraan” mereka, lampu-lampu dinyalakan seterang-terangnya hingga menempus sela-sela pepohonan yang tumbuh di luar rumah mereka. Dari atas sebuah sampan alumunium yang mereka tempatkan dalam sebuah kamar, melalui kekuatan imajinasi mereka, mereka berubah menjadi dua orang pelaut yang mengapung-ngapung mencari daratan. Ibarat kenyataan yang sebenarnya, setiap benda yang mereka temui dari isi rumah menjadi benda-benda laut yang menunjang pelayaran mereka. Hingga Rabu berikutnya, kepergian kedua orangtuanya adalah karunia yang tak mereka sia-siakan. Setelah mendapatkan harapan mereka berupa seperangkat alat selam dan beberapa mainan sirip hiu, mereka kembali menjadi pelaut yang tangkas menyelam sampai ke dalam karang-karang tersembunyi. Mereka menyelam sampai di bawah tempat tidur, di bawah meubel yang diimajinasikan berupa benda-benda yang hanya ditemukan di kedalaman laut tertentu. Kekuatan imajinasi yang membuat mereka bagaikan seekor lumba-lumba, sesekali menjadi seekor hiu, mendorong mereka mengundang teman sekelas mereka agar ikut bermain di tiap rabu malam. Bermandikan cahaya yang disulap bagaikan air. Hingga satu apartemen itu memancarkan cahaya yang super terang sampai ke ujung jalan raya, seperti sebuah kemilau mutiara yang menyala terang diterpa cahaya mentari. Begitu berkilau hingga membuat mereka tidak menyadari betapa gembiranya mereka, dengan sampan alumunium, seperangkat alat selam, berenang di antara barang-barang kedua orangtua mereka, di dalam lautan, yang sebenarnya adalah sebuah ruangan di apartemen mereka yang jauh dari lautan sekali pun. Tapi begitulah anak-anak, kenyataan hanyalah keberadaan sederhana dibandingkan imajinasi yang jauh lebih dahsyat di mata mereka.