16 Mei 2017

Rausyanfikr atau Ilmuwan?

| |
Rausyanfikr bukan terma yang sepenuhnya tepat disinonimkan dengan istilah free thinker, atau dalam terjemahan Inggrisnya yang disebut intellectual. Selain secara genetis dua istilah ini lahir dari alam pikir dan cara pandang yang berbeda, Dr. Ali Syariati, seorang sosiolog abad 20, menyebutkan beberapa kategori perbedaan di antara keduanya.

Pertama, rausyanfikr (orang-orang yang tercerahkan) berbeda dari ilmuwan yang menemukan "kebenaran" tinimbang "kenyataan". Dalam hal ini, "kebenaran" berbeda dari "kenyataan" yang mana "kenyataan" sering kali hanyalah apa yang sering tampak dipermukaan. Sementara kebenaran adalah capaian atas sesuatu yang "digali" di dalam selimut kabut "kenyataan".

Seorang rausyanfikr banyak mencurahkan pikiran-jiwanya untuk menemukan kebenaran lebih dari hanya gejala-gejala faktuil.

Kedua, ilmuwan bekerja atas dasar menampakkan fakta sebagaimana adanya. Sikap etis ini membuat seorang ilmuwan berjarak dari fakta yang diamatinya. Di titik ini sikap etis kadang berseberangan dengan sikap politis seorang ilmuwan. Sementara seorang rausyanfikr, jauh lebih dari pada memaparkan fakta. Dia menilai fakta sampai kepada titik penilaian sebagaimana seharusnya fakta itu sebenarnya.

Imuwan menggunakan bahasa universal. Akibatnya ilmuwan kadang susah menempatkan bahasanya pada kepentingan atau keberpihakan terhadap kaum tertentu. Bahasa ilmuwan adalah bahasa yang selain universal juga kerap abstrak. Di titik ini bahasanya tidak praktis dan tidak adaptabel dengan kebutuhan masa kini.

Sedangkan rausyanfikr berbahasa dengan bahasa kaumnya. Ali Syariati menyamakan kedudukan ini sebagaimana nabi-nabi. Ibarat nabi, rausyanfikr berbicara seakan-akan menggunakan lidah kaumnya. Bibir kaumnya, atau bahkan cara berpikir kaumnya. Ini tiada lain untuk mengikuti tingkat pemahaman kaumnya yang tidak semuanya mampu menyerap bahasa teknis keilmiahan.

Keempat, seorang ilmuwan dituntut agar netral ketika menjalankan pekerjaannya. Sebagai suatu profesi, ilmuwan malan lebih sering menjauhkan diri dari konflik kepentingan yang dapat mengancam pekerjaannya dalam dunia akademik. Sedangkan rausyanfikr malah harus melibatkan diri pada ideologi. Itu artinya seorang rausyanfikr sehari-hari dalam profesinya menceburkan diri dalam "sejarah" masyarakatnya.

Itulah sebabnya, sebagai sosiolog, Dr. Ali Syariati melihat transformasi sosial hanya bisa dijalankan ketika rausyanfikr ikut terlibat di dalamnya. Sejarah, kata Syariati dibentuk hanya oleh kaum rausyanfikr.

Artinya dari kategori di atas, rausyanfikr lebih dari sekadar ilmuwan yang sibuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Atau alih-alih menjadi seorang sarjanawan yang telah menempuh tingkatan studi tertentu.


Rausyanfikr secara kategoris membedakan dirinya sebagai kelompok orang yang terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, membaca dan menemu-tangkap aspirasi masyarakatnya, kemudian merumuskan skema kerja sebagai gerakan alternatif dengan bahasa yang dapat ditangkap indera masyarakat dalam memecahkan suatu soal fundamen yang dialami.