13 April 2017

Pengalaman atas Bahasa

Taro ada’ taro gau. Simpan kata, simpan perbuatan. Begitulah peribahasa Bugis mendudukkan bahasa antara perkataan dan perbuatan. Bahasa dengan kata lain, dalam falsafah Bugis, tidak terbelah  antara keduanya. Apa yang diucapkan, itu pula yang dilakukan. Sebaliknya, apa yang telah dilakukan  pasti cermin  dari perkataan. Konsistensi. Itu yang pokok. Itu yang prinsipium.

Dalam konteks pengalaman, manusia Bugis, belum mengenal dua dunia antara teori dan praktik seperti  manusia modern masa kini. Tidak adanya pemisahan antara perkataan dan praktik, mengakibatkan perspektif yang bulat tentang realitas. Artinya, apa yang diucapkan kemudian dilakukan, selalu ditilik dari satu ruang yang sama.

Ruang yang sama itu berarti pula mengandaikan tingginya “dunia kata” yang harus dijunjung melalui perbuatan. Secara etik, moral orang bugis bersandar dalam “dunia kata” ini. Ketika “dunia kata” tidak mampu direalisasi dalam pengalaman kongkrit, maka pada titik itulah secara sosial orang-orang bugis akan merasa malu.

Dunia kata, selain tinggi juga sakral. Sakralnya kata dapat ditemui seperti dari padanan kata Logos, Yunani Kuno. Logos berarti ilmu atau sabda, kata. Dalam khazanah Islam, ilmu berwujud suci dan melalui itu semesta kata lahir. Sebagaimana dalam teologi Kristiani, Tuhan pertama kali hadir melalui sabda. Wahyu dalam Islam juga dimediasi kata. Melalui hubungan itulah kata sama sucinya dengan ilmu.  

Itulah sebabnya, “taro gau” seluas “taro ada”, kesucian kata terletak juga dalam realisasi perbuatan. Bahkan, ketika kata telah dituturkan, pantang mundur untuk tidak dilaksanakan. Pengalaman atas bahasa inilah, yang menyebabkan kata bukan sekadar bahasa yang hanya diucapkan, tapi harus disetubuhi melalui realisasi perbuatan atau tindakan.

Dalam khazanah filsafat Islam, dikenal konsep ilmu yang menihilkan jarak antara bahasa(kata) dan konsep. Ilmu kehadiran (ilmu huduri, knowlegde by presence), seperti yang dianut kaum sufistik, tidak lagi memilah-milah pengalaman atas kenyataan berdasarkan pemisahan bahasa dengan praktik yang diturunkan dari konsep itu sendiri.  Subyek-obyek dalam bahasa menjadi nihil akibat pengamalan atas pengetahuan itu telah evident. Terang dan tunggal.

Ketika konsep ini diafirmasi ke dalam filsafat barat, setidaknya pemakanaan yang sama ditemukan dalam pemikiran Heidegger. Pengetahuan menurut Heidegger tidak mengakui dualisme antara subjek pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam bahasa, subjek dan objek pengetahuan adalah satu kesatuan yang mengarah langsung kepada fenomen. Kesadaran macam ini disebut Heidegger sebagai kesadaran intensionalitas.

Yang menarik dalam pemikiran Heidegger adalah pengakuannya terhadap puisi sebagai pengetahuan paling murni. Puisi sangat berbeda secara fundamental dengan jenis pengetahuan lain. Bagi Heidegger, puisi mampu membawa manusia kepada pemahaman yang paling otentik dan mendalam terhadap sesuatau dalam kehidupannya.

Puisi sebagai pemahaman otentik, dinyatakan Heidegger hanya mungkin dicapai jika manusia (dalam konteks pemikiran Heidegger, manusia disebut dengan terma khas bentukan Heidegger sendiri: Das Sein) mengalami keadaan yang disebutnya situasi destitute time.

Destitute time, bisa dibilang adalah situasi “kekosongan atas kekesongan”, atau dalam konotasi Heidegger sebagai keterputusan manusia terhadap “benda-benda” yang mengikat dirinya. Menurut Heidegger, dalam situasi ini manusia akan menemukan kedaan natural atas dirinya. Manusia akan menemukan “dasar” dirinya dalam keberadaannya yang penuh. Di kondisi ini manusia mengalami dirinya dengan maksud mencari makna sekaligus menjadi tempat makna itu sendiri.

