23 September 2017

Sang Manusia dan Dua Paras Jiwa

Dalam literasi sufisme, kesadaran manusia ibarat puncak gunung es yang menjulang di atas permukaan laut. Yang tampak di permukaan hanyalah keping kesadaran yang menyimpan parasnya di bawah dasar lautan.

Paras yang tersembunyi di bawah permukaan laut itu, dalam literasi sufisme disebut sebagai jiwa.

Jiwa, secara ontologis dinyatakan sebagai pangkal kaki yang menggerakkan paras kesadaran di permukaan. Itulah sebabnya, banyak pendakuan sufisme menaruh kedudukan yang fundamental terhadap jiwa. Ketika jiwa itu baik, maka baik pula paras kesadaran di permukaan. Jika jiwa itu buruk, maka buruk pula penampakkannya.

Dalam literasi yang lain, jiwa diibaratkan mangkuk menyerupai kubah terbalik. Di dalamnya, terpancar misykat. Misykat, dalam tradisi tasawuf adalah tempat “Yang Ilahi” memancarkan asmanya di sepanjang arah ke timur maupun ke barat. Barang siapa mengotori misykatnya, maka pancaran asma “Yang Ilahi” bakal putus atau terdistorsi. Sebaliknya, barang siapa menjaga  kebersihan misykatnya, ibarat dinding kaca, maka benderanglah “Yang Ilahi” memancar ke permukaan.

Kesadaran dengan begitu, dalam dalil-dalil sufisme adalah paras yang bergantung dari situasi kejiwaannya. Jiwalah induk kesadaran. Tiada kesadaran yang baik tanpa keberadaan jiwa yang baik.

Rumusan yang hampir serupa juga dapat ditemui dari pemikiran seorang pencetus psikoanalisis, Sigmund Freud. Semenjak membantah dalil-dalil Cartesian yang mengagungkan kesadaran, Freud sebaliknya memperkenalkan libido sebagai substansi dasariah manusia yang banyak mengintervensi kesadaran. Bagi Freud, kesadaran bukanlah satu-satunya faktor kunci pemahaman manusia. Libido-lah yang paling banyak menentukan kesadaran. Bahkan, kesadaran hanyalah citra di permukaan dari libido yang bekerja diam-diam di bawahnya.

Libido menurut Sigmund Freud selalu bekerja berdasarkan prinsip kesenangan. Dia adalah pusat jiwa yang menghendaki agar segala hasrat dapat terpenuhi. Paradoksnya, kesenangan dalam libido tidak serta merta dapat mencukupi kebutuhan dirinya. Dengan kata lain, libido adalah hasrat yang tidak akan pernah terpuaskan sampai kapan pun.

Serupa tapi tak sama, dalam tradisi sufisme, jiwa adalah entitas persemayaman “Yang Ilahi.” Ibarat remote control, “Yang Ilahi” selalu mengajak sang manusia kepada “keterikatan kepada yang suci.” Jiwa yang dikaruniai pancaran “Yang Ilahi” selalu mengajak manusia menemukan dirinya di atas “ketinggian” puncak-puncak peradaban.

Sebaliknya, libido merupakan “liang pasak” yang berkeinginan agar sang manusia rela bertungkuslumus di “kerendahan” lembah-lembah tak berdasar. Ibarat mulut sumur yang menelan apa saja tanpa diketahui seberapa dalam lubang yang dimilikinya. Menyedot apa saja. Meringkus segalanya. Seterusnya tanpa penghabisan.

Kisah sang manusia yang terjebak ke dalam hasrat tak berdasar tak bisa disepadankan dengan kisah yang diliterasikan dalam tradisi sufisme. Sang manusia dalam konsepsi antropologi-filosofis sufisme adalah karakter manusia yang bersetia dengan ideal-ideal “Yang Ilahi”. Dalam agama-agama, sang manusia yang hidup dalam ideal-ideal “Yang Ilahi” adalah seperti yang diperankan para nab-nabi dalam sejarah.

Sementara sang manusia yang terikat hasrat tak berkesudahan, adalah kisah sebaliknya; mereka adalah orang-orang yang melahirkan tragedi, dan mati sebagai orang-orang yang dikutuk peradaban.

Hasrat dengan caranya yang demikian, pernah disinggung Friedrich Nietzsche melalui Beyond God and Evil. Nietzsche mengucapkan suatu isyarat atas lahirnya tragedi manusia yang ditengarai hasrat yang dikandung dalam diri manusia itu sendiri. Jauh lebih radikal dari dua kisah di atas, Nietzsche bahkan menyatakan manusia adalah mahluk yang menanggung tragedi semenjak asal keberadaannya. Mahluk malang tanpa pegangan, kecuali  hasrat dirinya sendiri melahirkan tragedi untuk menguasai suatu segala.

Abad 21 ibarat identifikasi Nietzsche mengenai kondisi kehidupan yang melahirkan tragedi demi tragedi. Sang manusia mengalami banyak kekalahan demi kekalahan di hadapan “rezim hasrat” yang totaliter menyandra jiwa sang manusia. Bahkan manusia di era sekarang --meminjam rumusan Thomas Hobbes ketika berhadapan dengan konteks silam masyarakat Eropa; bellum omnes contra omnia, perang semua melawan semua.

Dalam politik, bellum omnes contra omnia ditandai dari tragedi hasrat kekuasaan yang menindas golongan satu atas golongan yang lain melalui tirani dan totalitarianisme. Dalam ekonomi, hasrat merusak kemakmuran bersama melalui rezim pasar global menjadikan kelas satu semakin sejahtera tetapi tidak bagi yang lain. Dalam hukum, melalui mekanisme persidangan yang rumit, hasrat merongrong tatanan keadilan dan kejujuran. Dan dalam kebudayaan, akibat hasrat konsumerisme, manusia menjadi semakin terasing dari dirinya sendiri. Bahkan dalam agama, hasrat bagai sang raja yang secara imperatif harus diakui sebagai satu-satunya tuan kebenaran.

Melalui situasi yang ditawan hasrat, sang manusia menjadi mahluk yang dikuasai kesadarannya yang temaram. Implikasinya, sang manusia terombang-ambing tanpa ada pegangan. Kehilangan sandaran untuk mencandra kebenaran dan keutamaan. Dikotak-kotakkan dan diperdaya libido di semua lini kehidupannya.

Tapi, sang manusia bukan semata-mata mahluk yang dengan mudah dapat ditundukkan hasrat. Melalui literasi sufisme manusia dipandang sebagai mahluk yang membawa peluang kebaikan. Bahkan melalui pendidikan jiwa, sang manusia akan menemukan kualifikasi-kualifikasi nilai positif yang mampu mengatasi godaan hasrat yang mengepungnya. Ibarat perkataan Victor Hugo, novelis asal Perancis, berlian hanya ditemukan di tempat-tempat gelap di muka bumi. Kejernihan pemahaman hanya bisa ditemukan sejauh sang manusia mau masuk mencari dan menggeledah hasrat di kedalaman jiwanya. Hasilnya, niscaya di sana akan diketemukan misykat tempat “Yang Ilahi” menjadi pegangan mengarungi zaman era kiwari.