Sunday, January 1, 2017 in

Asrul Sani dan Keharusan untuk Berkhotbah

Saya percaya ide menulis bisa ditemukan dari membaca kembali tulisan-tulisan yang telah lama tersimpan. Jika Anda memiliki kebiasan menulis, sesungguhnya itu jauh lebih mengasyikkan jika membiarkan pikiranmu dijerat rencana-rencana ambisius seperti saat orang-orang menantikan pergantian awal tahun. Tapi, jika menulis adalah suatu keharusan, itu malah jauh lebih menyesakkan. Anda seperti mendapatkan kutukan. Anda harus melakukannya.

Saya menjadi ingat artikel AS Laksana dengan judul yang justru samar-samar di dalam benak saya. Kalau tidak salah tulisan itu dibuat untuk membahas sepak terjang kepenyairan seorang Asrul Sani. Salah satu problem dilematis dalam artikel itu dikemukakan AS Laksana mengenai apakah keharusan penyair atau penulis ikut berkewajiban menanggung beban situasi sosial yang melingkupinya. Atau dengan kata lain, mungkinkah seorang penyair mengharuskan tulisan-tulisannya mengandung unsur-unsur tanggung jawab sosial? Samakah seorang penyair dengan ideolog?

Pertanyaan ini pula yang mendasari apakah ada “keharusan” bagi siapa pun untuk menulis? Jika memang harus, apa yang melatarbelakanginya? Suatu tanggung jawab sejarahkah?

Barangkali karena itu banyak cerpen-cerpen Asrul Sani disebut sebagai sastra gigantis. AS Laksana bahkan banyak menelusuri kepenulisan Asrul Sani, terutama di dalam cerpen-cerpennya, tokoh-tokoh yang kaku dan sok-sok filosofis. Hampir semua dialog dalam cerpen-cerpen Asrul Sani, di dorong, direnungkan, dan difilosofiskan tokoh-tokohnya. Imbasnya, tokoh macam demikian menjadi orang yang berkarakter dingin dan datar, sekaligus pengkhotbah.

Menurut saya, tokoh yang diidealkan sebagai pengkotbah bukanlah tipe karakter yang lentur dan mencerahkan. Terkadang, tokoh yang berpotensi menjadi pengkotbah malah menutup segi-segi sudut pandang yang dimungkinkan dalam setiap penokohannya. Dalam dialog, misalnya, lawan bicara didudukkan seperti pesakitan yang harus lebih banyak mendengar dan dinasehati. Akhirnya, dialog menjadi semacam ceramah keagamaan tinimbang perbincangan manusiawi selayaknya keadaan sehari-hari.

Begitulah, dalam tulisan itu pula AS Laksana menuliskan kesulitan setiap penulis cerpen ketika membangun dialog dalam ceritanya. Pertanyaannya, apakah mungkin dialog hanya bagian cerpen yang sengaja diadakan hanya untuk menjadi saluran nilai tertentu, ataukah seperti kejadian sehari-hari, suatu peristiwa organik yang tidak diarahkan dan dibuat-buat?

Tentu ini bukan perbandingan antara cerita-cerita yang bermuatan nilai luhur dengan cerita yang berserakan nilai lumpur. Tapi, di artikel itu AS Laksana mengatakan hampir semua cerpen-cerpen yang ditulis Asrul Sani tidak jauh berbeda seperti buku diktat filsafat. Bahkan disebutkan AS Laksana, Asrul Sani hanya meminjam mulut tokoh-tokoh cerpennya sebagai corong aspirasi pribadinya.

Kecenderungan ini dibilangkan AS Laksana sebagai kecenderungan kenabian. Kecenderungan kenabian kadang membuat orang melihat medan ekspresi seni seperti medan dakwah. Hampir segala medan harus diimbuhi pesan-pesan bermoral. Semuanya harus tunduk di dalam kriteria moral tertentu.

Kecenderungan kenabian saya kira banyak dialami di dalam tulisan-tulisan yang mirip pamflet. Bisa dibilang, entah itu esai ataupun cerpen, misalnya, hanyalah tubuh tumpangan niatan moralis yang kadung tidak menemukan jalan solutif di alam kenyataan. Sehingga di dalam pengertian tertentu, karya tulis yang dibentuk dengan cara demikian akan jatuh di dalam karya tulis yang terdorong motif heroisme.

Akan sulit ditemukan indikatornya apakah karangan macam demikian hanyalah eskapisme dari realitas sebenarnya. Sehingga, imbasnya, idealitas hampir akan banyak menyesaki seluruh ide-ide tulisan di dalamnya. Dengan kata lain, hampir semua idealitas ditumpahkan begitu saja tanpa tersisa dalam karya tulis sampai tidak menyisakan ruang kosong untuk permenungan sang pembaca.

