Sabtu, 19 Agustus 2017

Cannery Row, John Steinbeck

Betapa berharganya seorang John Steinbeck bagi warga Ocean View Avenue sehingga mengubah namanya menjadi Cannery Row. Ini dilakukan atas penghormatan terhadap Steinbeck yang mengambil Ocean View Avenue sebagai latar cerita novelnya ini (akan sangat membanggakan kalau hal ini juga dilakukan terhadap sastrawan-sastrawan kita di Indonesia). Jika ingin tahu di daerah mana Ocean View Avenue berada, maka bukalah peta via goggle map, letaknya berada di kota Monterey, California, Amerika Serikat. Cannery Row adalah daerah pesisir menghadap laut, kawasan pemukiman yang berisikan orang-orang yang hidup dari hasil lautan. Mungkin sebagian besar warga Cannery Row akrab dengan perahu-perahu nelayan, desir angin asin, air pasang, dan tentu ikan-ikan yang menjadi penghasilan keuangan mereka. Sesekali menyesap bir atau wiski ketika angin dingin melanda. Atau membuka lebar-lebar pintu atau jendela ketika matahari sedang terik-teriknya. “Cannery Row di Monterey California adalah puisi,” tulis Steinbeck, “kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan, cahaya, nada, kebiasaan, nostalgia, dan mimpi. Cannery Row adalah kerumunan dan hamburan orang-orang, kaleng dan besi dan karat dan serpihan kayu, aspal yang mengelupas dan tanah yang penuh rumput dan timbunan sampah, pabrik-pabrik pengalengan sarden dan dibangun dari pintu-pintu lipat besi, tempat-tempat kumuh, restoran-restoran, rumah pelacuran, dan toko-toko kelontong kecil yang berdesak-desakkan, laboratorium, dan rumah-rumah kumuh.” Itu sebagian kalimat pembuka novel yang diterjemahkan Eka Kurniawan. Seperti gado-gado, seluruh kesan bercampur baur. Puisi dan kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan dan cahaya, nada dan kebiasaan, dan nostalgia dan mimpi, yang semuanya memberikan semacam kesan Cannery Row adalah tempat yang unik dan antik. Ya, Cannery Row adalah cerita orang-orang pinggiran, dan yang dianggap tak berguna, namun masih memiliki hati yang luas seperti lautan yang melingkupi daerah mereka. Orang-orang yang sama yang ditulis Steinbeck sebagai germo, tukang tipu, judi, pelacur, anak haram jadah, tapi jika dilihat dari lubang yang lain adalah “para santo, dan malaikat dan orang-orang suci.” Cerita masyarakat kelas kedua. Cannery Row punya Le Chong, yang diceritakan memiliki toko kelontong ketika segala kebutuhan dapat segera terpenuhi, toko serba ada yang tak pernah memberikan diskon walaupun barang dagangannya telah digigit tikus-tikus pengganggu. Cannery Row punya Doc, lelaki tua yang gandrung dengan hewan laut, yang sering dicarinya di sekitar pesisir pantai California, pria aneh yang sering menyalurkan pesanan berkilo-kilo hewan laut ke universitas-universitas, laboratoriun, bahkan museum, juga seseorang yang menempati Western Biological, gedung yang befungsi sebagai laboratorium tempat menyimpan benda-benda aneh, segala jenis binatang-binatang laut, zat-zat beracun, obat-obatan yang sulit diketahui untuk apa menyimpannya, dan benda-benda yang diawetkan di dalam stoples yang berisikan ramuan khusus. Doc memiliki Franky seorang bocah  gangguan mental yang hanya mau tinggal bersamanya di sebuah lemari yang disenanginya. Cannery Row memiliki Dora Flood, perawan tua berumur 50 tahun dengan gadis-gadis peliharaanya. Si induk semang yang memiliki gaya etika seperti orang terhormat dari rumah pelacuran bernama Bear Flag Restauran dengan insting bisnis yang memukau, yang membantu tagihan-tagihan toko kelontong di sekitar Cannery Row. Di Bear Flag, siapa pun bisa memesan segelas bir dengan memakan sandwich –suatu istilah bagi orang-orang dewasa yang sering berdatangan di Bear Flag. Di Cannery Row ada Mr. dan Mrs. Molly, pasangan suami istri yang menjalani hari tuanya dengan tinggal di dalam pipa ketel uap bekas yang dibuang begitu saja di hamparan tanah kosong. Dengan jeli mereka menyulap pipa-pipa bekas sebagai tempat tinggal bagi gelandangan-gelandangan dengan cara menyewakannya. Di Cannery Row tinggal juga Henry, pria yang senang melukis menggunakan kulit kacang, tapi lebih suka membuat perahu sepanjang sepuluh tahun dan tak pernah dibawanya berlayar karena selalu dibongkarnya untuk dibuat kembali dari