Itulah sebabnya, banyak ditemukan karya literasi berbentuk syair lebih dominan memengaruhi pembacanya akibat dihasilkan dari kedalaman pengalaman penyair yang mengalami situasi destitute time seperti dalam konsep Heidegger. Dengan kata lain, bahasa yang datang dari pengalaman murni, yang sublim, yang kontemplatif, jauh lebih dahsyat dari bahasa yang lahir ala kadarnya.

Chairil Anwar, misalnya, sajak-sajaknya yang mempelopori kesusastraan Angkatan 45, sedikit banyaknya didorong dari pengalaman bahasanya yang hidup dengan cara yang tak biasa. Bahkan pengalaman-pengalaman hidupnya pasca berpindah ke Jakarta, dibetot dengan nuansa kebebasan, kreatifitas, dan tanpa sekat-sekat. Maman S. Mahayana dalam Legenda Charil Anwar, menyebutkan bahwa sajak-sajak Chairil sarat dengan refleksi atas pandangan, sikap, dan pengalaman hidupnya. Pengalamannya adalah sajaknya itu sendiri.

Sekarang, era yang massif digerakkan nalar instrumental (pengetahuan yang digerakkan akal hanya sebatas alat yang menghamba ke dalam kekuasaan intitusi birokratis-teknoratis) malah mengubah dunia jauh lebih “gila” melampaui penafsiran kelompok mazhab Frankfurt. Era kiwari, pengalaman atas bahasa yang menjelma ke dalam konsep-konsep, gagasan-gagasan, sistem-sistem, intitusi-institusi, hukum-hukum, dlsb., hanyalah  pengetahuan yang bergerak di tingkatan “permukaan” dibanding “kedalaman”.

Perubahan pengalaman manusia dari kapitalisme industrial menjadi kapitalisme libidinal, hancurnya kenyataan ril atas simulakrum, berubahnya tatanan kenyataan menjadi hyper-realitas dan citra-citra semu melalui media massa, menjadi sebab dunia berubah total dan berefek kepada tatanan mental manusia yang tercerabut dari eksistensinya. Fenomena fantasmagoria informasi, seperti yang dibilangkan Baudrillard, misalnya, membuat masyarakat dikepung informasi yang serba pesat dan cepat yang mengakibatkan hilangnya ruang reflektif.

Muhary Wahyu Nurba, penyair Makassar, ketika diskusi yang diadakan di Paradigma Institute, sempat berkomentar tentang betapa mirisnya keadaan hari ini yang kehilangan waktu kontemplatif. Imbas kemajuan teknologi informasi, apa yang ia istilahkan sebagai ruang kudus, tercerabut dari pengalaman sehari-hari melalui pesatnya rembesan informasi yang tak bisa ditangguhkan. Akibatnya, masyarakat menjadi orang-orang yang mengalami krisis eksistensi.

Dalam konteks pengalaman bahasa, masyarakat mengalami penjarakan dengan pengalamannya yang ugahari. Pengalaman sehari-hari dan bahasa akhirnya menjadi dua dimensi yang terpisah. Bahasa akibatnya menjadi banal, kering pengalaman, dan sebaliknya, pengalaman kehilangan dasar narasinya melalui bahasa.

Itulah sebabnya, Muhary mengatakan di zaman sekarang sulit lagi melahirkan syair-syair seperti yang pernah dituliskan Jalaluddin Rumi. Orang-orang seperti Chairil Anwar, Rendra, dan bahkan Wiji Thukul. Dunia pengalaman manusia telah penuh sesak dengan berbagai macam atribut dan kepentingan sehingga kehilangan karakternya yang sublim dan subtansial.

Era kiwari, bahasa yang dilisankan atau diliterasikan, sudah banyak mengalami “erosi” atau pendangkalan pemaknaan akibat tidak diliputi pengalaman atas bahasa. Bahasa akhirnya menjadi dangkal, dan secara etik tidak lagi mencerminkan makna yang dikandungnya. Bahasa hanyalah bahasa sejauh dia dilisankan, tapi tidak mampu menjadi narasi yang menopang dan ditopang pengalaman.

Akhir kata, idealitas yang seringkali ditunjukkan dalam bahasa, entah itu berakar dalam pengalaman politik, budaya, ekonomi, dan bahkan agama, di era terjadinya erosi pemaknaan, citra-penampakan-permukaan, hanyalah kata-kata yang tercerabut dari pengalaman. Jika melalui bahasa,  dunia dipresentasikan, kini bahasa bukanlah apa-apa selain kata-kata tanpa arti.