05 Februari 2017

Sidang

| |
Barangkali tidak ada sidang yang paling tragis selain dari pada sidang Pengadilan Heliasts (Court of the Heliasts). Sidang itu pengadilan dengan seorang terdakwa, seorang filsuf: Socrates.

Sidang itu bukan seperti sidang modern yang diketuai seorang hakim tunggal dengan beberapa hakim anggota, atau disertai jaksa penuntut dan juga seorang pengacara dengan retorika yang tangguh. Bahkan, sidang Heliasts, adalah pengadilan tanpa hakim atau pengacara. Dengan kata lain di sidang itu, Socrates seorang diri. 

Artinya, di sidang itu tanpa siapa-siapa, Socrates harus berdiri di hadapan 501 warga Athena yang bertindak sebagai hakim sekaligus jaksa penuntut. Seorang diri yang menyusun sendiri pembelaannya, dengan kata-kata, di hadapan suatu yang kelak akan dikenal sebagai sistem demokrasi. 

Dengan kata lain, siapa pun di sidang itu yang punya kaitan dengan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan Socrates, bisa mengajukan protes, juga tentu tuntutan.

Lantas, apakah kejahatan Socrates?

Di Athena, Socrates memiliki kebiasan berdialog. Aghora adalah tempat terbaik Socrates menemukan siapa saja untuk bertukar pikiran. Dari kebiasaan itu Socrates disenangi pemuda-pemuda Athena, termasuk Platon, muridnya yang cemerlang. Imbas banyak membuka wawasan kaum muda, elit Yunani merasa Socrates seorang yang mengancam.

Socrates membuat dewa-dewa yang dipuja Yunani kehilangan kewibawaan. Tidak ada yang disebut dewa-dewa yang secara resmi mesti disembah selain dengan pembuktian rasional. Imbasnya, Socrates dituduh meracuni keyakinan anak-anak muda. Mengancam agama resmi Yunani.

Itulah sebabnya Socrates dituduh sebagai atheis, merusak keimanan warga Yunani. Dan yang kedua, dari caranya berdialog, pikiran kaum muda menjadi kritis, sesuatu yang tidak disenangi rezim mana pun.

Dengan dua tuduhan itu Socrates dilaporkan. Anytus, Meletus, dan Lycin maju di hadapan sidang dan membacakan kedua tuduhan itu. Dan kita sudah tahu, Socrates kalah suara. Dia akhirnya menjalani hukumannya meneguk hemlock, rebusan air daun cemara.

Sebenarnya, adilkah sidang Heliasts?

Tapi sesungguhnya, pertanyaannya yang lain, adakah keadilan yang lahir dari persidangan yang direkayasa?

Di situlah rumitnya keadilan, jika prasyarat yang menyertainya tidak ditopang dengan asas-asas hukum yang mencerminkan nilai kebaikan, kemanfaatan, dan kebahagiaan.

Adakah kebaikan jika suatu sidang sudah sebelumnya disuap? Apa manfaat di dalamnya? Berbahagiakah segala pihak di dalamnya?

Socrates sudah tahu, sidang yang diprakarsai atas sentimentalisme tidak akan pernah melahirkan keadilan. Dengan kata lain, proses hukum yang cacat, bukan tempat keadilan ditemukan.

Walaupun demikian Socrates tetap menolak ketika murid sekaligus sahabatnya Critos, ingin melarikan Socrates dari penjara dengan cara menyuap pula. Bagi Socrates, ada yang mesti ditegakkan: ketaatan terhadap hukum negara. Biarpun itu dia tahu, sidang itu sudah direkayasa.

Itu artinya Socrates mesti menghadapi hukumannya seorang diri: kematian.

Kepada dua sahabatnya, Simmias dan Cebes, Socrates berkata: “orang harus tabah ketika menghadapi kematian, dan patut mempunyai harapan baik, bahwa setelah meninggalkan hidup di dunia ini, ia akan memperoleh kebaikan terbesar di dunia lain”.

Itulah akhir seorang Socrates.

Berabad-abad kemudian percakapan sebelum kematiannya akan diceritakan dari reportase dialog seorang Platon, murid dan filsuf penerusnya.

Kisah Socrates dengan begitu adalah narasi tentang keadilan yang tak mudah dicetuskan dari pikiran yang dicemari antipati. Yang dihasilkan dalam sidang Heliasts adalah sebuah jugdment, putusan, bukan keadilan itu sendiri.

Karena itu secara metafisik Socrates percaya, ada dunia yang lebih baik. Dunia yang disebutnya diperoleh kebaikan terbesar di dalamnya.

Barangkali di sanalah ditemukan keadilan sebenarnya, sesuatu yang identik dengan kebaikan itu sendiri.

Lantas apakah arti keadilan yang selalu diucapkan di sini? Yang selalu diperjuangkan banyak pihak? Di hari ini, sekarang, di kehidupan yang lebih kongkrit?

Itu karena ada negara, institusi, atau suatu sistem yang dipercaya mampu menciptakan keadilan, walau itu kian sulit terjadi akhir-akhir ini.

Di dalam negaralah, realisasi keadilan dapat dimungkinkan. Bukan melalui pikiran-pikiran kelompok yang mengatasnamakan golongan. Negara dengan begitu tidak mesti berpihak kepada satu pihak. Toh jika dia mesti berpihak, maka itu hanya kepada aturan-aturan bersama, hukum bersama, yang idealnya lahir dari pikiran yang objektif.

Sampai di sini, itu menjelaskan mengapa Socrates memilih tetap tinggal tinimbang melarikan diri. Di hadapan negara, seseorang harus bersikap seperti seorang negarawan. Menghormati intitusi sebagai bagian moral tertinggi.

Dalam politik, sikap penghargaan Socrates di hadapan negara, menunjukkan suatu ikhtiar yang disebut sebagai etika politik. Yakni suatu sikap yang mengedepankan moral, menghargai proses hukum, walaupun di sidang itu sudah sebelumnya direkayasa.

Saat ini politik di sekitar kita diselenggarakan tanpa prasyarat-prasyarat yang harus menyertainya: hukum, nilai moral, etika, dan tentu akal sehat.

Hatta, politik tanpa prasyarat-prasyaratnya hanya menggambarkan situasi yang pernah disebut Thomas Hobbes: bellum omnium contra omnes, perang semua melawan semua.

Yang naif, di dalam perang itu banyak yang tidak mengenal siapa melawan siapa? Atau, yang miris apa sesungguhnya yang menjadi lawan?

Seorang pengarang dan perdana menteri Inggris semasa perang dunia ke-2 bilang: “politik hampir sama menggairahkan seperti perang, dan hampir sama berbahayanya. Dalam perang anda dapat hanya membunuh satu kali, tapi dalam politik banyak kali”. Winston Churchill.

Almanak