awal. Dan, Cannery Row juga memiliki Mack, seorang pemimpin dari  segerombolan yang ia sebut anak-anak, yang mempunyai kejeniusan seorang pengangguran untuk bertahan hidup dari keacuhan Cannery Row, dengan rela bekerja apa saja melalui tipuan-tipuan handalnya. Mack tinggal di sebuah bangunan tak terawat yang mirip gudang—setelah dipinjamkan oleh Le Chong dengan sedikit tipuan yang cerdik-- bersama Hazel, seorang pemuda 26 tahun yang pernah bersekolah di sekolah tempat anak-anak bermasalah. Hazel memiliki kecakapan berbicara yang bisa memancing obrolan dengan menjebak lawan bicaranya tapi tak memahami dengan baik apa yang seringkali diomongkan, bersama Eddie, seseorang batender pengganti di sebuah pub bernama La Ida yang sering kali mengumpulkan sisa-sisa bir, wiski, scotch, anggur, rum, gin, atau minuman apapun yang tidak dihabiskan dari para pelanggan di bawah meja kerjanya untuk dibawa pulang agar dapat diminum bersama lainnya, bersama Hughie yang memiliki sedikit kecerdasan ketika memanfaatkan barang-barang bekas yang dipungutnya entah di mana dan mampu diubahnya menjadi tempat tidur sederhana yang tidak dipunyai teman-temannya, bersama Jones seseorang yang rela bekerja apa saja untuk membantu kelompoknya agar dapat menikmati hari-hari tanpa harus kelaparan, dan  anggota terakhir, Gay, pria yang memiliki kecakapan bak montir berbakat yang mampu menyulap seonggok truk yang ditinggal begitu saja menjadi alat transportasi menguntungkan bagi mereka. Mereka semua tingga di tempat bernama Palace Flophouse yang dipermak menjadi tempat tinggal seadanya dari barang-barang rongsokan. Di Cannery Row mereka semua saling bersinggungan, sehari-hari bertukar sapa, di antara bising dan busuknya tempat tinggal yang asin dibawa angin laut. Tapi, selalu ada saat-saat kebaikan entah muncul dari mana yang membuat satu dengan lainnya harus memberikan yang terbaik untuk menunjukkan simpati dan tentu, kebaikan itu sendiri. Dan, kebaikan itu adalah pesta sederhana yang menyatukan mereka di bawah suatu persahabatan di malam hari yang dirancang oleh Mack beserta gerombolannya. “Si Doc itu sahabat sialan yang baik hati, ia akan memberi kalian seperempat galon setiap waktu. Ketika tak sengaja aku terluka ia menyiapkan perban baru setiap hari. Sahabat sialan yang baik hati.” “Aku telah berpikir sangat lama… apa yang akan kita lakukan untuknya—sesuatu yang manis. Sesuatu yang ia suka.” Kemudian rencananya ini menyebar dari mulut ke mulut seperti rambatan angin yang menyelinap ke setiap jendela untuk memberikan kejutan terhadap Doc–dan akhirnya adalah pesta dan kebahagiaan bagi mereka bersama. Sangat jarang menemukan orang semacam Mack, apalagi seorang gelandangan yang memiliki hati murni untuk membalas kebaikan seseorang dengan sesuatu harta yang tidak ia miliki di sepanjang hidupnya. Di mana-mana suatu pesta perayaan seringkali dilakukan oleh orang-orang berduit, orang-orang yang memiliki akses yang besar terhadap kemeriahan dan keberlimpahan. Dengan tujuan kegembiraan yang seringkali malah sebagai ajang pamer diri ketika mampu mengambil langkah keberhasilan yang tak dapat orang lain tiru. Dengan kata lain suatu pesta yang tak berfaedah, bukan sebagai ajang simpati dan terima kasih. Tapi, Pesta Mack ini bukanlah pesta yang meriah, namun cukup untuk menarik setiap dari mereka menyiapkan waktu dan kado khusus untuk menunjukkan kebaikan satu persatu di antara mereka. Suatu pesta yang sebenarnya adalah balas budi bagi kehidupan mereka, yang memiliki orang-orang yang rela melalukan apa saja demi suatu kebaikan yang dapat dikenang bersama. Pada akhirnya suatu pesta yang dikerjakan bersama-sama tanpa bersembunyi dari kenyataan pahit  dan kere, yang mereka alami sehari-hari. Suatu kebaikan yang akan dibicarakan dan dibagi di sisa usia warga Cannery Row.

4 komentar:

bahrul amsal mengatakan...

Cannery Row John Steinbeck

bahrul amsal mengatakan...

http://alhegoria.blogspot.co.id/2017/08/cannery-row-john-steinbeck.html

bahrul amsal mengatakan...

Haruki Murakami

http://alhegoria.blogspot.co.id/2017/08/norwegian-wood-haruki-murakami.html

Sabun Jerawat Black Walet mengatakan...

terimakasih atas informasinya, jangan lupa kunjungi kami
di https://goo.gl/oENsJk