Namun, nilai intristik karya tulis kadang dipengaruhi situasi sosial-budaya yang melingkupinya. Itu juga yang menyebabkan mengapa karangan-karangan Asrul Sani sarat dengan beban ide. Situasi di luar tulisan-tulisan Asrul Sani-lah yang membuatnya memiliki keharusan untuk berurusan dengan nilai-nilai ideal.

Situasi inilah yang saya kira juga banyak dialami oleh penulis-penulis di masa revolusi Indonesia.  Zaman bergerak sekuat tenaga di atas tanah pertiwi menentang penjajahan. Jika militer saat itu mengangkat tinggi-tinggi senjata demi mempertahankan tanah airnya, situasi yang hampir sama dialami pula penulis-penulis era revolusi, pasca revolusi, dan era setelahnya untuk merumuskan paras Ibu Pertiwi yang seharusnya.

“Ibu Pertiwi yang seharusnya” inilah yang menurut saya menjadi lapisan alam bawah sadar siapa pun saat itu ketika berkeinginan dan membayangkan alam indonesia yang ideal.  Itu berarti di bawah bayang-bayang “ibu pertiwi yang seharusnya” setiap keadaan diukur dan dirinci sedemikian rupa agar Indonesia kala itu menjadi bangsa yang bermartabat.

Di situlah menurut saya aras pemikiran ideologis kadang tak memiliki batasan tegas antara sastra ataupun seni. Dimensi pemikiran yang menghendaki suatu pernyaatan harus didirikan dalam bangun-pikir yang logis dan sistemik, berjalinkelindan dengan semangat kebebasan imajinatif dan ekspresif yang dipompa dari jantung sastra dan seni.

Di antara tegangan keharusan keketatan ide-ide dengan kebebasan imajinatif dan ekspresif itulah, saya kira yang membuat Asrul Sani dan penulis di masanya mengambil pijakan salah satu di antaranya. Dan, saya kira itulah sebabnya mengapa tulisan-tulisan Asrul Sani ketat dengan muatan ide-ide. Bahkan, puisi-puisi gigantisnya.

Sampai di sini, mestikah suatu tulisan diimbuhi ide-ide besar? Semacam tulisan yang mengusung agenda-agenda tertentu?

Saya berpikir alangkah menyenangkan jika pilihan-pilihan pekerjaan seseorang ditengarai perasaan suka cita. Riang gembira dan bebas tanpa beban. Bukan soal amanah apa yang mensituasikannya, melainkan kebahagiaan apa yang ada di baliknya.

Begitu pula ketika suatu karya tulis mesti bergerak di antara kebebasan dan kesenangan berkespresi. Bukan sebagai karya yang didorong semacam “rasa bertanggung jawab” terhadap sesuatu di luar karya tulis itu sendiri. Artinya, seperti yang disebutkan Eka Kurniawan, tanggungg jawab seorang penulis yang paling utama adalah melahirkan karya-karya yang baik. Tapi, bagaimanakah karya tulis yang baik itu? Saya kira ini inti soal lain yang segera harus dijawab dari karya setiap penulis.

Barangkali kebahagiaan belakangan ini adalah hal paling berharga yang mudah tercuri dari jiwa kita. Banyak di antara kita menjadi tokoh-tokoh cerpen yang sarat khotbah ketika mengungkapkan sesuatu. Menjadi orang yang berkarakter serius dan menegangkan. Ibarat seperti ahli agama yang mendefenisikan dunia hanya dari dua sisi ekstrim surga dan neraka.

Dan, ibarat ilustrasi George Orwell dalam 1984, suasana kehidupan saat ini seperti diawasi semacam The Big Father yang banyak dan paling berhak menentukan pilihan-pilihan manusiawi kita. Hidup seolah-olah bagaikan di dalam istana cermin. Nampak indah dari dalam, tapi sangat rapuh dan begitu gampang ditembusi pengawasan dari entah siapa. Seperti misalnya, soal haram-halal, sudah banyak menyosor mengontrol dan menyasar hal ihwal yang sebetulnya sepele. Era kiwari, haram-halal, boleh-tidak boleh, harus-tidak harus bukan sekadar imbas pertimbangan yang panjang dan hati-hati, malah lebih mirip obral barang-barang bekas yang mudah ditemukan.

Inti dari soal ini, dunia lain hal dan kehidupan kita lain soal. Walaupun keduanya memiliki ikatan di bagian-bagian tertentu, saya merasa hal yang paling memerdekakan adalah menjaga apa yang kita punyai dengan semangat bergembira. Seperti misalnya menulis bukan karena didorong dengan imperatif tertentu, melainkan suatu upaya menakar seberapa besar jiwa kita menjadi tempat sampah atau sebalikya, menjadi wadah daur ulang.

Literasi populer