29 Juli 2017

madah lima puluh tujuh

| |
Yang hilang belakangan ini saya kira adalah keagenan yang dimiliki setiap orang. Keagenan saya kira penting. Di situ “aku-diri” mengaktual. Dengan kata lain, keagenan adalah sifat otonom “aku-diri” untuk bebas menentukan pilihan-pilihannya. Namun, rasa-rasanya menjadi agen yang sadar diri di waktu ketika menguatnya tekanan kelompok menjadi agak riskan akibat tidak adanya penghargaan terhadap individu. Orang-orang akan  merasa kurang enak  jika tidak mengikuti pilihan-pilihan kelompok yang sering kali mengeliminasi hak-hak pribadinya.  Ya, kebanyakan dari kita masih khawatir jika merasa berbeda. Takut jika memilih jalan yang berlainan dari kebanyakan. Barangkali ini akibat telah lama kemerdekaan individu disingkirkan dari pemahaman kita. Kita lebih sering diingatkan tentang kebaikan kelompok, keutamaan bersama, dan juga kemuliaan kelompok, tinimbang keberadaan individu. Bahkan, telah lama hidup kita dibentuk oleh kokohnya sistem. Kuatnya otoritas, dan  ajegnya kebersamaan. Sehingga yang terjadi adalah jika ada kecenderungan-kecenderungan yang berbeda bermunculan maka akan mati sebelum berkembang. Seakan-akan diri kita tidak memiliki arti sejauh menjadi diri pribadi. Kita hanya disebut bermakna jika diri kita diartikan sebagai bagian dari kawanan. Tubuh diri kita mesti menjadi bagian tubuh kawanan. Tubuh masyarakat. Mentalitas kawanan saya kira merupakan watak pribadi yang menjadi ciri umum kita. Kebanyakan kita bagai kawanan anjing-anjing yang hanya mengikuti insting alam untuk hidup berkelompok. Di luar dari itu, jika kita seorang diri, kita malah merasa terasing, merasa bukan apa-apa. Tanpa daya. Makanya, eksesnya terhadap kehidupan kita, hampir semua yang kita miliki adalah ciri khas kelompok; selera, minat, hobi, cara berpikir, atau bahkan hidup kita sendiri. rasa-rasanya kita belum bisa menjadi pribadi yang otonom. “Aku-diri” yang berani memilih cara sendiri, pilihan sendiri. Bukankan kita ini dilahirkan sendiri-sendiri. itu artinya hidup kita punya jalan dan caranya sendiri. Otak kita tumbuh sendiri, di kepala kita sendiri. makanya, seharusnya keunikan diri kita juga harus dihargai. Kemerdekaan individu. Dengan begitu tanggung jawab menjadi jelas artinya. Secara etis segala konsekuensi moral mau tidak mau menjadi tanggungan kita sendiri. Bukan tanggungan kelompok. Menjadi aneh rasanya, jika kita mau disebut individu yang bertanggung jawab tetapi sebelumnya kita tidak diberikan ruang untu memilih sendiri. Bagaimana mungkin seseorang harus dimintai tanggung jawabnya jika dia tidak memiliki kebebasan? Maka itu semuanya harus dimulai dari diri pribadi. Seorang yang sadar diri. Dari situlah keagenan muncul. Yakni rasa keharusan untuk bertindak. Mau melakukan sesuatu dengan kemerdekaannya. Dan mau bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.